Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

Home Articles Link Books Gallery Audio

 

DARI HA-MAQOM, ‘ AQEDAH HINGGA 

MASJID AL-AQSHA DAN QUBATUSH SHAKRAH

Oleh Bambang Noorsena

 

Latar Belakang

Kejadian 22:1-14, termasuk suatu ‘kisah senbab’ (aitiologi) yang mengesahkan suatu tempat dan suatu upacara ibadah zaman dahulu. Gunung Moriah (Ibrani: “har ha moriyah”) ialah gunung dimana nantinya Raja Salomo (Nabi Sulaiman) mendirikan Bait Allah, seperti disebut dalam II Tawarikh 3:1 demikian :

 Wayyahel sy’lomoh libenot et beit Adonay b’irusyalaim be har ha-moriyah.

(Salomo mendirikan Rumah TUHAN di Yerusalem, yakni di gunung Moriah).

Sebagai suatu ‘kisah sebab’, tentu banyak aliran agama yang berkepentingan. Sejak abad ke – VII SM, ketika orang (kaum) Samaria ditolak dalam Pembangunan kembali Bait Allah sepulangnya dari pembuangan di Babel (karena alasan mereka tidak menjaga kemurnian ras dan agama Yahudi), mereka telah menafsirkan “Moriyah” berada di dekat Nablus (Gunung Gerizim). Nablus ialah tempat orang Samaria sampai sekarang hidup, kini masuk wilayah otonomi Palestina. Jumlah mereka tinggal sekitar 40.000 orang saja. Demi mendukung  “tempat suci” mereka di gunung Gerizim itu, mereka membaca ayat-ayat ‘ha moriyah’ sebagai ‘ha-moreh’ (gunung Moreh) adalah nama lain dari gunung Gerizim. Gaung perdebatan ini, masih bergema pada zaman Yesus, antara lain dalam percakapan Yesus dengan orang Samaria tentang dimana kiblat sembahyang yang diperkenan Allah (Yohanes 4:19-26).

 Banyak motif ‘aitiologi’ ini, juga diambil alih oleh Islam, antara lain  pengkaitan ‘Jabal Marwah’ (Gunung Marwah) dengan Nabi Ibrahim dan ibadah Hajji. Dalam bahasa-bahasa Semit kata-kata dibentuk dari huruf-huruf mati, daripadanya kita dapat melacak asal-usul bahasa-bahasa serumpun. Ketiga nama itu, bila dituliskan dengan huruf-huruf hidupnya saja.

Moriyah (m-r-y-h)

Moreh (m-w-r-h)

Marwah (m-r-w-h)

 Data-data Paralelisasi Dengan Islam.

Dengan memahami motif ‘aitiologi’ seperti yang ditunjukkan dalam kasus kuno Samaria, kita juga dapat mengemukakan data-data paralelisasi selanjutnya dengan Islam :

 Ayat 9:

Wayyavo el ha-Maqom asyer amor-lo-ha- Elohim,wayyiben syam Avraham et ha-mizbah.

Sampailah Abraham dan anaknya ‘ke tempat’ (Ibrani: Ha-Maqom) yang dikatakan Allah kepadanya, lalu Abraham mendirikan mezbah disitu.

 Istilah Ibrani “Maqom” sering mencirikan suatu tempat suci atau sembahyang seperti dibaca dalam Kitab Kejadian dan dikembangkan dalam tulisan rabbinik (‘Talmud’). Motif cerita tersebut, juga diambil alih Qur’an ketika menceritakan Baitullah di Mekkah.

 Fihi aayatum bay-yinatum maqomu ibrahim, wa man dakholahu kaana aminaa, walillahi ‘alan nasi hajjul baiti manistatho’a ilaihi sabiia.

Di tempat itu ada bukti-bukti yang nyata, yaitu maqom Ibrahim. Barangsiapa masuk di dalamnya akan mendapat keamanan. Maka Allah mewajibkan kepada manusia ber-Hajj di rumah itu, yaitu orang-orang yang berkemampuan pergi ke sana.

(Our’an, Surah ali Imran 3:96-97).

 Motif cerita  itu persis sama, ‘ha-Maqom (tempat suci) dimana Abraham mendirikan mezbah, yang di kemudian hari berdiri Bait Allah. Di Bait Allah Yerusalem itulah 3 perayaan (‘haq’) utama diadakan. Ciri utama ‘haq’ tersebut adalah korban, sebagai jalan pendekatan diri kepada Allah.

 Seperti orang Samaria , seluruh ciri utama dan motif cerita dipertahankan, tetapi lokasinya dipindahkan. Demikianlah pula, dalam Islam lokasi ‘maqom’ Ibrahim berada di Mekkah, dan Bait Allah itu bukan Bait Salomo di Yerusalem, tetapi Bait Allah dan Ka’bahnya yang ada di Mekkah. Seperti orang Israel melakukan ibadah ‘haq’, demikianlah ummat Islam menyelenggarakan ibadah hajji. Semua dalam tatacara dan tujuan yang paralel, walaupun ada banyak hal esensial yang sudah tidak dapat dijumpai lagi.

 Ha-Maqom,’Aqedah Yitshaq dan Qubatush Shakroh

Fakta sejarah mengungkapkan, ‘ha-Maqom’ (tempat suci itu) adalah tempat dimana Abraham mendapat perintah TUHAN untuk mengorbankan putranya Ishak, sebagai ujian iman kepadanya. Di kemudian hari, Salomo mendirikan Bait Allah di tempat itu. Penghancuran Bait Allah itu telah dilakukan berkali-kali, dan yang terakhir tahun 70 M oleh Jendral Titus dari Roma kafir. Tinggal hanya tembok Barat yang tersisa, yang dikenal sebagai ‘Tembok Ratapan’. Sedangkan di atas ‘ha-Maqom’ sisa Bait Allah Yahudi itu, kini berdiri ‘Masjid Kubang Karang’ (Qubatush Shakroh, “Dome of The Rock”) yang berhadapan dengan Masjidil Aqsa, yang baru dibangun oleh Kalifah al-Wahid (709-715).

 Meskipun ‘ha-Maqom’ itu sudah menjadi Masjid hingga sekarang, orang-orang Yahudi tetap memperingati peristiwa ujian Iman Abraham untuk mengorbankan Ishak itu, dalam upacara ‘Aqedah pada rangkaian ‘rosy ha-Syanah’ (upacara Tahun Baru) yang jatuh tanggal 1 bulan Tisyri. Kata ‘Aqedah sendiri artinya pengikatan, diambil dari Kejadian 22:9b yang berbunyi:

 Wayyak’emok et ha ‘etsim, wayya’aqad et Yitshaq beno, wayyasyem otto ‘al mizbah mima’al la ‘etsim.

Disusunlah kayu, diikatnya Ishaq anaknya, dan diletakkan dia di atas mezbah, di atas kayu api.

 Sebuah Contoh Doa Kuno ‘Aqedah’ yang masih dipertahankan sekarang dalam Agama Yahudi.

Elohenu w’elohe avoeinu, zakrenu be-zikron tov le-faneka, u-faqdenu bifequdat yesyu’ah we rahamim, misyemai syemei qedem, u-zekar lamu Adonay eloheinu, ahavat ha-qadmonim Avraham, Yishaq we yissrael avdeka et b’rit, we et ha-hesed we et ha-syevu’ah syenisyba ‘eta le Avraham abinu, be har ha-moriyyah, we et ha’aqedah sye’aqar et Yishaq beno, al gabai ha-mizbah kekatuv be-Torateka:

Artinya:

Allah yang kami sembah, dan allah yang yang disembah bapa-bapa leluhur kami, Ingatlah kami dengan ingatan baik kepadaMu, dan kunjungilah kami dengan kunjungan keselamatan dan pengasihan dari surga yang tertinggi dan kekal. Ingatlah kami, Ya TUHAN, Allah yang kami sembah, berdasarkan perjanjian, anugrah dan sumpahMu yang telah Kau ikat dengan Abraham bapa kami, di gunung Moriah, dengan aqedah (pengikatan) Ishak putranya, di atas Mezbah seperti yang termaktub dalam TauratMu: (lalu disusul dengan qeri’a ha-thorah, dari Sefer Beresyit Kejadian 22:1-14).

 Bagi teologi Yahudi, pengorbanan Ishak di atas gunung Moriah itu, bukan sekedar peringatan yang hanya bersifat memorial saja. melainkan mengandung makna ‘penebusan’ (Ibrani: ‘kafarot’) bagi ummat Israel. Namun peristiwa itu, juga menunjuk ke zaman Messiah, sebagai “pre-figurasi” Messiah yang akan datang. Dalam Islam tinggal bersifat memorial, makna penebusannya telah dihilangkan. Pandangan Yahudi dan Kristen sama, bedanya dalam teologi Kristen, Messiah itu telah datang, yaitu Yesus yang menyelesaikan karyanya di Golgotha. Letaknya juga berada di lokasi ‘erets ha-moriyyah’ (tanah Moria) yang sekarang berdiri Kanisah Al-Qiyamah (gereja Kebangkitan). Juga disebut ,Gereja Kubur Suci (Church of The Holy Sepulchre).

 Jadi secara lahiriah Yahudi dan Islam sama-sama memperingati pengorbanan putra Ibrahim. Dalam Yudaisme dikenal dengan ‘Aqedah’, sedangkan dalam Islam Idul Ad-ha (‘Hari Raya Korban’). Ada sedikit perbedaan saja, dalam Yahudi dari zaman Abbasiyah mulai dikenal versi Ismael. Tafsir-tafsir kuno, seperti Jami’ul Bayan fit Tafsiril Qur’an (karya ibn Jarir Ath Thobary) lebih mendukung Ishak. Riwayat-riwayat dalam Hadits, selain ada yang meriwayatkan Ismail, banyak pula yang meriwayatkan Ishak dan menggelarinya dengan ‘Dzahibullah’(sembelihan Allah).

 Peringatan ‘Aqedah Ishak dalam Kristen tidak dikenal lagi, sebab Messiah telah datang menggenapinya. Karena itu bukan ‘Aqedah lgi yang dirayakan, tetapi sakramen ‘eukaristia’(Perjamuan Suci). Sebagai jalan pemanunggalan dengan Kristus, melalui Tubuh dan DarahNya yang menebus seluruh manusia yang percaya dan menghayati jalan syuhada’NyaY

Copyright © 2002 Institute For Syriac Christian Studies