Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

Surat Utang Negara

 

HOME

SEPUTAR SUN
Latar Belakang
Karakteristik
Pasar Perdana
Pasar Sekunder
Restrukturisasi
Penatausahaan

D A T A
Posisi
Seri-Seri
Perdagangan

Kupon & Jatuh Tempo

PUBLIKASI
Berita
Laporan

Peraturan

PENGUMUMAN
Transaksi Harian
Tingkat Kupon VR
Lelang SUN

LAIN-LAIN
Pendidikan 
F.A.Q.
Daftar Alamat
Hubungi Kami

LINK
Bank Indonesia
PMON - Depkeu
Bursa Efek Surabaya

L A T A R   B E L A K A N G

Pendahuluan


Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 memberikan tekanan yang berat dan beruntun terhadap perbankan nasional. Penurunan nilai tukar Rupiah secara drastis menyebabkan bank mengalami kesulitan dalam membayar bunga dan pokok pinjaman luar negerinya, yang sebelum krisis dapat diperoleh dengan mudah. Sementara itu, langkah Pemerintah untuk mengatasi depresiasi Rupiah, yaitu dengan menaikkan suku bunga dan mengetatkan likuiditas, menyebabkan kelesuan dunia usaha yang sangat parah, yang ditandai dengan tingkat pengembalian kredit yang menurun drastis. Sebagai akibatnya terjadi peningkatan jumlah non-performing loan (NPL) yang memperburuk kualitas asset bank. Sejumlah bank bahkan terpaksa dilikuidasi oleh Pemerintah oleh karena kondisinya yang sudah tidak tertolong lagi. Penutupan bank tersebut menyebabkan penurunan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional.

 

Menghadapi masalah tersebut, Pemerintah dihadapkan pada pilihan apakah akan membiarkan sistem perbankan kolaps akibat terjadinya contagion effect atau menyelamatkannya. Pilihan yang diambil oleh Pemerintah akhirnya ialah mengambil serangkaian tindakan untuk menyelamatkan sistem perbankan, yang diantaranya adalah: (1) memberikan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) untuk mengatasi kesulitan likuiditas perbankan; (2) memberikan penjaminan atas kewajiban pembayaran bank umum untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan; dan (3) memperbaiki kualitas asset dan permodalan perbankan dengan melakukan program rekapitalisasi.

 

Oleh karena situasi keuangan negara yang tidak menguntungkan saat itu, Pemerintah menerbitkan sejumlah Surat Utang Negara (SUN) [1] untuk membiayai upaya penyelamatan sistem perbankan. Jika dilihat dari penerimanya, Surat Utang Negara yang berjumlah total Rp658,72 triliun tersebut dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu: (1) diterbitkan untuk Bank Indonesia dan (2) diterbitkan untuk bank peserta rekapitalisasi[2]

Realisasi Penerbitan Awal Surat Utang Negara

PROGRAM SERI JTH WKT KUPON NOMINAL
BLBI

SU 001-003

2018 - 2019

*

164,54 t

Penjaminan SU 004 2019 * 53,78 t
Kredit Program SU 005 2009 SBI 3 bln 9,97 t
Rekap Bank FR 0001-09 2004 - 09 10-16,5% 167,22t
  VR 0001-16 2002 - 09

SBI 3 bln

226,40 t
 

HB 0001 - 32

2000 - 02

SIBOR + 2%

36,81 t

* 3% pada pokok yang diindeks dengan perubahan IHK

 

Berikutnya...


[1] Saat itu dikenal dengan Surat Utang Pemerintah dan Obligasi Pemerintah

[2] Kronologis penerbitan SUN dapat dilihat pada Data/Posisi/Kronologi Penerbiitan Obligasi Rekap.