| No. 59/II Pekan ke-4 Februari 1998 |
https://www.angelfire.com/id/aktualita
|
''Waspada Hitam'', Wujud Ketakutan Australia
SEKITAR 1.000 orang melakukan demonstrasi diluar konsulat AS dikota Sydney pekan lalu menentang agresi AS dan pengiriman tentara Australia ke Irak.
Para pemrotes datang dari berbagai kelompok sayap kiri termasuk Pax Christi, jubir dari komunitas muslim Sydney untuk penyelamatan anak-anak Irak, Mustafa Al-Hamudine, dari Koalisi Perdamaian Arab, yang menyerukan solusi damai dalam menghadapi krisis Irak. Para demonstran mengatakan bahwa rakyat Irak bukanlah musuh bagi rakyat Australia. ''Berikan kesempatan damai, berikan kesempatan damai,'' teriak Al-Hamudine. "Kita semua berharap dan berdo'a agar tuan Kofi Annan sukses dalam menjalankan misi diplomatiknya ke Irak dan menyelamatkan Timur Tengah dari perang yang tak berkesudahan.''
Salah seorang jubir pemrotes mengatakan bahwa keputusan PM Australia mengirimkan pasukannya ke Irak memecah belah komunitas muslim Australia dan menimbulkan perasaan anti-Arab. Para pemrotes merencanakan akan menggelar aksi protes yang lebih besar pekan ini.
Di Melbourne pada Jum'at sore sekitar 500 orang demonstran menentang keterlibatan Australia menyerang Irak. Ikut berbicara aktivis buruh, termasuk mantan tokoh MLC Joan Coxsedge, mantan Senator Bill Hartley dan sekretaris Dewan Perdagangan Leigh Hubbard.
Para pemrotes kemudian berkeliling kota, ikut bergabung dalam aksi protes itu organisasi seperti Australian Arabic Council, ISO, Campaign against Militarism, Green Left dan the South Movement yang menyampaikan pidato tentang langkah-langkah parlemen Victoria.
Para pemrotes di Melbourne diorganisir oleh sebuah koalisi luar negeri yang menamakan dirinya "People Against War in Iraq (PAWI)" yang juga merencanakan demontrasi lebih besar lagi pada Jum'at depan. PAWI juga akan mengkampanyekan "Roti bukan Bom" di Melbourne's World Congress Centre.
Sumber dari PAWI mengatakan bahwa demontrasi akan digelar serentak di kota-kota di Australia seperti Adelaide dimulai pukul 5 di Parliament House, Brisbane dimulai pukul 5 di Queen St Mall, Canberra dimulai pukul 5 di Garema Pl, Civic (kedubes AS), Hobart dimulai pukul 4.30 di Franklin Sq, Melbourne dimulai pukul 5 di GPO, Bourke St Mall, Newcastle dimulai pukul 6 di ADF Careers Centre, 461 Hunter St, dan Sydney dimulai pukul 5 di konsulat AS.
Sementara itu PM John Howard membatalkan kunjungannya ke Malaysia dan Papua New Guinea. Ia diminta segera pulang karena Australia dalam kondisi ''waspada hitam'' (Black Alert). Dalam sistem keamanan Australia ''waspada hitam'' adalah satu kondisi keamanan dibawah ''waspada merah'' (Red Alert).
Sumber pemerintahan mengatakan bahwa pembatalan kunjungan PM Howard ke Malaysia dan Papua New Guinea atas saran deparlu AS. Namun jubir Jaksa Agung Daryl Williams menolak dan membantah kondisi "waspada hitam" yang dikeluarkan oleh kementrian federal.
Waspada hitam adalah suatu kondisi dimana pihak intelejen dibolehkan mengatur protokoler keamanan di wilayah Australia dan kawasan sekitarnya. Status waspada disini berarti mencegah mentri-mentri federal melakukan perjalanan ke kawasan sekitar dan menuntut pengaturan keamanan tingkat tinggi. Termasuk juga penambahan keamanan bagi dubes-dubes, pemekaran pos-pos keamanan pintu masuk negara seperti pelabuhan laut dan udara.
Waspada hitam juga melibatkan departemen pertahanan dan keamanan, ASIO, ASIS dan kesatuan kontra-teroris negara, termasuk kesatuan polisi operasi khusus. Waspada hitam diumumkan oleh kementrian pertahanan dan keamanan Australia, dan diberlakukan jika diyakini negara berada dalam keadaan bahaya karena serangan teroris.
Waspada hitam juga mengharuskan SAS (pasukan khusus angkatan darat) untuk "ready for action" dan melibatkan agen intelejen di seluruh kawasan melakukan gerakan monitoring kepada setiap pendatang, khususnya yang melakukan perjalanan dari Timur Tengah melalui negara-negara Asia. Seorang pakar kontra-teroris mengatakan bahwa sehubungan dengan kasus Irak ini, agen-agen ASIO sekarang melakukan monitoring terhadap kelompok-kelompok Islam di Australia. Sebuah ketakutan yang berlebihan memang. (southnews/afd)
***
Royal Navy Izinkan Muslimah Menutup Aurat
London, Inggris
Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy) telah mengeluarkan
sebuah peraturan baru yang mengizinkan anggotanya (wanita) yang beragama
Islam mengenakan seragam sesuai dengan syariat Islam.
Para petinggi Royal Navy sebelum merumuskan peraturan tersebut telah mengadakan serangkaian dialog dengan beberapa petinggi AL Pakistan untuk mencari kejelasan dan titik temu dalam masalah tersebut. Dari hasil dialog itu kemudian disepakati bahwa jilbab bagi wanita muslimah adalah bagian dari tuntunan agama Islam dan untuk itu Royal Navy mengakui keberadaan anggotanya yang mengenakan jilbab.
Dengan digulirkannya peraturan baru ini, maka peluang bagi wanita muslimah Inggris untuk bergabung dalam jajaran Angkatan Laut sangat terbuka, dan dikabarkan bulan September nanti seorang wanita muslimah Inggris pertama akan bergabung dengan Royal Navy.
Menurut kapten Cates Manshanda, supervisor Royal Navy, peraturan baru ini akan menjawab tuduhan-tuduhan negatif yang dilancarkan kepada Royal Navy karena berlaku diskriminatif terhadap warga minoritas.
Ditambahkannya selama ini, wanita muslimah keturunan Asia kurang diprioritaskan dalam jajaran Royal Navy, sementara prestasi mereka dibidang lainnya seperti pendidikan dan kesehatan sangat menggembirakan.
Menurut rencana seragam Royal Navy bagi wanita muslimah akan didesain sesuai dengan syariat Islam, yang tentu saja menutup aurat dan sopan. (mujtama/msl)
***
Hasil Jajak Pendapat JMCC:
77,2% Rakyat Palestina Menghendaki Irak Menyerang Israel
Tepi Barat, Palestina
Meskipun kabar terakhir menyebutkan misi diplomatik Kofi
Annan (sekjen PBB) terbilang berhasil dalam mencegah AS melakukan serangannya
ke Irak, tidak demikian halnya dengan sikap sebagian masyarakat Palestina
di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Hal ini terbukti dari hasil jajak pendapat
(poll) yang dilakukan oleh The Jerusalem Media and Communication Centre
(JMCC) pada 14 Februari lalu.
Jajak pendapat yang mengambil sampel dari 1188 warga Palestina berusia diatas 18 tahun di Tepi Barat termasuk Jerusalem Timur dan Jalur Gaza itu setidaknya merepresentasikan sikap sebagian warga Palestina dalam krisis Irak versus AS.
Dalam jajak pendapat itu sebanyak 62% warga Palestina menghendaki agar AS menyerang Irak, sementara 33,2% tak menghendakinya. Selanjutnya jika AS menyerang Irak maka otomatis Irak akan melakukan pembalasan dengan menyerang Israel, harapan ini diiyakan oleh 52,2% responden sementara 42,9% menolak. Bahkan ketika ditegaskan kembali jika AS menyerang Irak, apakah mereka mendukung Irak jika menyerang Israel, responden yang mengiyakan naik mencapai 77,2% sementara yang menolak hanya 15,7%.
Dalam menghadapi krisis Irak-AS ini umumnya warga Palestina sangat bersimpati dan mendukung Irak, sebanyak 94,1% menyatakan simpati dan dukungannya. Dukungan ini setidaknya didasarkan pada beberapa alasan dan motivasi, seperti 1) 4,5% responden mendukung kebijakan pemerintah Irak pimpinan Saddam, 2) 25,2% karena simpati dengan rakyat Irak, 3) 17,3% responden memposisikan dirinya menentang kebijakan AS di Timur Tengah. Selain itu 6,4% untuk alasan pertama dan kedua, 5,6% untuk alasan pertama dan ketiga, 28,4% untuk alasan kedua dan ketiga, 12,4% untuk ketiga alasan diatas dan 0,2% tidak menyatakan pendapatnya.
Sementara itu posisi Otoritas Palestina (PA) cukup terguncang dalam krisis ini, para responden yang mendukung sikap PA hanya 46,2%, selebihnya sebanyak 25,9% menentang, dan yang tidak mau tahu 23,6%. Bahkan ketika para responden ditanya apakah mereka setuju dengan pelarangan demonstrasi dan pembakaran bendera AS dan Israel oleh polisi Palestina, hanya 32,7% yang mengiyakan sementara 57,6% menentangnya.
Jajak pendapat juga mempertanyakan apakah terasa adanya politik standar ganda (double-standard) yang dilakukan AS dalam krisis dengan Irak. Sebanyak 80,5% responden menyatakan ya, 13,1% tidak dan 6,4% tidak memberikan komentarnya. Artinya ketidaksukaan masyarakat Palestina terhadap campur tangan AS di Timur Tengah semakin membesar dan bisa jadi suatu saat akan meledak dan memicu gelombang anti AS. (imra/afd)