UNTAIAN PUISI SAUDARA MOYANK

 

Sajak Orang Tuhan

Sajak Orang Tuhan mengisi cermin hati, menuliskan kata-kata dengan bermacam warna diri

Sajak Orang Tuhan membanjiri bumi, membuat lubang didaratan dan menjadikan samudera; luas membentang

Sajak Orang Tuhan mengalir deras, mengikis karang-karang yang tinggi; hingga rata sama kaki Sajak Orang Tuhan berlari menelusuri malam, menyibak seribu ketakutan dan kedukaan

Sajak Orang Tuhan bergelombang, gelombangnya menghanyutkan rasa

Sajak Orang Tuhan meniti hari, diantara kekejaman cinta dunia dan lupa mati

Hi, lihat disana!

Orang Tuhan membawa sekeranjang bunga,

bunga yang memenuhi taman sorga,

dan terselip pelangi yang bukan fatamorgana

Hi, lihat disana!

Orang Tuhan berjalan diantara sepinya rasa cinta, menerobos keakuan diri diantara sesama,

membakar-hanguskan raga hingga tinggal kerangka

 

Sajak Orang Tuhan membuat tangis, tangisan malam yang rindu pada pagi hari

Sajak Orang Tuhan memanggil rindu, dari hari ke hari hingga datang matinya diri

Sajak Orang Tuhan tersenyum, membuka lebar sketsa hidup abadi

Sajak Orang Tuhan berhenti, berhenti bila sudah tiba masa kembali

[ Moyank ] Tanjung Santan, Juni 99

 

Puisi Do'a ( II )

Ya Huwa,

kau antara ada dan tiada;

dalam ruang tiada batas,

dalam masa tiada hingga,

dalam hati tiada tempat

Ya Awwal,

mencintaimu lebih baik;

daripada mencintai seribu rembulan

yang bersinar dengan purnama satu

dan memeluk matahari yang sinarnya

dapat membakar sekujur tubuhku

kau bikin aku dari tanah suci dengan tangan halusmu

sehingga aku jadi; sejadi jadinya, manusia yang berhati

Ya Akhir,

dalam peradilanmu;

ada wajah-wajah berseri

masuk dalam pelukanmu

dan hilang dalam cinta kasihmu dalam peradilanmu;

ada wajah-wajah menangis tiada rindu, cinta, kasih,

tapi sebuah penyesalan berkekalan

Ya Dhohir,

dalam dadaku;

tergambar arti sebuah dunia beserta isinya;

hilir mudik tak tentu arah mengikuti sakwa sangka,

membebani jiwa,

mengukir dendam, ragu dan tawa murka.

Ya Bathin,

peraduan yang kau berikan sungguh tiada terkira indahnya,

tertata rapi berlapis emas permata bagi seorang faqir yang hina dina

dalam ada dan tiada

Ya huwa al-awwal wal-akhir wadh-dhohir wal-bathin. Lailaha illa anta subhanaka inni kuntu minadholimien.

[ Moyank ] Tanjung Santan, Juni 99

 

Puisi Do'a ( I )

Ya Ilahi,

dalam kesunyian yang kau berikan

dikeremangan malam

sujud kupersembahkan kehadiratmu

dan menghatur salam perjumpaan

warna cerita dalam kehidupanku

merupakan sebuah perjuangan

hingga akhir masa hidup untuk sebuah pencarian diri

Ya Habibie,

sebuah pertemuan adalah tujuanku

kerinduan seorang insan

pada kekasih yang tinggi

tiada berkesudahan

 

jika maut sebagai pengganti pertemuan

aku relakan diriku dicabut

dengan seribu pedang

atau cabutan dahsyat sang kekasih

Ya Rahman,

nafasku bersambung-sambungan

beriring-iringan naik turun

diantara nama dzat kekuasaan

dan dzat kasih sayang

harapan cinta dan rindu

takkan pernah pupus

walau zaman ingin merenggutku

dengan cakaran-cakaran tajamnya

Ya Ilahi, Ya Habibie, Ya Rahman

dalam diamku dalam sepiku dalam malamku selalu ada rindu padamu.

 

[ Moyank ] Tanjung Santan, Juni 99

 

 

Puisi Do'a ( III )

Wahai Dzat yang Kudus,

jadikanlah sebuah pohon

dimana terdapat dahan-dahan cinta

yang tertanam kokoh dengan akar keimanan

dan daun-daun kemesraan

Wahai Dzat yang Agung

aku tak ingin terlelap dalam malam

yang membuatku mati rasa

hingga melupakan jagaku tuk mencari keabadianmu

Wahai Dzat Wajibal-Wujud,

keindahanmu mempesonakan diriku

membuatku ingin lari dan meraih

tangan-tangan kebesaranmu

mendekap erat tubuhmu

sampai jadi batu bisu

Wahai Dzat yang menjadikan Nur,

jadikanlah perahu yang memuat cintaku

karam dalam samudera kecintaanmu

membeku didasar lautan emas Nur dan

sehingga aku melupakan semua

kenikmatan yang hanya sekejapan dan kembali bersamamu

berkasih-kasihan dengan Mahabbahmu

 

[ Moyank ] Tanjung Santan, Juli 99

 

Malam yang bersembunyi

Malam yang bersembunyi;

dalam kuncup bunga kembar

ingin merekam sebuah kesadaran

diruang maya yang kelam

Malam yang bersembunyi;

merogoh kantong yang kekeringan

mencari sumbangan waktu

bagi diri yang terkena kutukan

Malam yang bersembunyi;

mencari arti sisi misteri

disemak belukar dan ilalang panjang

terus mencoba masuki pekarangan

Malam yang bersembunyi;

terkunci dalam gubuk tua

ditengah ladang basah yang retak tanahnya

karena kemarau tiada mau perduli

 

[ Moyank ] Tanjung Santan, Juni 99

 

Hai Alam Madura

Pasir putih

berukir riak menjilati bibir

bibir pantai Madura

Seorang anak kecil menjunjung pelepah

diantara lambaian nyiur

dan berjalan diantara gunung

kristal garam yang baru jadi

Hai alam Madura,

aku ingin bersatu

kembali bersamamu

bersama keindahan pantaimu

bersama kebebasan lautmu

bersama panggilan nyiurmu

Hai alam Madura,

tanah yang dulu kupijak

masih berbekas tanda tapak kakiku

diantara retak retak tanah kering

saat kemarau menyertaimu

Hai alam Madura, lautmu menjadi saksiku

untuk menceritakan gelora yang datang menjamah

dalam ruang ruang dadaku

[ Moyank ] Tanjung Santan, Mei 99

 

 

 

Ya Ilah Ya Allah

Ya Ilah Ya Allah..

Mengalir di nadi dan seluruh urat syaraf.

Menguak tabir menyusun cinta.

Sembunyi diantara sesuatu.

Dan tetap menjadi rahasia.

Ya Ilah Ya Allah.

Perjalanan bathin;

menerobos senja dan memanggil rasa

Memanggil dengan harapan rindu damba.

Dan penuh cinta sahaja.

Ya Ilah Ya Allah

Aku berlari, mengejar;

ingin memeluk diriMu.

ingin mendekap tubuhMu.

ingin berserah pasrah padaMu

Ya Ilah Ya Allah.

Aku mati rasa. Aku mati kata

Aku bisu, diam;

tak bersuara.

La ilaha illa Anta..Wa la ana illa Anta.

[ Moyank ] Tanjung Santan, April 99

 

 

Darahku menari-nari

Darahku menari-nari.

Ketika mendengar Ilah bernyanyi

Bernyanyi untuk dirinya sendiri.

Memuja segala apa yang ada dalam diri.

 

Darahku menari-nari.

Ketika mendengar Ilah berpuisi.

Berpuisi dengan nada tinggi.

Berpuisi dengan cinta alami.

Berpuisi dengan rangkaian kata murni.

 

Darahku menari-nari.

Mengalir kencang

Tiada batas henti.

Nafas berhembus.

Hati mengucap :

"Silahkan bernyanyi Tuan, aku akan selalu mendengarkan."

"Silahkan berpuisi Tuan, aku akan selalu menyimak."

"Silahkan berbuat Tuan, aku akan selalu siap."

 

Tanjung Santan, April 99

 

Antara Dua Busur

 

Aku mencarimu; Disana, Disini,

Dimana saja

 

Aku ingin duduk bersama;

Mengharap,

Ingin,

Rindu,

Cinta,

 

Aku bercerita;

Tentang diri,

Jiwa yang haus,

Nafas yang lepas,

Hati yang tegas,

 

Aku menangis;

Berhadapan, Bertatapan mata,

Berdua, Diantara dua busur,

 

Pernah dilakukan, Sampai saat ini,

Pun masih dilakukan

 

Duduk berdua denganmu,

Diantara dua busur

 

Tanjung Santan, April 99

 

Majnun dan Laila

Kala majnun merindu

cinta sang laila berpadu

tiada ingin terpisah walau sedekapan

ataupun sejengkalan

 

Kala sang laila menerima

ada perasaan damba menyumbang

seribu bunga bagi taman yang kosong hampa

mekar ditaman nirwana harum bak bunga

surga berjalan diantara kekekalan

menebar cinta semalam

 

Tanjung Santan, Mei 99

BIODATA MOYANK

KEMBALI LE LAMAN UTAMA