Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

ILMU BEDAH SARAF


Dr. Syaiful Saanin, Neurosurgeon.
saanin@padang.wasantara.net.id
Ka. SMF Bedah Saraf RSUP. Dr. M. Djamil/FK-UNAND Padang.

Cari dalam ejaan/bahasa Indonesia di situs ini :
Search term:
Case-sensitive - yes
exact fuzzy

6. KELAINAN SEREBRO-VASKULER
A. Perdarahan Subarakhnoid
B. Perdarahan Intraserebral Nontraumatika
C. Iskemia Serebral dan Rekonstruksi Vaskuler
 
KEMBALI KEHALAMAN UTAMA
 

        
        3. ISKEMIA SEREBRAL 
           DAN REKONSTRUKSI VASKULER
        
        Kelainan cerebro-vaskuler adalah penyebab kematian  dan 
        kesakitan  yang  utama  di  dunia  barat  dan  berbagai 
        rekonstruksi  dilakukan untuk memperbaiki  akibat  dari 
        arteriosklerosis  pada  arteria karotid  dan  vertebral 
        seperti juga yang harus dilakukan intrakranial.
             Walau  otak  manusia hanya 2 %  dari  berat  badan 
        total, ia memerlukan 20 % oksigen yang diinspirasi saat 
        istirahat,  15 % curah jantung (sekitar 750  mL/menit), 
        dan  seluruh keluaran glukosa hati saat  puasa.  Karena 
        tidak  mempunyai cadangan glikogen, ia tergantung  pada 
        fosforilasi  oksidatif untuk memproduksi fosfat  energi 
        tinggi. ADS istirahat sekitar 50 mL/100g jaringan  otak 
        permenit. Walau ADS total relatif stabil dalam berbagai 
        aktifitas badan, curah jantung, dan tekanan darah,  ADS 
        fokal sangat berkaitan dengan metabolisme dan meningkat 
        tajam pada aktifasi daerah korteks.
             Pada   praktek  bedah  saraf,   etiologi   iskemia 
        serebral akuta dapat dibagi kedalam tiga kategori umum. 
        Pertama,  penyebab  tersering iskemia  serebral  adalah 
        strok   embolik   atau   trombotik,   biasanya   karena 
        aterosklerosis  atau penyakit kardiak.  Kategori  kedua 
        adalah  gangguan vaskuler perioperatif selama  tindakan 
        bedah  saraf seperti diseksi arterial  atau  trombosis, 
        atau oklusi temporer vaskuler yang lama. Kategori utama 
        ketiga  dari  iskemia  serebral  akuta  adalah  defisit 
        iskemik  tunda yang diinduksi perdarahan  subarakhnoid, 
        sekunder  akibat vasospasme. Pada semua kategori  utama 
        tadi,  pengelolaan  intensif  terdiri  dari  intervensi 
        untuk  meninggikan  ADS  atau  memberikan  perlindungan 
        neuronal langsung.
             Indikasi  utama  operasi adalah  serangan  iskemik 
        transien (TIA) dimana sebagian besar pasien akan menuju 
        strok  lengkap (CS). Kelainan sirkulasi  karotid  lebih 
        sering   dibanding  vertebro-basiler  dan   kemungkinan 
        stroknyapun juga lebih besar.
             TIA   adalah  episode  defisit  neurologis   fokal 
        disebabkan  iskemia serebral dan berakhir dalam  kurang 
        dari  24  jam. Ini merupakan satu  sisi  dari  spektrum 
        iskemia  serebral, sedang sisi lainnya adalah  infarksi 
        serebral  dan  strok sempurna (CS).  Sedangkan  defisit 
        neurologis iskemia yang reversibel (RIND) adalah gejala 
        atau tanda neurologis fokal yang berakhir 24-48 jam.
             TIA  mungkin  bermanifes  dengan  berbagai  gejala 
        neurologis.  Bila  iskemia mengenai  daerah  distribusi 
        arteria  karotid  (yaitu sirkulasi  serebral  anterior; 
        termasuk arteria oftalmik, dan arteria serebral media), 
        gejala  mungkin  berupa  kebutaan  monokuler   transien 
        (amaurosis fugax), kelemahan atau kelainan sensori pada 
        ekstremitas  atau  pada  satu  sisi  tubuh  atau  muka, 
        gangguan  berbahasa atau kognisi, dll.  Gejala  seperti 
        vertigo,  mual,  ataksia,  disartria,  diplopia   serta 
        disfagia  bila  transien  mungkin  menunjukkan  iskemia 
        teritori  sirkulasi vertebro-basiler  (yaitu  sirkulasi 
        posterior).  Gejala perasaan kepala yang 'ringan'  atau 
        pusing  tanpa  vertigo, walau  mungkin  berarti  adanya 
        iskemia  serebral umum, tidak cukup terlokalisir  untuk 
        mengarahkan pada dugaan suatu TIA.
             Etiologi TIA belum sepenuhnya jelas. Pernah diduga 
        bahwa  stenosis  arteria karotid  mengakibatkan  aliran 
        darah  serebral  yang  tidak  cukup  atau  berubah-ubah 
        menyebabkan gejala, dimana hal ini mungkin terjadi pada 
        beberapa  kasus. Teori mutakhir menduga  adanya  emboli 
        arteri ke arteri menjadi penyebab pada kebanyakan  TIA. 
        Emboli  ini  mungkin berasal dari semua  sumber  antara 
        jantung  dan  otak  dan mungkin  termasuk  emboli  dari 
        suatu  miksoma atrial atau vegetasi katup  mitral  pada 
        endokarditis  bakterial  subakuta  atau   jarang-jarang 
        emboli  vena periferal pada pasien dengan defek  septal 
        atrial  atau  ventrikuler. Lebih sering  sumber  emboli 
        adalah  plak ateromatosa yang terjadi pada  atau  dekat 
        bifurkasi  arteria karotid komunis. Agregasi  platelet-
        fibrin dan/atau fragmen kolesterol mungkin jadi  emboli 
        keotak  terutama berasal dari plak yang pada  angiogram 
        memperlihatkan  ulserasi.  Emboli ini  tersangkut  pada 
        arteriola kecil pada otak atau retina, menyumbat aliran 
        darah  dan  karenanya  akan  menyebabkan  gejala   yang 
        terlokalisir. Gejalanya transien karena emboli  mungkin 
        hancur dan tersebar atau kanal vaskuler kolateral kecil 
        mungkin  terbuka  akibat iskemia vokal  dan  memberikan 
        aliran  darah  yang cukup untuk  menghilangkan  gejala. 
        Pada   keadaan  kebutaan  monokuler  transien,   emboli 
        kolesterol mungkin tampak pada sirkulasi retinal.
             Bruit servikal terjadi pada 4% populasi berusia 40 
        tahun atau lebih tua. Prevalensi meningkat dengan  usia 
        dan   adanya  hipertensi.  Walau  bruit  servikal   ini 
        menandakan adanya stenosis karotid, stenosis ini  tidak 
        selalu  jelas. Pasien dengan bruit servikal  dan  tanpa 
        gejala TIA atau strok, tingkat strok yang akan  terjadi 
        adalah  2%.  Pada pasien ini  lokasi  strok  berikutnya 
        hampir   tidak  ada  hubungannya  dengan  sisi   bruit. 
        Kelompok  dengan bruit servikal serta  adanya  stenosis 
        berat  arteria  karotid  risikonya  bertambah  terhadap 
        strok.
             Pasien dengan bruit karotid asimtomatik  mempunyai 
        tingkat  iskemik miokardial 7% pertahun dan  mortalitas 
        tahunannya  4%,  kebanyakan  karena  kelainan  jantung. 
        Adanya  bruit arteria karotid pada pasien tanpa  gejala 
        neurologis   harus  diingat  sebagai  pertanda   adanya 
        kelainan  vaskuler aterosklerotik menyeluruh dan  tidak 
        dipertimbangkan  untuk operasi karotid.  Pasien  dengan 
        bruit karotid harus dilakukan penilaian ultrasonik atau 
        angiografik untuk menentukan derajat stenosis.
             TIA  dan bruit servikal adalah prediktor  kelainan 
        aterosklerotik yang menyeluruh. Pada pasien dengan TIA, 
        kelainan  iskemik  kardiak menyebabkan  kematian  lebih 
        dari dua kali dibandingkan karena strok. Pasien  dengan 
        bruit asimtomatis, tingkat strok tahunannya 2%, tingkat 
        iskemik miokardialnya 7%, dan mortalitas tahunannya 4%. 
        Korelasi antara sisi bruit dengan sisi strok berikutnya 
        adalah  buruk.  Pada pasien dengan TIA,  tingkat  strok 
        tahunannya 5-10% dan mortalitas tahunannya 6%.
        
        TIA berhubungan dengan:
        
        1. Kelainan karotid ekstrakranial:
        a. Oklusi lengkap arteria karotid komunis atau internal.
        b. Stenosis karotid internal pada bifurkasi.
        c. Plak ateroma yang mengalami ulserasi pada  bifurkasi 
           melepaskan emboli kolesterol dan platelet.
        
        2. Penyebab kardiak:
        a. Emboli  dari jantung akibat dari  kelainan  valvuler 
           kongenital atau didapat.
        b. Episode disritmia menyebabkan hipotensi transien.
        
        3. Kelainan  arteria karotid intrakranial dan  serebral 
           media.
        
        Pasien  dengan TIA berulang yang bukan karena  penyebab 
        kardiak  atau  kelainan  sistemik  seperti  hipertensi, 
        polisitemia atau anemia yang berhasil diobati mengatasi 
        serangannya,  harus dilakukan aortografi  arkus.  Hasil 
        yang  didapat  pada  operasi  stenosis  karotid  paling 
        tinggi pada yang memiliki bruit karotid.
             Yang pertama-tama harus dilakukan pada pasien  TIA 
        adalah  CT scan kepala dengan dan tanpa  kontras  intra 
        vena untuk menyingkirkan adanya lesi massa. Lesi  massa 
        seperti  tumor primer atau metastatik,  abses,  anomali 
        vaskuler,  atau bahkan perdarahan intrakranial  mungkin 
        mula-mula tampil dengan gejala fokal transien.
             Dalam  menilai  pasien  dengan  iskemia   serebral 
        transien,  perhatian  harus  langsung  diarahkan   pada 
        sistema  kardiak dan  serebrovaskuler.  Ekhokardiografi 
        dilakukan  untuk  melacak  kemungkinan  sumber   emboli 
        kardiak. Ultrasonografi doppler adalah cara  noninvasif 
        untuk menilai patensi arteria karotid, namun angiografi 
        tetap  sebagai teknik imaging definitif  untuk  menilai 
        arteria karotid.
        
        
        PATOFISIOLOGI CEDERA OTAK ISKEMIK
        
        Penting  untuk mengetahui perbedaan yang  jelas  antara 
        iskemia serebral fokal dan global. Keadaan klinis  khas 
        pada  iskemia  fokal  adalah bahwa  ia  terjadi  karena 
        oklusi  embolik arteria serebral media  (MCA).  Iskemia 
        global terjadi pada pasien henti kardiak. Pada  iskemia 
        global tidak ada ADS selama keadaan iskemik, sebaliknya 
        pada  iskemia fokal yang potensial akan  adanya  aliran 
        darah  residual yang berkekuatan rendah dari  sirkulasi 
        kolateral.   Perfusi   residual  pada   iskemia   fokal 
        memungkinkan  pengangkutan substrat yang memadai  untuk 
        mempertahankan aktifitas metabolik berkadar rendah yang 
        mempertahankan   integritas   membran   dan   karenanya 
        menghambat  evolusi cedera neuronal yang  irreversibel. 
        Namun  aliran darah residual yang berkemampunan  rendah 
        ini  menimbulkan keadaan biokimia yang  kompleks  yaitu 
        metabolisme   glukosa  dalam  keadaan  anaerobik   yang 
        mungkin  memperburuk  asidosis otak.  Tinjauan  berikut 
        hanya   dititikberatkan  pada   patofisiologi   iskemia 
        serebral  fokal  karena merupakan keadaan  klinis  yang 
        lebih sering ditindak bidang bedah saraf.
        
        
        Ambang Rangsang Iskemia
        
        1948,  Kety  dan  Smith  mendemonstrasikan  bahwa   ADS 
        manusia   sekitar  50 mL/100g jaringan otak/menit. Juga 
        diperlihatkan pada pasien pasca endarterektomi  karotid 
        pengurangan  ADS hingga  18 mL/100g jaringan otak/menit 
        menyebabkan   pengurangan  atau penekanan   pada   EEG. 
        Penurunan  hingga 15 mL/100g jaringan  otak/menit  akan 
        menekan potensial evok somatosensori. Karenanya  ambang 
        rangsang  gagal elektrik senilai antara ADS kritis  18-
        15 mL/100g jaringan otak/menit.  Penelitian lebih  baru 
        memperlihatkan  bahwa  ambang rangsang  gagal  elektrik 
        dapat  diulang namun akan bervariasi  tergantung  jenis 
        dan  derajat  anestesia.  1977  Astrup   memperlihatkan 
        pengurangan hingga 12-10 berakibat penurunan nyata pada 
        konsentrasi ionik ekstraseluler dari kation seperti  K+ 
        dan  Ca++. Tingkat pengurangan kedua dari aliran  darah 
        adalah  ambang  rangsang gagal ionik.  Karena  jaringan 
        neuronal secara kritis tergantung penyediaan  sinambung 
        dari  glukosa  dan oksigen untuk  metabolisme  aerobik, 
        penurunan  ADS hingga 12-10 berakibat penghabisan  yang 
        cepat  dari ATP. Dengan pemusnahan ATP,  terjadi  gagal 
        pompa  Na+/K+ase,  yang  penting  untuk  mempertahankan 
        gradien  ionik.  Karena perbedaan  konsentrasi  ekstra-
        seluler dan intraseluler dari kedua kation ini, terjadi 
        efluks K+ bersama influks Na+ kedalam neuron yang  akan 
        menyebabkan  depolarisasi  membran.  Sebagai   tambahan 
        terhadap  fluks ionik inisial ini,  terjadi  peninggian 
        yang  cepat dari konsentrasi asam  laktat  intraseluler 
        akibat  metabolisme anaerobik. Selama pengurangan  yang 
        berat dari ADS, konsentrasi asam laktat meningkat empat 
        kali  dalam  30 menit. Bila iskemia  berlangsung  lama, 
        konsentrasi  asam laktat terus meninggi hingga  sekitar 
        14 umol/g jaringan otak.  Walaupun  toleransi  jaringan 
        neuronal  terhadap  pengurangan  aliran  pada   sekitar 
        10 mL/g jaringan otak/menit tidak diketahui, penelitian 
        menunjukkan  bahwa  setelah 3-4  jam,  cedera  neuronal 
        irreversibel mungkin terjadi. Nyatanya daerah otak yang 
        spesifik  terancam luar biasa oleh tingkat aliran  yang 
        rendah. Misalnya neuron CA 4, CA 3, dan CA 1 hipokampal 
        memperlihatkan  cedera  neuronal  iskemik  setelah  3-5 
        menit pengurangan aliran yang berat.
             Antara  kedua ambang rangsang, gagal elektrik  dan 
        gagal ionik, terdapat jangkauan berbatas tegas dari ADS 
        yang walaupun dengan kehilangan fungsional, homeostasis 
        membran dan integritas struktural dapat  dipertahankan.  
        Daerah  ADS  terbatas ini disebut  'penumbra  iskemik'. 
        Konsep ini bisa menjelaskan mengapa pasien dengan strok 
        akut  mempunyai  potensi membaik bila  terdapat  aliran 
        kolateral yang memadai untuk menjamin keperluaan energi 
        basal  untuk mempertahankan integritas membran.  Contoh 
        klinis  terbaik dari penumbra iskemik adalah  penderita 
        defisit  neurologis iskemik reversibel (RIND).  Mungkin 
        selama  RIND,  ADS berkurang  dibawah  ambang  rangsang 
        gagal elektrik dan pasien memiliki defisit  neurologis. 
        Namun karena pasien membaik, beralasan  mempostulasikan 
        bahwa  terdapat ADS kolateral memadai untuk  menghambat 
        infarksi  serebral.  Istilah  penumbra  iskemik  adalah 
        untuk  menjelaskan  suatu zona parenkhima  yang  secara 
        elektrik  sunyi, namun secara struktur intak  disekitar 
        daerah  infarksi selama keadaan iskemik serebral  fokal 
        akuta.  Namun  pertanyaan tentang  kestabilan  penumbra 
        iskemik tetap tak terpecahkan. Lebih mutakhir, penumbra 
        iskemik  dikhususkan  kedalam  dua  keadaan.  Jenis   1  
        dimanifestasikan oleh supresi EEG, pengurangan ADS, dan 
        tetap  utuhnya  struktur neuronal. Jenis  2  ditentukan 
        oleh penekanan EEG, pengurangan ADS kritis, dan  adanya 
        peninggian  sementara yang berulang dari K+e.  Penumbra 
        jenis 2 berhubungan dengan berbagai derajat  kehilangan 
        neuronal. Saat memikirkan kestabilan penumbra  iskemik, 
        elemen  waktu  harus  turut  dipertimbangkan.  Misalnya 
        pengurangan  aliran hingga 18 pada oklusi MCA  permanen 
        Ambang Rangsang Iskemia
        -------------------------------------------------------
        Aliran darah serebral,          Status fungsional
        ml/100g/menit

        50  |                           Normal
            |  
        18  |                           Gagal elektrik
            |                           EEG, SSEP /
            |
            |                           Penumbra iskemik
            |
        12  |                           Gagal metabolik
            |                           Na+i /    Ca++i /
            !                           K+i /     pHi /
        -------------------------------------------------------
        
        
        pada  Makaka  menyebabkan infarksi  yang  menggambarkan 
        baik penurunan ADS maupun toleransi yang buruk jaringan 
        neuronal terhadap pengurangan aliran darah yang lama.
             Karenanya beralasan untuk menduga  bahwa  penumbra 
        iskemik nyatanya adalah keadaan dinamik yang berpotensi 
        memburuk  setiap  saat.  Perburukan  ini  menggambarkan 
        perburukan  progresif aliran darah  kolateral  residual 
        akibat  kelemahan (fatigue)  kolateral,  vasokonstriksi 
        iskemik,  atau edema progresif. Karenanya  hasil  akhir 
        klinis  setelah oklusi vaskuler menunjukkan  berat  dan 
        lamanya pengurangan ADS. Beberapa penelitian  dilakukan 
        untuk  menentukan waktu maksimum oklusi MCA yang  dapat 
        ditolerasi tanpa terjadinya infarksi. Penelitian  baru-
        baru ini menunjukkan bahwa oklusi MCA dapat  ditolerasi 
        untuk  1  jam oleh tupai atau 6 jam oleh  kucing  tanpa 
        infarksi  berat. Percobaan Makaka memperlihatkan  bahwa 
        oklusi MCA 15-18 menit ditolerasi tanpa infarksi.  Bila 
        oklusi  MCA diteruskan hingga 30 menit,  secara  jarang 
        akan  berakibat  infark substansi  kelabu  subkortikal. 
        Bila  dilanjutkan hingga 60 menit, akan terjadi  cedera 
        neuronal  dengan  pola heterogen  dari  tanpa  infarksi 
        hingga lesi makroskopis luas. Setelah oklusi MCA 4 jam, 
        terjadi  infarksi  nonkonfluen berganda  mengenai  baik 
        ganglia basal maupun substansi kelabu subkortikal. Bila 
        lebih  dari  4 jam, terjadi infarksi  yang  berkonfluen 
        tunggal  yang besar  mengenai baik struktur otak  dalam 
        maupun permukaan. Melihat penelitian iskemia fokal pada 
        primata  menunjukkan oklusi MCA selama 30  menit  dapat 
        ditolerasi dengan baik, sedangkan bila  60 menit sering 
        berakibat  infark  kecil  berganda  dengan   lokalisasi 
        perivaskuler.  Bila  oklusi dilanjutkan hingga  4  jam, 
        infark  mikro akan bergabung menjadi infark  besar  dan 
        mengenai  baik  struktur dalam  maupun  permukaan  dari 
        distribusi MCA. Penelitian binatang juga memperlihatkan  
        bahwa  reperfusi dan restorasi aliran darah  dalam  4-8 
        jam  dapat  memperbaiki  perluasan  infarksi.   Penting 
        dicatat bahwa reperfusi mungkin mengeksaserbasi derajat 
        cedera  otak.  Misalnya oklusi MCA  primata,  reperfusi 
        setelah 3-6 jam iskemik cenderung meningkatkan  derajat 
        edema  vasogenik. Dihipotesakan bahwa cedera  reperfusi 
        mungkin akibat reoksigenasi dengan dibentuknya  radikal 
        bebas.
        
        
        Perubahan Metabolik
        
        Keadaan  metabolik yang merugikan yang  terjadi  selama 
        pengurangan  aliran darah berat adalah multifaktor  dan 
        kompleks.  Gangguan  metabolik  utama  inisial   adalah 
        asidosis otak, perubahan permeabilitas membran terhadap 
        Ca++  dan Na+, dan pelepasan Ca++i  yang  tersekuester. 
        Pada  nyatanya semua berhubungan dengan  gagal  energi. 
        Misalnya  pelepasan  asam amino  eksitatori,  pembukaan 
        kanal kalsium membran bergantung tegangan, dan asidosis 
        intraseluer,  semua dapat berkaitan dalam  menggagalkan 
        metabolisme aerobik akibat dari pemusnahan ATP sekunder 
        terhadap penurunan penyediaan oksigen dan glukosa.
             Sekarang  sudah  dipastikan  bahwa  Ca++  berperan 
        kritis  pada  peristiwa seluler  normal  yaitu  pembawa 
        sekunder,  regulator metabolik, dan penyebab  pelepasan 
        neurotransmiter.  Juga diketahui bahwa  akumulasi  Ca++ 
        abnormal dapat menghantar kematian anoksik. Tahun  1977 
        telah  diperlihatkan  bahwa  konsentrasi  Ca++  ekstra-
        seluler  menurun pada korteks serebeler yang  hipoksik. 
        Diperlihatkan  bahwa Ca++ juga berkurang  pada  anoksia 
        hipokampal,  status epileptikus, dan hipoglikemia.  Hal 
        ini  berakibat timbulnya hipotesis integratif  mengenai 
        kerusakan sel yang berhubungan dengan kalsium,  sebagai 
        perjalanan  umum cedera neuronal.  Dihipotesakan  bahwa 
        Ca++  memasuki neuron melalui kanal kalsium  bergantung 
        tegangan  yang  terbuka setelah  depolarisasi  membran. 
        Dalam keadaan anaerobik, pemusnahan yang cepat dari ATP 
        menyebabkan  gagal pompa Na+/K+ase. Ini  pada  akhirnya 
        menyebabkan depolarisasi membran dengan adanya  influks 
        kalsium.  Karena Ca++i tersekuester dalam jumlah  besar 
        diretikulum  endoplasmik  oleh  Ca++ATPase,  maka  juga 
        dipostulasikan  bahwa  gagal  energi  akan   melepaskan 
        kalsium  intraseluler  yang  akan  mempengaruhi  cedera 
        neuronal  yang  tidak  bergantung  pada  fluks  kalsium 
        transmembran.   Perbedaan  kerusakan  terhadap   cedera 
        iskemik antara populasi neuronal berbeda dipostulasikan 
        sebagai   akibat  perbedaan  kepadatan  kanal   kalsium 
        membran.
             Hipotesis  kalsium yang pertama dikemukakan  untuk 
        cedera neuronal ini telah melalui beberapa penellitian. 
        Penelitian  in  vitro,  pertama,  memperlihatkan  bahwa 
        neuron akan mati akibat kerusakan hipoksik pada  medium 
        kultur bebas Ca++. Kedua, terdapat korelasi yang  buruk 
        antara   lokasi  tertentu  kanal   kalsium   bergantung 
        tegangan  dan kerusakan iskemik. Ketiga,  peran  neuro-
        transmiter  seperti glutamat dan aspartat  pada  cedera 
        hipoksik telah diperlihatkan.
        
        
        Skema
        Hubungan   antara  gagal  energi  dan  jalur   metabolik
        degradatif utama penyebab kerusakan neuronal iskemik.
        --------------------------------------------------------
                        G A G A L   E N E R G I
        
        Metabolisme      Depolarisasi      Gagal Ca++ATPase
        anaerobik        membran           retikulum endoplasmik
            |             |        |                          |
            |             |        /-------------/            |
            !             |                      !            |
        Asidosis otak     |               Pelepasan           |
            |             |               neurotransmiter     |
            |             |                      |            |
            !             !                      !            |
        Denaturasi       Kanal sensitif   Kanal dioperasikan  |
        protein          tegangan         reseptor            |
        Pergeseran Ca++i  |     |          |     |            |
        Edema glial       |     /----------|--/  |            |
        Produksi          |   /------------/  |  |            |
        radikal bebas     !   !               !  !            |
                         Influks Na+      Influks Ca++ -------/
                          !                      !
                         Influks Cl-,H2O  Aktifasi lipase, 
                         Osmolisis        protease
                                          Akumulasi Ca++
                                          mitokhondria
                                                 |
                                                 !
                                          Degradasi membran
                                          Degradasi 
                                          neurofilamen
                                          Permeabilitas 
                                          meningkat
                                          Produksi 
                                          radikal bebas
                                          Fosforilasi
                                          oksidatif lepas
        -------------------------------------------------------
        
        
             Rothman  dan Olney pertama  menghipotesakan  bahwa 
        asam  amino  tertentu seperti  glutamat  atau  aspartat 
        adalah sitotoksik dan bila dibiarkan melakukan eksitasi 
        berlebihan  dari reseptor postsinaptik, akan  berakibat 
        kerusakan  dendrosomatik.  Hipotesis  eksitotoksik  ini 
        selanjutnya  digunakan  pada cedera anoksik  dan  hipo-
        glikemik  yang  sesuai  dengan  konsep  bahwa  eksitasi 
        berlebihan  dapat berakibat peningkatan pelepasan  atau 
        penurunan  pengambilan  kembali  dari   neurotransmiter 
        sitotoksik. Mekanisme cedera eksitotoksik kemudian bisa 
        diterangkan  oleh  penelitian  lain  dimana   ditemukan 
        bentuk  dini dan tunda dari cedera ireversibel.  Cedera 
        dini disebabkan oleh influks Na+ dan cedera tunda  oleh 
        entri Ca++.
             Paling  tidak ada tiga reseptor untuk  asam  amino 
        eksitotoksik  ini  yang dijelaskan  secara  farmakologi 
        dengan   ikatan  analog:  Reseptor   N-metil-D-aspartat 
        (NMDA),  asam kainik/quisquolat, dan AMPA.  Pada  hipo-
        tesis   eksitotoksik  dari  cedera  neuronal   iskemik, 
        kerusakan sel dini dipengaruhi oleh influks Na+ diikuti 
        entri Cl- dan H2O dengan akibat edema seluler dan osmo-
        lisis.  Influks  Na+ ini dihipotesakan  terjadi  secara 
        primer melalui gerbang kanal oleh reseptor asam kainik/ 
        quisquolat  atau  AMPA. Juga mungkin  bahwa  Na+  dapat 
        memasuki  sel karena gradien konsentrasi melalui  kanal 
        tegangan  membran  yang  tidak  tergantung  kanal  yang 
        dioperasikan reseptor. Selama iskemia dengan  penurunan 
        produksi  ATP,  terjadi kegagalan  pompa  Na+/K+ATPase. 
        Cedera neuronal tunda dikira sekunder atas influks Ca++ 
        terutama melalui reseptor NMDA yang menggerbangi  kanal 
        kalsium  yang  dioperasikan  reseptor.  Serupa   dengan 
        influk Na+, beralasan untuk menduga bahwa dengan  gagal 
        energi dan depolarisasi membran, Ca++ dapat juga  masuk 
        sel  melalui kanal kalsium tergantung  tegangan,  bebas 
        dari kanal yang dioperasikan reseptor. Karenanya konsep 
        kematian sel yang berhubungan dengan kalsium yang lebih 
        mutakhir, merupakan hipotesis eksitotoksik yang  nyaris 
        serupa dengan hipotesis kalsium yang pertama.
             Bukti pendukung pentingnya mekanisme  eksitotoksik 
        pada  cedera  iskemik,  pertama,  kadar   ekstraseluler 
        glutamat  serta aspasrtat meningkat agak banyak  selama 
        hipoksia eksperimental. Kedua, deaferentasi neuron CA 1 
        dengan  Schafferotomi (eliminasi  input  glutamatergik) 
        dan injeksi lokal antagonis glutamat mencegah penurunan 
        kalsium ekstraseluler selama iskemia. Ketiga, antagonis 
        reseptor  glutamat  yang  kompetitif  dan  yang   tidak 
        kompetitif  tampaknya  memperbaiki pada cedera  iskemik 
        baik  in  vivo  maupun  in  vitro.  Keempat,  antagonis 
        reseptor  NMDA  dan  lebih  mutakhir,  reseptor   AMPA, 
        menurun  pada  cedera  neuronal iskemik  baik  in  vivo 
        maupun  in  vitro. Kelima, teori  eksitotoksik  mungkin 
        menunjukkan fenomena pengrusakan yang selektif. Iskemia 
        otak  depan  pada masa singkat pada  tikus  Wistar  dan 
        gerbil  berakibat cedera yang terbatas  pada  subikulum 
        dan hipokampus daerah CA 1 dan CA 4. Iskemik yang lebih 
        lama berakibat cedera hipokampal CA 3, neuron piramidal 
        kortikal,  nukleus  kaudat,  dan  putamen.   Penelitian 
        ikatan  agonis  secara  radiografis  menunjukkan  bahwa 
        reseptor  NMDA  terkonsentrasi di  terminasi  kolateral 
        Shaeffer  dari CA 1 dan CA 4, sedangkan  reseptor  asam 
        kainik/quisquolat  terlokalisir pada  daerah  terminasi 
        serabut  yang  'mossy'  dari CA  3,  neuron  piramidal, 
        kaudat   dan  putamen.  Karenanya   distribusi   daerah 
        reseptor   untuk  asam  amino  eksitatori  ini   sangat 
        berhubungan   dengan  daerah  otak   dengan   toleransi 
        terhadap iskemik yang rendah.
        Karena  peningkatan Ca++ intraseluler saat  ini  dikira 
        Skema
        Teori  eksitotoksis  cedera  neuronal  iskemik.  Cedera 
        iskemik  dini dikarenakan influks Na+ terutama  melalui 
        kanal   yang  dioperasikan  kainat/quisquolat.   Dengan 
        influks  Na+,  terjadi influks pasif Cl- dan  H2O  yang 
        berakibat  edema  dendritik diikuti  osmolisis.  Cedera 
        iskemik  tunda  diakibatkan influks  Ca++melalui  kanal 
        kalsium  tergantung  tegangan jenis  N  yang  berakibat 
        pelepasan  neurotransmiter tambahan.  Sebagai  tambahan 
        atas  kanal  yang dioperasikan reseptor  NMDA,  kalsium 
        dapat  masuk  neuron melalui kanal  kalsium  tergantung 
        tegangan jenis L. Kanal L ini cenderung terletak  dekat 
        badan se-l. (Fredric B. Meyer, 1993)

        -------------------------------------------------------
        
                                              H2O  Cl-
                                                 |  |
                                          /------|--|--/ Ca++
                                    Na+   |      |  |  |  |/-/
                                    -----------> !  !  /--||L|-
                  /-----/           <-----------          |/-/
                  |     |               /---/  K+         !
        ----------/  0  -          /--> |K/Q|
                        - Glutamat |    /---/
                     0  | ---------|      |   
          /-/ !         -          |    /----/
        --|N|-| --/  0  -          /--> |NMDA|           !
          /-/ |   |     |               /----/           |/-/
            Ca++  /-----/           ----------->   !  /--||L|-
                                    Na+,  |        |  |  |/-/
                                    Ca++  /--------|--/ Ca++
                                                   |
                                    /-/           Cl-     /-/
                                    |-|                   |-|
                                    /-/                   /-/
                                    MK801    Antagonis Ca++
                                     AP-7    dihidropiridin
                           Dekstrometafan    (nomodipin)
        -------------------------------------------------------
        
        
        merupakan katalis utama untuk cedera neuronal  iskemik, 
        perlu   dipikirkan   regulasi  kalsium   neuronal   dan 
        mekanisme dengan mana kalsium dapat menyebabkan  cedera 
        neuronal.  Kenyataan  bahwa  konsentrasi  Ca++  ekstra-
        seluler  sekitar  10-3,  sedangkan  konsentrasi  intra-
        seluler 10-7, perubahan kecil metabolisme kalsium dapat 
        berakibat   nyata  pada  kegiatan   intraseluler   yang 
        bermediasi Ca++, yaitu kontraksi, eksitasi dan sekresi. 
        Proses  ini diketahui pada konsentrasi mikromoler  dari 
        kalsium yang terionisasi. Fluks kedalam kalsium  diatur 
        oleh  gradien konsentrasi kalsium antara  ekstraseluler 
        dan intraseluler baik melalui kanal kalsium  tergantung 
        tegangan  maupun yang dioperasikan reseptor.  Saat  ini 
        diketahui  terdapat  tiga kanal  kalsium  membran  yang 
        bergantung  tegangan: kanal T,N, dan L.  Kanal  kalsium 
        yang  dioperasikan reseptor adalah kanal  seperti  yang 
        diregulasikan  oleh  reseptor  NMDA  untuk  asam  amino 
        eksitatori.  Sebagai tambahan atas kanal  membran  ini, 
        regulator  Ca++ lain adalah pompa antiport Na+/K+  yang 
        elektrogenik  dengan  rasio sekitar 3 : 1  dimana  arah 
        pertukaran kalsium bisa kedalam atau keluar  tergantung 
        gradien Na+, pompa Ca++ATPase yang terletak  dimembrana 
        retikulum  sitoplasmik atau  endoplasmik,  mitokhondria 
        dimana  secara  elektroforetik terjadi  akumulasi  Ca++ 
        saat kalsium bebas intraseluler meninggi, serta protein 
        terikat kalsium seperti kalmodulin.
             Mekanisme  utama dimana peninggian  Ca++i  mungkin 
        berperan pada cedera neuronal iskemik adalah:
        
             1. Aktifasi  enzim  degradatif  seperti  protease, 
        endonuklease,  dan lipase yang  mengkatabolis  membrana 
        seluler dan neurofilamen. Hilangnya fosfolipid  membran 
        menambah permeabilitas membran mitokhondrial memberikan 
        pengaruh  pada fosforilasi oksidatif  residual,  disaat 
        cedera   terhadap  struktura  neurofilamen   menghambat 
        mekanisme  transport neuronal. Sebagai  tambahan,  asam 
        lemak  bebas yang terakumulasi akibat degradasi  fosfo-
        lipid  membran dikira teroksidasi melalui  jalur  lipo-
        oksigenasi atau siklooksigenasi selama reperfusi. Hasil 
        jalur  ini  secara  keseluruhan  adalah  terbentuk  dan 
        dilepaskannya  prostaglandin,  leukotrin,  dan  mungkin 
        radikal  bebas.  Prostaglandin  tromboksan  A2   adalah 
        vasokonstriktor poten, leukotrin merubah  permeabilitas 
        membran  dan  menyebabkan vasokonstriksi,  dan  radikal 
        bebas bila ada, merusak membran seluler.
             2. Untuk  menyangga peninggian Ca++,  mitokhondria 
        secara  elektroforetik  tampak  mengakumulasi  kalsium. 
        Fosforilasi oksidatif residual yang berdiri sendiri ini 
        pada  saat dimana produksi energi sudah  dibatasi  oleh 
        metabolisme anaerobik.
             3. Peninggian  Ca++i menyebabkan pelepasan  neuro-
        transmiter   yaitu  neurotransmiter   punitif   seperti 
        glutamat   atau  aspartat  yang   melaksanakan   siklus 
        degradatif ini.
        
             Penting  untuk  memikirkan  akibat  asidosis  otak 
        disaat  memikirkan  cedera neuronik  iskemik.  pH  otak 
        intraseluler  sekitar 7.01-7.03. Dalam 10  menit  sejak 
        pengurangan  ADS berat, pHi otak memburuk hingga  6.60. 
        Ini menunjukkan peninggian yang cepat dari  konsentrasi 
        asam  laktat  intraseluler. Adanya  asidosis  otak  ini 
        dibuktikan  mempunyai  efek merugikan  berikut,  yaitu: 
        (1) denaturasi   protein   dengan   hilangnya    fungsi 
        enzimatik,  (2) penambahan edema glial yang  berpotensi 
        mengganggu aliran kolateral melalui kompresi  kolateral 
        ekstravaskuler  dan karenanya mengurangi ADS  residual, 
        (3) berperan  meninggikan  Ca++i  dengan  menyaingi  H+ 
        untuk   tempat  ikatan  Ca++   intraseluler,   (4) akan 
        mengakibatkan  mileu internal yang baik untuk  produksi 
        radikal   bebas,  dan  (5) menekan  tingkat   metabolik 
        serebral  untuk glukosa dan regenerasi NADH.  Percobaan 
        memperlihatkan bahwa hiperglikemia memperburuk asidosis 
        intraseluler pada daerah pusat iskemik dan  berpengaruh 
        buruk  terhadap kehidupan. Hiperglikemia  juga  mungkin 
        memperburuk  perfusi  serebral  pasca  iskemik   selama 
        pemulihan  ATP  dan  fosfokreatin,  yang  mengakibatkan 
        akumulasi  asam  laktat jaringan.  Walau  hiperglikemia 
        mamperlihatkan   efek  merugikan  pada  pusat   iskemik 
        tersebut,  ada  juga data berlawanan  yang  menunjukkan 
        bahwa  hiperglikemi  mungkin  merupakan  neuroprotektif 
        pada penumbra iskemik.
        
        
        Perubahan Sirkulasimikro
        
        Sebagai tambahan atas perubahan metabolik yang  terjadi 
        selama  iskemia,  juga terjadi perubahan  aliran  darah 
        yang  dihantarkan kesirkulasimikro yang dapat  berperan 
        pada  cedera neuronal iskemik. Pertama, setelah  oklusi 
        pembuluh terjadi pengentalan darah yang disebut sebagai 
        particulate flow. Dipostulasikan bahwa particulate flow 
        ini   akibat  dari  pengurangan  tenaga  'shear'   yang 
        cenderung   mempertahankan  dispersi   komponen   darah 
        seluler.  Karena  pengentalan  ini,  viskositas   darah 
        meningkat dengan peninggian tahanan terhadap aliran.
             Kedua, tampak bahwa pembuluh penghantar  permukaan 
        kortikal  selama  iskemia  fokal  menunjukkan  progresi 
        berikut.  Pertama,  terjadi pertambahan  ringan  segera 
        dari  diameter pembuluh akibat  asidosis  ekstraseluler 
        lokal.  Selama  vasodilatasi ini,  paralisis  vasomotor 
        terjadi  dan  aliran darah yang melalui  pembuluh  yang 
        berdilatasi  ini  berhubungan langsung  dengan  tekanan 
        perfusi  serebral.  Nyatanya terdapat  hilangnya  auto-
        regulasi  tekanan darah dimana jatuhnya  tekanan  darah 
        dapat berakibat penurunan yang bermakna dari ADS. Dalam 
        periode waktu mengikuti vasodilatasi lokal ini, terjadi 
        vasokonstriksi pembuluh penghantar permukaan yang sama. 
        Vasokonstriksi  ini  disebut  'vasokonstriksi  iskemik' 
        atau  'vasospasme  sekunder' untuk  membedakannya  dari 
        vasospasme  yang  diinduksi  PSA.  Vasokonstriksi  yang 
        diinduksi iskemia ini sebagian dihambat oleh  pemakaian 
        antagonis  kalsium tertentu yang memblok kanal  L  yang 
        tergantung tegangan, menunjukkan untuk sebagian, akibat 
        dari  influks  Ca++  kedalam sel  otot  polos.  Diduga, 
        penurunan  ATP  berakibat depolarisasi sel  otot  polos 
        dengan  influks  Ca++  diikuti  kait-silang  aktin  dan 
        miosin. Pilihan teori lain adalah peninggian K+ ekstra-
        seluler atau pelepasan vasokonstriktor endogen  seperti 
        norefinefrin   atau  serotonin.   Karena   norefinefrin 
        berperan  kritis pada vasokonstriksi  iskemik,  penting 
        diingat bahwa deaktifasi norefinefrin adalah bergantung 
        energi  karena ia harus mengalami  pengambilan  kembali 
        pada terminal presinaptik. Tidak peduli apapun etiologi 
        vasokonstriksi iskemik, hasil akhir adalah  pengurangan 
        aliran darah sirkulasimikro.
             Perubahan  sirkulasimikro  ketiga  selama  iskemia 
        fokal  adalah  hipoperfusi pasca  iskemik.  Hipoperfusi 
        pasca  iskemik atau hipoperfusi tunda setelah  gangguan 
        otak  iskemik  semula  dijelaskan  sebagai  no   reflow 
        phenomenon. Nyatanya pemakaian istilah no reflow adalah 
        pemberian  nama yang salah dimana  derajat  hipoperfusi 
        pasca iskemik tergantung pada beratnya cedera  iskemik. 
        Bila gangguan iskemiknya ringan, secara khas tidak  ada 
        hipoperfusi pasca iskemik. Setelah iskemik berat, hipo-
        perfusi pasca iskemik mengikuti perbaikan aliran  dapat 
        dijumpai.  Selama  hipoperfusi  pasca  iskemik  terjadi 
        peninggian  metabolisme  dan  ekstraksi  oksigen   yang 
        menunjukkan ketidak-serasian antara kebutuhan metabolik 
        dan  penyediaan substrat yang akan  menyebabkan  cedera 
        pada  neurun  yang  hidup  setelah  gangguan   iskemik. 
        Patofisiologi  hipoperfusi  pasca  iskemik  disebabkan: 
        (1) faktor  reologis  intravaskuler  yaitu   peninggian 
        aggregasi  platelet atau viskositas darah, atau  cedera 
        leukosit   polimorfonuklir  terhadap  endotelium;   (2) 
        perubahan  dinding  vaskuler  termasuk  kontraksi  otot 
        polos,  pembentukan mikrovilli, atau edema  endotelial; 
        dan  (3) edema  ekstraseluler termasuk  jaringan  glial 
        menyebabkan kompresi mekanik terhadap bed kapiler.
        
        
        TINDAKAN TERHADAP ISKEMIA SEREBRAL FOKAL AKUTA
        
        Sebelum membicarakan modalitas tindakan spesifik  untuk 
        iskemia otak akuta, penting untuk menyadari bahwa untuk 
        mekanisme   yang  berbeda  diperlukan  pendekatan serta 
        tindakan  yang berbeda. Misalnya pasien dengan  embolus 
        MCA  akibat  trombosis mural kardiak  mungkin  ditindak 
        dengan terapi trombolitik intravaskuler. Terapi trombo-
        litik  intravaskuler  sebagai tindakan  bedah  terhadap 
        pasien  iskemia akibat oklusi vaskuler intrabedah  yang 
        lama  mungkin  merupakan kontraindikasi  karena  risiko 
        perdarahannya serta tidak adanya klot intraluminal. Hal 
        serupa,  terapi trombolitik intravaskuler sangat  tidak 
        dianjurkan  pada pasien perdarahan subarakhnoid  dengan 
        defisit  iskemik akibat vasospasme.  Karenanya  sebelum 
        melakukan  suatu tindakan, sangat  penting  menetapkan, 
        berdasar   pada  riwayat,  pemeriksaan   fisik,   serta  
        pemeriksaan diagnostik memadai, perkiraan etiologi dari 
        kerusakan iskemik.
             Sekali   etiologi  kerusakan  iskemik   diketahui, 
        rencana  tindakan yang rasional dapat  dibuat  berdasar 
        patofisiologi  dari cedera otak iskemik. Yang  penting, 
        ada  dua  prinsip  umum  dalam  menindak  strok   akut, 
        meninggikan  ADS  kolateral  dan  memberikan   proteksi 
        neuronal langsung.
        
        
        1. STROK TROMBOEMBOLIK
        
        Etiologi  strok tromboembolik heterogen  dan  kompleks. 
        Jenis  iskemia  serebral  akuta  ini  adalah   penyebab 
        tersering  dari strok dan memiliki patofisiologis  yang 
        luas  seperti  embolus  dari  trombus  mural   kardiak, 
        embolus dari stenosis karotid, atau trombosis  pembuluh 
        intrakranial atau ekstrakranial. Karena mekanisme  yang 
        mungkin  sangat luas, tindakan terhadap  strok  trombo-
        embolik  harus  bergantung pada  masing-masing  pasien. 
        Misalnya  oklusi  arteria  lentikulostriata   berakibat 
        infark  lakuner.  Karena  lentikulostriata  adalah  end 
        artery tanpa aliran kolateral apapun, mungkin  tindakan 
        untuk  meningkatkan aliran darah kolateral  akan  tidak 
        efektif.  Hal  serupa, obat neuroprotektif  akan  tidak 
        efektif  akibat ketidakmampuan penghantaran  kejaringan 
        otak yang iskemik.
             Tahap  pertama dalam menegakkan  diagnosis  adalah 
        mengambil  riwayat  dan pemeriksaan  fisik  yang  baik. 
        Riwayat   diabetes  atau  hipertensi   bisa   mendukung 
        diagnosis suatu infark lakuner, sedang riwayat serangan 
        iskemik  transien (TIA) sebelumnya, termasuk  amaurosis 
        fugaks,  akan  mengarahkan pada kelainan  kardiak  atau 
        karotid.   Bagian  terpenting  pemeriksaan   neurologis 
        termasuk  auskultasi  atas bruit  servikal  dan  murmur 
        kardiak,  palpasi denyut arteria temporal  superfisial, 
        dan  pemeriksaan oftalmoskopik atas retina akan  adanya 
        emboli atau retinopati venostasis. Setelah pemeriksaan, 
        CT  scan  gawat darurat harus  segera  dilakukan  untuk 
        menyingkirkan  penyebab noniskemik dari defisit  neuro-
        logis seperti perdarahan intraserebral atau  neoplasma. 
        CT  scan bisa juga memperlihatkan tanda  sekunder  dari 
        infarksi  seperti embolus pada MCA atau edema  serebral 
        pada  ditribusi vaskulernya. Akhirnya, CT scan  mungkin 
        memperlihatkan kerusakan iskemik lama seperti  infarksi 
        lakuner atau 'watershed' sebelumnya.
             Pemeriksaan   diagnostik   selanjutnya    terutama 
        tergantung  kemungkinan  klinis.  Misalnya  bila  tidak 
        direncanakan tindakan intervensi, beralasan untuk tidak 
        melakukan   pemeriksaan  pencitraan   berikutnya.   Tes 
        diagnostik   yang  dilakukan  bila  diperkirakan   akan 
        memberi   informasi   penting   adalah   ultrasonografi 
        karotid,   Doppler  transkranial,   okulopletismografi, 
        angiogram  serebral  transfemoral, angiografi  MR,  dan 
        ekhokardiografi transesofageal atau transtorasik. Dalam 
        keadaan  yang memadai pada pasien tanpa  dengan  tanda-
        tanda  kelainan pembuluh kecil, alasan dibuat  langsung 
        dari   hasil  CT  scan  diruang  gawat  darurat   untuk 
        angiografi  untuk  menentukan  patologi  anatomik  bila 
        tindakan   yang  agresif  seperti  bedah  atau   terapi 
        trombolitik dipertimbangkan.
        
        
        TINDAKAN
        
        Tindakan  atas  strok tromboembolik  sangat  tergantung 
        pada  etiologinya. Saat ini tidak ada tindakan  efektif 
        terhadap  infark lakuner akut. Untungnya banyak  pasien 
        ini yang mengalami perbaikan neurologis yang  bermakna. 
        Walaupun  saat  ini tidak ada  agen  farmakologis  yang 
        jelas untuk menindak strok tromboembolik, berbagai agen 
        neuroprotektif  potensial seperti antagonis  Ca++,  dan 
        pembersih  radikal  bebas,  dalam  penelitian   klinis. 
        Karenanya saat ini langkah tindakan berikut dianjurkan:
        
             1. Pertahankan  pasien euvolemik. Harus  diketahui 
        bahwa  beberapa peneliti menggunakan tehnik  hemodilusi 
        termasuk  flebotomi untuk menurunkan  viskositas  darah 
        yang  secara  teori  akan  meningkatkan  aliran  mikro-
        sirkulasi.  Keengganan kita untuk melakukan  hemodilusi 
        adalah  berdasarkan  adanya bukti kemungkinan  hal  ini 
        akan  meningkatkan edema serebral dan bukti  lain  akan 
        hasil negatif dari peneliti lain.
             2. Dilakukan hidrasi pasien dengan NaCl 0.45  atau 
        0.9,  bebas dari glukosa. Ini berdasarkan bahwa  hiper-
        glikemia memperberat asidosis otak.
             3. Pertimbangkan terapi trombolitik.  Kontroversi-
        nya  terletak pada apakah terapi  trombolitiknya  bedah 
        atau  medikal.  Saat ini,  terapi  trombolitik  medikal 
        adalah  dengan pemakaian heparin atau faktor  pengaktif 
        plasminogen  jaringan (tPA). Sasaran heparin IV  adalah 
        profilaktik, untuk mencegah embolisme berulang  seperti 
        yang  berasal  dari trombus mural  kardiak  atau  untuk 
        mencegah  penyebaran trombus kearteria  sirkel  Willis. 
        Walau semula dihipotesakan heparin mungkin meningkatkan 
        aliran  mikrosirkulasi,  sedikit bukti  yang  mendukung 
        postulat  ini.  Pilihan  lain,  kebanyakan   menyetujui 
        penggunaan  heparin pada pasien dengan embolus  kardiak 
        akibat fibrilasi atrial atau dari embolus paradoksikal. 
        Pemakaian heparin sebagai pencegah perluasan  trombosis 
        jarang  digunakan  pada strok  spontan.  Lebih  khusus, 
        heparin mungkin digunakan pada pasien yang  mendapatkan 
        oklusi  arteri untuk mengobati aneurisma  intrakranial. 
        Sebelum  memulai  heparin, CT scan harus  dibuat  untuk 
        menyingkirkan strok hemoragik.
             Penggunaan  tPA untuk memacu lisis  bekuan  sedang 
        diteliti  dalam berbagai percobaan  klinis  prospektif. 
        Jelas  bahwa tehnik paling efektif  untuk  meningkatkan 
        aliran  darah haruslah yang memperbaiki aliran  melalui 
        pembuluh  yang  teroklusi. Risiko  berpotensi  terbesar 
        dari  terapi  trombolitik intravaskuler  adalah  risiko 
        infarksi hemoragik. Yang mendukung hal ini adalah bukti 
        penggunaan streptokinase dalam menindak trombosis  vena 
        perifer dalam yang berkaitan dengan insidens perdarahan 
        intraserebral sebesar 3 %. 
             Terapi  trombolitik bedah adalah ekstirpasi  bedah 
        dari embolus atau trombosis melalui embolektomi MCA dan 
        endarterektomi  karotid  secara  gawat  darurat.  Walau 
        telah  dibuktikan manfaat besar  dari tindakan  agresif 
        ini,  pelaksanaannya  belumlah  seragam.   Mengherankan 
        bahwa  risiko  perdarahan  intraserebral  setelah   re-
        vaskularisasi bedah sangatlah rendah. Walau ada  alasan 
        bahwa  agaknya terapi trombolitik medikal bisa  dipilih 
        dibanding  revaskularisasi  bedah, tak  ada  kesimpulan 
        yang  tegas yang dapat ditarik hingga hasil  penelitian 
        tPA  selesai dianalisis. Dalam menunggu  data  tersebut 
        dipublikasikan,  tetap harus diingat bahwa  embolektomi 
        MCA  dan  endarterektomi karotid secara  gawat  darurat 
        dapat  sangat  menguntungkan dalam  memperbaiki  fungsi 
        neurologis pada pasien terpilih.
             Apakah  terapi  trombolitik  secara  bedah  maupun 
        medikal,  masa iskemia dan masa perbaikan aliran  tetap 
        merupakan  masalah utama. Penelitian telah  membuktikan 
        bahwa  setelah 4 jam sejak iskemia fokal, akan  terjadi 
        infarksi  serebral berat. Penelitian  juga  membuktikan 
        bahwa  perbaikan aliran bahkan setelah 4-5 jam  setelah 
        iskemia  akan  bermanfaat mengurangi  ukuran  infarksi. 
        Penelaahan  waktu iskemia dan perbaikan aliran  setelah 
        embolektomi  MCA  serta  endarterektomi  karotid  tidak 
        memperlihatkan penggal waktu tertentu dimana  perbaikan 
        aliran  setelah  selang waktu  tersebut  menjadi  tidak 
        efektif. Jelas bahwa makin dini tindakan  gawat-darurat 
        dimulai,  akan makin baik kesempatan perbaikan  klinis. 
        Umumnya  diterima  masa  4-6  jam  untuk   mengusahakan 
        perbaikan  aliran dengan medikal atau intervensi  bedah 
        agresif.
             4. Agen protektif serebral. Hingga saat ini  belum 
        ada agen neuroprotektif yang sangat dianjurkan terhadap 
        strok akut. Antagonis kalsium dihidropiridin  nimodipin 
        sudah  dibuktikan  sebagai  agen  neuroprotektif   pada 
        beberapa penelitian terhadap strok akut di Eropa, namun 
        hasil  ini tidak dapat diulangi oleh  peneliti  Amerika 
        Serikat.  Perbedaan mungkin akibat saat  masuk  pasien, 
        yang  mencapai  48 jam setelah onset strok  akut.  Agen 
        neuroprotektif  potensial  lain  yang  sedang  diteliti 
        adalah pemusnah radikal bebas dan antagonis asam  amino 
        eksitatori. Beralasan untuk mempostulasikan, pendekatan 
        campuran mungkin akan dilaksanakan dimana digunakan tPA 
        dikombinasikan  dengan  agen  neuroprotektif,   masing-
        masing  sebagai antagonis terhadap  mekanisme  spesifik 
        dari cedera iskemik.
        
        
        OPERASI UNTUK TIA
        
        1. Endarterektomi  dan  rekonstruksi  arteria   karotid 
        ekstrakranial   mempunyai  morbiditas  dan   mortalitas 
        rendah  dan  sangat besar  kesempatannya  mencegah  TIA 
        selanjutnya maupun CS.
        
        2. Anastomosis ekstrakranial-intrakranial. Untuk  suatu 
        kelainan  yang  terletak pada  sirkulasi  intrakranial, 
        dilakukan  anastomosis  arteria  temporal   superfisial 
        kecabang  permukaan  arteria  serebral  media.   Dengan 
        teknik  mikrovaskuler, operasi dilakukan  untuk  banyak 
        kelainan  accident vaskuler baik akut, kronis,  lengkap 
        maupun tak lengkap.
             Disamping operasi, TIA juga dapat ditindak  secara 
        medikal dengan zat-zat antikoagulasi dan  antiplatelet. 
        Antikoagulasi  efektif  dalam menindak  emboli  berasal 
        kardiak dan mungkin mengurangi frekuensi TIA vertebral-
        basiler.
             Obat  yang  mempengaruhi  sifat  adesif   platelet 
        penggunaannya saat ini meningkat dalam menindak TIA dan 
        mencegah  stroke. Inhibisi platelet juga efektif  dalam 
        mencegah  TIA dan stroke, mendukung teori  TIA  sebagai 
        tromboembolik   platelet-fibrin.  Aspirin  juga   sudah 
        dibuktikan bermanfaat mengobati TIA dan mencegah strok. 
        Aspirin  akan  mempengaruhi  agregasi  platelet  dengan 
        menginhibisi   sintesa  prostaglandin.  Anti   agregasi 
        platelet  lain  seperti dipiridamol  dan  sulfinpirazon 
        tidak   memperlihatkan  manfaatnya  terhadap  TIA   dan 
        pencegahan  strok.  Pada mulanya aspirin  diduga  hanya 
        bermanfaat  pada  pria,  namun  ternyata  menfaat  pada 
        wanita  terbukti  sama  baiknya.  Pengurangan  kejadian 
        strok  oleh  aspirin sekitar 30-50%.  Secara  teoritis, 
        dosis  pencegahan  TIA dan stroke adalah  dosis  kecil. 
        Dosis  kecil  aspirin mungkin  tetap  menjaga  inhibisi 
        prostasiklin  antiagregasi,  disaat itu ia  juga  tetap 
        menginhibisi tromboksan A2 proagregasi. 
             Tindakan   bedah  untuk  TIA  sirkulasi   anterior 
        terutama   adalah  endarterektomi   karotid.   Prosedur 
        serebrovaskularisasi  lainnya  seperti  pintas  ekstra-
        intrakranial  dicadangkan  untuk keadaan  khusus.  Saat 
        endarterektomi   karotid,  plak  ateromatosa   diangkat 
        langsung  via arteriotomi karotid. Saat ini  morbiditas 
        dan mortalitas tindakan ini kurang dari 3%.
        
        
        2. ISKEMIA PERIOPERATIF
        
        Beruntung  bahwa iskemia serebral  perioperatif  jarang 
        terjadi  karena membaiknya tehnik bedah mikro.  Kadang-  
        kadang  ahli bedah saraf perlu menindak pasien   dengan 
        iskemia  perioperatif akibat tindakan  oklusi  pembuluh 
        intrabedah  yang  lama  atau  cedera  pembuluh   selama 
        intrabedah  berupa diseksi atau trombosis. Keadaan  ini 
        harus  selalu diingat. CT scan gawat darurat  dilakukan 
        untuk  mengurangi  kemungkinan perdarahan  pasca  bedah 
        yang menyerupai kerusakan vaskuler. Harus  berhati-hati 
        terhadap bangkitan pasca bedah karena pelepasan  serupa 
        epileptik  terlateralisasi  yang periodik  (PLED)  yang 
        dapat  menyerupai kerusakan iskemik akuta. Bila  diduga 
        cedera  pembuluh darah, angiogram gawat  darurat  harus 
        didapatkan  untuk memastikan patologi  anatomik.  Lebih 
        disukai  melakukan angiografi dini dari pada  melakukan 
        Doppler   transkranial   yang  tidak   invasif   secara 
        terbatas.  Bila  tampak diseksi  atau  trombosis  pasca 
        bedah,  tindakan  agresif segera  harus  dimulai.  Pada 
        kebanyakan, iskemia perioperatif adalah akibat tindakan 
        oklusi pembuluh yang lama saat menindak lesi yang sulit 
        seperti aneurisma raksasa.
        
        
        TINDAKAN
        
        Sangat tergantung etiologi:
             1. Pertahankan  pada  euvolemik dengan  NaCl  0.45 
        atau  0.9 % dan bebas glukosa. Tidak disukai  melakukan 
        hemodilusi karena menambah edema serebral pasca  bedah. 
        Sebagai tambahan terhadap hidrasi IV, diberikan  koloid 
        seperti  albumin 5 % 250 mL secara IV 2-4 kali  sehari. 
        Pola  terapi  adalah  memaksimalkan  ekspansi   volume, 
        dengan  sendirinya akan meningkatkan  aliran  kolateral 
        tanpa  menambah  edema  serebral  atau  tekanan  intra-
        kranial.
             2. Berikan  obat neuroprotektif antagonis  kalsium 
        seperti nimodipin 60 mg lewat mulut setiap 4-6 jam. Ini 
        berdasar penelitian bahwa nimodipin dapat  meningkatkan 
        ADS  dan pengalaman pada PSA yang memperlihatkan  bahwa 
        nimodipin  menurunkan beratnya defisit iskemik  setelah 
        PSA.
             3. Bila  defisit neurologis berat, bisa  diberikan 
        tiopental  3-5  mg/kg secara sinambung dengan  drip  IV 
        atau  fenobarbital dengan dosis pembebanan 15 mg/kg  IM 
        atau  IV diikuti kadar serum terapeutik.  Manfaat  tio-
        pental  adalah bahwa waktu paruhnya lebih  pendek  dari 
        fenobarbital. Alasan pemberian barbiturat adalah adanya 
        bukti  efek  protektif neuronal  langsung,  pada  suatu 
        iskemia progresif. Sebagai tambahan, barbiturat mungkin 
        bermanfaat  mengurangi edema serebral, yang  menurunkan 
        TIK,  dan  tentunya akan meningkatkan  tekanan  perfusi 
        serebral.  Kerugiannya,  barbiturat  akan   mengaburkan 
        pemeriksaan  neurologis,  serta perlunya  intubasi  dan 
        ventilasi terkontrol.
             4. Dalam  hal tertentu dianjurkan tindakan  bedah. 
        Misalnya   bila  angiogram  pasca   bedah   menunjukkan 
        trombosis  atau diseksi, embolektomi atau pintas  gawat 
        darurat  harus  dipikirkan.  Risiko  perdarahan   peri-
        operatif  menyebabkan terapi trombolitik  intravaskuler 
        seperti  tPA menjadi kontraindikasi.  Jarang  lobektomi 
        temporal  gawat darurat memberikan manfaat, baik  untuk 
        menhilangkan   herniasi  transtentorial  maupun   untuk 
        meningkatkan tekanan perfusi serebral dengan mengurangi 
        TIK.
        
        
        3. DEFISIT ISKEMIK YANG DIINDUKSI PSA
        
        Diagnosis  vasospasme  secara klinis  harus  ditegakkan 
        segera  pada  kasus  dengan  persangkaan  yang  tinggi. 
        Doppler  transkranial atau angiografi  adalah  pencitra 
        yang  akan  menunjang  diagnosis  bila  tidak  dijumpai 
        hidrosefalus pada CT scan.
        
        
        TINDAKAN
        
             1. Lakukan    tindakan    hipertensif-hipervolemia 
        sebagai  tindakan awal atas vasospasme  segera  setelah 
        aneurisma  diperbaiki. Ahli bedah saraf lain  ada  juga 
        yang  melakukan tehnik hemodilusi.  Terapi  hipertensif 
        hipervolemia  dimulai dengan hidrasi IV dengan  larutan 
        salin  sekitar 125-150 mL/jam. Ditambahkan albumin  250 
        mL  tiap  6 jam. Bila tidak ada  riwayat  kardiak  yang 
        jelas,  curah  kardiak ditingkatkan dengan  infus  iso-
        proterenol  atau dopamin untuk menaikkan tekanan  darah 
        hingga  sekitar 160 mmHg. Dengan  infus  isoproterenol, 
        terkadang  diperlukan lidokain 1-2 mg IV untuk  menekan 
        iritabilitas kardiak. 
             2. Karena  nimodipin terbukti mengurangi  insidens 
        dan  beratnya defisit iskemik, berikan nimodipin  sejak 
        pasien masuk rumah sakit. Namun nimodipin bukanlah obat 
        ajaib;  bila  pasien  tampil  dengan  defisit  iskemik, 
        angiografi  segera  dilakukan untuk  menentukan  apakah 
        angioplasti  bermanfaat.  Angioplasti  akan  memberikan 
        beberapa hasil yang baik.
             3. Pikirkan  pemasangan kateter ventrikuler  untuk 
        mengalirkan CSS. Pada keadaan vasospasme dengan  hidro-
        sefalus  ringan,  membuang  CSS  mungkin  secara  nyata 
        memperbaiki ADS.
        
        
        PILIHAN FARMAKOLOGIS MENDATANG
        
        Analisis  kritis terhadap regimen untuk strok akut  dan 
        iskemia  perioperatif segera  menunjukkan  keterbatasan 
        intervensi farmakologis yang terdedia saat ini.  Dengan 
        perkembangan cepat atas pengertian patofisiologi cedera 
        otak  iskemik,  obat lain bisa dikembangkan  yang  akan 
        memberikan  neuroproteksi dengan  menghambat  mekanisme 
        spesifik  yaitu  kerusakan  sel  iskemik  atau   dengan 
        meningkatkan aliran darah kolateral.
        
        
        Obat-obat Neuroprotektif yang Potensial
        
        Antagonis   Asam   Amino   Eksitatori.   Kemajuan   dan 
        pengertian  akan  asam  amino  eksitatori   menimbulkan 
        perhatian  yang besar akan pengembangan antagonis  yang 
        kompetitif dan tidak kompetitif terhadap reseptor  NMDA 
        (N-metil D-aspartat) dan yang lebih mutakhir,  reseptor 
        AMPA.  Antagonis  NMDA  nonkompetitif  yaitu   ketamin, 
        dizosilpin (MK-801), dan fenilsiklidin (PCP). Agen  ini 
        menghambat  kanal ion gerbang-NMDA. Ia segera  menembus 
        SDO  karena ia larut lemak. Kemampuan menghambat  kanal 
        ion bergantung tegangan listrik (voltage-dependent) dan 
        ini  memperkuat   perkiraan  ia  kurang  efektif   saat 
        depolarisasi   masif  atau  iskemia  berat.   Antagonis 
        reseptor  NMDA  kompetitif adalah fosfonat  seperti  2-
        amino-5-fosfonovalerat  (APV),  2-amino-7-fosfonohepta-
        noat  (APH),  dan senyawa lebih baru  yang  memperbaiki 
        penetrasi SDO (CPP, CGS 19755). Lebih baru lagi,  anta-
        gonis  reseptor  AMPA  (CNQX,  NBQX).  Antagonis   NMDA 
        terbukti  bermanfaat pada iskemia fokal yang  diinduksi 
        oleh  oklusi  MCA. Pengurangan ukuran  infarksi  dengan 
        antagonis  nonkompetitif  atau  yang  kompetitif  telah 
        diperlihatkan pada percobaan. Beberapa agen ini seperti 
        MK-801 terbukti bermanfaat bila diberikan 1-2 jam sejak 
        onset  iskemia  fokal. Percobaan  memperlihatkan  bahwa 
        antagonis   NMDA   mengurangi  cedera   pada   jaringan 
        penumbra. Walau beralasan untuk menduga bahwa agen  ini 
        mengurangi  influks  Ca++ melalui  kanal  kalsium  yang 
        beroperasi pada reseptor NMDA, ada beberapa bukti bahwa 
        ia  mungkin  bermanfaat pada ADS. Saat  ini,  antagonis 
        reseptor AMPA MBQX terbukti mengurangi ukuran  infarksi 
        bila diberikan hingga 90 menit setelah oklusi MCA.
        
        Antagonis  Kalsium. Antagonis kalsium  bermanfaat  baik 
        karena mengurangi influks kalsium melalui kanal kalsium 
        bergantung-tegangan   atau  dengan   meninggikan   ADS. 
        Sedikit  sekali bukti bahwa antagonis kalsium  mencegah 
        masuknya  kalsium  keneuron  yang  iskemik.  Peninggian 
        kalsium  bebas  intraseluler  selama  iskemia   terjadi 
        melalui berbagai jalan yaitu kanal kalsium  bergantung-
        tegangan,  kanal  kalsium  dioperasikan-reseptor,   dan 
        pelepasan  dari  retikulum endoplasmik.  Dalam  subgrup 
        kanal  kalsium  bergantung-tegangan,  ada  tiga  kanal, 
        dengan   hanya  sebuah  (kanal  L)   yang   dipengaruhi 
        antagonis kalsium seperti nimodipin. Antagonis  kalsium 
        lain  seperti  flunarizin dan nikardipin  mungkin  juga 
        mempengaruhi kanal T bergantung-tegangan. Dalam  setiap 
        keadaan, pengaruh antagonis kalsium pada iskemia  fokal 
        adalah seimbang. Walau ada persetujuan bahwa  antagonis 
        kalsium,  terutama kelas dihidropiridin  seperti  nimo-
        dipin, nikardipin, atau PN-200-110 meninggikan ADS pada 
        keadaan iskemik dan non iskemik, pengaruh terhadap luas 
        infarksi tidak konsisten. Mekanisme perbaikan ADS  oleh 
        antagonis  kalsium  yang  telah  dipostulasikan  adalah 
        menghilangkan    vasokonstriksoi   iskemik,    dilatasi 
        pembuluh   darah  kolateral  pial,   atau   pengurangan 
        aggregasi platelet dengan mengurangi viskositas  darah. 
        Terakhir  ini, antagonis kalsium dengan efek  serotonin 
        yang  disebut S-emopamil memperlihatkan efek  perbaikan 
        pada kerusakan setelah oklusi MCA.
             Walau  data penelitian tidak konsisten,  nimodipin 
        telah memperlihatkan pengurangan insidens dan  beratnya 
        defisit iskemik setelah PSA. Sebagai tambahan, beberapa 
        penelitian  di  Eropa  memperlihatkan  bahwa  pemberian 
        nimodipin   pada   pasien  dengan  strok   akut   jelas 
        mengurangi kematian pada terutama pria dan  memperbaiki 
        hasil  akhir fungsional dalam jangka  panjang.  Mungkin 
        beberapa antgagonis kalsium bergantung-tegangan seperti 
        nimodipin dan nikardipin akan berperan dalam  mengobati 
        strok akut sebagai bagian dari gabungan terapi.
        
        Pemusnah  Radikal  Bebas.  Terbukti  bahwa  peroksidasi 
        lipid  bermedia  radikal bebas oksigen  merugikan  pada 
        iskemia  fokal.  Dibuktikan bahwa  antioksidan  endogen 
        seperti a-tokoferol, askorbat, dan glutation  berkurang 
        selama  iskemia fokal. Pemusnah radikal  bebas  seperti 
        dismutase  dan  katalase superoksid  yang  berkonjugasi 
        polietilenglikol terbukti mengurangi ukuran infark pada 
        percobaan  iskemia fokal. Terakhir, kelompok  21-amino-
        steroid (lazaroid) telah dikembangkan. Aminosteroid ini 
        tidak  memiliki aktifitas glukokortikoid namun  beraksi 
        sebagai  pemusnah  radikal  bebas  dan  khelator  besi. 
        Senyawa  ini  memperlihatkan  manfaat  pada   percobaan 
        cedera kepala, PSA, iskemia fokal, dan iskemia  global. 
        Bila  hasil  ini telah jelas,  21-aminosteroid  mungkin 
        bermanfaat  dalam mengobati strok akut. Seperti  dengan 
        semua pemusnah radikal bebas, pemberian harus dilakukan 
        sebelum  masa reperfusi selama produksi  radikal  bebas 
        puncak.  Mannitol  juga  dilaporkan  sebagai   pemusnah 
        radikal  bebas  dan  bermanfaat  pada  iskemia   fokal, 
        menyebabkan  beberapa  ahli bedah  saraf  secara  rutin 
        menggunakannya  intraoperatif sebelum  oklusi  pembuluh 
        saat operasi aneurisma.
        
        
        RANGKUMAN
        
        Pendekatan  rasional pada pengelolaan intensif  iskemia 
        serebral  akuta  tergantung pengertian  akan  mekanisme 
        cedera  neuronal iskemik. Pada iskemia serebral  fokal, 
        terdapat pola heterogen pengurangan aliran darah.  Pada 
        daerah pusat dari iskemia yang luas, jarang  intervensi 
        akan  bermanfaat  dalam mengatasi  kerusakan  neuronal. 
        Sekitar daerah pusat iskemia adalah zona dengan iskemia 
        sedang  yang  disebut 'penumbra  iskemik'  yang  adalah 
        jaringan  yang  potensial  untuk  diselamatkan.  Tehnik 
        untuk  menyelamatkan jaringan cedera yang  berkemampuan 
        reversibel  ini dibagi kedalam cara peningkatan  aliran 
        darah  kolateral dan tindakan yang memberikan  proteksi 
        neuronal  langsung. Pada strok akut  yang  nonoperatif, 
        trombolisis  intravaskuler  mungkin  akhirnya   menjadi 
        tehnik terpilih yang dapat memberikan perbaikan  aliran 
        segera. Pada iskemia pasca bedah, cara ekspansi  volume 
        atau mungkin hemodilusi merupakan tehnik terpilih. Obat 
        yang tersedia saat ini yang mungkin menberikan proteksi 
        neuronal  langsung  adalah antagonis  kalsium  dihidro-
        piridin nimodipin dan barbiturat. Mendatang, obat  yang 
        mengurangijalur  degradatif spesifik seperti  antagonis 
        reseptor  NMDA  dan AMPA serta pemusnah  radikal  bebas 
        mungkin terbukti efektif.
        
        
        4. REFERENSI
        
        Untuk rujukan, lihat Bab Daftar Rujukan.