http://www.angelfire.com/nm/singmabuin/1-1/munbeb 
½Ì¸¶ºÎÀÎÇаú
2001³â
drkangÀÇ 1Çгâ1Çбâ°ú¸ñ:
°¢Á¾Àδϳ뷡µébengawan solo
-------------------------------------------------------
HALO-HALO BANDUNG

-------------------------------------------------------
halo-halo bandung 
ibukota periangan 
halo-halo bandung 
kota kenang-kenangan 

sudah lama beta 
tidak berjumpa dengan kau 
sekarang telah menjadi lautan api 
mari bung rebut kembali 
-------------------------------------------------------
BENGAWAN SOLO

-------------------------------------------------------
bengawan solo, riwayatmu ini 
sedari dulu jadi perhatian insani 
musim kemarau, tak seberapa airmu 
di musim hujan air meluap sampai jauh ... 
mata airmu dari solo 
terkurung gunung seribu 
air mengalir sampai jauh 
akhirnya ke laut ... 

itu perahu, riwayatmu dulu 
kaum pedagang s'lalu naik itu perahu 
-------------------------------------------------------

2001³â1Çгâ1Çб⸶Àι®¹ý°­Àǰèȹ¼­:
1.Tujuan: Kursus ini bertujuan untuk memperkenalkan tatabahasa Bahasa Melayu kepada pelajar-pelajar Tahun Satu.
2.Matlamat: Supaya setiap satu orang pelajar boleh memahami penggunaan tatabahasa di dalam kalimat-kalimat bahasa melayu-indonesia.
3.Cara Pembimbingan: cara yang tanya-jawab tentang tatabahasa bahasa melayu-indonesia
4.Buku Teks dan Rujukan:
1.Boboµ¿È­Áý
2.kesumawijayaÀÇ µ¿È­µé
3.ºñ±â´×Àεµ³×½Ã¾È
4.È£Áֱ׸®ÇÁ¶ßÓÞÀδϹ®¹ý
5.ÄýÁî·£µåÓÞÀδϾÁ¦Áý
6.°£·«ÇÑÀδϾî¼Ò°³
7.¸»·¹À̾¹ý´ë°è
8.¸»·¹À̹®¹ýÃÑ·Ð
9.¸»·¹À̹®¹ý
10.ZABA¹®¹ý
11.USM¹®¹ý
12.UMÂ¥À§°­ÁÂ
12.BMelayu?BM'sia?
5.Ujian dan Tugas Pelajaran: tidak ada ujian pertengahan atau akhir semester,melainkan ada ujian yang diadakan dari semasa ke semasa.        
kalau sesuatu tugas pelajaran diberi maka setiap satu pelajar harus membuatnya.
6.Cara Penilaian: 
markah hadir=10
markah report=10
markah Maret=20
markah April=20
markah Mei=20
markah Jun=20
-----------------
jumlah    =100

*setiap bulan pelajar harus memperlihatkan perkembangan yang sudah dipelajarinya di kamar penyelidikan profesor yang membimbing kursus ini.Dengan demikian pelajar boleh mendapat markah bulanan sebanyak 20 untuk setiap bulan.
7.Buku Rujukan Tambahan: sama dengan buku rujukan yang tersebut di atas.
8.Hal-ehwal yang diperhatikan: sistem pendapatan markahnya agak berbeda dengan kursus lain,jadi pelajar harus memperhatikan sarat-sarat tersebut di atas.
-------------------------------------------------------
======================================================= ½ÅÀÔ»ýµé:
  1. Go Na-young 019.661.3548 35free
  2. Koo Ja-Kweon 011.9505.1455 hkkjk
  3. Kim Na-rae 019.296.6945 maorijok
  4. Kim Bo-mi 512.9952 bomingi
  5. Kim Bong-kyong 016.846.0279 0168460279
  6. Kim Yang-hwa 016.9662.2301 white1641
  7. Kim Young-suk 011.9314.3252 nick-ys
  8. Kim young-jun 016.607.1626
  9. Kim Yo-seob 011.9305.4711 cheery2004
  10. Kim Eun-kyong 016.586.9912 maya9912
  11. Kim Eun-hee 016.863.1882 cie1282
  12. Kim Cho-long 011.9326.2569 skyblue067
  13. Kim Tae-eup 011.847.5021 taeep
  14. Kim Hee-yun 018.674.0125 fdhyjn
  15. No Ji-young 019.645.2823 goong
  16. Ryu Hyon-jong 018.675.8155 inter586
  17. Moon Na-young 011.859.6937 moona81
  18. Park Jung-wook 017.876.9995 pjw923
  19. Park Ji-young 019.591.0336 uni0007
  20. Park Hyang-mi 011.588.5175 grey82
  21. Suk Yong-jun 016.9677.6902 moli82
  22. Ahn Dae-sung 019.9209.1233
  23. An Og-yeon 011.9327.3690 lovingyou
  24. Ahn Hyun-jin 016.684.4654 blackbear3123
  25. You Jung-young 016.352.6566 purity-cygnus
  26. Youn Sung-jean 017.744.9113
  27. Lee Sang-jun 017.542.6657 jj138
  28. Lee Yu-jung 018.760.4018 liebe45
  29. Lee Ju-hyun 018.683.9173 sancity
  30. Jung Eun-jung 011.882.9281
  31. Jung Jeong-kyung 011.9310.7672 turtle06
  32. Jung Chang-mo 019.547.1187 saga008
  33. Choi Hyung-sok 017.549.2947 zzangdol2947
  34. Choi Hye-jin 011.9530.3068 246.4260
  35. zpackho Han Eun-ju 018.525.9240
  36. Hu Nam-joo 011.801.0371 juya0371
  37. Heo Yoo-jung 011.9507.7826
  38. Hong Jun-ho 016.683.5975 un927
  39. Hwang Yo-han 011.877.4914 yohani__
======================================================= Bulan Maret: Anak Rajin dan Pohon Pengetahuan Oleh: Glory Gracia Chirstabelle (Bobo No. 29/XXVIII) Pada suatu waktu, hiduplah seorang anak yang rajin belajar. Mogu namanya. Usianya 7 tahun. Sehari-hari ia berladang. Juga mencari kayu bakar di hutan. Hidupnya sebatang kara. Mogu amat rajin membaca. Semua buku habis dilahapnya. Ia rindu akan pengetahuan. Suatu hari ia tersesat di hutan. Hari sudah gelap. Akhirnya Mogu memutuskan untuk bermalam di hutan. Ia bersandar di pohon dan jatuh tertidur. Dalam tidurnya, samar-samar Mogu mendengar suara memanggilnya. Mula-mula ia berpikir itu hanya mimpi. Namun, di saat ia terbangun, suara itu masih memanggilnya. "Anak muda, bangunlah! Siapakah engkau? Mengapa kau ada disini?" Mogu amat bingung. Darimana suara itu berasal? Ia mencoba melihat ke sekeliling. "Aku disini. Aku pohon yang kau sandari!" ujar suara itu lagi. Seketika Mogu menengok. Alangkah terkejutnya ia! Pohon yang disandarinya ternyata memiliki wajah di batangnya. "Jangan takut! Aku bukan makhluk jahat. Aku Tule, pohon pengetahuan. Nah, perkenalkan dirimu," ujar pohon itu lagi lembut. "Aku Mogu. Pencari kayu bakar. Aku tersesat, jadi terpaksa bermalam disini," jawab Mogu takut-takut. "Nak, apakah kau tertarik pada ilmu pengetahuan? Apa kau bisa menyebutkan kegunaannya bagimu?" tanya pohon itu. "Oh, ya ya, aku sangat tertarik pada ilmu pengetahuan. Aku jadi tahu banyak hal. Aku tak mudah dibodohi dan pengetahuanku kelak akan sangat berguna bagi siapa saja. Sayangnya, sumber pengetahuan di desaku amat sedikit. Sedangkan kalau harus ke kota akan membutuhkan biaya yang besar. Aku ingin sekali menambah ilmuku tapi tak tahu bagaimana caranya." "Dengalah, Nak. Aku adalah pohon pengetahuan. Banyak sekali orang mencariku, namun tak berhasil menemukan. Hanya orang yang berjiwa bersih dan betul-betul haus akan pengetahuan yang dapat menemukanku. Kau telah lolos dari persyaratan itu. Aku akan mengajarimu berbagai pengetahuan. Bersediakah kau?" tanya si pohon lagi. Mendengar hal itu Mogu sangat girang. Sejak hari itu Mogu belajar pada pohon pengetahuan. Hari-hari berlalu dengan cepat. Mogu tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Pengetahuannya amat luas. Suatu hari pohon itu berkata, "Mogu, kini pergilah mengembara. Carilah pengalaman yang banyak. Gunakanlah pengetahuan yang kau miliki untuk membantumu. Jika ada kesulitan, kau boleh datang padaku." Mogu pun mengembara ke desa-desa. Ia memakai pengetahuannya untuk membantu orang. Memperbaiki irigasi, mengajar anak-anak membaca dan menulis... Akhirnya Mogu tiba di ibukota. Di sana ia mengikuti ujian negara. Mogu berhasil lulus dengan peringkat terbaik sepanjang abad. Raja amat kagum akan kepintarannya. Namun, ada pejabat lama yang iri terhadapnya. Pejabat Monda ini tidak senang Mogu mendapat perhatian lebih dari raja. Maka ia mencari siasat supaya Mogu tampak bodoh di hadapan raja. "Tuan, Mogu. Hari ini hamba ingin mengajukan pertanyaan. Anda harus dapat menjawabnya sekarang juga di hadapam Baginda," kata pejabat Monda. "Silakan Tuan Monda. Hamba mendengarakan," jawab Mogu. "Berapakah ukuran tinggi tubuhku?" tanyanya. "Kalau hamba tak salah, tinggi badan anda sama panjang dengan ujung jari anda yang kiri sampai ujung jari anda yang kanan bila dirintangkan," jawab Mogu tersenyum. Pejabat Monda dan raja tidak percaya. Mereka menyuruh seseorang mengukurnya. Ternyata jawaban Mogu benar. Raja kagum dibuatnya. Pejabat Monda sangat kesal, namun ia belum menyerah. "Tuan Mogu. Buatlah api tanpa menggunakan pemantik api." Dengan tenang Mogu mengeluarkan kaca cembung, lalu mengumpulkan setumpuk daun kering. Ia membuat api, menggunakan kaca yang dipantul-pantulkan ke sinar matahari. Tak lama kemudian daun kering itupun terbakar api. Raja semakin kagum. Sementara Tuan Monda semakin kesal. "Luar biasa! Baiklah! Aku punya satu pertanyaan untukmu. Aku pernah mendengar tentang pohon pengetahuan. Jika pengetahuanmu luas, kau pasti tahu dimana letak pohon itu. Bawalah aku ke sana," ujar Raja. Mogu ragu. Setelah berpikir sejenak, "Hamba tahu, Baginda. Tapi tidak boleh sembarang orang boleh menemuinya. Sebenarnya, pohon itu adalah guru hamba. Hamba bersedia mengantarkan Baginda. Tapi kita pergi berdua saja dengan berpakaian rakyat biasa. Setelah bertemu dengannya, berjanjilah Baginda takkan memberitahukanya pada siapapun," ujar Mogu serius. Raja menyanggupi. Setelah menempuh perjalanan jauh, sampailah mereka di tujuan. "Salam, Baginda. Ada keperluan apa hingga Baginda datang menemui hamba?" sapa pohon dengan tenang. "Aku ingin menjadi muridmu juga. Aku ingin menjadi raja yang paling bijaksana," kata raja kepada pohon pengetahuan. "Anda sudah cukup bijaksana. Dengarkanlah suara hati rakyat. Pahamilah perasaan mereka. Lakukan yang terbaik untuk rakyat anda. Janganlah mudah berprasangka. Selebihnya muridku akan membantumu. Waktuku sudah hampir habis. Sayang sekali pertemuan kita begitu singkat," ujar pohon pengetahuan seolah tahu ajalnya sudah dekat. Tiba-tiba Monda menyeruak bersama sejumlah pasukan. "Kau harus ajarkan aku!" teriaknya pada pohon pengetahuan. "Tidak bisa. Kau tak punya hati yang bersih." Jawaban pohon itu membuat Monda marah. Ia memerintahkan pasukannya untuk membakar pohon pengetahuan. Raja dan Mogu berusaha menghalangi namun mereka kewalahan. Walau berhasil menghancurkan pohon pengetahuan, Monda dan pengikutnya tak luput dari hukuman. Mereka tiba-tiba tewas tersambar petir. Sebelum meninggal, pohon pengetahuan memberikan Mogu sebuah buku. Dengan buku itu Mogu semakin bijaksana. Bertahun-tahun kemudian, Raja mengangkat Mogu menjadi raja baru. Mundur satu halaman ! Diambil dari Majalah Teman Bermain dan Belajar. copyright © 1998 PInter Indonesi ======================================================= "º£½ºÆ®¼¿·¯ ÀúÀÚ Çϱ¤È£ ±³¼öÀÇ ¿µ¾îÇнÀ ºñ¹ý" µè±â¡¤¸»Çϱ⡤Àб⡤¾²±â¸¦ µ¿½Ã¿¡ °ø·«Ç϶ó Çϱ¤È£ ±³¼ö´Â Çѱ¹¿¡¼­ °íµîÇб³ ¿µ¾î ±³»ç·Î ÀÖ´Ù°¡ ¹Ì±¹À¸·Î °Ç³Ê°¡ ÃÊ¡¤Áß¡¤°í±³ ¿µ¾î±³»ç·Î 15³â°£ ÀçÁ÷Çϰí, Áö±ÝÀº ¹Ì±¹ ´ëÇп¡¼­ ¹Ì±¹ÀεéÀ» »ó´ë·Î ¿µ¾î±³¼ö¹ýÀ» °¡¸£Ä¡´Â ƯÀÌÇÑ °æ·ÂÀÇ ¼ÒÀ¯ÀÚ´Ù. ¸î ³â ÀüºÎÅÍ ¡®¿µ¾îÀÇ ¹Ù´Ù¿¡ ºü¶ß·Á¶ó¡¯ ¡®¿µ¾îÀÇ ¹Ù´Ù¿¡ Çì¾öÃÄ¶ó¡¯ ¡®¿µ¾îÀÇ ¹Ù´Ù¿¡ ¼Ú±¸ÃÄ¶ó¡¯ µî ÀÏ·ÃÀÇ ¿µ¾îÇнÀ º£½ºÆ®¼¿·¯¸¦ Ãâ°£Çß´ø ±×°¡ ¡®½Åµ¿¾Æ¡¯¿¡ ¡®°¡Àå È¿À²ÀûÀΡ¯ ¿µ¾îÇнÀ ¹æ¹ý·ÐÀ» ±â°íÇØ¿Ô´Ù. -ÆíÁýÀÚ ³ª´Â Çѱ¹¿¡¼­ Áß¡¤°íµîÇб³ ¿µ¾î±³»ç »ýȰÀ» Çϸ鼭 ¿ì¸®³ª¶ó ¿µ¾î±³À°ÀÇ ¹®Á¦Á¡µéÀ» Åë°¨ÇÑ ÈÄ ¹Ì±¹À¸·Î °Ç³Ê°¬´Ù. ±×¸®°í ¹Ì±¹¿¡¼­ ¹è¿ì°í °¡¸£ÃĿ ¡®¸ð±¹¾î·Î¼­ÀÇ¡¯ ¿µ¾îÇнÀ Áöµµ¹ýÀ» ¡®¿Ü±¹¾î·Î¼­ÀÇ¡¯ ¿µ¾îÇнÀ Áöµµ¹ý¿¡ µµÀÔÇϰí Á¢¸ñÇÏ´Â µ¥¿¡ ¼º°øÇß´Ù. Çѱ¹¿¡¼­ ž 30³âÀ» »ì¾Ò´ø ³»°¡ ¹Ì±¹¿¡¼­ ÃÊ¡¤ÁßµîÇб³ÀÇ ¹Ì±¹ÀÎ Çлýµé°ú ÀåÂ÷ ¿µ¾î ±³»ç°¡ µÉ ´ëÇлýµé¿¡°Ô ¿µ¾î °¡¸£Ä¡´Â ¹æ¹ýÀ» ÁöµµÇÑ´Ù¸é ½±»ç¸® ¹Ï±â Èûµé °ÍÀÌ´Ù. ±×·¯³ª ÇÊÀÚ´Â ±×°ÍÀ» ÇØ³½ »ç¶÷ÀÌ´Ù. ¹°·Ð ±× °úÁ¤Àº Áö±ØÈ÷ ¾î·Á¿ü´Ù. ÀúÀý·Î µÈ °ÍÀº ¾Æ´Ï´Ù. ±×·¸°Ô µÇ±â±îÁö ³»°¡ °øºÎÇÑ °úÁ¤À» µ¹ÀÌÄѺ¸¸é, Áö±Ý ³»°¡ ÁÖÀåÇÏ´Â ¡®Whole Language(ÃÑüÀû ¾ð¾îÇнÀ¹ý)¡¯ ¿ø¸®¿¡ µü µé¾î¸Â´Â ¹Ù·Î ±× ¹æ¹ýÀ̾ú´Ù. ´Ù½Ã ¸»Çؼ­ ³»°¡ ¹Ì±¹¿¡¼­ ¿ø¾î¹ÎÀ» »ó´ë·Î ¿µ¾î¸¦ °¡¸£Ä¡±â±îÁö´Â ÃÑüÀû ¾ð¾î½Àµæ ¹æ¹ýÀ» ½ÇõÇß´ø ±æ°í ¿Ü·Î¿î ¿©Á¤À̾ú´Ù. »ç½Ç ¿ì¸®³ª¶ó¸¸Å­ ¿µ¾î°øºÎ¿¡ ¿­½ÉÀÎ ³ª¶óµµ µå¹°´Ù. ³ª¶ó Àüü°¡ ¿µ¾î°øºÎ ½Åµå·Ò¿¡ °É·Á ÀÖ´Ù°í ÇØµµ °ú¾ðÀº ¾Æ´Ò °Í °°´Ù. ±×·¯³ª ±×Åä·Ï ¿­½ÉÈ÷ ÇÑ´Ù´Â ¿µ¾î °øºÎÀÇ °á°ú´Â ¾î¶°ÇѰ¡? ´ëü·Î ºÎÁ¤ÀûÀÎ ´ë´äÀ» ÇÇÇÒ ¼ö ¾ø´Ù. ¿ì¸®´Â ¿µ¾î¸¦ ¿Ö ¹è¿ì·Á°í Çϴ°¡? ´ë´äÀº ¿ÀÁ÷ Çϳª, ¿µ¾î¸¦ »ç¿ëÇϱâ À§Çؼ­´Ù. »ç¿ëÇÒ Çʿ䰡 ¾ø´Â ¾ð¾î´Â ¹è¿ï Çʿ䵵 ¾ø´Ù. ±×·±µ¥ ÀÇ»ç¼ÒÅë¿¡ ÁöÀåÀÌ ¾ø´Â ¼öÁØÀ¸·Î ¿µ¾î¸¦ µè°í ¸»Çϰí ÀÐ°í ¾µ ¼ö ÀÖ´Â Çѱ¹ÀÎÀÌ °ú¿¬ ¾ó¸¶³ª µÉ±î? ¾Æ¸¶µµ ±Ø¼Ò¼ö¿¡ ºÒ°úÇÒ °ÍÀÌ´Ù. ±×·¸´Ù¸é À̰ÍÀº Çѱ¹ÀÇ ¿µ¾î±³À°ÀÌ Ã¥ÀÓÁ®¾ß ÇÒ ºÎºÐÀÌ ¾Æ´Ò ¼ö ¾ø´Ù. ±×Åä·Ï ¼ö¸¹Àº Çѱ¹ÀÎÀÌ ¿µ¾î °øºÎ¿¡ ±ä ¼¼¿ùÀ» º¸³ÂÀ¸¸é¼­µµ º¸À߰;ø´Â °á°ú¸¦ ³ª¹«¶ó´Â ¸ñ¼Ò¸®¸¸ ¿ä¶õÇßÀ» »Ó ¿µ¾î½Àµæ °úÁ¤ÀÇ À߸øÀ» ÁöÀûÇÏ°í ¿Ã¹Ù¸¥ ¿µ¾îÇнÀ ¹æ¹ýÀ» Á¦½ÃÇÑ ¿¹´Â µå¹°¾ú´Ù. Áø´Ü°ú ÇØ¹ý ¨ç 'µû·Îµû·Î Çö»ó'À» ±ú¶ó ¿µ¾î¸¦ µè±â µû·Î, ¸»Çϱ⠵û·Î, ´Ü¾î µû·Î, Àб⠵û·Î, ±Û¾²±â µû·Î ÇнÀÇÏ´Â ¡®µû·Îµû·Î Çö»ó¡¯ÀÌ Áúº´À̶ó´Â °ÍÀÌ ³ªÀÇ Ã¹Â° Áø´ÜÀÌ´Ù. ¾ð¾î¶õ °áÄÚ ºÐ¸®ÇÒ ¼ö ¾ø´Â ÇϳªÀÇ ÅëÇÕü´Ù. µè°í ¸»Çϰí ÀÐ°í ¾²´Â ¾ð¾îÀÇ ³× °¡Áö ±â´ÉÀº Ç¥Çö ¾ç½Ä¸¸ ´Ù¸¦ »Ó ¼­·Î À¯±âÀûÀ¸·Î ¿¬°áµÅ ÀÖ´Ù. ´Þ¸® ¸»Çϸé ÀÌ ³× °¡Áö ±â´ÉÀÌ ¼­·Î ¸Â¹°·Á¼­ µµ¿ï Àû¿¡ ¾ð¾îÇнÀ¿¡ ³î¶ó¿î ¹ßÀüÀ» ±â´ëÇÒ ¼ö ÀÖ´Ù. ¸»Çϱ⸦ ÀÍÈ÷±â À§Çؼ­ ȸȭåÀ» ÇÑ ±Ç »ç¼­ È¥ÀÚ¼­ °øºÎÇÏ·Á°í ÇØµµ »ç¶÷µé³¢¸® »ç±³Àû ±³Á¦(social interaction)°¡ ¾ø´Ù¸é ¾ð¾î±â´ÉÀÇ ¹ßÈÖ ¼öÁØ(functional level)¿¡ µµ´ÞÇϱâ´Â °ÅÀÇ ºÒ°¡´ÉÇÏ´Ù. 1978³â¿¡ ÇÁ·ÒŲ(Fromkin)°ú ·Îµå¸Ç(Rodman)ÀÌ ¹ßÇ¥ÇÑ ¿¬±¸°á°ú´Â ¹Ù·Î ÀÌ¿Í °°Àº »ç½ÇÀ» ¿õº¯Çϰí ÀÖ´Ù. ¿µ¾î°¡ ¸ð±¹¾îÀÎ Á¦´Ï(Genie)¶ó´Â ¼Ò³à´Â ºÒÇàÈ÷µµ ¾î¸° ½ÃÀý¿¡ ÁÖº¯°ú °Ý¸®µÅ ´Ù¸¥ »ç¶÷µé°ú Á¢ÃËÇÒ ¼ö ¾ø´Â ¹æ¿¡¼­ º¸³Â´Ù. Áö´ÉÁö¼öµµ ³ôÀº ÆíÀ̾úÀ¸³ª ³ªÀ̰¡ µé¾î¼­ ¸ð±¹¾îÀÎ ¿µ¾î¸¦ ÁýÁßÀûÀ¸·Î Áöµµ¹Þ¾ÒÁö¸¸ ³¡³» ÀÚÁÖÀûÀÎ »îÀ» ¿µÀ§ÇÏ´Â µ¥¿¡ ÇÊ¿äÇÑ ¼öÁØÀÇ ¸»Çϱ⠴ɷÂÀ» °¡Áú ¼ö´Â ¾ø¾ú´Ù´Â °ÍÀÌ´Ù. ¿µ¾î°¡ ¸ð±¹¾îÀÎ »çȸ¿¡¼­ ÀÖ¾ú´ø ÀÌ ½ÇÈ­´Â ¹«¾ùÀ» ¸»ÇØÁÖ°í ÀÖÀ»±î? ¿Ü±¹¾îÀÎ ¿µ¾î¸¦ ¹è¿ì´Â Çѱ¹ÀÇ ÇнÀÀڵ鿡°Ôµµ ÀÌ »ç·Ê´Â Å« ±³ÈÆÀÌ µÉ ¼ö ÀÖ´Ù. Çѱ¹¿¡¼­ ¿µ¾î±³À°À» ´ã´çÇÏ´Â »ç¶÷µé°ú ÇнÀÀÚµéÀº ¿µ¾î´Â ¡®½ÇÁ¦·Î »ç¿ëÇÔÀ¸·Î½á¡¯ ¿ÏÀüÈ÷ ¹è¿ï ¼ö ÀÖ´Ù´Â »ç½ÇÀ» ºÐ¸íÈ÷ ±ú´Þ¾Æ¾ß ÇÑ´Ù. Ã¥ ¼Ó¿¡ ´ã±ä ³»¿ëÀ» ÀÌÇØÇÏ°í ¸¹ÀÌ ¿Ü¿î´Ù°í ÇØµµ ±×°ÍÀ» ¾ð¾î·Î »ç¿ëÇÏÁö ¾ÊÀ¸¸é ÀÇ»ç¼ÒÅë ¼ö´ÜÀ¸·Î¼­ÀÇ ¾ð¾î ½ÀµæÀº ºÒ°¡´ÉÇÏ´Ù. µè±â ´É·Â¸¸ ÀÖ°í ¸»Çϱ⠴ɷÂÀÌ ¾øÀ¸¸é º¡¾î¸®¿Í °°´Ù. ¿µ¾î Àбâ¿Í ±Û¾²±â ´É·ÂÀÌ ¾ø´Ù¸é ¿µ¾î±Ç »çȸ¿¡¼­ ¡®Áú ³ôÀº »î¡¯À» ¿µÀ§ÇÒ ¼ö ¾ø´Ù. Çѱ¹¿¡¼­ ¿µ¾î±³À°À» ¹ÞÀº »ç¶÷ Áß¿¡´Â ¿µ¾î¸¦ Àаí Çѱ¹¾î·Î ¹ø¿ªÇÏ´Â µ¥¿¡ ´ÉÅëÇÑ »ç¶÷ÀÌ ¸¹´Ù. ±× »ç¶÷µéÀº ³²ÀÌ ¾´ ¿µ¾î¸¦ ¹Þ¾Æ ¸Ô´Â µ¥¿¡´Â ¼öÁØ±Þ ´É·ÂÀ» Áö³æÀ¸¸é¼­µµ ¿µ¾î¸¦ ¸»·Î »ç¿ëÇϰųª(ȸȭ) ±Û·Î Ç¥ÇöÇÏ´Â(ÆíÁö, °ø¹®¼­ µîµî) µ¥¿¡´Â ¹Ï±â ¾î·Á¿ï Á¤µµ·Î Ãë¾àÇÑ °æ¿ì°¡ ¸¹´Ù. ¹Ù·Î ÀÌ·± »ç½ÇÀÌ Çѱ¹ÀÇ ¿µ¾î±³À°ÀÌ ¸¸µé¾î³½ °á°úÀÎ °ÍÀÌ´Ù. ¡®¹Þ¾Æ ¸Ô´Â¡¯ ¿µ¾î¿Í ¡®»ý»êÇÒ ¼ö Àִ¡¯ ¿µ¾îÀÇ ´É·ÂÀ» µ¿½Ã¿¡ ±æ·¯ÁÙ ¼ö ÀÖ´Â ¹æ¹ýÀ» ¿ì¸®´Â ÇÏ·ç ¼ÓÈ÷ ã¾Æ¾ß ÇÑ´Ù. <ÇØ°á¹æ¹ý> Àڱ⠼öÁØ¿¡ Àû´çÇÑ ¿µ¾î ±ÛÀ» Àаí ÀÌÇØÇÑ ÈÄ, ±× ±ÛÀÌ ´ã°í ÀÖ´Â ³»¿ë¿¡ °üÇØ À̾߱⸦ ³ª´«´Ù. ¼­Åø·¯µµ ÁÁÀ¸´Ï ¿ë±â¸¦ ³» ¿µ¾î·Î À̾߱âÇØ¾ß ÇÑ´Ù. »ó´ë¹æÀÌ Àڱ⺸´Ù ¿µ¾î»ç¿ë ´É·ÂÀÌ ¶Ù¾î³­ »ç¶÷À̶ó¸é ´õ¿í ÁÁ´Ù. ¼­Åõ¸£³ª¸¶ À̾߱Ⱑ ³¡³ª¸é ´Ù½Ã ±Û·Î ½áº¸´Â ÀÛ¾÷¿¡ µé¾î°£´Ù. ¼­Åø·¯µµ ÁÁÀ¸´Ï ±ÛÀ» ÀÐÀº ÈÄ¿¡ µ¶ÈݨÀ» ¿µ¾î·Î ½áº¸¶ó´Â °ÍÀÌ´Ù. ±× µÚ¿¡´Â Àڱ⸦ ÁöµµÇØÁÙ ´É·ÂÀÌ ÀÖ´Â »ç¶÷À» ã¾Æ°¡ ÀڱⰡ ¾´ ¿µ¾î ¹®ÀåÀ» ´Ùµë´Â´Ù. ÀÌ·¸°Ô ÇÒ ¶§ ÁøÁ¤ÇÑ ¹®¹ý½Ç·ÂÀÌ ½ÀµæµÉ ¼ö ÀÖ´Ù´Â °Íµµ ¸í½ÉÇ϶ó. ÀÌ ¹æ¹ýÀ¸·Î ÇÏ¸é ¿µ¾î µè±â¿Í ¸»Çϱâ, Àбâ, ±Û¾²±â°¡ ÇѲ¨¹ø¿¡ °¡´ÉÇØÁø´Ù. Áø´Ü°ú ÇØ¹ý ¨è ¹®¹ýÀº ±×¶§±×¶§ ½ÀµæÇÏ¸é µÈ´Ù ¸¹Àº Çѱ¹ÀÎÀÌ ¿µ¹®¹ý ¶§¹®¿¡ ¿ì¸®ÀÇ ¿µ¾î±³À°ÀÌ ÀÌ Áö°æ¿¡ À̸£·¶´Ù°íµé ¾ß´ÜÀÌ´Ù. ÀÌ·¸µí À߸øÀÇ ¿øÀÎÀ» ¡®¹®¹ý¡¯¿¡ µÎ´Â ¾öû³­ Âø°¢µµ Çѱ¹ÀÇ ¿µ¾î±³À°À» Á»¸Ô°í ÀÖ´Ù. ÁøÂ¥ ÁÖ¹üÀº ¹®¹ýÀÌ ¾Æ´Ï¶ó ¡®¹®¹ýÀ» °¡¸£Ä¡´Â ¹æ¹ý¡¯À̶ó´Â Á¡À» ¸í½ÉÇÏÀÚ. ÁÖ¹üÀº µû·Î µÎ°í ¾ï¿ïÇÑ ¹®¹ý¸¸ Å¿ÇØ¼­´Â ¿ì¸® ¿µ¾î±³À°ÀÇ Àå·¡´Â ¾îµÓ±â¸¸ ÇÒ °ÍÀÌ´Ù. ÀÌ ¼¼»ó¿¡ ¹®¹ýÀÌ ¾ø´Â ¾ð¾î°¡ °¡´ÉÇÒ±î? ¾ð¾îÀÇ ±³ÅëÀ» Áú¼­Á¤¿¬ÇÏ°Ô ÇØÁÖ´Â, ¾ø¾î¼­´Â ¾È µÉ ±ÔÄ¢ÀÌ ¹Ù·Î ¹®¹ýÀÌ´Ù. ¹®¹ýÀÌ Àֱ⿡ Àΰ£Àº ÀÏÁ¤ÇÑ ±ÔÄ¢À» µû¶ó ÀÚ±â Àǻ縦 Àü´ÞÇÒ ¼ö ÀÖ´Â °ÍÀÌ´Ù. ±×·¸±â¿¡ ¾ð¾î´Â ±ÔÄ¢ÀÌ ÅëÁ¦ÇÏ´Â(Rule-governed) ÀÇ»ç¼ÒÅë ¼ö´ÜÀ̶ó°í ÇÏÁö ¾Ê´Â°¡. ǰ»ç À̸§ÀÌ¸ç ¹®¹ý ¿ë¾î´Â µé¾îº» Àûµµ ¾ø´Â ¾î¸° ¾ÆÀ̵éÀÌ Àڱ⠸𱹾 ±×Åä·Ï Àß »ç¿ëÇÒ ¼ö ÀÖ´Â °ÍÀº ¹Ù·Î ÁøÂ¥ ¹®¹ýÀÌ ±×µéÀÇ ¾ð¾îâ°í ¼Ó¿¡ µé¾î Àֱ⠶§¹®ÀÌ´Ù. ¹®¹ý ¿ë¾î´Â ¹®¹ý ±× ÀÚü¿Í´Â »ó°üÀÌ ¾ø´Ù. ´Ù¸¸ ÆíÀǸ¦ À§ÇØ ºÙÀÎ À̸§¿¡ ºÒ°úÇÒ »ÓÀÌ´Ù. ¾ÆÀ̵éÀº ±×µé ±Í¿¡ ²÷ÀÓ¾øÀÌ µé¾î¿À´Â ¸ð±¹¾îÀÇ ¾ð¾îȯ°æ ¼Ó¿¡¼­ À̸§(ǰ»ç À̸§, ¹®¹ý¿ë¾î)ÀÌ ÇÊ¿ä¾ø´Â ÁøÂ¥ ¹®¹ýÀ» Á¶¿ëÈ÷ ÁÖ¿ö ´ã´Â °ÍÀÌ´Ù. ÀÌ´Â ¹®¹ýÀ» ÁöµµÇϰí ÇнÀÇÏ´Â ¿Ã¹Ù¸¥ ¹æ¹ýÀ» ¾Ï½ÃÇϰí ÀÖ´Ù. ½Å¹®¡¤ÀâÁöÀÇ ±â»ç³ª µ¿È­, ¼Ò¼³, ½Ã, Á¤º¸¹®Çå µî ÅØ½ºÆ®¸¦ ÀÐ°í µ¶Çظ¦ ÇÏ´Â °úÁ¤¿¡, ²À ÇÊ¿äÇÑ ¹®¹ýÀ» ¡®±×¶§±×¶§¡¯ ÁöµµÇÏ°í ¹è¿ì¶ó´Â °ÍÀÌ´Ù. ¹®¹ýÀ» µû·Î °øºÎÇϰí, ¡®¹®¹ýÀ» À§ÇÑ ¹®¹ý¡¯½ÄÀÇ Áöµµ¹æ¹ýÀº ÀÌÁ¦ ±×¸¸µÖ¾ß ÇÑ´Ù. ¹®¹ýÀÌ Àֱ⿡ ÀÇ»ç¼ÒÅë¿¡ ÁöÀåÀÌ ¾ø´Â ¾ð¾î¸¦ »ç¿ëÇÒ ¼ö ÀÖ´Ù´Â °ÍÀ» °Åµì ¸í½ÉÇÏÀÚ. <ÇØ°á¹æ¹ý> ¹®¹ýÀ» µû·Î °øºÎÇÏÁö ¸»°í Àç¹ÌÀÖ°í À¯ÀÍÇÑ ÀÚ·á(µ¿È­, ¼Ò¼³, ½Å¹®, ÀâÁö, Á¤º¸°¡ ´ã±ä ±Û)¸¦ Àд °¡¿îµ¥ ¹®¹ýÀ» °øºÎÇ϶ó. ´Ù½Ã ¸»ÇÏ¸é ¿µ¾î·Î µÈ ±ÛÀ» ÀÐ°í ¿µ¾î·Î ±ÛÀ» ¾²´Â µ¥¿¡ ÇÊ¿äÇÑ ¹®¹ýÀ» ±×¶§±×¶§ °øºÎÇ϶ó´Â ¸»ÀÌ´Ù. ÀÌ·± ¹®¹ýÀ» °¡¸®ÄѼ­ Grammar in Action ¶Ç´Â Grammar in Context¶ó°í ÇÑ´Ù. ¹®¹ýÀº ¿µ¾î¸¦ »ç¿ëÇÏ´Â µ¥ ÇÊ¿äÇÑ µµ±¸´Ù. Áø´Ü°ú ÇØ¹ý¨é ¹®Àå¾Ï±â ´ë½Å ¹®Àå ¸¸µå´Â ¿¬½ÀÀ» Ç϶ó ¿ì¼± ¸Ô±â¿¡´Â °ù°¨ÀÌ ´Þ´Ù°í, ¿µ¾îȸȭ ½ÀµæÀÇ ºñ¹ýÀ» ã¾Æ¼­ ÀÌ Ã¥ Àú Ã¥, ÀÌ Çпø Àú ÇпøÀ» ÀüÀüÇϸ鼭 Çì¸Å´Â ³¶ºñµµ Å« ¹®Á¦´Ù. ¾Æ¹«¸® ÁÁ°í, ¾Æ¹«¸® ¹æ´ëÇÑ ¿µ¾îȸȭ Ã¥ÀÌ¶óµµ ¿µ¾î°¡ ¸ð±¹¾îÀÎ »ç¶÷µéÀÌ »ç¿ëÇÏ´Â ¸ðµç ¹®Àå°ú Ç¥ÇöÀ» ÀüºÎ ´ãÀ» ¼ö´Â ¾ø´Ù. °°Àº »ç¶÷ÀÌ °°Àº Àǹ̸¦ ³õ°íµµ ¸»ÇÒ ¶§¸¶´Ù ´Ù¸¦ ¼ö ÀÖÁö ¾ÊÀº°¡? Çпø¿¡¼­ ¾Æ¹«¸® ȸȭ¸¦ ¹è¿ì·Á°í ¾Ö¸¦ ½áµµ ¿ø¾î¹ÎµéÀÌ »ç¿ëÇÏ´Â ±× ¼ö¸¹Àº Ç¥ÇöÀ» ¾î¶»°Ô ºüÁü¾øÀÌ ÀÍÈú ¼ö ÀÖÀ»±î? ¡®¾ð¾î´Â ³¡¾øÀÌ ´Ù¾çÇÑ °Í(Language is versatile)¡¯À̶ó´Â ¸»ÀÌ ±×·¡¼­ ÀÖ´Ù. »ç¶÷µé°ú ¿µ¾î¸¦ Á÷Á¢ »ç¿ëÇϸ鼭 ÀÇ»ç¼ÒÅëÇÏ´Â Çdzª´Â ÈÆ·Ã¸¸ÀÌ ÁøÂ¥ ¿µ¾îȸȭ¸¦ Á¤º¹ÇÒ ¼ö ÀÖ´Â ±æÀÌ´Ù. <ÇØ°á¹æ¹ý> ¿µ¾î ¹®ÀåÀ» ¸¸µå´Â ´É·ÂÀ» ±æ·¯¶ó. ¿µ¾î ƯÀ¯ÀÇ ¹®ÇüµéÀ» ¿ÏÀüÈ÷ Àڱ⠰ÍÀ¸·Î ¸¸µé°í, ±× ¹®Àå ¼Ó¿¡ ´ã°í ½ÍÀº »ç½Ç, »ý°¢, ´À³¦¿¡ °¡Àå ¾Ë¸ÂÀº ³¹¸»À» Á¦ ÀÚ¸®¿¡ ½ÉÀ» ¼ö¸¸ ÀÖÀ¸¸é ¾ó¸¶µçÁö ÀÚ±â Àǻ縦 ¿µ¾î·Î Ç¥ÇöÇÒ ¼ö ÀÖ°í, ±×°ÍÀÌ °ð ÁøÁ¤ÇÑ È¸È­´Ù. ³²ÀÌ ¸¸µé¾î ³õÀº ¿µÈ­´ëº»À̳ª ±Øº» °°Àº ȸȭ Ã¥µéÀ» ºÙÀâ°í ¾Ö¾²´Â ´ë½Å Èï¹ÌÁøÁøÇÑ ¿µ¾î·Î ¾²ÀÎ ÀÐÀ»°Å¸®µéÀ» ¿­½ÉÈ÷ ÀÐ°í ¿ÏÀüÈ÷ ÀÌÇØÇϸ鼭 ÀڱⰡ »ç¿ëÇÏ°í ½ÍÀº ¾î±¸µéÀÌ¸ç ¹®ÇüÀ» ¸Þ¸ðÇÑ ÈÄ, ÀڱⰡ Ç¥ÇöÇÏ´Â ¹®ÀåÀ» ¸¸µé¾îº¸¸é¼­ ±× ¾î±¸¿Í ¹®ÇüÀ» »ç¿ëÇ϶ó. ÀÌ·± ¹æ¹ýÀ» ²ÙÁØÈ÷ ½ÇõÇÏ¸é ³î¶ó¿ï ¸¸Å­ »¡¸® ¹®Àå ¸¸µå´Â ´É·ÂÀÌ ¹ßÀüÇÒ °ÍÀÌ´Ù. ³»Ä£ ±è¿¡ Æò¼Ò¿¡ ±âº»ÀûÀÎ ¹®ÀåÀ» ¸¸µå´Â ¿¬½ÀÀ» ÇÏÁö ¾Ê°í ȸȭ Ã¥¸¸ °¡Áö°í ¾Ö¾²´Ù°¡ óÂüÇÑ ½ÇÆÐ¸¦ °æÇèÇÑ ÀÏÈ­¸¦ ¼Ò°³ÇÑ´Ù. Çѱ¹¿¡¼­ ÁÁÀº ´ëÇÐÀ» Á¹¾÷ÇÏ°í ¹Ì±¹¿¡ À̹Π¿Â Á߳⠳²ÀÚ°¡ ÀÖ¾ú´Ù. ±×´Â ¹Ì±¹¿¡¼­ ¼¼Å¹¾÷À» Çϱâ·Î ¸¶À½¸Ô¾ú´Ù. ±âÁ¸ ¼¼Å¹¼Ò¸¦ »ç·Á°í ¿©·¯ °÷À» ´Ù´Ï´ø Áß ¸Å¹°·Î ³ª¿Í ÀÖ´Â Àû´çÇÑ ¼¼Å¹¼Ò¸¦ ¸¶Ä§³» ã¾Ò´Ù. ±×·±µ¥ ¹Ì±¹ÀÎ ÁÖÀΰú °Å·¡ÇÒ ÀÏÀÌ Å« °ÆÁ¤À̾ú´Ù. ±Ã¸® ³¡¿¡ ±×´Â ȸȭå ¸î ±ÇÀ» ²¨³»³õ°í¼­ ¼¼Å¹¼Ò ÁÖÀΰú ³ª´­ ¹ýÇÑ ¹®Àåµé¸¸ °ñ¶ó¼­ À̸¥¹Ù ¡®´ëº»¡¯À» ¿Ï¼ºÇß´Ù. ±×·¯°í ³ª¼­ ¾Æ³»°¡ ¼¼Å¹¼Ò ÁÖÀÎ ¿ªÀ» ¸Ã¾Æ¼­ ¿­½ÉÈ÷ ¿¬½ÀÇß´Ù. ÀÏÁÖÀÏ µ¿¾È ´ëº»À» ¿Ü¿î ³¡¿¡ ±×´Â µåµð¾î ¼¼Å¹¼Ò ÁÖÀÎÀ» ¸¸³ª·¯ °¬´Ù. °á°ú´Â »·ÇÑ °ÍÀ̾ú´Ù. ù ´ë¸é¿¡ Good Morning!À» ÁÖ°í¹ÞÀº ÈÄ ¹Ì±¹ÀÎÀÌ ¸»ÇÏ´Â ´ÙÀ½ ¹®ÀåºÎÅÍ´Â ¹Ì¸® Â¥³õÀº ´ëº»¿¡ ¾ø´Â °ÍÀ̾ú±â ¶§¹®ÀÌ´Ù. ±×Åä·Ï ¾Ö½á ¸¸µç ȸȭ ´ëº»ÀÌ ¾ÆÄ§Àλç ÇÑ ¸¶µð ÇÏ°í ³ª¼­ ¾ÏÃÊ¿¡ °É¸®°í ¸»¾Ò´Ù´Â ÀÌ ½ÇÈ­°¡ ¹«¾ùÀ» ÀǹÌÇÏ´ÂÁö´Â ³Ê¹«µµ ºÐ¸íÇÏ´Ù. ¹®ÀåÀ» ¹«Á¶°Ç ¿Ü¿ì´Â °Ô ¾Æ´Ï¶ó ¹®ÀåÀ» ¸¸µå´Â ¿¬½ÀÀ» Çß´øµé ÀÌ·± ºñ±ØÀº ÀϾÁö ¾Ê¾ÒÀ» °ÍÀÌ´Ù. ³²ÀÌ Àû¾î ³õÀº ¸î °¡Áö Ç¥ÇöÀ» ¿Ü¿ì´Â °ÍÀ¸·Î ¿µ¾îȸȭ ´É·ÂÀ» °¡Áú ¼ö ÀÖ´Ù´Â ²Þ¿¡¼­ ¼ÓÈ÷ ±ú¾î³ª¾ß ÇÑ´Ù. Áø´Ü°ú ÇØ¹ý ¨ê µèÁö¸¸ ¸»°í Á÷Á¢ ¸»Ç϶ó ±Í¸¸ ¶Õ¸®¸é ¸»¹®ÀÌ ÀúÀý·Î ¿­¸®°í, ¹ßÀ½°ø½Ä ¸î °¡Áö¸¸ ¾Ë¸é ¿ø¾î¹Îó·³ ¹ßÀ½ÇÒ ¼ö ÀÖ´Ù°í ¹Ï¾î¼­ ±×°ÍµéÀ» µû·Îµû·Î Á¤º¹ÇÏ·Á´Â »ý°¢µµ Áúº´ÀÇ Çϳª´Ù. ¾î¸° ¾ÆÀ̵éÀÌ ±×·± ¹æ¹ýÀ¸·Î Àڱ⠸𱹾 ½ÀµæÇßÀ»±î? °áÄÚ ±×·¸Áö ¾Ê´Ù. ¾ð¾îÀÇ ¹Ù´å¼Ó¿¡¼­ µè´Â °Í°ú ¼Ò¸®³»´Â °Í(¹ßÀ½)À» µ¿½Ã¿¡ ½ÀµæÇÏ¿© ¾ð¾î»ç¿ë ±â´ÉÀ» Á¡Á¡ ¹ßÀü½ÃŰ´Â °ÍÀÌ´Ù. ¿Ü±¹¾î¸¦ ¹è¿ì·Á´Â »ç¶÷µéÀÌ °É¾î¾ß ÇÒ ±æµµ ¹Ù·Î ¿©±â¿¡ ÀÖ´Ù. ¿µ¾î ¿ø¾î¹Î ¾ÆÀ̵鵵 °¡Àå Èûµé¾îÇÏ´Â °ÍÀÌ ¡®¹®À屸¼º ´É·Â¡¯À̶ó´Â °ÍÀº ÇÐÀÚµéÀÇ ¿¬±¸ °á°ú°¡ µÞ¹ÞÄ§ÇØÁØ´Ù. ±×·±µ¥ ±×·± ±ÛÁþ±â ´É·ÂÀº µÞÀü¿¡ µÎ°í, ¸»ÃʽŰæÀ» ÀÚ±ØÇÏ´Â ¸ÚÁø ¼Ó¾î ¸î °¡Áö¿Í Ư¼öÇÑ °ü¿ë±¸ ¸î °¡Áö¸¦ ÁÖ¿ö ´ã´Â °ÍÀ¸·Î ¿µ¾î¸¦ Á¤º¹ÇÑ ¾ç Âø°¢ÇÏ´Â, À̸¥¹Ù ¡®ÇöÁö ¿µ¾î Áßµ¶Áõ¡¯Àº ½É°¢ÇÑ ¹®Á¦´Ù. ¿µ¾îÀÇ ±âº» °ñ°ÝÀÎ ¹®ÇüµéÀ» Àڱ⠰ÍÀ¸·Î ¸¸µé¸é ÀÇ»ç¼ÒÅëÀ̶ó´Â ¾ð¾îÀÇ Ã¹¹øÂ° ¸ñÀûÀÌ ´Þ¼ºµÉ »Ó ¾Æ´Ï¶ó ¸ÚÁø ±¸¾îü Ç¥Çö µûÀ§´Â ³ªÁß¿¡¶óµµ ¾ó¸¶µçÁö ÁÖ¿ö´ãÀ» ¼ö ÀÖ´Ù´Â °ÍÀ» ¸í½ÉÇÏÀÚ. ±ÞÇÑ °ÍºÎÅÍ Á¤º¹ÇÏÀÚ. ¡®¸ÚºÎ¸®±â¡¯´Â õõÈ÷ ÇØµµ ÁÁ´Ù. <ÇØ°á¹æ¹ý> µè´Â °Í¿¡ ±×Ä¡Áö ¸»°í, µéÀº ÈÄ´Â ´çÀå ¸»À» ÇØ¾ß ÇÏ´Â »óȲÀ» ¸¸µé¾î¾ß ÇÑ´Ù. µéÀº ³»¿ëÀ» ÁÖÁ¦·Î ÇÏ¿© »ó´ë¿Í ´ëÈ­¸¦ Ç϶ó´Â °ÍÀÌ´Ù. ¸»¸¸ ÇÏ´Â °ÍÀÌ ¾Æ´Ï¶ó ±Û·Î ¾´´Ù¸é ±Ý»ó÷ȭ´Ù. À½¼ºÀ» µè°í ±× ³»¿ëÀ» ¿ÏÀüÈ÷ ¾Ë¾Æ¾ß µè±â ½ÀµæÀÌ °¡´ÉÇÏ´Ù. µè´Â ³»¿ëÀ» ¿ÏÀüÈ÷ ÀÌÇØÇÏÁö ¸øÇÑ Ã¤·Î´Â ¾Æ¹«¸® µé¾îµµ ¾ð¾î´É·Â ¹ßÀü¿¡ Å« µµ¿òÀÌ µÇÁö ¾Ê´Â´Ù´Â °ÍÀ» ¸í½ÉÇ϶ó. ±×·¯¸é °á·ÐÀûÀ¸·Î ¿ì¸®³ª¶ó ¿µ¾î±³À°ÀÇ Áúº´À» Ä¡À¯ÇÏ°í ±Øº¹ÇÒ È¿°úÀûÀÎ ¿µ¾îÇнÀ ¹æ¹ýÀº °ú¿¬ ÀÖÀ»±î? ¹°·Ð ±âÀûÀº ¾ø´Ù. ±×·¯³ª ¼ö¸¹Àº ¾ð¾îÇÐÀÚ°¡ ³ë·ÂÇØ¼­ ã¾Æ³½ °á°úµéÀÌ ¿ì¸® ¾Õ¿¡ ÀÖ´Ù. ÀÌÁ¦ ¿µ¾î ÇнÀÀÚµéÀ» À§ÇÑ Á¾ÇÕÀûÀÎ ¹æ¹ý·ÐÀ» À̾߱âÇØº¸ÀÚ. £ª ¹æ¹ý 1 ±¸¹®ÀÇ ÀÌÇØ·ÂÀ̳ª ¾îÈÖ·ÂÀÌ ¾î´À Á¤µµ °®ÃçÁø »ç¶÷µéÀº ¿µ¾î ÀÛ¹®ºÎÅÍ ½ÃÀÛÇ϶ó. ¿ì¼± ³¯¸¶´Ù ºü¶ß¸®Áö ¾Ê°í ¿µ¾î Àϱ⸦ ¾´´Ù(ÆíÁö¾²±âµµ ÁÁ´Ù). ¿µ¾î ¿ø¾î¹ÎÀ̳ª ±×¿¡ ¹ö±Ý°¡´Â ¼öÁØÀÇ ±¹³» ÇнÀ ÁöµµÀÚÀÇ ¼öÁ¤À» ¹ÞÀº ´ÙÀ½, ¼öÁ¤µÈ ±ÛÀ» À½¹ÌÇϸ鼭 ¿µ¾î Ç¥ÇöÀ» ¿ÏÀüÈ÷ ÀÌÇØÇÑ´Ù. ¼öÁ¤µÈ ±ÛÀ» Å« ¼Ò¸®·Î(¾ÆÁÖ Å« ¼Ò¸®·Î) ÀÐÀ¸¸é¼­ ¡®À½¼ºÈ­¡¯ ¿¬½ÀÀ» ÇÑ´Ù. ÇнÀÁöµµÀÚ°¡ ÀÐÀº °ÍÀ» ³ìÀ½ÇÏ¿© ¿©·¯ ¹ø µè°í, ÀÚ½ÅÀÇ ¹ßÀ½°ú ºñ±³ÇÑ´Ù. ÀÚ½ÅÀÌ °¡Àå Àß ¾Æ´Â ³»¿ëÀ» ¿µ¾î·Î ¿Å±â´Â ÀÛ¾÷Àº ¸Å¿ì ½ÇÁúÀûÀ̰í È¿°úÀûÀÌ´Ù. ¶Ç ÀڱⰡ Á÷Á¢ ¾´ ¹®ÀåÀ» ÀÚ±â ÀÚ½ÅÀÌ µè´Â °Í ÀÌ»óÀ¸·Î È¿°úÀûÀÎ ¡®±Í¶Õ±â¡¯ ¹æ¹ýÀº ¾ø´Ù. ÀÌ·± ÀÛ¾÷À» ¸ÅÀÏ ÇÏ´Â ÇÑÆí, Æ´Æ´ÀÌ ´Ù¾çÇÑ ¿µ¾î ¿ø¼­(¿µ¾î µ¿È­¸¦ Æ÷ÇÔÇØ¼­)¸¦ Á¢ÇÏ¸ç µ¶Çط°ú ¾îÈÖ·Â, ¹®Àå¿¡ ´ëÇÑ °¨°¢°ú Á¤¼­¸¦ Ű¿î´Ù. ¾ð¾î´Â °¨Á¤(Á¤¼­)°ú ºÒ°¡ºÐÀÇ °ü°è¸¦ ¸Î°í ÀÖ´Ù. ³¹¸» Çϳª¶óµµ ±×°ÍÀ» »ç¿ëÇÏ´Â ¾ð¾î »ç¿ëÀÚÀÇ °¨Á¤(Á¤¼­)°ú ¹ÐÂøÇÒ ¶§ ºñ·Î¼Ò ±× ³¹¸»Àº ±×°¡ ÁøÁ¤À¸·Î ¼ÒÀ¯ÇÏ´Â ³¹¸»ÀÌ µÉ ¼ö ÀÖ´Ù. £ª ¹æ¹ý 2 ¿µ¾î·Î ¹®ÀåÀ» ¸¸µé ´É·ÂÀÌ ºÎÁ·ÇÏ´Ù¸é ¿µ¾î¿¡ ´ÉÅëÇÑ Çѱ¹ÀÎ Á¶·ÂÀÚ¸¦ ±¸ÇÑ´Ù. ¿µ¾î¿Í Çѱ¹¾î°¡ ¼¯ÀÎ ÀÚ½ÅÀÇ ¼­Å÷ ¡®¿µ¾î¡¯·Î °£´ÜÇÑ À̾߱⳪ ¸Þ½ÃÁö¸¦ Àü´ÞÇÑ ÈÄ, ±×°ÍÀ» Á¶·ÂÀÚÀÇ µµ¿òÀ» ¹Þ¾Æ ¿ÏÀüÇÑ ¿µ¾î·Î °íÄ¡°í, °íÄ£ ³»¿ëÀ» ±Û·Î ¿Å°Ü ¾´´Ù. ±×¸®°í ±×°ÍÀ» Á¶·ÂÀÚ¿Í ÇÔ²² Å« ¼Ò¸®·Î Àд´Ù. Á¤È®ÇÏ°Ô ³¶µ¶ÇÑ °ÍÀ» ³ìÀ½ÇÏ°í µÇÇ®ÀÌÇØ¼­ µè´Â´Ù. ¸ð¹ü ¿µ¿ª¹®À» ¿Ïº®È÷ ¼÷ÁöÇÑ µÚ¿¡´Â Á¶·ÂÀÚ°¡ ±× ±Û¿¡ ´ã±ä ³»¿ëÀ» ³õ°í ¿©·¯ °¡Áö Áú¹®À» Çϰí ÇнÀÀÚ´Â °Å±â¿¡ ´ë´äÇÑ´Ù. ÀÚ±â À̾߱⸦ Àڱ⺸´Ù ´õ Àß ¾Æ´Â »ç¶÷ÀÌ ÀÖÀ»±î? ÀÚ½ÅÀÇ À̾߱Ⱑ ´ã±ä ±Û¿¡ ´ëÇØ¼­ ¼­ÅøÁö¸¸ ¿µ¾î·Î ¾Ö½á ¹Ýº¹ÇØ ¼³¸íÇÏ´Â µ¿¾È ¿µ¾î¿¡ Àç¹Ì¸¦ ´À³¥ ¼ö ÀÖ°í, ¿µ¾î »ç¿ë´É·Âµµ ±Þ¼ÓÈ÷ Çâ»óµÉ °ÍÀÌ´Ù. £ª ¹æ¹ý 3 ¿µ¾î ÇнÀÀÚ¶ó¸é ´©±¸³ª °ÅÃÄ¾ß ÇÏ´Â °øÅëÇʼö °úÁ¤Àº ¸»·Î ÇÏ´Â ¡®ÅäÀÇ¡¯¿Í ±Û·Î ÇÏ´Â ¡®µ¶ÇØ¡¯´Ù. ¿µ¾î·Î À̾߱⸦ ³ª´­¸¸ÇÑ ¼Ò±×·ìÀ» ¸¸µé¾î ¿µ¾î·Î ¾ºÀΠåÀ» µ¶ÆÄÇÑ ÈÄ ÇϳªÀÇ ÁÖÁ¦¸¦ Á¤ÇØ ¿µ¾î·Î ´ëÈ­ÇÑ´Ù. À̰ÍÀÌ ¹Ù·Î ÁøÂ¥ ¸ñÀû°ú ÁøÂ¥ »óȲ ¼Ó¿¡¼­ ÇÏ´Â »ý»ýÇÑ È¸È­ ½Àµæ¹æ¹ýÀÌ´Ù. ¸»À» Çϱâ À§ÇÑ, ¶Ç´Â ¿¬½ÀÀ» Çϱâ À§ÇÑ ¿µ¾îÇнÀ ¹æ¹ýÀº È¿°ú°¡ Àû´Ù. ÀڱⰡ Ç¥ÇöÇÏ°í ½ÍÀº Àý½ÇÇÑ Àǹ̸¦ ¿µ¾î·Î Ç¥ÇöÇÏ·Á°í ¾Ö¾µ ¶§ ¿µ¾î»ç¿ë ´É·ÂÀº ±Øµµ·Î ¹ß´ÞÇÑ´Ù. £ª ¹æ¹ý 4 ³¹¸» ÇнÀ¿¡ °¡Àå È¿°úÀûÀÎ ¹æ¹ý Áß Çϳª°¡ Word Bank¸¦ ¸¸µå´Â °ÍÀÌ´Ù. ±ÛÀ» ÀÐÀ¸¸é¼­ °ü½ÉÀ» ²ô´Â ³¹¸»µéÀ̳ª ±¸, ¹®Çü µîÀ» °ñ¶ó¼­ Index Card Àü¸é¿¡ ¾´´Ù. ±× Index Card µÞ¸é¿¡´Â ±× ³¹¸»ÀÌ µé¾î°£ ¹®ÀåÀ» ±×´ë·Î ¿Å°Ü Àû´Â´Ù. ±âȸ ÀÖÀ» ¶§¸¶´Ù Ä«µå¸¦ ²¨³»¼­ ¸ÕÀú Àü¸éÀÇ ³¹¸»À» º¸°í ±× ÀÚ¸®¿¡¼­ ±× ³¹¸»À» »ç¿ëÇØ ¹®ÀåÀ» ¸¸µé¾îº»´Ù. ÀÌ·± ÇнÀÀÛ¾÷À» ²ÙÁØÈ÷ ÇÏ¸é ±× ³¹¸»Àº ¿ÏÀüÈ÷ Àڱ⠰ÍÀÌ µÉ ¼ö ÀÖ´Ù. ÀڱⰡ ÇÏ´Â ¸»°ú ±Û¿¡¼­ ¾ðÁ¦µçÁö »ç¿ëÇÒ ¼ö ÀÖ´Â ³¹¸»ÀÌ µÈ´Ù.(2000.12¿ù http://shindonga.donga.com½Åµ¿¾Æ¿¡¼­) | News | Money&Biz | IT | Sports | Enjoy | Life | Kids | NGO | ¡¡¡¡¡¡ ¡ã up Copyright 2000 donga.com Privacy policy. email: newsroom@donga.com ======================================================= hri-murti krida-laksanaÀÇ Àξî¼Ó¿¡¼­ÀÇ Ç°»çÇü¼º plajarÇлý -pngajar±³»ç psuruh½ÉºÎ¸§²Û-pnyuruh½Ã۴»ç¶÷ ptinju¸Â´Â»ç¶÷-pninju¶§¸®´Â»ç¶÷ ptatarÇǺ¸Ãæ±³À°ÀÚ-pnatarº¸Ãæ±³À°ÀÚ -------------------------------------- Á¢µÎ»ç: di- m- p- s- k- br- pr- tr- ---------------------------------------- Á¢Áß»ç: -l- -m- -r- -in- ------------------------------------- Á¢¹Ì»ç: -an -kan -i -------------------- simulfiks=µ¿½ÃÁ¢»ç=¿ëÇØÁ¢»ç kopi-ngopi soto-nyoto sate-nyate kbut-ngbut --------------------- konfiks=¾çºÐÁ¢»ç br-an;brtolongan pr-an;prsahabatan p-an;pngiriman k-an;k-ada-an ------------------ kombinasi afiks=Á¢»çÀÇ ¾î¿ï¸² di-kan di-i N-in m-kan m-i mmpr-kan mmpr-i br-kan pr-kan tr-kan p-an s-nya kbr-an ks-an ktr-an pmbr-an pny-an prs-an prsk-an ------------------------ ------------------------------- Á¢»çÀÇ¿ë·Ê: ajar-blajar-plajar-plajaran ajar-mngajar-pngajar-pngajaran tinju-brtinju-ptinju tinju-mninju-pninju suruh-mnyuruh-pnyuruh suruh-brsuruh-psuruh juang-brjuang-pjuang juang-mnjuang-pnjuang ------------------------- peroketan-pngroketan prumahan-pngrumahan plpasan-pnglpasan prhitungan-pnghitungan prbuatan-pmbuatan prhntian-pnghntian-pmbrhntian ======================================================= warga.moa.my/~azimah/book.html (Cerita Rakyat) GELANG SUASA oleh: Noorazimah Taharim PADA suatu masa dahulu, ada sebuah kampung yang jauh di pendalaman. Kampung ini diberi nama Kampung Pinang Tua. Di kampung ini tinggal seorang perempuan yang kematian suami. Suami perempuan ini meninggal dunia kerana diserang oleh seekor gajah liar semasa dia mengutip petai di hutan. Sejak kematian suaminya, perempuan ini mengharapkan seorang adik lelaki untuk membantu menyara hidupnya. Perempuan ini mempunyai seorang anaknya bernama Jumat. Jumat ialah seorang budak yang baik akhlaknya. Mereka mempunyai seekor kerbau jantan yang digunakan untuk membuat kerja di sawah. Kerbau ini diberinya nama Gah. Jumat sangat sayangkan kerbau ini. Jika Gah bekerja di sawah, sudah pasti Jumat ada bersamanya. Oleh kerana Jumat tiada adik-beradik yang lain, Gahlah kawan dia bermain. Lagi pun rumahnya jauh dari rumah orang lain, dan jarang dapat berjumpa dengan budak-budak sebaya dengannya. Pada suatu hari, ibu Jumat terpijak paku berkarat. Kakinya luka dan menjadi bengkak. Berbagai usaha dibuat oleh bapa saudara Jumat untuk mengubati luka itu, tetapi luka ibu Jumat menjadi semakin teruk. Akhirnya kakinya menjadi hitam serta bernanah. Ibu Jumat merana kesakitan selama lebih kurang sepurnama. Pada suatu malam, ibu memanggil Jumat duduk di tepinya. Kata ibunya, "Jumat. Ibu rasa ibu tidak akan dapat melihat Jumat menjadi seorang yang dewasa. Ibu mahu Jumat mendengar kata-kata ini dengan baik. Jadilah Jumat seorang yang beriman dan berakhlak mulia. Gelang suasa ini Jumat simpan sebagai kenangan. Jagalah kerbau jantan itu dengan baik kerana jika dia sihat, boleh juga dia membuat kerja di sawah." Air mata Jumat berlinang mendengar kata-kata ibunya itu. Dia memegang tangan ibunya dan meletakkan kepalanya ke atas dada ibunya. Ibunya mengusap kepala Jumat dengan penuh kasih sayang. Tiga hari kemudian, ibu Jumat pun menghembuskan nafas yang akhir. Jumat menangis kerana sekarang dia tinggal sebatang kara. Bapa saudaranya mengajak Jumat tinggal bersamanya. Di rumah pakciknya, Jumat tidur di tengah rumah. Pada suatu malam, sedang dia berbaring, dia terdengar perbualan pakcik dan makciknya. Kata makciknya, "Saya berkenankan gelang suasa arwah Kak Som tu. Apa salahnya kalau diberikan kepada saya. Jumat itu budak lelaki, bukan boleh pakai gelang." "Bukankah Kak Som telah mewasiatkan gelang suasa itu kepada anaknya? Kita tidak berhak mengambil gelang itu dari Jumat. Bila aku ada wang nanti, akan aku belikan gelang emas untuk awak," kata pakcik. "Ah, saya tak minat gelang lain. Saya mahukan gelang suasa itu juga," suara makcik makin meninggi. Kemudian Jumat ternampak pakciknya membawa bantal dan selimut keluar dari bilik lalu tidur di anjung. Keesokan harinya, pagi-pagi lagi Jumat sudah keluar untuk membawa kerbaunya ke sawah. Gah dibawanya ke suatu tempat yang banyak rumput. Dia duduk di atas tanah sambil menunggu Gah makan. Perutnya berasa lapar. Tidak lama kemudian pakciknya sampai. Dihulurnya kepada Jumat satu bungkusan. Jumat mengambil bungkusan itu dan membukanya. Alangkah seronoknya Jumat kerana dalam bungkusan itu ada nasi lemak dan sambal tumis ikan bilis kegemarannya. "Terima kasih, pakcik," katanya sambil mengorak tersenyum. "Lekas makan. Kita nak ke baruh sana tu untuk tenggala tanah Pak Cup," kata pakciknya. Jumat segera menyuapkan nasi ke mulutnya. Mujur juga pakcik bawa nasi lemak ini, kalau tidak berlaparlah aku, fikir Jumat. Sehari suntuk pakcik, Gah dan Jumat mengerjakan tanah Pak Cup. Bila hari sudah petang, pakcik pun berhenti. Dia duduk berehat di bawah pokok kekabu yang tumbuh di tepi sawah itu. Jumat baring di atas rumput. Dia mengesat peluh di mukanya. Selepas berehat, mereka pun bangun untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, Jumat singgah di alur. Dia hendak memandikan Gah sebelum pulang ke rumah. Dia menceduknya air dengan cebok yang diperbuat daripada daun upih dan buluh. Dia menyimbah air sambil menggosok badan Gah dengan sabut. Lumpur yang tadi melekat keras di atas kulit Gah mula lekang bersama air. Jumat terus membasuh seluruh badan kerbau kesayangannya hingga bersih. Sementara dimandikan, Gah meragut rumput yang tumbuh di tepi alur itu. Mulutnya tak berhenti-henti mengunyah. Gah berpaling ke arah Jumat bila talinya di tarik. Jumat membasuh muka Gah pula dengan air. Jumat tahu bahawa kerbau yang dijaga kebersihannya adalah kerbau yang sihat. "Ha, Gah. Kamu dah bersih. Aku pula nak mandi," lalu Jumat masuk ke dalam alur. Sabut yang dibuat memberus Gah tadi dicucinya bersih dan digunakanya memberus kaki dan tangannya pula. Sambil dia mandi, disimbahnya air ke badan Gah. Gah terus meragut rumput dan memerhati Jumat. Setelah selesai, Jumat menarik tali Gah. Gah berpusing dan mengikuti Jumat. Di sepanjang perjalanan, Jumat terus bercakap berseorangan. "Apalah nasibku ini? Hidup menumpang orang. Aku rasa makcik aku tu tak sukakan aku. Tapi aku terpaksa juga tinggal dengan mereka. Mana lagi tempat boleh aku pergi?" keluhnya. "Kalaulah ada ibu bapaku, tentu aku disayangi dan dibelai. Tentu makan minumku terjaga. Boleh pakai baju baru, kain baru dan capal pun baru," Jumat terus mengeluh. "Jangan kamu bersusah hati Jumat. Bukankah aku masih ada menemanimu?" terdengar suatu suara. Jumat terperanjat. Terus dia menoleh ke belakangnya. Tidak kelihatan sesiapa pun selain dari Gah, kerbaunya. Oleh kerana hari pun makin gelap, Jumat mulalah takut. Dia berlari dan ditariknya tali kerbaunya dengan kuat. "Aduh. Aduh. Sakitnya hidung aku. Jumat, janganlah tarik taliku kuat sangat!" kata suara itu lagi. Jumat berhenti dan berpaling kepada Gah. "Eh, Gah. Kamukah yang bercakap tadi? Sejak bila pula kamu boleh berkata-kata?" tanya Jumat kehairanan. "Sebenarnya memang aku boleh berkata-kata sejak dulu lagi. Dulu kamu hidup senang, aku pun hidup senang juga. Tidak ada yang hendak disusahkan. Tapi kita sekarang sama-sama menumpang orang," kata Gah. "Eh, Gah. Aku berasa lega kamu boleh berkata-kata. Boleh juga aku meluahkan perasaan," kata Jumat. "Jum kita pulang segera. Nanti kena marah pula," sambungnya. Jumat membawa Gah masuk ke kandangnya. Diserakkannya jerami padi di atas tanah untuk dimakan oleh Gah. Takungan air minum Gah masih penuh. "Gah. Kamu tidur baik-baik. Pagi esok kena bekerja keras. Banyak lagi sawah yang perlu ditenggala," kata Jumat. Gah cuma menguitkan telinganya sahaja. Jumat naik ikut tangga dapur. Makciknya sedang memasak. Apabila makciknya nampak Jumat baru pulang, dia berkata, "Amboi. Baru balik? Mengapa tak tidur saja di padang? Taklah penat aku kena memasak untuk kamu." "Maafkan saya, makcik," jawab Jumat dan segera melangkah ke anjung. Pakciknya sedang duduk berlunjur sambil bersandar ke dinding. "Jumat. Mari ke sini sekejap. Kamu jangan ambil hati dengan kata-kata makcik kamu tu. Dia tu marahkan pakcik kerana tidak membenarkan dia mengambil gelang suasa ibumu. Gelang suasa ibumu adalah harta pusaka. Kamulah pewarisnya," kata pakcik. "Pakcik nampak nasi dah siap. Jum kita pergi makan," pakciknya mengajak. Pakcik dan Jumat saja yang makan malam itu. Makciknya telah masuk ke bilik tanpa menegur mereka berdua. Anak-anaknya yang dua orang itu juga dibawanya masuk. Selepas makan Jumat membasuhkan pinggan mangkuk. Lauk yang berlebih di letaknya di bawah tudung saji. Lesung batu ditelungkupnya di atas tudung saji. Dia tidak mahu kucing mencuri ikan goring. Malam itu Jumat tidur di tengah rumah. Dia terdengar pakcik dan makciknya masih bercakap-cakap di dalam bilik. Dia dapat mendengar apa yang dikatakan oleh mereka. Dia berasa sedih kerana makciknya masih berkeras mahukan gelang suasa arwah ibunya. Selain dari Gah, hanya gelang suasa itulah peninggalan ibunya. Oleh kerana malam itu panas, Jumat membawa bantal untuk tidur di serambi. Nyamuk pun kurang kerana pakciknya telah membakar unggun kayu senja tadi. Asap unggun itu telah menghalau nyamuk. Bulan terang benderang di langit. Bunyi cengkerik memenuhi malam. Angin bertiup sekali sekala. Jumat menangis kerana teringatkan ibunya. Terasa sangat dia keseorangan di dunia ini. Pagi esoknya Jumat bangun awal. Dia terus ke telaga untuk mandi. Dia naik semula ke rumah. Dilihatnya baru dia seorang sahaja yang bangun. Dia terus ke dapur untuk menjerang air. Sementara menunggu air panas, dia memakan nasi dan lauk semalam. Dia segera membancuh kopi untuk diminum. Apabila telah selesai makan, dia membasuh pinggan dan cawan yang digunanya tadi. Jumat pergi mendapatkan Gah. Awal-awal lagi Gah telah menegurnya. "Hai Jumat. Mengapa kamu kelihatan sugul sahaja?" tanya Gah. "Aku serba salah. Makcikku mahukan gelang suasa peninggalan ibuku. Sebelum ibuku meninggal dunia, ibuku berpesan supaya aku menyimpannya dengan baik," kata Jumat. "Em... susah juga masalah kamu ini. Kamu menumpang di rumahnya pula," kata Gah sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Jum kita pergi buat kerja dahulu. Petang nanti barulah kita fikirkan penyelesaian masalah kamu ini," cadang Gah. Mereka pun berjalan ke arah tanah Pak Cup di baruh sana. Tidak lama kemudian pakcik pun sampai. Mereka menyiapkan kerja menenggala tanah pada petang itu juga. Seperti biasa, dalam perjalanan pulang, Jumat membawa Gah pergi mandi di alur. Sampai di sana, Gah pun berkata, "Jumat. Semasa kamu masih kecil, ibumu sering menyanyikan sebuah lagu. Aku rasa ada rahsia di sebalik lagu itu." Gah pun menyanyikan lagu itu. Gelang suasa, gelang pusaka, Tersilap pakai, bera wajahnya, Tiada penawar, apa pun cara, Melain insaf akan salahnya. "Apakah maksud lagu itu? Adakah ia berkaitan dengan gelang suasa yang ditinggal oleh ibu itu?" tanya Jumat. "Aku rasa ada kaitan di antara lagu itu dan gelang suasa ibumu. Cuma aku kurang pasti maksud sebenar lagu itu," kata Gah lagi. Selepas keduanya mandi, mereka pun pulang ke rumah. Jumat naik melalui tangga depan kerana di lihatnya makcik sedang berada di dapur. Dia duduk di serambi sambil memandang ke arah pakciknya yang sedang berjalan pulang dari telaga. Tiba-tiba terdengar makciknya menjerit. Pakcik yang sedang membasuh kaki di kaki tangga terus bergegas naik. Hiruk-pikuk bunyi suara makcik menjerit. Jumat juga meluru ke arah makciknya. Makcik sedang menutup mukanya dengan tapak tangan sambil meraung sekuat hatinya. Pakcik cuba mententeramkan makcik, tetapi makcik terus meraung. Pakcik memegang tangan makcik dan meminta ditunjukkan mukanya. Makcik membuka tangannya. Alangkah terkejutnya pakcik kerana muka makcik telah menjadi hitam legam. Jumat juga tersentak kerana belum pernah dilihatnya muka orang menjadi hitam seperti itu. Makcik terus menangis. Jumat berlari ke gerobok kayu tempat dia menyimpan bajunya. Dia mencari gelang suasa yang diletakkannya di dalam lipatan kain. Dilihatnya hanya kain itu sahaja yang ada. Gelang suasanya telah pun diambil orang. Jumat berlari semula ke bilik makcik. Dilihatnya gelang suasa berada di pergelangan tangan kiri makcik. Makcik masih lagi menangis. Pakcik kelihatan tergamam dan tidak dapat berkata apa-apa. Jumat beredar dari bilik itu lalu pergi mendapatkan Gah. "Gah. Sekarang aku faham maksud lagu yang dinyanyikan oleh ibuku dahulu," kata Jumat. "Makcikku telah mengambil dan memakai gelang suasa ibu tanpa izinku. Sekarang mukanya hitam legam. Apa patut aku buat?" katanya lagi. Gah diam seketika. Kemudian dia berkata, "Aku rasa baik kamu nyanyikan lagu itu supaya didengar oleh pakcik dan makcikmu. Moga mereka segera faham akan maksudnya." Jumat naik semula ke rumah. Tangisan makcik masih terdengar dari bilik. Pakcik sedang termenung di tepi tingkap. Jumaat pun menyanyikan lagu ibunya. Pakcik berpaling kepada Jumat lalu berkata, "Bukankah itu lagu yang ibumu selalu nyanyikan semasa kamu masih kecil? Cuba kamu nyanyikan sekali lagi. Kali ini nyanyikan perlahan-lahan supaya boleh pakcik dengar senikatanya." Jumat pun nyanyikanlah lagu itu sekali lagi untuk pakciknya. Selepas itu pakcik terus masuk ke bilik mendapatkan makcik. Terdengar suara pakcik berkata-kata dengan makcik. Sebentar kemudian kedua mereka keluar. Makciknya terus duduk di hadapan Jumat sambil berkata, "Oh Jumat. Maafkanlah makcik. Makcik telah mengambil gelang suasa ibumu dari gerobok kain. Nah, ambillah balik gelang ini. Makcik benar-benar insaf atas sifat tamak makcik." Makciknya cuba membuka kancing gelang tersebut, tetapi tidak berjaya membukanya. Pakcik pula mencuba tetapi tidak berjaya juga. Jumat pula mencuba, gelang suasa itu masih tidak dapat dibuka. Makciknya mulai cemas. Dia menarik-narik gelang itu hingga luka pergelangan tangannya. Keadaan menjadi gamat semula. Jumat berlari ke kandang kerbau. Dilihatnya Gah sedang memakan jerami. Dia terus bertanya, "Gah. Gelang suasa kepunyaan ibuku tidak boleh ditanggalkan dari tangan makcik. Apa yang harusku buat?" Gah menguitkan kedua telinganya mengipas lalat yang hinggap di situ. Selepas beberapa ketika barulah Gah berkata, "Aku rasa lagu yang ibumu sering nyanyikan dulu mempunyai dua rangkap. Yang aku ingat hanya rangkap pertama sahaja. Cuba kamu fikirkan baik-baik. Mungkin kamu masih boleh ingat rangkap kedua itu." Jumat termenung sebentar. Ditutup matanya dan cuba mengingatkan rangkap kedua lagu ibunya. Secara tiba-tiba lagu ibunya seolah-olah terdengar di telinganya. Gelang suasa, gelang pusaka, Tersilap pakai, bera wajahnya, Tiada penawar, apa pun cara, Melain insaf akan salahnya. Pohon maaf seikhlas hati, Berbuat baik setiap hari, Tidak berdendam di dalam hati, Kembali muka elok berseri. Jumat menyanyikan lagu ibunya. Gah mengangguk-ngangguk menyatakan itulah lagu yang lengkap. Gah menyuruh Jumat menyanyikan lagu itu untuk didengar oleh pakciknya. Jumat segera mencari pakciknya. Dia menjumpai pakciknya sedang hendak pergi mencari ubat untuk makcik. Jumat menyanyikan lagu ibunya supaya didengar oleh pakcik. Pakcik naik semula ke rumah dan berjumpa makcik. Jumat juga naik ke rumah. Sejurus kemudian makciknya datang kepadanya. Dengan rendah diri makciknya memohon maaf kepada Jumat atas perbuatannya mengambil gelang suasa itu tanpa izin. Jumat dengan linangan air mata berkata, "Saya maafkan makcik. Saya ini anak yatim piatu. Hanya makcik dan pakciklah tempat saya bergantung harapan. Buatlah saya ini seperti anak makcik dan pakcik sendiri." Mendengar kata-kata Jumat, makciknya menangis. Dipeluknya Jumat erat-erat. Tiba-tiba terdengar bunyi benda jatuh ke atas lantai. Jumat tunduk dan ternampak gelang suasa di atas lantai. Dilihatnya muka makcik bertukar menjadi seperti biasa. Pakcik memberitahu makcik yang mukanya sudah seperti biasa. Makcik berlari ke bilik. Terdengar makcik terus menangis. Dia sungguh menyesal atas perbuatannya terhadap anak saudaranya. Malam itu makcik menyediakan masakan istimewa. Makcik memasakkan gulai ikan haruan dan kerabu pucuk paku. Jumat pula membakar ikan di atas dapur kayu sementara makciknya menyediakan air asam. Malam itu mereka sekeluarga makan bersama. Jumat terus tinggal bersama makcik dan pakciknya dengan aman damai. Gah dan Jumat sering kelihatan berjalan-jalan di batas sawah. Dari jauh kelihatan seperti Jumat bercakap-cakap seorang. Gah pula selalu dilihat menguit-nguitkan telinganya seperti mendengar kata-kata Jumat. - Tamat - ======================================================= (Cerita Rakyat) SI JALAK DAN PERMATA ZAMRUD oleh : Noorazimah Taharim PADA suatu masa dahulu ada sekumpulan ayam yang tinggal di dalam sebuah reban. Di dalam reban ini ada lima ekor ayam betina dan seekor ayam jantan. Ayam jantan ini diberi nama Si Jalak. Si Jalak ialah seekor ayam jantan yang segak. Bulunya berwarna coklat serta berjalur hitam dan bertompok-tompok putih. Ekornya hitam berkilat. Balungnya merah menyala. Si Jalak mempunyai ramai kawan. Selain dari ibu-ibu ayam yang tinggal sereban dengannya, dia juga berkawan dengan kambing, lembu, angsa dan itik. Jika dia berjumpa dengan mereka, ada sahaja yang hendak dibualkannya. Si Jalak juga menjadi kesayangan tuannya. Setiap subuh, Si Jalak akan mengokok dengan suara yang nyaring dan merdu. Apabila Si Jalak mengokok di waktu subuh, "Uk... uk... uk... uuuuuk....," tuannya akan terjaga. Tuannya pula akan membangunkan seluruh keluarganya untuk menunaikan fardhu subuh. Pada suatu hari, Si Jalak sedang memakan dedak yang ditabur oleh isteri tuannya di belakang rumah. Anak tuannya yang baru belajar berjalan sedang bermain di halaman. Budak itu berlari mengejar rama-rama yang terbang dekat serumpun pokok bunga mawar. Si Jalak hanya memerhatikan sahaja budak itu. Tiba-tiba Si Jalak ternampak seekor ular kapak sedang melingkar di ranting pokok bunga mawar itu. Si Jalak meluru ke arah pokok bunga mawar dan mematuk ular tersebut. Ular itu jatuh ke tanah. Si Jalak terus mematuknya hingga mati. Budak kecil itu terkejut dan terjatuh lalu menangis. Ibu budak itu turun dari rumah dan berlari mendapatkan anaknya. Didukung anaknya dan dipeluknya. Apabila dia ternampak ular itu, dia terus berlari naik ke rumah dan memberitahu suaminya. Suaminya turun membawa sebatang buluh. Dia menuju ke arah pokok bunga mawar, tetapi apabila dikuis ular itu, didapatinya ular itu telah mati. Seluruh tubuh ular itu terdapat kesan dipatuk. Dia ternampak Si Jalak berada berhampiran. Tahulah dia bahawa Si Jalak telah menyelamatkan anaknya. Dia naik semula dan memberitahu isterinya supaya berhati-hati apabila anak mereka bermain di halaman. Katanya, "Mujur juga ada Si Jalak di situ. Si Jalaklah yang membunuh ular itu. Jika tidak, tentulah anak kita dipatuk oleh ular kapak itu." Pada petang itu, Si Jalak pun pergilah mencari kambing. Kambing sedang meragut rumput di tepi batas. Si Jalak menegur kambing, "Hai kambing. Pagi tadi aku telah membunuh seekor ular kapak di celah pokok bunga mawar. Mujur juga aku nampak, jika tidak sudah tentu dipatuknya anak tuan kita." "Baguslah begitu Jalak. Tentu tuan kita sayangkan kau. Jika tuan kita sayangkan kita, hidup kita pun senang," jawab kambing. Mereka terus berbual-bual hingga hari senja. Si Jalak dan kambing pun berjalan pulang. Di pertengahan jalan, mereka berjumpa lembu yang baru pulang dari bekerja menarik kereta lembu. Si Jalak melompat naik ke atas belakang lembu. Mereka bertiga terus berjalan pulang. Sampai sahaja mereka ke rumah tuan mereka, Si Jalak pun terus masuk ke rebannya. Kambing dan lembu pula masuk ke kandang masing-masing. Subuh esoknya, Si Jalak bangun dan berkokok, "Uk.... uk.... uk.... uuuk." Ibu-ibu ayam pun bangun. Mereka turun dari reban bersama anak-anak mereka untuk mencari makan. Si Jalak juga keluar. Kali ini Jalak ingin mencari makan di tempat orang menumbuk padi untuk dibuat beras. Selalunya ada beras yang tumpah dari lesung. Oleh kerana hari masih awal, belum ada orang di tempat menumbuk padi itu. Si Jalak pun makanlah sekenyang-kenyangnya. Tiba-tiba di terlihat kerlipan hijau dari celah semak. Dia pergi menghampiri cahaya hijau tadi. Di celah semak itu di lihatnya sebutir batu hijau yang sungguh cantik. Walau pun batu itu kecil sahaja, namun kerlipannya amat menawan hati. Si Jalak menghampiri batu itu dan membeleknya dengan paruhnya. Nampaknya batu ini bukan sebarang batu. Ini mesti batu permata, fikir Si Jalak. Si Jalak terus mematuk batu itu dan disimpannya di dalam mulutnya. Dia terus pulang. Di pertengahan jalan, Si Jalak bertembung dengan angsa. Angsa menegurnya, "Hai Jalak. Semasa aku berjalan di bawah rumah tuan kita tadi, aku dengar tuan memuji-muji keberanian kau membunuh ular kapak yang bisa kelmarin." Si Jalak hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak mahu membuka mulutnya kerana takut batu permata tadi jatuh ke tanah. Angsa menjadi hairan kerana Si Jalak langsung tidak menegurnya. Amboi, baru dipuji sedikit, sudah mula sombong, fikir angsa. Angsa berasa kecil hati atas perbuatan Si Jalak itu. Apabila sampai di reban, Si Jalak melihat ibu-ibu ayam dan anak-anak mereka sedang berlegar di keliling reban. Si Jalak terus masuk ke dalam reban. Ada beberapa anak ayam cuba mengikutnya masuk ke reban, dikuisnya mereka dengan kakinya. Lari bertempiaranlah anak-anak ayam itu. "Klak. Klak. Mengapa pula Si Jalak memarahi anak-anak kita ni? Bukannya mereka mengacaunya. Tetapi mengapa pula tidak dibenarkan mereka masuk ke reban?" rungut seekor ibu ayam. Si Jalak masuk ke reban dan cuba mencari tempat untuk menyembunyikan batu permata itu. Mula-mula diselitkannya di celah dinding buluh reban itu. Kemudian diubahkannya ke bawah sekeping lantai yang longgar. Si Jalak terus duduk di atas kepingan lantai itu. Dia tidak keluar dari reban itu sepanjang hari. Apabila hari sudah senja, ibu-ibu ayam pun membawa anak-anak mereka masuk ke dalam reban. Mereka hairan melihat Si Jalak duduk di atas lantai reban itu seolah-olah sedang mengeramkan telur. Ibu-ibu ayam tidak berkata apa-apa. Mereka hanya memerhatikan telatah Si Jalak. Pada malam itu, Si Jalak tidak dapat lena. Dia takut batu permatanya dicuri. Jadi berjagalah dia sepanjang malam. Apabila sudah subuh, Si Jalak pun berkokok, "Uk... uk..." Si Jalak terlalu mengantuk hinggakan suaranya pun tidak keluar untuk berkokok. Oleh kerana suaranya terlalu perlahan, tuannya tidak terjaga awal. Apabila tuannya terjaga, dilihatnya matahari sudah tinggi. Bergegaslah tuannya membangunkan keluarganya untuk bersembahyang subuh. Pagi itu mereka bersembahyang subuh gajah. Tuannya merungut kerana Si Jalak tidak berkokok dengan kuat seperti biasa. Ibu-ibu ayam dan anak-anak mereka pun keluar reban. Setelah mereka keluar barulah Si Jalak melelapkan matanya. Dia tidak keluar dari rebannya untuk mencari makan. Dia hanya tidur di dalam rebannya sehari suntuk. Apabila sudah petang, perutnya berasa lapar, tetapi dia tidak mahu keluar kerana takut meninggalkan batu permatanya. Pada subuh esoknya, Si Jalak terjaga apabila hari sudah siang. Rebannya pun telah kosong kerana semua ibu dan anak ayam sudah lama keluar untuk mencari makan. Si Jalak terdengar tuannya marah-marah kerana Si Jalak tidak berkokok subuh itu. Si Jalak berasa sangat lapar kerana sudah dua hari tidak makan. Oleh kerana terlalu lapar dan haus, Si Jalak terpaksa keluar. Sebelum dia keluar, dia telah mengubah tempat persembunyian batu permatanya. Kali ini dimasukkannya batu permata itu ke dalam sebuah lubang kecil di tepi dinding. Si Jalak pun keluar reban. Dia berlari ke belakang rumah tuannya dengan harapan ada makanan. Rupanya semua makanan yang disediakan oleh isteri tuannya telah dimakan oleh ibu-ibu ayam, anak-anak ayam, itik dan angsa. Si Jalak menjadi marah kerana sudah tiada apa yang ada untuk dimakan. Dia tidak pergi ke tempat orang menumbuk padi kerana tidak mahu berjauhan dari batu permatanya. Itik datang menghampirinya lalu berkata, "Hai Jalak. Sudah dua hari kamu tidak keluar reban. Adakah kamu sakit?" "Kalau aku sakit pun, bukan menyusahkan kamu!" jawab Si Jalak dengan sombong. Itik sungguh terkejut mendengar jawapan Si Jalak hinggakan tidak dapat berkata apa-apa. Itik terus berundur dari situ dan pergi mendapatkan angsa. "Betul juga kata kamu, angsa. Si Jalak sudah menjadi bongkak," lalu itik menceritakan apa yang berlaku sebentar tadi. Angsa hanya menggeleng-gelengkan kepala seolah-olah tidak percaya apa yang terjadi. Ini adalah kerana mereka berkawan rapat dengan Si Jalak sejak kecil lagi. Si Jalak pula pergilah ke kawasan limbah di belakang dapur untuk mencari makanan. Dia tahu bahawa makanan di situ tidak bersih, tetapi kerana terlalu lapar, dimakannya juga apa yang ada di limbah itu. Biarlah tak kenyang, tetapi aku sekarang ada batu permata, fikir Si Jalak. Lepas makan, Si Jalak terus masuk ke rebannya. Dia terus memeriksa lubang tempat dia menyembunyikan batu permata itu. Dilihatnya batu permata itu masih ada di dalam lubang. Dia kemudian menyumbatkan jerami padi ke dalam lubang supaya batu permata itu tidak dapat di lihat langsung. Beberapa hari berlalu. Perangai Si Jalak berubah terlalu mendadak. Ibu-ibu ayam berbincang sesama sendiri. Itik dan angsa pula pergi berjumpa kambing dan lembu menceritakan telatah Si Jalak. Lembu kemudiannya menceritakan perbualan tuan mereka dengan seorang petani ketika dia menarik kereta lembu pagi. Tuannya berhajat hendak membela ayam jantan yang lain kerana Si Jalak sudah tidak boleh berkokok pada waktu subuh lagi. Itik dan angsa pulang dan berjumpa ibu-ibu ayam. Mereka menceritakan apa yang mereka dengar dari lembu. Ibu-ibu ayam menjadi susah hati kerana mereka telah mengenali Si Jalak dari mereka kecil lagi. Kalau ayam jantan lain datang, mereka tentu terpaksa menyesuaikan diri dengan ayam jantan yang baru pula. Ibu-ibu ayam bermesyuarat mengenai pengembangan terbaru ini. Mereka bersetuju untuk berhadapan dengan Si Jalak untuk mencari penyelesaian masalahnya. Kelima ibu ayam itu pun masuk ke reban. Di dalam reban itu mereka jumpa Si Jalak yang sedang duduk bersandar ke dinding. Ibu ayam yang tertua berkata, "Hai Jalak. Kami ingin bertanyakan sesuatu dari kamu. Kami harap kamu bersedia menyatakan masalah kamu." "Yang kamu semua sibuk ni, mengapa?" kata Si Jalak dengan angkuh. "Kami sibuk kerana kami dapat tahu bahawa tuan kita hendak menggantikan kamu dengan ayam jantan yang lain. Jika itu betul, kami rasa kamu akan disembelih untuk dibuat lauk kerana sekarang ini kamu tidak berguna lagi," kata ibu ayam. Rasa nak pitam Si Jalak mendengar kata-kata ibu ayam itu. Memang benar sudah hampir seminggu dia tidak berkokok kerana badannya lemah dan selalu tak cukup tidur. Kata ibu ayam lagi, "Sekarang ini kawan-kawan baik kamu semuanya mengatakan bahawa kamu ini sombong. Tetapi mereka semua masih sayangkan kamu. Itulah mereka selalu bertanya khabar. Cuma kamu sahaja tidak menghargai persahabatan mereka." Si Jalak berasa sangat sedih. Sejak dia berjumpa batu permata ini, hidupnya menjadi susah. Setiap hari dia tidak cukup makan. Kawan-kawannya pula terpaksa menjauhkan diri kerana dia tidak mempedulikan mereka. Tuannya yang dahulu menyayanginya, kini hendak menggantikan dia dengan ayam jantan yang lain. Ibu-ibu dan anak-anak ayam juga sering berkecil hati kerana dia selalu memarahi mereka jika mereka menghampiri tempat dia menyembunyikan batu permatanya. Setelah berfikir dengan mendalam mengenai masalahnya, Si Jalak pun berterus terang dengan ibu-ibu ayam. Mereka pun meminta ditunjukkan batu permata itu. "Klak. Klak. Klak. Cantiknya batu permata hijau ini. Patutlah kamu amat menyayanginya," kata mereka. Tetapi Si Jalak telah pun membuat keputusan dia tidak mahukan batu permata ini lagi, walau bagaimana cantik pun. Si Jalak mengutip batu permata itu dengan paruhnya dan dibawanya keluar dari reban. Dia berjalan ke arah rumah tuannya. Dilihatnya isteri dan anak tuannya sedang duduk dibawah pokok jambu air di tepi rumah. Dia pergi kepada isteri tuannya dan diluahkannya batu permata hijau itu. Batu permata itu pun jatuh ke tanah di tepi kaki isteri tuannya itu. Melihatkan batu berwarna hijau diluahkan oleh Si Jalak, isteri tuannya itu pun tunduk dan mengambil batu itu. "Aduh. Bertuah betul kamu ini Jalak! Batu zamrud yang terjatuh dari cincin perkahwinanku dulu telah dijumpai. Sudah hampir seminggu aku mencarinya, baru sekarang berjumpa," kata isteri tuannya sambil memanggil suaminya turun. Suaminya pun turun dan ditunjukkan batu zamrud yang dijumpai oleh Si Jalak. Tuan Si Jalak sungguh gembira kerana sudah seminggu isterinya bersugul kerana kehilangan batu zamrud itu. Si Jalak berlalu dari situ dengan senang hati. Dia pergi mencari kawan-kawannya itik, angsa, kambing dan lembu untuk meminta maaf kepada mereka atas sikapnya akhir-akhir ini. Sejak hari itu, Si Jalak berkokok setiap waktu subuh dengan suara yang lebih nyaring dan merdu. Tuannya juga tidak lagi bangun lewat dan sentiasa dapat mengerjakan sembahyang subuh tepat pada waktunya. Si Jalak terus disayangi oleh tuannya seisi keluarga. Kawan-kawan Si Jalak juga gembira kerana Si Jalak kembali menjadi riang dan peramah. - Tamat - ======================================================= (Cerita Rakyat) BERJUTA BINTANG DI BUMI oleh: Noorazimah Taharim PADA zaman dahulu ada sebuah kampung bernama Kampung Nyiur. Di kampung ini tinggal seorang budak perempuan bernama Seri. Seri adalah seorang anak gadis yang cerdik. Seri suka berteka-teki dengan kawan-kawannya. Kadang-kadang mereka dapat memberi jawapan yang betul kepada teka-teki Seri, tetapi selalunya mereka awal-awal lagi mengaku kalah. Pada suatu petang, budak-budak bermain di halaman rumah Seri. Mereka meminta Seri memberi mereka suatu teka-teki. Setelah berfikir sebentar, Seri pun berkata, "Baiklah. Cuba kawan-kawan fikirkan jawapannya." Anak musang, anak rusa, Anak lipan sedang melata; Rumah kecil bertiang tiga, Bawah bumbung penuh jelaga. Kawan-kawannya pun mulalah berbincang sesama sendiri. Masing-masing memberi jawapan. Tiada satu jawapan pun yang betul. Akhirnya mereka meminta Seri memberikan jawapannya. Kata Seri, "Bukankah di rumah kita semua ada benda ini?" "Apakah benda itu, Seri? Beritahulah segera," kata kawan-kawanya. Jawab Seri sambil tersenyum, "Jawabnya ialah belanga di atas dapur bertungku tiga." Kawan-kawannya semua ketawa gelihati kerana sekali lagi mereka dikenakan oleh Seri. Ibu Seri yang sedang duduk di atas tangga rumahnya tersenyum lebar. Setiap hari anaknya akan melayan kawan-kawan dengan berbagai teka-teki. Ibu Seri terkenangkan arwah datuk Seri yang pandai menghibur orang-orang kampung dengan bercerita. Mungkin ada juga bakat arwah datuknya turun kepada Seri. Musim hujan sudah pun tiba. Hujan kerapkali turun di sebelah petang dan malam. Hanya kadang-kadang sahaja hujan turun di sebelah pagi. Setiap senja hingga ke tengah malam keadaan hingar-bingar dengan bunyi suara katak betung bersahut-sahutan. Pada suatu malam Seri tidak dapat lena kerana bising bunyi katak. Pada pagi esoknya Seri bertanya kepada ibunya, "Ibu, mengapakah katak suka membuat bising semasa musim hujan? Semalaman Seri tidak dapat melelapkan mata." Jawab ibunya, "Masa ibu kecil-kecil dahulu, datuk mu pernah bercerita mengenai kisah katak. Kata datuk, katak memanggil hujan kerana dia hendak berpesta. Semasa mereka berpesta, katak akan mengadakan pertandingan nyanyian. Pertandingan itulah yang Seri dengar malam tadi." Mendengar kata ibunya itu, Seri terus ketawa. Katanya lagi, "Seri akan reka teka-teki mengenai katak untuk kawan-kawan Seri nanti." Selepas menolong ibunya di rumah, Seri terus turun ke halaman rumah. Dia berjalan menuju ke arah sebuah kolam di hadapan rumahnya. Kolam ini tidak berapa luas dan ditumbuhi oleh teratai. Beberapa kuntum bunga teratai sedang mengembang. Sungguh cantik dan tenang keadaan di tepi kolam ini. Seri duduk di atas sebuah bangku kayu yang dibuat oleh ayahnya di tepi kolam itu. Tempat duduk ini teduh kerana terletak di bawah sebatang pokok yang rendang. Sambil duduk dia membalingkan batu-batu kecil ke dalam kolam. Salah satu batu itu terkena badan seekor katak yang sedang berehat di atas daun teratai. Katak itu terkejut dan terus meloncat ke dalam air. Seri tersentak dari lamunannya lalu berkata, "Maafkan aku, katak. Aku tidak sengaja. Aku tidak nampak kau di situ tadi." Pagi menjadi semakin panas, dan tiba-tiba Seri berasa mengantuk. Angin bertiup sepoi-sepoi bahasa. Seri terlelap di atas bangku itu. Tiba-tiba dia terkejut, dan di depannya ialah seekor katak besar. Katak itu dengan rupa yang marah berkata, "Bangun! Engkau tidak boleh tidur di sini. Ini tempat tinggalku." Katak itu melompat menghampiri Seri. Seri menjadi cemas. Mungkinkah ini bapa katak yang terkena batu yang aku lempar tadi, fikir Seri. Seri bangun untuk lari. Malangnya kakinya tersangkut pada akar lalu terjatuh. Seekor katak kecil datang menghampirinya. Katak kecil yang baru tiba ini berkata kepada katak yang besar, "Janganlah menakutkan gadis ini. Dia tidak mengganggu sesiapa pun." Katak besar bertanya, "Bukankah dia melemparkan batu kepadamu tadi?" Kata katak kecil, "Oh, itu cuma satu kebetulan sahaja! Dia tidak berniat untuk menyakitiku. Lagi pun dia telah meminta maaf. Aku pun telah memaafkannya." Katak besar itu berpuas hati dengan penerangan katak kecil lalu meninggalkan tempat itu. Seri yang terjatuh tadi pun terus duduk di atas tanah. Sambil memandang kepada katak kecil, dia berkata, "Terima kasih kerana menolongku. Aku betul-betul cemas tadi. Orang tua-tua kata, jika katak marah, dia akan memancutkan air kencingnya ke mata orang yang dimarahinya. Orang yang terkena kencing katak akan menjadi buta." Katak kecil tersenyum lalu berkata, "Sebenarnya itu cuma cerita orang tua-tua. Sepanjang aku hidup, belum pernah katak berbuat begitu." Seri juga turut tersenyum. "Aku meminta maaf sekali lagi kepadamu atas perbuatanku tadi," kata Seri. "Ah. Lupakan saja perkara itu. Aku tidak mahu katak besar itu menganiayai kamu," kata katak kecil. "Terima kasih atas pertolongan mu tadi," kata Seri. Seri bertanya pula kepada katak kecil, "Aku teringin hendak tahu mengapa katak selalu berbunyi dengan kuat pada musim hujan. Ibuku menyatakan bahawa katak membuat pertandingan menyanyi di musim hujan." Jawab katak kecil, "Betul kata ibumu itu. Itu adalah bunyi katak mendengarkan suara masing-masing. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kehandalannya. Di masa inilah kaum katak mencari pasangan masing-masing. Musim hujan adalah masa paling sesuai untuk bertelur. Telur katak perlu menetas di dalam air kerana anak katak yang dipanggil berudu memerlukan air untuk hidup. Jika tiada air, semua berudu akan mati. Jika itu terjadi, akan pupuslah bangsa kami di dunia ini." Seri mendengar dengan penuh minat akan penerangan katak kecil itu. "Seri! Seri!" Seri tersentak apabila mendengar suara ibu memanggil namanya. Seri menjawab, "Ya ibu. Saya duduk di tepi kolam ini." Panggil ibunya lagi, "Segera pulang." Seri pun mengucapkan selamat tinggal kepada katak kecil. "Aku akan datang bertemu dengan mu lagi," kata Seri. Seri segera berlari ke arah rumahnya. Dilihatnya ada tiga orang pemuda sedang bercakap dengan ibunya di halaman rumah. Seri berasa hairan kerana dia belum pernah melihat mereka sebelum ini. Melihat Seri datang, pemuda-pemuda itu meminta diri dan terus berlalu dari situ. Seri terus mendapatkan ibunya sambil bertanya, "Ibu. Siapakah orang-orang tadi? Mengapa ibu kelihatan cemas?" Ibunya terus duduk di atas tangga. Dahinya berkerut-kerut seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia memandang kepada Seri sambil berkata, "Pemuda-pemuda tadi adalah dari kampung di seberang sana. Mereka memberitahu bahawa ayah dan abangmu sedang ditahan oleh seorang tua yang kaya dan berkuasa di kampung mereka. Orang tua itu mengatakan bahawa ayah dan abangmu telah melalui kawasan larangan di tanahnya. Sesiapa yang lalu di situ akan dijadikannya hambanya." Seri berkata, "Kita patut pergi menolong ayah dan abang. Orang tua itu seorang yang tidak siuman agaknya." "Janganlah kita menuduh orang sebelum kita mengenalinya. Mungkin ada sebab lain orang tua itu menahan ayah dan abangmu," kata ibu. Sambung ibu lagi, "Marilah kita bersiap. Esok selepas subuh kita pergi ke kampung seberang. Ibu ada seorang sepupu di kampung itu. Mungkin dia boleh menolong kita." Malam itu Seri dan ibunya pun mengemaskan pakaian. Ibunya membungkus pakaian mereka dalam dua helai kain pelekat. Diambilnya beberapa sikat pisang emas dan diikatnya dengan tali. Pisang emas itu diletaknya di tepi kedua bungkusan kain. Setelah selesai berkemas, kedua beranak ini pun masuk ke bilik untuk tidur. Seri terjaga apabila ayam berkokok di waktu subuh. Dia segera menggerakkan ibunya. Mereka turun ke perigi dalam gelap gelita itu dengan berlampukan pelita. Selepas mandi, mereka naik ke rumah untuk bersembahyang. Ibunya berdoa agar mereka dapat balik dengan selamat bersama ayah dan abang Seri. Selepas itu mereka pun bersarapan. Hari semakin cerah, lalu Seri dan ibunya pun membawa bungkusan pakaian dan pisang emas dan berjalan ke arah sungai. Apabila mereka sampai di pangkalan, seorang penambang sedang menunggu di dalam sampannya. Ibu Seri terus meminta penambang membawa mereka ke kampung seberang di hilir sungai. Penambang itu pun menyuruh mereka menaiki sampan dan mengayuh sampannya menghala ke hilir sungai. Seri memandang kedua belah tebing sungai. Di sepanjang sungai dilihatnya banyak pokok berembang tumbuh. Jejari akar yang menujah keluar dari tanah memenuhi kawasan tebing sungai itu. Sungguh tenteram dan aman suasana pagi itu di sepanjang sungai. Seri juga melihat beberapa orang perempuan sedang membasuh kain dan mandi di beberapa tempat di sungai itu. Kebanyakan mereka bertemankan beberapa orang budak yang sibuk bermain air. Seri belum pernah mandi di sungai kerana rumahnya jauh dari sungai. Penambang itu mengayuh ke arah tebing sungai. Di tebing itu terdapat pangkalan kayu yang besar. Apabila sampan itu sampai di pangkalan, ibu Seri pun menghulurkan wang sebagai bayaran tambang mereka. Seri dan ibunya menaiki tangga pangkalan dengan cermat. Ibunya berjalan ke arah sekumpulan orang yang sedang menunggu sampan. Dia bertanyakan arah rumah Long Esah. Setelah mendapat panduan jalan, mereka pun berjalanlah ke arah yang ditunjukkan oleh orang tadi. Setelah bertanya beberapa kali, sampailah mereka ke rumah Long Esah. Mereka memberi salam kepada Long Esah yang sedang menjemur kain. Long Esah sungguh gembira dengan kedatangan mereka. Long Esah terus memeluk ibu Seri sambil berkata, "Amboi, lamanya kita tidak berjumpa!" Long Esah kemudian beralih memandang Seri dan berkata, "Adakah ini Seri? Sudah besar panjang anakmu ini." Seri terus bersalaman dengan Long Esah. Dia menghulurkan pisang emas yang dibawanya. Kata Long Esah, "Eh, ada buah tangan juga! Terima kasih." Long Esah menjemput mereka naik ke atas rumahnya. Dia menyuruh anaknya menyediakan minuman. Long Esah mengajukan berbagai pertanyaan kepada ibu Seri. Selepas minum barulah ibu Seri menceritakan tujuan sebenar mereka datang. Long Esah sungguh terkejut mendengar ayah dan abang Seri dikurung oleh orang tua kaya kampungnya. Long Esah menyuruh anaknya memanggil Long Man di kebun. Tidak berapa lama kemudian tibalah Long Man. Setelah Long Esah menceritakan apa yang telah berlaku, Long Man segera ke rumah orang kaya itu. Long Man kembali ke rumah di waktu senja. Dia memberitahu ibu Seri supaya bersabar. Dia akan membawa Seri dan ibunya bertemu orang tua kaya itu pada esok harinya. Pada keesokan harinya, Seri, ibunya, dan Long Esah mengikut Long Man ke rumah orang kaya itu. Apabila mereka sampai di halaman rumah orang kaya itu, ibu Seri ternampak suami dan anak lelakinya di dalam kurungan yang diperbuat daripada buluh. Seri dan ibunya terus menerpa ke arah kurungan itu. Menangislah mereka empat beranak. Long Man menghampiri ibu Seri sambil berkata, "Bersabarlah dahulu. Perkara ini boleh diselesaikan dengan baik. Mari kita berjumpa orang kaya dan minta penjelasannya." Setelah memberi salam, mereka dijemput naik ke anjung rumah orang kaya itu. Tidak berapa lama kemudian, keluarlah orang kaya itu. Rambut, kening serta janggutnya semuanya putih. Dia menjawab salam mereka dengan baik. Long Man menerangkan tujuan mereka datang. Orang kaya itu tidak berkata apa-apa, cuma mengangguk-nganggukkan kepalanya sahaja. Sambil merenung muka ibu Seri, dia berkata, "Suami dan anak lelaki puan telah menceroboh masuk ke dalam kawasan larangan saya. Mereka perlu dihukum atas kesalahan mereka itu." Ibu Seri merayu agar suami dan anaknya diampunkan. Lagi pun mereka datang dari kampung seberang dan tidak tahu mengenai peraturan di kampung ini. Orang kaya bertanya sama ada ibu Seri sanggup membayar kepadanya lima puluh mayam emas sepuluh mutu. Terkejut ibu Seri mendengar kata-kata orang kaya itu. Katanya, "Saya bukan orang berada. Manalah dapat saya carikan tebusan sebanyak itu." Seri menitiskan air mata lalu berkata, "Tuan yang budiman, tolonglah lepaskan ayah dan abang saya." Orang kaya itu berpaling ke arah Seri sambil berkata, "Sanggupkah kamu mengganti tempat ayah dan abangmu?" Seri jadi tergamam dan tidak boleh berkata-kata. Long Man meminta belas kasihan orang kaya dalam hal ini. Orang kaya itu berkata, "Baiklah. Saya tidak akan melepaskan mereka berdua tanpa tebusan. Jika kamu semua boleh menjawab teka-teki ini, saya akan lepaskan tahanan berdua itu." Dari jauh kamu ke mari, Tiada pangkat tiada wang, Cari jawapan dalam syair; Berjuta bintang turun ke bumi, Indah berkilau menghias ruang, Gemerlap cahaya di muka air. Mereka berempat berpandang-pandangan di antara satu sama lain. Orang kaya itu pun berkata, "Baliklah kamu dahulu. Tiga hari lagi datanglah dengan jawapannya." Mereka pun meminta diri untuk pulang. Di sepanjang jalan, mereka cuba mencari jawapan kepada teka-teki orang kaya itu. Sampai di rumah, mereka juga terus memerah otak. Malam itu mereka hanya dapat tidur selepas ayam berkokok. Pada hari esoknya, mereka berbincang lagi. Beberapa orang jiran juga datang untuk mendengar apa yang telah berlaku. Masing-masing cuba membantu, tetapi masih tidak dapat memberi jawapan yang betul. Begitu juga pada hari kedua. Ibu Seri semakin resah. Pada malam kedua itu, Seri turun ke halaman rumah. Dia berasa amat susah hati. Tiba-tiba terdengar suara memanggilnya, "Seri! Seri!" Seri berpaling ke arah suara itu. Terdengar lagi, "Aku katak kecil. Aku datang untuk menolongmu." Seri ternampak katak kecil bertenggek di atas sebatang kayu mati. Kata katak lagi, "Aku terdengar jiran di sana menceritakan teka-teki yang diberi oleh orang kaya itu. Dalam perjalananku ke sini tadi, aku telah melalui suatu kawasan yang menyerupai keadaan yang disebut di dalam teka-teki itu. Marilah aku tunjukkan. Tempatnya tidak jauh dari sini." Seri terus mengikut katak kecil. Mujurlah malam itu bulan agak terang. Tidak berapa lama kemudian, mereka sampailah di satu tempat di tepi sungai. Seri menjadi kagum melihat keindahan di tempat itu. Semua pokok-pokok berembang di hiasi oleh berjuta kelip-kelip. Di atas permukaan air pula kelihatan bayangan cahaya kelip-kelip itu. Seluruh kawasan kelihatan seolah-olah semua bintang di langit turun ke bumi. Seri sungguh gembira kerana sekarang dia mengetahui jawapan teka-teki orang kaya itu. Seri dan katak berjalan balik ke rumah Long Esah. Apabila sampai di rumah, Seri ternampak ibunya, Long Esah dan Long Man masih berbual-bual di anjung rumah. Seri mengucapkan terima kasih kepada katak. Seri terus naik dan duduk di tepi ibunya. Dia memberitahu mereka apa yang dilihatnya tadi. Long Man berkata, "Saya yakin itulah jawapan teka-teki orang kaya itu." Malam itu mereka semua dapat tidur dengan nyenyak. Pada keesokan harinya, mereka segera berjalan menuju ke rumah orang kaya. Orang kaya telah sedia menunggu kedatangan mereka. Dia berkata, "Janganlah kita membuang masa lagi. Berilah segera jawapannya. Saya cuma memberi kamu tiga peluang sahaja. Jika semua jawapan salah, kedua tawanan itu akan menjadi hamba saya seumur hidup mereka. Siapa yang akan menjawab teka-teki saya?" "Saya yang akan menjawabnya," kata Seri. "Jawapan kepada teka-teki tuan adalah pelita-pelita minyak yang dipasang di malam hari raya," kata Seri. Orang kaya itu ketawa sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu hanya ada dua peluang lagi," katanya. "Jawapanya ialah percikan bunga api yang dipasang semasa perayaan," kata Seri. Orang kaya itu ketawa lagi sambil menepuk-nepuk lantai rumahnya. "Aku rasa ayah dan abangmu akan menjadi milikku," kata orang tua kaya itu. Seri memandang terus ke muka orang kaya itu lalu berpantun. Wahai tuan bijak bistari, Punya pangkat punya wang, Ku beri jawapan dalam syair; Berjuta kelip-kelip di malam hari, Berkilau indah menghias berembang, Bayang kerlipan di muka air. Berubah muka orang kaya itu menjadi merah padam. Dia cuma berdiam sambil mukanya tunduk melihat lantai. Kemudian dia mengangkat mukanya sambil berkata, "Sungguh bijak kamu wahai anak gadis. Apakah namamu?" "Saya bernama Seri," jawab Seri dengan perlahan. "Nampaknya kamu telah berjaya membebaskan ayah dan abangmu," kata orang kaya itu. Kemudian dia pun memanggil pembantunya dan mengarah supaya membawa kedua orang tawanan itu kepadanya. Ayah dan abang Seri naik ke atas rumah orang kaya itu. Mereka kelihatan riang dan terus bersalaman dengan orang kaya itu. Tercengang Seri, ibunya, Long Man dan Long Esah. Sambil tersenyum orang kaya itu berkata, "Sekarang aku percaya bahawa anak gadis kamu ini seorang anak yang bijak dan berani. Aku ingin menghadiahkan dua puluh keping wang emas kepadanya." Orang kaya itu menyuruh pembantunya mengambil wang emas untuk diberikannya kepada Seri. Dia berkata, "Sebenarnya ayah dan abangmu tidak pernah membuat apa-apa kesalahan terhadapku. Semasa ayah dan abangmu datang menumpang di rumahku dahulu, mereka menceritakan mengenai dirimu yang pandai berteka-teki. Aku ingin mengetahui sejauh manakah kebijaksanaanmu. Terimalah hadiah dua puluh keping emas ini sebagai pemberian ikhlas dariku." Seri terpinga-pinga sambil merenung muka ayahnya. Ayahnya mengangguk-nganggukkan kepala menandakan dia memberi izin kepada Seri untuk mengambil wang emas itu. Seri pun mengambil bungkusan berisi emas itu dan mengucapkan terima kasih. Selepas itu mereka pun memohon diri untuk balik. Setelah dua hari tinggal di rumah Long Man dan Long Esah, mereka berempat beranak pun memohon balik ke kampung. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Long Esah dan Long Man di atas budi baik mereka. Dalam perjalanan pulang dengan menaiki sampan, Seri melihat pokok-pokok berembang yang tumbuh di sepanjang tebing sungai itu. Sungguh takjub dia memikirkan bahawa apabila malam nanti, pokok-pokok ini akan dihiasi oleh berjuta kelip-kelip. Jika dia tidak melihat sendiri keindahan malam itu, mungkin susah baginya mempercayai bahawa kelip-kelip yang berkumpul boleh menghiasi tempat ini dengan begitu indah sekali. Setelah sampai di rumahnya, Seri segera ke kolam. Dia memanggil katak kecil. Katak kecil muncul dari dalam air dan melompat ke atas sehelai daun teratai. Seri menceritakan apa yang berlaku dan mengucapkan terima kasih atas pertolongan katak kecil. Kata katak kecil, "Sama-sama, Seri. Aku berharap agar persahabatan kita akan berterusan." Seri tersenyum gembira kerana mempunyai kawan yang sedia menolongnya ketika dia dalam kesusahan tanpa mengharapkan apa-apa balasan. Setiap hari, selepas membantu ibunya di rumah, Seri akan mengunjungi katak kecil buat beberapa ketika. Setelah puas berbual, Seri pergi mencari kawan-kawannya untuk mengajukan beberapa teka-teki lagi. Selepas peristiwa di kampung seberang, Seri menjadi lebih gigih meneliti alam semulajadi untuk dijadikan bahan teka-tekinya. Kerbau lapar turun ke padang, Terputus tali terurai ikat, Rumput hijau mengabur mata; Daun tajam seperti pedang, Batang beruas isi bersirat, Jika dikunyah manis airnya. - Tamat - ======================================================= (Cerita Rakyat) SULUNG DAN TEMPUA BERTUAH oleh: Noorazimah Taharim PADA zaman dahulu ada sebuah kampung yang aman damai. Di kampung ini mengalir sebatang sungai. Pada musim hujan, air di sungai ini naik hingga ke tebingnya. Airnya dalam dan sangat deras. Ibu-bapa selalu berpesan kepada anak-anak mereka supaya tidak bermain di tepi sungai semasa musim hujan. Apabila musim kemarau, air di sungai menjadi cetek. Ramai budak-budak turun ke sungai untuk bermandi-manda. Suasana menjadi riuh-rendah dengan gelak ketawa mereka. Ada yang terjun dari dahan pokok yang berhampiran, ada yang menyelam sambil menangkap kaki kawan-kawan, dan ada juga yang hanya duduk berendam di dalam air. Sambil bermain mereka menyanyi. Bakar lilin biar cair, Awas jangan terbakar diri, Nanti gelap meraba-raba; Dok seronok main air, Biru bibir terketar jari, Air sejuk tak terasa. Kecebum¡¦. Kecebum¡¦.. Bunyi budak-budak terjun ke dalam air. Di atas tebing sungai itu kelihatan seorang budak lelaki duduk mencangkung melihat gelagat kawan-kawannya sedang bermain. Hatinya tidak tergerak untuk bermain bersama mereka kerana dia bersedih atas kehilangan bapanya. Seminggu yang lalu bapanya telah masuk ke hutan untuk mencari rotan. Malangnya hingga ke hari ini bapanya masih belum balik. Walau pun telah ramai orang kampung pergi mencari, bapanya masih belum ditemui. Setiap hari emaknya menangis kerana risaukan keselamatan suaminya. Orang-orang kampung datang bertanya khabar serta memberi bahan makanan. Ada yang memberi beras, gula, kopi dan tepung. Dari pemberian inilah mereka sekeluarga berjimat-cermat untuk menampung makanan harian. Budak lelaki itu terus bangun untuk balik ke rumahnya. Dia langsung tidak menghiraukan panggilan kawan-kawannya. Sambil berjalan dia mengesat air mata yang mengalir di pipinya. Dia berjalan menuju ke rumahnya yang terletak agak jauh dari sungai itu. Dari jauh lagi dia nampak emaknya sedang menyapu di halaman rumah sambil mendukung adiknya yang kecil. Dilihat muka emaknya sangat muram. Dia terus menyapa emaknya, "Emak, saya balik." Emaknya mengangkat muka sambil berkata, "Sulung pergi ke mana tadi? Emak risau kalau anak emak tiada di rumah." "Maafkan saya emak. Saya cuma ke sungai melihat kawan-kawan bermain," jawab Sulung. "Baiklah. Pergi naik ke atas rumah dan makanlah lepat pisang yang ada di dapur. Emak dan adik sudah makan," kata emaknya. Sulung pun membasuh kakinya dengan air tempayan yang terletak di tepi tangga rumahnya. Dia terus naik ke rumah dan menuju ke ruang dapur. Di bawah tudung saji ada lima ketul lepat pisang. Oleh kerana ia lapar, dia pun memakan kesemua lepat itu. Selepas makan, dia menyangkut tudung saji di dinding dan membasuh piring. Sulung turun ke halaman dan berkata kepada emaknya, "Emak. Biarlah saya selesaikan kerja menyapu ini. Emak pergilah berehat." "Emak lebih suka mengisikan masa dengan bekerja. Emak terlalu risau akan keselamatan bapamu. Selalunya dia hanya pergi sehari dua sahaja untuk mencari rotan," kata emaknya. Sulung terdiam lalu mengangkat sampah yang terkumpul di tepi kaki emaknya. Dia membawa sampah itu ke sebuah lubang untuk di bakar. Setelah selesai membersih halaman rumah, mereka pun terus ke perigi untuk mandi. Selepas mandi mereka naik ke atas rumah. Hari mulai gelap dan Sulung mengambil lampu minyak untuk di pasang. Selepas emaknya menyediakan makanan, mereka pun makan malam. Mereka makan nasi berlaukkan ikan kering, kangkung rebus, dan sambal. Selepas makan, Sulung membantu emaknya membasuh pinggan. Suasana malam itu terasa sangat panas. Sulung tidak dapat tidur di dalam kelambunya. Dia juga tidak dapat tidur kerana teringatkan bapanya yang hilang. Dia pernah mengikut bapanya mencari rotan di hutan. Dia yakin boleh mencari jalan ke tempat di mana bapanya mengutip rotan. Dia mengambil keputusan akan mencari bapanya esok. Pagi-pagi lagi Sulung sudah bangun. Dilihat emaknya sedang menjerang air di dapur. Dia pun pergi ke dapur dan berkata, "Emak, saya hendak cuba mencari ayah di hutan. Saya harap emak mengizinkan saya pergi hari ini." Emaknya terkejut mendengar kata-kata Sulung. "Sulung jangan tinggalkan emak. Sudahlah bapamu tiada, emak tidak mahu kamu juga hilang," kata emaknya sambil air matanya mengalir. "Sulung tahu tempat bapa mengutip rotan. Berilah peluang Sulung mencarinya. Sulung akan meninggalkan tanda-tanda disepanjang perjalanan agar tidak sesat," kata Sulung. Selepas berfikir seketika, emaknya pun bersetuju. "Makanlah dahulu sebelum memulakan perjalanan," kata emaknya sambil menghulurkan piring berisi ubi rebus. Sulung memakan ubi rebus itu dengan ikan kering. Dia menghirup air kopi yang dibancuh oleh emaknya. Emaknya masuk ke dalam bilik dan mengambil sehelai kain batik yang sudah buruk. Kain itu dicarikkannya hingga menjadi cebisan-cebisan yang sama panjang. Emaknya meletakkan beberapa biji pisang, ubi rebus, tabung air serta cebisan kain tadi ke dalam sebuah raga. "Bawalah bekalan ini. Gunakan cebisan kain ini sebagai penanda jalan. Emak mendoakan Sulung kembali bersama bapa dengan selamat," kata emaknya sambil memeluk Sulung. Sulung mencium tangan emaknya dan terus turun ke bawah. Dia tidak mahu berpaling kerana dia tahu emaknya sedang menangis. Dia sangat sayang emaknya, tetapi dia juga yakin bapanya masih hidup dan memerlukan pertolongan. Sulung terus berjalan ke arah sungai. Dia menyusur tebing sungai hingga sampai ke satu rumpun buluh yang besar. Dia mengambil secebis kain dan diikatnya kepada sebatang buluh. Semasa dia mengangkat raganya, terdengar bunyi keluhan dari dalam rumpun buluh itu. Crit, crit, crit, crit; Tak menang, hati sakit. Dengan perlahan Sulung mengintai ke dalam rumpun buluh itu. Dia tidak nampak apa-apa pun. Dia berfikir mungkin dia tersilap dengar lalu beredar dari situ. Sekali lagi dia terdengar bunyi suara itu. Crit, crit, crit, crit; Jika menang, senyum meleret. Kali ini Sulung terus berpaling ke arah rumpun buluh itu lalu berkata, "Hai suara, siapakah kamu? Keluarlah. Mungkin aku boleh tolong." Kemudian terdengar bunyi daun diselak dan keluarlah seekor burung tempua jantan. Mukanya berwarna hitam, belakang kepalanya berwarna kuning dan badannya pula berwarna coklat muda. "Akulah yang berkata-kata tadi," kata tempua. Sulung pun berlutut sambil bertanya, "Apakah yang kamu keluhkan?" "Aku telah memasuki pertandingan membuat sarang, tetapi aku tidak yakin aku boleh menang kerana banyak burung lain yang handal menganyam sarang," kata burung itu. "Bolehkah kamu menolong aku?" tanyanya pula. Sulung termenung sebentar sambil berkata, "Aku dalam kesusahan sekarang. Bapaku hilang di dalam hutan dan sekarang ini aku ingin pergi mencarinya. Jika kamu boleh tolong aku mencari bapaku, aku berjanji akan menolong kamu." Burung tempua pun bersetuju. Sulung pun menceritakan tempat di mana bapanya selalu pergi untuk mencari rotan. "Baiklah! Kamu tunjukkan jalannya, dan apabila sampai di tempat itu, aku akan terbang di kawasan sekitar sehingga terjumpa bapamu," kata burung tempua. Sulung pun bersetuju dan meneruskan perjalanannya. Dia tidak lupa mengikatkan cebisan kain pada pokok dan ranting di sepanjang jalan sebagai penanda. Burung tempua terbang sambil mengikut Sulung. Apabila Sulung berasa letih, dia berhenti untuk berehat di bawah sebatang pokok yang rendang. Burung tempua turun ke tanah dan mematuk-matuk permukaan tanah untuk mencari biji-biji rumput untuk di makan. Sulung memakan bekalan yang di bawanya. Apabila telah hilang penat, mereka pun meneruskan perjalanan. Matahari telah naik tinggi di langit, tetapi oleh kerana ada angin bertiup, Sulung tidak berasa panas sangat. Tidak berapa lama kemudian, mereka pun tiba di tempat yang di tuju. Sulung melihat di sekelilingnya tetapi tidak nampak sesiapa. Sulung pun melaung, "Bapa, Sulung datang!" Kemudian dia mendiamkan diri dan memasang telinganya dengan harapan terdengar bapanya menyahut. Tempat itu sunyi sepi kecuali bunyi burung-burung berkicauan di atas pokok. Burung tempua datang menghampiri Sulung lalu berkata, "Biarlah aku terbang di kawasan sekitar. Jika aku ternampak sesiapa, aku akan datang ke sini dan memberitahu kamu." Sulung pun menjawab, "Baiklah tempua. Aku akan tunggu di sini." Sementara itu, Sulung terus memanggil bapanya. Tidak lama kemudian, Sulung ternampak burung tempua terbang ke arahnya. "Aku ternampak orang disebelah gaung sana. Mungkin itu bapamu," kata tempua. Tanpa berkata apa pun, Sulung terus berlari mengikut arah tempua terbang. Dia terhenti di tepi sebuah gaung yang dalam. Dari tebing gaung itu, tidak kelihatan apa-apa. Sulung melihat tempua terbang menuruni gaung dan berhenti di pertengahannya. "Ada orang di dalam gua kecil di tepi gaung ini. Jika kamu hendak turun, kamu kena berhati-hati kerana gaung in tersangat dalam," kata tempua. Sulung melihat ke bawah. Dilihatnya beberapa akar kayu yang besar dan teguh berjuntai di tepi gaung itu. Dia pun menuruni gaung sambil berpaut kuat kepada akar-akar itu. Apabila sampai ke mulut gua, Sulung menghulurkan kakinya perlahan-lahan. Apabila kakinya menjejak tanah yang keras, dia pun memasukkan badannya ke dalam gua kecil itu. Alangkah gembiranya Sulung bila ternampak bapanya sedang terbaring di situ. Dia cuba menggerakkan bapanya supaya bangun, tetapi bapanya tidak sedarkan diri. Dia pun memanggil tempua, "Tempua. Apa patut aku buat? Bapaku tidak sedarkan diri." Tempua yang berada di mulut gua itu pun berkata, "Aku rasa eloklah kamu balik ke kampung dan meminta pertolongan. Aku akan tunggu di sini sehingga kamu datang." Sulung dengan segera memanjat tebing gaung itu. Apabila sampai di atas, dia cuba menjenguk ke bawah. Dia nampak burung tempua sedang terbang di mulut gua. Dia pun mengambil secebis lagi kain dan di ikatnya kepada ranting kayu mati yang ada di situ. Raga bekalannya juga di tinggalnya di tepi tebing itu sebagai tanda. Dengan pantas dia berlari menuju ke arah kampungnya. Nasib baik kain-kain penanda ada di sepanjang jalan. Kalau tidak tentu susah juga Sulung hendak mencari jalan balik ke kampung. Sulung terus ke rumah ketua kampung. "Tok Ketua! Tok Ketua!" jerit Sulung. Apabila Ketua Kampung keluar, Sulung menceritakan masalah yang dihadapinya. Setelah mendengar cerita Sulung, Ketua Kampung segera menyuruh anaknya memanggil orang ramai. Seorang budak juga di suruh memberitahu emak Sulung dan memesan supaya dia menunggu sahaja di rumahnya. Tidak berapa lama kemudian, orang-orang lelaki kampung itu pun datang ke rumah Ketua Kampung. Setelah mendapatkan maklumat yang diperlukan dari Sulung, Ketua Kampung pun menyuruh orang membawa parang, tali, dan kain tebal. Orang-orang kampung pun segera mengikut Sulung ke arah hutan. Hari semakin petang, jadi mereka perlu cepat kerana kalau hari sudah gelap, tentulah menjadi sukar membawa bapa Sulung balik. Sulung menunjukkan jalan dengan berpandukan cebisan-cebisan kain yang diikatnya. Apabila sampai ke tebing gaung itu, dua orang turun menggunakan tali yang mereka bawa. Tidak lama kemudian, bapa Sulung telah dapat di tarik naik ke atas. Muka bapa Sulung disapukan dengan air, dan diberikan sedikit air untuk diminum. Orang-orang kampung memotong dua batang dahan yang lurus dan kuat. Dengan kayu dan kain tebal yang mereka bawa, mereka membuat sebuah pengandar. Beberapa orang kampung membakar pelepah kelapa kering sebagai penyuluh kerana hari telah gelap. Bapa Sulung dikandar balik ke rumahnya. Apabila sampai di rumah Sulung, kelihatan emaknya menunggu di muka pintu. Beberapa orang perempuan juga ada menemaninya. Bapa Sulung diangkat naik ke rumah dan dibaringkan ke atas tikar mengkuang dan bantal yang telah disediakan di tengah rumah. Beberapa orang tua membantu mengubati luka bapa Sulung. Apabila telah jauh malam, semua orang pun meminta diri untuk balik ke rumah masing-masing. Emak Sulung mengucapkan berbanyak terima kasih kepada mereka kerana telah bersusah payah membantunya. Sulung pergi menghampiri emak dan adik yang sedang menemani bapanya. Emaknya memeluk Sulung tanpa berkata apa-apa, tetapi Sulung tahu bahawa emaknya bersyukur kerana Sulung telah berjaya membawa balik bapanya. Oleh kerana terlalu letih, Sulung terus tertidur di sisi bapanya hingga ke siang. Pada keesokkan harinya, Sulung terkejut kerana bapanya tiada di tempat tidur. Rupanya emaknya sedang memapah bapanya untuk mandi. Selepas mandi, bapanya duduk di dapur untuk bersarapan. Setelah selesai makan, barulah bapanya dapat menceritakan bagaimana ia boleh berada di gua kecil di tepi gaung itu. Pada hari bapanya pergi mencari rotan, seekor babi hutan telah mengejarnya. Bapanya telah cuba melarikan diri, tetapi telah tergelincir di tepi gaung. Mujurlah dia dapat berpaut kepada akar-akar kayu yang ada, dan ternampak gua kecil itu. Oleh kerana tangan kanannya cedera, dia tidak berupaya memanjat tebing gaung itu lalu terperangkap di situ. Dia terpaksa duduk di dalam gua itu menunggu pertolongan. Dia bersyukur kerana Sulung menjumpainya sebelum dia mati kebuluran. Sulung pun menceritakan bagaimana seekor burung tempua telah menolongnya. "Aduh, saya telah terlupa janji saya kepada burung itu!" kata Sulung. Dia pun menceritakan apa yang telah berlaku semasa dia pergi mencari bapanya. "Emak dan bapa, izinkan saya mencari tempua untuk menepati janji saya," kata Sulung. Mereka mengizinkan, lalu Sulung pun terus ke rumpun buluh di tepi sungai. Apabila sampai di situ, dia pun memanggil, "Tempua, ini aku datang!" Tidak berapa lama kemudian, tempua pun terbang ke tepinya. Kata tempua, "Sebenarnya aku mengagak tentu kamu tidak dapat datang hari ini, jadi aku pun pergi mengutip rumput-rumput untuk mula menganyam sarangku ." Sulung pun duduk di atas tanah lalu berkata, "Aku rasa tentu kamu juga handal menganyam sarang. Kalau tidak, tentu kamu tidak akan memasuki pertandingan itu." "Memang aku boleh membuat sarang, tetapi kali ini adalah satu pertandingan yang istimewa. Pengadilnya adalah Puteri Bongsu Tempua. Jika dia menyukai sarangku, aku akan dapat mengahwininya," jawab tempua. Sekarang barulah Sulung mengerti betapa mustahaknya pertandingan ini kepada tempua. Dia terdiam dan bertafakur sebentar untuk mencari ilham. Tempua bertanya, "Apa yang kamu menungkan?" "Oh, maafkan aku. Aku sedang mencari ilham untuk menolong kamu," kata Sulung. "Cubalah ceritakan kepada ku cara kamu membuat sarang. Aku teringin juga hendak tahu," kata Sulung lagi. Tempua pun menceritakan, "Sebelum membuat sarang, burung tempua perlu memilih pokok dan tempat yang sesuai. Pokok yang dipilih mestilah tinggi seperti pokok kelapa atau rumpun buluh. Tempat yang sesuai adalah kawasan yang berhampiran sungai atau sawah padi. Demi untuk menjaga keselamatan, kami akan memilih pokok yang ada sarang tebuan, penyengat atau kerengga. Dengan itu, binatang lain tidak akan mengganggu kami." Sambungnya lagi, "Hanya tempua jantan sahaja boleh membuat sarang. Dia akan memilih helaian rumput atau daun padi muda yang sesuai. Dia menggunakan paruhnya untuk memotong rumput atau daun padi itu. Kemudian dia akan memintal beberapa helai rumput kepada ranting pokok sebagai punca sarangnya. Punca sarang ini dipintal dengan begitu kemas dan rapi untuk mengelakkan daripada terjatuh apabila ditiup angin. Selepas itu barulah dia menganyam sarangnya hinggalah siap. Apabila sarang-sarang itu siap, tempua betina akan memeriksa dan akan menduduki sarang yang paling disukainya. Begitulah caranya kaumku mendapatkan pasangan hidup." Terpegun Sulung mendengar cerita itu. Dia rasa bertuah kerana dapat mengetahui sedikit mengenai resam hidup burung tempua. Dia pun berkata, "Bolehkah kamu menunjukkan kepadaku rupa bentuk sarang-sarang mu?" "Sudah tentu boleh. Mari aku bawa melihat sarang-sarang yang akan memasuki pertandingan itu nanti," jawab tempua. Sulung mengikut tempua ke sebatang pokok kelapa. Beberapa sarang yang sudah siap tergantung dari pelepah-pelepah kelapa itu. Ada yang besar, dan ada juga yang kecil. Sulung juga ternampak beberapa ekor tempua sedang menganyam sarang yang separuh siap. Sulung terpegun melihat betapa tekunnya mereka bekerja untuk menyiapkan sarang masing-masing. "Wah, cantik sungguh sarang mereka!" kata Sulung. "Inilah yang membuat aku susah hati kerana bukan senang hendak mengalahkan mereka," kata tempua. Sulung berfikir sejenak lalu berkata, "Aku rasa kita perlu membuat sesuatu yang berlainan untuk menang." "Apa maksudmu?" tanya tempua. "Semasa aku kecil, nenekku selalu bercerita kisah raja-raja. Dia sering menceritakan tentang keindahan istana. Jika kamu ingin memikat hati Puteri Bongsu Tempua, kamu mesti menyediakan istana untuknya," kata Sulung. "Aku tidak faham maksudmu," kata tempua. "Aku rasa jika kamu menyediakan sebuah sarang yang indah dan besar, tentu puteri itu suka. Juga kamu patut sediakan beberapa bilik supaya Tuan Puteri dapat tinggal dengan selesa. Kau juga boleh sediakan buaian untuk Tuan Puteri bermain," kata Sulung. Tempua mengangguk-nganggukkan kepalanya tanda bersetuju, lalu berkata, "Itu satu cadangan yang amat menarik. Kita mesti merahsiakan perkara ini dari tempua-tempua yang lain." Apabila hari telah petang, Sulung pun baliklah ke rumahnya. Dia tidak dapat bertemu tempua beberapa hari kerana membantu bapanya di rumah. Pada suatu hari, Sulung meminta izin bapanya untuk keluar. Dia pun terus menuju ke tempat di mana tempua berada. Dilihatnya tempua sedang termenung. Dia pun bertanya, "Hai tempua, mengapa pula kamu termenung?" Tempua berpaling kepadanya dan berkata, "Burung tempua yang lain mentertawakan sarang yang aku buat. Aku hampir putus asa." "Jangan begitu! Kamu kena yakin pada diri sendiri. Aku juga yakin yang Puteri Bongsu Tempua akan memilih sarang mu," kata Sulung memberikan dorongan kepada tempua. Katanya lagi, "Biarlah sekarang mereka tertawa. Apabila kamu menang nanti, kamu pula yang tertawa gembira." Mendengar itu, tempua pun meneruskan kerja menganyam sarangnya. Tidak lama kemudian, tibalah hari yang dinanti-nantikan iaitu hari pengadilan sarang-sarang yang bertanding. Puteri Bongsu Tempua datang bersama ayahanda dan bondanya. Dia singgah dan memeriksa di luar dan di dalam setiap sarang. Akhir sekali dia tiba di sarang yang panjang dan bertingkat-tingkat. Di tepi sarang panjang ini ada sebuah buaian yang dianyam dengan kemasnya. Buaian ini mempunyai bumbung melengkung berserta tali buainya sekali. Puteri Bongsu pun hinggap di atas tali buai itu. Dia menghayun buaian itu dengan badannya sambil menyanyi perlahan-lahan. Hayun badan bergerak buai, Angin sepoi mencecah pipi; Hati tertarik padamu, aduhai, Sudah berjumpa pilihan hati. Selepas itu, dia terbang dan memasuki sarang yang bertingkat-tingkat itu. Didapatinya ada sebuah bilik yang dibuat pada setiap tingkat. Di dalam setiap bilik ada kunang-kunang yang menerangi bilik tersebut. Puteri Bongsu sungguh gembira melihat sarang yang indah ini. Dia pun memilih sarang ini sebagai juara. Sejak hari itu, Puteri Bongsu Tempua tinggal di sarang yang besar itu. Tempua-tempua yang lain berasa kecewa. Selang tiga purnama kemudian, Sulung pergi mencari tempua untuk bertanya khabar. Di atas rumpun buluh itu, dilihatnya beberapa ekor anak tempua sedang bermain buaian. Tidak lama kemudian, datanglah tempua kepadanya. "Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu. Kamulah yang memberi keyakinan kepadaku dahulu. Sekarang aku telah pun mengahwini Puteri Bongsu dan mempunyai tiga ekor anak. Aku berasa sangat bertuah dan sungguh bahagia sekarang," kata tempua. Sahut Sulung, "Sebenarnya aku lebih terhutang budi kepadamu. Kamu telah membantu aku mencari bapaku dahulu. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada mu." "Tahukah kamu bahawa buaianku menjadi ikutan kaum tempua? Di mana sahaja mereka membuat sarang, sudah pasti mereka juga akan menganyam buaian. Puteri Bongsu juga amat suka menyanyi ketika bermain buaian. Lihatlah betapa gembiranya Puteri Bongsu bermain dengan anak-anak kami," sambil tempua mendongak ke atas pokok di mana sarangnya berada. Mereka berdua terus berbual sambil mengimbas masa pertemuan dahulu. Sulung berasa amat besar hati dapat mengenali tempua. Apabila hari hampir senja, Sulung pun bangun lalu melambaikan tangannya kepada tempua sambil berkata, "Aku perlu balik dahulu. Kita akan berjumpa lagi wahai kawanku." Sulung pun beredar dari situ untuk pulang ke rumahnya. - Tamat - ======================================================= (Cerita Rakyat) SI TUKANG UBAT oleh : Noorazimah Taharim DI pinggir sebuah hutan nipah tinggal seorang nenek tua bersama dua orang cucunya. Cucunya seorang lelaki dan seorang perempuan. Semasa cucu-cucunya masih kecil, kedua ibu-bapa mereka telah meninggal dunia dalam kemalangan sampan terbalik di muara sungai. Nenek tua ini seorang yang tabah. Walau pun dia miskin, dia tidak sanggup menyerahkan cucu-cucunya kepada orang lain. Ada juga beberapa orang yang menyatakan kesanggupan mengambil cucu-cucunya untuk dijadikan anak angkat tetapi nenek tua ini menolak dengan baik. Hanya kedua cucu inilah keluarganya yang ada di dunia ini. Sekarang cucu-cucunya telah pun besar dan hampir remaja. Kedua cucu nenek tua ini sangat rajin. Setiap hari mereka membantu membuat pelbagai kerja. Cucu lelakinya akan pergi mencari kayu api di pinggir hutan, dan mengail ikan di sungai untuk dibuat lauk. Dia juga membantu membersihkan sekeliling rumah mereka. Untuk menghiasi halaman rumah, cucu lelakinya menanam beberapa pokok bunga melur dan pokok setawar. Halaman rumah mereka sentiasa kelihatan cantik dan bersih. Cucu perempuannya pula membantu di rumah. Walaupun umurnya masih muda, dia sudah pandai menanak nasi dan memasak pelbagai jenis lauk-pauk. Semua kerja mengemas rumah dilakukannya dengan cermat. Walaupun mereka miskin, rumah mereka sentiasa kelihatan bersih dan teratur. Nenek tua itu menyara hidup mereka sekeluarga dengan menganyam. Dia menganyam tikar dan sumpit beras yang diperbuat daripada mengkuang. Tikar dan sumpitnya sangat digemari oleh penduduk kampung kerana anyamannya halus dan kemas. Tikarnya sangat laku terutama sekali ketika orang hendak membuat kenduri perkahwinan. Pada suatu petang, nenek duduk berehat di bawah sebatang pokok kelapa muda di tepi rumahnya. Melati datang membawa air kopi dan keledek goreng. Tiga bercucu ini pun makan bersama-sama sambil berbual. Kemudian nenek bangun mengambil sebilah parang untuk mengopek kelapa. Malangnya, tiba-tiba sahaja parang itu tercabut dari hulunya dan terpacak di kaki nenek. Nenek menjerit kesakitan, "Aduh! Aduh!" Secepat kilat nenek mencabut parang itu. Darah memancut keluar dari luka di kakinya. Melati segera berlari ke rumah untuk mengambil kain. Dia turun semula untuk mendapatkan neneknya. Abangnya sedang bertinggung di tepi nenek sambil menekan bekas luka itu untuk menahan darah dari terpancut. Melati mencarikkan kain dan terus membalut luka itu kuat-kuat. Berkerut-kerut muka nenek menahan kesakitan. Awang pergi mengambil air dan mencuci kesan darah di tangan neneknya. Awang dan Melati memapah nenek naik ke rumah. Nenek dibaringkan dengan perlahan. Nenek berkata, "Awang. Pergilah kamu mencari daun halban segera. Nenek nampak pokok halban tumbuh di pinggir hutan hulu sana. Ambillah daunnya banyak-banyak kerana nenek hendak buat ubat". Awang terus mengambil raga di dapur. Dia berlari ke arah hutan. Di pinggir hutan itu dia ternampak banyak pokok halban tumbuh. Dia pun terus mematah-matahkan batang halban berserta daunnya. Diisinya raga itu penuh dengan daun halban. Awang terus pulang. Apabila Awang sampai ke rumah, dilihatnya nenek sedang duduk berlunjur sambil bersandar di tepi dinding. Awang terus meletakkan raga berisi daun halban tadi di hadapan neneknya. Nenek mengambil segenggam daun halban dan diramas-ramasnya. Dia meminta Melati membukakan kain balutan luka perlahan-lahan. Apabila kain itu terbuka, segera nenek menepekkan daun halban yang diramasnya ke lukanya. Dengan segera juga dia membalut luka itu semula. Pada malamnya, badan nenek menjadi panas. Kali ini nenek menyuruh Awang menumbuk daun-daun halban hingga lumat. Daun halban yang lumat itu diletakkan ke dalam sebuah pinggan dan dibawanya kepada nenek. Nenek menyuruh Melati melumurkan daun halban itu ke dahi, tengkuk dan badan nenek. Malam itu Melati tidur di sebelah neneknya. Awang masuk ke biliknya untuk tidur, tetapi tidak dapat melelapkan mata. Dia asyik teringatkan darah yang terpancut-pancut dari luka neneknya siang tadi. Selama tiga hari tiga malam nenek tua itu demam. Awang dan Melati terus melumurkan daun halban yang lumat ke dahi dan badan nenek. Mereka juga membersihkan luka dan membalutkannya semula luka berserta daun halban yang baru. Jiran-jiran juga datang menziarah nenek dengan membawa pelbagai kuih-muih sebagai buah tangan.. Pada pagi hari keempat, demam nenek pun mulai reda. Nenek sudah boleh duduk berlunjur sambil mengurut-utrut lutut dan pehanya. Awang terus duduk di tepi neneknya lalu berkata, "Nenek. Marilah Awang urutkan nenek." Awang berasa amat bersyukur kerana neneknya telah sembuh. Adalah pada hari itu juga Awang berazam untuk mempelajari ilmu membuat ubat dari berbagai jenis tumbuhan. Dia mahu membantu orang-orang yang sakit. Selepas makan malam, tiga bercucu ini pun duduk ke tengah rumah. Nenek sudah tidak demam lagi, cuma badannya berasa lenguh-lenguh. Awang berkata, "Nenek. Awang teringin hendak belajar cara membuat ubat dari tumbuhan. Bolehkah nenek ajarkan?" Nenek kelihatan tersentak mendengar kata-kata Awang itu. Sebenarnya arwah suami nenek tua ini dahulu juga seorang dukun yang terkenal di kampung itu. Arwah suaminya mempelajari ilmu membuat ubat-ubatan dari pelbagai tumbuhan sejak kecil lagi di bawah bimbingan datuknya, seorang dukun di raja. Mungkinkah Awang akan mengikut jejak langkah moyangnya, fikir nenek tua ini. Awang gelisah kerana neneknya tidak berkata apa-apa. Dia berkata, "Nenek. Mengapakah nenek diam sahaja? Nenek tidak suka akan cadangan sayakah?" Jawab nenek, "Sebenarnya nenek sedang memikirkan siapakah yang boleh mengajar Awang ilmu ubat-ubatan itu. Nenek ini tahu sedikit sahaja tentang perkara ini. Awang perlu mencari seorang dukun yang berpengetahuan dan berpengelaman sebagai guru." Mendengar kata-kata neneknya itu, barulah lega rasa hati Awang. Sejurus kemudian, nenek berkata lagi, "Biarlah nenek bertanyakan kepada orang-orang kampung dahulu. Mereka mungkin kenal orang yang boleh menjadi guru. Malam pun sudah sayup, marilah kita tidur dahulu." Walau pun Nenek dan Melati telah lama tidur, Awang terus berjaga. Bermacam-macam yang difikirkannya. Lima hari kemudian, jiran mereka Pak Mat berkunjung untuk menziarah nenek. Mereka berbual-bual sambil minum kopi. Kemudian nenek memangggil Awang. Dia berkata, "Pak Mat memberitahu nenek bahawa ada seorang dukun yang handal di sebelah bukit sana. Pak Mat bersedia membawa kamu pergi berjumpa dukun itu." Awang berasa sungguh gembira. Sepekan kemudian, Awang dan Pak Mat pun bertolaklah menuju ke bukit tempat dukun itu tinggal. Semasa dalam perjalanan, mereka berhenti untuk berehat dan makan. Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah dukun itu. Sewaktu Pak Mat dan Awang sampai, dukun itu sedang berehat di serambi rumahnya. Mereka pun memberi salam, dan dijemput oleh dukun itu naik. Dukun itu berkata, "Marilah naik. Boleh juga kita membasah tekak." Pak Mat dan Awang naik dan bersalaman dengan Tok Aki. Selepas minum dan hilang penat, barulah Pak Mat memberitahu hajat mereka datang. Tok Aki memegang janggutnya yang putih sambil tersenyum. Katanya, "Baguslah begitu. Anak-anak muda jarang sekali mahu belajar ilmu ubatan asli begini. Tok Aki pun sudah tua. Tok Aki amat suka hati untuk memberi semua ilmu yang Tok Aki ada." Awang berasa sangat gembira mendengar kata-kata orang tua itu. Tok Aki mempelawa Pak Mat untuk bermalam. Kata Tok Aki, "Esok sajalah pulang. Hari pun dah mulai gelap." Pak Mat menerima pelawaan itu dengan besar hati. Pak Mat dan Tok Aki berbual hingga ke larut malam. Awang sudah lama tidur kerana penat berjalan sehari suntuk. Pada keesokkan harinya, selepas sarapan, Pak Mat meminta diri untuk pulang. Dia bersalaman dengan Tok Aki dan berkata kepada Awang, "Ini adalah peluang yang paling baik bagi mu menimba ilmu. Jangan sia-siakan." Jawab Sulung, "Saya berjanji akan belajar dengan rajin. Kirimkan salam saya kepada nenek dan Melati. Beritahu mereka saya akan kembali apabila tamat pembelajaran saya ini." Awang pun bersalaman dengan Pak Mat. Setelah Pak Mat tidak lagi kelihatan, Tok Aki memanggil Awang. Dia menyuruh Awang pergi ke hutan di belakang rumah. Kata Tok Aki, "Pergilah kamu ke hutan belakang itu dan kutip sepuluh jenis tumbuhan yang kamu jumpa di situ. Pastikan kau membawa akar pokok itu sekali. Nah, bawalah golok ini untuk kegunaan mu." Awang pun berjalanlah menuju ke hutan belakang. Dilihatnya bermacam-macam jenis pokok besar dan kecil di hutan ini. Dia pun memilih hanya sepuluh tumbuhan. Semua kutipannya dimasukkan ke dalam guni dan dibawanya pulang. Dilihatnya Tok Aki sedang memotong pelbagai jenis akar-kayu di serambi. Awang menyusun semua tumbuhan yang dikutipnya di atas lantai. Tok Aki mengajar Awang mengenali jenis-jenis tanaman yang dibawanya pulang. Setiap hari selama tiga purnama Awang disuruh mengutip pelbagai jenis tumbuhan untuk dikenalpasti. Setelah genap tiga purnama, Awang telah mengenali setiap tumbuhan yang ada di hutan itu. Seterusnya pula Awang diajar mengenai tumbuhan yang boleh dijadikan ubat. Tok Aki juga mengajar Awang mengenai tumbuhan yang beracun. Awang mengikuti ajaran Tok Aki dengan tekun dan tabah. Memandangkan ketabahan Awang, Tok Aki berasa sangat bersemangat untuk mengajar. Semua ilmu yang diketahui Tok Aki diajarkan kepada Awang. Tanpa disedari, sudah dua tahun masa berlalu. Pada suatu malam, selepas keduanya makan, Tok Aki berkata, "Awang, sekarang tamatlah pengajianmu. Tok Aki bersyukur kerana dapat memanjangkan ilmu Tok Aki kepada orang muda seperti mu." Awang pun berkata, "Saya amat berhutang budi kepada Tok Aki. Saya berjanji akan menggunakan ilmu ini untuk menolong orang yang memerlukan. Izinkan saya untuk membawa pelbagai bekalan akar-kayu dan ubat-ubatan bersama saya nanti." Tok Aki mengangguk tanda bersetuju. Pada hari perpisahan, Awang bersalaman dengan Tok Aki. Awang berasa sangat hiba untuk meningalkan Tok Aki yang telah membela Awang seperti anaknya sendiri. "Hanya tuhan sahaja boleh membalas budi baik Tok Aki kepada saya," kata Awang. Awang berjalan meninggalkan Tok Aki. Dibawa bersamanya bekalan ubat-ubatan dan bungkusan pemberian Tok Aki. Sedang dia berjalan merintasi suatu hutan kecil, terdengar bunyi binatang berlari. Awang menoleh ke arah bunyi itu dan ternampak seekor anak rusa putih yang sangat cantik. Anak rusa putih itu melompat-lompat seolah sedang bermain. Awang menyembunyikan diri di belakang semak. Dia mengintai ke arah anak rusa itu bermain. Kemudian kelihatan seorang anak muda yang tampan berlari ke arah anak rusa itu. Dari pakaian anak muda itu, Awang mengagak bahawa anak muda itu seorang bangsawan. Awang keluar dari tempat dia menyembunyikan diri. Dia mengutip bungkusan bekalannya untuk meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba dia terdengar bunyi suara orang menjerit. Dia menoleh ke arah suara itu dan ternampak anak muda yang tampan tadi jatuh ke tanah. Di belakangnya terpacak sebatang anak panah. Awang segera berlari kepada anak muda yang cedera itu. Anak muda itu sedang mengerang kesakitan. Mata anak panah yang terpacak itu menembusi tulang belikat anak muda itu. Awang segera mematahkan batang panah itu. Anak muda itu ditelentangkannya. Dengan memegang kuat mata anak panah itu, ditariknya dengan pantas hingga tercabut keluar. Kemudian Awang mengambil kain tanjak orang muda itu lalu diikatnya luka yang berhamburan darah itu. Diikatnya kuat-kuat supaya darah tidak mengalir keluar. Dilihatnya muka anak muda itu pucat lesi. Awang menuangkan sedikit air ke bibir anak muda itu. Awang terasa sesuatu menggesel belakangnya. Awang terkejut tetapi berasa lega kerana yang menggesel tadi hanyalah anak rusa putih. Anak rusa itu seolah-olah meminta Awang mengikutinya. Awang terus bangun dan mengikuti anak rusa putih itu. Anak rusa itu membawa Awang ke pinggir sebuah kampung. Hairan juga Awang kerana dilihatnya semua orang di kampung ini tampan dan lawa. Wanitanya pula cantik dengan senyuman yang amat menawan. Anak rusa putih itu pula terus menyondol kakinya. Awang bangun dan mengikut anak rusa itu ke arah sebuah rumah yang sangat cantik dan besar. Seorang tua keluar dari rumah itu. Awang memberi salam dan berkata, "Maafkan saya jika saya mengganggu. Di hutan sana seorang pemuda bangsawan terkena panah. Telah saya cabutkan anak panah itu dan dia memerlukan pertolongan segera." Orang tua itu tidak menjawab cuma menepukkan tangannya beberapa kali. Kemudian datang enam orang pemuda yang sama tampan. Mereka seolah-olah berhubung diantara satu sama lain melalui kuasa pemikiran. Walau pun tiada sepatah perkataan keluar dari mulut orang tua itu, mereka seperti memahami arahannya. Ke enam orang muda itu bergegas mengikuti jejak anak rusa putih. Orang tua itu mengisyaratkan dengan tangannya supaya Awang naik ke rumah yang tersergam indah itu. Awang ditunjukkan ke sebuah bilik di mana telah tersedia pakaian yang sungguh cantik. Orang tua itu mengisyaratkan kepadanya untuk mandi dan memakai baju yang cantik itu. Selepas mandi, Awang pun mengenakan pakaian yang disediakan. Dia keluar dari biliknya dan berjalan ke arah anjung. Orang tua tadi sedang bersila di atas sehelai hamparan merah. Ternampak sahaja Awang, dia terus berkata, "Duduklah wahai anak muda yang baik hati. Aku adalah penghulu kampung ini. Apakah namamu dan dari mana kamu datang?" "Nama saya Awang dan saya datang dari kampung di hilir sana. Apakah nama kampung ini?" tanya Awang. "Kamu sekarang berada di Kampung Lindungan. Aku berharap kamu boleh membantu mengubati anakku yang luka itu. Tinggallah di sini dahulu sebelum kamu pulang ke kampungmu," kata orang tua itu lagi. Tidak berapa lama kemudian, anak muda yang tercedera tadi diusung masuk. Salah seorang daripada enam orang pemuda itu meletakkan bungkusan ubat-ubatan Awang di hadapannya. Awang mengucapkan terima kasih. Pemuda tersebut hanya menganggukkan kepalanya. Awang terus mengeluarkan bahan yang diperlukannya untuk mengubati luka anak muda itu. Dia meminta lesung batu dan menumbuk bahan akar kayu yang dikeluarkan dari bungkusannya itu hingga lumat. Dituangnya sedikit air dan digaulkan bahan yang lumat tadi. Sambil membuka kain balutan dengan cermat, ditepeknya bahan tadi pada luka anak muda itu. Dibalutnya luka itu dengan kain yang bersih. Anak muda itu diberi minum air ubat bagi menahan sakit. Awang terus tinggal bersama keluarga bangsawan ini hinggalah anak muda itu sembuh. Bila anak muda itu telah sembuh, Awang memohon untuk pulang ke kampungnya. Orang tua itu memujuk Awang supaya tinggal di situ dan membantu orang-orang kampung yang sakit. Awang berasa serba salah, lalu menerima pelawaan orang tua itu untuk berkhidmat di kampung itu sebagai dukun. Awang sering dipanggil mengubati orang-orang sakit. Upah yang diberi juga adalah lumayan. Orang yang kaya memberi upah wang emas, dan yang lain memberi upah wang perak. Segala keperluan Awang diberi oleh orang kampung. Sebuah rumah lengkap dengan perabut dan pembantu-pembantu juga disediakan untuknya. Awang sangat disayangi oleh orang kampung itu. Lapan purnama berlalu dan Awang mulalah berasa rindu untuk pulang ke kampungnya. Dia terkenangkan nenek dan adiknya yang telah hampir tiga tahun ditinggalkan. Dia menyatakan hasrat untuk pulang kepada tok penghulu. Dia memberitahu yang dia terlalu rindukan nenek dan adiknya. Orang tua itu pun mengizinkan Awang pulang ke kampungnya. Awang mengambil masa beberapa hari menziarahi orang-orang kampung untuk mengucapkan selamat tinggal. Sebelum meninggalkan kampung itu, Awang mengucapkan terima kasih sambil berjabat salam dengan tok penghulu dan anaknya. Awang terus mengangkat bungkusan ubatnya dan anak rusa putih ke arah hutan. Sampai sahaja Awang di pinggir hutan, anak rusa itu tiba-tiba hilang dari pandangannya. Awang meneruskan perjalanannya. Badannya berasa gatal-gatal. Dia pun menggaru dadanya. Alangkah terkejutnya Awang apabila bajunya koyak. Bajunya yang cantik tadi bertukar menjadi daun pisang kering. Awang menoleh ke arah Kampung Lindungan, tetapi yang kelihatan hanyalah hutan belantara. Kampung Lindungan tidak kelihatan langsung seolah-olah telah ditelan oleh hutan itu. Awang segera membuang daun pisang kering itu dan memakai pakaiannya sendiri. Bungkusannya yang tadi berat dengan kepingan wang emas dan perak menjadi ringan. Bila dibukanya bungkusan itu, didapati di dalamnya hanya kepingan kayu kering. Awang berasa seram. Awang terus berjalan ke arah kampungnya. Dari jauh lagi dia telah nampak bumbung atap rumah neneknya. Dia melihat tiga orang kanak-kanak bermain di halaman rumah. Kelihatan seorang wanita muda yang meriba bayi sedang duduk berbual dengan neneknya di bawah pokok kelapa. Awang berasa hairan kerana dia meninggalkan kampungnya baru tiga tahun, tetapi neneknya kelihatan sangat tua. Dia memberi salam dan terus berlutut di hadapan neneknya. Neneknya terkejut dan apabila dia mengenali bahawa yang berada di hadapannya adalah cucunya Awang, nenek terus memeluk Awang sekuat-kuatnya. "Aduh, buah hatiku. Sepuluh tahun kami menunggumu. Tidak sehari pun kami melupaimu," kata neneknya. Giliran Awang pula terkejut. "Saya hanya pergi tiga tahun, mengapa pula nenek kata sepuluh tahun?" tanya Awang kehairanan. "Siapakah wanita ini? Mana Melati?" tanyanya lagi. "Abang. Tidakkah abang mengenali saya lagi? Sayalah Melati, adik abang. Saya telah pun mendirikan rumah tangga dan mempunyai empat orang anak," kata wanita itu. Awang menjadi kebingungan. Setelah beberapa lama memerhati muka wanita itu, barulah dia mengenali wanita itu sebagai adiknya, Melati. Lama juga dia terdiam. Di sekelilingnya kelihatan banyak perbezaan. Pokok kelapa muda di tepi rumah telah menjadi tinggi. Pokok buah-buahan yang ditanamnya di belakang rumah telah besar dan berbuah. Barulah Awang tahu bahawa apa yang dikatakan oleh nenek dan adiknya adalah betul. Dia telah meninggalkan rumah lebih dari sepuluh tahun dan bukan tiga tahun seperti yang disangkanya. Nenek menyuruh Melati menyediakan makanan untuk Awang. Awang pergi ke perigi untuk mandi. Selepas mandi Awang makan. Tidak lama kemudian, suami Melati pun pulang ke rumah. Nenek memperkenalkan Awang kepadanya. Awang menceritakan kisahnya di Kampung Lindungan. Dia juga menceritakan bagaimana baju cantik yang dipakainya menjadi daun pisang kering sebaik sahaja dia keluar dari kampung itu. Begitu juga dengan wang upahan yang diterimanya telah menjadi kepingan kayu kering. Keluarganya menggeleng-gelengkan kepala mendengarkan cerita pelek itu. Pada keesokan harinya, ramai jiran datang bertanya khabar. Kisah Awang hilang di hutan menjadi buah mulut orang kampungnya. Pak Mat juga datang menemui Awang. Dia memberitahu bahawa Tok Aki telah meninggal dunia dua tahun lalu. Pak Mat meminta Awang menggunakan ilmu yang dipelajarinya dahulu dengan sebaik-baiknya. Apabila orang kampung mengetahui Awang mempelajari cara-cara membuat ubat dari bahan asli, mereka datang berjumpanya apabila mereka sakit. Nama Awang terkenal hinggalah ke kampung-kampung lain. Dia juga dipanggil untuk mengubati pembesar-pembesar negeri. Namaya dikenali hingga ke istana raja. Pada suatu hari, permaisuri jatuh gering. Awang dijemput ke istana untuk mengubatinya. Berbagai jenis ubat disediakan untuk menyembuhkan penyakit permaisuri. Selepas sepekan, permaisuri pun sembuh. Raja sungguh gembira lalu melantik Awang menjadi dukun di raja. Awang memberitahu nenek mengenai perlantikannya sebagai dukun di raja. Nenek tersenyum gembira kerana Awang mengikut jejak moyangnya yang dahulu adalah dukun di raja juga. Awang bersyukur atas kesenangan yang dinikmatinya sekarang. Dibinakannya sebuah rumah yang besar dan cantik untuk nenek dan adiknya kesayangan. Walaupun Awang telah menjadi dukun di raja, dia tidak sombong. Jika ada orang miskin datang menemuinya, akan diberinya sedekah. Jika mereka sakit, dia akan membekalkan ubat secara percuma. Ketinggian budi Awang mendapat perhatian Tuan Puteri Gurindam Sutera. Setelah berbincang raja dengan pembesar-pembesarnya, Awang pun dikahwinkan dengan puterinya, dan tinggallah mereka di istana dengan bahagianya. - Tamat - ======================================================= (Cerpen) 4024 oleh Noorazimah Taharim Ring. Riing. Telefon di atas rak buku itu berbunyi. "Ali. Ooi Ali. Tolong angkat telefon sat. Mak tengah masak ni," laung Mak Timah kepada anak bongsunya, Ali. "Tak pa, hai. Aku angkat ni," sahut Pak Omar. "Halo. Ya, saya. Oh, Bang Aji! Nak suruh mai petang ni jugak? Awat, ada kenduri ka? Baiklah. Lepas Jumaat nanti kami pi lah," kata Pak Omar ke dalam telefon. "Mak hang, ooi. Masak la cepat-cepat sikit. Bang Aji Husin panggil pi rumah dia lepas Jumaat nanti ni," sambil Pak Omar membuka tudung periuk di atas dapur. "Ada hal apa abang, ooi? Depa ada nak buat baca yasin ka?" tanya Mak Timah. "Bang Aji tak kata pasai apa pun. Dia suruh kita pi rumah dia saja. Esh, mak hang dok ternganga apa lagi? Lekaslah hidang. Ni dah dekat pukul satu. Saya rasa nak makan sebelum pi masjid ni," gesa Pak Omar. "Ya lah. Ya lah," rungut Mak Timah sambil meletakkan piring dan pinggan ke atas meja makan. Selepas makan Pak Omar terus ke masjid bersama Ali. Pesannya sebelum turun, "Mak hang, ooi. Mak hang siaplah pakai-pakai baju. Kita terus pi lepas Jumaat". Mak Timah segera mengemaskan meja makan. Hatinya tertanya-tanya apakah halnya dengan Haji Husin di Kampung Telui itu. Tidak pernah pula Haji Husin memanggil mereka dengan keadaan yang tergesa-gesa begitu. Juga selalunya dia akan memberitahu hal sebenar apabila memanggil. Kali ini rasa pelik pula. Tiba-tiba suruh datang sahaja tanpa memberitahu sebabnya. Mak Timah terus mencapai tuala untuk mandi. Berlengas pulak rasa badan ni, fikir Mak Timah. Selepas mandi Mak Timah mengenakan baju jubah yang dibelinya di Mekah tiga tahun dulu iaitu semasa mengerjakan hajinya. Walaupun sudah tiga tahun baju itu dibelinya, dia masih sukakan baju itu. Selesa dan ringkas. Mak Timah bersedia untuk mengerjakan zohor. Setelah dia nampak jirannya balik dari masjid, dia pun terus bersembahyang. Dalam doanya, dia memohon keampunan Allah atas segala dosanya dan dosa suaminya. Memohon kesejahteraan untuk mereka seisi keluarga, terutama untuk kelima anak-anak mereka. Memohon petunjuk Allah akan setiap pekerjaan yang dibuat. Mak Timah mengesat air matanya yang mengalir turun di pipi dengan hujung telekungnya. Dia mensyukuri kebahagiaan dan keharmonian hidupnya sekeluarga. "Mak. Mak. Ayah ajak pi rumah Pak Aji Husin," tiba-tiba saja si Ali berada di pintu biliknya. Mak Timah bergegas bangun. Telekungnya di gantung di ampaian. Dia mengambil tudung hitamnya dari almari. Selepas menempekkan bedak sedikit, dia mengenakan tudungnya. Mak Timah terus turun dan menaiki kereta. Disepanjang jalan mereka tidak berkata-kata. Benak masing-masing tertanya-tanya sebab mereka dipanggil. Semasa membeluk masuk ke perkarangan rumah Haji Husin, mereka rasa hairan kerana tidak nampak orang lain. Jika ada kenduri tentulah sudah ramai orang kampung di situ. Pak Omar memberi salam. Haji Husin menjawab salam dari dalam rumah. Pak Omar dan Mak Timah memasuki rumah. Selepas bersalaman, mereka dibawa ke ruang tamu. Di ruang tamu sudah ada tiga orang lelaki separuh umur sedia menunggu. Pak Omar berpandangan dengan Mak Timah. Hati Mak Timah berdebar-debar hendak tahu sebab mereka dipangil petang itu. "Kita habak teruslah pada si Omar ni. Tak payah buang masa lagi," kata Haji Husin kepada ketiga tetamunya. "Sebenarnya kami ni nak pi hantar belanja. Kami ni nakkan Omar mai sama," jelas Haji Husin. Kelihatan Pak Omar menghela nafas sambil berkata, "Yang tu saja ka? Amboi, saya ingatkan perkara cemas apa ka? Tapi hantar belanja untuk sapa? Anak dara mana?" Haji Husin pula berpandangan dengan ketiga tetamunya. Dia berpusing ke arah Pak Omar lalu berkata, "Rumah sebelah rumah ni saja". Jarinya menuding ke arah tepi rumahnya. "Untuk si Mud," jelasnya ringkas. "Tapi pasai apa kena tunggu saya? Nak berbisan dengan jiran saja. Bukan dengan orang jauh," kata Pak Omar inginkan penjelasan. Haji Husin berpandangan dengan ketiga tetamunya. Ketiga mereka berpandangan diantara satu sama lain. Mak Timah rasa tak sedap hati. Ini mesti ada hal lain, benaknya berkata. "Aku ajak hang sama supaya boleh dapat harga murah sikit," ujar Haji Husin. Pak Omar ketawa. "Macam mana pulak tu. Saya tak kenal jiran Bang Aji pun," kata Pak Omar. "Hang boss kepada Mail Mandor. Si Mail tu pak penakan budak perempuan tu. Aku nampak Si Mail dah pun ada kat rumah tu dari pagi tadi. Kalau hang ada sama mesti Si Mail tu rekomen adik dia jangan letak mahal sangat!" terang Haji Husin. Pak Omar senyum melerek. "Yang tu kat tempat kerja. Yang ni hal keluarga depa. Mana ada kaitan," kata Pak Omar. Kata Haji Husin pula, "Aku tak mau pi. Omar, ooi. Hang jadi kepala rombongan pi letak belanja. Nah ni dua ratus. Kalau tak jadi, hang jangan tinggal duit tu. Kalau jadi saja hang tinggalkan". Haji Husin menghulurkan not seratus kertas dua keping kepada Pak Omar. "Hang jangan terima kalau depa letak tinggi-tinggi. Aku sanggup had bawah tiga ribu. Kalau depa letak lebih, aku cari anak dara lain," kata Pak Husin sambil mengiringi Pak Omar beserta ketiga tetamunya ke pintu.. Hai, bunyi macam tak berkenan saja. Ada pulak letak-letak cengkeram. Macam nak beli peti televisyen, protes Mak Timah di dalam hatinya. "La, Mak Tam. Bila sampai? Saya kat dapur tadi," kata Som, anak tua Haji Husin sambil menghulurkan tangan untuk bersalam. Katanya lagi, "Mak pi kedai depan sat. Mak pi beli kopi. Kopi dalam tong tu masuk angin. Keras macam batu". Mak Timah sudah tidak dapat menahan sabar lagi lalu terus bertanya, "Eh Som. Awat yang pelik sangat bunyi Pak Aji Husin hari ni?" "Adui, Mak Tam. Tau tak kami sekeluarga pening dibuat oleh budak si Mud tu. Mula-mula dia suruh ayah dan mak cari bini kat dia. Jadi ayah dan mak pi lah cari. Banyak duit habis kena sewa kereta. Bila kita habak dah ada anak dara untuk dia, dia buat main-main. Kata tak pekenan la, tak lawa la, tua dari dia la. Dah tu kelmarin baru dia habak suruh pinang si Leha budak sebelah rumah. Macam mana tak haru sebab mak pak budak tu dah tau kata ayah dan mak dok pergi risik kat kampung lain. Jadi depa pun rasa kecil hatilah. Macam kami pulak yang tak pekenan kat anak depa," jelas Som dengan panjang lebar. "Dah tu macam mana?" tanya Mak Timah lagi. " Inilah yang kami peningkan ni. Pak mak budak tu dah kata kalau tak mau anak depa pun tak apa. Lepas tu ayah dan mak pulak rasa kecil hati sebab depa rasa depa tak bersalah. Yang bersalah si Mud ni. Dia yang tak mahu berterus terang dari awal. Kalau awal-awal habak nak menikah dengan Leha, tak la jadi macam ni," kata Som lagi. Tiba-tiba, salah seorang dari empat orang yang pergi ke rumah sebelah kembali. "Aaii, hang balik sorang pasai apa?" tanya Haji Husin kepada lelaki itu. "Si Derus tu tak keluar bilik pun. Kami dok berunding dengan Si Mail saja," jelas lelaki itu. "Esh, awatlah jadi susah awal-awal lagi," keluh Haji Husin. "Hang pi lah tunggu keputusan depa," pinta Haji Husin. Haji Husin sudah macam kuching kehilangan anak. Sekejap duduk di atas kerusi. Sekejap berjalan ke tingkap mengintai arah rumah jirannya. Apabila kedengaran bang menandakan waktu asar, Haji Husin terus mengambil wuduk. Selepas sembahyang, Haji Husin mundar-mandir berjalan di tengah rumah. Mak Timah dan Som memerhatikan saja telatahnya. "Mula-mula susah, lepas tu senang. Mula-mula susah, lepas tu senang," ngomel Haji Husin berulangkali. Dia seolah-olah berdoa. Tidak berapa lama kemudian, rombongan merisik tadi kembali. Pak Omar dan ketiga lelaki bersamanya mengambil tempat dekat dengan Haji Husin. Haji Husin merenung muka mereka dengan penuh harapan. "Hasrat kita tidak berjaya," kata salah seorang dari lelaki bertiga itu. "Mula-mula depa letak empat ribu lapan ratus. Bila dah minta kurang, depa kata depa bagi tetap kat empat ribu dua-puluh empat. Kami nak minta tiga ribu macam yang Pak Aji minta pun depa tak bagi. Perasan depa tak turun lagi dah," sambungnya lagi. "Kan aku dah kata tadi, kalau lebih dari tiga ribu, aku tak mau. Biar aku cari anak dara lain," dengus Haji Husin. Mak Timah memerhatikan saja telatah Haji Husin dengan rasa kesal. Fikirnya, yang nak kahwin Si Mud. Kalau depa nak letak tinggi sikit pun, pandai-pandai lah Si Mud cari duit. Pinjam duit koperasi atau pinjam kat keluarga dulu. Nanti depa kahwin lari, semua orang jadi susah. Tiba-tiba bahu Mak Timah disentuh orang. Sepasang tangan dihulur untuk bersalam. Mak Timah mendongakkan kepalanya sambil menyambut salam. "Hang rupanya," kata Mak Timah sambil menyambut tangan Hajah Esah, isteri Haji Husin. "Macam mana? Depa dah terima kah pinangan kami, tu?" tanya Hajah Esah kepada Mak Timah. Mak Timah memandang kepada Som. Som menceritakan kepada emaknya apa yang didengarnya dari perbualan ayahnya dengan rombongan yang pergi merisik tadi. Hajah Esah kelihatan kecewa. Dia susah hati kerana dia rasa kalau Haji Husin berkeras hati dengan keputusannya dengan hantaran tiga ribu sahaja, mungkin perkahwinan ini tidak akan terjadi. Malam sebelumnya Si Mud telah memberitahunya bahawa dia hanya akan kahwin dengan Leha sahaja. Kalau susah-susah, depa nak kahwin lari saja. "Timah. Kamu dulu pun nak menikah dengan Omar susah jugak, kan?" tanya Hajah Esah kepada Mak Timah. Mak Timah tersentak. Dia tidak mahu mengingat peristiwa pedih tiga-puluh tahun lalu. Mak Timah menjawab hambar, "Susah...". Mak Timah gelisah. Dia tidak mahu Som mengetahui cerita lampaunya. Mak Timah nampak kelibat Pak Omar keluar dari bilik air. Nampak macam Pak Omar hendak mengerjakan sembahyang asar. Mak Timah meminta diri untuk mengambil wudhu'. Pak Omar menunggu Mak Timah untuk berjemaah dengannya. Selepas memberi salam, Mak Timah menguit bahu Pak Omar. "Abang. Saya rasa patut abang pujuk Haji Husin. Yang nak kahwin Si Mud. Dia hendak juga budak Leha tu. Som kata depa dah berkawan sejak di bangku sekolah lagi. Kita bagi elok saja lah perkara ini," gesa Mak Timah. Pak Omar memandang terus ke mata Mak Timah. Dilihatnya dua butir air jernih mengalir turun ke pipi montok isterinya. Dia faham sangat apa yang difikirkan oleh isterinya itu. Dia mengangguk lalu terus berjalan ke ruang tamu. Lama juga Pak Omar berkata-kata dengan Haji Husin. Mak Timah lihat Haji Husin sekejap mengeleng kepala. Sekejap mengangguk-ngangguk. "Alhamdulillah," kedengaran Pak Omar berkata. Mak Timah menghela nafas lega. "Empat ribu dua-puluh empat pun tak apalah," kata Haji Husin. "Buat cepat-cepat. Bagi depa kahwin cepat, aku tak pening kepala," sambungnya lagi. Mukanya kelihatan jernih dan tersenyum. Mak Timah dan Hajah Esah berpandangan. Pak Omar berpaling ke arah Mak Timah sambil tersenyum. Mak Timah tidak menunjukkan apa-apa reaksi di mukanya. Hajah Esah bangun dan berjalan ke arah suaminya. Setelah mendengar sesuatu yang diperkatakan oleh Haji Husin, Hajah Esah kembali duduk di tepi Mak Timah. Di bibirnya terukir satu senyuman. "Bang Aji setuju dengan hantaran empat ribu dua-puluh empat tu. Syukur alhamdulillah," sambil tangannya memegang lengan Mak Timah. "Eloklah tu," jawab Mak Timah. Som keluar dari dapur dengan membawa rambutan dan manggis. Kemudian dia membawa kopi panas dan kuih dangai. Mak Timah menjamah kuih dangai kegemarannya. Dia tidak banyak cakap. Dia cuma mendengar celoteh Hajah Esah mengenai rancangan kenduri kahwin yang akan diadakan pada cuti sekolah nanti. Pak Omar mengajak Mak Timah balik. Selepas meminta diri dari Haji Husin dan Hajah Esah, mereka turun menuju ke arah kereta. Di dalam kereta Mak Timah nampak resah. Tangan kiri Pak Omar menggenggam sebentar tangan kanan Mak Timah. Pak Omar tahu apa yang membuat Mak Timah resah. Kisah perkahwinan mereka tiga-puluh tahun dulu masih menjadi igauan Mak Timah. Semasa keluarga Pak Omar masuk meminang Mak Timah, keluarga Mak Timah menolak bulat-bulat. Pak Omar dari keluarga yang miskin. Mak Timah anak tunggal orang kaya Kampung Telui. Akhirnya mereka mengambil keputusan nekad untuk kahwin lari. Pak Omar tahu Mak Timah tidak mahu perkara yang sama berlaku terhadap Si Mud dan Leha. Luka lama berdarah semula dalam ingatan Mak Timah. Kedua orang tua Mak Timah meninggal dunia dalam kemalangan semasa mereka mencari Mak Timah pada hari Mak Timah dan Pak Omar bernikah di Pattani. - Tamat - ======================================================= ÄÄÇ»·¯¿ë¾î(¸»-¿µ): Istilah Perkataan Istilah Perkataan Disini terdapat beberapa istilah atau maksud perkataan yang banyak digunakan dalam halaman permainan ini. abjad -- character | balik -- back bantuan -- help | buka -- open carian -- search | daftar -- subscribes direktori -- directory | fail -- file halaman -- web page | hantar -- send ikon -- icon | jalankan -- run kekunci -- keyboard | klik -- click komponen -- component | komputer -- computer kotak -- box | lancar -- run maju -- forward | mesej -- message mula -- start | panduan -- help paparan -- shot | pelawat -- visitor pelayar -- browser | pembayang -- clue pengaturcara -- programmer | penguraian -- extract penyediaan -- setup | perisian -- software permainan -- games | pinda -- edit pindah masuk -- download | proses -- process saiz -- size | salin -- copy selesai -- complete | simpan -- save sistem -- system | skrin -- screen tetingkap -- window | undur -- back utama -- home/main | versi asal -- original version versi cubaan -- trial version | ======================================================= Pengenalan Halaman Permainan Komputer Halaman ini menyediakan permainan komputer yang boleh di pindah masuk (download) ke dalam komputer anda. Buat masa ini terdapat 9 permainan yang disiapkan. Kesemua permainan adalah versi percubaan.Sila klik pada menu maju di atas untuk mencuba permainan pertama yang terdapat disini. Bagi yang tidak memahami maksud 'pindah masuk' sila klik disini. Sebelum itu pastikan komputer anda memiliki fail msvbvm50.dll didalam direktori sistem ( C:\Windows\system ). Fail ini diperlukan untuk membolehkan kesemua perisian (permainan) ,di jalankan. Permainan versi asal Jika anda berminat untuk mendapatkan permainan-permainan versi asal, sila klik pada menu senarai di atas. Setiap permainan adalah dibawah Rm 6.00. Selain daripada itu, saiz permainan adalah kecil iaitu kebanyakannya dibawah 250 Kb (1/7 daripada jumlah 1 disket , 1400 Kb).Oleh itu jangka masa proses pindahan masuk hanya mengambil masa kurang 10 saat. Penggunaan menu bar Balik - Untuk melihat permainan yang sebelumnya. Maju - Untuk melihat permainan yang berikutnya. Pindah Masuk - Untuk memindah masuk permainan yang sedang dipaparkan Utama - Halaman yang sedang anda lihat sekarang iaitu halaman utama. Panduan - Beberapa persoalan dan jawapannya (Tips). Email - Hantar email kepada saya. Msvbvm - Untuk mendapatkan fail msvbvm50.dll Daftar - Untuk meninggalkan alamat email kepada saya bagi mengetahui perkembangan terbaru di halaman ini. Senarai - Mengetahui senarai harga bagi kesemua permainan yang asal. Link Tripod - Halaman yang menyediakan perkhidmatan halaman percuma yang saya gunakan. Link Istilah - Beberapa istilah atau maksud perkataan yang digunakan dihalaman ini. Link Pilihan - Halaman-halaman perkhidmatan yang saya gunakan. Link Pelawat - Anda boleh tinggalkan link halaman anda sekiranya ada. Link Pendapat - Beberapa pendapat atau komen yang diterima. Jika ingin melawat dari satu permainan ke permainan yang lain dengan mudah , gunakan pemilihan melalui Permainan. Permainan Javascript Percuma Terdapat permainan Tetris Javascript , dimana anda boleh main secara 'online'. Sila klik di sini. Selain daripada itu terdapat juga permainan Susun Nombor Javascript dan sila klik disini. Dan satu lagi permainan percuma iaitu Memori Javascript. Sila klik disini. Artikel Permainan Sila lihat artikel mengenai permainan-permainan lain yang menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan permainan-permainan disini. ======================================================= HELP http://www.fsas.upm.edu.my/~fizik/vc/help.html Bila anda masuk chat ini anda mestilah tekan butang POST. Post digunakan untuk melihat perkataan yang terkini yang di poskan oleh pengguna lain. Untuk menyertai percakapan dalam Chat Room yang dipilih, anda mestilah menulis perkataan perkataan tersebut di dalam message box dan setelah siap tekan butang post. Kotak yang diatas sekali mengandungi menu atau arahan utama bagi chat ini. Manakala kotak yang berada dibawahnya dan disebelah kanan adalah untuk paparan percakapan pengguna chat ini. Kotak bawah disebelah kiri pula digunakan untuk melihat nama pengguna chat ini dan bila kali terakhir pengguna tersebut reload. Kotak dibahagian atas disebelah kanan pula digunakan untuk berpindah ke chat room lain. Jika anda bercakap secara private dengan pengguna lain, and perlu menekan butang private dan selepas taip perkatan yang ingin disampaikan dan butang nama pengguna yang ingin disampaikan Manakala kotak atas sebelah kanan pula digunakan untuk menetapkan jumlah percakapan ======================================================= http://skdarau.tripod.com JENIS - JENIS PERKATAAN Dalam Bahasa Malaysia jenis perkataan terbahagi kepada lima bahagian yang besar : 1. Nama 2. Perbuatan 3. Sifat 4. Sendi 5. Seruan Jenis - Jenis Perkataan Perkataan Nama Perbuatan Sifat Sendi Seruan NAMA Perkataan NAMA terbahagi kepada dua bahagian yang besar iaitu NAMA BETUL dan GANTINAMA dan satu lagi dipanggil NAMA TERBITAN. a) Kata Nama Am ( Betul atau Biasa ) b) Kata Nama Khas c) Kata Ganti Nama d) Kata Nama Terbitan Jenis - Jenis Nama Nama Nama Betul Gantinama Nama Terbitan Nama Betul Nama betul dibahagi kepada dua jenis iaitu Nama Am dan Nama Khas. Nama Am Kata Nama Am ialah kata yang digunakan untuk menjelaskan nama sesuatu yang bernaya seperti orang, haiwan, dan sesutu yang tidak bernyawa seperti tumbuh-tumbuhan, tempat , benda, dan sebagainya. Dengan kata lain perkataan Nama Am digunakan bagi menyebut sesuatu secara am atau umum. a) benda ; misalnya : rumah. Motorkar, pen, buku, dll b) orang; misalnya : polis, guru, doktor, askar dll c) binatang; misalnya : anjing, kuda, burung, ikan dll d) tempat; misalnya : kampung, bandar, negeri dll Kata nama am hendaklah ditulis dengan menggunakan huruf kecil melainkan pada awal ayat. Contoh: Gajah itu berbadan besar. Pada awal ayat Dia sedang menjinakkan seekor gajah. Pada akhir ayat Nama Khas Perkataan Nama Khas digunakan bagi menyebut sesuatu yang tertentu, khusus atau khas. a) benda; misalnya : Seri Aman, Volvo, Parker 45, Hikayat Hang Tuah, dll b) orang; misalnya : Cik Rafidah, Inspektor Azman, Dr. Long dll c) binatang ; misalnya : Blacky, Pak Belang, Sang Kancil,dll d) tempat ; misalnya : Kampung Bahru, Shah Alam, Kuala Lumpur dll Biasanya huruf pertama perkataan nama khas ini hendaklah ditulis dengan huruf besar. Perbandingan Kata Nama Am dan Kata Nama Khas Kegunaan Kata Nama Am Kata Nama Khas Benda bangunankeretabukusekolah Bangunan Tabung HajiProton SagaBahasa MelayuS.K. Darau Orang doktorkeranigurubudak lelaki Doktor EfendiPuan Zainun Cikgu AzmiMuhamad Fauzi Binatang kucinglembukatakayamburung Si TompokLembu SapiKatak PuruAyam BelandaBurung Murai Tempat negeribandarkampungtasek TerengganuJertehKampung Pasir AkarTasek Perdana Tumbuhan pisangcilijambulimau Pisang EmasCili PadiJambu BatuLimau Kasturi Kata nama Terbitan Kata nama Terbitan wujud apabila kata nama am diberi imbuhan. Imbuhan yang membentuk kata nama terbitan boleh diletakkan : di awal kata ( awalan ) di akhir kata ( akhiran ) di awal dan di akhir kata ( apitan ) Sila teliti contoh-contoh imbuhan : di awal kata pe- , pem-, pen-, peng-, penge-, per-, dan ke- di akhir kata -ita, -man, -wati, -an, dan -wan di awal dan di akhir kata per- ¡¦ -an, penge-¡¦-an, peng-¡¦.-an, pen-¡¦-an, pem-¡¦.-an, pe-¡¦.-an, dan ke-¡¦-an Kata dasar yang diberi imbuhan untuk dijadikan kata nama terbitan terdiri daripada beberapa kelas iaitu :- kelas kata kata dasr kata terbitan kata kerja peragalatih bawalawan peragawati latihanpembawaanperlawanan kata sendi olehuntuk perolehanperuntukan kata nama lombongrumahguru perlonbonganperumahanperguruan kata adjektif cantikbesartinggi kecantikanpembesarketinggian Nama Betul Nama Am Nama Khas Ganti Nama Perkataan Ganti Nama ialah perkataan yang menggantikan perkataan NAMA. Perkataan Gantinama ini dibahagikan kepada lima bahagian iaitu Gantinama Diri, Gantinama Umum, Gantinama Pertanyaan, Gantinama Petunjuk dan Gantinama Sendi. Gantinama Diri Gantinama Diri Bil. Tunggal Bil Banyak Bentuk contoh kata nama diri pertama tunggal beta, patik, aku, saya jamak kita, kami, kita orang Gantinama Umum Perkataan untuk menggantikan nama benda, orang, tempat, masa, dan hal dengan secara am sahaja. Kata ganti nama Diri Kedua Kata ganti diri kedua digunakan ketika kita berbual dengan seseorang. Kata ganti ini boleh dipecahkan kepada dua bentuk, iaitu bentuk tunggal dan bentuk jamak seperti berikut : Bentuk contoh kata Ganti Diri kedua Tunggal tuanku, wak, kamu, anda, engkau Jamak kalian Contoh ayat yang menggunkan kata ganti diri kedua 1. Awak pekerja yang patuh 2. Kamu semua adalah murid yang baik 3. Guru mencari engkau. 4. Anda semua dinasihati membaca soalan dengan teliti 5. Tunku akan bersiram sekejab lagi. Kata Ganti diri ketiga kata ganti diri ketiga ialah bagi merujuk kepada orang ketiga,kata-kata seperti mereka, beliau, banginda hendaklah digunakan. Kata ganti diri ketiga boleh dipecahkan kepada dua bentuk. Bentuk Contoh kata ganti diri ketiga tunggal ia, dia, beliau, baginda jamak mereka Contoh ayat yang menggunakan kata ganti diri ketiga. 1. Dia pegawai pendidikan 2. Mereka itu orang India. 3. Beliau banyak membantu penduduk di situ. 4. Ia diburu oelh pihak polis. 5. Baginda sedang bertitah di atas singgahsana. 6. Dia menolong bapanya. Ringkasan Kata Ganti Nama Diri Tunggal Bilangan Banyak / Jamak Diri Pertama ( Orang yang bercakap ) akusayapatikhamba kamikita Diri Kedua( Orang yang dilawan bercakap ) awakkamuengkauencikciksaudarasaudarituanpuanandatuanku awak semuakamu semuasaudara sekaliansaudari sekalianencik-encikcik-ciktuan-tuanpuan-puananda semuakalian Diri Ketiga( Orang yang diceritakan halnya) diaianyabeliaubaginda mereka Kata Ganti Tanya 1. Kata ganti tanya ialah perbuatan untuk menggantikan nama benda, orang, tempat, masa, bilangan dan hal dengan maksud pertanyaan. 2. Kata ganti nama pertanyaan ditambah "kah" dan tanda soal. 3. Digunakan untuk membentuk ayat-ayat tanya. Benda Orang Tempat Masa Hal Bilangan apakah siapakah manakah bilakah bagaimanakahkenapakahmengapakah berapakah Contoh ayat 1. Bilakah engkau pergi ke bandar ? 2. Mengapakah kamu tidak datang semalam ? 3. Murid-murid di dewan itu berapa orang ? 4. Nama pokok itu apa ? 5. Pemuda kacak itu siapa ? Kata Ganti Umum / Tak Tentu Kata ganti umum/ tak tentu ini wujud daripada penggandaan kata ganti tanya seperti apa, siapa, dan mana. Siapa-siapa boleh bertukar sesiapa. Kata ganti umum ini digunakan dalam ayat penyata dan ayat perintah sahaja. Kata Ganti Umum / Tak Tentu Ayat-ayat contoh apa-apa 1. Entah apa-apa yang dibawanya2. Azman tidak berkata apa-apa setelah dimarahi gurunya. Siapa-siapa 1. Tidak ada siapa-siapa dalam bangunan itu.2. Siapa-siapa saja boelh menjaksikan pertunjukan itu. Mana-mana 1. Jangan ke mana-mana , duduklah di sini sahaja.2. Pilihlah mana-mana pakaian yang awak suka. Kata Ganti Nama Penunjuk Perkataan yang digunakan untuk menunjuk sesuatu benda, orang, tempat dan cara. Benda, orang, Binatang ini, itu Tempat sini ( Digunakan bagi tempat yang hampir / dekat dengan penutur) sana ( Digunakan bagi tempat yang dianggap jauh.)situ ( Digunakan bagi tempat yang tidak begitu jauh) Keadaan begini, begitu, demikian contoh ayat 1. Ini langsat. 2. Itu kucing. 3. Pokok itu rendah sahaja. 4. Kereta Proton Wira ini cantik. Kata Hubung 1. Kata hubung ialah perkataan yang digunakan untuk menggabungkan perkataan dengan perkataan, rangkai kata dengan rangkai kata, ayat dengan ayat. 2. Contoh kata hubung dalam bentuk Akar dan hingga lalu ketika dengan yang tetapi jika kerana serta kalau kemudian demikian walhal walau agar atau demi supaya 3. Contoh kata hubung dalam bentuk terbitan. semasa sementara seharusnya andaikata semoga seketika sebaliknya sedangkan setelah sesungguhnya walaupun itupun sewaktu seandainya meskipun sekali[un mudah-mudahan moga-moga jikalau bagaimanapun padahal contoh ayat 1. menggabungkan dua ayat Azhar dan Malek pergi ke Pulau Pinag. 2. Menggabungkan dua rangkai kata Kita boleh pergi ke Mekah dengan kapal terbang atau kapal laut. 3. Menggabungkan ayat-ayat Negara itu mengeluarkan hasil galian yang banyak tetapi rakyatnya masih miskin dan menderita. KATA KERJA Kata kerja terbahagi kepada : A. Kata Kerja Transitif ( Perbuatan Melampau ) B. Kata Kerja Tak Transitif ( Perbuatan tidak Melampau ) A. Kata Kerja Transitif 1. Kata Kerja Transitf ialah segala perbuatan yang dilakukan oleh pembuatnya kepada benda lain.Benda yang kena oleh perbuatan itu dipanggil penyambut ( objek ). 2. Ayat ini mesti ada peyambutnya ( objek ) 3. Kata kerja ini biasanya mempunyai imbuhan ¡®me-¡® sama ada sebagai awalan atau sebahagian daripada imbuhan contohnya mengambil, mendermakan, membacakan, menduduki, mempersilakan. Contoh ayat : 1. Kucing itu menangkap seekor burung. 2. perempuan itu menjual sayur. 3. Bapa sedang menulis surat. Dalam ayat pertama Kucing ialah pembuat, menangkap ialah perbuatan melampau dan seekor burung ialah benda yang kena buat atau penyambut. Dalam ayat kedua Perempuan ialah pembuat, menjual ialah perbuatan melampau dan sayur ialah benda yang kena buat atau penyambut. Dalam ayat ketiga Bapa ialah pembuat, menulis ialah perbuatan melampau dan surat ialah benda yang kena buat
Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!