Pekanbaru, Kompas
Untuk memperingati pujangga Raja Ali Haji yang dinamakan Hari Raja Ali Haji (HRAH) di Pulau Penyengat, Kabupaten Kepulauan Riau, berlangsung sebulan, Oktober nanti. Kegiatan antara lain diisi temu sastra, pameran naskah dan buku kuno, bimbingan budaya, bimbingan penulisan kreatif, malam kesenian Melayu Klasik, penerbitan buku.
Ketua Umum Panitia HRAH, Drs Al Azhar MA menjelaskan, Minggu (15/9), kegiatan itu dilaksanakan oleh enam pihak, yakni Pusat Pengkajian Melayu Universitas Islam Riau, Keluarga Besar Melayu Riau, koran Riau Pos, Yayasan Membaca, Balai Maklumat Kebudayaan Melayu, dan Yayasan Pohon Perhimpunan.
Menurut Al Azhar, Pulau Penyengat dipilih sebagai tempat penyelenggaraan HRAH karena di pulau tersebut Raja Ali Haji dilahirkan dan tinggal. "Pulau ini merupakan pusat kebudayaan Melayu, antara lain ditandai munculnya puluhan pengarang dan intelektual selain Raja Ali Haji pada abad ke-19. Penulisan buku, perpustakaan, percetakan, intelektual, dan perlawanan terhadap penjajah sangat marak waktu itu," katanya.
Dikatakan, Raja Ali Haji dapat mewakili kegiatan kebudayaan abad ke-19. Ia tidak saja menulis Gurindam Duabelas, tetapi juga menulis sejarah, hukum, bahasa, dan karya sastra lainnya. "Setidaknya ada 12 buku ditulis Raja Ali Haji, bahkan merupakan orang pertama di nusantara yang menulis tata bahasa," kata Al Azhar.
Dua sisi
Disebutkan, peringatan pujangga Melayu ini pada dasarnya mengandung dua sisi yakni pelestarian dan pendidikan. Pikiran-pikiran Raja Ali Haji, termasuk penghayatannya dalam sastra, dilihat ulang dan disampaikan untuk masa datang. Konkretnya, selain ada simposium, juga dilaksanakan lokakarya penulisan kreatif bagi siswa SLTA. Selain itu adalah pertemuan penyair Taufiq Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri dengan para siswa di Tanjungpinang.
Khusus mengenai simposium, didatangkan pakar Melayu dari Amerika, Inggris, Belanda, Malaysia, dan Indonesia. Dilaksanakan akhir Oktober, peserta simposium berasal dari Indonesia, Malaysia maupun Singapura. Pada malam harinya ditampilkan seni Melayu klasik seperti pembacaan syair, hadrah, dan seni pertunjukan.
Ditambahkan, kegiatan HRAH yang setiap hari dibuka untuk umum adalah pameran naskah dan buku kuno. Naskah-naskah dan buku itu, umumnya disalin dan dicetak di Riau. Di antaranya juga ada tulis tangan Raja Ali Haji dan beberapa pujangga Riau terkenal lainnya sampai awal abad ke-20.
"Di atas Rp 100 juta yang diperoleh dari berbagai pihak seperti Caltex, KUD Batobo, dan Pemda Riau. Jumlahnya sangat bervariasi. Pemda Riau misalnya, membantu Rp 20 juta," tambah Al azhar. (ti)