Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
 

ANTOLOGI PUISI
SAMSUL BAHRI

 

BERGANTINYA HARI
for someone in medan
 

Bergulir Matahari dari peraduannya
Menggantikan tugas sang rembulan dan bintang
Berganti juga hari ini dari kemarin
Tetapi hanya satu yang tetap tak berganti....

Hanya satu.....hanya satu.....
Cuma satu dan cuma satu
Kau tak ada disini
disisiku untuk menemaniku...
 


 

KASIH SAYANG SANG EYANG
 

Uhuk...uhuk...uhuk
Eyang putri batuk lagi
Setelah semalam merajut baju hangat tuk cucunda tersayang
Yang akan pergi jauh

Hmm...Hmm...Hmm
Eyang putri asyik dengan kunyahan sirih..gambir dan perabot lainnya
Memikirkan perjalanan sang cucunda
Yang menuntut Ilmu

hehehe...hehehe...hehehe
Eyang putri tertawa dengan senangnya
Membaca surat pertama dari cucunda
Yang akan menikah.......
 


 

NOKTAH...SATU PERJUANGAN
for seorang ayah... (Oom dan Moyank)
 

Berjibaku dengan waktu
Untuk Penuhi nafkah
Dari pagi hingga malam
Dari sang jago mulai bekokok hingga pelacur-pelacur tengik mulai keluar
sarang

Sang ayah berkutat dengan pekerjaannya
Demi anak dan istri di rumah
Agar mereka dapat hidup
Dapat berpakaian yang benar

Tapi waktu jua yang menentukan
Dan Takdir Ilahi Rabbie tak dapat ditolak
Dengan hati berbunga membawa rejeki tuk keluarga
Tapi yang tiba di rumah hanya seorang lelaki renta
dengan pisau tertancap di uluhati
 


 

WORM
 

Bergulat penuh semangat
Berpeluh keringat ketika panas
Dengan napas yang setengah
Dan Air putih separo

Menyusun jadwal langkah kerja
Selama empat tahun
Untuk songsong abad millenium
Untuk sambut Y2K..”kata James”

Tapi itu semua musnah
Musnah hanya dalam sekejab mata
Mata memicing lari buruan tak terkejar
Jahat....sungguh jahat.......
 


 

ANGIN BISA BERBICARA
 

Desau angin berkata
‘Ya..Rabbi..’ apa yang harus aku sampaikan
Kepada manusia yang selalu ingin menang
Kepada manusia yang selalu takut akan kalah

Desau angin kembali berbisik
‘Ya...Illahi..’ apa ada berita yang harus kusampaikan
Kepada mereka yang selalu tamak
Kepada mereka yang selalu berhasil tapi tak pernah bersyukur

Desau angin menggemuruh
‘Ya...Khalik’ khabar inikah yang harus aku berikan
Badai yang tak pernah berhenti
Bencana yang beruntun.......
 


 

BISU DI RABU PAGI
 

Hening bisu suasana pagi
Tak ada canda dan obrol
Kikik ketawa tak terdengar
Senyum cemberut pun tak terlihat

Wahai.....ada apakah gerangan
Kenapa sepi dan senyap
Adakah bendera hitam berkibar
Ataukah janur yang melambai

Sehingga rumah ini menjadi kosong
Tak ada penjaga dan penghuni
Tak ada sanak dan kadang
Tak Ada semua...
 


 

KETIKA KEPALA SERASA INGIN MELEDAK
 

Bergoyang kepala kiri kanan
Berdenyut nadi dalam otak
Lukisan kisah perjalanan hidup terhampar
Tutupi luka hati yang tergores

Berdenyut lagi nadi yang lain
Ikuti getar dari hati
Tentang cinta dan kisah
Yang datangkan sedih dan gembira

Tanganku masih terkepal
Mataku pun masih memerah
Ingin lampiaskan benci dan dendam
Tapi pada siapa...
Pada apa...
 


 

GELEPAR NYAWA
 

Menggelepar-gelepar sang ikan
Ketika tanah mengambil habis air
Air tempat berteduh
Air tempat mencari makan

Menangis sang ikan
Ketika hujan berubah menjadi asam
Karena benci pada tanah
Marah akan perbuatan tanah yang rakus

Apakah kita juga akan menjadi seperti tanah
Atau seperti ikan...
Karena kita tidak bisa menjaga kelakuan dan tingkah laku kita
Sehingga Tuhan akan mendatangkan azab bagi kita
Atau kita sendiri yang akan membuat azab...
 


 

MINGGU
 

Penuh dengan semangat kumelangkah
Tapak kaki penuh debu dan keringat
Untuk jalankan tugas dan kewajiban
Demi jaga stabilitas...(katanya)

Kukunjungi rumahku di hari ini
Tapi hanya sepi yang ada
Sanak dan kadang tak kujumpai
Apakah mereka sedang bertengkar

Oh...rindu hati ini
Rindu dengan kehangatan dan senda gurau
Apakah masih ada.....
Aku masih................
 


 

BINGUNG
 

Kusadar waktu telah larut
Kusadar hari telah berganti
Tapi mata tak mau terpejam
Dan hatipun tak bicara

Bukan karena beban pikiran
Tentang gadis...wanita atau putri
Bukan pula beban kerja
Sampai saat inipun aku tak tahu

Benar-benar tak tahu
Seperti tembok bata menghadang
Menutup otak tuk mencari
Mencari tahu apa yang terjadi
 


 

ANGAN
 

Angan-angan berputar menari-nari
Seperti Asep bermain hujan
Gumpal lumpur dan pasir
Tertawa riang penuh gembira

Angan-angan tetap berputar-putar
Menerawang dan menerobos
Coba selusuri masa lalu
Mencari-cari ingatan sejarah

Angan-angan masih tetap berputar
Takkan berhenti sebelum sampai
Sampai tujuan yang sebenarnya
Siapakah aku ini.......

Bila kau tahu tunjukkanlah
Akan kuhantarkan kepadamu
Sebongkah...dua bongkah logam
Sebagai ungkapan terima kasih
 


 

ALAS ROBAN
 

Semilir angin tiup tengkukku
Bergoyang semua urat nadiku
Berdiri pula bulu-buluku
Itu yang kurasakan

Penuh dengan hawa mistik
Kegaiban dan magis cerita tersebar
Alas Roban hutan jati
Alam yang penuh dengan cerita dan misteri
 


 

BILA SANG BULAN PATAH HATI
 

Bulan menangis diperaduan
Mendengar sayup biola digesek
Teringat cerita pedih dan sedih
Karena cinta takkan pernah kembali

Sang biola terus bergesek
Hantar lagu yang sedih kadang jenaka
Namun sang bulan tetap menangis
Teringat kekasih pujaan hati

Ingin berlari laksana tiupan angin
Untuk mengejar sang pujaan hati
Namun sang matahari menatap marah
Ancam akan bakar seluruh bumi
 


 

MENYESAL
 

Indah mentari pagi
Walau basah sang bumi
Setelah semalam sang langit menangis
Tapi masih tetap indah mentari pagi ini

Kuingat dengan janjiku
Tapi apa daya...aku ternyata mengingkari
Merutuk sang putri menunggu
Sambil menyiapkan segudang pembalasan

Aku hanya bisa berjanji lagi
Yang satu ini pasti akan kupenuhi
Karena aku tak ingin sang putriku mengamuk
Aku pasti datang...walau dengan sekujur tubuh terluka
 


 

MATAHARI
 

Terang sinar yang kaupancarkan
Untuk terangi dunia yang gelap
Ketika malam datang kau menghilang
Kau memang tak selalu ada

Matahari kau hanya sebuah ciptaannya
Sama seperti bulan dan bintang
Dan juga manusia yang penuh dosa
Dan kebaikan-kebaikan
 


 

LAUT
 

Ombak bergelung berada di atas badanmu
Dengan pesisir pantai sebagai tepian badanmu
Dan perahu nelayan sebagai hiasan
Dulu kau indah...karena didasarmu penuh dengan harta

Tapi kini hampir semua hartamu habis
Oleh tangan-tangan jahil dan nakal
Jangan kau dendam dengan mengeluarkan ombak badaimu
Tapi berikanlah dengan ombak yang indah
sehingga kami dapat berselancar
 


 

SEPI OH SEPI
for Devy
 

Berdetak jam didinding ruang kerjaku
Waktu terus berlalu dengan perlahan
Tak pernah ia hiraukan hati ini
Yang selalu gundah dan gulana

Sepi masih terus mengikuti
Walau hati ini telah berkata...”Bersedia”
Tapi jawaban itu tak pernah muncul juga
Membuat otak didalam lingkaran kepalaku berdenyut
Wahai sepi pergilah kau menjauh
Jangan kau iringi aku terus
Aku ingin kegembiraan itu datang
Bersamaku mengisi hari-hari esok
 


 

SAJAK PERAWAN
 

Seingat hanya satu
Tapi upaya dan daya tuk menjaga
Karena penting dan wajib
Bagi sebagian orang

Tapi kini sang perawan menangis
Bukan hilang harta atau nyawa
Bukan pula hilang mahkota
Perawan menangis untuk sang jaka

Apakah sang jaka telah merengutnya
Apakah sang jaka telah mencampakkannya
Apakah sang jaka telah ingkar
Apakah sang jaka telah dusta

Bukan...bukan semua itu
Sang perawan hanya menangis dan menjerit
Karena sang jaka telah kembali
Dan takkan kembali
 


 
 

kembali ke antologi para penyair