Seorang teman mengirim sepucuk surat. Ia menceritakan tentang bagaimana
anak lelaki dan menantu perempuannya beradaptasi sebagai utusan-utusan Injil
muda di sebuah negara yang menolak ajaran Kristus dalam jangka waktu yang
lama. "Setelah melewati masa-masa yang berat, " tulisnya, "mereka
mulai terbiasa hidup tanpa peralatan modern dan semakin mengasihi penduduk di
sana."
Pada foto yang dikirim, terpampang anak laki-laki pasangan tersebut,
Wesley, yang berumur dua tahun sedang bersama seorang pelayan restoran.
Keduanya sedang tersenyum lebar penuh persahabatan. Teman saya berkomentar,
"Selalu tersenyum. Wesley selalu bersahabat di mana pun ia berada."
Hal itu membuat saya berpikir. Bersahabat dan mengasihi orang lain adalah
kunci untuk memberitakan Injil di mana pun kita berada. Hal itu pulalah yang
dilakukan Yesus.
Beberapa pemimpin agama terkejut ketika Yesus bergaul secara terbuka dengan
orang-orang yang mereka anggap jahat. Mereka berkata kepada murid-murid-Nya,
"Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"
(Markus 2:16). Namun sesungguhnya Yesus memang dikenal sebagai sahabat orang
berdosa. Dia berkata, "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,
melainkan orang berdosa" (ayat17).
Hati yang mengasihi dan senyum yang bersahabat dapat memberitakan kasih
Kristus kepada setiap orang yang kita jumpai setiap hari. Semoga mereka
mengatakan hal yang sama tentang kita seperti ketika mereka berkomentar
tentang si kecil Wesley, "Selalu tersenyum, ia selalu bersahabat di mana
pun ia berada" --DCM