Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
Cari dalam ejaan/bahasa Indonesia di situs ini :
Search term:
Case-sensitive - yes
exact fuzzy

PENILAIAN RISIKO BENCANA

Syaiful Saanin. BSB Sumbar.

 

 

Karakteristik Bencana

Bencana secara istilah dibedakan berdasar karakteristik fisik utama :

Penyebab : Alam atau ulah manusia.

Frekuensi : Berapa sering terjadinya.

Durasi : Beberapa durasinya terbatas, seperti pada ledakan, sedang lainnya mungkin lebih lama seperti banjir dan epidemi.

Kecepatan onset : Bisa muncul mendadak hingga sedikit atau tidak ada pemberitahuan yang bisa diberikan, atau bertahap seperti pada banjir (keculi banjir bandang), memungkinkan cukup waktu untuk pemberitahuan dan mungkin tindakan pencegahan atau peringanan. Ini mungkin berulang dalam periode waktu tertentu, seperti pada gempa bumi.

Luasnya dampak : Bisa terbatas dan mengenai hanya area tertentu atau kelompok masyarakat tertentu, atau menyeluruh mengenai masyarakat luas mengakibatkan kerusakan merata pelayanan dan fasilitas.

Potensi merusak : Kemampuan penyebab bencana untuk menimbulkan tingkat kerusakan tertentu (berat, sedang atau ringan) serta jenis (cedera manusia atau kerusakan harta benda) dari kerusakan.

 

Geografi Bencana

Area geografik yang nyata sehubungan dengan bencana dikatakan sebagai area kerusakan, area dimana bencana menyerang. Dibagi :

Area kerusakan total : Dimana bencana paling merusak.

Area kerusakan tepi : Walau dampak bencana dirasakan, kerusakan dan atau cedera nyata lebih ringan dibanding area kerusakan total.

Area penyaring : Area dekat area kerusakan dari mana bantuan dimulai secara segera dan spontan.

Area bantuan terorganisir : Area darimana bantuan yang lebih resmi diberikan secara selektif. Area ini mungkin meluas hingga mencakup bantuan masyarakat, regional, nasional dan internasional.

 

Berdasar tingkat respons, bencana diklasifikasikan menjadi tiga tingkat (ACEP) :

Tingkat 1 : Sistem pengelolaan respons terhadap bencana lokal mampu bereaksi secara efektif dan dapat mancakup kerusakan atau penderitaan.

Tingkat 2 : Sebagai tambahan terhadap respons lokal, dukungan diberikan oleh sumber regional atau masyarakat atau negara sekitar.

Tingkat 3 : Melampaui kemampuan sumber lokal atau regional dan diperlukan bantuan internasional.

 

Yang harus diingat :

-         Bencana bisa menimbulkan kerusakan masyarakat dan sumber daya yang diperlukan untuk menghadapinya.

-         Bencana menyebabkan masalah pemulihan dan perbaikan jangka panjang. Bisa melampaui kemampuan masyarakat beserta sumber daya dan atau fasilitasnya.

-         Bencana menyebabkan kematian, cedera dan kecacadan.

 

Pengelolaan Risiko Bencana

Pikirkan bahwa masyarakat dan lingkungannya adalah terancam terhadap bencana dan bagaimana kesanggupan masing-masing melawan akibat dari kerusakan oleh bencana.

 

Risiko (risk) : Kemungkinan akan kehilangan yang bisa terjadi sebagai akibat kejadian buruk, dengan akibat kedaruratan dan keterancaman.

Bahaya (hazard) : Potensi akan terjadinya kejadian alam atau ulah manusia dengan akibat negatif.

Keterancaman (vulnerability) : Akibat yang timbul dimana struktur masyarakat, pelayanan dan lingkungan sering rusak atau hancur akibat dampak kedaruratan. Adalah kombinasi mudahnya terpengaruh (susceptibility) dan daya bertahan (resilience). Resilience adalah bagaimana masyarakat mampu bertahan terhadap kehilangan, dan susceptibility adalah derajat mudahnya terpengaruh terhadap risiko. Dengan kata lain, ketika menentukan keterancaman masyarakat atas dampak kedaruratan, penting untuk memastikan kemampuan masyarakat beserta lingkungannya untuk mengantisipasi, mengatasi dan pulih dari bencana. Jadi dikatakan sangat terancam bila dalam menghadapi dampak keadaan bahaya hanya mempunyai kemampuan terbatas dalam menghadapi kehilangan dan kerusakan, dan sebaliknya bila kurang pengalaman menghadapi dampak keadaan bahaya namun mampu menghadapi kehilangan dan kerusakan, dikatakan tidak terlalu terancam terhadap bencana dan kegawatdaruratan.

 

High susceptibility + low resilience = high level of vulnerability.

High exposure to risk + limited ability to sustain loss = high vulnerability.

Low susceptibility + high resilience = low degree of vulnerability.

Ability to sustain loss + low degree of exposure = low vulnerability.

 

Jelaslah bahwa petugas harus mengenal golongan masyarakat, struktur dan pelayanan yang mudah terancam, hingga dapat menjadikannya tahan terhadap kerusakan akibat kedaruratan.

 

Proses Pengelolaan Risiko Bencana

Dalam pengelolaan risiko bencana, bencana dijelaskan berkaitan dengan risikonya terhadap masyarakat; dan dilakukan tindakan yang sesuai terhadap risiko yang diketahui.

 

Hal penting :

-         Berapa luas bencana melanda.

-         Berapa luas ancaman terhadap masyarakat dan lingkungan.

 

Pengelolaan risiko bencana adalah penerapan sistematik dari kebijaksanaan pengelolaan, prosedur dan pelatihan terhadap :

-         Memastikan hal-hal terkait

-         Mengidentifikasi risiko

-         Menganalisis risiko

-         Menilai / mengevaluasi risiko

-         Mengatasi risiko

 

Pengamatan dan penelaahan harus merupakan proses berkesinambungan dalam pengelolaan risiko, dan semua sistem tergantung pada komunikasi dan konsultasi.

 

Hal tsb. menjadi perangkat pengambil keputusan yang sistematik, logis dan praktis bagi pengelola bencana. Gunanya untuk mendapatkan kegunaan yang mendasar bagi pengelola bencana untuk mengurangi dampak dari bencana. Artinya pengelola bencana dapat :

1.     Mengidentifikasi apa yang mungkin terjadi

2.     Menganalisis kemungkinan hasil akhir

3.     Menilai dampak

4.     Menindak risiko (pencegahan/mitigasi, mempersiapkan, merespons dan pemulihan)

5.     Memonitor proses

 

Pengelolaan Bencana Menyeluruh dan Terpadu

Pengelolaan bencana yang efektif memerlukan kombinasi empat konsep :

-         Atas semua bahaya

-         Menyeluruh

-         Terpadu

-         Masyarakat yang siap

 

Semua bahaya, maksudnya aturan yang disetujui dalam merancang mengatasi semua bahaya, alam dan ulah manusia. Dari pada mengembangkan rencana dan prosedur berbeda untuk masing-masing bahaya, rancangan tunggal pengelolaan harus dibuat dan digunakan dalam menghadapi semua bahaya yang dihadapi masyarakat.

 

Pendekatan Menyeluruh

Empat dasar pengelolaan kegawatan dan bencana, masing-masing memerlukan program pengelolaan (strategi) :

1.     Pencegahan dan mitigasi

Peraturan dan persyaratan fisik untuk mencegah terjadinya bencana, atau untuk mengurangi dampaknya.

2.     Persiapan

Perencanaan dan program, sistem dan prosedur, pelatihan dan pendidikan untuk memastikan bahwa bila bencana terjadi, sumber daya dan tenaga dapat segera dimobilisasi dan diberdayakan dengan hasil terbaik. Termasuk pengembangan sistem peringatan dan kewaspadaan, perencanaan organisasional, pelatihan dan pengujian petugas, peralatan, perencanaan dan prosedur, serta pendidikan publik.

3.     Respons

Kegiatan yang diambil mendahului atau segera setelah dampak bencana untuk meminimalkan akibat, dan untuk memberikan bantuan segera, memulihkan dan mendukung masyarakat. Termasuk rescue, pemulihan dan dukungan terhadap korban, informasi publik, pemberian makanan, pakainan dan tempat berlindung.

4.     Pemulihan

Pemulihan dan perbaikan jangka panjang atas masyarakat yang terkena. Merupakan proses rumit dan lama.

 

Pendekatan Terpadu

Pengelolaan bencana efektif memerlukan kerjasama aktif antara berbagai fihak terkait. Artinya semua organiasi dengan tugasnya masing-masing bekerja bersama dalam pengelolaan bencana. Hubungan berbentuk kerjasama sangat penting.

 

Masyarakat yang siap

Adalah masyarakat yang masing-masing individunya waspada terhadap bahaya dan tahu bagaimana melindungi dirinya, keluarganya serta rumahnya terhadap dampak dari bahaya. Bila masing-masing dapat melakukan tindakan perlindungan terhadap dampak bahaya, akan mengurangi keterancaman terhadap bencana dan kedaruratan.

 

Kegiatan pencegahan / mitigasi, persiapan, respons dan pemulihan yang harus dilakukan :

1.     Pencegahan dan mitigasi :

2.     Standar bangunan dan kemampuan PMK

3.     Immunisasi penyakit

4.     Rancang sanitasi

5.     Pembuangan sampah / limbah

6.     Program pendidkan masyarakat

7.     Informasi media

8.     Peringatan terhadap masyarakat

 

Persiapan :

1.     Perencanaan, sistem dan prosedur

2.     Pelatihan personil

3.     Pengujian perencanaan, personil dan peralatan

Respons :

1.     Pengaktifan sistem pengelolaan insidens

2.     Pengaktifan sistem pengelolaan informasi dan sumberdaya

3.     Mekanisme pendukung bagi staf

Pemulihan :

1.     Proses debriefing

2.     Menilai dan merubah perencanaan dan prosedur

3.     Identifikasi dan pemanfaatan pengetahuan yang didapat

 

Kesimpulan Pengelolaan risiko bencana

Pengelolaan risiko bencana adalah pemanfaatan yang sistematik dari kebijaksanaan pengelolaan, prosedur dan pelaksanaan dengan maksud mengurangi dampak bencana. Merupakan perangkat pembuat keputusan yang logis dan praktis.

 

Proses Perencanaan Terhadap Bencana

(Risk Assessment / Penilaian Risiko)

1.     Tentukan hal yang akan direncanakan

2.     Tetapkan komite perencanaan

3.     Lakukan penilaian risiko

4.     Tentukan tujuan perencanaan

5.     Tentukan pertanggungjawaban

6.     Analisis sumberdaya

7.     Kembangkan sistem dan prosedur

8.     Tulis rencana

9.     Latih tenaga

10. Tes rencana, tenaga dan prosedur

11. Tinjau ulang rencana

12. Perbaiki rencana

 

Hal yang akan direncanakan :

Hal yang akan direncanakan dalam menghadapi kegawatdaruratan harus diidentifikasi.

Komite perencanaan :

Fihak rumah sakit, fihak sistem kesehatan masyarakat termasuk kesehatan masyarakat dan kesehatan mental, pelayanan darurat eksternal seperti ambulans, PMK dan polisi.

Lakukan analisis risiko bencana :

Termasuk analisis bahaya dan analisis keterancaman. Semua analisis akan membantu komite perencanaan bencana menentukan sasaran dan prioritas perencanaan.

Penilaian risiko bencana berkelanjutan sepanjang proses perencanaan : Bahaya berubah, tingkat keterancaman berubah, semua harus dimonitor dan dinilai secara tetap.

Tentukan tujuan perencanaan :

Berdasar pada hasil analisis risiko dan pengenalan strategi pengelolaan bencana yang disetujui komite.

Tentukan pertanggungjawaban :

Memilih pertanggungjawaban dari semua fihak terkait : RS, petugas, dan pelaksana kesehatan masyarakat lainnya.

Analisis sumberdaya :

Komite harus mengetahui apa yang akan dibutuhkan; dari pada hanya melihat apa yang dipunyai. Bila apa yang dibutuhkan kurang dari apa yang tersedia, komite harus mengidentifikasi sumber tenaga dan sarana yang tersedia yang dapat dipanggil seketika dibutuhkan. Rencanakan kerjasama dengan fasilitas kesehatan regional atau nasional.

Ciptakan sistem dan prosedur :

Komite harus mengidentifikasi strategi untuk pencegahan dan mitigasi, penyiapan, respons dan pemulihan akibat kegawatan major dan bencana. Ini termasuk sistem komando gadar RS, sistem komunikasi, informasi publik, sistem pengelolaan informasi dan sumberdaya.

Tuliskan rencana :

Dokumen tertulis harus dibagikan pada semua yang akan menggunakannya. Dokumen harus sederhana dan langsung sasaran, atau orang tidak dapat membaca atau memahaminya.

Latih persomil, uji perencanaan, personil dan prosedur :

Pelatihan personil serta pengujian perencanaan, sistem dan prosedur merupakan bagian vital dari persiapan pengelolaan gadar atau bencana.

Kegiatan respons bencana memerlukan personil untuk bekerja diluar kegiatan dan tanggungjawab hari-hari normalnya, dan melaksanakan tugas yang kurang familier. Untuk menciptakan kejadian menjadi lebih sulit, berikan tidak hanya banyak tugas yang tidak familer, namun mereka harus mendapatkan lingkungan yang sangat menekan, yang bahkan pantas untuk menguji sistem dan personil yang sudah berpengalaman.

Dapat dimengerti mengapa personil wajib dilatih dan diuji secara rutin dalam tugas pengelolaan bencananya. Personil juga memerlukan kesempatan untuk mempraktekkan tugas dan tanggungjawab pengelolaan bencananya.

Selain itu, rencana yang belum diuji dan dinilai ulang mungkin lebih buruk dari pada tidak ada rencana sama sekali. Hal ini akan membangun rasa keamanan yang salah pada petugas dalam hal tingkat persiapan.

Tinjau ulang dan ubah perencanaan :

Perencanaan harus dinilai ulang dan diperbaiki secara berkala,dan harus dinyatakan dalam perencanaan itu sendiri. Setiap saat, perencanaan atau bagian dari perencanaan, diaktifkan untuk latihan atau dalam bencana sesungguhnya. Debriefing harus dilakukan untuk mengenal kebutuhan perbaikan perencanaan, sistem dan prosedutr, dan untuk melatih personil.

Sekali lagi, perencanaan adalah proses, tidak pernah berakhir. Perencanaan tertulis adalah hanya sebuah hasil akhir dari proses perncanaan, namun bukan titik akhir, hanya bagian dari proses perencanaan. Perencanaan tertulis adalah dokumen yang hidup yang harus secara tetap diuji, dinilai ulang dan dipertbaharui.

 

Bagaimana bila :

Bagian penting dari proses perencanaan adalah pertanyaan dari komite : Bagaimana bila ; Bagaimana bila ini atau itu terjadi, apa yang harus dilakukan, apa yang diperlukan, apa dampaknya pada petugas dll.

Tidak mungkin untuk membuat rencana bagi semua kejadian, namun kegiatan komite dalam memikirkan batasan kejadian beserta konsekuensinya, dan membahas pilihan rancangan yang diperkirakan memiliki jangkauan luas dalam sistem persiapan, penting dilakukan.

 

Didunia, kehilangan akibat bencana tetap meningkat walau investasi yang sangat besar dalam tindakan pencegahan secara tehnik sudah dilakukan. Hambatan politik dan ekonomi menyebabkan bahwa pendekatan tradisional dalam mendapatkan rasa aman terhadap bahaya harus dinilai ulang. Tidak saatnya lagi mangatakan bahwa pencegahan terhadap proses berbahaya secara umum dikatakan sebagai terbaik atau cara yang paling diinginkan dalam menghadapi risiko. Pencegahan dan peningkatan resilience dari objek yang berpotensi terkena adalah dua contoh penting lainnya dari bagaimana kerusakan akibat keadaan berbahaya dapat dikurangi.

Konsep pilihan untuk mengatasi keadaan bahaya adalah menggunakan kebijaksanaan berdasar risiko. Walau diarahkan pada bahaya, yang juga telah mencakup risiko, dijelaskan sebagai fungsi dari empat faktor berikut :

1.     Frekuensi terjadinya kejadian bahaya.

2.     Intensitas kerusakan objek sasaran yang berpotensi terhadap risiko dengan distribusi / kelompok khusus.

3.     Keterancaman objek sasaran akan terkena oleh kerusakan.

4.     Keterpaparan target sasaran terhadap bahaya.

 

Frekuensi dan kerusakan menunjukkan beratnya keadaan bahaya, keterancaman dan keterpaparan sasaran terhadap risiko. Inilah kenapa ada perbedaan antara definisi sederhana risiko sebagai hasil kemungkinan, dan perluasan kerusakan yang lebih menunjukkan sudut pandang operator atau pelaksana. Bagaimanapun sudut pandang yang lebih sempit dengan cepat menunjukkan bahwa frekuensi dan keterpaparan adalah sebanding dengan kemungkinan, dimana intensitas dan keterancaman mengartikan kerusakan.

 

Penggunaan pengelolaan risiko akan berhasil bila informasi berikut tersedia :

1.     Karakterisasi bahaya secara khusus.

2.     Mengumpulkan dan mengklasifikasikan objek yang terancam dalam jangkauan proses berbahaya.

3.     Tampilan dampak kerusakan yang mungkin terjadi terhadap objek disaat kejadian.

 

Saat ini prinsip penilaian risiko dan pembuatan kebijaksanaan secara umum berdasar risiko dipakai secara luas lintas disiplin dan lintas batas.

 

Evaluasi dan Persepsi Risiko

Kunci pendekatan berdasar risiko menghadapi bahaya diterima dalam bentuk tingkat rasa aman yang memadai dan secara ekonomik. Baik definisi dari tingkat rasa aman yang memadai dan kuantifikasi tampilan ekonomik tidak dapat dibuat hanya oleh para ahli. Nilai dan tanggapan sosial mungkin merupakan faktor lebih penting dalam membentuk rasa aman dari pada risiko nyata sendiri.

Satu masalah yang belum jelas adalah opini publik dalam proses keputusan. Ini mungkin karena jarak antara ilmu sosial (termasuk proses evaluasi publik) dan ilmu administratif atau tehnik (yang bertanggung jawab pada kebanyakan risiko nyata). Usaha saat ini adalah menjembatani jarak tsb. dengan mengembangkan model yang seakurat mungkin menunjukkan persepsi dan evaluasi publik akan risiko yang diharapkan hingga pembuat keputusan dapat menggunakan hal ini. Dengan kata lain, dianjurkan bahwa pandangan publik tentang evaluasi risiko secara normatif (dari pada emperik-deskriptif) akan memperbaiki keputusan yang dibuat dalam pengelolaan bencana.

 

Pustaka :

1.     Nature and Type of Disasters. Hospital Preparedness for Emergencies & Disasters. Indonesian Hospital Association. Participan Manual. Jakarta 2003.

2.     Disaster Risk Management. Hospital Preparedness for Emergencies & Disasters. Indonesian Hospital Association. Participan Manual. Jakarta 2003.

3.     Risk Management Planning. Hospital Preparedness for Emergencies & Disasters. Indonesian Hospital Association. Participan Manual. Jakarta 2003.

4.     Risk awareness and assessment. Living with risk A global review of disaster reduction initiative. International Strategy for Disaster Reduction.

5.     Kurt Hollenstein : Natural hazards, risk analysis and management, disaster and emergency management research. Swiss Federal Institute of Technology Zurich.

KEHALAMAN UTAMA