Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
Aktualita Dunia Islam
No. 66/II, 8-14 Mei 1998
https://www.angelfire.com/id/aktualita
 

ANALISA
 
'Peace Process' dan 'Political Game' Israel
Oleh: Fatima Hamilton

Rakyat Palestina telah lama kehilangan harapan akan dongeng sebuah 'perdamaian'. Dunia menjadi saksi ketidakjujuran Perdana Mentri Netanyahu dan pemerintahannya. Ia tersenyum kepada dunia dan bersungguh-sungguh menginginkan perdamaian, tetapi perbuatannya menindas rakyat Palestina lebih keras tinimbang kata-katanya tentang perdamaian.

***

PBB telah memutuskan bahwa untuk terciptanya sebuah proses perdamaian maka harus kembali berdialog, karena itu  Kofi Annan datang untuk memprakarsai kembali sebuah dialog. Bagaimanapun, kedatangannya tidak disambut baik. Annan mengatakan bahwa Israel harus mematuhi resolusi PBB dan Kesepakatan Oslo. Tuntutan ini tampaknya wajar, namun pemerintah Israel menganggap bahwa permintaan sekjen PBB itu tidak adil.

Memang bagi semua negara teriakan 'tidak adil' Israel menimbulkan pertanyaan.  Bukankah Israel sendiri yang menandatangani Kesepakatan Oslo dan kemudian mereka serta merta menolak kesepakatan tersebut. Mereka sendiri yang menandatangani, dan sekarang mereka mengklaim bahwa itu tidak adil. Negara lainpun harus mematuhi resolusi yang dibuat PBB.  Seperti halnya Irak, Libya dan negara lainnya tidak punya alasan untuk lari dari resolusi PBB dan masyarakat dunia, begitu juga Israel. Namun mereka yakin bahwa mereka punya alasan. Israel punya keyakinan bahwa mereka di atas hukum internasional dan humaniter. Mereka akan sangat kaget jika masyarakat dunia meminta Israel untuk mematuhi janji-janjinya dan mengikuti aturan hukum internasional.

Setelah Israel menuduh PBB berlaku tidak adil, Israel juga berusaha mengontrol kunjungan Kofi Annan di Jerusalem. Annan menolak diawasi seperti itu oleh polisi Israel dan para pejabat ketika ia berencana bertemu dengan perwakilan Palestina, karena perlakuan itu Annan akhirnya meninggalkan Jerusalem tanpa hasil.
 
Israel terus menerus menghinakan para diplomat luar negeri. Ketika Menlu Inggris Robin Cook mengunjungi Palestina dimana ia bertemu dengan rakyat Palestina di Abu Ghneim, di pinggiran Jerusalem. Israel mengatakan bahwa pertemuan itu menunjukkan kepada dunia bahwa Abu Ghneim untuk orang Palestina. Kemudian, Netanyahu menghina Robin Cook dengan membatalkan makan malam dengannya. Sekali lagi, kita saksikan bagaimana Netanyahu dengan sombong dan kurang ajar menghinakan kehormatan seorang pejabat luar negeri suatu negara.

Israel menolak intervensi PBB dalam proses perdamaian namun pada saat yang sama mempersilahkan intervensi Amerika Serikat. Sekalipun, ketika Dennis Ross berkunjung pertemuannya juga tak membuahkan hasil. CNN News memperlihatkan Netanyahu memberikan pernyataan kepada pers. Dia memberikan dua pernyataan yang berbeda. Pertama ketika di Hebrew, ia menyatakan bahwa ''kita bukanlah penipu'' dan kemudian pada saat yang lain ia menyatakan ''Kita tidak akan pernah memberikan sejengkalpun tanah untuk perdamaian''.  Kemudian ia menyatakan kepada  pers Amerika bahwa pertemuan Ross dengan dirinya telah mencapai sejumlah kemajuan, sekalipun terlihat sedikit.
 
Ini menunjukkan bahwa Israel sedang melakukan political game di kancah dunia. Mereka mengatakan satu hal kepada dunia sementara itu mereka melakukan perbuatan sebaliknya.  Kesepakatan Oslo menyatakan "land for peace"; sementara itu Netanyahu selalu menegaskan bahwa Israel tidak akan pernah menghormati kesepakatan. Hingga sekarangpun, kita mendapati PBB dan AS didepak peranannya sebagai mediator perdamaian. Karena itu, perdamaian lambat tapi pasti sekarat dan akhirnya mati.

Saat ini, kita dapati kaum militan Israel berlaku buruk dan buas. Pejabat pemerintah Israel seperti Sharon, dan agen-agen Mossad memburu tokoh-tokoh kelompok Islam untuk dibunuh. Dan mereka mengumumkan kepada publik nama-nama orang yang akan dibunuh. Bayangkan, hanya Israellah satu-satunya negara didunia yang mengumumkan rencana pembunuhan tersebut (terorisme legal) dan kemudian menghimbau agar dunia tak perlu mengutuk aksi-aksi tersebut.

Israel tidak menginginkan intifadah berlanjut terus, tetapi mereka menekan rakyat Palestina terlalu jauh dan keras. Penderitaan rakyat Palestina sudah terlalu dalam, khususnya dalam masalah krisis ekonomi. Kondisi moneter semakin buruk. Banyak para pekerja dilarang pergi ketempat kerjanya. Juga, banyak rakyat dipukuli dan dibunuh serta rumah-rumah mereka dihancurkan sekalipun itu berada dalam wilayah kontrol Otoritas Palestina.  "Keputusasaan rakyat akan menyebabkan mereka berbuat nekat.'' Karenanya, mereka hanya mempercayai intifadah yang dapat merubah nasib mereka.

Ketika mereka membunuh Muhyiddin Syarif, akhir Maret lalu, mereka tahu bahwa Hamas akan melakukan pembalasan atas kematian anggotanya. Namun pemerintah Israel menyangkal telah terlibat dalam pembunuhan tersebut. Padahal jelas-jelas fakta membuktikan bahwa Syarif diculik, ditembak, ditempatkan dalam mobil dan kemudian diledakkan. Kemudian diketahui juga mobil yang diledakkan ternyata bernomor plat Israel.

Pengumuman dari otoritas Palestina menyebutkan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan oleh anggota Hamas sendiri yang rebutan kekuasaan dan pengaruh. Padahal sepengetahuan penulis, Hamas sama sekali tidak memiliki permasalahan internal, khususnya melakukan pembunuhan untuk merebut suatu kedudukan. Polisi Otoritas Palestina menahan 5 orang anggota Hamas dan mengklaim bahwa satu orang diantaranya telah mengaku melakukan pembunuhan. Otoritas Palestina rupanya belajar dari Israel bagaimana mereka menyiksa para tahanan dan bagaimana mereka berbohong. Berbohong bagi orang Israel ibarat bernafas, setiap saat mereka dapat saja mengkhianati janjinya.

Netanyahu mengatakan kepada Arafat bahwa jika ia tidak menghentikan aksi balas dendam dari Hamas, maka berarti itu salahnya. Karenanya Israel punya alasan untuk menghentikan proses perdamaian. Ini merupakan permainan mereka. Mereka membunuh seseorang dan mengharapkan terjadinya serangan balasan atas pembunuhan tersebut. Kemudian mereka mengatakan kepada dunia bahwa orang Palestina telah merusak perdamaian.

Arafat tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Israel jika ia ingin tetap berkuasa dan memerankan proses perdamaian. Karena itu, ia kemudian menimpakan kesalahan kepada Hamas daripada Israel.

Beberapa waktu lalu Israel mengklaim akan tetap bertahan dari resolusi PBB yang menghendaki mereka keluar dari Lebanon selatan, tapi pada saat yang sama Israel juga menetapkan syarat dalam menarik mundur tentaranya. Luar biasa! Sebuah negara tidak merasa melakukan kesalahan dan menetapkan syarat untuk kesalahannya tersebut.

Pada Kamis (30/4) lalu Israel ngotot hanya ingin menarik pasukannya dari Tepi Barat sekitar 9 persen saja, padahal dalam kesepakatan yang lalu Israel setuju untuk menarik pasukannya sekitar 40 persen, turun menjadi 30 persen dan akhirnya tinggal 13 persen. Yang 13 persen inipun akhirnya Israel tidak setuju dan hanya menginginkan 9 persen saja pasukannya ditarik dari Tepi Barat.
 
Kapan dunia akan sadar dan memperingatkan masyarakat lainnya bahwa Israel tidak pernah punya rencana untuk menghormati perjanjian dan tak punya keinginan untuk damai?  Jika keinginan untuk benar-benar berdamai ada kemudian tidak ada negara militeristik dengan arsenal nuklirnya. Tidak akan mencaplok Lebanon selatan, dataran tinggi Golan, Tepi Barat dan Palestina seperti layaknya imperialis. Tidak akan ada penyiksaan dan pembunuhan orang Palestina. Jika Israel menginginkan perdamaian, mereka akan duduk bersama melakukan dialog dan menghormati Kesepakatan Oslo.

Jika semua hal diatas tidak ada, maka dunia tidak dapat menyalahkan rasa frustrasi, kebosanan, kemiskinan dan tekanan rakyat Palestina ketika mereka melakukan intifadah kembali. (ptimes/afd)

***

Dituduh Menghasut, Walikota Istanbul Ajukan Banding

Erdogan menolak dipersalahkan dan dia akan terus berjuang untuk menegakkan hak-hak demokrasi. Erdogan memperingatkan bahwa sistem pengadilan di Turki akan jatuh kepada bayang-bayang politik rejim yang mengancam demokrasi di Turki.

***

Istanbul, Turki
Walikota Istanbul pro-Islam Tayyip Erdogan Rabu (22/4) lalu mengajukan banding atas keputusan penjara 10 bulan terhadap dirinya dengan tuduhan 'membangkitkan kebencian'. Selain itu ia juga mengecam pemerintah yang ingin mendepak dirinya dari kursi walikota Istanbul.

Pengadilan Keamanan Negara (DGM) di propinsi Diyarbakir sehari sebelumnya (Selasa, 21/4) menyatakan bahwa Erdogan telah menghasut dalam pidatonya pada Desember akhir di kota Siirt, tenggara Anatolia. Dalam pidatonya, Erdogan menyatakan ''Masjid-masjid di Turki akan menjadi barak militer kita. Menara masjid akan jadi bayonet kita dan kubahnya, jadi topi baja kita."

Mantan bintang sepakbola yang berusia 45 tahun ini terpilih menjadi walikota pada 1994 mewakili partai yang dibredel pemerintah pada Januari 1998 lalu, Partai Kesejahteraan Islam (Refah).

''Saya ingin semua orang tahu bahwa saya akan menggunakan semua hak-hak saya. Saya mengajukan banding untuk menolak keputusan yang tidak adil ini,'' kata Erdogan dalam konferensi pers Rabu (22/4) lalu.

Erdogan menolak bahwa dirinya telah menghasut dan pidato tahun lalu dan menambahkan bahwa keputusan ini diwarnai motif politik. ''Titik tekan pidato saya adalah persaudaraan dan menyerukan perdamaian dan persatuan nasional,'' tegas Erdogan.

Erdogan menerangkan bahwa "bayang-bayang politik rejim telah mempengaruhi keputusan pengadilan, mengancam demokrasi dan hukum negara Turki."

Erdogan mendesak semua warga Turki untuk melawan intervensi politik rejim dalam sistem hukum negara. "Intervensi politik rejim dalam sistem hukum negara secara langsung merupakan lonceng bahaya bagi seluruh warga negara,'' tandas Erdogan. "Kita harus maju bersama-sama untuk menghentikan ini semua.''

Erdogan selanjutnya mengatakan "Masalah paling penting yang menimpa Turki saat ini adalah: Siapa yang akan menguasai negara? Rakyat, atau kelompok-kelompok kepentingan tertentu? Saya tegaskan, rakyat. Dan saya mengundang anda semua untuk memutuskan masalah ini.''

Sementara itu, dukungan atas Erdogan terus berdatangan seperti dari para pejabat Partai Kebajikan (the Virtue Party), reinkarnasi partai Refah, termasuk walikota Ankara Melih Gokcek dan walikota Izmir Burhan Ozfatura. Juga 12 asosiasi dan 58 yayasan yang tergabung dalam Turkey Volunteer Associations Foundation. Rabu (22/4) lalu 5.000 pendukung Partai Kebajikan menggelar demo mendukung seruan Erdogan. Mereka memblokade jalan-jalan disekitar gedung Walikota selama beberapa jam sehingga menyebabkan kemacetan luar biasa.

Bertepatan dengan tahun baru hijriah, sekitar 15.000 orang dari seluruh Turki mendatangi gedung walikota Istanbul untuk menyatakan dukungannya terhadap Erdogan. Mereka berdatangan dengan menggunakan bus-bus. Diberitakan juga dukungan dari negara tetangga seperti Jerman telah datang menemui Erdogan. Diperkirakan setiap harinya tak kurang dari 2.000 orang mendukung langkah-langkah Erdogan.

Sementara itu di stadiun Bayrampasa, 11.000 suporter kesebelasan Buyuksehir Belediyespor milik walikota Istanbul menyanyikan yel-yel dukungan dan puisi Ziya Gokalp yang selalu didengungkan Erdogan. Puisi itu berbunyi ''Menara kami, bayonet kami. Kubah kami, topi baja kami. Masjid kami, asrama kami. Iman kami, tentara kami.''

Pada kesempatan lainnya, presiden Asosiasi Hak Azasi Manusia yang berbasis di Ankara (IHD), Akin Birdal, mengatakan keputusan pengadilan terhadap Erdogan jelas-jelas melanggar hak azasi dan kebebasan mengeluarkan pendapat. Birdal menyatakan bahwa keputusan mendepak seorang pejabat dari kantornya harus dengan pemungutan suara tidak bisa dengan mengusirnya begitu saja. (tdn/afd)
 
***

Warga Serbia Suplai Polisi dengan Senjata dan Seragam

Prishtina, Kosovo
Terlibatnya warga sipil Serbia dalam memerangi warga Kosovo keturunan Albania yang beragama Islam bukan isapan jempol belaka. Hal ini terbukti ketika secara terang-terangan warga Serbia sengaja membantu polisi Serbia dengan memberikan senjata-senjata yang mereka miliki.

Sebuah sumber di Kosovo mengatakan bahwa warga Serbia pada Sabtu pagi (25/4) lalu terlihat memberikan senjata dan seragam ke markas polisi di kota Kamenica. Sementara itu komisi penerangan LDK (organisasi pejuang Kosovo) di Kamenica mengatakan bahwa sejak pukul 6:30 pagi orang-orang Serbia memberikan sejumlah senjata dan seragam kepada para polisi Serbia. Pemandangan yang sama juga terjadi di kota Suhareka, Gjilan, Shtime, Klina.
 
Sementara dari kota kecil Istog, barat laut Kosovo, sebuah Asosiasi Veteran Perang di Bosnia dan Kroasia telah mengundang para anggotanya untuk sebuah 'mobilisasi baru'. Menurut sumber tersebut, asosiasi yang dinamakan dengan 'Association of 1990s War Veterans' mengundang anggotanya untuk maksud mobilisasi. Seruan ini juga telah diumumkan di kamp-kamp pengungsi Serbia di Bosnia dan Kroasia. Dilaporkan juga bahwa para 'veteran' itu kebanyakan dari anggota partai radikal Serbia yang menghendaki pemusnahan warga Muslim dan Katholik Roma dari bumi Serbia.

Ditengah upaya 'damai' yang dilakukan oleh Uni Eropa, AS dan PBB, pihak Serbia kembali menempatkan pasukannya yang masih segar di Kosovo pada Sabtu (25/4) lalu. Sebuah iringan konvoi yang terdiri dari 10
APCs, 7 jeep, 7 kendaraan perang dan 24 kendaraan pengangkut pasukan terlihat memasuki selatan kota Podujeva. Sumber LDK di Obiliq mengatakan bahwa sebuah truk polisi Serbia lengkap dengan amunisinya mengikuti konvoi tersebut. (kic/afd)

***

Dibentuk Pusat Kajian Anti Fundamentalisme Islam

Kairo, Mesir
Mingguan Al-Ahram Al-Arabi terbitan 18 April 1998 memberitakan pengakuan John Dutch, mantan Direktur Intelejen Amerika, bahwa Amerika telah mendirikan pusat-pusat khusus dan kantor-kantor cabang di berbagai negara untuk memerangi apa yang dikatakan sebagai terorisme fundamentalis Islam. Hal itu ditegaskan oleh Dutch dalam ceramahnya di Universitas Georgetown, ia mengatakan Hizbullah di Lebanon, Jamaah Islamiyah Mesir dan Aljazair, Hamas di Palestina, serta Gerakan Thaliban di Afghanistan adalah gerakan-gerakan yang paling membahayakan yang harus dihadapi.

Ia mengisyaratkan bahwa pusat kajian tersebut telah membuka kantor dan perwakilan di beberapa negara tertentu untuk menghimpun seluruh informasi sekitar sumber keuangan gerakan-gerakan tersebut, cara melatih anggota-anggotanya dan sejauh mana kekuatan-kekuatannya. Pusat kajian tersebut berkantor pusat di New york. Kantor ini bertugas melakukan analisis dan kajian terhadap informasi-informasi tersebut yang kemudian disusun strategi yang tepat untuk menghadapi gerakan-gerakan fundamentalisme Islam.

Dutch mengatakan bahwa kebijakan-kebijakan Amerika dalam menghadapi terorisme banyak yang didasarkan pada hasil laporan-laporan lembaga kajian tersebut. Konon hasil kajian tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi Dewan Keamanan Nasional Amerika, CIA dan FBI. (al-ahram/abr)