Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

Surat Utang Negara

 

HOME

SEPUTAR SUN
Latar Belakang
Karakteristik
Pasar Perdana
Pasar Sekunder
Penatausahaan
Program Pemerintah

D A T A
Posisi
Seri-Seri
Perdagangan

Kupon & Jatuh Tempo

PUBLIKASI
Berita
Laporan

Peraturan

PENGUMUMAN
Transaksi Harian
Tingkat Kupon VR
Lelang SUN

LAIN-LAIN
Pendidikan 
F.A.Q.
Daftar Alamat
Hubungi Kami

LINK
Bank Indonesia
PMON - Depkeu
Bursa Efek Surabaya

L A T A R   B E L A K A N G

Penerbitan Surat Utang Negara[8] untuk Bank Peserta Rekapitalisasi


Pada saat pemberian BLBI, Bank Indonesia menerima jaminan berupa aset-aset bank. Pemerintah kemudian mendirikan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan tugas antara lain: (1) mengelola aset jaminan saat pemberian BLBI; (2) mengelola aset Non Performing Loan (NPL) bank yang diserahkan dalam rangka program rekapitalisasi; (3) menghitung kewajiban pemilik bank atas BLBI yang mereka terima dan harus dibayar kembali; dan (4) menghitung suntikan modal dari Pemerintah yang diperlukan bank agar kembali sehat.

 

Atas dasar perhitungan tersebut Pemerintah melakukan program rekapitalisasi perbankan dengan cara pengambilalihan modal bank sebesar maksimal 80% untuk mencapai CAR 4%. Namun karena kondisi keuangan Pemerintah yang terbatas, pengambilalihan tersebut tidak disertai dengan penyetoran dana melainkan dengan penerbitan dan penempatan Surat Utang Negara pada bank peserta rekapitalisasi tersebut (private placement) dengan nilai total sebesar Rp430,4 triliun.

 

Penentuan bank-bank yang mengikuti program rekapitalisasi didasarkan penilaian atas keadaan keuangan, kualitas manajemen, dan prospek di masa mendatang. Berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia mengenai Rekapitalisasi Bank Umum tanggal 8 Februari 1999 ditetapkan kriteria Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) yang dapat diikutsertakan dalam program rekapitalisasi, diantaranya:

  • Bank tersebut tergolong kategori B;

  • Pemegang saham bank, wajib menyetor tunai sekurang-kurangnya 20% dari kebutuhan modal     untuk mencapai CAR 4%;

  • Business Plan yang diajukan dinilai layak;

  • Pemegang Saham Pengendali, dewan komisaris dan direksi bank yang bersangkutan lolos dari penilaian kelayakan ( Fit and Proper test);

  • Mengalihkan kredit yang tergolong macet kepada BPPN;

  • Menyampaikan rencana yang jelas dan realistis untuk menyelesaikan kredit kepada pihak terkait dan kredit yang masih melampaui ketentuan BMPK.

Dari hasil penilaian atas kondisi bank-bank tersebut, telah terpilih bank-bank yang mengikuti program rekapitalisasi sebagai berikut:

  • 4 bank Persero yaitu Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Tabungan Negara;

  • 13 BUSN yaitu Bank Internasional Indonesia, Bank Lippo, Bank Universal, Bank Bukopin, Bank Prima Express, Bank Arta Media, Bank Patriot, Bank Niaga, Bank Central Asia[9], Bank Bali[10], Bank Danamon[11], Bank Tiara Asia dan Bank PDFCI; dan

  • 12 BPD yaitu BPD DKI Jakarta, Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Berdasarkan tujuan penerbitan, tingkat bunga dan jangka waktu, jenis-jenis Surat Utang Negara dalam rangka rekapitalisasi perbankan terdiri dari:

 

Fixed Rate Bonds (FR)

Surat Utang Negara seri FR diterbitkan untuk meningkatkan Capital Adequacy Ratio (CAR) menjadi 4% (lihat lampiran 3).  Seri FR yang telah diterbitkan sampai dengan saat ini terdiri dari 20 seri yaitu FR0001 sampai dengan FR0020, berjangka waktu 5 - 11 tahun. Pada awalnya hanya diterbitkan 5 seri FR yaitu FR0001 - FR0005 yang berjangka waktu 5 - 10 tahun. Kemudian dalam rangka pertukaran dengan seri FR0001 dan FR0003 dengan tingkat kupon masing-masing 12,00% p.a., diterbitkan stapled bond seri FR0006 - FR0009 dengan tingkat kupon 10,00% dan 16,50% p.a. Selanjutnya dalam rangka reprofiling, Pemerintah menerbitkan seri FR0010 FR0020 yang berjangka waktu 8 11 tahun untuk menggantikan seri-seri dengan sisa jangka waktu 2 7 tahun. Tingkat bunga seri FR bervariasi dari 10,00% - 16,50% p.a, dengan pembayaran kupon dilakukan setiap 6 bulanan.

 

Variable Rate Bonds (VR)

Surat Utang Negara seri VR diterbitkan untuk mengembalikan CAR perbankan yang negatif menjadi 0%.  Seri VR yang telah diterbitkan sampai saat ini terdiri dari 31 seri yaitu VR0001 VR0031, berjangka waktu 3 - 18 tahun. Pada awalnya hanya diterbitkan 16 seri VR yaitu VR0001 - VR0016 yang berjangka waktu 3 - 10 tahun. Seri  VR0017 dan VR0018 diterbitkan dalam rangka konversi atas pelunasan Hedge Bond. Selanjutnya dalam rangka reprofiling, Pemerintah menerbitkan seri VR0019 VR0031 yang berjangka waktu 12 18 tahun untuk menggantikan seri-seri dengan sisa jangka waktu 1 7 tahun. Pembayaran kupon dilakukan setiap triwulan. Tingkat kupon didasarkan pada rata-rata tertimbang diskonto SBI 3 bulan di pasar primer, yang saat ini (Desember 2002) berkisar 13,11743% - 13,12242% p.a.

 

Hedge Bonds (HB)

Surat Utang Negara seri HB bertujuan meminimalkan risiko kewajiban bank dalam valuta asing. Setiap triwulan atau pada saat jatuh tempo pembayaran kupon, dilakukan indeksasi terhadap nilai nominal Obligasi Negara seri HB atas dasar perkembangan kurs Rupiah terhadap USD. Apabila nilai tukar rupiah terhadap USD melemah, nilai nominal HB setelah indeksasi akan meningkat, vice versa. Obligasi Negara seri HB diterbitkan dengan jangka waktu antara 3 bulan sampai dengan 2 tahun. Tingkat kupon mengambang disesuaikan dengan perubahan bunga pasar SIBOR 3 bulan ditambah 2%. Tingkat kupon saat ini berkisar 3,42% - 3,85% p.a, dan tidak seperti obligasi seri-seri FR dan VR, obligasi seri HB tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder[12].

 

Berikutnya ...

Pendahuluan

Penerbitan Surat Utang Negara untuk Bank Indonesia

Penerbitan Surat Utang Negara untuk Bank Peserta Rekapitalisasi

Undang-undang No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara

Peranan Pemerintah, DPR-RI, Bank Indonesia, dan Bapepam

 


[8] Sebelumnya dikenal dengan istilah Obligasi Pemerintah.

[9] Pada 5 April 2002 Pemerintah telah mendivestasi sebagian besar kepemilikannya di BCA.

[10] Bank Bali, Bank Universal, Bank Prima Express, Bank Arta Media, dan Bank Patriot telah merger menjadi Bank Permata pada bulan September 2002.

[11] Bank Tiara Asia dan Bank PDFCI telah diakuisisi oleh Bank Danamon pada 20 Desember 1999.

[12] Perincian realisasi penerbitan SUN dalam rangka rekapitalisasi perbankan dapat dilihat pada Lampiran 3, sementara posisi per 31 Desember 2002 dapat dilihat pada Lampiran 4.