Edisi 049
KRISIS BALKAN;
Ambisi AS, Derita Kaum Muslimin
Krisis di Kosovo (salah satu propinsi Yugoslavia yang mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin etnis Albania) atau terkenal dengan krisis Balkan belum menunjukkan tanda-tanda kapan akan berakhir. Serangan NATO untuk memaksa Yugoslavia menerima status otonomi propinsi Kosovo telah menjadikan Yugoslavia sebagai medan perang. Hanya saja serangan yang dilakukan atas nama pembelaan HAM terhadap etnis Albania yang dizhalimi oleh pemerintah Milosevic itu malah membuat banyaknya aliran pengungsi etnis Albania itu dari Kosovo ke negara-negara sekitarnya.
Dan perlu dimaklumi bahwa hampir setengah juta penduduk etnis Albania yang terusir dari tanah airnya itu adalah kaum muslimin. Berita terakhir menyebut polisi dan tentara Yugoslavia pun mulai melakukan pemerkosaaan terhadap wanita dan gadis muslimah Albania -sebagaimana dulu mereka melakukannya kepada wanita dan gadis muslimah Bosnia (Republika, 11/4/1999).
Anehnya, setelah serbuan NATO terus-menerus dilakukan, pemerintah -melalui polisi dan tentara- yang selalu mengusir keluar kaum muslimin etnis Albania dari Kosovo kemudian justru melarang mereka keluar dari Kosovo. Pemerintah Yugoslavia pun mengumumkan gencatan senjata secara sepihak. Sementara itu NATO tetap mengancam bahkan akan menerbangkan pesawatnya begitu rendah untuk mendapatkan sasaran yang lebih banyak (Republika, 10/4/1999). Sementara itu AS sang pemimpin NATO berencana untuk melakukan serangan darat meskipun besar resikonya.
Melihat posisinya yang sangat strategis di Eropa dan sejarah telah mencatatnya sebagai daerah rawan konflik, kiranya krisis di Balkan bukan semata krisis lantaran tindakan biadab pemerintahan Serbia Yugoslavia yang melakukan pembersihan etnis terhadap penduduk mayoritas propinsi Kosovo, yakni kaum muslimin etnis Albania. Rupanya kaum muslimin hanyalah sekedar komunitas yang dikorbankan dalam konflik politik dan militer di wilayah itu. Lalu konspirasi apa yang terjadi di kawasan Balkan? Dan atas ambisi siapa konflik itu meluas? Lalu bagaimana keadaan kaum muslimin di sana? Dan bagaimana seharusnya sikap kaum muslimin terhadap krisis Balkan, terutama dalam menolong kaum muslimin di sana? Tulisan ini mencoba menganalisisnya.
Ambisi AS di Balkan
Semula konflik Kosovo itu akan diakhiri oleh Inggris dan Perancis, melalui perundingan "Rambouillet". Namun demikian, intervensi Amerika dalam perundingan tersebut dan ancaman yang dilakukan serta tekanannya membuat negara-negara yang tergabung dalam NATO hanya sebagai pihak penjamin kesepakatan perdamaian antara pihak yang bertikai yang telah gagal pada perundingan "Rambouillet" di Paris dan memberikan tekanan pada Slobodan Milosevic, Pemimpin Serbia, untuk memobilisasi pasukan Serbia di Kosovo. Sebagai konsekuensinya, timbullah pengusiran, pembunuhan dan penyiksaan kaum Muslimin serta pembunuhan secara biadab terhadap kaum Muslimin. Isu inilah yang telah memberikan inisiatif pihak Amerika untuk mencari-cari alasan atas intervensi militer NATO di kawasan Balkan.
Pilihan Amerika atas kawasan Balkan bukanlah lahir karena kevakuman perundingan yang dilakukan. Akan tetapi Amerika tahu bahwa kawasan Balkan terdiri dari berbagai ras dan etnik yang dapat dipecah atas berbagai negara-negara Balkan. Selanjutnya, dimulailah konflik (peperangan) serta melepaskan negara-negara tersebut satu per satu dan itu adalah tindakan mudah bagi Amerika yang cenderung mengarahkan ke Eropa, yang tujuannya jelas untuk membuat Eropa bergolak dan mengarahkan Eropa agar disibukkan dengan persoalan-persoalan domestik. Juga dalam rangka menunjukkan ketidakmampuan Eropa dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada dan membuktikan pentingnya keberadaan Amerika dan NATO setiap saat.
Akan tetapi, isu yang lebih penting bagi Amerika adalah untuk menghentikan secara penuh (menghabisi) peran Rusia sebagai penguasa di kawasan Eropa dan juga untuk mengakhiri peran Rusia sebagai Superpower terhadap kepentingan-kepentingan global. Setelah Polandia, Republik Czech dan Hungaria telah bergabung bersama NATO, tak ada lagi negara sebagai pendiri Pakta Warsawa yang tersisa, kecuali Yugoslavia. Negara-negara Balkan yang biasanya menjadi bagian dari Uni Sovyet juga telah mengajukan keinginannya untuk bergabung dengan NATO. Slovakia dan Rumania sedang menunggu diterimanya mereka bergabung dengan NATO. Sementara Bulgaria dan Moldova menampakkan persahabatan mereka dan membuka kerjasama terhadap negara-negara yang telah bergabung dengan NATO tersebut. Inilah apa yang sebenarnya terjadi pada krisis Balkan saat ini.
Melalui cara ini, pemutusan ikatan persahabatan yang telah Rusia bangun secara tradisional dengan negara-negara di kawasan Eropa Timur dapat diakhiri. Hanya Yugoslavia dan lebih khusus Republik Serbia dan Republik Montenegro yang tetap loyal pada Rusia dan telah menjalin kerjasama yang baik dengan Rusia. Oleh karena itu, Amerika mulai memutuskan kedua sayap Yugoslavia tersebut. Amerika telah memisahkan 4 negara dari 6 republik yang ada di Yugoslavia yaitu: Croasia, Slovenia, Bosnia dan Macedonia. Dan Republik Montenegro masih tetap terpisah. Dengan melemahkan posisi Serbia dari Yugoslavia dan mengisolasinya dari Rusia, maka usaha memperlemah Rusia akan mudah diraih. Dan dengan hilangnya kepentingan dan ikatan dengan negara-negara di kawasan Eropa Timur, maka Rusia akan kehilangan peran regionalnya di Eropa, sebagaimana Rusia juga telah kehilangan peran globalnya dan akan segera mengikuti kehancuran Uni Sovyet.
Jika kita berpikir tentang kehancuran Uni Sovyet dan kepemimpinan Amerika atas negara-negara yang tergabung dalam Perang Teluk Kedua, ini merupakan dua indikasi atas berakhirnya peran Rusia sebagai sebuah kekuatan besar, dan hal yang sama sangat mungkin terjadi pada perang di Kosovo sebagai indikasi akan berakhirnya peran regional Rusia di Eropa.
Hal ini dikarenakan industri persenjataan Rusia yang memiliki reaktor nuklir terbesar dan persenjataan militer yang ada tidak memiliki nilai lagi sebab Rusia telah kehilangan ketinggian logistik dan teknologinya dan kondisi ini telah membuat Rusia tidak efektif lagi. Lebih jauh lagi, kehancuran ekonomi Rusia yang cukup parah telah membuatnya tidak mampu bertahan bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup warga negaranya sehari-hari, Rusia harus membiarkan masing-masing menggantungkan diri dari pembiayaan negara Superpower dunia.
Untuk itu, tujuan pokok Amerika adalah untuk mengambil alih negara-negara Balkan dari Rusia dan Eropa Barat sebagai jalan keluar, karena wilayah ini sangat strategis yang memisahkan Rusia dari Eropa, dan sangat potensial bagi Amerika untuk mendudukkannya sebagai tempat bergantung terakhir bagi Eropa dan selanjutnya akan memperluas pengaruh Amerika.
Amerika telah mengatur intervensi NATO di Kosovo, dimulai dengan sebuah perundingan tahap baru antara IMF dan Rusia. Sehingga Michael Camdessus, Direktur IMF, tidak langsung meninggalkan Moscow saat serangan udara terhadap Serbia dimulai. Namun Michael Camdessus melakukan perundingan selama berjam-jam dalam seminggu dengan maksud untuk memberikan jaminan pinjaman baru kepada Rusia yang nilainya jutaan dollar, sehingga akan membuat Rusia mampu mempertimbangkan seberapa besar akumulasi bunga dari pinjamannya sebelumnya.
Intervensi militer NATO di Eropa adalah persoalan serius karena telah melangkahi dan meminggirkankan peran PBB serta Dewan Keamanan PBB. Amerika telah biasa menggunakan PBB jika memang PBB sejalan dengan keinginannya dan akan meminggirkannya jika PBB bertentangan dengan kehendaknya. Ketika seseorang mengikuti laporan berita di media massa sangat sulit baginya untuk membedakan antara intervensi NATO dan intervensi Amerika di Yugoslavia. Dengan demikian, kepemimpinan Amerika atas NATO berarti semua tindakan yang dipaksakan adalah demi memberikan pelayanan pada kepentingan Amerika.
Presiden Clinton telah mengambil alih pemindahan warga negara di Kosovo dan penderitaan yang dialami mereka merupakan alasan yang cukup kuat untuk menunjukkan ada intervensi Amerika. Clinton pada tanggal 24 Maret 1999 menyatakan bahwa: "Kami memindahkan warga negara untuk melindungi ribuan orang yang tak berdosa akibat semakin meningkatnya serangan militer. Kami melakukan pemindahan ini untuk menghindari meluasnya perang dan memindahkan mereka dari kantong-kantong bahan peledak dari pusat Eropa karena telah mengalami ledakan dua kali dalam abad ini". Jadi, Clinton sadar bahwa titik kelemahan Eropa berada di Balkan. Dia juga sadar bahwa gudang-gudang bahan peledak ada di pusat Eropa dan gudang-gudang itu dapat ditutup setiap saat. Dalam diskusi yang dilakukan Clinton selama pertemuan yang diadakan di Kantor Kementerian Luar Negeri pada tanggal 30 Maret 1999, Clinton memberikan isyarat atas kemerdekaan Kosovo. Saat itu Clinton menyerang pemimpin Serbia karena: "Menggunakan kebencian ras dan agama sebagai penentuan pemusnahan dan pembunuhan orang-orang yang tak berdosa dan warga negara yang hidup damai demi memperlancar jalan bagi pemimpin Serbia berkuasa". Clinton menambahkan bahwa kampanye yang dilakukan NATO akan menghancurkan pasukan pemimpin Serbia: "Dia akan menyaksikan masih tetap meningkatnya pengrusakan yang diinginkan Serbia untuk mengawasi Kosovo". Dan ketika James Rubin, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, ketika diminta komentar atas yang dikatakan Clinton, Rubin berkata: "Kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Serbia terhadap mayoritas Albania di Kosovo membuat kesulitan bagi kami untuk mempertimbangkan bahwa Serbia dan Albania akan dapat hidup bersama-sama di masa depan".
Sampai sekarang nampak jelas bahwa Amerika ingin memperpanjang rentang waktu aksi militer di Balkan. Dan seandainya Amerika berhasil, Amerika akan memperluas perang ke negara-negara tetangga seperti: Macedonia, Albania, dan bahkan Montenegro. Amerika tak ingin menggunakan pasukan darat untuk menyelesaikan kasus yang ada, akan tetapi lebih suka dengan serangan udara. Terhadap hal ini Menteri Pertahanan Amerika William Cohen pada tanggal 25 Maret 1999 berpendapat bahwa: "Pasukan darat di bawah kendali NATO tidak merupakan bagian dari operasi khusus ini". Hal ini berarti bahwa perang darat yang terjadi di wilayah ini akan berlangsung antara negara-negara Balkan dengan penduduk mereka, yang akan menimbulkan dimensi baru, dan akhirnya seluruh kawasan Balkan dalam jangkauan tangan Amerika setelah usaha keras dan sangat melelahkan dilakukan Amerika.
Setelah operasi pengeboman yang dilakukan Clinton dan sekali lagi Clinton mengumumkan bahwa: "Penghentian pengeboman yang dilakukan NATO adalah kondisional tergantung pada hasil yang dicapai dari salah satu atas dua hal berikut: Apakah Milosevic mau menerima perundingan damai atau melakukan pengurangan terhadap kekuatan militer Serbia". Dan tidak diharapkan salah satu dari dua syarat tersebut akan dilaksanakan, karena tidak mungkin bagi Milosevic untuk menerima perundingan damai hal ini berarti mengizinkan pasukan NATO berada di Kosovo yang akan mengakibatkan kemerdekaan propinsi itu. Dan mereka tak akan juga mengurangi kekuatan militer Serbia karena posisi mereka sangat penting, kalau seandainya dilakukan pengurangan itupun diperlukan waktu yang lama dan pengungsian penduduk ke negara tetangga akan terus berlangsung. Sebagai konsekuensinya, akan muncul persoalan-persoalan yang komplek di pusat Eropa dan sulit untuk diselesaikan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, adalah logis bagi Amerika dan negara-negara yang bergabung dengannya menolak perantaraan Primakov dan tawaran Serbia agar NATO menghentikan pengeboman yang mereka lakukan, dan kembali pada kesepakatan Milosevic untuk mengurangi pasukan Serbia di propinsi tersebut serta menggembalikan para pengungsi. Kondisi ini terjadi karena Amerika sebagai pemegang kendali untuk menyelesaikan perang di Balkan saatnya belum tiba, dengan klaim tawaran yang diberikan Serbia belum cukup menguntungkan dan Amerika enggan memberikan peran apapun kepada Rusia. Karena hal itu akan mengkhianati Amerika sebagai penguasa kawasan Balkan yang memiliki kepentingan terhadap Eropa.
Oleh karena itu, terhadap kawasan Eropa secara umum, Inggris dan Perancis khususnya, visi mereka terhadap persoalan Balkan berbeda dengan Amerika. Perancis telah menghabiskan waktu yang lama untuk membangun pasukan militer teras Eropa yang diasumsikan akan mampu mengatasi berbagai bentuk intervensi yang dilakukan terhadap kawasan Eropa dan mampu memecahkan persoalan yang dihadapi terlepas dari intervensi NATO karena NATO di bawah dominasi Amerika. Untuk itu, kami memandang suatu saat Perancis setuju dengan sikap Jerman untuk mendirikan pasukan militer teras Eropa dan pada saat yang lain Perancis juga melakukan negosiasi dengan Inggris untuk membentuk kerjasama bilateral pasukan militer kedua negara demi mencapai tujuan itu. Akan tetapi percobaan ini -tampaknya- tidak akan cerah dan Eropa akan terus dipaksa bergantung pada Amerika dan NATO dalam jangka waktu yang lama di bawah kepemimpinan Amerika murni. Sementara itu, Inggris mem
andang pengadopsian kebijaksanaan negaranya (dualisme) disesuaikan dengan kontradiksi persoalan yang ada sehingga akan didapatkan kebijaksanaan yang ideal yang melindungi kepentingannya. Sehingga ketika Inggris ikut menjadi sponsor perundingan damai di Paris, Inggris tampak terlepas dari dominasi Amerika, dan Inggris akan segera mendekati Amerika ketika perundingan itu gagal dilaksanakan. Inggris ikut berpartisipasi bersama Amerika melakukan pengeboman terhadap Serbia yang memang telah direncanakan oleh Amerika.Nasib Kaum Muslimin di Kosovo
Kaum muslimin, sebagaimana di negeri-negeri yang lain pada saat mereka lemah, mengalami penindasan. Dan Kosovo nampaknya adalah wilayah yang disediakan oleh bangsa Eropa untuk menjadi tempat kedua penjagalan terhadap kaum muslimin di Eropa. Kenapa demikian?
Dikabarkan bahwa pada tanggal 2 Mei 1993, tatkala terjadi krisis Bosnia, PM Inggris John Major menyerahkan dokumen rahasia yang ditandatanganinya kepada Menlu Douglas Hugh yang antara lain berisi:
Khatimah
Dengan demikian jelaslah bahwa berbagai tindakan kebiadaban itu bukanlah monopoli dan rencana tunggal bangsa Serbia, tetapi sudah menjadi rencana bangsa Eropa. Dan rencana Eropa itu tidak lain adalah upaya untuk menutup-nutupi kebenaran Islam. Rencana menutupi kebenaran itu pulalah yang dilakukan AS dalam berbagai peranannya bersama sekutu-sekutunya memerangi kaum muslimin.
Marilah kita renungkan firman Allah:
{32} ÆËj¯B¸»A Êj· Ì»Ë ÊiÌà ÁNÍ ÆC ÜG ɼ»A ÓIDÍË ÁÈÇA̯DI ɼ»A iÌà AÌ×°ñÍ ÆC ÆËfÍjÍ
"Mereka hendak memadamkan cahaya agama Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai" (QS. At Taubah 32).
![]()