SAMBITAN

setumpuk

layang-layang putus

Ira Iramanto

Part 2

HUMOR I

  Lazimnya orang menganggap humor itu sesuatu yang lucu-lucu. Humor adalah lelucon, kata orang.

Padahal, humor berarti berdamai dengan kenyataan. Bahkan lebih dari itu, dengan humor seseorang dapat menghadapi sesuatu kegagalan tidak sebagai kesalahan siapa-siapa, tidak karena kesalahan siapapun dan apapun, kecuali memang kekurangan atau aspirasi diri sendiri yang belum dapat menjangkau sesuatu yang diinginkan itu. Demikian pula melihat keganjilan yang menimpa orang lain, tidak sebagai sesuatu untuk ditertawakan atau dikasiani, tetapi justru bersimpati dan faham akan deskrepansi antara keadaan dan kemampuan yang sedang dihadapi atau dialami orang tersebut.

Sesuatu keadaan tidak dapat diubah atau diatur hanya sekedar dengan atau sesuai keinginan. Kemauan saja tidak cukup. Ada syarat-syaratnya, ditentukan pula oleh kesadaran akan ruang dan waktu. Kondisi.

Maka itu orang berkata juga: nafsu besar, tetapi tenaga kurang Dengan demikian seseorang akan dapat memeriksa diri sendiri, melihat dirinya seakan-akan dalam sebuah karikatur. Dengan kelegaan melihat dirinya bagaikan Don Kisot yang melawan kicir-angin........ Dapatlah ia berdamai dengan keadaannya sendiri, persoalan-persoalannya sendiri, tertawa dan juga memahami gapaian-gapaian dirinya yang tak-sampai-sampai meraih angan-angan di langit, atau hasrat khayalnya untuk terbang meluncur ke angkasa raya.

KUASA I

  Kisah si Kerdil menjadi Raksasa adalah bayangan khayalan orang.

Si Kerdil merebut dan bisa lebih berkuasa karena ada bahu Sang Raksasa untuk dinaiki dan menjadi pijakannya.

Si Kerdil biar ditunjang berdiri di atas puncak gunung, tetap saja ia kerdil. Sang Raksasa biar berdirinya di dasar sumur, tetap saja ia raksasa. Semakin jauh orang dalam sorotan cahaya, semakin kecil bayangannya di pentas peristiwa. Semakin kerdil sosoknya di layar sejarah. Semakin dekat orang dalam sorotan cahaya, semakin kelam bayangannya pada lingkungan. Semakin meraksasa cacad-cacadnya di mata khalayak.

KUASA II

  Jika kekuasaan di kelola kekerdilan. Akan seperti ketololan yang datang berkodi-kodi.

Sebuah pemerintah yang cuma untuk melindungi bisnis dan benda-benda dan Mammon keserakahan, adalah seperti bangkai yang segera membusuk karena korupsinya sendiri.

DUSTA I

  Berkepanjangan melukis iblis pada dinding-dinding, tiada henti-hentinya, akan membuat iblis-iblis itu benaran muncul di hadapan kita.

Dusta itu tak berkaki, sedangkan skandal itu bersayap.

Teringat aku pada menteri propaganda dan pencerahan masyarakat jerman nazi: Dr. Paul Joseph Goebbels, yang kurang lebih mengatakan: berkeras dan ulangilah kebohongan itu tanpa berhenti sejenak pun, dan itu akan berakumulasi sehingga menjadilah ia kebenaran.

Negeri kita juga kenyang dengan dusta-dusta resmi.

Dusta dan fitnah nyaris senyawa dan sebangun. Yang kemarin dinyatakan

pemicu dan penghasut huru-hara, hari ini diluruskan sebagai 'sudah

disaling-mengertikan' dan tak-usah-disinggung-singgung lagi.

Dan jadilah dusta itu bumerang, menjadi blunder setelanjang-telanjangnya

yang kesekian kalinya. Tetapi juga karena dilawan dan serangan balik

memaksanya menelan kembali ludah busuk yang sudah dilontarkan.

NAFSU I

  Simin Populi sempat menceritakan dongeng tentang sebuah republik yang ditata menurut romantisme zaman kerajaan-feodal.

Syahdan, presiden yang seperti tennoheika dianggap titisan dewa-dewa dan memang dilahirkan untuk mendewai republik-tata-negari-raja-raja itu suatu saat terpanggil untuk menunaikan konstitusi: sudah waktunya diangkat seorang wakilnya. Wakil presiden. Bukan soal suksesi. Dan sudah sepatutnya, mesti dipatuhi dan dipenuhi kaidah-kaidah tertentu. Memang tidak diperlombakan seperti di zaman lama-sebelumnya, tatkala para ksatria diharuskan berlomba/mengikuti sayembara (seperti ksatria Tarzan mencari obat manjur: koyok cabe untuk sang raja Asmuni) demi dapat menyunting puteri sang raja. Karena ini urusan wakil, maka para calon atau yang mencalonkan diri (dan ini jumlahnya tidak kepalang tanggung!) mestilah tokoh yang mampu mendampingi, bersesuai-pikiran dan gaya, bisa bekerja-sama 100% serasi dan dalam keserasian, bahkan ekstremnya: nyaris keseranjangan dengan paduka raja-presiden.

Maka adalah seorang mahapati yang melebihi semua aspiran lainnya, paling menggebu-gebu menghasratkan, menafsukan kedudukan pen-damping singgasana itu.

Dalam menggelembungnya gebuan nafsu itu, sang mahapati tidak segan-segan, bahkan sunguh rela-ikhlas melepaskan yang tadinya adalah dirinya

sendiri. Dan semangkin dekat saat menentukan itu, semangkin maraklah pergelaran keserasian, kesaling-pengertian, kesatuan bahasa (dan penggunaan bahasa) dan kesehidup-kesematian dan keseranjangan, diki-barkan oleh sang mahapati itu.

Dan semangkin menjadi-jadilah terjun-bebas sang mahapati itu, ketika pada suatu ketika didengarnya gumam sang presiden-raja itu: yang kira-kira berbunyi u maar, u maar. Dan sang mahapati yang sudah sampai ke puncak GR, menerjemahkan gumaman itu sebagai engkau saja, engkau saja........ Dan lonjakan harapan itu dinyatakan oleh sang mahapati itu dengan semangkin gencar memidatokan aken, aken dan aken, mangkin dan mangkin dan mangkin , semangkin aken mangkin tercapai angen-angen..........

Dengan mengelus dada dan mbrebes mili Simin Populi mengakhiri dongengnya itu dengan helaan nafas panjang: Lah koh, dalam zaman alea judiciorum (tiadanya kepastian hukum) seperti di zaman itu sang mahapati itu tega-teganya mempurukkan diri sampai seperti itu!

Simin Populi masih sempat melengkapkan kisahnya itu: Kesudahannya, yang menjadi raja-muda..... eh, wakil presiden... itu memang seorang yang namanya mirip gumaman sang raja-presiden...... Mahapati malang kita itu, dalam lengar sesaat itu menerjemahkan yang didengarnya itu ke dalam bahasa belanda......... u maar, engkau saja.......................

Tetapi sudahlah, sepahit-pahit pengalaman sang mahapati itu, yang sementara itu telah mangkat dengan segala upacara kebesaran, bahkan sampai diabadikan dengan julukan Maha-buldozer, ternyata bisa meninggalkan warisan beratus-ratus hektar tanah pada anak-cucunya.

KUASA III

  Gebrakan-gebrakan senopati kita masih saja tentang pemain di belakang layar, sais gelap dan pembangkang urakan.

Semua sudah telanjang di hadapannya.

Data dan fakta sudah dan hanya dalam genggaman tangan-besinya.

Hanya kejelasan belum terlontarkan, karena kelantangan masih

tersumbat oleh dahak kebingungan. Kesimpang-siuran.

Maka pedang damokles belum keluar dari sarungnya.

Blunder demi blunder menjelang kebangkrutan wibawa

Memang gaya sewenang-wenang menjadi tanda impotensi

Operose nihil agendo. Sibuk tak berbuat.

KUASA IV

  Ada yang membusuk dalam negara. Sebab,

hanya sumber (mata-air) murni yang selalu mengalirkan air jernih.

Sang petualang melolong-lolong di tengah sahara kegersangan dan kegelisahan, mendambakan oasis dan kesejukan. Kalaupun itu cuma fatamorgana dan khayalan demam tak-berampun.Limbah desintegrasi diri dikiranya kejaran dendam kesumat pembalasan.

INTEGRITAS I

  Terlampau klise untuk mengatakan musibah adalah suatu blessing in disguise, berkah tersembunyi.

Titik nadir kenistaan, kekalahan, tidak-dimanusiakan, pembuangan dan pengucilan, teror dan kesewenang-wenangan menelanjangkan orang di depan diri sendiri dan di hadapan orang lain.

Di situ tiada tempat bagi dan bohong belaka robinson-robinson crusoe berpeluang untuk berkiprah. Yang namanya digodok dalam kawah condrodimuko, tiada yang bisa lolos: pribadi diri, fisik maupun mental.

Yang soal bukan sekedar hidup bertahan atau mati merana, di situ cuma ada pilihan menjadi manusia atau menjadi non-manusia.

Di situ bukan soal intelektual atau ignoransi, di situ semua disederajatkan: nalar, kesadaran dan hati nurani.

Maka di situ berlakulah ukuran orang banyak bersama-sama yang sederajat di hadapan keadaan. Melebur yang banyak menjadi yang satu dan yang satu menjadi yang banyak. Bukan sebagai kawanan atau gerombolan tanpa kepribadian, kumpulan tak bernama. Yang cuma membebek. Melainkan yang satu-satu dan masing-masing berdiri tegak menyatakan diri dan harkatnya.

Di mana mata kesadaran jernih melihat: ada. Ada yang dilayakkan -tadinya- baja murni olahan, ternyata cuma lempung dan sosok dan tokoh dan jiwa karbitan. Dan yang terbanyak, yang dibariskan -tadinya-sebagai orang-banyak-ignoramus, cuma rank-and-file, ternyata dan justru tempaan baja murni oleh kesederhanaan dan kesahajaan.

Yang adalah integritas. Integritas tanpa embel-embel. Tanpa istilah-istilah tinggi-tinggi. Integritas kepedulian pada sesama. Integritas rela berkorban untuk yang menderita dan lemah. Integritas pelayanan tanpa pamrih. Integritas yang bukan keluh-kesah dan rengekan mengemis dikasiani. Integritas tempat mengaduh ketidak-adilan untuk dihadapi bersama.

Integritas kebersamaan dan kesenasiban. Integritas membuka diri dan menyalami toleransi. Integritas yang berpegang pada azas dan tidak

terkecoh oleh basa-basi, bunga-bunga kemunafikan.

Integritas yang tidak bertekuk-lutut dihadapan kesempitan dalam kesempatan. Integritas yang tidak menghisap darah godaan kesempatan dalam kesempitan. Integritas: tiada orang yang makan tulang kawan.

Ya, integritas untuk menjadi manusia yang lebih manusia.

UNTUK AMIEN RAIS

  Biar kudekap dikau, kesengsaraan tercelah,

karena -kata para orang arif bestari- itulah jalan paling bijaksana untuk

ditempuh

Shakespeare, Henry VI.

GUS DUR

  Buat apa orang men-Semar-Semarkan dirimu. Dirimu yang tanda-zaman, bukan sebuah mitos dan tidak untuk dimitoskan. Integritas yang sedang berjuang

Kebenaran tak memerlukan omongan berbunga-bunga.

HASTA MITRA

  Kelahiranmu digagas dalam belenggu penindasan. Jadimu di buaian pergolakan dan kelaliman merajalela. Tarohanmu keberanian, komitmen Dan kesetiaan pada sejarah dan hari-depan

Memang bukan semut makanan Garuda.

Quod est, eo decet uti: et quiequid agas, agere pro viribus.

(Yang dipunyainya, itulah yang mesti dikerahkan; dan apapun

yang dilakukan, itu dilakukan dengan seluruh kemampuannya)

PERUBAHAN I

  Tiada yang berubah di Indonesia, cuma ada tambahan sesuatu yang khas Indonesia: mobnas Timor.

Tiada yang berubah di Indonesia, kecuali sebuah Pesta Terakhir (drama satu babak R. S.) yang tidak dihadiri para tamu undangan.

Tiada yang berubah di Indonesia, cuma ada tambahan sesuatu yang khas Indonesia: menjadi saudara tua Myanmar.

Tiada yang berubah di Indonesia, kecuali bila sebuah Pesta Demokrasi

ketimpa boikot.

Tiada yang berubah di Indonesia, cuma ada tambahan sesuatu yang khas Indonesia, modern dan ilmiah: budaya tuding-menuding.

Tiada yang berubah di Indonesia, kecuali tambahan lahirnya seorang raja emas Indonesia.

NAFSU II

  Kubiarkan diriku terbawa berkelana

dalam riak pusaran semakin meninggi

daulat rasa dan naluri purba

mengikuti olakan renjana

Ujung jari-jariku bagaikan sungut-sungut

peraba puting-puting tegang tergugah

dan membelai pucuk jenisnya.

Menguji kuasa keperkasaan

disambut wadah menengadah

diterima dalam kesatuan menggila

Dan melepas dayaku tak peduli segala

Berguling-guling dalam kepekatan

madu kenikmatan. Lahiriah.

Mengapa cuma rasa kehilangan

kesudahannya? Hampa.

PERUBAHAN II

  Inilah tantangannya.

Bawa padaku orang-orang yang menandingi barisan pegununganku.

Bawa padaku orang-orang yang menandingi hamparan dataran-negeriku

Bawa padaku orang-orang yang menandingi dahsyatnya gelombang samudera-samuderaku

Ya, orang-orang yang menyeluruh dunia dalam niatnya

dengan kurun-kurun zaman baru dalam benaknya.

LANGGAM I

  Sudah kejalani masa gerakan-gerakan pelurusan, rektifikasi.

Pikiran, moral, kelakuan, gaya kerja. Yang satu itu anti kemaksiatan.

Molimo. Anti-lima-m. Madat, madon, maling, mabok-mabokan, main-judi. Sok puritan?

Ketika itu aku lagi hobi-hobinya memancing. Bukan memancing di sungai atau danau atau kolam. Di laut.

Sampai kata teman-teman: lupa daratan. Tak kenal siang, malam dan waktu.

Sekali peristiwa aku menghadiri sebuah pertemuan. Biasa diadakan seminggu atau sebulan sekali. Aku bukannya datang terlambat, cuma amburadul saja keadaanku. Pagi tadi baru pulang dari memancing, berangkat sabtu petang, pulang senin pagi, tadi. Kulitku 'abang-biru' kata orang, terkena angin laut, sorot dan panas matahari.

Mendadak lahir usulan dari Iramani. Agar padaku tidak hanya diberlakukan molimo. Ditambah satu anti-m. Mancing.

Semua yang hadir: ramai-ramai anut-biung setuju sambil nyengar-nyengir. Penggembira musibah yang menimpa diriku...

USIA SENJA I

  'Biar usia kita sudah berkepala tujuh,' demikian Dharnoto suka berkata, 'jiwa kita kan masih muda.' Ungkapan klise? Atau cuma untuk menghibur diri?

Atau barangkali kepandiran yang mengira dapat menahan waktu, menghentikan waktu? Gapaian-gapaian orang yang sudah sampai diambang ketidak-berdayaan?

Tidak. Nyatanya Dharnoto memang masih sanggup dan diberondong permintaan-permintaan menggubah lagu.Tak satupun yang ditolaknya.

Agaknya juga karena Dharnoto memiliki rasa humor yang renyah. Droog-komiek kita selalu menjulukinya.

Dan ia terus nyanyi, memainkan jari-jari tangannya di atas tuts-tuts piano atau organ.

Memang, tiada yang lebih nista daripada seorang tua, yang membungkuk-bungkuk dibebani timbunan waktu, tetapi tiada bukti lain bagi panjangnya usia yang direguknya, kecuali ketua-rentaannya itu.

USIA SENJA II

  Makin bertambahnya usia memang membuat orang berpikir dan merenung. Tidak hanya bagaimana berdamai dengan kematian yang pasti datang menjemput. Mata ingatanku mendatangkan seseorang yang kini sudah berusia 83, orang pertama pembayat diriku pada pikiran-pikiran yang kumiliki sekarang. Mata kenanganku memanggil seorang yang telah wafat tahun lalu, dalam usia 92. Salah-seorang guruku yang pertama mencerahkan dan membekali pengetahuan pada diriku.

Maka semakin dalam perasaan ini. Betapa benarnya.

Orang yang tak menengok kebelakang pada leluhurnya, tak akan pernah memandang ke depan pada anak-cucunya.........

LANGGAM II

  Kolonel Samsi, nama Dan Tefaat itu. (Benar, tempat pembuangan tahanan politik itu disebut tefaat, tempat pemanfaatan). Tanpa tedeng aling-aling, pada awalnya.

Komandan yang seorang ini, dapat disebut khas. Yang menjadi ambisinya, dan ambisi itu tidak pernah beristirahat, adalah membangun semacam masyarakat-mini dan semacam tatanan hubungan mini, khusus bagi para orang di pembuangan.

Yang ada di atas, tentu saja dirinya, adalah gusti, atau dem'i-gusti dan yang di bawah , tentu saja yang lebih dari 10.000 tapol buangan itu, adalah budak-sahaya, atau dem'i-budak. Sebuah struktur ideal, bukan?

Tetapi, tentu saja mesti dibuat sedemikian rupa, sehingga bisa menjadi kenyataan.

Caranya: Dan Tefaat itu mesti mengerdilkan dulu yang lebih 10.000 orang buangan itu, secara fisikal, secara rokhaniah, secara mental, dalam kesadaran maupun harga-diri. Semua nilai-nilai yang masih endap dalam perasaan dan pikiran lebih 10.000 orang buangan itu mesti dijungkir-balikkan, sebaiknya bahkan dilikwidasi.

Dan itu dengan jalan menteror eksistensi, pikiran, perasaan maupun mental. Bentakan, penghinaan, hajaran, perintah-perintah sewenang-wenang, ketergantungan dalam hal ketenteraman, penangsalan perut dan hak-hak sampai pada bernafaspun...........

Caranya lagi, ini sisi lain atau sebaliknya dari mata uang nilai-nilai tadi:

pengagungan sang dem'i-gusti, betapa merupakan suatu anugrah bila para dem'i-budak itu boleh memandang sirah sang gusti, 'diajak bertukar-kata' oleh sang gusti, bahkan untuk diperkenankan mengucap 'nggih gusti' sambil merangkak mundur dari kehadiran sang gusti.

Dan dalam kelanjutan proses itu, semakin bertubi-tubilah sabda-cerita sang gusti mengenai asal-muasal dirinya, mengenai leluhurnya, dan yang terdekat orang tuanya, khususnya sang bapak kanjeng gusti: yang -katanya - terhitung salah seorang dari putera-putera terbaik negeri ini.

Yang adalah seorang ilmuwan sekaligus sejarawan, yang dalam kekerasannya penuh berkeadilan, dan daripada mesti hijrah lebih memilih menghitung pensiunnya.

Entah itu suatu kekebetulan saja, entah itu guyonan dan ulah para dewa, tetapi adalah Pram.,--salah seorang dari antara yang banyak, yang sudah mengalami, menderitakan segala cara pengerdilan orang buangan, bahkan secara khusus dihina, diludahi dan digebuk sampai tujuh putaran oleh kolonel Samsi, sang dem'i-gusti in person itu--, yang ternyata meng-identifikasi bapak sang gusti itu sebagai salah seorang kenalannya dari masa revolusi. Seorang tentara, yang kemudian menjadi direktur atau wakil direktur sebuah perusahaan penerbitan di Jakarta.

Bisalah dibayangkan apa dampak peristiwa 'pengungkapan rahasia' itu.

Sampai-sampai Pram. dicoba dirayunya menjadi semacam juru-tulis kronik istana kolonel Samsi, Dan Tefaat, sang dem'i-gusti........

Kisah agak lengkap ini tidak kuperoleh dengan kesaksian mata-kepala sendiri. Aku mendengarnya ketika sedang panen ubi rambat di ladang unitku.

Sambil mengorek-ngorek buah ubi itu, terlintas dalam benakku, betapa yang cuma bisa membangga-banggakan leluhurnya yang dimashur-mashurkannya sendiri, adalah seperti buah-buah ubi itu: satu-satunya tempat yang paling menjadi miliknya yalah di bawah urukan dan gundukan tanah!

Ada sebuah kisah, beberapa tahun berselang, tentang pensiun dan hidup santai, membuka sebuah tempat permainan bola sodok (bilyard). Memang, masing-masing orang ada rezekinya sendiri.

Janganlah pahit empedu meracuni pena ini.............

SCRIBBLE-SCRABBLE

  Hasil usaha mama-papa untuk saya saja.

Tokoh itu memang orang rakus.

Sudah persis seperti marcos.

INTEGRITAS II

  Bandaharo, penyair Tak Seorang Berniat Pulang, telah berpulang.

Sekali peristiwa, sebuah noda pertanda -salah satunya-suatu awalan dari suatu akhiran.

Ia memang masuk dalam deretan cc

dan dalam sebuah sidang ia berdiri, mempertanyakan

salah sebuah analisis sang ketua.

Yang ikut bersidang, termasuk sang ketua, serta merta sepakat membincangkan pertanyaan itu.

Pada waktu jedah untuk makan siang, ke meja Banda

datang Sam 'the great conspirator', kepala keamanan (atau barisan pengawal?), dan dengan seram-keren melontarkan bisikan bernada ancaman: "Kau sudah merasa dirimu kuat untuk melawan ketua?"

Sesuatu bisa naik tetapi untuk jatuh,

dan bertumbuh tetapi untuk membusuk.

Bencana dan khaos.

Bencana, anak haram rekayasa dan komplotan atau limbah kepandiran dan nalar yang hilang,

atau salah kaprah petualangan.

Khaos, malam rangkap kegelapan dan nuansa bayang-bayang,-- peristiwa-peristiwa ketika khaos berkuasa

Tetapi-itu juga saat-saat penentu dan ditegakkannya

kebenaran kaidah-kaidah

Ia, yang masih mau menyusu dari kejayaan masa-lalu,

bergayut pada kebesaran dan wibawa yang menuntut pelayanan

Membangun jarak: Ia,

sebagai nirmala batu karang tua, pencerah dan pemandu budaya

dan:

yang banyak, yang kasar kurang tersentuh budaya,

berbudayakan 'anak-buah' dan berjatahkan kerja, kerja dan sisa-sisa,

yang bersyaratkan kepatuhan pada lembaga dipribadikan

Padahal, sengsara itu dijalani bersama, sama-sama mesti menanggungnya.

Padahal, masa lalu sudah memberikan padanya: pengakuan dan kedudukan, keharuman nama dan nikmat-nikmat kesempatan.

Semuanya itu ada karena yang banyak yang di-'anak-buah'-kannya.

Tidakkah bakat memang diasuh dengan diam-diam,

sedangkan watak dan kepribadian dan integritas dibentuk

dalam hempasan badai dunia?

Buat apa lembaga yang memberi pengayoman dan pijakan untuk berkiprah, ketenaran dan bobot menentukan nilai-nilai,

dihujatkan sebagai palu-godam bela-diri

Sengketa pribadi dalam absurditas supra absurditas.

Bagaikan buddha duduk bersila

di bawah pohon bodhi

mencari dan mencapai maha-pencerahan

yang menghantar ke alam kedamaian

Bandaharo, penyair Tak Seorang Berniat Pulang, telah berpulang.

INTEGRITAS III

  Jangan padaku, jangan pada kami

diberikan berhala-berhala baru

mengkultuskan pribadi, mendewakan institusi, memutlakkan ideologi.

Jangan padaku, jangan pada kami

dipaksakan kepatuhan buta,

pembekuan gagasan, mematikan nalar dan

pemasungan kebebasan.

Mengetahui yang benar tapi sedikitpun tidak berbuat, itulah kepengecutan.

Tiada yang kebetulan, karena kekebetulan itu sebuah kata hampa,

sebab tiada yang ada tanpa sesuatu sebab.

Barangkali itu nama samaran Dewa, ketika tak mau membubuhkan

tandatangannya.

Mengucap..... mengucaplah seniman

karena menjadi kejayaan dan keunggulan Seni menjadi satu-satunya jalan yang mungkin, untuk menyatakan kebenaran.

HUMOR II

  Berperangai yang tak-pernah mengkerutkan dahi,

dan keceriaan menjadi nama kecilnya.

Dirinya dibanding-bandingkan dengan kepiawaian orang lain,

mendengar decak kagum akan keberlimpaan tetangga.

Tak melayani amarah yang cuma salah satu syaraf desahan kalbu,

atau mengendalikan pasangannya tanpa bertepuk dada,

memikat dalam penyerahan, patuh dalam mengelak.

Dan paling mempesona ketika menyatakan taatnya.

Cemeti tiada akan mengusik ketersinggungan

Menerima kekalahan bagaikan itu suatu kemenangan

dan pesan bagaikan itu gagasan sendiri.

Yang bangga akan asal-usulnya, bangga akan kemampuannya,

bangga akan keindahan tubuhnya, bangga beradi-busana,

bangga akan kekayaannya, bangga akan kelebihannya, kalaupun itu

semua bertaring keburukan.

Setiap humor memiliki kebahagiaannya sendiri,

memberikan kenikmatan melebihi yang lainnya.

BEDUK

  Pandanglah buah yang menggelantung

tinggi dari ranting pohon.

Tidakkah ia sebuah riwayat sendiri

dari biji yang dipeluk bumi dan

tumbuh menjadi hingga meranum

tinggi di situ?

Hanya kejelian dan peduli

cerah pikiran dan jauh pandangan

mampu menghidupkan makna dan makna-makna.

Begitu pula beduk, sebongkah riwayat

hinggap menjadi di ingatan dan prilaku

satu dan jutaan khalayak

Melahirkan suasana

kerinduan dan nostalgia

ibadah dan pesta hari raya

tradisi dan adu perkasa anak-anak muda

Tetapi bisa juga, kendaraan sengketa dan

malapetaka.

Ia juga kisah yang bercerita tentang

negeri-negeri, adat kebiasaan,

peta dunia dan budaya bangsa-bangsa

Ia sebuah peristiwa tapi juga pencipta peristiwa-peristiwa

Tapi ia tidak secetek tangan dalam kobogan

Ia juga kisah tentang kesenjangan,

tentang keterpinggiran.

Tentang punahnya tradisi dan pemekaran

Ruang dan kesempatan.

Terusiknya kebebasan

Tahu. Betapa pentingnya tahu. Luasnya wawasan.

Hanya kejelian dan peduli

cerah pikiran dan daya bedah kejernihan

mampu menghidupkan makna

dan makna-makna.

GEBUK

  Lain info, beda muatan

Lain selera, beda tafsirnya.

Semua peristiwa: kuda troya

Semua peristiwa: konspirasi jahat

Semua peristiwa: keberingasan

Semua peristiwa: ini dan itu

Semua peristiwa: mencurigakan

Semua peristiwa: di-inteli

Semua peristiwa: pengadilan jalanan

Semua peristiwa: kejahatan

Semua peristiwa: awas!

Semua peristiwa: diluar konsitusi

Semua peristiwa: penunggangan

Semua peristiwa: banyak peristiwa

Semua peristiwa: terjawab

Gebuk.

Pil bersalut manis = gebuk

Pil pahit sebugilnya = gebuk

SENI I

  Sudah berkepanjangan kita bermain-main

dengan istilah dan tafsir

berlomba berpacu ciptakan yang baru

asal baru,

keliaran iseng mencari heboh

mengarang bungkus hias ornamen

Gugat Semsar, Semar gugat

realisme berlapis-lapis

kebangsaan berkeping-keping meniada

seni multi-kultural, seni supra-individual

Seni kesejaman atau seni kesepanjangan waktu

jalan buntu atau kebolongan total

black hole.

SENI II

  Seni itu tangan kanan Alam

Alam hanya memberi keberadaan

Tangan yang menjadikan kita manusia

Maka,

adakah seni itu cuma bakat pada kedangkalan?

Ia mesti berawal jauh ke belakang pada manusia.

Bagaikan jerami kedangkalan itu mengapung di permukaan,

untuk mencari mutiara, apalagi mutiara kebenaran, mestilah

seniman menyelam dalam-dalam.

SENI III

  Masih saja kau berteka-teki sendiri

Mengapa aku kau jadikan

sekeping dagingmu, secuwil tulangmu

sekilas rasa atau sedu-sedan anganmu.

Untuk siapa aku kauhadirkan

bagi diri sendiri atau malu-malu

tersimpan dalam gudang di belakang rumah.

Hasrat berbicara dan mencari pengakuan

apakah yang mendera kesangsian

ditangisi terabaikan atau sepinya hirau

sambutan yang tercari-cari dinantikan

dan diharapkan

belaian kebanggaan dimanja puja-puji

Kutak-kutik kata-kata atau

sapuan warna-warna, dan bunyi seruling

di kerinduan jiwa.

Pendangkalan atau sublimasi, medium atau idioma

bagi kepuasan cuma satu kesendirian

atau tepuk tangan kerumunan, cuma penonton.

Menjadi pusaka egoisme dan kuasa kepemilikan tunggal

atau untuk kenikmatan banyak hati

dalam kegersangan jiwa

Perspektif kelonjongan, prospektif lingkaran-lingkaran

Apakah sebenarnya, ketika aku kauciptakan,

yang merasuki dirimu

Ambisi, pretensi, kerendahan-hati atau pesan sang sponsor

Atau yang sayup-sayup terdengar: tanggapan dan suara hatimu.

Menyajikan dunia dan kehidupan., dalam relief-relief tajam.

HARI

  Dengarkan anjuran-anjuran Fajar

Pandanglah jeli hari ini. Karena itulah kehidupan

Kehidupan itu sendiri

Dalam lintasannya yang singkat

mengandung semua kebenaran

dan semua kenyataan keberadaan,

realitas eksistensi.

Berkah pertumbuhan, kejayaan laku

Pesona keindahan.

Karena kemarin cuma sebuah impian

dan esok hanya sebuah bayangan.

Hari ini yang dijalani dengan baik

menjadikan setiap kemarin

sebuah impian kebahagiaan

dan setiap esok

sebuah bayangan harapan.

Maka, pandanglah baik-baik hari ini!

Demikianlah Fajar disambut.

(Dari sebuah sumber Sanskerta.)

TEMUAN

  Betapa benar, Romo!

Tumpulnya segala niat baik, welas-asih dan advokasi

datang sebagai juru penolong atau pamrih juru-selamat

dengan segala kecanggihan, tentang kuadratur dan senyawa kimia,

dengan terang sosiologi , filsafat kemiskinan,

kriteria psikologi dan teologi penderitaan.

Di hadapan kekentalan keterasingan, teralienasinya orang

dari segala-galanya,

orang-orang yang menggeluti timbunan sampah dan disampahkan,

yang mencari bakal penyambung hidup sekedarnya

dari limbah dan sisa-sisa dan rongsokan terbuang.

Kepedulian dan ketulusan saja, apalagi konsep-konsep

proyeksi keinginan, tak-akan menemukan kuncinya, membuka pintu

masuk ke persoalan dasarnya.

Jalan masuk itu, akses, adalah pemahaman budaya, mata

dan bahasa budaya, ungkapan budaya.

Budaya primeval.

Itulah yang mereka miliki, daya bertahan primeval untuk hidup,

untuk survival. Naluri, resistensi, ketegaran dan kekenyalan,

daya tangkal tetapi juga daya adaptasi. Dengan

segala ketangkasan akal dan kreativitas keterpojokan manusia.

Suatu sistem sendiri untuk bertahan hidup, menghadapi

keterampasan total, himpitan ruang total, cekikan waktu total.

Seperti juga wujud sikap mereka dalam menghadapi dan menggugat

kematian. Jatuh dan menjadi korban yang bagaikan saudara kembar

keseharian mereka. Setiap korban yang jatuh dalam pergulatan besar

untuk survival itu: karena tak terpenuhi tuntutan-tuntutan minimal alam;

karena gusuran hingga batas-batas terakhir segala kesempatan, atau

menjadi umpan api penggusuran dan keganasan ketak-pedulian.

Di sekeliling maut dan korban yang sudah menyatu itu,

memang tak cukup hanya upacara dan doa-doa,

ratapan tangis dan kutukan dan caci-maki.

Inilah skandal. Skandal.

Gugatan itu mereka teriakkan dari atas atap-atap rumah

ke langit dan seluruh penjuru dunia, dengan gelegar suara yang paling

dahsyat: keheningan diam. Mereka kumpulkan seluruh dendam,

kepasrahan, perlawanan , kepatuhan dan pemberontakan itu dalam

kepekatan paling solid: kebungkaman diam

Dan mereka menyatakan kembali eksistensi mereka di lembah-lembah keterpinggiran dan ketersampahkan itu dengan hakekat semua bunyi: diam total.

Bukankah ini kesadaran baru bagi para pekerja sosial dan pekerja budaya,

karena pergulatan manusia sepanjang masa, adalah pergulatan untuk

bertahan hidup sebagai anak tangga pertama di tangga

emansipasi manusia,.

Semakin menjadi manusia, manusia yang lebih manusia.

Dengan kesadaran baru itu, dengan bahasa pemahaman budaya itu,

menyampaikan dan membangun pengertian ke seluruh penjuru

kepedulian, membangun dan menggerakkan seluruh kekuatan kepedulian

terhadap skandal terbesar di bawah kolong langit dan peradaban:

keterasingan paling telanjang dalam pergulatan mempertahankan hidup

dan korban-korban 'sesajen' bangsa manusia.

HIMNE I

  Yang kudendangkan ini

nyanyian pujian bagi kaum yang ditaklukkan

yang gugur di medan kehidupan

Himne kaum tak-berdaya, terluka, kalah

dan mati dilindas dalam pergulatan itu.

Bukan lagu kemenangan para penakluk

yang mendapatkan sorak-sorai paduan suara

bangsa-bangsa, dengan tanda kemashuran

pada dahinya.

Tetapi himne para miskin papa, yang terpuruk-puruk,

yang letih dan lelah, yang patah hati,

yang telah berusaha dan gagal

Dengan gagah-berani memainkan

peranan bisu dan tanpa-harapan.

PENCERAHAN

  Biar karunia pencerahan

menyapu bersih busa dan kabut

dari hati-nurani

Agar sungai pikiran dapat

mengalir jernih berkelanjutan.

HIMNE II

  Dalam gubuk reyot, di tengah ladang

kau hadapi maut seorang diri

menyerahkan dirimu dalam peluknya yang abadi

Bukan karena malu, digampar dan diperintah push-up

hati buas dan mata buta kesewenang-wenangan

yang penuh dengki mengolok-olok

tubuhmu yang dicengkeram sirosis,

masih bertahan dan berani bernafas.

Bukan, bukan karena malu,

tetapi karena beban tanggungan sakitmu

tak kaurelakan memberat di atas bahu teman-temanmu

Kau, yang pada waktu keperkasaanmu,

menjadikan dirimu kerbo penyeret bajak,

agar teman-temanmu dapat menuai hasilnya.

Kau, yang berjalan paling depan

menerjang dan membabat hutan

menebang raksasa-raksasa meranti,

agar teman-temanmu dapat merebahkan badan

di atas alas-tidur papan-papan gergajian.

Kau, yang selalu merebut tugas-tugas dan korve-korve paling berat

Dengan senyummu yang sejuk dan cerah wajahmu,

mengangkat kesuraman dan putus-asa

dari pikiran dan suasana hati semua.

Kayun!

Pemudaku! Pemuda kami! Pemuda kita!

Calon cendekia, harapan bangsa, jantung hati pertiwi.

Dengan endrine kau leburkan dirmu dengan maut

Agar kami bisa hidup!

BAHASA

  Negeri kita memang sudah dilanda kerancuan bahasa.

Tidak hanya dalam kosa-kata, penggunaan dan tata-bahasa,

dalam tulisan dan -apalagi-- yang diucapkan. Tapi juga dalam memilih, mengucapkan dan mengartikannya.

Ada bahasa iklan yang diperdebatkan, ada seminar mengenai bahasa kekuasaan, bahkan mengenai bahasa dan kekuasaan, ada bengkel rekayasa euphemisme, ada pentabuan kata-kata, bahkan -sebaliknya-juga ada 'pengangguran intelek' para Badoedoe di negeri kita.

Dan tidak reda-reda pula berlangsungnya kehebohan-kehebohan di bidang bahasa di negeri kita.

Di bawah ini dihadirkan suatu parade yang sungguh mengasyikkan:

siapa tahu dapat kita menarik hikmah darinya.

Pedantri, sok-tahu, yalah pemakaian kata-kata yang tak-cocok waktunya, tempatnya dan lingkungan pergaulannya.

Coleridge: Biographia Literaria.

Aksen itu jiwa suatu bahasa, wacana;

memberikan perasaan dan kebenaran padanya

Rousseau: Emile.

Sebuah bejana diketahui dari bunyinya: retak atau tidak.

Demikianlah orang dibuktikan oleh ucapan-ucapannya:

arif-bijaksana atau ketololan (berjalan).

Demosthenes.

Nah, kacaulah sudah

Telah dicekik bahasanya,

dalam amarah-murka yang membabi-buta.

Sigismund, pada Majelis Constance (tahun 1414) melontarkan:

Ego sum rex Romanum, et supra grammaticam.

(Aku raja Roma, berada di atas gramatika)

Berkonversasi itu citra pikiran;

bagaimana orangnya, begitulah ucapannya

Syrus: Maxims.

Pilihan kata dan kata pilihan,

menunjukkan watak orang yang mengucapkannya

Ketika yang diajaknya berbicara tidak mengerti;

Dan yang berbicara itu sendiri tidak mengerti,

itulah metafisika.

Voltaire.

Ya, sebagian besar kegaduhan,

sampai pada pecahnya perang,

yang menandai tidak-warasnya dunia,

timbul dari kata-kata

Kata-kata yang berlumuran darah (atau haus darah),

Dan darah yang berkata-kata..........

Ayah memang agak dangkal, manisku.

Lagi pula, kata bapak memberi

bentuk manis pada bibir.

Bapak, babe, bakpao, babat,

bakar, bakmie, basmi dan bunuh

kesemuanya kata-kata enak di bibir,

teristimewa basmi dan bunuh.........

(sebuah variasi dari Dickens: Little Dorit)

Anak-anak bermain layangan

dapat menghela-turun burung-kertas itu,

yang tidak dapat dilakukan dengan kata-kata

yang (keburu) diterbangkan.

'Jangan bermain dengan api' sungguh sebuah nasehat baik,

'Berhati-hatilah dengan kata-kata' seribu kali lipat

mesti didengar dan dijalankan.

Pikiran-pikiran yang tidak (keburu) dinyatakan,

kadang-kadang terjengkang mati sendiri

Tetapi, bahkan para dewa tidak bisa membunuhnya

kalau itu sudah dilontarkan..........

Duduk ngelemporok di tepi jalan,

menyaksikan parade berlalu di depannya,

dengan tambur-tambur dipukul

tanpa mengeluarkan bunyi,

Simin Populi, sambil mengetuk-ngetukkan

ujung-ujung jarinya di atas lututnya, mengucap:

--dalam to be or not to be -nya,

rakyat jelata juga melampiaskan kegusaran

dengan kata-kata--

Simin Populi cuma menirukan Goethe dalam Torquato Tasso:

Es macht das Volk sich auch mit Worten Lust.

Di paling belakang arak-arakan itu,

sekelompok orang dengan wajah-wajah serius

memanggul white-board berukuran raksasa

yang bertuliskan:

--'Bagaimana kalau kata yang diucapkan,

maksudnya untuk ditindakkan?'-

Cuma Simin Populi yang berani berkomentar, sendiri,

dalam syair karangan sesaat

--'Gebrak-gebruk suara genderang,

memesan tempat di tanahabang.

Sudah bosan memrotes larangan,

sampai tenggorokan dang-meradang.--

--'Gebrak-gebruk suara genderang.

mencoba jalan tol padalarang.

Setinggi-tinggi puncak burangrang

lebih seram pernyataan perang.-

HARI ESOK I

  Mengimpikan suatu hari-esok,

hari esok yang mana?

Yang tetap masih sama jauhnya,

seperti pada hari ini?

Pada derita-derita itu

selalu kuberi janji hari esok.

Dan ketika hari esok itu tiba,

aku tetap berkata: hari esok saja.

Tidakkah hari esok itu,

cuma sebuah sindiran

atas hari ini?

Semua hari kemarin

cuma menerangi jalan

menuju kematian

bagi orang yang putus-asa

Dan tak berdaya.

Mengapa tiada dewa

mengasihi diriku

Dan menjanjikan

hari-esok padaku.

Jangan hari-harimu

meminjam bagian terbaik

dari hari-esok,

dari semalam derita

yang lebih dulu dicicipi.

Untuk berbijaksana,

jangan tunda hingga hari esok,

siapa bisa menjamin, bahwa

matahari hari esok,

masih akan menyingsing bagimu?

Mujurlah orang

yang bisa berkata,

bahwa hari ini adalah punyanya.

Yang dengan tegar, pada hari esok, berkata

hari esok, silakan, silakan datang

membawa segala yang terburuk.

Karena telah dijalani

hidup hari ini.

Waktu melesat, dan diriku diseretnya serta

Saat aku menulis ini, sudah tertinggal jauh di sana,

Dan belum juga aku memasuki hari esok.

HARI ESOK II

  Ada mata-air terus mengalir,

Ada cahaya tetap bersinar,

Ada panas memberi kehangatan

Ada angin menghembuskan kesejukan

Ada hutan menyediakan papan

Ada ladang sumber pangan

Ada hujan menyuburkan bumi

Ada sekuntum bunga merekah

Jika niat dan berbuat

kumpul bersatu dan menyatu

tak-'kan tertahan datangnya kepastian,

seperti datangnya hari esok.

SIKAP

Anggaplah keraguan dan ketakutan

karatnya jiwa

berani berpikir dan berani berbuat

akan membersihkan dan mencerahkannya

Hantu-hantu hanya ada

bagi yang memang ingin melihatnya

berani bersikap dan berani bertindak

akan mengusir dan membasmi jejadiannya

Ì


[ Tempo-Doeloe Page | Edi Cahyono's Page ]