|
Only 4 JesusNyanyian adalah ungkapan jiwa seseorang. Melalui lagu yang dinyanyikan seringkali itu mencerminkan keadaan jiwa penyanyinya pada waktu itu. Pada waktu menyembah Tuhan, pujian yang dinaikkan tentu merupakan ungkapan isi hati kita, betapa besar ucapan syukur kita atas karya kasih-Nya. Karena kasih Allah tak henti-hentinya mengalir, tentu saja pujian dan penyembahan kita seharusnya tak pernah berhenti pula. Tetapi kenyataannya tidak begitu. Banyak orang Kristen lebih suka mendengarkan dan menyenandungkan lagu-lagu duniawi (sekuler) daripada lagu rohani. Padahal banyak sekali lagu duniawi yang syairnya mengungkapkan kepahitan hidup, keputusasaan, cinta eros (hawa nafsu), dendam, pemberontakan, bahkan ada syairnya yang terang-terangan menghujat Allah. Bagi kita yang mungkin masih punya hobi mendengarkan musik duniawi, bahkan memiliki beberapa idola dikalangan musisi dan penyanyi sekuler inilah saatnya meneliti ulang apakah koleksi lagu-lagu kita selama ini berkenan di hati Tuhan.
Mengapa harus mewaspadai lagu sekuler ? Bulan November 1995 majalah Gatra memuat berita tentang sekelompok anak muda yang membakar ratusan kaset musik rock di halaman Gedung Kesenian di Manado. Aksi penghangusan kaset ini dilakukan seusai acara "Seminar Musik Rock dan Kekristenan" yang dibawakan oleh Ev. Yusak Obaja dari Joyus Ministry, Bandung. Ev. Yusak mengungkapkan bahwa di balik lagu-lagu itu tersembunyi roh jahat yang merongrong iman. Contohnya lagu Suicide Solution dari Ozzy Osborne, melantunkan syair demikian: "Bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar, tidak tahukah kamu akan hal itu? Mengapa tak kau bunuh dirimu?" George Michael dalam lagunya I Want Your Sex membuat kita malu mendengarnya. Dengan istilah-istilah slank (prokem) yang seronok ia menyatakan bahwa sex adalah pelampiasan nafsu yang bebas dilakukan. Dengan menggunakan trik teknologi para DJ diskotik sangat pintar melakukan backward masking effect piringan hitam yang diputar berlawanan arah. Ternyata dengan tehnik tersebut, lirik lagunya bisa berubah menjadi kata-kata hujatan kepada Tuhan atau pernyataan yang sesat. Lagu Wasted Land dari grup Eagles jika diputar normal, terdengar "this far down the land" (jauh di suatu negeri). Tetapi jika diputar terbalik akan terdengar "I have a mind of satan" (aku memiliki pikiran setan). Kelompok Led Zeppelin dengan tembangnya Over the Holl and Far Away, jika diputar terbalik akan berbunyi "Kita tak akan terjangkau dan semua telah terkutuk. Ya, kita akan tinggal di dalamnya" Satu lagi lagu dari Michael Jackson yang berjudul "Beat it" jika diputar mundur kata-katanya berubah menjadi I do believe it was satan whose in me (aku percaya setanlah yang ada pada diriku).
Latar belakang penciptaan yang menyesatkan Lagu kondang "We Are the Champion" sepintas bersyair baik, namun ternyata oleh kelompok Queen itu digunakan untuk mendukung keberadaan homoseksual. Lagu tersebut dijadikan lagu kebangsaan kaum homo dan dipakai untuk mendukung gerakan Gay Liberation (Pembebasan kaum homo). Maklum, Freddy Mercury yang menyanyikan lagu itu ternyata juga seorang bohemian biseksual penganut free sex yang meninggal akibat AIDS. Selain itu, kerap kali para musisi rock menciptakan lagu dalam keadaan mabuk. John Lenon personil Grup The Beatles sambil mabuk menciptakan lagu "Imagine" dan menuliskan baitnya "bayangkan tak ada sorga dan juga tak ada agama" lagu dalam refreinnya ia melanjutkan dengan kata-kata "aku berharap suatu hari kalian akan bergabung denganku dan dunia menjadi satu". Sedangkan Bon Jovi, ada beberapa lagunya yang bertema cabul dan tidak pantas disebutkan. Mungkin tanpa tahu artinya kita telah mengkoleksi lagu-lagu ini. Tanpa sadar mungkin lagu-lagu ini telah membawa kita jatuh bangun dalam dosa ketidakkudusan. Lagu lama dari grup the Eagles yang berjudul "Hotel California" yang telah dirilis ulang dan sempat ngetop belakangan ini sepertinya hanya menceritakan sisi gelap kenyataan hidup yang biasa terjadi, tetapi setelah ditelusuri ternyata ada cerita minor di balik permulaan pindahnya gereja setan ke San Fransisco. California adalah satu-satunya tempat yang mau memberikan akomodasi. Kalau diperhatikan cover album lagu itu terlihat wajah Anton La Vey, yang tak lain adalah penulis buku Satanic Bible (Alkitab gereja Setan). Larry Salter sang manejer rekaman mengatakan bahwa grup Eagles telah berhubungan dengan gereja setan tersebut. Dari situ akhirnya tampka jelas bahwa mereka sedang menceritakan kegiatan Gereja Setan tersebut dalam "Hotel California". Serentetan penjelasan ini barulah merupakan sebagian kecil dari
derasnya arus penyesatan iblis melalui para musisi sekuler. Ulasan ini
sama sekali tidak bermaksud memojokkan para musisi sekuler tetapi inilah
kenyataan dunia musik sekuler. Bagi kita yang telah diterangi Roh Kudus,
biarlah kebenaran ini menyadarkan kita supaya tidak sembarangan
menyanyikan lagu tanpa mengerti artinya. Bagi para musisi Kristen atau
anak-anak Tuhan yang mempunyi talenta di bidang musik, biarlah kenyataan
ini mendorong mereka untuk terus merangkai kidung-kidung indah bagi Dia
yang menciptakan musik. (cresendo)
sumber asli: www.terangdunia.com
|