s
etumpukl
ayang-layang putusIra Iramanto
Part 1
Z. AMR. (Samar)
|
Angkuh? Memang kau selalu begitu. Naik ke kepala dalam keberhasilan. Sudah kuingatkan dirimu. Enggan. Jika mendekat, telanjang kau rasakan kekuranganmu? Kupanggil-panggil dirimu. Aku S.O.S. dalam dirimu. Kupanggil-panggil dirimu. Harapanku kulihat cerah dalam langkahmu. Kuingkari titik-nila dijulukkan padamu, karena itu tak-hinggap padaku. Dan Gumoh kucoba kenali dari piawaimu. Kau S.O.S. dalam diriku. |
SARMID (Syaman)
|
Klaim anda bagaikan para-normal, orang pintar. Hantu berkeliaran dan tuyul-tuyul bergelandangan, cuma soal membalikkan telapak-tangan. Di malam buta, siulan di balik jendela dan senandung lirih di kamar sebelah. Seketika anda kenali warna dan baunya. Bila sampai terjadi meletus Merapi dan luapan-banjir Pluit menerkam tak- tercanangkan. Maaf. Atau amok bertubi-tubi. Maaf. Tidakkah anda sedang sibuk mengurus uang belanja isteri tercinta? |
GUMOH
|
Kau datang bagaikan meteor di kesadaranku. Sebelumnya: entah karena kepandiran entah karena kedangkalan. Membuatku kelabakan, mencari identitasmu. Bobotmu. Kau datang bagaikan pangeran (atau ksatria ?), menggandeng Muze dan Athena. Dan Clio meluruskan Chaos. Di mana tempatmu di antara Eros dan Aphrodit? Jika Zarathustra menggoncang tatanan. Jika Simposium masih berbusa-busa. Kau juga tahu akan sub-laba, nir-laba, sur-laba, dan pendek-kata. Orbitmu sudah pada rasi Mahkota Atau, mahkota-mahkota kecil yang mengorbit di rasi-mu? |
MALAM I
|
Kala itu aku tenggelam (atau didera) dalam orgasme, dalam pelukan nebula obscura |
MALAM II
|
Di mana nalar, di mana emosi, di mana ego, dan di mana pula engkau dan dia, saat kelam malam berpijar-pijar hanyut terseret gairah. |
KISAH SIMBOL-SIMBOL
|
Ketika itu pasar-baru dalam adu-gaduh. Sang penilik (yang merasa atau memang menganggap dan menjadikan pasar itu miliknya) sedang dilanda risau, ditimpah bala, bahkan gelap-mata. Kios utama yang mengomandoi rezeki dan singgasana dan dinasti menjadi ajang dan yang diperebutkan. Di medan perlombaan sudah hadir para preman pasar dari calon utama yang anak-angram (anak angkat yang lahir dari kecelakaan), abang-abang dan mbok-mbok gusuran atau ungsian dari pasar lama yang dibumi-hanguskan, dan seperti biasa, para durna dan pemulung dan calo. Dan para pendatang baru yang Remus-remus dan Romulus-romulus. Yang pandai dalam rumus-rumus dan yang tulus-tulus (dan tentu, ada juga yang kurang atau setengah tulus)........Dan yang pencari kesempatan, dan yang merasa terpanggil sebagai juru-selamat (atau penengah, atau pendamai, atau pewaris absah?) Dan jangan lupa: sang Penilik. Kisah seperti ini masih selalu berlanjut. Dengan pemenangnya dan pecundang-pecundangnya. |
IVA - VAI - AVI ATAU VIA
|
Jika kalam itu memang jadi permulaan, cobalah atur (atau kutak-kutik) runut bagian-bagiannya. Berilah ruang dan gilirannya hingga menjadilah keutuhannya. Akankah lahir perbedaan, atau yang lahir adalah kesamaan? Jika tempat dan saat sudah dimantapkan, maknanya sudah dipancangkan. Tidakkah masih ada pergeseran dan lompatan. Lalu, apa dan bagaimana hembusannya? Jika pusingan di dalam dan serbuan dari luar sampai beradu, mengubah susunan, memaksakan jarak, menerpa indera-indera, di mana senyawa semuanya berkumpul dan bercitra, berpadu dan menggagas? |
P.A.T.
|
Bila Pram berucap bagaikan pisau-pisau melesat menerjang keluar dari mulutnya Kata-kata, makna-makna, gagasan, pencitraan Berkilau menyilaukan, mencengkam, mempesona menggugah, mendakwa. Menerkam, mencemeti Diburu bagaikan binatang jalang atau memburu makna-makna sejarah menjadi saksi kepengecutan atau itulah sengsara anak sejarah menonton di tepi kali bekasi atau terbawa arusnya yang menghitung detak waktu zaman yang sedang lahir Bumi dipuji dipuja, dicercah peristiwa manusia bumi, bukan, bumi manusia! Pijakan harkat, Pijakan harap. Jejak-jejak langkah, langkah-langkah diayunkan ke ambang sana di setiap persimpangan jalan sejarah, di setiap sejarah melangkah, meninggalkan jejak anak segala bangsa, anak di persimpangan sejarah. Budi-didayakan atau daya dibudi-muliakan pada kaca-kaca rumah atau dalam rumah kaca. Sama saja. Menyertai langkah dan kiprah sang pemula yang membuat awal langkah anak segala bangsa dengan jejak langkahnya di atas bumi manusia. Aum, aum. Mengaumnya sang harimau yang sudah harimau sebelum diberi dan dikaitkan julukan-julukan kepadanya
Jika Pram berucap bagaikan pisau-pisau yang melesat dari mulutnya bukan bunga kantil perayu sukma, bukan tsunami yang membikin derita Ketajaman penembus gelap, pembedah mati-nalar Dan ketika semua dan segala dirampas darinya hak dan harta, harkat dan usia, berucap dan nyaris bernafas dilucuti segala daya, dan telanjang dan kecundang, -ini dalam pikir dan khayal yang kuasa- Ternyata ada yang tak-terenggutkan, yang tidak terpurukkan, roh kebebasan, kebebasan roh dan lantang mematahkan tonggak keangkuhan mencabik-cabik khayal bermimpi yang kuasa Telah kututup buku dengan yang bersimerajalela |
WARNA I
|
Ketika itu yang menjadi Komandan Unit adalah seorang Kapten Sujoso. Orang kurus, kerempeng, tidak terlalu tinggi. Sedang-sedang saja. Tetapi galaknya! Kumisnya yang tebal dan melintang seram mungkin dianggapnya kurang seram. Maka dipikirkannya dan kemudian dikarangnya macam-macam untuk mendukung kegalakannya itu. Atau misi sucinya sebagai komandan kamp yang penghuninya adalah bedebah-bedebah masyarakat, ancaman bagi keselamatan tentera dan republik yang sudah dirusak oleh Sukarno. Dan kapten Sujoso menganggap sebagai tugas sucinya bukan sebagai sekedar sipir bui. Tidak. Dirinya menerima pengangkatan dari pucuk pimpinan kekuasaan tertinggi untuk menjadi penguasa nasib, hidup atau matinya tahanan politik, orang-orang buangan masyarakat, musuh nomor satu republik. Dirinya pula yang harus menegakkan arti kuasa itu. Juga atas jalan atau cara berpikir, melihat atau menafsirkan segala sesuatu. Maka pada dan sejak hari pertama kapten Sujoso ber-mission-sacre, ia menetapkan 1) tidak boleh ada atau digunakan apa saja yang berwarna merah. 2) tidak boleh ada atau dibuat apa saja dalam kesatuan yang tiga komponennya. Mengapa? Warna merah itu warna haram. Warna terkutuk. Warna anti-Tuhan, warna anti-Pancasilsa. Warna ateis. Mengapa yang kedua? Apa saja yang tiga yalah mengacu, menyiratkan, mempropagandakan Tri-panji orang-orang komunis. Taktik dan strategi dan semboyan dan simbol para pemakar terhadap kekuasaan, kesucian republik. Jangan membantah, jangan coba-coba, jangan..... Sebab demikianlah sabda kapten Sujoso. Terang saja tidak ada yang berani! Membisikkan saja kepada kapten Sujoso, bahwa di luar tempat pembuangan itu., ada dipakai warna merah sebagai warna simbol keberanian, warna yang (justru) bagian atas bendera pusaka (!), mana ada yang berani? Mau berkenalan dengan gagang revolvernya? Mengingatkan pada kapten Sujoso, bahwa di luar kamp 'rehabilitasi' (atau, seperti yang juga sering dikhotbahkannya, kamp di mana para penghuninya hanya akan meninggalkan nama saja di atas batu nisan masing-masing) sedang terus bergolak dan marak Tritura, Trilogi pembangunan, operasi Trisula dan entah apa lagi, pokoknya memakai juga tiga, tri itu-itu juga. Mana ada yang berani? |
GIGI
|
Banyak, artinya tidak sedikit, aktor dan aktris yang mengenal dan mengetahui tentang kepiawaian Bakhtiar berbicara, membujuk, merayu, memerintah dan membimbing. Para aktris dan aktor yang pernah mengalami penangganan Bakhtiar, sutradara yang seorang ini. Syahdan, sang interogator yang sedang mencecer Bakhtiar dengan bermacam-macam pertanyaan, pancingan, jebakan, ancaman dan himbauan itu sudah sampai pada batas kesabarannya. Sebab, Bakhtiar, yang seorang sutradara ini, memang sungguh pandai dalam bicara, mengelak, menghindari atau (kata dan bentakan sang interogator) bermain kucing-kucingan. Maka, sang interogator itu: disuruhnya (dibentakkannya perintah) Bakhtiar itu berdiri. Dan weengggg .... melayanglah tinju sang interogator itu dalam sebuah swing yang a la Acong (seorang petinju Indonesia zaman pendudukan Jepang dulu) layaknya. Dan ketahuilah, apa yang terjadi! Kedua gigi palsu (ya, gigi palsu atas dan bawah) melompat keluar dari gua mulut Bakhtiar. Plak-plak ..... tersungkur kedua benda ajaib itu di atas lantai bertegel warna abu-abu itu. (Memang benda-benda ajaib, karena benda-benda itu sebenarnya seperti rambutnya Samson. Lihat saja, seketika wajah Bakhtiar itu berubah, bermetamorfose: seketika Bakhtiar yang kita kenal gagah-mempesona itu, seorang yang sungguh asing di mata kita, menjadi ompong, kereyot wajahnya itu!) Dan ketahuilah, apa yang terjadi kemudian! Sang interogator itu, saking gemasnya, saking terhasutnya oleh emosinya sendiri, saking merasa-tak-berdayanya, saking terhambat rasa-kuasanya....... Dengan suara geram menggelegar: keeuuaaamuuu (kamu), bedebah! Diangkatnya kaki kanannya yang bersepatu tentera, hitam, dempal, menyiutkan jiwa.......dan dengan gaya kungfu bagaikan mau 'lepas landas' untuk melesat ke atas wuwungan rumah, tetapi dalam peristiwa ini lebih mirip gaya jawara yang sedang pasang kuda-kuda...... diinjaknya kedua benda ajaib sudah-tak-berdaya itu dengan sekali gebrakan kaki bersepatu tentera, hitam, dempal, menyiutkan jiwa itu. Sementara itu, juga kaca-mata yang dikenakan Bakhtiar meluncur ke arah yang lain lagi, dan jatuh pecah berantakan di atas lantai bertegel yang sama itu ........... |
KESEDERAJATAN (? !)
|
Entah ini cerita benaran, karangan atau cuma isu, tetapi sungguh-mati aku mendengarnya dari mulut-pertama yang kuyakini dapat dipercaya. Pabila (dalam rapat-rapat tingkat tinggi) ketua NU, Idham Khalid menyapa atau berbicara dengan Sukarno, presiden pertama itu, maka Idham Khalid selalu memakai sapaan Bapak. Dan Sukarno, pada gilirannya, juga memakai sapaan Bapak pada Idham Khalid. Pabila yang menjadi lawan bicara Sukarno itu ketua PNI, Suwiryo, maka sapaan yang dipakai adalah Mas...... Dan, Sukarno juga memakai Mas itu dikepadakan pada Suwiryo. Sedang Aidit, ketua PKI, selalu memakai Bung, yang ditimpali dengan Bung juga oleh Sukarno. Kesederajatan? Kesederajatan! Kesederajatan? Yang kita ketahui sebagai yang berlaku zaman sekarang, semua saling mem-Bapak. Tak peduli tua pada yang muda, atau yang muda pada yang tua. Di setiap kesempatan, di setiap perjumpaan. Di rumah, di jalanan, di telefon, di TV. Apalagi jika ini menyangkut yang di kalangan elit dan yang paling di atas.......... Jangan coba-coba menyapa seorang polisi lalu lintas (apa lagi yang sedang menilang anda) dengan Bung atau Saudara.......... Tetapi, dunia ini tidak segelap seperti dalam kekhawatiran kita. Budaya "bapak" dalam sapaan itu sudah mulai mencair juga. Tentu bermotivasi! Bung Harmoko jelas orang yang (pikir-pikir sampai pada ''penemuan besar' ini) menyimpulkan betapa perkasa dalam arti psikologi-massa, kelantangan dan daya Bung a la Sukarno itu. Kalaupun hal itu baru sampai pada jadi-kepemilikan untuk dirinya sendiri. |
MALAM III
|
Kunantikan dirimu di malam kelam ini Di bawah lampu jalanan, karena kusangka kau akan mendatangi tempat yang terang Kunantikan dirimu di malam hujan lebat di tempat perhentian bis, karena kusangka kau mencari tempat orang-orang mencari teduhan Kunantikan dirimu di kegelapan malam ini, di ujung-ujung jalan dan lorong-lorong, karena kusangka akan kau datangi tempat-tempat orang mencari arah Tak kujumpai dirimu di tempat-tempat aku menanti, menunggu Halilintar itu yang menggoncang kedunguanku Dan tahulah aku: Kau mesti kucari, mesti kukejar, kalaupun hingga ke ujung dunia,hingga ke mana pun, hingga kapan pun. Tak akan bisa dengan hanya menunggu. |
WARNA II
|
Dalam kamus warna di Barat umumnya, kuning itu bisa emas, bisa burung kanari. Tetapi yang menarik: kuning itu juga dengki. Dan orang belanda bilang geel van nijd. Dalam budaya Tiongkok, kuning itu keagungan, warna kekaisaran. Warna kulit Asia, yang salah-salah jadi tanda bahaya: bahaya kuning. Yellow danger. Eh, juga Yellow fever....... Di negeri kita, kuning itu banyak maknanya: burung kepodang seragam temu-kader birokrasi aspirasi kekuasaan yang harus menang ke-jawa-tengahan monopoli jaket pembayatan pagar dan zebra-cross ke-ABG-an jalan ke lisensi dan proyek ya, apa lagi? golkar. Dan bendera duka yang dipasang di ujung jalan. |
SISTEM I
(miturut Galeano)|
Para pejabat tidak berfungsi Para politikus berbicara tapi tidak bilang apa-apa Para pemilih memberikan suara tetapi tidak memilih Arus informasi mendesinformasi Lembaga-lembaga pendidikan mengajarkan ketidak-tahuan Para hakim menghukum para korban Tentera berperang dengan bangsa sendiri Polisi bukan memerangi kejahatan karena sendiri melakukannya Kefailitan disosialisasi, laba diprivatkan Uang lebih bebas dari manusia Orang-orang berdinas pada benda-benda |
SISTEM II
(menurut Galeano)|
Zamannya bunglon: tiada yang telah begitu banyak mengajarkan pada manusia seperti binatang rendah-hati ini. Terpelajar adalah orang yang pandai menyembunyikan, seni penyamaran menjadi pujaan. Yang dipakai bahasa rangkap seni kemunafikan. Bahasa rangkap, pembukuan rangkap, moral rangkap: satu moral untuk diucapkan, moral kedua untuk berbuat. Moral untuk berbuat disebut realisme. Hukum realitas adalah hukum kekuasaan. Agar realitas tidak menjadi tak-nyata, demikian kata orang yang berkuasa, maka moral itu mestilah tidak-bermoral. |
SISTEM III
(atau keperkasaan suara, masih miturut Galeano)|
Ada bangsa yang memancung kepala lawan yang telah ditaklukkannya. Setelah kepala dipancung, dipotongnya itu sampai berkeping-keping. Hingga cukup dipegang dengan satu tangan. Agar yang sudah dikalahkan itu tidak bangkit kembali. Tetapi yang telah dikalahkan itu belum sepenuhnya kalah, selama mulutnya masih belum dirapatkan Maka dijahitlah mulut yang masih terbuka itu dengan serabut yang tidak bisa membusuk. |
DALANG
|
Betapa terhormat. Dijuluki kebijaksanaan. Betapa dipuji bahkan menjadi pujaan berjuta orang, berjuta penonton. Dari mulut ki dalang didengarkan kisah-kisah moral dan kebajikan,. Tentang keagungan dan kesatuan manusia dengan alam jagat. Yang mengajarkan keteladanan. Yang mengungkapkan pertarungan antara kegelapan Dan kebenaran. Antara hitam dan putih, tanpa terlewatkan kehalusan nuansa-nuansanya. Dari pergelaran di bawah langit telanjang yang menyatukan hubungan manusia dan alam. Dan kemudian dibawa masuk ke istana-istana kekuasaan. Lalu sekarang. Dalang. Dengan konotasi yang mengerikan, yang negatif. Dalang yang menjadi kegelapan itu sendiri. Menjadi kebatilan itu sendiri. Menjadi penunggang kereta kegaduhan, penebar dan penyebar maut. Menjadi fitnah raja-diraja. Aktor intelektual, itu sebutan canggihnya. Subversi , itu sebutan kemakarannya. Tangkap hidup atau mati, itu sebutan operasionalnya. Tudingan reka-rekaan yang seketika menjadikannya pesakitan berkalungkan hukuman mati. Baru niat berburu beruang, sudah dijual kulitnya. Memang setiap kata punya maknanya, bahkan melahirkan turunannya, merambahkan fungsinya. Membawa pula pada kenisbiannya. Adakah semua ini terjadi karena kisah asli yang dibawakan ki dalang? Metamorfosa. Tagihan yang tertunda-tunda sepanjang cerita? Tidakkah seluruh kisah dari mulut ki dalang, adalah pergumulan dan perebutan kekuasaan itu sendiri? Atau kenisbian yang mengiringi zaman. Jawaban yang tercari-cari , padahal adanya di ujung jalan sana. Ataukah ini cuma kisah dan perpanjangan kerajaan iklan, yang menghadirkan hukuman zaman dan sejarahnya: bahwa semua itu dapat ditawarkan dan semua itu dapat dibeli. Apakah semua ini sebenarnya cuma sederhana saja. Apakah karena ki Mantep nimbrungkan lakon: Oskadon, oye........ Atau A mild coba meyakinkan: Bukan basa-basi......... |
NOSTALGIA--atau: LAIN DULU LAIN SEKARANG
|
Di sebuah lorong, di kota Den Bosch, negeri Belanda, aku mencoba lumpia Vietnam. Sepotong Nf.1.25, kalau beli Nf. 10,- dapat sebelas potong (di Jawa-timur beli 10 juga dapat sebelas, welasan). Lezat bukan main. Kita juga punya lumpia yang terkenal dari Semarang. Masih lebih enak lumpia Vietnam itu. Lagi pula, lumpia Semarang yang enak itu, tidak akan kita temukan lagi di tempat yang menjadikannya terkenal, khas, Gang Tengah (atau disebut juga Gang Kelenteng), Dalam suatu pertemuan di Jakarta, seorang keluarga dekat alm. Supriadi, tokoh pemberontakan PETA terhadap Jepang, menyesalkan hilangnya suatu budaya perjuangan 45. Katanya: dulu, kita boleh berbeda pendapat, bahkan saling bertentangan dalam pendirian. Tetapi sebagai sesama pejuang, kita tetap sahabat. Tidak seperti sekarang, bertentang-tentangan dalam hal politik, lebih-lebih lagi bersimpangan dalam soal kekuasaan..... pertentangan antara dua orang yang dulu sekubu, sepertinya mesti dibawa sampai mati. Pembersihan, pengucilan, sekurang-kurangnya penggeseran dan peminggiran. Di tahun-tahun 50-an, Subchan E.Z. dan aku seakrab-akrab suatu persahabatan bisa dibangun. Kita makan lebih sering bersama daripada sendiri-sendiri. Seprei-seprei tempat tidur di rumah Subchan yang besar dan ramah itu, seandainya diberikan pada anjing pelacak, mungkin akan membawa orang yang tak-tahu lagi di mana aku sekarang berada (setelah hampir 40 tahun), ke tempatku sekarang tinggal. Aku dan Subchan pergi ke pesta dansa bersama-sama, Subchan membawa cewek, aku pasti tidak ketinggalan nggandeng juga seorang cewek. Berdansa hingga pagi. Tetapi masing-masing kita beda pendirian. Biar tidak kusetujui banyak dari pikiran-pikirannya maupun sikap-sikapnya, aku tidak bisa tidak mengagumi kecemerlangan gagasan-gagasannya, jalan pikirannya. Menghormatinya. Sekali peristiwa, dibawanya aku pada Jamaludin Malik, menteri perdagangan ketika itu, dan akulah yang dimintanya memperjuangkan kepentingan-kepentingannya. Pendirian-pendirian kita masing-masing tidak pernah bisa bertemu. Terakhir aku bertemu Subchan di awal Oktober 1965. Sama-sama mewakili Indonesia. Dalam sebuah konferensi internasional. Konferensi politik. Aku duduk di kursi di belakang Subchan. Sambil menoleh ke belakang, berbisik Subchan padaku: Saiki musuhan yo musuhan, tapi yen kito yo nggak ono musuh-musuhan iku. Ngko bengi nang'ngo nggonku, dalan Probolinggo. Ayo, nyate kambing. Itu memang terakhir kali aku bertemu Subchan. Beberapa waktu kemudian aku ke pertapaanku. Dan Subchan sempat menjadi ketua MPR, lalu ........ di tempat pertapaanku kudapat berita Subchan meninggal dalam suatu kecelakaan di Kairo..... Ia telah tiada. Hilanglah seorang yang cemerlang. |
IMPIAN I
|
Impian-impian itu menyertainya ketika ia meninggalkan desa dan pergi ke kota. Ke Jakarta. Atau, boleh juga dikatakan, ia meninggalkan desa mengejar impian-impian itu, atau bisa juga, impian-impian itulah yang memandunya ke Jakarta. Impian-impian yang lahir dari kepengapan yang dirasakannya di keterbelakangan dan kemandegan di desa. Lahir dari gaerah dan nafsu akan kelainan, perbedaan, yang baru-baru. Keramaian, kemajuan, kesempatan. Impian-impian yang datang sendiri padanya. Juga yang dibawa kerabat dan kenalan yang sudah mencicipnya. Yang datang mudik bercerita tentang yang hebat-hebat, tentang keberhasilan, tentang peluang. Tentang gedung-gedung tinggi-tinggi menggerayangi langit, lalu-lalang mobil-mobil yang banyaknya dan menterengnya aduhai aduhai. Tentang cewek-cewek bermini hingga cewek-cewek yang siap berteman di setiap tempat keramaian. Tentu juga terceletuk yang kurang sedap didengar dan dipikirkan. Bahkan yang mengerikan dan menyiutkan gelora. Tetapi itu tidak menggebu-gebu datang dan diceritakan seperti segala yang menyilaukan dan menjebak fantasi. Sebab yang datang bercerita, enggan juga, setengah-setengahnya malu juga dan tertabukan untuk bercerita tentang kegagalan-kegagalan diri sendiri. Maka berangkatlah si anak desa, yang bahkan telah bermimpi impian-impian menakjubkan itu terjadi dan terlaksana menjadi kenyataan dalam impian-impiannya. Setahun , dua tahun kemudian. Impian-impian itu pulang berlebaran. Anak desa itupun ikut pulang, berlebaran..... pulang ke tempat lahirnya impian-impian itu, yang sisa-sisa dan cabik-cabiknya ingin ia coba pulihkan, sedapat-dapatnya, kalau bisa............ |
IMPIAN II
|
Entah dari mana asosiasi itu datangnya. Yang jelas, aku baru membaca kembali Zarathustra di tengah pasar dalam jurnal "adi-"budaya Kalam. Setelah nonton sebentar tayangan TV mengenai peristiwa "baca sajak wanita-wanita agung", kantukku sudah tidak dapat dilawan lagi. Dan aku bermimpi bertemu Iramani. Dari seingatku, aku sepertinya melihat kerut-kerut telah bertambah di atas dahinya yang tinggi. Menambah kesayuan wajahnya. Dengan menunjuk pada setumpukan buku -yang entah dari mana tahu-tahu muncul di mata mimpiku - yang samar-samar kulihat "Catatan Pinggir" judulnya, ia menegur aku: kapan G.M. akan meneruskan Surat Minggu Ini......... Takjub membuatku tak-menemukan kata-kata jawaban. Keharuan melintang di tenggorokanku. Harapan........ cuma mimpi belaka? |
BAS
|
Tak mau ia mati (apalagi mati tua) di negeri orang. Ia, yang sudah merayakan 83 kali lebaran. Maka pulanglah ia ke tanahairnya, Menyiapkan diri ke dalam pelukan bumi asalnya. Tapi dalam kemarahan, dalam kekecewaan. Karena seperti di pengasingan, di sini cuma ada penolakan. Di pengasingan, yang memandang dan memperlakukan dirinya bagaikan benda langka yang sudah layak diregister dan disimpan di museum. Di negeri asal, tidak ditemukannya lahan dan kesuburan bagi muatan-muatan pikiran dan harapannya. Orang tua yang sudah menjalani segala pengalaman dalam rentang waktu yang 83 lebaran. Ada hantu kesedang-sedangan yang hinggap dan membayangi 83 lebaran itu. Di seni yang memang dunianya, belum dilampauinya kesedang-sedangan, ia cuma sedang-sedang saja. Di politik, dengan segala ideologi, program dan praktek, organisasi dan disiplin, yang cuma sayup-sayup dikenalnya, yang dalam ulah "nasib" (keadaan) mesti digelutinya, ia juga baru sampai di ambang kesedang-sedangan. Serba sedang-sedang. Mediokritas. Ini realitas atau nasib seorang anak manusia. Atau kesimpulan lancang --sekalipun penuh simpati-pemerhati sepenggal tragedi? |
KEKUASAAN I
|
Di kamp pembuangan. Nama resminya Instalasi Rehabilitasi. Inrehab. Aku pertama kali melihatnya tertulis di atas dinding papan: Time to kill. Setelah itu, setiap pagi di waktu apel, di atas dahi inspektur upacara: time to kill. Pada popor bedil-bedil serdadu yang berjaga selagi kita bersawah: time to kill. Di atas karung-karung berisi beras yang kita pikul untuk disetor pada "Kini Maluku Menjadi Lumbung Beras": time to kill. Pada tunggul-tunggul meranti yang batang-batangnya kita gergaji menjadi lembaran-lembaran papan: time to kill. Pada asap api dari tungku-tungku kita menyuling minyak kayuputih: time to kill. Pada kantung-kantung atau besek-besek barang kiriman keluarga yang isinya sudah di"upetikan": time to kill. Pada label-label sumbangan Palang Merah Internasional dan luar negeri yang barangnya sudah digelar di pasar Ambon, Namlea atau mungkin juga di Jakarta atau yang "trickled down" pada kita-kita: time to kill. Dan ketika sejumlah teman dibuang ke tempat pembuangan dalam kamp pembuangan orang-orang buangan: benar-benar jadinya..... It's time to kill............... |
KEKUASAAN II
|
Jaksa itu namanya Sujono. Tahanan itu kemudian bernomor 001. - Di mana kamu simpan mobil Mercy-mu? - Saya tidak punya mobil Mercy. Jangan bohong. Masah kamu tidak punya Mercy. - Mobil saja Mazda. Mazda yang 'kotak korek api' itu. Mobil pembagian. - Ah. Bohong kamu. Berterus terang saja, aku cuma mau membantu. - Betul. Cuma punya Mazda itu. - Tahu, tahu..... Aku sudah tahu. Nah, Mazdamu itu sudah kita sita. - Oh ya? Kapan? - Kemarin. Betul kamu tidak punya Mercy? - Tidak punya. Ya cuma Mazda itu. - Nah, aku mau bantu kamu. Kamu bantu kita juga, ya? - Bagaimana? - Ban-ban Mazdamu itu sudah klimis semua. Bikin saja surat, supaia keluargamu beri uang untuk membeli ban-ban baru. - Loooh? Koh begitu? - Iya. Bikin saja surat itu. - Wah, tidak bisa. Koh saya yang mesti membelikan ban. - Ah, kamu memang kepala-batu! Ngelawan ya? - Bukan melawan........ - Sudah, sana! Biar mampus kamu, pergi sana! Jhuuh! Tahanan itu ngeloyor pergi, sambil mengusap mukanya. Untunglah ia, cuma diludahi. |
GELAR
|
Margaret Thatcher - Wanita Besi Muhamad Ali - Si Mulut Besar Suharto - Bapak Pembangunan Bette Grable - The One-Million Dollar Legs Napoleon Bonaparte - Le Petit Caporal Clark Gable - The King Sukarno - Penyambung Lidah Rakyat Marlene Dietriech - La Femme Fatale Mao Tse-tung - Juru-mudi Agung Sumitro - Begawan Ekonomi Chiang Kai-shek - The Running Generalissimo Jassin - Paus Sastera Hitler - The Great Dictator Madame Chiang Kai-shek - Howling Fox Stalin - The Great Leader Rhoma Irama - Si Raja Dangdut Sen. Barry Goldwater - The Witch-Hunter Zaenuddin M.Z. - Da'i Sejuta Ummat Eichman - The Butcher Budiman Cs. - sang Dalang, eh maaf, koreksi: Subversi Raden Mas Kolusino - Raja Salah Prosedur Rakyat Indonesia - Massa Mengambang |
STIKKER
|
Alat totok digerebek sepeleton tentara. Bentuknya yang seperti arit, mengingatkan orang pada yang tidak-tidak...... Ada kaos oblong dikepung satu truk tentara. Ada gambar sablon yang mengingatkan orang pada yang tidak-tidak. Di Jakarta dijual bebas: stikker swastika hitler. Pendekar baja hitam. Sieg Heil, Sieg Heil! Exterminator |
BUDAYA I
|
Bukan separoh tambah satu. Budaya kita musyawarah untuk mufakat. Bukan mengundurkan diri. Budaya kita introspeksi. Bukan beroposisi. Budaya kita berazas tunggal. Bukan rekayasa. Budaya kita tut wuri.......... Bukan intervensi. Budaya kita legalitas. Bukan jor-joran. Budaya kita mayoritas tunggal. Bukan meminggirkan. Budaya kita menjalankan perintah atasan. Bukan kritik-mengritik. Budaya kita saling-menyejukkan. Bukan kontradiksi. Budaya kita harmoni di anjungan. Dan hari ini terbaca: Bukan koneksi dan kolusi. Budaya kita lobi dan silahturahmi. |
BUDAYA II
|
Besarnya jumlah penggemar film India yang ditayangkan lewat saluran-saluran TV sangat menarik perhatian. Mengapa bukan film-film atau sinetron Indonesia yang lebih digemari? Dalam film-film India itu, disamping kekonyolan, kedodoran, kecengengan, nyanyi (bertemu air: menyanyi, bertemu bunga: menyanyi atau menangis) dan tari (sampai yang paling sexi) , orang menjumpai juga yang tidak pernah (dan mungkin tidak akan pernah) dijumpai dalam film/sinetron Indonesia. Dalam film Indonesia jangan mencari polisi yang ber"masalah," penegak hukum dan pejabat yang menjadi "bad guy", pelaku korupsi atau kolusi atau persekongkelan jahat. Dalam film India hal-hal yang "bersih" di dalam film Indonesia itu, berlimpah dan realistik. Ini sebenarnya juga misteri atau rahasia umum yang sudah diketahui oleh semua orang, bahwa memang "ada sesuatu yang tidak beres" di negeri kita. |
KEMITRAAN I
|
Kata kunci (kuncinya?) untuk memerangi ketidak-adilan adalah kemitraan. Sandi rahasia untuk mementaskan kemiskinan adalah kemitraan. Pancing (pujangga dan ahli strategi Khong Bing mencari ilham sambil mengail ikan dengan mata-kail lurus) kemakmuran adalah bapak angkat. |
KEMITRAAN II
|
Tangan kiri memberi (sedekah?), tangan kanan mencuri. Yang menerima semakin tidak punya apa-apa. Semakin banyak mereka membayar, semakin bertambah saja hutangnya. "Biar kubebaskan kamu dari tanahmu, dan akan kuangkat dirimu menjadi caddy golf." "Biar kuganti gubuk-gubuk kalian dengan mall dan plaza megah. Biar kusulap kardus-kardus kekumuhan kalian menjadi apartemen bekupon" |
IMPIAN III
|
Aku bermimpi sedang menghapus harapan dari dinding-dinding demokrasi. Aku bermimpi melihat tangan-tangan mungil menyingkirkan huruf-huruf GOL PUT dari alon-alon kota, dan bahu-bahu perkasa mengangkat huruf-huruf B O I K O T ke atas sebuah papan catur raksasa. Ketika aku tersentak bangun kudengar suara-suara di kamar sebelah, sibuk berbincang-bincang. |
MALAM IV
|
Mengapa merasa sendiri di tengah orang banyak? |
PROFESI I
|
Pada awal pergaulanku dengan Iramani, diketahuinya minatku terutama di bidang ekonomi. Tulisan-tulisanku kadang-kadang diperhatikannya. Suatu ketika katanya padaku: - Cerita pendekmu tempo-hari lumayan juga. Mengapa tidak lebih banyak kau berkecimpung di situ? Beberapa tahun berlalu. Komentarnya: - Tinjauan ekonomi kau bikin seperti karangan sastera. Berbunga-bunga dan bertele-tele. Cerita pendekmu kau sajikan seperti kau membuat sebuah analisa ekonomi. Alot dan kering. |
PROFESI II
|
Hampir setiap tahun diselenggarakan pameran seni rupa. Henk Ngantung yang mengetuai setiap kali pameran seperti itu ikut bangga dan memuji hasil yang dibuahkan pameran-pameran itu. Jarang terjadi bahwa ada pelukis peserta yang tidak terjual karyanya. Sekali peristiwa, pada penutupan pameran, disampaikan laporan pada Henk. Di antara sekian banyak lukisan yang terjual, terdapat dua buah dari Tarmizi, sebuah dari Trubus, dan -kataku seadanya-- seri lukisan Dullah yang dibuatnya di Tiongkok, keenam-enamnya diborong orang. Celetuk Henk: - Ya, Tuhan! Koh lukisan kau jual berserial, berpasangan, setengah lusinan! Lukisan Hendra apakah tidak kau jual per cm2 ? |
PROFESI III
|
Dalam guyonan Buyung Saleh disetandingkan dengan Wiratmo Sukito. Sama-sama ensiklopedik. Buyung yang menandingi Wiratmo atau Wiratmo yang menandingi Buyung. Memang ada kesetandingan itu. Buyung ikut merancang Pakta Kawi di zaman gerilya melawan agresi Belanda. Wiratmo menyusun strategi dengan A.D. |
BUDAYA III
|
Menyatakan kehadiran dengan pertanyaan-pertanyaan dalam Selimut pembungkus kesedangan berfilsafat Tersobek tampangnya tanpa dendam Menjadi bacaan di depan cermin diri Segalak taring macan, macan kertas. Rendah-hati domba, jejadian srigala. Ada alunan tabuhan nun jauh di sana Cuma kepulan asap tanda bahaya Sudahlah. Ini kejenuhan ramai-ramai ikut bersuara Ini kegerahan padang sahara pelangi-pelangi kata cekikan istilah-istilah, sumbatan ludah kering mulut menganga. Cuma pamer, cuma pamer. Pamornya di mana? Di kamar kecil patuh pada alam Dasi kupu KTP peradaban Esok pagi, bangkit dari sisi wanita jalang Karena mabok, terlepaslah wanita idaman. Ah, ini cerita berkelana ke mana-mana Lupa pangkal tersesat ujungnya. Para datuk sudah berkumpul Membuka persidangan budaya Apa mau, Agenda tertinggal, entah di mana Daripada mubasir niatnya padahal itu menentukan sejarah Sebaiknya dijadikan pesta terakhir Biar semua urun putusan membalikkan seisi dunia. Jangan sedih, jangan bertepuk tangan sebelah Ini cuma sandiwara budaya. |
JODOH
|
Dari anak-anak Mang Adab, cuma puteri Demok yang ditaksir Simin Populi. Simin Populi tahu diri. Ia tidak mempunyai apa-apa. Rumahnya pun sudah terdesak ke pinggiran kota, setelah beberapa kali mengalami penggusuran tanpa ganti kerugian. Ia juga mengetahui bahwa saingan ada banyak. Ada anak jendral, yang sering bertamu di rumah Mang Adab, selalu datang dengan naik jip tentara. Ada pengusaha, yang datang dengan mobil Volvo edisi paling akhir. Ada pejabat yang selalu datang dengan Pajero. Dan ada lagi yang asal usul atau kedudukan sosialnya tidak diketahui oleh Simin Populi. Ada lagi yang mempersulit Simin Populi. Kebanyakan orang mengatakan bahwa ia itu seorang yang berangasan, mulutnya sebrono dan tak mau patuh pada peraturan. Selalu mencari gara-gara. Angen-angen Simin Populi terhadap puteri Demok cuma menjadi tertawaan orang. Mana mungkin, kata mereka, mengejek, si kere yang mengimpikan rembulan. Maka cinta Simin Populi itu cuma cinta dari jauh. Dan Simin Populi tidak kehabisan akal. Di zaman iptek ini, demikian pikirnya, tidak mustahil maksudnya bisa juga sampai pada si jantung hati, lewat remote control. Maka setiap tiga hari sekali, Simin Populi mengirim seikat bunga, yang diletakkannya di atas kotak pos yang tergantung di pintu gerbang rumah Mang Adab. Itu dilakukan Simin Populi di pagi hari buta. Bunga dipetiknya dari halaman rumah orang, dari taman bunga atau sekali waktu juga dibelinya di pasar kembang. Setiap kali seikat bunga yang lain dari kemarinnya, bukan cuma warnanya, tetapi juga harumnya. Setiap kali Simin Populi mempersembahkan maksudnya itu, di siang atau sore harinya ia nengok apakah kirimannya itu keterima. Dari kejauhan, di seberang jalan. Dengan ulet dan sabar dilakukannya itu, entah berapa bulan dan entah berapa ikat bunga. Pasti tidak kurang dari 30 ikat bunga. Sambil menindas rasa kecewa dan kadang-kadang juga sakit hati dan nyaris putus-asa. Sebab setiap kali Simin Populi memeriksa nasib cintanya itu, dari seberang jalan disaksikannya, ikatan bunga itu berceceran dalam keadaan yang nyaris tidak bisa dikenali lagi, di tengah dan di pinggir jalan di depan rumah Mang Adab. Terlindas roda-roda mobil dan truk, hancur pipih dilindas roda bajai dan angkot dan bis kota, terinjak-injak kaki orang yang bersepatu maupun yang tidak. Terutama roda-roda kendaraan angkutan tentara. Sebab rumah kediaman Mang Adab itu memang di Jalan Merdeka, yang sepanjang jalannya berdiri bangunan-bangunan kantor pemerintah dan di ujung jalan sana ada tangsi militer. Tetapi Simin Populi telah bertekad dan sudah belajar untuk bersabar diri. Sampai tiba hari itu......... Pada pagi hari buta dengan setia sudah diantarkannya seikat bunga mawar, dengan kombinasi warna putih, kuning dan merah. Diletakkannya itu -seperti biasa-di atas kotak surat yang terpasang di pintu gerbang rumah Mang Adab itu. Setelah menggumankan, "Inilah sayang, cintaku padamu kuungkapkan dengan bunga-bunga," Simin Populi yang tiada susut sedikitpun harapannya, ngeloyor pergi, mencari rezekinya untuk hari itu. Sore hari. Tampak Simin Populi berjalan ke tempat biasanya di seberang jalan rumah kediaman Mang Adab. Seketika itu juga, Simin Populi rasanya terbang ke langit ke tujuh. Jalanan , di pinggir maupun di tengah, di sebelah kiri maupun di sebelah kanan, tidak ada bekas-bekas kembang yang hancur, yang berceceran. Keterima ! pikir Simin Populi dengan jantung berdebar-debar. Ia mulai melangkah menyeberangi jalan itu. Menuju ke rumah Mang Adab. Dalam hati dan dalam kepalanya, sudah mulai disusun kata-kata yang akan diucapkannya. Menyukuri nasibnya, jodohnya. Tetapi, hai! Mengapa keadaan rumah Mang Adab sore ini lain dari biasanya? Pintu rumah dan lebih-lebih pintu gerbangnya, yang biasanya tertutup rapi, mengapa sore ini terbuka lebar, sekalipun tiada tampak hidung seorang pun di situ? Semakin ia mendekati rumah Mang Adab itu, semakin besar keheranan melanda Simin Populi. Ada terlihat kursi-kursi lipat ditumpuk bersandar di sudut halaman rumah Mang Adab itu. Juga meja-meja lipat. Tak seorangpun menampakkan diri. Setelah Simin Populi melewati ambang gerbang rumah itu, baru dilihatnya di halaman samping rumah Mang Adab itu, seseorang sedang mencuci sejenis bale-bale kayu dengan semprotan slang air. Terlalu panjang kalau cerita ini mesti dikisahkan selengkapnya., Hanya akan membuat orang tenggelam dalam kepedihan teramat sangat. Hanyut dalam tangis dan sesal-nasib. Terenyuh-renyuh. Singkat cerita (dan yang beredar): Anak Mang Adab yang paling ditaksir oleh paling banyak pihak, termasuk di situ Simin Populi kita, puteri Demok, telah meninggal mendadak, tanpa menderita sakit , tanpa mengalami kecelakaan, tanpa perbuatan nekad. Ada yang berbisik-bisik bilang, puteri Demok meninggal kesambet, meninggal karena diguna-guna, disantet. Tetapi ada juga yang bilang, puteri Demok meninggal karena terlalu lama mesti menanti dan berharap-harap. Dan ada lagi yang bilang , puteri Demok itu keberatan nama............... |
PATRIOTISME I
|
Urusan mobnas sampai-sampai dilarikan pada soal patriotisme. Dalam patriotisme yang menggebu-gebu disorakkan: My country, Right or Wrong! Seakan-akan itulah nilai puncak patriotisme. (Dan itupun bukan untuk yang pertama dan terakhir kalinya!) Tahu-tahu, itu ternyata cuma sepenggal dari tulisan C.K. Chesterton (The Defendant): "My country, right or wrong," is a thing that no patriot would think of saying except in a desperate case. It's like saying "My mother, drunk or sober". ("Negeriku, benar atau salah," bukan sesuatu yang akan diucapkan seorang patriot, kecuali dalam keadaan nekat. Itu seperti mengatakan "Ibuku, mabok atau waras.") |
PATRIOTISME II
|
Sekali lagi patriotisme. Edith Cavell, kata-kata terakhir sebelum ditembak mati oleh regu-tembak Jerman, di Brussels: I realize that patriotism is not enough. I must have no hatred toward any one. (Aku sadari bahwa patriotisme itu tidak cukup. Aku tidak boleh mendendam kebencian terhadap siapapun.) Tinggal kita saja menilainya. Makna keagungan manusia atau makna kearifan manusia? |
PATRIOTISME III
|
Bagi kita, tak usahlah yang terlampau mentit-mentit. Jangan biarkan rakyat Indonesia terseok-seok dan terbungkuk-bungkuk menggali anugrah yang terkandung dalam perut bumi negeri ini, untuk diangkut keluar dan menjadi persembahan pada takhta kebesaran dan keserakahan asing. Jangan pertukarkan cinta tanah-air dengan menjadi boneka-boneka terpuji di pentas dunia. Tidak, dengan menjadi tenaga kerja yang paling murah di dunia. Tidak, dengan menjadi konglomerat terkaya di dunia. Tidak, dengan memompa diri menjadi raksasa monopol kebenaran |
PATRIOTISME IV
|
Tahun 2148. Simin Populi telah menjadi orang paling terkenal di dunia. Orang membicarakannya dengan takjub, rasa ngeri, menyebut namanya dengan bisik-bisik dan mengaguminya dalam impian-impian mereka. Kemashuran Simin Populi melebihi jagoan-jagoan masa-masa lampau. Bahkan , Simin Populi telah menjadi sosok ketenaran yang melebihi Superman, Herkules, Al Capone, Pendekar Baja Hitam, Hulk dan sederetan panjang nama-nama legendaris. Daftar kejahatan yang dilakukan Simin Populi sedemikian panjang dan beraneka, sehingga merepotkan bahkan bagi alat-pendeteksi yang semuanya sudah serba elektronik dan adi-iptek. Ya penggarongan, ya penyerbuan bank, ya penculikan, ya penghadangan konvoi pengangkutan aset-aset negara, ya penyanderaan, ya pemerasan... Ya, pokoknya kejahatan-kejahatan sebebas-bebas yang dibayangkan dan dikhayalkan orang. (Di kalangan orang jelata, --pada tahun 2148 masih ada rakyat jelata itu-beredar versi lain tentang operasi-operasi atau gebrakan-gebrakan Simin Populi. Kalau boleh dipercaya lakon Simin Populi yang cuma dari mulut ke mulut: Simin Populi itu melebihi penyamun budiman Robinhood yang teramat terkenal di masa lalu.) Nah, demikianlah tiba juga saatnya, Simin Populi, tertangkap basah dalam salah-satu operasinya itu, dibekuk setelah terkepung pasjukan-pasukan istimewa (semacam Gegana, atau pasukan Buru Cepat, atau mungkin juga semacam pasukan SWAT zaman sekarang). Dan tertangkapnya Simin Populi itu di suatu tempat di daratan global. Maaf, ada sesuatu yang terlewatkan dalam kronik futuristik ini: zaman yang dikisahkan ini adalah zaman tata-tertib global. Sesuai strategi dasar dan -sudah tentu-kepentingan para perancang globalisasi, di zaman yang dikisahkan di sini, nyaris hilanglah yang di masa jauh sebelumnya, disebut negara-negara bangsa. Yang ada yalah kawula global, mandani global, manager global, konglomerat global, pokoknya semua kelembagaan yang disertai sebutan global. Dalam teori dan praktek. Secara hukum dan aplikasinya. Nah, ketika berita tertangkapnya Simin Populi itu mulai disiarkan lewat semua media, ya koran, ya radio, ya televisi, ya internet (presisnya globalnet, namanya), hebohlah seluruh global itu. Sudah jelas bagi semua orang, bahwa telah terjadi suatu peristiwa yang paling bersejarah dan akan menentukan jurisprudensi global. Hal hukuman tidak ada kesangsian lagi, dan nyaris tak perlu dipersoalkan lagi. Semua yang telah dilakukan oleh Simin Populi adalah top-nya kejahatan. Dan untuk itu cuma ada hukuman top juga. Di zaman jauh sebelumnya, ada yang disebut capital verdict atau punishment. Hukuman mati. Soal hukuman ini sudah jelas. Itu yang akan didapatkan Simin Populi. Yang menjadi soal yang lebih besar lagi adalah: Persidangan pengadilan (diseret ke depan meja hijau, istilahnya zaman sekarang) itu adalah persidangan mahkamah global! Para anggota hakim, terdiri atas hakim-hakim yang pengangkatannya masih menurut salah-satu bagian hukum (undang-undang) global yang belum sempat berubah. Dan ini konsekwensinya --khususnya dan terutama dalam perkara Simin Populi-gawat sekali. Salah satu pasal agak paling mendekati azasi yalah, para hakim itu masih membawa gaung atau bagasi zaman lampau, yaitu masih dalam ikatan berbangsa-bangsa. Dan demi legalitas global, salah-satu pasal yang agak paling mendekati azasi yalah, dalam menjatuhkan capital verdict, alias hukuman top = mati, harus juga disebut kebangsaan, atau negeri si pesakitan. Ini didefinisikan sebagai totalitas identifikasi, karena hanya dengan begitu dapat diperoleh manfaat mutlak bagi tatanan global baru: yaitu dengan diidentifikasikan dan tudingan tanpa tedeng-aling-aling asal negeri = tanahair si pesakitan akan sekaligus diberlakukan budaya-mental global: yaitu si pesakitan itu telah mempermalukan negeri dan tanahair asalnya, sesuatu yang menjadi sasaran kutukan global. Di situlah diletakkan bobot keteladanan untuk masa-depan global. Sedangkan bagi Simin Populi itu, cuma samar-samar masih ingat bahwa ia asalnya dari negeri yang dulu disebut Nusantara, sabuk zamrut khatulistiwa, atau Indonesia, atau negeri dari Sabang sampai Merauke. Semakin lama ia menghadap dinding beton sel tempat tahanan itu, semakin gencar datang menyerbu ingatan-ingatan. Sebab memang, Simin Populi memang mengetahui (artinya masih ingat cerita-cerita kakek dan ibunya mengenai riwayat keluarga) leluhurnya orang Jakarta, kalau tidak keliru tinggal di suatu perkampungan [nah, yang ini tidak bisa dibayangkannya, sebab apakah yang namanya kampung itu, Simin Populi tidak tahu] yang namanya Jatinegara. Lagi pula medan operasi Simin Populi kan tidak saja di sana (di mana? Di pulau Jawa sana?) tetapi tidak mengenal perbatasan-perbatasan. Sudah mengglobal! Bisa dibayangkan betapa beratnya pergulatan yang terjadi dalam kalbu dan kesadaran Simin Populi. Ia memang mesti menimbang-nimbang benar yang kini menimpa dirinya, yang dihadapinya. Yang mana lebih penting: citra dirinya atau citra asal-usulnya, riwayatnya? Sesuai haknya sebagai pesakitan yang pasti akan menjalani atau harus menjalani hukuman mati, Simin Populi minta setumpuk buku, yang daftarnya disusunnya dengan sepenuh hati nurani. Ada buku Roots, Hawaii, Kumpulan Lagu-lagu Wajib, Racial Pride and Prejudice, Countries and Peoples, Encyclopaedia Britannica........... Spekulasi orang tidak terkendali lagi. Pasar tarohan juga marak. Ini bukan sekedar peradilan global. Ini peristiwa di mana bawah-sadar bangsa-bangsa sedang saling-mengintai. Peristiwa yang akan menjadi pemicu meledaknya sentimen-sentimen yang paling primordial. Ini semacam pengadilan bangsa-bangsa. Sebuah persidangan di mana segala yang esensial atau yang masih tersisa dari padanya akan diuji dan dipertarohkan. Hakim Ketua: Sebut nama mu. Simin Populi : Simin Populi. H.K. : Sebut tanggal lahirmu. |
31
|
S.P. : Satu Januari Duaribu-seratus. H.K. : Tempat kelahiranmu. S.P. : Ibukota Kosmopolitan H.K. : Kebangsaanmu. Hening sejenak. Seluruh telinga di ruang persidangan yang seluas koloseum itu terpasang tajam-tajam............. Masih hening juga. H.K. : Kebangsaanmu. S.P. : Bangsa global. H.K. : (tiba-tiba menggebrak meja) Jangan ingkar. Kebangsaanmu. Harus lebih spesifik. S.P. : Bangsa Global, yang mulia. Sesuai yang dipesankan oleh buku penataran Penghayatan dan Pengamalan Budaya Global, diperkuat lagi oleh Indoktrinasi tentang Kepribadian Global, dan Buku Pedoman Nirlaba Kebangsaan, ditambah lagi dengan Petunjuk-petunjuk Promosi Pariwisata Global.......... H.K. : Hush! Masih kurang spesifik. Yang ditanya di sini, asal-usul aslimu, yang menjadi tumpuan sisa-sisa kenangan-kenanganmu, kebanggaaanmu. Tempat yang menjadi sasaran seluruh curahan cintamu yang paling asali. Yang dengan kejahatan-kejahatanmu telah kamu permalukan, dan sebagai dosa terbesar tujuh-keturunan, patut diganjar dengan hukuman maksimal dan final. Sekali lagi: kebangsaanmu? S.P. : Tak punya, yang mulia. Biar kuterima saja hukuman kapital itu, biar itu kuterima sebagai resiko, daripada mesti menyeret-nyeret nenek-moyang dan leluhur segala. Heboh besar di ruang persidangan bangsa-bangsa itu. Semua pada meneriakkan dan beradu membesarkan identitas kebangsaan masing-masing. Yang tidak dipermalukan. Yang saling mengklaim saling mengungguli. Hanya satu nama negeri atau bangsa yang tidak terdengar dilontarkan. Tetapi orang mungkin juga sudah tidak menaroh perhatian. Bunyi meja para hakim digebrak-gebrak diiringi dengan suara nyaring Hakim Ketua: Tenang, tenang! Kalau tidak, akan kami perintahkan agar ruang persidangan ini dikosongkan! Dengarkan, inilah keputusan persidangan perkara Global versus Simin Populi. Satu: Atas perbuatan-perbuatan kejahatannya, yaitu pengrong-rongan tata-tertib global, Simin Populi diganjar hukum-gantung-hingga-lepas-nyawa. Dilaksanakan sebelum lewat tigaratusenampuluhsembilan menit terhitung dari ketukan palu ini. (dok-dok-doook!), Dua: Atas perbuatan yang menolak menyebutkan asal-usul aslinya, sehingga menghilangkan hak global untuk mengetahui asal-usul kebangsaan dan negeri yang telah dipermalukannya, Simin Populi dijatuhi hukuman tigaratusenampuluhsembilan cambukan sesudah menjalani hukuman kapital, dan dijatuhi hukuman dikuburkan di tempat penguburan orang-orang tidak-dikenal, tidak berbangsa dan tidak bertanah-air. (Sebagai catatan: angka 3-6-9 itu dapat juga diartikan angka gawat --sam-lak-kiu-untuk kaum pria, menurut kepercayaan sementara orang............) |
PATRIOTISME V
|
Dari dalam liang kubur Simin Populi, sayup-sayup terdengar lontaran penasarannya. - Yang mempunyai itu aku, atau kamu? Kepada siapa itu tertuju? Entahlah. Tanya saja sendiri pada Simin Populi. |
KEBENARAN I
|
Ucapan yang dilontarkan bertumpu posisi, wewenang dan kekuatan, tidak mesti berarti Dan menjamin kebenarannya. Tuduhan, ancaman dan keangkuhan yang dilontarkan pembesar, sivil atau militer, tidak mesti berarti dan menjamin keabsahannya. Juga bantahan, penjelasan dan janji yang diberikan, tidak mesti berarti dan menjamin beresnya keadaan. Kebenaran tidak ditegakkan dengan galaknya silat lidah.Keabsahan tidak terjadi dengan teror tudingan-tudingan.Keberesan tidak datang dengan memasung mulut, mata dan telinga. Kebenaran tidak sembunyi di mana-mana. |
KEBENARAN II
|
Untuk sarapan cuma ada gorengan-kalajengking tasik, situ, ledo dan rengas. Keresahan. Makan siang hanya menghidangkan oseng-oseng jerohan busang, jonggol dan timoresku. Skandal. Pesta malam dengan pepesan-ati syu-ki, udin dan marsinah. Kebiadaban. |
KEBENARAN III
|
Kebenaran. Hanya dalam kotak deposit di anjungan sana? Kebenaran. Tidak berdarah-biru keningratan. |
JUDUL I
|
Beberapa judul film kita: Pesona Gadis Simpanan. Macho (1 & 2 !) Rose Merah Gairah yang Panas Cinta Terlarang Gairah Terlarang Sex & Kriminal Gairah Malam yang Ketiga Bisikan Nafsu Gejolak Nafsu Lampiasan Nafsu Akibat Bebas Sex Perempuan di Persimpangan Jalan Godaan Membara Ecstasy & Pengaruh Sex (1 dan 2 !) Gadis Misterius Nafsu Liar Selingkuh Memperhatikan daftar (baru sebagian kecil!) di atas sungguh menunjukkan betapa kreatif dan bagaimana selera kultural (?) yang dijejalkan di negeri kita. Menyimak daftar judul film di atas membuat orang semakin ngeri jika disertakan di sini daftar judul film 'iringan' yang menggelar horor, kekerasan, ketahyulan dan sejenisnya. Nota-bene setelah sekian lama dan bertubi-tubi pembinaan penguasa dunia perfilman, yang menyabdakan, menyerukan, menghimbau bahkan memerintahkan kepribadian bangsa, budaya bangsa, edukasi bangsa ........ |
JUDUL II
|
Pada kaca-belakang sebuah mobil: I Love Made In Indonesia. Presis di bawahnya, dengan gambar 'ouwheer' berjenggot: K.F.C. Kentucky Fried Chicken - garingnya ! |
[
Tempo-Doeloe Page | Edi Cahyono's Page ]