ILMU BEDAH SARAF


Dr. Syaiful Saanin, Neurosurgeon.
saanin@padang.wasantara.net.id
Ka. SMF Bedah Saraf RSUP. Dr. M. Djamil/FK-UNAND Padang.

Cari dalam ejaan/bahasa Indonesia di situs ini :
Search term:
Case-sensitive - yes
exact fuzzy

1. PENINGGIAN TEKANAN INTRAKRANIAL
A. Anatomi dan Fisiologi
B. Patologi Peninggian T.I.K
C. Gambaran Klinik
D. Tanda-tanda Radiologis
E. Metoda Pengukuran T.I.K
F. Interpretasi Pencatatan T.I.K
G. Aplikasi Klinik Pengukuran T.I.K
H. Pengendalian T.I.K yang Tinggi
I. Konklusi
 
KEMBALI KEHALAMAN UTAMA
 

5. TANDA-TANDA RADIOLOGIS

SINAR-X TENGKORAK

Radiograf tengkorak polos adalah pemeriksaan pertama pada pasien dengan gejala SSP dan tetap sangat bermanfaat. Radiograf tengkorak adalah rekaman fotografik dari pola absorpsi sinar-x hasil dari pasasi sinar-x melalui kepala. Semua absorpsi yang terpisah dari scalp, tulang dan otak dijumlahkan. Didapatkan hasil yang baik namun tumpang-tindih dari struktur tulang; 'absorpsi jaringan lunak' oleh otak tidak terjadi dan tidak ada gambaran yang dihasilkan.

Erosi dorsum sellae oleh pulsasi ventrikel ketiga adalah gambaran khas peninggian TIK dan bila foto polos digunakan secara rutin, dapat ditemukan pada sepertiga pasien namun hanya setelah sakit 5-6 bulan. Kelenjar pineal yang tergeser, erosi tulang, kalsifikasi abnormal dan hiperostosis tidaklah merupakan tanda spesifik dari lesi desak ruang, jadi tidak harus berarti peninggian TIK. Hidrosefalus obstruktif yang telah berlangsung lama yang bersamaan dengan dilatasi jelas pada ventrikel ketiga dapat menyebabkan pembesaran yang hebat dari fossa pituitari dan mungkin menyerupai tumor pituitari.

Pada anak-anak, radiograf tengkorak tetap bernilai pada tes skrining. Baik peninggian TIK akut maupun kronik hingga usia 8-9 tahun menyebabkan diastasis (splitting) sutura dan erosi dorsum sellae. Peninggian TIK kronik mungkin juga berakibat penipisan vault tengkorak dan impresi konvolusional pada bagian atas tulang frontal dan parietal.

TOMOGRAFI TERKOMPUTER

Yang paling berguna pada pemeriksaan pasien dengan dugaan peninggian TIK adalah sken tomografi terkomputer (CT scan). Berkas sinar-x yang sangat tajam berputar mengelilingi pasien dengan lengkung detektor yang sesuai pada sisi seberangnya. Sejumlah besar nilai sinar-x yang diperkuat diperoleh dan diproses oleh komputer hingga menghasilkan matriks. Ia mangandung 256 X 256 atau 320 X 320 unit area yang disebut piksel, namun bila diperbanyak oleh ketebalan slice, maka disebut voksel. Nilai penguatan masing-masing voksel dinyatakan sebagai unit Hounsfield, berkisar dari udara (-1000), hingga air (0) dan tulang kortikal (+1000). Unit ini dikonversikan kedalam pencitraan dengan menggunakan skala abu-abu, biasanya terdiri dari 16 bayangan yang diperuntukkan bagi wilayah yang paling berguna dari berbagai jaringan yang dipelajari. Putih menunjukkan penguatan paling tinggi, seperti pada sinar-x polos. Citra yang paling baik dari isi intrakranial didapat dari nilai penguatan yang berbeda sedikit untuk CSS, substansi kelabu dan putih, dan darah. Iodin pada media kontras intravena akan meningkatkan penguatan didaerah dimana sawar darah otaknya rusak.

Karena sangat akurat, cepat dan aman, CT menjadi tes radiologis terpilih untuk memeriksa pasien yang diduga dengan peninggian TIK. Ia akan memperlihatkan keadaan yang mengkin merupakan penyebab peninggian TIK, seperti klot, tumor, abses, hidrosefalus dan pembengkakan otak. CT scan merupakan metoda pertama yang mencitrakan pembengkakan otak secara langsung.

CT scan mungkin menunjukkan bahwa cadangan TIK sudah berkurang, memberitahu dokter adanya TIK yang tinggi atau hal-hal yang akan terjadi. Tanda CT yang paling berguna dari berkurangnya cadangan TIK adalah pergeseran garis tengah, obliterasi sisterna CSS sekeliling batang otak, dilatasi ventrikel kontralateral, penyempitan sulsi serebral, dan pada cedera kepala adanya klot kecil multipel intraserebral. Bila obstruksi aliran CSS mulai berakibat pada ukuran ventrikular, tanda pertama adalah dilatasi tanduk temporal.

PENCITRAAN RESONANSI MAGNETIK

Sken magnetic resonance (MR) juga sangat berguna pada pemeriksaan penderita yang diduga mempunyai peninggian TIK.

Pasien diletakkan pada medan magnet yang sangat kuat. Nuklei atom hidrogen (proton), yang terutama terdapat pada air dan lemak, akan berusaha untuk sejajar dengan medan, namun kenyataannya tersusun sekeliling garis-garis tenaga. Tingkat ketersusunannya tergantung dari kekuatan medan, dan terletak pada jalur frekuensi radio (RF). Proton akan mengabsorpsi energi dari denyut RF resonan dan merubah alignmentnya. Saat denyut RF berhenti, proton mengalami realign dan memancarkan energinya sebagai sinyal RF. Waktu yang diperlukan untuk melakukan realign terhadap medan disebut waktu relaksasi T1 yang panjang untuk proton pada air, pendek untuk proton pada molekul besar sekitarnya dan bahkan pendek pada proton pada lemak.

Cara lain dimana respon proton terhadap denyut RF dapat diukur adalah waktu relaksasi T2, yang juga panjang untuk air. Tidak ada sinyal dari kalsium atau darah yang bergerak. Slice untuk pemeriksaan dapat dipilih dengan menggunakan perbedaan magnetik dengan kumparan magnet tambahan dan tidak seperti pada sken CT, slice dapat dipilih pada semua bidang, aksial, koronal, atau sagittal. Kekuatan sinyal dari jaringan berbeda dapat dibuat lebih atau kurang tergantung pada T1 atau T2 dengan memanipulasi sinyal yang digunakan.

Matriks dibangun oleh komputer seperti pada CT dengan kekuatan sinyal radio untuk masing-masing voksel digambarkan berupa angka dan selanjutnya dibentuk kedalam citra dengan memakai skala abu-abu, sinyal terkuat akan menjadi putih.

Karena penggunaan klinis MRI adalah betul-betul diarahkan menuju eksitasi proton, maka ia akan merupakan cara yang ideal untuk mengukur kandung air jaringan otak. MRI memperlihatkan edema serebral secara baik pada pencitraan beban T2 maupun T1, namun terutama yang terakhir. Walau MRI berguna, namun bukan pemeriksaan yang pertama pada pasien yn yang diduga mempunyai peninggian TIK. Ia lebih mahal, lebih lambat dalam pengerjaannya dan lebih memerlukan kooperasi pasien dibanding CT; lebih rumit melaksanakannya untuk pasien yang memerlukan pemantauan atau sistem life support. Untuk alasan ini, CT tetap merupakan teknik pencitraan yang paling berguna untuk pasien.

MRI mempunyai sensitifitas yang lebih dibanding CT scan, namun spesifisitas untuk tiap-tiap lesi mungkin kurang. Misalnya MRI sering tidak bisa menjelaskan perbedaan antara edema sekitar tumor dengan tumornya sendiri. Namun setelah penyuntikan substansi paramagnetik seperti Gadolinium DTPA akan dapat membedakan antara tumor dan edema sekitarnya pada 54 % kasus bila sawar darah-otaknya sudah rusak (McNamara, 1987).

Mungkin manfaat terbesar MRI adalah kemampuannya mendemonstrasikan struktur garis tengah dan fossa posterior. Keseluruhan jalur CSS ditampilkan pada sken sagittal, bersama dengan lesi yang memutusnya. Perubahan pada MRI dalam pemeriksaan perdarahan intrakranial lebih rumit karena sinyal MR dari darah bervariasi menurut waktu, namun dengan pengalaman, MRI sebanding dengan CT pada tahap awal dan lebih baik pada fase sub-akut dan kronis.

MRI sekarang digunakan untuk mengukur volume CSS intrakranial. Teknik ini mungkin memberikan indeks objektif dari atrofi serebral, dan akan berguna pada penilaian hidrosefalus dan fungsi shunt (Teasdale, 1987).