Dalam buku hariannya kita menemukan sebuah doa yang luar biasa, doa yang saya percaya menggambarkan kehidupan pria ini, sebuah doa rangkap tiga. Sebuah doa yang pada waktu mendoakannya, hampir menyebabkan kata-kata itu melekat di tenggorokanmu:
"Tuhan, utus aku kemana saja, hanya sertailah aku. Letakkan beban apa saja atasku, hanya topanglah aku. Putuskan ikatan apa saja dari padaku, kecuali ikatan yang mengikatku kepada pelayanan-Mu dan kepada hati-Mu." Melalui semua itu datanglah kata-kata, "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa."
"Utus aku ke mana saja," doa anak muda ini, yang lahir pada tahun 1813 di Blantyre, Scotland, dari orangtua yang takut akan Allah. Ayahnya adalah seorang guru Sekolah Minggu Presbitarian yang saleh, yang seringkali mendudukkan anak laki-laki kecilnya di hadapannya dan mengisahkan cerita-cerita yang mempesona tentang pahlawan-pahlawan iman yang besar dan tentang orang-orang yang telah membawa injil ke ujung-ujung dunia yang jauh.
Secara khusus dia terpikat dengan cerita mengenai Charles Gutzlaff, dokter misionaris yang terkenal. livingstone menetapkan hati bahwa dia akan menjadi seperti Gutzlaff. Namun beberapa tahun kemudian, Livingstone menemukan bahwa Gutzlaff sendiri mempunyai seorang pahlawan, yang bukan sekedar manusia belaka, melainkan Anak Allah, seorang pahlawan yang bukan sekedar pahlawan belaka, melainkan Juru Selamat Ilahi. Maka, setelah memahami Injil, dia meletakkan iman dan kepercayaannya kepada Kristus yang mati di Kalvari, dan kehidupan Livingstone diubahkan.
Livingstone masuk ke sekolah kedokteran untuk mempersiapkan diri menjadi seorang dokter misionaris. Dia diwisuda, ditahbiskan, dan siap untuk berlayar, tetapi tiba-tiba pintu terkunci di hadapannya. Perang pecah dan ladang Tuhan tertutup. "Tuhan, Engkau berjanji untuk menyertai dan membimbingku. Mengapa Engkau meninggalkan aku?" Sebuah suara menjawab, "David, Aku tidak meninggalkanmu.Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa. Tetapi Aku tidak mengutusmu ke Cina." (yaitu tujuan Livingstone semula).
Salah satu dari sedikit utusan Injil yang telah pergi ke kawasan pantai Afrika adalah Robert Moffat, yang datang ke kota kediaman David pada masa cutinya dan berkhotbah. Dia mengatakan, "Seringkali, ketika aku memandang ke dataran yang sangat luas di Utara, di bawah sinar matahari pagi aku melihat asap dari seribu desa, yang tidak pernah didatangi satu pun utusan Injil."
Kata-kata itu melekat di hati Livingstone. AFRIKA ! "Utus aku ke mana saja."
"Aku menyertai kamu senantiasa." Maka berlayarlah Livingstone ke Afrika. Dia terjun ke hutan dari arah selatan dan menemukan bahwa tempat itu tidak dapat ditembus. Dia kembali ke pantai dan berlayar ke pusat pantai barat Afrika dan memutuskan untuk menembus ke pedalaman dari sana.
Setelah penderitaan yang tidak terhitung jumlahnya akhirnya dia membuka jalan menuju ke pedalaman."Letakkan beban apa saja atasku," dan doa itu dijawab.
Seekor singa besar hampir saja mengoyak lengannya lepas dari tubuhnya dan membuat dia lumpuh untuk selamanya. Tetapi hal itu membawa berkat terselubung, karena pada waktu dia dalam proses penyembuhan, Robert Moffat datang dan membawa anak perempuannya yang cantik, Mary.
Bagi David dan Mary, itu adalah cinta pada pandangan pertama. Segera mereka menikah dan Mary berbagi semangat dan keprihatinannya untuk penginjilan di Benua Gelap Afrika. Sayangnya, bulan-bulan penuh penderitaan dan kerja keras itu terlalu berat buat Mary. Mereka melihat salah seorang anak mereka mati ketika mereka mencoba melintasi salah satu padang pasir Afrika yang luas. Sebuah beban yang hampir meremukkan Livingstone. Akhirnya, tibalah keputusan yang paling sulit dalam hidupnya:
mengirimkan istri dan ketiga anaknya yang lain ke Inggris. Betapa beratnya beban yang harus ditanggungnya. Mungkin yang paling menyakitkan dari semua itu adalah kritik yang mengatakan bahwa dia telah meninggalkan istri dan anak- anaknya untuk berkelana di Afrika karena tidak benar-benar mencintai mereka. Betapa cepatnya orang-orang memberikan penilaian yang salah.