Daftar isi:
Redaksi mengucapkan . Mohon maaf lahir dan batin 1418 H.
APA yang sedang terjadi didalam pemerintahan Turki setelah presiden Sulaiman Demiral mengundurkan diri dari keikutsertaannya pada konferensi negara-negara Islam (OKI) di Teheran 9 Desember tahun lalu.
Bisa ditebak alasan Turki untuk absen dalam konferensi Islam tingkat tinggi tersebut, karena agenda masalah Turki hampir tidak pernah diangkat dalam forum bahkan sering dikecam karena ulahnya yang terlalu berani dalam menjalin hubungan bilateral dengan negara Zionis Yahudi.
Turki memang sejak dahulu berusaha keras untuk menjadi anggota Uni Eropa (UE). Hal ini juga telah menjadi obsesi Yilmaz sejak ia ditunjuk sebagai perdana mentri menggantikan Necmettin Erbakan.
Yilmazt merasa bahwa apa yang telah ia lakukan bakal diperhitungkan oleh UE karena mampu mendongkel Erbakan lewat dukungan militer sekaligus menumpas kekuatan-kekuatan Islam. Yilmaz berharap kelak Turki akan diterima sebagai salah satu anggota UE atau paling tidak mendapat kesempatan selama enam bulan untuk diproses keanggotaannya seperti Cyprus dan beberapa negara Eropa Timur.
Yilmaz sempat mengancam akan menarik dirinya dari kandidat anggota kalau permohonannya kali ini ditolak, dengan demikian UE tanpa Turki akan berubah menjadi sebuah kelompok negara-negara sektarian masehi. Namun kenyataan berbicara lain, Cyprus dan beberapa negara Eropa Timur diterima, sedangkan lamaran Turki tetap ditolak mentah-mentah.
Merasa Turki tidak dipandang oleh UE, presiden Turki Sulaiman Demirel langsung terbang ke Washington dalam satu kunjungan khusus. Ia meminta kepada Clinton agar menggunakan kekuatannya menekan UE, namun usahanya tetap sia-sia karena Clinton sendiri tidak dapat berbuat banyak dengan UE. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya Turki, oleh negara-negara Eropa belum dianggap sebagai sebuah negara kuat yang diperhitungkan.
Tidak ada jalan lain bagi Turki kecuali harus menggandeng Israel sebagai partner politik. Terbukti pada saat berlangsungnya konferensi OKI di Teheran, Menhankam Israel Yithzak Mordechai melakukan kunjungan resmi ke Ankara dan menyepakati beberapa kerjasama dengan Turki.di bidang militer dan keamanan. Menyusul beberapa hari kemudian Turki melalui wakil Menhankamnya Jenderal Tounshir Kelinech mengadakan kunjungan balasan ke Israel untuk menyepakati jadwal latihan militer bersama angkatan bersenjata Israel dan Turki.
Suratkabar Milliyet menjelaskan bahwa Israel akan membantu Turki di bidang kerjasama strategis berupa pembangunan satelit canggih yang dapat digunakan untuk memantau aktifitas Partai Pekerja Kurdistan (PPK) di negara-negara tetangga seperti Syria dan Lebanon.
Melihat manuver-manuver yang dilakukan Turki akhir-akhir ini, banyak kalangan yang bertanya-tanya apa sebenarnya yang ingin dicapai oleh negara yang pernah menjadi pusat khilafah Islamiyah itu? Mengapa begitu cepat mengisolasikan dirinya dari OKI? Mengapa ia harus bekerjasama dengan negara Yahudi Zionis, kalau hanya gagal menjadi anggota UE?
Bukankah Israel adalah sebuah proyek Zionis dan sejak dahulu berusaha untuk membuat lemah negara-negara di wilayah tersebut yang pada gilirannya ingin memunculkan dirinya sebagai satu kekuatan tunggal (the single power)?
Kalau Henry Kissinger mengatakan bahwa menjadi kawan Amerika Serikat adalah menempatkan diri dalam bahaya maka sesungguhnya menjadi teman Zionis Israel adalah satu tindakan fatal, bahkan lebih fatal dari menempatkan diri sebagai musuh Amerika.
Jum’at lalu (16/1) Yilmaz kembali membuat kejutan dengan membubarkan Partai Refah (partai Islam terbesar) pimpinan Erbakan. Lebih jauh Yilmaz melarang Erbakan untuk terjun lagi ke dunia politik selama 5 tahun.
Meskipun Necmettin Erbakan telah mendapat kartu merah dan keluar dari dunia politik, namun sosoknya akan tetap dikenang sebagai simbol patriot rakyat Turki dalam membangun sebuah negara modern yang kuat dan integral dengan negara-negara Islam dan Arab.
Refah yang beranggotakan sekitar empat juta tidak akan larut dan tenggelam di selat Bosforus, bahkan mereka akan tumbuh subur dan sehat. Mereka - massa Erbakan dan pendukung Refah - akan terus memantau kondisi politik dan tidak mustahil satu waktu nanti mereka akan mampu menyisihkan tekanan-tekanan militer dan menjatuhkan semua simbol kekuatan sekuler.
Terobosan Erbakan memang sangat menggoncangkan kekuatan sekuler Barat dan Eropa, karena kerangka politik ekonomi dan sosialnya berpijak pada pilar pembangunan high technologi nasional, dengan menjalin kerjasama regional di bidang perdagangan dan ekonomi serta menciptakan teknologi sendiri tanpa mengimport dari luar.
Beliau memang menyadari
bahwa akar ekonomi dan sosial negaranya mengekor ke Eropa, Amerika dan
Yahudi maka mustahil Turki akan menjadi satu negara mandiri. Bahkan tetap
berada dalam kondisi labil, seperti kerusakan ekonomi, kehancuran dibidang
perdagangan serta azab dari Allah. Wallahu ‘Alam. (msl/dari berbagai
sumber)
Islamabad, Pakistan
Setelah kurang lebih
tiga tahun menghilang dari publik dan media massa, baru-baru ini Prof.
Burhanuddin Rabbani - mantan presiden Afghanistan - mengetuai sebuah delegasi
mengunjungi Islamabad.
Kunjungan tersebut sebagai suatu tindak lanjut dari sebuah pertemuan penting yang diadakan di kota Ashfahan Iran yang dihadiri oleh hampir semua kelompok mujahidin Afghanistan termasuk perwakilan dari Thaliban.
Seusai pertemuan dengan pihak Islamabad, Rabbani mengadakan pertemuan khusus dengan Jamaat Islami (JI) yang diwakili oleh Chodri Rahmat Ali, Chodri Muhammad Aslam Sulaimi serta para pimipinan JI di wilayah Sharhat.
Dalam pertemuan terbatas itu Rabbani memberitahukan tentang hasil pembicaraannya dengan pemerintahan Islamabad. Beliau optimis bahwa Pakistan, Iran dan Saudi Arabia mempunyai peran besar dalam memulihkan kondisi Afghanistan.
Menindaklanjuti pertemuan tersebut, Nawaz Sharif langsung mengirim satu tim resmi ke Kandahar yang dipimpin langsung oleh wakil deplu Pakistan Syamsad Ahmad Khan untuk melakukan negosiasi dengan pimpinan Thaliban, Mullah Muhammad Umar.
Sumber-sumber dari
Islamabad mengatakan bahwa untuk pertama kalinya pihak Thaliban bersedia
duduk berunding dengan semua kekuatan dan kelompok yang bertikai di Afghanistan.
Menurut rencana perundingan tersebut akan berlangsung pada tanggal 15 bulan
depan. (shout-al-manshurah/msl)
Al-Quds, Palestina
Salah seorang pimpinan
agen intelejen Israel Shinbet mengatakan bahwa Israel terpaksa harus hidup
dan siap untuk menghadapi aksi -aksi perlawanan bersenjata yang dilancarkan
oleh kelompok Islam dalam kurun waktu yang cukup lama.
Pernyataan tersebut berdasarkan pada pengakuan Brigade Izzuddin Al-Qassam yang telah memiliki kekuatan militer dan peralatan perang yang tidak bisa dianggap remeh.
Hal ini diakui oleh Yaqob Bery -mantan kepala intelejen Israel dalam sebuah wawancaranya dengan majalah militer Israel, Ben Hanih.
Ia menjelaskan bahwa
satu-satunya solusi untuk mengkonter perlawanan bersenjata yang ditujukan
kepada Israel adalah melalui dialog dan solusi politik. Yaqob yang menghabiskan
umurnya selama 29 tahun dalam badan intelejen Israel, dan pada tahun 1988
setelah pecahnya Intifadhah ditunjuk sebagai direktur Shinbet, menilai
bahwa tidak mustahil akan terwujud satu kesepakatan politik antara pihak
Hamas dan Israel, jika kedua pihak bersedia untuk melakukan gencatan senjata.
(almujtama/msl)
Beograd, Yugoslavia
Belum lepas ingatan
ketika Serbia menyerbu Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Slovenia dan Kosovo,
Selasa lalu (13/1) puluhan ribu “sukarelawan” Serbia menyerbu Montenegro
untuk menghalangi presiden terpilih Milo Djukanovic berkuasa di Montenegro.
Kejadian ini mengingatkan kembali akan awal penyerbuan Serbia ke Bosnia. Ketika itu, Serbia menggunakan “sukarelawan” sebagai kedok untuk menyerbu Bosnia. Padahal pada kenyataannya para “sukarelawan” itu adalah tentara reguler Serbia yang secara khusus menyamar menjadi sukarelawan.
Modus yang sama kembali digunakan Serbia untuk menyerbu, kali ini, Montenegro. Diketahui bahwa para “sukarelawan” ini adalah tentara-tentara Serbia yang berada di Bosnia dibawah komando Zeljko Raznjatovic dan Vojislav Seselj.
Namun sangat disayangkan, peristiwa penyerbuan ini tidak diketahui masyarakat luas karena pihak Serbia memang sengaja memblokade informasi tentang peristiwa tersebut.
Mengetahui akan hal
ini, Dr. Muhamed Borogovac dari Komite Pengungsi Bosnia menghimbau kepada
dunia agar peristiwa genocide jangan sampai terjadi lagi di Montenegro
dan mencegah Serbia melakukan penghancuran wilayah Balkan lainnya. (msanews/afd)
Srinagar, Kashmir
Konferensi Seluruh
Partai Kemerdekaan (All Party Hurriyat Conference = APHC) telah
mengumumkan akan memboikot pemilu di Lok Sabha yang akan diselenggarakan
bulan depan. Pemilu di Kashmir kembali dilaksanakan setelah sebelumnya
gagal pada Mei tahun lalu.
Pengumuman ini disampaikan menyusul hasil pertemuan komite pekerja APHC yang diketuai oleh Mir Waiz Umar Farooq di Srinagar. Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa resolusi antara lain bahwa pemilihan tidak menyelesaikan masalah Kashmir di masa datang. Masalah Kashmir bukanlah persoalan jabatan di pemerintahan tetapi lebih pada persoalan hak menentukan nasib sendiri. Pemilihan bagi rakyat Kashmir merupakan suatu yang dipaksakan oleh pemerintah India.
Resolusi juga menyatakan bahwa APHC siap mengambil bagian dalam beberapa pemilihan jika memenuhi dua syarat, yaitu pertama, pemilihan harus diawasi oleh PBB atau organisasi internasional lain yang independen. Kedua, setiap kandidat yang terpilih mempunyai hak untuk memutuskan masa depan Kashmir. Dua hal yang mati-matian selalu dihindari oleh India setiap menghadapi masalah Kashmir. (kashmir news/afd)
Bersama ini kami beritahukan kepada pembaca budiman bahwa buletin Aktualita Dunia Islam TIDAK TERBIT dari pekan ke-5 Januari ’98 sampai pekan ke-2 Februari ’98. Insya Allah akan TERBIT KEMBALI pada pekan ke-3 Februari ’98 (Jum’at, 20 Februari 1998).