¾Æ·¡ÀÇ µÎ°³Á¦¸ñÁß¿¡¼­ ÀÚ±âÀÇ ¹ø¿ª´É·ÂÀÌµÈ´Ù°í »ý°¢µÇ´Â ¹®ÀåÀ» Á¦¸ñ1¿¡¼­ Çϳª,
±×¸®°í Á¦¸ñ2¿¡¼­µµ Çϳª¸¦ °ñ¶ó ¹ø¿ªÇغ¸½Ã¿À. 


                     Á¦¸ñ 1: Berkaca pada Negeri Kangguru 

1.Pelestarian dan menjaga kebersihan lingkungan berawal dari kebiasaan. Semua orang tahu itu. Namun untuk menjalaninya ternyata amat sulit, walau bukan sebuah kemustahilan.

2.Seorang pria wisatawan asal Hongkong berdebat dengan dua perempuan "bule" di Pantai Bondi, Sydney. Si wisatawan bersikeras "menahan" dalam bejana plastik seekor kepiting kecil hasil tangkapan anaknya, sementara kedua perempuan itu mendesak agar si kepiting dilepaskan.

3."Biar saja, Maam, ini hasil tangkapan anak saya. Dia senang sekali mendapat mainan baru," kata si pria.

4."Tapi ini bukan mainan. Ini makhluk hidup. Anda tak berhak menahan dia karena tak bisa menyediakan habitatnya. Kalau Anda bawa pergi, nanti kepiting ini akan mati," si perempuan kulit putih ngotot.

5.Perdebatan tak terselesaikan. Si laki-laki tetap bertahan, sementara kedua perempuan itu tak berhasil mempengaruhi keputusan. Akhirnya, sambil menggerutu, mereka pergi dengan ekspresi dongkol campur sedih.

6.Masalahnya mungkin bukan soal ada atau tidak ada larangan untuk mengganggu, mencederai, atau mengambil setiap makhluk hidup dari pantai itu. Tapi ketiadaan titik temu karena dilandasi perbedaan cara berpikir, barangkali pula karena kebiasaan. Yang satu menganggap tidak apa-apa mengambil "hanya" seekor kepiting, sementara pihak lain punya kesadaran ekologis tanpa harus menjadi penegak kebersihan atau pelestari lingkungan. 

7.Tidak cuma saya, orang lain juga

8.Di banyak negara maju, koreksi kedua perempuan itu bukan hal yang mengada-ada. Sementara kita di sini biasa mendapati tempat wisata yang kotor, bau, atau ekologinya rusak. Tempat yang indah dan terawat barangkali justru mengherankan.

9.Di pantai kecil yang menjadi kebanggaan warga Kota Sydney itu, misalnya, sampah dan kotoran sulit ditemui bahkan pada masa liburan ketika para wisatawan tumplek-blek menyerupai cendol. Selain petugas kebersihan bergaji A $ 19 (hampir Rp 100.000,-) per jam sesekali lewat sambil bawa kantong plastik untuk memunguti sampah, kesadaran masyarakat atas kebersihan memang merata.

10.Adalah pemandangan biasa, misalnya, orang yang joging atau berjalan menyusuri pantai memungut entah gelas plastik, karton tempat makanan, tempat rokok, atau sandal jepit buangan, lantas memindahkannya ke tempat sampah. Tak ada rasa rikuh, malu, apalagi terhina. Malah sebaliknya, perbuatan itu merupakan contoh nyata bagi anak-anak dan orang lain yang mau "coba-coba" meninggalkan kotoran. Betapa "orang biasa", bukan petugas kebersihan atau pelestari lingkungan, mudah tergerak untuk menjaga kebersihan dan merawat lingkungan.

11.Di banyak tempat wisata di negara kita, kesadaran untuk merawat dan menjaga kebersihan bukannya tidak ada. Tetapi orang-orang dengan kesadaran semacam itu kalah pengaruhnya dibandingkan dengan mereka yang sedikit atau bahkan tak punya kepedulian. Setiap jalur pendakian di wisata pegunungan, misalnya, hampir selalu kotor oleh tebaran sampah. Pantai pun menderita pengotoran sejak air berada di sungai. Orang bukannya memulai kebersihan dari diri sendiri, namun malah berpikir sebaliknya: tidak cuma saya yang mengotori, orang lain juga. Atau pembelaan diri semacam ini: "Ah tidak apa-apa, cuma puntung rokok yang menyisip di antara semak-semak." 

12.Tidak cuma memiliki, tetapi juga membutuhkan

13.Seorang pemerhati masalah sosial di Jakarta pernah menyatakan, rasa memiliki (sense of belonging) rata-rata masyarakat kita rendah. Pendapat yang agak menyinggung perasaan, namun sulit untuk dibantah rupanya. Kita tahu banyak fasilitas umum yang rusak sebelum waktunya, juga perlengkapan dan sarana perkotaan yang tak lagi bisa difungsikan atau bahkan hilang. Melihat banyaknya telepon umum yang rusak, atau cepatnya penurunan kualitas gerbong kereta api padahal belum lama diresmikan, seorang teman sejak akhir 1970-an telah menyimpulkan, "Masyarakat kita, kalau punya barang bagus cepat rusak; sedangkan kalau barang bekas justru awet."

14.Di negara maju, kerusakan ?bahkan perusakan - sarana umum bukannya tidak ada. Tapi tingkat dan jumlahnya relatif rendah. Kembali berkaca dari Taman Victoria di Sydney, misalnya, mudah ditemui keadaan yang bertolak-belakang dengan rata-rata taman kota kita.

15.Selain dibiayai dengan anggaran memadai yang diambilkan dari uang pajak, rasa memiliki masyarakat pun sangat kelihatan. "Karena setiap saat membutuhkan tempat ini, kami jadi punya kewajiban untuk menjaganya. Tak ada alasan untuk merusak atau mengotori, karena kami juga yang menikmati keindahannya," kata Taufik, mahasiswa asal Indonesia di Universitas Sydney yang kampusnya tak jauh dari taman itu.

16.Di tempat itu toilet umum dengan kualitas standar mudah ditemukan. Tempat sampah pun tersebar, bahkan ada satu-dua yang memisahkan jenis sampah basah dan kering untuk didaur ulang. Malah pernah terjadi, seorang lelaki yang sedang berjalan-jalan dengan anjingnya merapikan patahan pagar besi yang melintang mengalangi lajur pejalan kaki. Ada pula perempuan setengah baya yang sebelum menghabiskan waktu untuk membaca di taman itu, menyempatkan diri mengambili ranting-ranting dahan kering yang berserakan dan menumpuknya di dekat tempat sampah. Taufik berkomentar,

17."Di negara kita bisa jadi barang itu dibiarkan berserakan. Orang tak merasa bertanggung jawab, menyerahkan sepenuhnya kepada petugas kebersihan yang belum tentu tergerak untuk membereskan hal yang bukan tanggung jawabnya." 

                  Á¦¸ñ 2:  Mengurangi konsumsi rokok

100.Telah lama pemerintah Australia memberlakukan larangan merokok di tempat umum tertutup. Sedangkan larangan merokok di restoran baru diberlakukan dua tahun belakangan. Memang ada toleransi di beberapa bar atau kafe, atau pengelola tempat itu yang menyiasati peraturan dengan menyediakan meja di luar ruangan, terkadang sampai di kaki lima.

101.Pajak rokok naik dari hari ke hari, sehingga sampai tahun ini harga sebungkus rokok lokal berisi 25 batang mencapai A $ 7 ?8 (sekitar Rp 40.000,-). Di bandara domestik tak tersedia tempat khusus untuk merokok, sementara di bandara internasional hanya satu tempat kecil yang letaknya "jauh dari mana-mana". Lembaga antikanker semacam Heart Council agresif berkampanye antirokok. Di sisi lain, kontrol terhadap emisi gas buang kendaraan juga cukup ketat, terbukti dengan penggunaan bus "ramah lingkungan" yang melayani para penonton olimpiade September ?Oktober tahun lalu.

102.Kampanye individual juga ada. Malah terkesan unik caranya. Di kawasan ramai sesekali ada orang, entah perempuan atau lelaki setengah baya, yang meminta rokok dari para perokok. Ia mengucapkan terima kasih dan langsung pergi setelah diberi satu batang, tanpa menyambut tawaran api si pemberi. Sesampai di tempat yang tidak terjangkau pengamatan pemberi, ia mematahkan rokok itu dan membuangnya ke tempat sampah. Relawan sosial semacam itu rupanya menganut pemahaman, dengan meminta satu batang dari setiap perokok, ia telah berperan dalam penurunan konsumsi rokok. 

103.Justru bisa dilakukan oleh lebih banyak orang

104.Ternyata tak cuma asap rokok dan asap knalpot kendaraan yang "dimusuhi". Hampir setiap warga tahu larangan membakar sembarangan. Sehingga tiap kali ditemui sempalan dahan kering teronggok di sudut halaman rumah, pemilik tak bisa membakar begitu saja atau memotongnya kecil-kecil lantas dibuang bersama dengan sampah rumah tangga. Perlu usaha lebih untuk membawanya ke suatu tempat untuk dihancurkan petugas dewan kota.

105.Soal sampah rumah tangga, telah lama pula orang mengenal pemisahan jenis yang membedakan pula tempatnya. Satu untuk sampah basah, dan satu lagi untuk sampah kering siap didaur ulang. Sekali seminggu petugas bergaji A $ 23 (hampir Rp 120 ribu) per jam mengemudikan truk sampah berlengan mekanis untuk mengangkat tong plastik dan menumpahkan sampah ke dalamnya.

106."Kalau ada kesengajaan memasukkan sampah yang bukan jenisnya, si petugas tahu karena di dalam truk ada kamera untuk mengamati sampah sebelum digiling. Akibatnya, minggu depan kami kena teguran atau didenda," kata Jeffrey Hasan, orang Indonesia yang tinggal di Campbelltown, kawasan pinggiran Sydney, yang telah 18 tahun menetap di Australia.

107.Memang tidak cocok membandingkan cara penanganan sampah di tempat kita dengan negara semaju Australia. Tapi kesadaran menjaga kebersihan dan semangat memelihara lingkungan tidak harus berpatokan pada perbandingan itu.

108.Bagaimana dengan perbedaan kemakmuran? Mungkin ya. Negara makmur punya sumber dana untuk merawat dan menjaga kebersihan. Bagaimana pula dengan jumlah penduduk? Bukankah beban lingkungan akan besar jika kepadatan penduduknya tinggi? Mungkin pula jawabannya ya. Tapi Ken Maynand, staf di Fairfield City Council, wilayah pemerintahan di pinggiran Sydney, punya argumentasi, "Justru dengan penduduk yang banyak, upaya kebersihan bisa dilakukan bersama-sama oleh banyak orang. Kotoran lebih banyak, tapi yang membersihkan juga banyak. Jadi klop, kan?"

109.Maynand pasti tidak mengerti, orang banyak yang dia maksudkan itu sangat sulit bersatu dalam kebersamaan. Apalagi dimobilisasi dalam hal kebersihan. (SL)

-tmt- 
 
 


 
 




















Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!