|
Waktu
lima tahun sudah berlalu dan tentara ini kemudian kembali
berkunjung ke kota Chicago, dan ia ingat akan kartu nama yang
diberikan oleh Bapak pemilik limousine ini kepadanya. Tentara
ini ingin tahu kabar mengenai Bapak tersebut, dan ia datang ke
alamat yang tertera di kartu nama tersebut, dan ia sampai ke
sebuah gedung pencakar langit kantor pusat sebuah perusahaan
raksasa di Amerika Serikat.
Ia
memberikan kartu tersebut kepada satpam, dan satpam itu sangat
terkejut dan bertanya, "Dari mana kamu dapatkan kartu ini?"
Tentara itu menjawab, "Yang empunya kartu itu sendiri
yang memberikannya kepada saya."
Sehingga
satpam itu menjawab, "Kamu naik ke lantai paling atas,
sampai sana belok kiri dan kamu tanya pada sekretaris yang ada
di sana." Tentara itu naik ke lantai paling atas dan
memberikan kartu nama itu kepada sekretaris yang ada di sana
yang juga sangat terkejut, "Dari mana anda dapatkan kartu
ini?" Jawab tentara itu, "Wah... panjang ceritanya,.
tapi beliau sendiri yangmemberikannya kepada saya."
"Bapak
ini sekarang tidak ada di sini... apakah anda ingin bertemu dengan
istrinya?" "Boleh", jawab tentara itu, dan ia
dipertemukan dengan istri Bapak itu yang adalah Presiden
Direktur dari perusahaan raksasa tersebut. "Dari mana
kamu peroleh kartu ini?" tanya ibu (istri) tersebut.
Tentara
itu menceriterakan ihwal pertemuannya dengan Bapak itu dan
bagaimana Bapak itu menerima Yesus sebagai Juruselamatnya.
Mendengar itu semua meledaklah tangis Ibu tersebut. Ia
menceriterakan bahwa tak lama sesudah menurunkan tentara itu,
limousine tersebut memperoleh kecelakaan yang sangat fatal
yang menewaskan Bapak tersebut. Ibu itu mengatakan bahwa
bertahun-tahun ia berdoa supaya suaminya diselamatkan, dan ia
mengira bahwa suaminya meninggal tanpa diselamatkan, sehingga
ia begitu marah kepada Tuhan dan meninggalkan gereja dan
pelayanannya.
Apa
yang dilakukan oleh tentara itu adalah hal yang paling penting
yang pernah terjadi dalam hidup Bapak itu, tetapi hal yang
tidak kalah penting lagi ialah CARA Allah mengabulkan doa ibu
itu. Ibu itu sadar bahwa Allah BEKERJA di dalam doa-doa yang
disampaikannya TANPA memberitahu Ibu tersebut bahwa doanya
TELAH DIKABULKAN TUHAN.
Dari
kisah ini kita bisa belajar: HARUSKAH Tuhan itu memberitahu
kita apabila Ia bekerja dalam rangka mengabulkan doa-doa kita?
TIDAKKAH mata iman kita itu bisa melihat bahwa di balik doa
yang SEPERTINYA tidak dikabulkan oleh Tuhan itu,
TERNYATA
Tuhan bekerja untuk mengabulkan doa-kita kita, Sedemikian cepatnyakah kita MENUDUH bahwa Tuhan itu tidak
setia, Tuhan itu berbohong, Tuhan itu tidak menjawab doa-doa
kita, dan Tuhan itu tidak berkenan atas doa-doa kita? HARUSKAH
Allah itu mengabulkan doa kita dengan cara yang SESUAI dengan
cara yang kita sodorkan kepada Tuhan?
Apakah
kita sudah sedemikian "dijangkiti" oleh "doa
instan" yang "harus dikabulkan hari ini juga",
"harus dikabulkan tahun ini juga" dan lain
sebagainya?
Kiranya
kisah ini bisa kita jadikan pelajaran mengenai BAGAIMANA cara
Allah mengabulkan doa kita yang TIDAK HARUS sesuai dengan cara
yang kita sodorkan kepada Allah.
Catatan:
Memang
Tuhan tidak perlu memberitahukan kepada kita bahwa Dia telah
menjawab doa kita, karena Dia Allah, Tuan atas segala Tuan
sedangkan kita cuma debu yang tidak berarti.
Tetapi
Tuhan mengasihi kita sehingga Ia, menurut hikmatNya, akan
memberitahukan jawaban doa kita itu.
Setialah kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, sebab Ia
mengasihi anda. TUHAN
MEMBERKATI.
[^]Home
Base<:> |