Seorang bapak setengah baya bekerja pada sebuah perusahaan
kereta api, dan tugas bapak ini mudah saja.
Beliau hanya bertugas menarik sebuah tuas yang mengerakkan roda
roda raksasa yang saling berhubungan untuk mengangkat jembatan
yang merintangi jalan kereta api, sehingga kereta api tersebut
dapat lewat dengan selamat.
(artinya: jika jembatan tersebut tidak diangkat, maka kereta api itu
akan mengalami kecelakaan yang sangat hebat).      
Bapak ini mempunyai seorang anak satu satunya yang sangat
dikasihi dengan segenap jiwanya.
      Demi melihat kaki anaknya terjepit diantara roda roda raksasa tersebut, sang bapak dengan serta merta berusaha menolong melepaskan kaki anak tersayangnya itu dari jepitan gerigi roda2 tersebut namun setelah berusaha sekian lama, sang bapak ini masih belum bisa melepaskan kaki anaknya tersebut hingga sang anak mulai menangis karena ketakutan.
      Tiba tiba dari kejauhan terdengarlah secara samar samar suara peluit kereta api memberi tanda agar jembatan itu harus segera diangkat. Hati bapak ini menjadi sangat sedih dan ketakutan, namun dalam kecemasannya itu dia masih tetap berusaha melepaskan kaki anaknya, tapi tetap tidak ada hasilnya.
     
Tidak lama kemudian suara peluit kereta api tersebut terdengar lagi
semakin jelas dan semakin dekat. Hati bapak ini seketika menjadi hancur.
Dia mulai menangis dengan sedihnya. Didalam hati bapak ini muncul
suatu keraguan;
haruskah dia mengorbankan anak satu satunya demi menyelamatkan
kereta api itu - yang penumpangnya tak ada satupun yang dia kenal?
Namun jika dia memilih untuk menyelamatkan anaknya, maka berapa jiwa
yang akan melayang dengan sia sia hanya gara gara satu orang saja....????
     
Saudaraku yang terkasih...jika kita renungkan kembali kisah diatas...
bukankah cerita diatas telah terjadi 2000 tahun yang lalu...
dimana Yesus telah disalib hanya untuk menebus dosa kita...?
siapakah kita ini sehingga kita memperoleh keselamatan itu...?
tetapi kasih Yesus begitu besar...sehingga Dia rela
mati diatas kayu salib hanya untuk menebus dosa kita...
(injil Yohanes 3:16)
saya mau katakan pada saudara...bahwa hanya Yesus sajalah yang
rela mengorbankan nyawanya bagi kita. Tak ada kasih yang demikian
besar seperti yang dilakukan Yesus demi menyelamatkan kita.
kematian Yesus itu tidak dapat dinilai dengan apapun yang ada
didunia ini...terlalu mahal dan sangat mahal untuk sebuah jiwa seperti
saya dan saudara...tapi, saya juga mau katakan sesuatu pada saudara...
kematian Yesus 2000 tahun yang lalu bukan hanya untuk menebus dosa
orang yang hidup pada jaman itu saja...tetapi darah-Nya yang tercurah
2000 tahun yang lalu masih mampu dan Dia sanggup menyelamatkan kita.
Percayalah kepada Yesus...sebab hanya melalui Dialah kita dapat diselamatkan. dan bagi kita yang sudah percaya pada Yesus... janganlah kita menjual kematian Yesus dengan hal hal yang bersifat duniawi... terlalu mahal harga sebuah nyawa itu, sobat...
Teman temanku yang terkasih didalam Yesus Kristus... kami tidak mau
teman teman hanya membaca kisah di atas ini lalu di delete tanpa di
forward kepada teman teman kalian yang lain...
sediakanlah waktu bagi Tuhan untuk bersaksi tentang pengorbananNya
ini kepada teman temanmu yang belum mengenal Yesus secara pribadi.
jika Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini selalu menyediakan
waktu-Nya untuk mengawasi teman teman sekalian, kenapa teman teman
tidak membalas kebaikan-Nya dengan mengirimkan email ini kepada
orang orang yang masih menanti uluran tangan kita?
sekaranglah waktunya...jangan ditunda lagi...sebab hari esok
kan terlambat...! selamat bersaksi dan menerima keselamatan yang
dari Allah...haleluya...      
     
Kasih dan damai dalam kasih Kristus,
     
JESUS LOVE YOU.
Sent by: Phang I Yen (icaruso@centrin.net.id)
Sambil terus menggambarkan situasi keluarganya, si ibu terus
menceritakan tentang keluarganya.      
" Tolonglah, Pak, Saya janji akan segera membayar setelah aku punya uang."
John Longhouse tetap tidak mengabulkan permohonan tersebut.
     
Di dekat counter pembayaran, ada seorang pelanggan lain, yang dari awal
mendengarkan percakapan tadi. Dia mendekati keduanya dan berkata:
     
" Saya akan bayar semua yang diperlukan Ibu ini "
     
" Tidak perlu pak. Saya sendiri akan memberikannya dengan gratis"
Mata Si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat
ke bawah. Ia menatap Pelanggan yang tadi menawarkan si ibu tadi sambil
berucap kecil,      
Si pelangganbaik hati itu hanya tersenyum.
Lalu, si ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan, dan
disaksikan oleh pelanggan baik hati tadi, si Pemilik toko menaruh
belanjaan tersebut pada sisi timbangan yang lain.
Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehinggasi ibu terus
mengambil barang-barang keperluannya dan sipemilik toko terus
menumpuknya pada timbangan, hingga tidak muat lagi.
Si Pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Karena tidak tahan, Si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas
daftar belanja siIbu kumal tadi. Dan ia-pun terbelalak.
Di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek:      
Subject: renungan natal
    Date: Sun, 19 Dec 1999 21:56:56 +0700
Edit by: Kwans
Louise Redden, seorang ibu kumuh dengan baju kumal, masuk ke dalam
sebuah supermarket. Dengan sangat terbata-bata dan dengan bahasa yang sopan ia memohon
agar diperbolehkan mengutang. Ia memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit
dan sudah seminggu tidak bekerja. Ia memiliki tujuh anak yang sangat membutuhkan makan.
Tetapi John Longhouse, si pemilik supermarket, mengusir dia keluar.
     
" Baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?"
     
" Ya, Pak. Ini,"
katanya sambil menunjukkan sesobek kertas kumal.
     
" Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, dan saya akan
memberikan gratis belanjaan anda sesuai dengan berat timbangan
tersebut "
     
" Hamba menyerahkan segalanya ke dalam tanganMu"
Si Pemilik Toko terdiam.
Si Ibu, Louise, berterimakasih kepadanya, dan meninggalkan toko dengan belanjaan gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang 50 dollar kepadanya.
Si Pemilik Toko kemudian mencek dan menemukan bahwa timbangan yang dipakai tersebut ternyata rusak. Ternyata memang hanya Tuhan yang tahu bobot sebuah doa.
KEKUATAN SEBUAH DOA Segera setelah anda membaca cerita ini, ucapkanlah sebuah doa. Hanya itu saja. Stop pekerjaan anda sekarang juga dan ucapkan sebuah doa untuk dia yang telah mengirimkannya kepada anda. Lalu, kirimkan mail ini kepada setiap orang atau sahabat yang kau kenal. Biarlah jaringan ini tidak terputus, karena DOA ADALAH HADIAH TERBESAR DAN TERINDAH YANG KITA TERIMA. Tanpa biaya, tetapi penuh daya guna.
Sent by: Winda Christy (winda_c@hotmail.com)
Subject: Bobot sebuah doa
    Date: Sat, 04 Dec 1999 14:34:29 JAVT
Edit by: Kwans
|
Phone: 0818-921842 Email: lie_i_kwan@hotmail.com |