Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
Aktualita Dunia Islam
No. 64/II, 17-23 April 1998
https://www.angelfire.com/id/aktualita
 
TOKOH

Muhyiddin Syarif:
''Bom Waktu'' yang Sulit Dideteksi

Kematiannya pada 29 Maret 1998 lalu cukup mengguncang Hamas terutama sayap militernya, Izzudin Al-Qassam. Muhyiddin Syarif (32 th) dikenal sebagai kader utama Yahya Ayyash. Sebagaimana diketahui Yahya Ayyash adalah pemimpin Barisan Mati Syahid dari sayap militer Hamas, Izzudin Al-Qassam dan dikenal sebagai 'Al-Muhandis' atau 'Sang Insinyur', yang tewas sebagai martir pada Januari 1996 lalu. Ketertarikannya terhadap masalah-masalah elektro telah mengantarkannya sebagai perakit bom jenius. Ia berhasil mengembangkan pola-pola baru yang telah dirintis oleh pendahulunya, Yahya Ayyash. Sesaat sebelum kesyahidannya, Muhyiddin Syarif berhasil mengembangkan peledak bom dengan remote control. Media Barat menjulukinya sebagai 'Sang Insinyur ke-2'.

Muhyiddin Syarif dilahirkan di Bait Hanina di selatan Al-Quds tahun 1966. Memulai pendidikannya di sekolah tempat kelahirannya sampai tingkat SMU, kemudian melanjutkan studinya di fakultas Sains dan Teknologi jurusan elektro di Universitas Al-Quds.  Dia telah bergaung dengan Hamas pada saat kuliah. Pernah ditangkap dan dipenjara selama 2 tahun pada awal gerakan Intifadhah meletus. Kemudian dipenjara kembali selama 1,5 tahun sampai 1991karena melindungi para mujahidin dari brigade Izzudin Al-Qassam.

Pemerintah Zionis Israel terus berupaya untuk menangkapnya pada Juli 1995 namun Muhyiddin Syarif berhasil lolos dari kejaran mereka. Sejak itulah ia termasuk dalam daftar orang-orang yang paling dicari (black list). Ia termasuk tokoh utama mujahidin yang ada dalam barisan gerakan mati syahid yang telah dirancang oleh asy-syahid Yahya Ayyash. Muhyiddin Syarif dikenal sebagai orang yang sangat antusias dan berprestasi dalam lapangan operasi khususnya dibidang kelistrikan. Dia banyak mengikuti Yahya Ayyash, bekerja bersamanya di Tepi Barat dan di Jalur Gaza. Dan dari sanalah ia mendapatkan ilmu-ilmunya dalam merakit bom dari sejak materi-materi awal sebelum ia mengembangkan sendiri pola yang sulit untuk dideteksi oleh Zionis.

Hasil rancangannya telah dipergunakan untuk gerakan mati syahid yang terjadi pada bulan Agustus dan September tahun lalu. Zionis menganggap dia sebagai kader inti Yahya Ayyash dan bertanggung jawab bersama Hasan Salamah dalam melakukan serangan-serangan balas dendam terhadap Yahudi.

Tentara Israel pada tahun lalu telah menghancurkan bagian dari rumah keluarganya karena balas dendam, sebelum diculik, ia telah berhasil mengembangkan pola peledakan lewat alat kontrol jarak jauh. Para pemimpin intelejen Zionis menganggapnya sebagai ''bom waktu'' yang sulit dideteksi kapan akan meledak. Dan ia termasuk orang pertama yang diburu di Tepi Barat setelah Yahya Ayyash.

Pada tahun lalu ia selamat dari upaya pembunuhan ketika kaki tangan Zionis mencoba meledakkan mobilnya. Ia berhasil meninggalkan lokasi penyerangan tersebut secara menakjubkan. Menahem Klein, seorang pakar teroris di Universitas Barilan menganggap Muhyiddin seorang pakar bom yang tidak melakukan operasi kecuali di kawasan yang sempit dan keras, dimana kemungkinan untuk lolos dari tentara Israel sangat kecil.

Namun dibalik janggutnya yang lebat, Muhyiddin Syarif tak sekeras yang digambarkan media massa Zionis dan Barat. Penuturan seorang pemuda Kristen Palestina yang pernah bersamanya selama ia masih hidup menggambarkan sisi lain seorang syuhada Palestina. Mark Menih, seorang pemuda Palestina Kristen yang ditangkap oleh zionis menjelang Intifadhah dan pernah bersama-sama Muhyiddin Syarif dalam waktu yang cukup lama menggambarkan bahwa Muhyiddin Syarif adalah seorang tokoh yang kokoh, tapi bijaksana dan tenang serta halus terhadapku meskipun aku adalah seorang Kristen. (bayan Hamas/naj/imn)

***

Dr. Abdel Aziz Rantisi (pemimpin Hamas di Jalur Gaza):
''Israel dan Kolaborator Palestina Bertanggung Jawab Atas Kematian Muhyiddin Syarif''

Berikut ini petikan wawancara yang dilakukan oleh IMRA (Independent Media Review & Analysis) dengan Dr. Abdel Aziz Rantisi, pemimpin Hamas di Jalur Gaza, pada tanggal 1 dan 7 April 1998 sebelum beliau ditangkap oleh polisi Palestina. Wawancara ini kami sunting tanpa mengurangi maksudnya, sehubungan keterbatasan halaman. (redaksi)

***

IMRA:  Dilaporkan bahwa hari ini (1/4) tubuh Muhyiddin Syarif "Sang Insinyur ke-2" ditemukan didalam mobil yang meledak pekan belakangan ini di Ramallah dan diduga ia dibunuh terlebih dahulu sebelum mobilnya diledakkan. Bagaimana tanggapan anda?

Rantisi:  Sampai sekarang, sepengetahuan kami Muhyiddin Syarif dibunuh terlebih dahulu sebelum diledakkan. Dan kami mendapatkan informasi ini dari media milik otoritas Palestina. Saya tidak dapat memastikan informasi ini tetapi saya akan konfirmasi juga ke pihak Israel, pihak pertama yang sangat menginginkan terbunuhnya Syarif. Untuk sementara kami menganggap Israel sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas terbunuhnya Syarif, sampai penyelidikan selesai.
 
IMRA:  Kami teringat pada kasus dua anggota kelompok Tzurif beberapa bulan lalu yang ditangkap otoritas Palestina dan kemudian diserahkan ke Israel. Anda mengatakan waktu itu bahwa ini karena ulah  Jibril Rajoub (menhankam otoritas Palestina). Apakah kejadian lalu sama dengan kejadian sekarang?
 
Rantisi:  Pertama, dalam kasus Tzurif, Jibril Rajoub memindahkan dua orang tahanan dari satu wilayah ke wilayah lain dan pemindahan ini menimbulkan tanda tanya besar (?). Kedua, siapa yang memberikan informasi tentang mobil tahanan yang membawa dua orang anggota Hamas pada saat itu? Pihak Israel sudah menunggu mobil tahanan dan telah mengetahui kapan mobil tersebut bergerak.  Atas dasar itu kami mengatakan bahwa pihak Israel telah mengetahui proses pemindahan itu langsung dari otoritas Palestina melalui hubungan antar sesama mereka atau ada kolaborator yang ditempatkan di otoritas Palestina. Sedangkan untuk kasus yang baru ini (terbunuhnya Muhyiddin Syarif) kami belum memiliki informasi yang cukup.

IMRA:  Jika otoritas Palestina merupakan sumber informasi anda kemudian mereka mengatakan bahwa solusi dari masalah ini adalah mengekstradisi tahanan Hamas ke Israel. Tanggapan anda?

Rantisi:  Hamas dapat melakukan penyelidikan lebih jauh dari otoritas Palestina. Sebagai contoh, Muhyiddin Syarif bersembunyi disuatu tempat dan Hamas dapat mengetahui secara persis dimana ia berada terakhir kali sebelum pembunuhan tersebut. Hamas dapat menyelidiki, menanyakan dan memperoleh ide-ide tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Oleh karenanya, kami masih menunggu.
 
IMRA:  Tapi sementara itu anda mengatakan apapun yang anda perbuat, Israel tetap bertanggung jawab terhadap kematian Muhyiddin Syarif.

Rantisi:  Ya.  Tindakan langsung telah dilakukan oleh Israel atau kolaborator atau siapapun juga, tetapi seseorang telah bertanggung jawab atas desakan atau seruan untuk melakukan pembunuhan yang disponsori pihak Israel.

IMRA:  Apakah anda memperkirakan akan ada sejumlah serangan lagi yang menyerupai hal diatas?

Rantisi:  Ya.  Kami telah memperkirakan hal itu, karena sudah menjadi kebijakan dari sayap militer Hamas untuk membalas setiap serangan teroris dari Israel terhadap warga Palestina, baik itu anggota Hamas atau orang Palestina lainnya.

IMRA:  Jika Yasser Arafat secara resmi meminta agar sayap militer Hamas tidak melakukan pembalasan sekarang, apakah sayap militer Hamas akan mendengarkannya atau membiarkan saja?

Rantisi:  Kami memiliki strategi dan pandangan tersendiri tentang konflik ini dan kami percaya bahwa perjanjian Oslo bukanlah jalan satu-satunya yang harus diambil rakyat Palestina. Kami sudah katakan sebelumnya bahwa perjuangan untuk mendapatkan hak-hak sah kami akan terus berlanjut. Selama Israel terus melakukan agresi terhadap warga Palestina dengan pembunuhan atau Judaisasi Jerusalem, membangun pemukiman atau segala bentuk agresi lainnya, kami tetap akan terus melakukan perjuangan dan perlawanan.

IMRA:  Jadi, tidak ada kata-kata yang ampuh dari Arafat yang dapat menangguhkan pembalasan itu?

Rantisi:  Saya yakin tidak ada yang dapat mengubah apa yang telah dan akan diperbuat oleh sayap militer Hamas, mereka memiliki kebijakan dan dalil (fiqh) tersendiri.

IMRA: Apakah anda melihat kemungkinan terjadinya benturan (class) antara Hamas dan otoritas Palestina setelah terbunuhnya Muhyiddin Syarif?

Rantisi:  Tidak. Saya berkeyakinan tidak akan ada benturan karena kebijakan kami adalah menghindari setiap benturan dengan otoritas Palestina.

IMRA:  Pihak Israel punya alasan bahwa Arafat tidak bisa melakukan tindakan serius dalam menghadapi Hamas. Apakah kejadian ini merupakan tindakan serius otoritas Palestina dalam melawan Hamas?

Rantisi:  Percayalah, bahwa tindakan yang akan dilakukan Arafat terhadap Hamas tidak akan menimbulkan bencana dalam hubungan antara Hamas dengan otoritas Palestina.

IMRA;  Kalau begitu, ia (Arafat) dapat keluar dan menahan anggota Hamas, menyita senjata dan lain-lain.
 
Rantisi:  Mengapa di tahan?

IMRA:   Jika hal ini membuat Amerika senang ia akan melakukannya dan menahan orang-orang Hamas.

Rantisi:  Hanya membuat mereka senang?

IMRA:  Bukankah ia sekarang menahan orang-orang?

Rantisi:  Saya yakin bahwa tidak ada alasan untuk memenjarakan orang-orang. Saya tidak percaya ia (Arafat) akan melakukannya karena ia tidak bisa mengemukakan alasan penahanan.

IMRA:  Saya tidak mengerti.

Rantisi:  Penahanan harus memiliki alasan. Tanpa itu apa yang akan ia katakan kepada rakyatnya? Hanya penahanan tok?

IMRA:  Adakah dari anggota Hamas yang telah berbicara dengan Adel Awadallah yang dituduh oleh otoritas Palestina sebagai pembunuh Syarif?

Rantisi: Otoritas Palestina meminta kami untuk melihat dia (Adel Awadallah) di penjara, tetapi saya menolak, karena saat ini ia masih tetap diinterogasi oleh otoritas Palestina. Jika ia dibebaskan, saya baru akan bertemu dengannya.

Sehubungan dengan pernyataan dari Adel Awadallah bahwa ia mengaku membunuh Muhyiddin Syarif maka anda harus tahu bahwa kami punya informasi dari Taib Abdul Rahim bahwa Ghassan [Addasi] bertemu dengan Mahmud Masleh yang berada di penjara Palestina bahwa seorang pemuda mengatakan kepada dirinya bahwa para interogator (polisi Palestina) telah memaksa dan menyiksa Adel Awadallah untuk mengatakan cerita bohong tersebut.

Sekarang saya meminta otoritas Palestina untuk bertemu dengan Mahmud Masleh atau mengadakan konferensi pers dengannya.

IMRA:  Pekan lalu anda mengatakan bahwa perjuangan akan terus berlanjut sampai seluruh Palestina dapat dibebaskan termasuk Haifa dan wilayah lainnya. Apa artinya ini?

Rantisi: Artinya wilayah-wilayah milik Palestina dimana Israel masih tetap bercokol ditempat tersebut akan terus bergolak. Fakta-fakta sejarah dan keagamaan menyatakan bahwa kamilah pemilik tanah ini.  Pihak Israel mengatakan bahwa mereka datang kesini 3.000 tahun lalu dan itu hak mereka untuk mendirikan negara mereka disini. Kami tidak akan menyerahkan tanah ini sejengkalpun kepada Israel begitu juga mereka. Karena itu, perlawanan dan konflik akan terus berlanjut.

IMRA:  Bukankah mereka (otoritas Palestina dan Israel) membicarakan berdirinya sebuah negara Palestina di Tepi Barat dan Gaza serta sebagian Jerusalem sebagai ibukotanya?

Rantisi:  Kami umumkan bahwa kami akan meletakkan senjata jika Israel menarik mundur pasukannya dari Tepi Barat, Gaza dan Jerusalem dan mengevakuasi pemukiman serta sebuah negara Palestina berdiri. Jika ini dipenuhi oleh Israel, kami bersedia melakukan gencatan senjata. Namun tidak secara permanen, tapi hanya temporer saja.

Saya ingin membuat satu catatan khusus sehubungan dengan pembunuhan Muhyiddin Syarif ini, bahwa hanya dua belas jam sebelum pengumuman otoritas Palestina bahwa Muhyiddin Syarif terbunuh karena pemberontakan dalam tubuh Hamas, satuan keamanan Palestina menyatakan kepada kami dan menegaskan bahwa peristiwa ini bukan bagian dari usaha pembunuhan. Bahwa Muhyiddin Syarif terbunuh dengan sendirinya ketika sedang memasang bom. Mohon dijawab pertanyaan saya ini, mengapa yang terluka justru kakinya bukan tangannya atau mukanya ketika akan memasang bom? Mengapa ia tidak mengenakan baju dan celana - kecuali celana dalam - ketika dikembalikan kepada kami. Ini semua terjadi hanya 12 jam sebelum mereka mengumumkan kematiannya. (imra/afd)

 ***

PBB Liburkan Kantor Pada Hari Raya Islam

New York, AS
Kantor berita Reuters melaporkan bahwa Majelis Umum PBB pada 30 Maret lalu telah menyetujui untuk meliburkan kerja bagi para stafnya sehubungan dengan dua hari raya Islam (Idul Fitri dan Idul Adha). Pada hari-hari tersebut seluruh kegiatan di gedung PBB akan diliburkan dan tidak akan ada pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan yang bertepatan dengan dua hari raya tersebut.

Usulan untuk meliburkan dua hari raya tersebut telah disetujui oleh lebih dari 100 negara-negara non-blok dan China. Selama pembahasan usulan tersebut, duta besar Qatar, Nasser Bin Hamad al-Khalifa, berpendapat bahwa lebih dari sepertiga anggota PBB dan lebih dari satu milyar penduduk di seluruh dunia beragama Islam. Perwakilan Syria menambahkan agar PBB juga meliburkan hari raya agama-agama lainnya.
 
Reuters melaporkan bahwa dutabesar AS untuk PBB Bill Richardson - sehubungan dengan libur hari raya ini - mengatakan kepada Majelis Umum, ''Kami sangat menaruh perhatian terhadap keputusan Majelis dalam meliburkan hari raya dua agama sekarang ini. Bagaimanapun keputusan ini sangat tidak sesuai dengan iklim sekuler yang selama ini berjalan di PBB.'' Bill juga menambahkan bahwa keputusan ini akan meningkatkan jumlah libur hari raya agama lain menjadi 10 hari, jika ini terjadi jelas sangat mempengaruhi keefisienan sebuah organisasi, tambahnya. Hal ini akan sangat bertentangan dengan reformasi yang selama ini sedang dijalankan oleh badan dunia ini, katanya. (reuters/msanews/afd)


[back to]