Kader suatu organisasi adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga ia memiliki kemampuan yang diatas rata-rata orang umum. Oleh karena itu jika mentoring dan training keislaman , atau training-training lainnya yang dilakukan oleh organisasi Islam, sementara para aktivisnya tak menunjukkkan kelebihan-kelebihan yang signifikan dbandingkan dengan orang-orang umum, maka sesungguhnya pengkaderan yang dilakukan dapat dikataklan tak berhasil. Atau sederhananya, pengkaderan tersebut menyalahi filosofi pengkaderan. Yakni munculnya kader yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Bukan sebaliknya, munculnya kader yang sama dengan manusia rata-rata.
Kalau kita kaitkan dengan statement Al-Qur'an, maka akan kita dapatkan isyarat keunggulan kader Islam. Yakni misalnya saat Allah SWT menyebut bahwa kekuatan tentara Islam (para sahabat Rasul SAW ) di medan jihad dibandingkan dengan kekuatan kafir, adalah minimal 1:2 , maksimal 1:10 (Al Anfal:65-66). Prasyarat mendasar dalam keunggulan tersebut adalah terkait langsung dengan kekuatan iman mereka. Jika iman tinggi maka dapat mencapai perbandingan 1:10; namun jika iman rendah tetap dapat mengungguli dengan perbandingan 1:2.
Sampai di sini kita dapat menangkap isyarat keniscayaan iman dalam kaderisasi Islam. Penanaman fondasi iman harus menjadi prioritas utama dan pertama. Walaupun juga penting dicatat bahwa ia bukanlah satu-satunya faktor, yang menafikkan dimensi kaderisasi lainnya secara utuh.
Faktor lain yang patut kita pertimbangkan dalam hal kaderisasi adalah potensi dasar/bawaan sang kader. Potesni dasar/bawaan tersebut sesungguhnya telah dapat kita baca, melalui perjalanan hidupnya, terlepas saat itu ia telah mengalami kaderisasi penanaman keimanan atau belum.
Contoh yang paling monumental untuk hal di atas adalah, bagaimana dahulu Rasulullah SAW berdoa agar Allah SWT membukakan hidayah Islam kepada salah satu dari dua Umar , yakni Umar bin Khottob atau Umar bin Hisyam (Abu Jahal). Rasulullah sangat berharap keislaman mereka , karena mereka dikenal sebagai orang yang keras pendirian dan sangat berani. Dengan masuknya salah seorang mereka maka Islam insya Allah SWT akan lebih kuat.
Peristiwa di atas menunjukkan bahwa visi integral dari kaderisasi , selain mengedepankan urgensi keimanan seseorang, tapi juga tak boleh juga melupakan bakat/potensi dasar yang dimiliki oleh sang calon kader tersebut juga harus dipertimbangkan. Sehingga tak terjadi nanti setelah banyak kader yang matang dalam hal keimanan dan semangat pengorbanan untuk Islam , lalu organisaisi/gerakan Islam di hadapkan pada persoalan lain. Yakni kader-kader tersebut memiliki kelemahan di berbagai bidang strategis, misalnya kualitas kepemimipinan, managerial, pemikiran/perencanaan strategis; keilmuan/saintek , kepiawaian diplomasi; kepribadian yang dapat memikat massa/orang banyak; kreativitas dan kejelian; dan lain-lain.
Kalau hal di atas yang terjadi, maka akan dapat diduga sulit bagi gerakan/organsisasi Islam tersebut untuk muncul memikat dan menguasai di pentas percaturan elite nasional/internasional (baik percaturan elite politik, ekonomi, ilmuan , teknokrat, saintek, militer, media massa, pendidikan, sosial budaya, dan lain-lain).
Jadi ada filosofi kaderisasi yang harus diperhatikan benar oleh setiap organisasi/pergerakan Islam. Yakni: