Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

My Home Page

My Favorite Things About Angelfire

My Favorite Web sites

Angelfire Home Pages
Free Web Building Help
Angelfire HTML Library
htmlGEAR - free polls, guestbooks, and more!

Thank you for visiting my page at Angelfire. Please come back and visit again!Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kloning,rekayasa genetika,eutanasia ,transplantasi, transgenik bukanlah hal yang tabu lagi melainkan hal yang lumrah untuk kita ketahui.disini saya akan menerangkan tentang kloning.adapun hal-hal yang menjadi rumusan untuk membahas kloning ini sebagai berikut. Pengertian kloning Contoh makhluk yang bisa di kloning Pengertian Eutanasia Eutanasia aktif,eutanasia pasif dan Autoeutanasia Penyalah gunaan eutanasia pasif Transgenik tanaman Pemecahan masalah Penutup 1.Kloning merupakan teknik penggandaan gen yang menghasilkan turunan yang sama sifat baik dari segi hereditas maupun penampakannya. 2.Adapun contoh mahkluk yang sudah di kloning oleh para ahlibedahsebagaiberikut: Kecebong,ikan,domba,monyet,anak sapi,kucing,kuda,manusia,srigala dan anjing Kloning manusia menjadi topik yang hangat diperbincangkan di kalangan ilmuwan Amerika Serikat dewasa ini. Kenyataan ini sehubungan dengan munculnya pengakuan sebuah perusahaan bioteknologi bahwa para ilmuwan di sana telah berhasil membantu seorang wanita Amerika melahirkan bayi hasil kloning. Berikut laporan selengkapnya disampaikan Arif Budiman. Kloning adalah jalan menuju keabadian. Itulah kalimat yang dilontarkan ketua sekte agama Raelian, Claude Vorilhon. Dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi C-B-S, ia mengatakan, perusahaan yang didirikannya, Clonaid, telah menjadi perusahaan pertama di dunia yang menciptakan manusia lewat metode kloning. Vorilhon mengatakan bayi kloning pertama telah lahir dari seorang wanita Amerika tanggal 26 Desember lalu. Bayi yang diindentifikasi bernama Eve dan ibunya itu sejauh ini masih dirahasiakan keberadaannya sehubungan sejumlah alasan pribadi dan hukum. Legalitas kloning manusia sejauh ini memang masih diperdebatkan sehubungan masih adanya pro dan kontra. Vorilhon adalah mantan jurnalis Perancis yang percaya bahwa manuasia merupakan hasil kloning mahluk luar angkasa sekitar 25 ribu tahun lalu. Ia mengatakan, kloning menciptakan kopi dari sebuah kehidupan, namun duplikasi itu sendiri tidak sepenuhnya sama karena perkembangannya menuju kematangan memerlukan waktu bertahun-tahun. Manusia hasil kloning akan memiliki memori dan kepribadian berbeda dari manusia yang diduplikasinya. Namun Vorilhon yakin, suatu saat kelak, dengan perkembangan teknologi akan muncul metoda kloning instan yang memungkinkan lahirnya bayi hasil duplikasi yang memiliki kondisi fisik dan mental yang sama dengan orangtuanya. Pada tahap dua, yang saat ini terjadi, Anda bisa menciptakan kloning Anda sendiri dalam waktu beberapa jam, namun tidak akan sepenuhnya sama. Namun, pada tahap tiga, yang kelak akan terjadi, Anda bisa menciptakan kloning Anda lengkap dengan memori dan kepribadian yang Anda miliki. Pernyataan Vorilhon yang mendapat publikasi berbagai media internasional banyak mendapat bantahan. Para pengamat di Amerika meragukan Clonaid telah berhasil menciptakan bayi kloning melalui metoda kloning yang ada sekarang. Arthur Caplan, pakar etika kedokteran Universitas Pennsylvania mengatakan, ia ragu Clonaid sukses menciptakan kloning lewat 10 percobaan. Menurut Caplan, percobaan pada hewan umumnya hanya menciptakan satu keberhasilan dalam 400 percobaan. Caplan mengatakan. kloning juga sangat berbahaya Jika Anda melihat apa yang terjadi pada kloning hewan, setengah jumlah hewan hasil kloning mati dalam waktu satu tahun, sementara mereka yang bertahan hidup mengalami gangguan kesehatan. Saya pikir, kloning pada saat ini merupakan jalan menuju penyakit yang abadi. Caplan mengatakan masih dibutuhkan waktu yang lama sebelum bayi kloning yang sehat terlahir. Meski demikian, kelompok Raelian bersikeras mereka telah berhasil dan kelak akan mengajukan bukti ilmiah. Bahkan, tidak beberapa lama kemudian, sekitar pekan pertama Januari 2003, kelompok itu mengaku telah berhasil melahirkan bayi kloning kedua dari pasangan lesbian asal Belanda. Namun, lagi-lagi, tidak ada bukti ilmiah diajukan sehubungan pengakuan itu karena alasan hukum dan pribadi. Seorang anggota kelompok Raelian, Brigitte Boisselier mengatakan, bukti ilmiah akan diajukan segera Jika saya tidak mengajukan bukti ilmiah, pasti Anda mengatakan saya telah mengarang cerita. Jadi satu-satunya cara adalah kami akang mengundang seorang pakar independen ke tempat orang tua bayi itu. Di sana ia bisa mengambil contoh sel dari bayi dan ibunya, untuk kemudian membandingkannya. Jadi, Anda akan mendapatkan bukti. Raelian sejauh ini dikenal sebagai sekte agama yang percaya bahwa kehidupan di luar angkasa telah menciptakan kehidupan di bumi. Kelompok yang mendapat pengakuan resmi pemerintah negara bagian Quebec, Kanada, sebagai gerakan agama di tahun 1990-an ini mengklaim memiliki 55 ribu anggota di berbagai penjuru dunia, termsuk Amerika. Kelompok ini memilki sebuah taman yang terbuka untuk umum bernama UFOland, dekat Montreal. Inilah sekilas tentang kloning.selanjutnya kita akan membahas tentang autanasia. Eutanasia berasal dari 2 suku kata yang berasal dari yunani, yaitu; eu arti nya Baik, dan Tanatos yang artinya kematian. Tapi eutanasia ditafsirkan sebagai campur tangan ilmu kedokteran untuk meringankan penderitaan orang sakit atau orang yang berada dalam masa kritis, karena alasan belas kasihan dan mengakhiri penderitaan yang luar biasa Di kalangan medis, istilah itu berarti perilaku sengaja dan sadar, mengakhiri hayat sese-orang secara lebih cepat untuk membebaskannya dari penderitaan akibat penyakitnya.Dr. Veronica Komalawati, S.H., M.H., ahli hukum kedokteran dan staf pengajar pada Fakultas Hukum Unpad mengatakan, dipandang dari sudut etik maupun hukum, dengan alasan apa pun seseorang tidak dibenarkan untuk menghilangkan nyawa orang lain, kecuali yang dibenarkan menurut undang-undang. Dalam pandangan hukum, eutanasia bisa dilakukan jika pengadilan mengizinkan. Namun bila eutanasia dilakukan tanpa dasar hukum, maka dokter dan rumah sakit bisa dianggap melanggar pasal 345 KUHP, yaitu menghilangkan nyawa orang lain dengan menggunakan sarana. Menurut Veronica, eutanasia dapat dibedakan menjadi tiga macam :1. Eutanasia aktif. Tindakan secara sengaja yang dilakukan dokter atau tenaga kesehatan lain untuk memperpendek atau mengakhiri hidup si pasien. Misalnya, memberi tablet sianida atau menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien.2. Eutanasia pasif. Dokter atau tenaga kesehatan lain secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien. Misalnya tidak memberikan bantuan oksigen bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam pernapasan atau tidak memberikan antibiotika kepada penderita pneumonia berat. Atau melakukan kasus malapraktik. Karena ketidaktahuan pasien dan keluarga pasien, secara tidak langsung medis melakukan eutanasia dengan mencabut peralatan yang membantunya bertahan hidup atau mengurangi pertolongan.3. Autoeutanasia. Seorang pasien menolak secara tegas dengan sadar untuk menerima perawatan medis dan ia mengetahui bahwa itu akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Dengan penolakan tersebut ia membuat sebuah codicil (pernyataan tertulis tangan). Autoeutanasia pada dasarnya adalah eutanasia pasif atas permintaan. Penyalahgunaan eutanasia pasif bisa dilakukan oleh tenaga medis, maupun pihak keluarga yang menghendaki kematian seseorang atau keputusasaan karena beban biaya. Ini biasanya terjadi pada keluarga pasien yang tidak mungkin untuk membayar biaya pe-ngobatannya. "Biasanya ada pernyataan pulang paksa. Bila meninggal pun pasien diharapkan mati secara alamiah. Ini sebagai upaya defensif medis. " kata Veron. Dari sudut, medis kadang terjadi dilema etis. Pasien, walaupun ada harapan tertolong tapi sangat kecil, sementara bila bergantung pada rumah sakit beban pengobatan akan semakin besar. Sekalipun dokter ingin mempertahankan dengan memberikan bantuannya, ia akan berbenturan dengan manajemen rumah sakit untuk tanggungan biaya. "Di sinilah dilemanya," tandas Veronica. Kendati demikian, bagaimanapun juga, didasarkan pada sumpah dan kode etik kedokteran, dokter berkewajiban untuk selalu memelihara kehidupan manusiawi. Sejak awal kehidupan sampai akhir hidupnya. "Konsekuensinya, dokter seharusnya menolak semua gagasan baik eutanasia pasif maupun aktif," tambahnya. perdebatan tentang setuju dan tidak setuju dengan eutanasia barangkali memang tidak akan ada akhirnya. Pada umumnya, kata Veronica, eutanasia dapat dikelompokkan; golongan pertama, yang tidak menyetujui tindakan eutanasia berpendapat bahwa eutanasia adalah suatu pembunuhan terselubung. Oleh karena itu, tindakan ini secara langsung bertentangan dengan kehendak Sang Pencipta.Sementara golongan kedua, yang menyetujui tindakan eutanasia menyatakan bahwa eutanasia boleh dilakukan dengan pertimbangan tindakan tersebut disetujui oleh si pasien, keluarga, dan dokter yang menanganinya.Dari sudut pandang etika kedokteran, eutanasia sebenarnya bertentangan dengan etika kedokteran. Dalam sumpah Hippocrates, ditekankan pentingnya meringankan penderitaan, memperpanjang hidup, dan melindungi kehidupan. Sumpah Hippocrates yang terkenal tersebut antara lain berbunyi, "...saya tidak akan memberikan racun kepada siapa pun yang menghendakinya, juga tidak akan menasihati orang untuk mempergunakannya." Declaration of Geneva 1948 dan Declaration of Sydney 1968 menyebutkan bahwa, "Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.... Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan." Dapat pula disebutkan di sini Peraturan Pemerintah 1969 tentang lafal sumpah dokter Indonesia yang bunyinya serupa dengan Declaration of Geneva dan Declaration of Sydney. Demikian pula yang disebutkan dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia Bab II tentang kewajiban dokter terhadap pasien, yang tidak memperbolehkan mengakhiri pende-ritaan dan hidup orang sakit, yang menurut pengetahuan dan pengalaman tidak akan sembuh lagi (eutanasia).Dalam bukunya yang berjudul Ethics and Euthanasia, Another View, Leonard J. Weber mengatakan bahwa titik awal dari etika kedokteran adalah perasaan hormat terhadap suatu individu. "Ini berarti suatu tanggung jawab moral untuk memelihara kesehatan dan memperpanjang hidup individu tersebut dan kita harus menghormati manusia secara keseluruhan, yaitu manusia yang terdiri dari komponen personal, spiritual, dan fisik, yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan dan bukan hanya sebagai satu spesies dari kehidupan biologi belaka. Dalam perspektif etika dan moral, alasan yang mendasari mutlaknya kewajiban menghormati hidup manusia tidak lain adalah, pertama, pengakuan martabat manusia sebagai pribadi yang unik, yang memiliki rasionalitas, kehendak, dan kebebasan yang bertanggung jawab serta pribadi yang senantiasa berkembang menuju pada kepenuhan. Bahkan, eutanasia dengan menyuntik mati disamakan dengan tindakan pidana pembunuhan. Alternatif terakhir yang mungkin bisa diambil adalah penggunaan sarana via extraordinaria. Jika memang dokter sudah angkat tangan dan memastikan secara medis penyakit tidak dapat disembuhkan serta masih butuh biaya yang sangat besar jika masih harus dirawat, apalagi perawatan harus diusahakan secara ekstra, maka yang dapat dilakukan adalah memberhentikan proses pengobatan dan tindakan medis di rumah sakit. TANAMAN TRANSGENIK YANG KONTROVERSIAL Laju perkembangan bioteknologi seakan tak terbendung. Ratusan macam komoditas hasil rekayasa genetika telah berhasil diciptakan, bahkan sebagian besar sudah tersebar ke seantero jagat. Mulai dari tanaman yang berembel-embel Bt yang tahan hama hingga yang toleran herbisida. Sebut saja jagung Bt, kedelai Bt, kentang Bt, kapas Bt. Bahkan sudah merambah ke komoditas lain, mulai dari sayuran hingga ikan dan ternak. Belakangan komoditas dari hasil utak-atik gen itu bikin heboh! Amankah mereka bagi lingkungan maupun kesehatan? Itu yang memancing pro-kontra. Dua tahun lalu di Edinburgh, Scotlandia, sekelompok aktivis merusak ladang tanaman kanola. Tahun (?) di Maine, tengah malam para penjarah membabat habis 3.000-an tanaman uji coba. Di San Diego, pemrotes merusak tanaman sorgum dan menyemprotkan cat ke dinding rumah kaca. Dalam kasus ini mereka beranggapan semua tanaman itu hasil rekayasa genetika, seperti dilaporkan Scientific American, April 2001. Tanaman itu merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu atau sejumlah gen (baca boks "Teknik Membuat 'Makhluk' Transegenik"). Gen yang dimasukkan itu - disebut transgene - bisa diisolasi dari tanaman tidak sekerabat atau spesies lain sama sekali. Kedua Keberadaan tanaman transgenik diributkan, tentu bukan tanpa alasan. Karena berisi transgene tadi, tanaman itu disebut genetically modified crops (GM crops). Atau, organisme yang mengalami rekayasa genetika (genetically modified organisms, GMOs).Transgene umumnya diambil dari organisme yang memiliki sifat unggul tertentu. Misal, pada proses membuat jagung Bt tahan hama, pakar bioteknologi memanfaatkan gen bakteri tanah Bacillus thuringiensis (Bt) penghasil racun yang mematikan bagi hama tertentu. Gen Bt ini disisipkan ke rangkaian gen tanaman jagung. Sehingga tanaman resipien (jagung) juga mewarisi sifat toksis bagi hama. Ulat atau hama penggerek jagung Bt akan mati. Bahkan kupu-kupu (Lepidoptera) pengisap nektar bunga jagung bisa koit. Begitu pun racun pada kapas Bt dapat membunuh boll-worm, hama perusak tanaman kapas.Repotnya, selain efektif melawan hama sasaran, toksin juga teridentifikasi mematikan serangga lain (nontarget). Bila hal ini terjadi, salah satu komponen ekosistem akan musnah, dan keseimbangan alam akan terganggu. Sebaliknya, ilmuwan Swiss menyimpulkan, tanaman jagung Bt merugikan serangga bermanfaat dan racun Bt terakumulasi dalam tanah sehingga merugikan ekosistem tanah. Juga penanaman secara luas varietas Bt mempercepat terjadi evolusi resisten racun Bt pada hama serangga. Pada transplantasi dari manusia ke manusia (alotransplantasi), penolakan sebagian besar telah dapat diatasi dengan tissue matching penyesuaian donor dan penerima dan dengan pemberian obat kepada penerima yang dapat menekan respons imun.Risiko penolakan pada xenotransplantasi lebih berat karena perbedaan antara donor dan penerima jauh lebih besar. Xenotransplantasi juga dapat mentransmisikan infeksi (seperti virus) dari binatang ke manusia. Retrovirus menjadi perhatian utama karena banyak contoh virus pindah dari satu spesies ke spesies lain dan saling menginfeksi.Retrovirus tidak selalu menimbulkan tanda atau gejala penyakit yang jelas pada awalnya. Kalau ada retrovirus saat xenotransplantasi dan menginfeksi penerima, ia dapat menyebar dan bisa menjadi pembawa infeksi pada populasi yang luas sebelum terjadi infeksi nyata.Primata bukan manusia (kera dan monyet) tidak baik untuk sumber transplantasi binatang ke manusia karena hubungannya yang sangat erat ke manusia akan meningkatkan risiko virus bertransmisi antar spesies.Virus yang paling perlu diperhatikan pada xenotransplantasi menggunakan babi adalah porcine endogenous retrovirus (PERV). PERV ada di dalam hampir semua strain babi dan tidak dapat dihilangkan dengan meningkatkan babi dalam kondisi steril. Meskipun PERV inaktif, dan karena itu tidak berbahaya di dalam babi, dikhawatirkan transplantasi ke manusia dapat mengaktifkan virus, menimbulkan penyakit baru, dan dapat menyebar luas pada orang yang dekat pada penerima transplantasi.PERV dapat menginfeksi sel manusia dalam laboratorium, menandakan kemungkinan ia dapat menginfeksi manusia melalui xenotransplantasi. Akan tetapi, menurut NHMRC, penelitian dari sekitar 150 orang yang tersebar luas di dunia yang ditransplantasi dengan jaringan babi atau sel babi menunjukkan tidak terdapat kejadian infeksi virus atau infeksi lain yang berasal dari babi.