Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
Rimba Khatulistiwa

Rimba khatulistiwa,
Senyum hijaumu tidak seraum silam,
Terbang satwamu kehilangan santun,
Rendang keringinmu tak sedingin kelmarin,
Tegak merantimu tidak lagi megah,
Mimpi kematian ceria,
Taufan pembangunan menujah lenamu.

“Shhh…”
Dengarkah anda,
Bunyi pembunuh pepohon hijau
Di Rimba Khatulistiwa ini
Yang diterajui oleh insan bergelar manusia?
Aku termangu sendirian,
Patutkah mereka
Demi mengejar kemewahan dan kekayaan tidak terhingga,
Mengorbankan khazanah Bumi tiada batasan?

Wahai Rimba Khatulistiwa,
Adakah engkau berasa bangga,
Kerana anak-anak pepohon hijaumu yang
Dikerat, dicincang dan dijadikan khazanah bernilai,
Yang digelar “kertas”.
 
Atau,
Engkau menangis kesedihan,
Tatkala terlihat,
Keratan dan potongan anak-anak pepohon hijaumu,
Yang digelar “kertas”
Dibazirkan begitu sahaja,
Ditinggalkan di celah-celah,
Dibuang di merata-rata,
Atau dikebumikan di dalam rahang api,
Yang membara,
Lalu mengeluarkan rintihan berkepul-kepul,
Bagaikan sedang merayu,
Agar hukuman mereka diringankan.

Sinaran menteri terik,
Menyuluh bumi tandus,
Bahang kepanasan hangat membara,
Batin merintih,
Sayu dalam tangisan,
Dahagakan,
Mutiara jernih dari langit.

Inilah balasan,
Kurnian tuhan tiada batasan,
Rintihan sayu masih bergema,
Memenuhi setiap ruang.
Tiada simpati belas kasihan,
Insan bernama manusia,
Ke mana hilangnya kesucian hati,
Ke mana hilangnya kurnian jiwa,
Bumi tua menjadi gersang.

Rimba Khatulistiwa,
Luka dukamu kian nazak.
Tragedi penderaan tiada hujung.
Gergasi pembangunan rakus meratah,
Membunuh warisan khazanahmu penuh zalim,
Ruang parahmu karam di laut haloba,
Dalam sendu pilumu mengetuk kota batu,
Gagal melembut angkur di kamar dingin.

Wahai sekalian penghuni,
Wajarkah kita membutakan mata,
atau petutkah kita memekakkan telinga,
Membiarkan senario ini terus bermaharaja.

Sedarlah wahai insan,
Rimba Khatulistiwa menjadi warisan
Buat generasi di zaman lain,
Jangan biarkan ia ditelan pembangunan,
Semata-mata mengejar arus kemodenan.

Alangkah baiknya,
Jika insan bergelar manusia ini,
Bisa menghargaimu,
Bisa memanfaatkanmu,
Bisa menyahut seruan,
“Kitar Semula”,
“Guna Semula”,
“Kurangkan Penggunaan” yang,
Selaris dengan program ‘3R’.

Maka,
Kuranglah kesengsaramu,
Kuranglah pembunuhan pepohon hijaumu.
Wahai Rimba Khatulistiwa,
Dan
Seimbanglah ekosistem Bumi,
Bumi yang indah dan sempurna,
Untuk generasi akan datang
Menikmatinya.

Biat-biat puisiku tak seindah dulu,
Tatkala keindahan alamku terancam,
Redup awan berhujan asid,
Menitis resah menjalur derita,
Inilah restapa buat Bumiku.
 
Lalu kita sebenarnya yang alpa,
Lalu mendurjanai Bumi yang indah,
Dan aku wargamu nanar bertanya,
Di mana teledera untukmu/
Di mana teledera untuk kita?

 

  [Next]>>