Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
 Aktualita Dunia Islam
No. 62/II, 20-26 Maret 1998
https://www.angelfire.com/id/aktualita
 
ANALISA

Kosovo, Eksperimen Kedua Milosevic Setelah Bosnia

Kekhawatiran terulang kembali 'Tragedi Bosnia' akhirnya terjadi juga ketika pada 28 Februari - 1 Maret lalu polisi Serbia membabat habis desa Drenica, Kosova tengah. Tak kurang 26 nyawa melayang seketika, termasuk wanita dan anak-anak. Sampai tulisan ini dibuat sudah 80 nyawa melayang akibat keganasan polisi dan tentara Serbia.

Sehari setelah pembantaian tersebut 30.000 orang Albania berdemonstrasi mengutuk pembantaian tersebut. Peristiwa ini semakin membulat tekadkan warga Kosovo untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman Serbia. Banyak pengamat memperkirakan, krisis Kosovo ini akan memicu perang Balkan ke-3 jika tidak segera diselesaikan.

Mimpi Milosevic
Slobodan Milosevic sejak jauh-jauh hari telah mengkampanyekan pembersihan Kosovo dari orang-orang Albania (etnic cleansing) yang berjumlah lebih dari 2 juta jiwa (90% etnis Muslim Albania mendiami Kosovo). Kampanye ini dimulai ketika Yugoslavia terpecah belah tahun 1989, dimana Milosevic mencita-citakan sebuah negara Serbia Raya. Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut ia mengirim tank-tank dan tentara ke wilayah otonomi Kosovo dengan perintah 'Musnahkan orang-orang Albania'. Milosevic memanfaatkan isu Kosovo untuk mengangkat dirinya menjadi pemimpin Serbia Raya.

Sejak saat itu Kosovo di bawah kontrol hukum perang Serbia. Otonomi untuk Kosovo dicabut dan diklaim sebagai 'tanah suci' yang mereka dapatkan setelah mengalahkan khilafah Turki Utsmani pada 1389. Semua unsur-unsur politik, bahasa, pendidikan, institusi kebudayaan yang berbau Albania dimusnahkan. Puluhan ribu orang Albania di penjara atau `menghilang'.

Milosevic kemudian memerintahkan tentara Serbia menyerang Slovenia, Kroasia dan Bosnia, menceburkan Yugoslavia ke dalam peperangan dan penyembelihan massal. Orang-orang serbia Orthodox mengancam warga Muslim dan Katholik Albania dengan panggilan 'binatang' dan 'Turki'. Satu justifikasi yang sama ketika mereka membantai warga Muslim Bosnia. Untuk mewujudkan mimpinya itu Milosevic sejak 1989 telah membunuh lebih dari 350.000 orang, dan menyebabkan 3 juta warga Muslim mengungsi, termasuk orang Serbia sendiri.

Pemerintahan Sendiri
Selain perbedaan agama dan budaya, kekejaman dan kebrutalan yang diperlihatkan Serbia agaknya menjadi faktor yang menyebabkan warga Kosovo menolak segala sesuatu yang berbau Serbia. Sekalipun berada dalam wilayah federasi Yugoslavia, orang-orang Kosovo Albania (Kosovar) memiliki pemerintahan 'bayangan', bahkan sistem pendidikannya pun berbeda dengan Yugoslavia.

Upaya presiden terpilih Republik Kosovo Ibrahim Rugova, doktor lulusan Universitas Sorborne Paris, mengambil kebijakan anti-kekerasan dalam menghadapi Serbia tak cukup efektif. Kekhawatiran Rugova jika jalan kekerasan yang digunakan akan terjadi pembantaian besar-besaran dan bahkan bisa saja warga Albania tercerabut dari Kosovo tidak beralasan. Serbia tetap melakukan program etnic cleansing di Kosovo, bahkan tanpa mengindahkan peringatan Barat Serbia semakin represif dan brutal.

Milosevic dan pengikut Fasis Serbia menginginkan Kosovo bersih dari etnis Albania. Ia menerapkan kebijakan rasial sangat puritan di Kosovo, untuk itu penjahat perang dari Serbia, 'Arkan and his gang' diturunkan untuk melakukan pembersihan, sebagaimana mereka lakukan di Kroasia timur dan Bosnia.

Gaya kepemimpinan Rugova yang menghindari aksi kekerasan ini mengundang kritik dan reaksi, banyak kalangan menghendaki adanya perlawanan yang lebih progresif. Tahun lalu, kelompok perlawanan Albania, Kosova Liberation Army (KLA), mulai melakukan perlawanan terhadap polisi paramiliter Serbia. KLA bermarkas di Swiss, dan didanai oleh orang-orang Albania yang berdiaspora.

KLA bertujuan untuk mengusir penjajah Serbia dari Kosovo, dan menghendaki sebuah negara merdeka bagi warga Kosovo Albania. Tapi Kosovo terlalu kecil dan miskin untuk bertahan sendirian. KLA menginginkan 3,5 juta saudaranya dari Albania, dan 1 juta dari Macedonia bergabung bersama melawan Serbia. Mengharapkan bantuan dari negara tetangga Albania jelas tak memungkinkan. Sekalipun orang-orang Albania siap berperang, namun sampai sekarang mereka tidak punya senjata. Sejak pemerintahan konservatif Albania pimpinan Sali Berisha bangkrut tahun lalu, Albania dalam keadaan chaos. Ditambah lagi kelompok sosialis dan komunis mulai merongrong.

Sikap dan Upaya Barat
Sikap Barat sebagaimana biasa terkesan lamban dan mendua. Di satu sisi menginginkan agar Serbia tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah Kosovo, namun pada sisi lainnya tidak menghendaki Kosovo menjadi sebuah negara merdeka. Sampai sekarang Barat tidak mengakui pemerintahan Republik Kosovo yang telah diproklamirkan pada Juli 1990 lalu. Sebuah sikap yang sama ketika mereka 'menyelesaikan' masalah Bosnia.

Bahkan secara gegabah utusan khusus AS untuk Balkan Robert Gelbard pekan lalu menuduh Kosova Liberation Army (KLA) sebagai 'teroris'. Sementara Serbia yang memulai peperangan didiamkan. Bagi AS, mungkin kata 'teroris', diartikan sebagai kelompok yang mengganggu Pax Americana (Pakta Amerika).

Kutukan dan ancaman kepada Milosevic tampaknya hanya sekedar liv service untuk meredam opini internasional yang memihak Kosovo. Skenario yang dijalankan tetap sama seperti 'menyelesaikan' masalah Bosnia. Pertemuan negara-negara G-7 di London guna membahas masalah Kosovo tak lepas dari koridor yang telah ditetapkan, malah ada 'kesepakatan' rahasia yang ingin melibatkan Israel dalam konflik di Balkan tersebut.
 
Barat sangat khawatir jika mereka meluluskan permintaan Kosovo, akan mendorong Macedonia, wilayah strategis dan jantungnya Balkan, menyatukan dirinya dengan orang-orang Kosovo. Dan jika ini terjadi maka sebuah perang besar yang melibatkan 5 negara akan meledak antara Bulgaria, Yunani, Turki, Albania dan Serbia, yang berarti Perang Balkan ke-4.

Barat tampaknya memilih berbisnis dengan 'Syetan dari Belgrade' ini, karena adanya Milosevic dapat membuat Bosnia, Kosovo dan wilayah sekitarnya 'diam'. Milosevic bagi Barat ibarat kartu truf yang akan dimainkan jika kantong-kantong muslim di Balkan mulai menggeliat. Dan tentu saja untuk meredam kebangkitan Islam serta berdirinya sebuah negara Islam di Eropa. Tragis memang. (afdkr/dari berbagai sumber)

***

TV Inggris Tayangkan Kartun Nabi SAW

London, Inggris
Pada Selasa (10/3) tepat pukul 10.45 GMT, televisi Inggris Channel 4 membuat sebuah kekeliruan yang menyinggung perasaan kaum Muslimin ketika menayangkan serial kartun ''Quest'' berjudul ''Kehidupan Muhammad'' yang menampilkan ilustrasi Nabi Muhammad SAW dan para shahabatnya.

Kejadian ini terjadi begitu saja, tanpa adanya protes dari kaum Muslimin di Inggris. Beruntung ada seorang Muslim bernama Abu Dujanah yang sadar dan mengingatkan kaumnya agar melakukan protes terhadap pengelola TV Channel 4.

Dalam fiqih Islam diterangkan bahwa menayangkan gambar atau ilustrasi Nabi SAW dan shahabat yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) adalah diharamkan (forbidden) karena dikhawatirkan akan menimbulkan kultus individu yang sangat bertentangan dengan aqidah Islam.

Karena itu Islam tidak mentolerir gambar atau ilustrasi yang jelas-jelas menggambarkan sosok Nabi Muhammad dan para shahabatnya yang empat. (msanews/afd)

***

Israel Ancam Bunuh Mishal

Jerusalem, Palestina
Pemerintah Israel Ahad lalu (15/3) mengatakan akan tetap berusaha membunuh pemimpin radikal Hamas yang berada di Jordania, Khalid Mishal.

Pernyataan ini dikeluarkan setelah Menteri Infrastruktur Ariel Sharon mengatakan kepada televisi Israel bahwa mereka bersumpah akan terus memburu Khalid Mishal yang pada tahun lalu gagal dibunuh, sehingga menyebabkan hubungan Israel dan Jordan memburuk.

Menanggapi sumpah Sharon ini, jubir Hamas balik mengancam bahwa Israel akan membayar sangat mahal jika terbukti membunuh Khalid Mishal. Jubir Hamas juga mengatakan bahwa adalah sikap yang salah jika polisi Otoritas Palestina berusaha melindungi tentara Israel.

Sementara itu Direktur Shin Bet, Ami Ayalon, pada 10 Maret lalu memperingatkan komite hubungan luar negeri dan pertahanan di Knesset akan kemungkinan meningkatnya serangan ''teroris'' di Israel.

Ayalon mengatakan sebagaimana dimuat harian ''Ha'aretz'' pada 11 Maret, ''Seluruh organisasi ''teroris'', khususnya Hamas, telah merencanakan serangan dalam skala besar dan luas dalam waktu dekat.'' Ayalon menerangkan pada tahun 1997 angka statistik menunjukkan bahwa serangan terhadap Israel mencapai 464 kali, lebih tinggi dari tahun 1996 yang hanya 268. Atas dasar inilah Ayalon memprediksikan bahwa serangan terhadap Israel tahun 1998 ini akan melebihi tahun 1997 lalu.

Seorang pejabat senior Israel - sebagaimana dikutip dari harian ''Ma'ariv'' (10/3) - mengatakan bahwa akhir-akhir ini ada usaha-usaha dari orang Palestina untuk menyelundupkan roket-roket (Katyusha, anti-tank, anti-aircraft) ke Jalur Gaza dan Tepi Barat, namun berhasil digagalkan oleh Shin Bet. Bahkan Radio Israel memberitakan bahwa mereka berhasil mengamankan ratusan senjata yang sedang diproduksi dalam jaringan bawah tanah. Usaha ini terbongkar setelah pihak Israel diberitahu oleh pihak keamanan Palestina pimpinan Arafat. (southnews/mesr/afd)

***

Yusuf Islam Rilis Album Kemanusiaan Bosnia

London, Inggris
Yusuf Islam atau Cat Stevens, telah meluncurkan sebuah album baru kemanusiaan untuk Bosnia setelah 20 tahun ia menggantungkan gitarnya. Albumnya yang berjudul I Have No Cannons That Roar, diluncurkan setelah ia menyadari bahwa musik yang berkembang sekarang ini tidak cocok  dengan keyakinan Islam. Karena itu ia menyodorkan warna baru (alternatif) dalam karya terbarunya ini.
 
Untuk merilis albumnya ini Yusuf Islam bekerjasama dengan mantan wartawan perang dari BBC Martin Bell dan Muhamed Sacirbey, utusan khusus presiden Bosnia-Herzegovina untuk PBB. Album barunya ini diinspirasikan setelah kematian Dr Irfan Ljubijankic, Menlu Bosnia, yang terbunuh dalam serangan helikopter.
 
Yusuf Islam menulis dan merekam lagunya (baca: nasyid) sendiri pada tahun 1995, dan hasilnya untuk membantu perjuangan Muslim Bosnia. Untuk menunjang gagasannya ini ia melibatkan artis Bosnia dalam rekamannya tersebut. Warna acapella menghiasi lagu-lagunya. (bbcnews/afd)
 
***

Buku Kontroversial Garaudy Wajib Dibaca Mahasiswa

Kairo, Mesir
Setelah lolos dari jebakan makar Yahudi, tokoh intelektual muslim asal Perancis, Roger Garaudy, kini namanya makin melejit dan banyak mendapat dukungan luas generasi muda Islam di berbagai negara Islam.

Selain itu buku karangannya  yang berjudul ''Mitos Lembaga Politik Israel'' (The Founding Myths
of Israeli Politics) yang menimbulkan kemarahan pihak Zionis dan menimbulkan polemik di parlemen Perancis, telah disetujui sebagai literatur wajib bagi mahasiswa Universitas Kairo Mesir.

Sementara itu, pihak Zionis internasional menuntut gereja Vatikan agar meminta maaf atas peristiwa pembantaian warga Yahudi oleh Nazi Jerman. Pihak Zionis sangat gusar ketika mengetahui sikap diam dan cenderung membiarkan gereja Vatikan sewaktu terjadinya pembantaian tersebut. Seperti diberitakan media massa dunia, akhirnya gereja Vatikan pada 16 Maret 1998 lalu meminta maaf atas sikapnya tersebut. Pihak Zionis mengklaim Nazi telah membunuh 6 juta warganya sewaktu PD II lalu. Suatu jumlah yang ditolak mentah-mentah oleh Garaudy dalam bukunya di atas. (almujtama/msl/imn)

***

Era Baru Keterbukaan di Sudan

Khartoum, Sudan
Bulan April mendatang Sudan akan memberlakukan sistem multi partai, demikian pernyataan ketua parlemen Sudan, Dr. Hasan Al-Turabi ketika diwawancarai oleh wartawan majalah Al-Hayat terbitan London pada 19 Februari lalu usai pelantikannya sebagai sekjen partai ''Al-Muktamar Al-Wathoni'', partai yang berkuasa di Sudan saat ini.

Ditambahkannya bahwa partai-partai politik akan bermunculan di Sudan dan masalah ini telah disetujui oleh presiden Omar Al-Bashir. Kesempatan ini juga diberikan kepada mantan presiden Sadiq Al-Mahdi dan kelompoknya untuk membentuk partai politik.

Diperkirakan UU baru yang akan digulirkan bulan April mendatang itu meliputi dua hal penting, yaitu pemberian jaminan kebebasan mengeluarkan pendapat serta jaminan pemberlakuan sistem multi partai. Dengan dituangkannya masalah tersebut ke dalam UU, maka hal ini merupakan era baru keterbukaan dan proses demokratisasi di Sudan. Namun bukan berarti keterbukaan tersebut  ditafsirkan sebagai suatu kebebasan mutlak seperti pengalaman Sudan sebelumnya.

Para pengamat politik menilai bahwa jaminan kebebasan dan pemberlakuan sistem multi partai ini, kurang lebih sama dengan beberapa negara tetangga Arab yang umumnya berkisar di seputar kebebasan mass media, mendirikan partai dengan melibatkan pemimpin negara dalam game politik, meskipun posisinya sebagai pimpinan partai yang berkuasa.

Sementara itu pada 8 Maret lalu pemerintah Sudan melakukan reshuffle (perubahan) kabinetnya, dimana para mantan pemberontak dari selatan mendapatkan pos-pos kementerian, seperti Riek Machar sebagai menteri kesehatan dan peraturan federal, Lam Akol sebagai menteri perhubungan dan komunikasi. Reshuffle ini dilakukan berkaitan dengan kritik terhadap besarnya peranan presiden Omar Al-Bashir dalam menempatkan orang-orangnya tanpa melibatkan partai yang berkuasa.

Namun ada juga yang menilai reshuffle ini sebagai bagian dari usaha Khartoum untuk menghadapi tekanan kuat dari IMF yang bersama-sama AS menerapkan sanksi ekonomi terhadap Sudan. (almujtama/mesr/afd/msl)



[back to]