2001³â Á¦2Çбâ 3Çгâȸȭ±³Àç
================================================================================
http://bubu.com/kampus/insidekq/frmbbs.htm
ÀÌ Æ÷·ë µð½º²Ù½Ã¿¡ ³ª¿À´Â ±ÛÀ» ÀÐ°í ¹è¿î ¸¶Àξîȸȭ¹®ÀåÀ» ÀûÀ»¼öÀִ´ë·Î Àû°í
¶Ç ±×¹®ÀåÀ» ¿©·¯°¡Áö °¡´ÉÇÑÇÑ ¸¹ÀÌ Àǹ̰¡ÅëÇÏ´Â ¹®ÀåÀ» ¸¸µé¾îº¸½Ã¿À.

================================================================================
http://bubu.com/kampus/juni99/kampusiana.htm
¾Æ·¡À̾߱âÁß¿¡ ³ª¿À´Â ȸȭ¹®ÀåÀ» °ñ¶ó ±×¶æÀ» ¸»Çغ¸½Ã¿À.
Gerakan Mahasiswa di Tanah Rencong:

"Kalau rakyat Aceh merah, 

kami juga merah"

Gerakan mahasiswa seringkali dicurigai sebagai kawanan anak muda yang sok tahu akan keadaan masyarakatnyai. Dalam pergolakan rakyat di Aceh, akankah mahasiswa terjebak ketika memformulasi "kepentingan rakyat"?

 

HABIBIE hanya bisa mengerut dahi ketika kedatangannya di Aceh disambut dingin dan permintaan maafnya ditolak mentah-mentah. Habibie pun terkejut pula dengan keinginan anak negeri Serambi Mekah yang menuntut referendum. Tapi anehnya, ia tak terkejut ketika aparat keamanan menyemburkan peluru panas dari bedil besi mereka dan popor senapan atau sepatu lars menghempas keras ke sekujur tubuh para demonstran. "Ah, buat apa gue pikirin," katanya sembari mengibaskan tangan. 

Tapi peduli amat dengan perilaku Habibie. Yang penting dicatat di sini, tindakan aparat yang sadistis itu cuma menambah rentetan daftar dosa dan memperkuat sikap apriori masyarakat Aceh terhadap pemerintahan Indonesia yang pembual. Belum-belum sudah janji mau minta maaf karena banyak orang Aceh jadi korban operasi "Jaring Merah" atau istilah Daerah Operasi Militer yang digunakan ABRI/TNI untuk wilayah operasi Aceh. Janji untuk menghukum mereka yang bersalah dalam operasi itu akhirnya dipercaya cuma lips service atawa bualan saja. Lha, sampai sekarang nggak ada itu para penembak yang dihukum. Yang ada, menurut Kartono Mohammad, seperti juga di Timtim pemberian tanda jasa dan kenaikan pangkat bagi mereka yang baru saja pulang operasi di sana. 

Dan bentrokan militer dan sipil yang belum lama ini terjadi di simpang KKA dan menewaskan 65 orang warga sipil dijadikan bukti sahih permintaan maaf Habibie itu cuma bullshit. Begitu murah nyawa manusia dihilangkan hanya didasarkan pada rasa curiga bahwa massa bergerak hendak mencuri rudal milik TNI, padahal mereka cuma mau menunjukkan keprihatinan dengan mengatakan, "mbok ya sekali-sekali kita itu didengerin". Pasukan Penindak Rusuh Massa (PPRM) akhirnya cuma jadi teroris kota yang berbaju loreng dan berbedil.

Repotnya lagi, demonstrasi yang pernah dilayangkan kepada Habibie itu akhirnya dituding cuma digerakkan oleh segelintir anak muda —mungkin maksudnya mahasiswa— yang kepincut untuk memerdekakan Aceh dan telah lama menjadi kaki-tangan Gerakan Aceh Merdeka yang dimotori Hasan Tiro. Dicap seperti itu tentu bukan hal yang mengenakkan. Tapi apa benar demikian?

"Tidak benar kami memiliki hubungan organisasional ataupun koordinasi dengan GAM. Hal ini tampak dalam tuntutan kami untuk referendum, bukan kemerdekaan" tegas Tarmizi, aktivis Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat (SMUR) yang dengan terpaksa harus melepaskan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi swasta Aceh akibat aktivitasnya dalam gerakan mahasiswa tidak memperoleh dukungan dari pihak birokrat kampus. "Jumlah anggota GAM sebenarnya tidak banyak, hanya rakyat Aceh sangat bersimpati pada perlawanan kelompok ini, terutama karena rakyat Aceh harus berhadapan dengan tentara yang selalu bertindak semena-mena. Tidaklah mengherankan bila pada referendum nanti rakyat akan cenderung ikut menuntut kemerdekaan. Hal inilah yang dikhawatirkan pemerintah RI sehingga selain menuduh GAM sebagai Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) dengan berbagai taktik yang menyudutkan GAM, juga menuduh mahasiswa yang menuntut referendum sebagai kaki-tangan GAM sehingga rakyat akan menjadi antipati terhadap gerakan mahasiswa. Tapi taktik ini tidak berhasil karena rakyat Aceh sudah tahu kebusukan dari militer."

Fakta memang bicara berbeda. Rakyat Aceh yang terus dipukul oleh militer malahan menyambut tindakan mahasiswa. Kini masyarakat tak takut lagi menceritakan kekerasan yang dialaminya selama ini. Kekerapan bertemu masyarakat dan mahasiswa memperkuat tali ikatan batin untuk memperjuangkan kepentingan tanah rencong. Oleh karena itu boleh saja Tarmizi berucap, "Sebagai bagian dari rakyat, kami tidak boleh dan tidak dapat menggurui rakyat tentang apa yang mereka inginkan di masa depan. Bila lewat referendum yang bebas nanti rakyat memutuskan untuk merdeka, maka kami akan siap bertempur sampai mati untuk itu. Jika rakyat memutuskan untuk tetap bergabung dengan Indonesia, kami siap mendukung keputusan tersebut. Biarlah rakyat yang menentukan arah dan warna gerakan kami. Karena itu, jika rakyat Aceh merah, kami juga merah." 

Diterimanya gerakan mahasiswa oleh masyarakat ini tak datang tiba-tiba. Telah lama mereka melakukan gerakan penyadaran kepada masyarakat Aceh yang rata-rata sulit berbahasa Indonesia. Mereka disadarkan bahwa keberingasan militer itu bisa dihentikan, eksploitasi terhadap kekayaan alam Aceh yang kaya akan gas alam itu bisa dikurangi dan bila diberi jatah yang lebih besar, Aceh akan menjadi wilayah yang maju. Semua itu tentu saja ada syaratnya, yakni kemauan masyarakat Aceh untuk memperjuangkan otonomi menentukan masa depannya sendiri. 

Aksi 5.000 orang yang digerakkan SMUR cuma salah satu contoh bagaimana kesadaran itu akhirnya membuahkan hasil. SMUR tak sendirian, ada baiknya bila juga mengenal aktivitas Farmida (Front Aksi Reformasi Islam Daerah Istimewa Aceh), Faikada (Forum Aksi Insan Kampus Daerah Aceh), KARMA (Koalisi Aksi Reformasi Mahasiswa Aceh), Mapra (Mahasiswa Pendukung Referendum Aceh), KAMMI, Kagempar (Koalisi Gerakan Mahasiswa Aceh Barat), dan Wakampas (Wahana Komunikasi Mahasiswa Aceh Selatan). 

Hanya saja orang sering menyebut SMUR karena sejauh ini SMUR merupakan komite aksi mahasiswa Aceh yang paling radikal. Paling tidak merekalah yang secara tegas dan terang-terangan —cuma 10 meter dari hidung Habibie—menyerukan kepada publik Aceh untuk menolak pemilu (sampai-sampai merasa perlu untuk mengadakan aksi makan di depan KPU di Jakarta) dan menegaskan musuh utama rakyat Aceh itu pihak militer. Maka tak heran bila berbagai tuduhan pun dilontarkan ke kelompok ini mulai dari "komunis muda" —hanya karena ideologi gerakan ini adalah sosialis demokrat— sampai ke "musuh negara" karena menghina-dina militer. 

Dalam tingkatan strategi, komite aksi lain lebih moderat dibanding SMUR. KAMMI, misalnya, malahan menyambut baik permintaan maaf Habibie, dan oleh karenanya tidak cukup mendapatkan tempat di hati masyarakat yang ingin perubahan. Ada pula KARMA, yang bersikap netral terhadap pemilu dan menjadikan pemilu sebagai pilihan bebas masyarakat Aceh sendiri. Terserah saja kalau mau memilih, karena yang penting harus ada penyelenggaraan referendum yang akan diselenggarakan oleh badan legislatif bentukan Pemilu 1999, siapapun yang menang nanti. 

Yang agak berbeda dari gerakan mahasiswa di kota-kota lain, para anak negeri Tanah Rencong ini membangun sebuah jaringan untuk memperlancar komunikasi dan saling dukung antar mereka yang disebut-sebut SIRA (Sentra Informasi Referendum Aceh). Selain menyebarkan informasi mengenai dukungan terhadap referendum, SIRA juga menjadi media yang efektif untuk berhubungan antara mereka yang ada di Aceh dengan mahasiswa yang berada di luar propinsi Aceh.

Aktivis-aktivis ini berdomain di banyak kota besar, seperti di Medan yang punya IPTR (Ikatan Pemuda Tanah Rencong), Kemala (Komite Mahasiswa Peduli Aceh) dan Kesuma (Kesatuan Aksi Mahasiswa Untuk Masyarakat Aceh). Di Pulau Jawa sendiri telah berdiri sembilan aliansi mahasiswa yaitu Somaka di Jakarta yang terdiri dari IMAP (Ikatan Mahasiswa Pemuda Aceh) dan KMPAN (Komite Mahasiswa Pemuda Aceh Nusantara). Lalu ada IPAS (Ikatan Pemuda Aceh Semarang) di Semarang, PMKTR (Pelajar Mahasiswa Kekeluargaan Tanah Rencong) di Surabaya, TPA (Taman Pelajar Aceh) di Yogyakarta, IPPMA (Ikatan Pelajar Pemuda dan Mahasiswa Aceh) di Malang, IMTR (Ikatan Mahasiswa Tanah Rencong) di Bogor dan FKPMAB (Forum Komunikasi Pemuda dan Mahasiswa Aceh di Bandung). 

Yang penting untuk dipikirkan kemudian, bagaimana prospek gerakan ini di kemudian hari. Apabila bila Megawati atau siapapun yang bakal jadi presiden Indonesia, apakah konteks perjuangan mereka masih akan tetap terpenjara pada aksi-aksi moderat seperti yang dilakukan KARMA dan KAMMI? Dan apakah gerakan yang diorganisir oleh SMUR akan tepat pada situasi dan kondisi terakhir Aceh yang kian membara dan arah persoalan sudah bergeser tak lagi ke referendum, melainkan sudah melebar hingga ke situasi chaotic dengan pembakaran rumah-rumah penduduk dan perang terbuka. 

Korban demi korban sudah jatuh, dan gerakan mahasiswa mungkin akan semakin tenggelam apabila masih percaya pada pola gerakan yang lama. Semoga saja mereka berani meneladan gerakan mahasiswa di Venezuela, saat universitas menjadi basis perekrutan dan pelatihan untuk mendukung perjuangan gerilyawan. 

Andy Yentriyani 
--------------------------------------------------------------------------------
±×¸®°í ±× Çѹ®ÀåÀ» ¿©·¯°¡Áöȸȭ¹®ÀåÀ¸·Î º¯Çü½ÃÄѺ¸½Ã¿À.
*Taktik ini tidak berhasil 
karena 
rakyat Aceh sudah tahu kebusukan dari militer.
->Taktik ini mungkin akan berhasil
karena
rakyat Aceh tidak tahu kebusukan dari militer.
->Taktik politikus itu sudah ketahuan
karena 
hampir semua rakyat Aceh sudah mencium bau kebusukan dari arena politik.

 




================================================================================

Percakapan sehari-hari 1
Pilihan berganda
Mbak Tini bertemu dengan Mas Mustafa di jalan.

--------------------------------------------------------------------------------
 
1  Mas Mustafa: Selamat siang, Mbak!
   Mbak Tini: Selamat siang. Mau ke mana? 
    
--------------------------------------------------------------------------------
 
2  Mas Mustafa: Saya pergi ke rumah Bu Tuti, Mbak.
   Mbak Tini: Mengapa, Mas?     

--------------------------------------------------------------------------------
 
3  Mas Mustafa: Saya sedang belajar bahasa Inggris.
   Mbak Tini: Bu Tuti bisa berbahasa Inggris? 
    
--------------------------------------------------------------------------------
 
4  Mas Mustafa: Ya, dia bisa. Mbak Tini bisa berbahasa Inggris juga?
   Mbak Tini: Sedikit-sedikit saja, Mas! 
--------------------------------------------------------------------------------
 
5  Mas Mustafa: Di mana belajar?
   Mbak Tini: Di rumah Mas Jon.    

--------------------------------------------------------------------------------
 
6  Mas Mustafa: Saya tidak kenal Mas Jon. Siapa dia?
   Mbak Tini: Dia orang Kanada yang sedang belajar bahasa Indonesia di sini. 
--------------------------------------------------------------------------------Percakapan sehari-hari 2
Pilihan berganda
Bu Tuti bertemu dengan Mas Jon di tengah jalan. Susunlah kalimat-kalimat

Bu Tuti:  Selamat pagi, Mas Jon.  
Mas Jon:  Apa kabar, Bu?
Bu Tuti:  Kabar baik. Apa Mas Jon kenal Mbak Eni? 
Mas Jon:  Ya, kenal. Dia guru Bahasa Indonesia, bukan?
Bu Tuti:  Ya, betul. Dia tinggal di mana?   
Mas Jon:  Rumah Mbak Eni di dekat Restoran Sumatra. 
Bu Tuti:  Apa adiknya juga tinggal di sana? 
Mas Jon:  Ma'af Bu, saya kurang tahu. Saya tidak kenal adiknya.  
================================================================================

TABLOID  "MAHASISWA" DITEROR 

        JAKARTA,(SiaR,26/2/1999) Tabloid Mahasiswa yang dikelola para
aktivis gerakan mahasiswa diteror dan digembosi di agen penjualan karena
dikhawatirkan akan menjadi corong aksi aksi  mahasiswa. 

        Tabloid Mahasiswa yang dikelola dan dimiliki para aktivis mahasiswa
dari berbagai kelompok aksi di Jakarta itu mengkhususkan diri pada informasi
tentang aksi, program dan profil kelompok aksi mahasiswa. Raymond Sinaga
mahasiswa ISTN yang ikut mengelola tabloid  itu kepada SiaR mengatakan
kantor redaksi Mahasiswa berulang kali dilempari batu dan didatangi pemuda
preman sembari mengancam.

1."Sebaiknya kalian nggak usah menghujat  nama Soeharto , karena hal
itu akan menimbulkan perpecahan nasional," 
¿©·¯ºÐµéÀº ¼öÇϸ£¶ÇÀÇÀ̸§À» ¿åÇÒÇʿ䰡¾ø´Â°Ô ÃÖ»óÀ̾ß,¿Ö³ÄÇÏ¸é ±×ÀÏÀº ±¹·ÐºÐ¿­À» ÃÊ·¡ÇÒÁöµµ¸ð¸£°Åµç..
ancam para pemuda tersebut. 

      	Tabloid setebal 12 halaman itu pada nomer perdananya menampilkan
laporan utama  soal kekuasaan transisi versi mahasiswa. Ada juga wawancara
dengan Sekjen Barisan Nasional, Rachmat Witoelar dan Prof. Sarbini. Nomor
perdana Mahasiswa juga mengulas program Forum Salemba, Forum Kota, Famred dan
berbagai kelompok aksi lain di Jakarta. 

2."Tabloid kami memang bertujuan untuk menjadi corong informasi terdepan dari semua mesin politik aksi yang ada di Jakarta agar program aksi mereka dipahami masyarakat, " 

ujar Oyik mantan jubir Forum Kota.

        Menurut Oyik, Mahasiswa mengakomodir semua kelompok seperti KAMMI,
Forsal , Forkot, Famred, KBUI dan nantinya akan menggandeng kelompok
mahasiswa dari kota lain. Beberapa kesulitan tampaknya mulai menghadang
selain teror. Menurut Taufik, memang ada sedikit kesulitan yakni modal untuk
berlanjutnya penerbitan.

3."Mahasiswa juga harus memnghadapi kesulitan karena harus berhadapan
dengan agen-agen sirkulasi media cetak yang dikuasai  para mafia agen yang
belum kami pahami," 

ujar Taufik, aktivis Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia itu. 
Taboid hitam putih yang terbit dwi mingguan itu akan dijual ke seharga Rp
1500 per eksemplar, dengan tiras 11 ribu eksemplar. Edisi pertama, menurut
Taufik, di agen-agen eceran, seperti di Pasar Senen dan Blok M, diborong
orang-orang tak dikenal. Menurut pemantauan SiaR di Blok M,  seorang agen
koran besar bernama Sihite menerangkan ada beberapa pria berambut cepak,
berbadan tegap yang langsung memborong tabloid Mahasiswa nomor perdana itu.

4."Kami sih senang saja jika ada orang yang memborong," 

ujar Sihite. ***
================================================================================

Percakapan Terakhir Dudayev
Moskwa, Jumat

"Rusia harus menyesal karena apa yang dilakukannya" kepada Chechnya. Itulah kalimat-kalimat terakhir Presiden Dzhokar Dudayev sebelum meninggal karena serangan rudal Rusia hari Minggu malam.

Ungkapan itu menjadi bahan berita pers Rusia hari Jumat (26/4). Harian Moskovsky Komsomolet menyiarkan transkrip percakapan antara Dudayev dan anggota parlemen liberal Konstantin Borovoi Minggu malam. Percakapan itu berakhir dengan kalimat-kalimat sebagai berikut:

Dudayev: Dalam waktu dekat, akan sangat panas di Moskwa. Apakah Anda tinggal di pusat (Moskwa)?

Borovoi: Memang di pusat. Dan bahkan berdekatan dengan Kementerian Dalam Negeri.

Dudayev: Mungkin Anda harus pindah untuk sementara waktu.

Borovoi: Itu tidak masuk akal, Dzhokhar Mussayevich.

Dudayev: Rusia harus menyesal karena apa yang dilakukannya.

Menurut kantor berita Interfax, Borovoi mengatakan pembicaraan terputus dan bahwa hubungan telepon satelit dengan Jenderal Dudayev sering jelek.

Ia menyatakan, Dudayev meneleponnya pukul 20.00 (23.00) hari Minggu, hanya beberapa saat sebelum Dudayev dikabarkan meninggal.

Pers Rusia menyebutkan, pada saat kematiannya, Dudayev memiliki janji menelepon dengan Raja Hassan II dari Maroko. Ia disebut-sebut sebagai calon penengah dalam perundingan tak langsung dengan Dudayev seperti diusulkan Presiden Boris Yeltsin.

Dudayev tewas dalam sebuah serangan udara ketika bicara melalui telepon satelit dekat desa Gekhi-Chu. Sumber militer Rusia mengungkapkan, gelombang elektrik-radio telepon menuntun rudal udara-ke-darat menghantam persembunyian Dudayev.

Menurut pers Rusia, Dudayev bilang kepada Borovoi, suasana dalam kongres Chechnya "sangat radikal" Kongres akan segera mengumumkan orang-orang "yang terlibat kejahatan melawan kemanusiaan" dan di bawah mereka tak mungkin perundingan berlangsung.

"Mayoritas kaum muda kami membentuk organisasi yang mereka sebut 'Jihad' dan siap menghukum penjahat perang," kata Dudayev. (AFP/sep) 
================================================================================
SMS Gratis : FAQ / Tanya-Jawab

Kenapa pengiriman selalu gagal atau muncul error-code?
Kami memang tidak bisa menjamin pengiriman akan sampai ditujuannya.
Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi pengiriman, al:
1. Nomor HP yang dimasukkan tidak sesuai format.
2. Kondisi jaringan internet ke server MTNSMS.COM.
3. Gagal menghubungi server MTNSMS, mungkin terlalu sibuk.
4. Jatah SMS (mtnsms) per hari telah dicapai (¡¾1000).
5. Kecepatan hubungan internet dari lokasi anda ke server InCari.com.

Bisakah melihat/mengetahui HASIL pengiriman atau menerima BALASAN/REPLY?
Tidak... :(
Bila anda ingin mengakses fasilitas tersebut, daftarkan diri anda (gratis) di MTNSMS.COM.
Sebagai anggota, anda bisa mengirimkan maks. 10 SMS/hari, bisa menerima balasan/reply, dan bisa memeriksa hasil pengiriman.

Kenapa tidak bisa SMS ke MENTARI, PRO-XL, dsb-nya?
Fasilitas SMS di InCari memanfaatkan jaringan MTNSMS, yang sementara ini bekerjasama dengan operator jaringan tertentu dan KELOMPOK LAYANAN tertentu saja, untuk Indonesia:
- TelkomSel +62811xxxxxx
- TelkomSel +62812xxxxxx
- Satelindo +62815xxxxxx
- Satelindo +62816xxxxxx
- Excelcomindo +62817xxxxxx
- Excelcomindo +62818xxxxxx
Daftar ini bisa bertambah atau berkurang sewaktu-waktu. Lihat daftar terkini di MTN-SMS.


Bagaimana cara penulisan (format) nomor HP yang benar?
Kode-Negara + Kode-Operator + Nomor HP
Contoh: pesawat HP di Indonesia dengan nomor 081-161-1234 dst-nya.
Format: +62811611234 (62=kode negara Indonesia;Hilangkan "0" dari nomor awal HP)


Kenapa SMS tidak sampai di tujuan, padahal ada tulisan "Pesan telah berhasil dikirim"?
Pesan tersebut harap diartikan sebagai: " SMS dari anda telah dikirimkan ke server MTNSMS". Dan biasanya akan disampaikan oleh fasilitas MTNSMS dalam waktu kurang dari 10 detik.

Bisa mengirimkan "GAMBAR" (image/photo) melalui SMS?
Tidak! SMS hanya bisa mengirimkan data karakter (Standard).

Bisa kirim pesan SMS SEKALIGUS ke beberapa nomor?
Tidak! Bila melalui fasilitas SMS InCari.com. Hanya satu nomor per sesi.
YA! Bila anda mendaftar di MTNSMS.COM. Sebagai anggota anda bisa bisa mengirimkan pesan ke beberapa penerima sekaligus.


Klik "kirim" dan layar menjadi kosong....?
Oops.... Ini akibat kecepatan akses yang lambat dari, antara lain:
- PC anda ke server InCari.
- Server InCari (USA) ke server MTNSMS (South-Africa).
Atau kesibukan (banyak pengguna) di salah satu server tersebut.
Dan berbagai faktor pengoperasian server/situs internet lainnya. :( 

Maksud "fasilitas SMS akan ditiadakan untuk umum"?
Bila terdapat pengguna fasilitas ini yang "nakal", mengirimkan pesan-pesan yang berkategori "fitnah, jorok, terror, bla3x..." dan seterusnya. Dan kami memiliki bukti/complain tentang pesan tersebut, maka dengan terpaksa, fasilitas ini akan ditiadakan.

Apakah pesan SMS saya dirahasiakan?
YA! Karena pesan SMS yang anda tuliskan tidak pernah dicatat. Namun kami menyimpan ID pesan tersebut yang terdiri dari jumlah karakter pesan, waktu pengiriman dan sebagainya, guna verifikasi, apabila ada complain.

Boleh minta program "fasilitas SMS" dari InCari ngak? :) 
He he... :)
Sabar, kami akan mempublikasikan program tersebut (Public-Domain) sesegera mungkin!

Apa hubungan antara InCari dan MTNSMS?
Tidak ada hubungan bisnis apapun. Hanya "membantu" mem-promosi-kan MTNSMS (gratis) dan menyediakan fasilitas SMS (juga gratis) buat pengunjung InCari. :)

Bila ternyata pertanyaan anda belum terjawab, silahkan sampaikan kepada kami di SINI.

 
 
 
 

--------------------------------------------------------------------------------
 
Tgl. 24-08-2001 23:38:39 WIB 
Search & Find All The Websites Related To Indonesia
Current entries [ Sites: 12407  Links: 14768 ]


--------------------------------------------------------------------------------
Cari Situs  |  Power Search  |  Meta Search  |  Free SMS  |  Saran/Tanya  |  Info Kami 

©2000-2001 InCari.com   Contact: Info@InCari.com 
================================================================================
http://bubu.com/kampus/juni99/wawancara.htm
S. Indro Tjahjono:

"Belum Tentu yang Modern Itu Pro-Lingkungan" 

MEMBICARAKAN soal lingkungan tak akan lepas dari manusia. Dengan kemampuan telesisnya, eksploitasi manusia terhadap alam bisa teramat kejam. Alam dikeruk karena dipercaya tak akan habis. Pohon-pohonnya ditebangi, lalu dibuat mulai dari papan plywood yang harganya mahal hingga tusuk gigi. Tanah-tanah dikeruk untuk diambil emas, perak, minyak dengan bayangan di depan mata betapa jumlah uang yang akan diraih. Keserakahan membelenggu manusia sehingga ia menjadi teramat konsumtif dan semakin tak tahan untuk tidak larut dalam modernitas yang ditawarkan lewat pembangunan. Lama-lama ia lupa diri. Untung saja, meski hanya satu-dua ada juga manusia yang ingin menyadarkan agar tak seluruh dunia tenggelam menjadi lupa diri untuk memeras habis bumi ini. Masih ada mereka yang secara langsung mengupayakan ada perbaikan keadaan dan dijalinnya lagi keintiman antara lingkungan dan manusia sehingga potret makrokosmos yang koyak itu bisa dipersatukan. Mereka ini yang mendorong agar masyarakat kembali mengingat masa-masa di mana tak sulit mendengar kicau burung, mandi segar di kali-kali yang bening, atau menghirup udara tanpa cemaran karbondioksida.

Salah satu tokoh lingkungan yang ditemui Damar Juniarto dan Lisabona Rahman di ruang kerjanya adalah S. Indro Tjahjono. Direktur Sekretariat Kerja Perlindungan Hutan Indonesia (SKEPHI) ini secara eksplisit menunjuk pada perlunya mengubah paradigma superioritas manusia pada alam dan agenda-agenda apa lagi yang penting untuk diketengahkan dalam konteks perlindungan lingkungan hidup di Indonesia. Demikian nukilan wawancara tersebut. 

Menurut Anda, siapa atau apa musuh besar lingkungan?

Sebenarnya musuh besar lingkungan itu pertama-tama adalah manusia, karena sekarang masih ada dikotomi ¡®kan antara manusia dan lingkungan. Di masa lalu, posisi manusia masih didokotomikan antara manusia dan lingkungannya, antara man and biosphere —manusia dan biosfernya, dan ada lagi yang terpenting yang sering terjadi adalah manusia ini posisinya masih mensubordinasi lingkungan. Selama paradigma ini masih hidup di masyarakat maka manusia dan lingkungan masih saling bermusuhan ya, dan sekarang itu masih terjadi. Praktik-praktik kita adalah meletakkan manusia dan lingkungan dalam posisi berseberangan. Diharapkan di masa yang akan datang, paradigma semacam ini harusnya diubah. Diubahnya ke mana? Yaitu ke arah pemahaman bahwa manusia dan lingkungan itu punya satu kepentingan, yaitu mensistem kehidupan. Kehidupan apa saja, baik itu kehidupan manusianya sendiri maupun kehidupan-kehidupan yang non-human, harus dalam posisi yang sejalan. Oleh karena itu kalau sebelumnya ada paradigma apa yang disebut "manusia dan lingkungan", ya, ecology and man atau man and ecology, terus kemarin sudah diubah menjadi human-ecology itu ya. Yang terakhir ini ..e¡¦ ada perubahan lagi bahwa manusia dan alam itu berada di dalam posisi yang setara di dalam melestarikan kehidupannya. Jadi ekologi yang baru itu bukanlah sustainable of production atau produksi yang berguna untuk manusia saja, tetapi sustainable of livelihood, mensistem kehidupan apa saja di dunia dan itu membutuhkan satu pemahaman bahwa kehidupan pada dasarnya membutuhkan satu biosfer.

Dapatkah ¡®manusia¡¯ itu didefinisikan secara lebih jelas?

Yang disebut ¡®manusia¡¯ di sini sebagai musuh dari alam sekarang ini adalah sistem-sistem yang di-create oleh manusia itu sendiri, adalah sistem-sistem produksi yang sekarang masih tidak mempertimbangkan lingkungan sebagai suatu faktor signifikan untuk dipertimbangkan di dalam sistem produksi manusia itu sendiri. Sistem ekonominya belum memasukkan faktor lingkungan dan belum dihitung, walaupun sebenarnya lingkungan itu bisa dihitung. Dengan ekonometri lingkungan bisa dihitung bahwa lingkungan itu punya hitungan ekonomi yang harus di-consider secara kuantitatif juga, di samping kualitatif. Itulah yang jadi persoalan sekarang. 

Kalau kita sudah bicara di sini bahwa untuk sementara sistem produksi sebagai musuh lingkungan, maka kita tak bisa mengelak dari peranan-peranan lembaga negara, perusahan-perusahaan, konsultan-konsultan pendukungnya yang pikiran-pikirannya masih menggunakan paradigma lama yang memusuhi lingkungan atau ia masih punya kepercayaan bahwa lingkungan ini tidak ada batasnya, bisa kita eksploitasi. Atau mereka masih berpikir bahwa lingkungan itu harus dikalahkan demi kepentingan manusia. Dalam kebijakan negara, kita masih mendengar bahwa orang Irian atau orang Mentawai itu adalah orang-orang tradisional yang masih belum pakai baju dan orang-orang itu harus dibawa ke lingkungan baru yang disebut modern. Jadi kalau pakai baju itu katanya ia sudah disebut modern, padahal belum tentu menggunakan baju atau menggunakan prasarana modern itu pro-lingkungan. Bisa jadi, itu malah anti-lingkungan. Pemahaman-pemahaman ini masih hidup ya. Dia pikir bahwa lingkungan itu adalah satu bentuk, bukan aneka bentuk. Satu bentuk itu apa, ya semua harus dimodernisir dengan satu pemahaman.

Dengan paradigma yang bagaimana "pemerkosaan" alam bisa dihentikan atau minimal dikurangi?

Pertama kalau kita lihat satu persoalan yang ada, kita harus membagi level-level atau tingkat-tingkat dari permasalahan ini. Pada tingkat atas, itu ada paradigma atau ideologi. Pada level kedua, ada yang disebut political will. Level ketiga apa yang disebut policy. Keempat apa yang disebut regulation and law —undang-undang dan peraturan. Level di bawahnya adalah manajemen. Yang paling bawah adalah technical level. Kalau itu paradigma lama harus dihilangkan, semua level ini harus mencerminkan perubahan paradigma lingkungan, maka harus diturunkan pada level political will-nya yang harus sesuai dengan paradigma tadi. Di bawahnya ada policy, harus sesuai dengan political will. Jadi ada suatu emanasi namanya, emanasi yang konsisten dari paradigma sampai level teknis untuk mengacu pada lingkungan. Oleh karena itu kalau semua level ini diperhatikan, pendekatan itu menjadi pendekatan holistik. Dengan perkataan lain, untuk menghilangkan pertentangan antara alam dan manusia tadi diperlukan satu solusi yang holistik dan sistematik juga terpadu. Jadi itu semua yang harus dilakukan. 

Sekarang ini ¡®kan tidak begitu. Kalau kita mengubah kebijakan-kebijakan di lingkungan, paling banyak hanya terjadi di tingkat manajemen. Misalnya di Departemen Kehutanan sering dibicarakan sustainable forest management, nah itu menurut saya nggak cukup. Kalau perubahan itu di level manajemen, sedangkan di level di atasnya, yakni level undang-undang, policy, political will, dan paradigma nggak ada perubahan, itu nonsens. Karena pertanyaannya kalau ada manajemen seperti itu, manajemen itu didasarkan pada apa? ¡®Kan manajemen seperti itu harus dibongkar siapa aktornya. Kalau aktor ¡®kan dia punya pendekatan, punya mind. Manajer-manajer atau aktor itu harus dibongkar dulu. Dia me-manage lingkungan itu berdasarkan apa, (itu) harus jelas.

Mengapa baru sekarang muncul paradigma yang menyamakan manusia dan alam?

Paradigma ini bukan sesuatu yang baru. Dulu juga ada paradigma yang demikian.

Maksudnya seperti kesepakatan makrokosmos, semisal "manunggaling kawulo-gusti" dalam masyarakat Jawa atau "yin-yang" dalam masyarakat Cina?

Ya, itu sebenarnya yang mau saya jelaskan. Pemahaman-pemahaman demikian tanpa kita gali dari ilmu pengetahuan Barat, sebenarnya di sini sudah banyak. Di Barat sendiri, kalau kita telusuri bahwa pemahaman itu sudah ada dalam satu tahapan sejarah mereka. Jadi nggak usah diragukan lagi. Dahulu juga ada pengertian makrokosmos, yin-yang, dan macam-macam. Hanya ke depan dalam masa produksi dipertanyakan kenapa sih lingkungan kok harus mendikte manusia, manusia itu punya kesadaran yang berlebih. Bahkan agama sering dimanipulasi untuk mengatakan manusia ini adalah khalifah dan membenarkan sistem dalam kehidupan yang didominasi manusia. Padahal kalau dari sudut pandang agama sendiri hal itu bisa dipandang dari segi lain, yakni Tuhan tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga mahluk hidup lain, bahkan juga ada iblis, malaikat. Ada banyak yang harus dihargai.

Lalu, mengapa baru sekarang?

Karena kerusakan alam itu ternyata harus dibenahi dari akar-akarnya secara radikal dari pemahaman manusia terhadap alam. Kesalahannya bukan di level manajemen, tetapi di pemahamannya. Di dalam dinamika atau revolusi-revolusi pengetahuan manusia tentang alam itu sekarang sedang tren mengarah ke sana: untuk mengembalikan manusia sejajar dengan alam dan tidak lagi human-dominated. Pemahaman yang lama telah mempunyai dampak yang luas. Ini ada ilmunya, dan kalau kita ingin melihatnya, ada orang-orang yang mengerti dan mau membantu.

Apakah negara kita sudah cukup mengambil peranan untuk mengurangi "pemerkosaan" alam ini?

Ya, belum. Perubahan-perubahan itu bisa terjadi sebenarnya tidak hanya struktur secara nasional yang direformasi, tetapi struktur globalnya juga. Karena apa? Pemahaman-pemahaman itu bukan fenomena nasional kok, tapi universal. Selama Indonesia masih tertindas oleh negara-negara kapitalis, negara-negara utara dan belum ada tata dunia baru yang lebih adil, maka pendekatan kita ini juga masih dijajah oleh negara-negara yang masih menggunakan pendekatan eksploitatif terhadap alam. Ini merupakan persoalan makro. 

Kalau mau mengubah ini, Indonesia minimal harus punya political will yang kuat untuk melawan. Dengan kepercayaan yang baru ini, seperti di Myanmar dan Kamboja, mereka bisa melawan komersialisasi kayu di sungai Mekong. Pemerintah di Kamboja berani untuk mengatakan bahwa kita jangan mengekploitasi alam sebanyak mungkin.

Sustainable development yang berlaku di Indonesia masih bernuansa human-dominated. Karena kalau pembangunan yang di-sustain seperti sekarang ini, maka korban-korbannya banyak sekali ¡®kan. Contohnya ikan-ikan endemik, burung-burung endemik, tanaman-tanaman endemik mati. Ini karena kita menggunakan paradigma yang keliru, yakni sustainable development dan sustainable of product. Ini harus dirombak ke sustainable of livelihood.

Tetapi bukankah perombakan ke arah sana teramat sulit, mengingat isu lingkungan bukanlah sesuatu yang primadona dalam dunia perpolitikan di Indonesia? Bisakah Anda jelaskan mengapa?

Ya, benar. Tadi sudah saya sebutkan salah satu sebabnya, yakni struktur dunia yang tidak adil. Struktur ini membuat kita tertindas atau tertekan, sehingga Indonesia tunduk atas pendekatan atau paradigma orang-orang Barat. Lalu sebab-sebab apa yang terjadi di tingkat nasional? Saya selalu melihat kebijakan apa pun di tingkat nasional mengenai lingkungan merupakan dampak internasional. Karena selama struktur negara Utara-Selatan itu masih ada dan negara Selatan selalu dijadikan obyek hutang-piutang. Selama kita harus berhutang banyak ke negara Utara, maka kondisi lingkungan kita masih dikorbankan seperti ini. Misalnya Soeharto pada tahun 1971 berani mengatakan, "Jangan takut kita berutang ke negara Utara, karena hutan kita masih banyak untuk membayar hutang." Celaka itu. Jadi kalau ingin mengubahnya, maka perlu suatu kemauan politik yang besar untuk meretas struktur global yang berpengaruh ke struktur nasional. Minimal seperti Mahathir —itu minimal! Ini perlu untuk menunjukkan bahwa Indonesia masih punya kedaulatan politik untuk ngomong kita juga punya kepercayaan atau keyakinan pembangunan kita sendiri. Untuk mampu menolak hutang-hutang yang selalu ditawarkan IMF dengan menyogok atau menjalin hubungan yang korup dengan pejabat-pejabat. Jadi prinsip dasarnya, negara harus memiliki kedaulatan untuk menolak apa yang ditawarkan negara Utara. Kedaulatan itu akan tercipta kalau negara itu didukung baik oleh masyarakat. Hubungan internal antara negara dan masyarakat akan menciptakan hubungan yang solid untuk melawan kekuatan-kekuatan yang menindas. Itu yang penting dan bisa dilakukan kalau mau. Tapi kalau kehidupan politik internal juga nggak beres, intervensi struktur dunia yang nggak adil itu akan dahsyat ya. 

Selain struktur dunia yang tak adil itu, apakah di tingkat lokal masih ada potensi yang merusak kondisi lingkungan di Indonesia? Bukankah masyarakat kita juga terbius untuk mengeksploitasi alam?

Itu saya setuju. Struktur penindasan seperti yang dipikir oleh Johan Galtung menyebutkan bahwa struktur penindasan itu selalu antara pusat dan periferi. Periferi di sini di dalamnya ada lagi pusat-pinggiran pusat-pinggiran. Camat merupakan bagian dari pusat, pinggirannya lurah. Lurah merupakan pusat di desa, pinggirannya adalah kroni lurah. Jadi struktur dunia yang tidak adil itu bermula dari Washington D.C. sampai ke desa paling terpencil di Irian. Ini hanya bisa dihilangkan kalau negara ini mengembangkan kedaulatan sendiri untuk melawannya. Kalau itu gagal, maka habislah kita. Nah, kalau ada orang berteriak mengenai globalisasi, bukankah selama ini orang selalu beranggapan "wah, bagus ini ada globalisasi". Selama ini, kita sudah dicekoki begini ¡®kan. Globalisasi ini harus kita sadari sebagai ancaman. Jadi respon kita terhadap globalisasi, hargai kedaulatan kita. Jadi kita harus menciptakan kekuatan nasional untuk mencegah globalisasi. Jangan malah senang-senang karena globalisasi. Ini suatu hal penting di masa sekarang. 

Apa kritik Anda sendiri terhadap kebijakan-kebijakan lingkungan di Indonesia selama ini?

Yang harus dikritik adalah kebijakan-kebijakan yang memihak kepada kepentingan pengusaha, dan yang paling harus dikritik adalah kebijakan yang berpihak kepada TNC (Trans-National Coorporation) dan MNC (Multi-National Coorporation). Misalnya adalah kebijakan terhadap Freeport sebagai contoh bagaimana pemerintah mengorbankan urusan-urusan lingkungan lokal untuk keuntungan-keuntungan perusahaan asing yang dibawa lari ke negaranya dan kita tidak tahu berapa sebenarnya kita dirugikan. Atau bagi hasil minyak, impor benih-benih dari luar seperti kedelai, eucaliptus yang membunuh benih-benih lokal. Coba saja hitung berapa spesies padi-padi lokal yang telah hilang karena kita pakai IR, ICTW yang semuanya diimpor dari luar. Kacang panjang kita ini dulunya enak, karena ada rasa manisnya. Tetapi sekarang ini, kacang panjang yang dijual di supermarket, rasanya seperti karet dan berkulit tipis. Ini yang harus ditentang karena hanya menguntungkan perusahaan saja tanpa menguntungkan lingkungan atau habitat itu.

Seandainya Anda diminta untuk memprioritaskan perbaikan lingkungan, program-program apa yang akan dilakukan pertama kali?

Yang pertama, saya akan mendesain kebijakan yang sifatnya terpadu di semua sektor. Kedua, mengembangkan paradigma pembangunan yang benar. Atau malah jangan menggunakan istilah pembangunan, tapi diganti dengan paradigma perubahan masyarakat atau transformasi sosial. Itu harus dibangun, termasuk antara lain membenahi pemahaman terhadap alam yang lebih setara. Kalau ini telah dibangun, tentunya secara partisipatif, barulah kita boleh menyusun policy-nya bagaimana, manajemen lingkungannya bagaimana. Semua pengisian level-level ini harus melibatkan masyakarat, harus partisipatif, harus emansipatif. Kalau paradigmanya sudah begitu, saya harapkan turunan-turunannya itu betul sampai ke level teknis. Itu bisa terjadi, hingga kita secara teknis tidak menggunakan alat-alat yang merusak lingkungan. Seperti di Cina, kalau menggunakan pacul masih bisa, mengapa harus menggunakan buldoser yang merusak top-soil lebih cepat. Kalau menggunakan sapi masih bisa mengapa harus pakai traktor. Itu yang diharapkan, yakni berpikir secara jernih dan berdaulat. Bukankah negara itu harus berdaulat? Kalau nggak ada, kita akan jadi negara bebek. 

Seperti negara lain, Indonesia juga punya aktivis-aktivis lingkungan. Sebenarnya sudah sejauhmana keberhasilan yang sudah diraih? Apa pula ukuran-ukuran keberhasilannya?

Pertama kalau ukuran keberhasilannya itu adalah sejauhmana kita berhasil menyadarkan masyarakat atau menerapkan pemahaman bahwa manusia dan alam itu berada dalam posisi sejajar, dan sejauhmana kita sudah mentransform struktur-struktur kita sehingga bisa menjamin alam itu tetap lestari, hasilnya nol. Kita malahan involutif, mundur. Pemahaman-pemahaman di Indonesia sudah terkontaminasi oleh paham-paham kapitalisme sehingga alam itu sudah ditundukkan oleh manusia. Sekarang pemikiran bahwa ada supremasi manusia terhadap alam belum berubah, dan ini tugas aktivis lingkungan. Jangan jadi perajin-perajin yang ngurusin produk-produk, label hijau, label lingkungan. Tidak juga ngurusin bagaimana menghilangkan polusi, padahal akar-akar polusi itu sebenarnya yang harus disadarkan. Nah ini, aktivis-aktivis lingkungan kita ¡®kan sebenarnya perajin lingkungan yang sudah tak mau tahu paradigma lingkungan. Ia sudah menjadi mahluk yang diperalat sistem kapitalis. Bahkan ketika kita ngomong bahwa revolusi hijau sangat berpengaruh dalam pembantaian endemik, mereka malah menghajar kita dengan "oh, kamu kuno, mundur, orang-orang purba. Revolusi genetika itu tak bisa ditahan lagi." Lha, ini ¡®kan berarti aktivis-aktivis lingkungan di Indonesia itu levelnya masih kaget melihat kemajuan. 

Kalau upaya daur-ulang itu apakah juga sekedar kerajinan?

Ini yang saya maksud dengan mengatakan kebanyakan masih banyak aktivis jadi perajin lingkungan yang sekedar mengkampanyekan daur-ulang. Padahal dari hasil studi Greenpeace, justru daur-ulang plastik malah meningkatkan produksi plastik, bukan malah mengurangi. Karena ongkos produksi daur-ulang lebih mahal daripada kita memproses dari bahan mentahnya. Menjadi aktivis lingkungan itu bukan mengurus daur-ulang, soal-soal genetik yang memperburuk lingkungan itu juga harus dilawan. Kita itu masih levelnya recyling, degradable atau tidak, padahal kalau mode of production-nya masih bertentangan dengan pemahaman yang pro-lingkungan, itu harus kita hajar juga. 

SKEPHI salah satu dari 13 penandatangan penuntutan pengunduran diri Menneg LH Panagian Siregar. Apa sebenarnya masalah di balik tuntutan ini?

Kalau SKEPHI itu ikut menandatangani tuntutan terhadap menteri agar tidak menjabat karena kita melihat bahwa penunjukkan si Panangian itu tidak demokratis. Pemerintahan transisi ini sebenarnya juga tidak demokratis. Harusnya tidak transisi karena transisi itu harus ditentukan oleh rakyat. Kedua, ingin kita tunjukkan bahwa kelestarian lingkungan ini bisa kita capai kalau ada iklim demokrasi juga di dalam masyarakat karena antara politik dan ekologi tidak bisa dipisahkan. Ini merupakan satu kesatuan yang menunjang. Kalau misalnya aspek demokrasi ini tidak ada di dalam sistem politik kita, dalam sistem kemasyarakatan kita untuk menentukan Baku Mutu Lingkungan Hidup (BMLH) didominasi oleh penguasa untuk kepentingan penguasa. Demokrasi itu ¡®kan pentingnya di sana, untuk menentukan tolok-ukur lingkungan di tingkat lokal. 

Apakah pemerintahan di masa depan hasil Pemilu 1999 bisa memasukkan aspek demokrasi ke dalam penentuan kebijakan lingkungan?

Belum. Karena yang sekarang ini ¡®kan tiap Maghrib bisa saja berdiri satu partai. Jelas tak bisa diharapkan. Apalagi pendirian yang asal-asalan ini coba disurvei untuk mengetahui apakah ada misi lingkungan atau tidak. Lha, boro-boro isu lingkungan hidup itu ada, jangan-jangan ideologinya saja lupa. Jangan-jangan yang bodoh itu LSM yang mensurvei. ¡®Kan repot kalau begini.***
================================================================================
percakapan Sehari-hari

kring .. kring weker nyaring berbunyi
adi dan nina bangun dari mimpi
rupanya hari sudah pagi 
membereskan tempat tidur sampai rapi  
Jam setengah enam, Adi dan Nina bangun pagi kemudian memperbaiki tempat tidur masing-masing hingga rapi
mandi pagi sungguh menyegarkan
menyikat gigi tak ketinggalan
segera mereka berganti pakaian
kebersihan pangkal kesehatan  
Jam enam kurang seperempat, mereka mandi dan menggosok gigi. 
pukul enam mereka telah siap
ayah ibu menanti untuk bersantap
nasi, ikan dan sayur sungguh sedap
sekeluarga makan dengan lahap
Jam enam mereka sekeluarga sarapan.
mobil jemputan telah tiba
adi dan nina pamit pada orang tuanya
berpakaian seragam ke sekolah bersama-sama
Jam setengah tujuh, adi dan nina berangkat ke sekolah.
lonceng sekolah telah berbunyi
tanda belajar segera dimulai
ibu guru siap menanti
para murid berbaris rapi 
Jam tujuh,  murid-murid berbaris masuk ke dalam kelas untuk belajar. 
soal matematika ditanyakan
siapa dapat menyelesaikan
lihat, adi siap memberi jawaban 
Jam delapan, adi belajar matematika. 
Waktu istirahat telah tiba.
Anak-anak bersorak gembira.
Bersuka ria bermain bersama
Dengan teman-teman sebaya 
Jam setengah sembilan, waktu istirahat dimulai, murid-murid bermain bersama.
jam sepuluh lonceng berbunyi
tanda sekolah telah usai
anak-anak berbenah diri
mobil jemputan telah menanti. 

Jam sepuluh, sekolah selesai. Adi dan nina pulang ke rumah naik mobil jemputan
tak lama mereka pun sampailah
disambut ibu di depan rumah
tak lupa menyimpan tas sekolah
mereka segera berganti pakaian rumah 
Jam setengah sebelas, mereka sampai di rumah dan langsung berganti pakaian
ibu memasak di dapur
membuat lauk dan sayur
adi dan nina ikut berbaur
bertiga sibuk di dapur 
Jam sebelas, adi dan nina membantu ibu di dapur. 
jam setengah satu ayah tiba
bergembira mereka makan sekeluarga
melahap masakan ibu tanpa tersisa 
Jam setengah satu, mereka makan siang bersama ibu dan ayah.  
lihat mereka bermain bersama
dengan teman-teman bergembira ria
membuat rumah dan gapura
adi membangun sebuah menara 
Jam satu, adi dan nina bermain bersama teman . 
saat tidur siang tiba
mereka merapikan mainannya
mengikuti nasihat orang tua
istirahat siang tak boleh lupa 
Jam setengah dua, mereka tidur siang. 
bangun tidur terasa nyaman
kembali bergabung dengan teman-teman
naik sepeda dan mobil-mobilan
bergembira di halaman depan 
Jam empat, adi dan nina bergabung kembali dengan teman-teman untuk bermain. 
jam setengah lima mereka mandi
membersihkan badan dari daki
menyabun tangan dan kaki
seluruh bandan, agar bersih dan wangi 
Jam setengah lima, adi dan nina mandi sore. 
pekerjaan rumah segera dibuat
dikerjakan dengan teliti dan cermat
adi dan nina belajar dengan giat 
Jam lima, mereka mengerjakan pekerjaan rumah.
selesai belajar, tiba saat santai
menonton televisi beramai-ramai
filmnya lucu, mereka tertawa berderai 
Jam setengah enam, adi dan nina menonton televisi dengan kawan.
pukul tujuh ibu memanggil mereka 
waktu makan malam telah tiba
lauk dan sayur telah tersedia di meja 
Jam tujuh, mereka makan malam sekeluarga. 
gosok gigi jangan lupa
bersihkan makanan yang tersisa
menjaga gigi sehat senantiasa
putih bersih, terawat selalu 
Jam setengah delapan, adi dan nina menggosok gigi. 
neng..neng.. lonceng berbunyi
satu, dua .. delapan kali
ayah ibu mengantar nina dan adi
masuk kamar, tidur nyenyak hingga pagi 
Jam delapan, adi dan nina pergi tidur. 
================================================================================


 . 

. 

 

 
 

























Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!