Globalisasi dan Masa Depan Negara-Negara Arab

Oleh: Muslim Abdullah

Issue tentang Globalisasi --dewasa ini -- merupakan topik yang cukup ramai dibicarakan diberbagai tempat oleh para pakar dan tokoh. Setelah runtuhnya Uni Soviet dan tumbangnya idiologi Komunis, Gema slogan Kapitalis dan pasar bebas international(the global free market) semakin meluas. Seiring derngan itu kita juga selalu menyaksikan --hampir setiap hari -- revolusi global dibidang telekomunikasi dan TV dan satelit jarak jauh. Internet merupakan gerbang empuk (gateway) untuk menjelajahi dunia dan merekrut informasi secara mudah dan aman.

Kalangan kritikus sosial --agak kuatir--terhadap fenomena globalisasi budaya dengan melemahnya standard nilai yang nampak dalam dominasi hiburan hollywood lewat sarana informasi global . Banyak kalngan memprediksikan bahwa "the golden arches of McDonalds" ( busur emas McDonalds) sendiri merupakan sebuah "cultural threat" (ancaman budaya).

Kalau itu merupakan realitas kehidupan ,maka secara pasti dunia luar khususnya komunitas masyarakat industri maju mempunyai pengaruh besar dan cepat terhadap kondisi eksternal negara negara Arab baik dibidang politik,social,ekonomi maupun budaya. Ketergantungan ekonomi negara Timur Tengah terhadap ekonomi global --pada dekade -dekade terakhir ini-- merupakan fenomena baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pengaruh lembaga keuangan international seperti IMF(international Monetary Fund) dan Bank Dunia terhadap politik ekonomi regional negara-negara Arab lebih kuat dari peran seorang menteri atau bisnismen ataupun sebuah organisasi profesi didalam negeri.

Krisis sosial ekonomi internal satu negara -- secara perlahan namun pasti -- memaksa pihak birokrat untuk lebih banyak bersandar kepada sumber luar negeri (external creditors), baik berupa kebutuhan tekhnologi maupun kebutuhan bahan makanan dan lain sebagainya.

Dalam waktu yang bersamaan --pada level politik -- telah terjadi globalisasi idiologi demokrasi liberal.Samuel Huntington -seorang intelektual yang terkenal dengan thesis kontraversialnya "Clash of Civilisation" dalam salah satu analisanya mengatakan bahwa kemungkinan akan muncul demokratisasi gelombang ketiga (third wave of democratisation) yang kini sedang melebar keseluruh dunia .Namun untuk memperkuat tesisnya itu Huntington dan para sahabatnya masih ragu terhadap kemungkina jenis demokratisasi ini telah memasuki wilayah negara arab dan Islam,karena ternyata kalangan penguasa elite (rulling elites), khususnya generasi baru -- negara negara tersebut --yang sempat mengecap pendidikan barat secara mayoritas mendambakan suatu format politik global.

Pihak Amerika Serikat --sebagai single super power international -- kini muncul sebagai promotor demokratisasi dunia. Karena menurut kalangan policy maker bahwa Liberalisme dan demokrasi -- ala Amerika Serikat -- bukan saja baik secara subtansinya tapi lebih dari itu ,kedua sistem tersebut sangat mendukung kepentingan Amerika serikat di pentas dunia. Selain itu perbandingan alokasi dana untuk kampanye demokratisasi sangatlah kecil dibandingkan dengan dana yang digunakan Washinton untuk keperluan militer luar negeri, Orang Amerika sendiri masih tetap yakin dengan pepatahnya: A little goes long way.yang dalam bahasa Arabnya "wayahdustu min badhil umuuri umuuru".

Para pengamat sendiri tetap yakin bahwa setiap aksi akan mendatangkan reaksi (For every action there is reaction) atau kata orang Arab Likulli fi,lin raddu fi,il .Benjamin Barber -- seorang ahli sosiolog--dalam sebuah karya terbarunya berjudul "Jihad versus McWorld " (Jihad versus dunia Mac) mengatakan bahwa ,meluasnya arus globalisasi seperti McDonald , Macintos dll , justru akan menambah alasan kaum radikal dan kalangan primordial untuk melakukan aksi balasan dengan hujjah membendung arus globalisasi ,dan tidak mustahil berupa reaksi kekerasan .Karena sejarah Timur Tengah---sejak zaman dahulu hingga perang Shalib -cukup kenyang dengan episode perang dan perlawanan antara dua kubu (Islam versus Salibisme).

Dengan fenomena yang ada diatas ,mungkinkah negara negara Timur Tengah akan mengadakan satu perubahan transforrmasi politik? Sebagian negara --nampaknya -- akan mendaftarkan diri untuk menuju kearah sana.Struktur kekuasaan, kondisi cosial secara global di beberapa negara akan sangat menentukan jawaban diatas, atau dengan pertanyaan lain, akankah negara negara Arab mengadakan satu perombakan secara besar besaran? dan jika hal itu terjadi, bagaiman format peubahan tersebut?Untuk sementara hanya ada empat skenario perubahan masa depan negara-negara Arab. Pertama,sistem kekuasaan Authoritarianism akan tetap berlangsung.Kedua,akan menempuh sistem demokrasi dan liberal.Ketiga,akan terbentuk satu sistem kekuasaan baru dengan format agama. Keempat,kembali kepada sebuah kondisi yang oleh Huntington (dalam bukunya Praetorianism) menyebutnya "Persistent Instability" (tetap Stabil dalam Ketidakstabilan).

Dan apabila sistem demokrasi liberal sebagai alternatif, maka --secara terpaksa atau tidak terpaksa -- harus memerlukan satu lompatan dari atas.Dan untuk itu pihak penguasa Arab harus diyakinkan --walaupun tidak secara rela-- bahwa power sharing adalah kebijaksanaan yang tepat dari sistem authoritarianism .Sedangkan kesuksesan konsep liberal itu sendiri masih menghendaki satu sistem ekonomi yang dapat mensejahterakan masyarakat mayoritas.

Disamping itu juga perlu menyiapkan sebuah sarana "The Public Sphere" (sarana Massa) seperti yang diusulkan oleh Habermas. Lembaga ini berfungsi sebagai ajang dialog politik untuk semua kalangan termasuk kelompok aktifis agama,organisasi masyarakan nonpemerintah dan kelompok sipil tradisional.Kalau unsur -unsur ini gagal diwujudkan maka tidak mustahil akan muncul aksi kelompok radikal ,dan kalau itu terjadi maka kondisi tertap tidak stabil seprti kasus perang antar saudara di Aljazair.

Sampai sekarang, belum ada satupun -dari kalangan ahli politik - yang mampu menduga secara pasti format politik masa depan negara-negara Arab. Tapi mereka --pada umum--

secara jujur sepakat bahwa status quo politik di negara-negara tersebut bukan strategi yang tepat, paling tidak untuk kondisi sementara.