Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
Cari dalam ejaan/bahasa Indonesia di situs ini :
Search term:
Case-sensitive - yes
exact fuzzy

ILMU BEDAH SARAF


Dr. Syaiful Saanin, Neurosurgeon.
saanin@padang.wasantara.net.id
Ka. SMF Bedah Saraf RSUP. Dr. M. Djamil/FK-UNAND Padang.





3. ANOMALI SUSUNAN SARAF PUSAT
A. Perkembangan dan Anomali S.S.P
B. Diagnosis Anomali Kongenital dengan CT Scanning
C. Ukuran Kepala Abnormal
D. Hidrosefalus Kongenital
E. Malformasi Serebral
F. Malformasi Serebeler
G. Disrafisme
H. Kraniosinostosis
I. Anomali Kraniovertebral
J. Sindroma Neurokutanosa (Fakomatosis)
K. Malformasi Vaskuler
L. Tumor Otak Kongenital
 
KEMBALI KEHALAMAN UTAMA
 

        shunting ventrikuler dilakukan pa- 
        da setiap kasus. Gardner mengajukan pengoklusian  open- 
        ing kanal sentral dengan otot atau simpul jahitan sute- 
        ra.  Kraniektomi fossa posterior serta laminektomi  tu- 
        lang  belakang servikal mungkin dilakukan untuk  dekom- 
        presi. Mielotomi garis tengah  mungkin perlu pada kasus 
        siringomielia nonkomunikans  untuk  membedakannya  dari 
        glioma  intramedullari. Karena mielotomi mungkin  menu- 
        tup,  shunt sista-subarakhnoid dilakukan dengan  selang 
        Silastik.
        
        
        Protokol  seleksi yang diusulkan untuk neonatus  dengan 
        mielomeningosel (Stein):
        -------------------------------------------------------
        Anomali kongenital 'gross'-------------------------Ya
        (mikrosefali, kardiak dll)                         |
        Trauma lahir yang berat                            |
                       |                                   |
                       |                                   |
                     Tidak                                 |
                       |                                   |
                       |                                   |
          Tidak------Foto tengkorak memperlihatkan         |
            |        deformitas (LSD,Luckenschadel)        |
            |                           |                  |
            |                           |                  |
            |                           Ya                 |
            |                           |                  |
            |                           |                  |
            |          Adanya kriteria buruk utama         |
            |            (1) hidrosefalus 'gross'          |
            |            (2) paraplegia lengkap            |
            |            (3) kifosis                       |
            |            (4) kantung torakolumbar          |
            |                           |                  |
            |                           |                  |
            |          /---------------------------/       |
            |          |                           |       |
            |    Kurang dari                    Dua atau   |
            |    dua kriteria             lebih kriteria   |
            |      |                                 |     |
            |      |                                 |     |
        /---!------!-----/                   /-------!-----!---/
        | Dianjurkan     |                   | Operasi segera  |
        | operasi segera |                   | tidak dianjurkan|
        /----------------/                   /-----------------/
        
        
        
        C. DISRAFISME KRANIAL (KRANIUM BIFIDUM)
        
        Kranium  bifidum atau kranioskhisis, seperti spina  bi- 
        fida, adalah defek tabung neural disrafik. Anomali  ini 
        lebih jarang dari spina bifida. Biasanya dapat ditindak 
        dan karenanya menjadi malformasi yang penting  dibidang 
        bedah  saraf. Herniasi dura dan jaringan  otak  melalui 
        defek  tulang digaris tengah (sefalosel) dijumpai  pada 
        banyak kasus. Karanium bifidum terkadang bersamaan  de- 
        ngan spina bifida.
             Insidens kranium bifidum seperlimabelas hingga se- 
        persepuluh  spina bifida: satu per 3.000 hingga  10.000 
        kelahiran. Sefalosel regio oksipital umum di Eropa  dan 
        Amerika,  sedang  sefalosel frontal lebih  sering  dari 
        sefalosel oksipital di Asia Tenggara. Dibeberapa daerah 
        di Asia Tenggara ensefalosel lebih sering dari mielome- 
        ningosel. Jadi predisposisi geografis mungkin  berperan 
        pada  kranium bifidum. Oksipital ensefalosel lebih  se- 
        ring  pada wanita, sedang pria lebih sering  pada  yang 
        lainnya.
             Kranium  bifidum diklasifikasikan kedalam dua  je- 
        nis:  kranium bifidum okultum dan kranium bifidum  sis- 
        tikum.  Kranium bifidum okultum tidak berkaitan  dengan 
        herniasi  dura, karenanya tak terdeteksi hingga  dewasa 
        bila tak bergejala.
             Sinus dermal intrakranial adalah disrafisme krani- 
        al okulta berupa jaringan yang berasal dari kulit  yang 
        persisten  terdapat diruang intrakranial,  yang  berhu- 
        bungan  dengan kulit. Defek tulang kecil sering  tampak 
        dibawah protuberansia oksipital eksterna, dan  beberapa 
        rambut  sering tumbuh dari sinus. Lainnya, lokasi  yang 
        kurang sering adalah nasion. Sista dermoid mungkin ter- 
        dapat  pada  satu atau kedua ujung dari  sinus  dermal. 
        Sinus dermal diregio oksipital sering turun ke sambung- 
        an servikomedullari dan berakhir sebagai dermoid disis- 
        terna magna, ventrikel keempat dan hemisfer  serebeler. 
        Tumor dermoid pada ujung sinus dermal mungkin menimbul- 
        kan  gejala  massa intrakranial. Sinus  dermal  mungkin 
        tanpa  gejala. Banyak kasus berakibat meningitis  reku- 
        ren, dan reseksi tak lengkap sinus dermal juga bisa me- 
        nimbulkan meningitis.
             Kranium bifidum sistikum dapat dibagi menjadi lima 
        subkelompok, sesuai isi dari sefalosel:
        
        1. Meningosel: hanya berisi CSS didalam sefalosel.
        2. Ensefalomeningosel  atau meningoensefalosel:  berisi 
           baik CSS maupun jaringan otak didalam sefalosel.
        3. Ensefalosel: berisi hanya jaringan otak didalam  ce- 
           falosel.
        4. Ensefalosistosel: penonjolan jaringan  otak  mengisi 
           ruang yang berhubungan dengan ventrikel.
        5. Meningoensefalosistosel, atau  ensefalosistomeningo- 
           sel: berisi 'ventrikel' dan jaringan otak plus dila- 
           tasi ruang CSS disefalosel
        
             Eksensefali adalah protrusi otak yang tidak  ditu- 
        tupi kulit.
             Sefalosel  dapat diklasifikasikan menurut  lokasi- 
        nya.  Suwanwela dan Suwanwela menganjurkan  klasifikasi 
        seperti pada tabel. Ensefalosel dapat  diklasifikasikan 
        kedalam dua kelompok: ensefalosel posterior atau  oksi- 
        pital  dan ensefalosel anterior atau frontal, yang  me- 
        nonjol  pada sambungan tulang frontal dan tulang  nasal 
        atau kartilago nasal.
        
        
        Tabel 7-2. Klasifikasi Ensefalomeningosel (Suwanwela)
        -------------------------------------------------------
          I. Ensefalomeningosel oksipital
         II. Ensefalomeningosel lengkung tengkorak 
             A. Interfrontal
             B. Fontanel anterior
             C. Interparietal
             D. Fontanel posterior
             E. Temporal
        III. Ensefalomeningosel fronto-ethmoidal
             A. Nasofrontal
             B. Naso-ethmoidal
             C. Naso-orbital
         IV. Ensefalomeningosel basal
             A. Transethmoidal
             B. Sfeno-ethmoidal
             C. Transsfenoidal
             D. Frontosfenoidal atau sfeno-orbital
          V. Kranioskhisis
             A. Kranial, fasial atas bercelah
             B. Basal, fasial bawah bercelah
             C. Oksipitoservikal bercelah
             D. Akrania dan anensefali
        -------------------------------------------------------
        
        
             Ensefalosel oksipital merupakan 70 persen  sefalo- 
        sel (pada geografi sda). Dibagi kedalam subkelompok se- 
        suai hubungannya dengan protuberansia oksipital ekster- 
        na (EOP): sefalosel oksipitalis superior, dimana terle- 
        tak  diatas  EOP, dan sefalosel  oksipitalis  inferior, 
        yang  terletak dibawah EOP. Penonjolan lobus  oksipital 
        tampak disefalosel superior, dimana serebelum  menonjol 
        dalam sefalosel inferior. Bila defek tulang meluas  tu- 
        run keforamen magnum, keadaan ini disebut sefalosel ok- 
        sipitalis  magna. Hubungan sefalosel ini  dengan  spina 
        bifida servikalis disebut sefalosel  oksipitoservikalis 
        (iniensefali).
             Ensefalosel anterior jarang dibanding  ensefalosel 
        posterior  (pada geografi sda). Yang  pertama  biasanya 
        dibagi  kedalam  dua kelompok:  ensefalosel  sinsipital 
        (tampak)  dan ensefalosel basal (tak  tampak).  Mungkin 
        juga  dibagi  kedalam empat kelompok:  (1)  ensefalosel 
        frontal,  (2) ensefalosel frontonasal, (3)  ensefalosel 
        fronto-ethmoid, dan (4) ensefalosel nasofaringeal. Sam- 
        bungan tulang frontal dan kartilago nasal adalah tempat 
        yang  umum dari sefalosel; hubungan ini  menjadi  titik 
        lemah  karena pertumbuhan yang berbeda  tulang  frontal 
        dan kartilago nasal. Suwanwela menyebut sefalosel dire- 
        gio ini sebagai ensefalosel fronto-ethmoid dan dikelom- 
        pokkan kedalam tiga subkelompok:
        
        1. Jenis  nasofrontal: menonjol pada  sambungan  tulang 
           frontal dan tulang nasal.
        2. Jenis  nasoethmoid: menonjol pada tulang nasal  atau 
           kartilago nasal.
        3. Jenis  naso-orbital: menonjol dari  bagian  anterior 
           tulang ethmoid dari bagian anterior orbit.
        
             Ensefalosel basal dapat dibagi kedalam lima kelom- 
        pok:
        
        1. Ensefalosel  transethmoidal  (intranasal):  herniasi 
           kedalam kavum nasal melalui lamina kribrosa.
        2. Ensefalosel sfeno-ethmoid  (intranasal   posterior): 
           herniasi kebagian posterior kavum nasal melalui  tu- 
           lang sfenoid.
        3. Ensefalosel  transsfenoid (sfenofaringeal):  hernia- 
           si kenasofaring melalui tulang sfenoid.
        4. Ensefalosel  sfeno-orbital: herniasi  keruang  orbit 
           melalui fissura orbital superior.
        5. Ensefalosel sfenomaksillari: herniasi kerongga orbit 
           melalui fissura pterigoid, kemudian kefossa pterigo- 
           id melalui fissura intra orbital.
        
        
        Presentasi Klinis
        
        Sefalosel berbagai bentuk dan ukurannya, ukuran  diame- 
        ter berkisar beberapa milimeter hingga lebih besar dari 
        tengkorak normal. Sefalosel besar tak selalu mengandung 
        jaringan otak, namun cenderung tak bertangkai dibanding 
        pedunkulasi. Kubah sefalosel ditutup kulit sebagian  a- 
        tau seluruhnya, dan mungkin terdapat rambut pada basis- 
        nya. Kelainan kulit seperti warna port-wine sering tam- 
        pak  diatas kulitnya. Sefalosel biasanya berdenyut  dan 
        kompresibel. Tekanannya meninggi saat menangis.
             Gejala  klinis tergantung lokasi sefalosel,  namun 
        defisit neurologis sehubungan dengan sefalosel biasanya 
        tidak berat. Ensefalosel oksipital menyebabkan gangguan 
        visus  berbagai tingkat, karena herniasi lobus  oksipi- 
        tal. Ensefalosel suboksipital mungkin berakibat ganggu- 
        an koordinator motor. Ensefalosel parietal mungkin  me- 
        nyebabkan  gangguan  sensori  dan  bicara.  Ensefalosel 
        frontal  berhubungan dengan nasion yang datar  dan  le- 
        bar.  Sefalosel tampak tepat diatas nasion  dan  sering 
        terjadi bersama hipertelorisme dan bibir serta  palatum 
        bercelah.  Ditemukannya gula pada  cairan  memungkinkan 
        diagnosis pasti. Ensefalosel orbital atau sfeno-orbital 
        sering bersamaan dengan eksoftalmos unilateral.
        
        
        Temuan Radiografik
        
        Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk menilai struktur 
        patologis sefalosel: daerah defek tulang, ukuran  serta 
        isi sefalosel, ada atau tidaknya anomali SSP, dan dina- 
        mika CSS.
             Lubang defek tulang pada ensefalosel oksipital mu- 
        dah dikenal pada foto polos tengkorak. Sebagai tambahan 
        terhadap  daerah defek tulang, perluasan defek dan  ada 
        atau  tidaknya kraniolakunia dapat diketahui. Ada  atau 
        tidaknya otak yang vital dikantung dapat ditentukan de- 
        ngan ventrikulografi dan angiografi serebral, namun  CT 
        scan memperlihatkan tidak hanya isi kantung namun  juga 
        semua kelainan intrakranial yang bersamaan.
             Ensefalosel  oksipital harus  didiferensiasi  dari 
        kasus  garis tengah lainnya, seperti sinus  perikranii, 
        dan  holoprosensefali.  Sinus perikranii  sangat  lebih 
        kompresibel dibanding ensefalosel. CT scan memperlihat- 
        kan  displasia serebral sebagai tambahan  atas  kantung 
        dorsal pada holoprosensefali. Angiografi serebral mung- 
        kin  perlu untuk membedakan ensefalosel oksipital  dari 
        kantung dorsal holoprosensefali; holoprosensefali didi- 
        agnosis oleh adanya arteria serebral anterior azigos.
             Untuk memeriksa lubang dari defek tulang pada  en- 
        sefalosel  anterior,  tomografi fossa anterior  dan  CT 
        scan diperlukan. Ensefalosel anterior harus  didiferen- 
        siasi  dari polip nasal, teratoma orbitofronal,  glioma 
        ektopik (nasal), dan keadaan serupa.  Teratoma  orbito- 
        frontal mungkin menampakkan kalsifikasi pada foto polos 
        dan meluas kedalam ruang intrakranial. Tumor ini menja- 
        di maligna dengan pertambahan usia. Glioma nasal adalah 
        tumor neurogenik kongenital yang jarang. Ia adalah mas- 
        sa heterotopik nonneoplastik dari jaringan  neuroglial. 
        Tapi  mungkin tumbuh seperti neoplasma sejati,  mengin- 
        filtrasi jaringan sekitarnya, serta metastasis ke nodus 
        limfe regional.
             Ensefalosel  berhubungan dengan berbgagai  anomali 
        selain hidrosefalus, seperti:
        
             mikrosefali
             kraniolakunia
             mielomeningosel
             agenesis korpus kalosum
             lipoma korpus kalosum
             holoprosensefali
             posisi abnormal sinus dural
             deformitas tentorium
             sinus dermal kongenital
             rotasi aksial batang otak
             hipoplasia serebeler
             sista Dandy-Walker
             malformasi Arnold-Chiari
        
        Tabel 7-3. Perbedaan Gambaran 
                   Ensefalosel Frontonasal dan Fronto-ethmoid
        ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
        Gambaran                     Frontonasal                                   Fronto-ethmoidal 
        ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
        Tempat defek tulang          Pada sambungan tulang frontal dan nasal       Pada foramen sekum, yaitu sambungan tulang 
                                                                                   frontal dan ethmoid pada basis fossa 
                                                                                   kranial anterior
        Presentasi pada permukaan    Pada akar hidung diatas bregma                Dibawah akar, pada sambungan  tulang  dan 
                                                                                   kartilago
        Bentuk                       Biasanya globuler; mungkin pedunkuler         Biasanya lobuler dan sessil
        Isi                          Biasanya cairan                               Kebanyakan padat
        Temuan radiologis            Defek pada sambungan frontonasal              Sambungan frontonasal normal
        ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------    
        
        Ensefalosel  anterior sering bersamaan  dengan  anomali 
        muka,  seperti bibir dan langit-langit bercelah.  Empat 
        anomali yaitu ensefalosel oksipital, hidrosefalus,  de- 
        formitas  Klippel-Feil, dan langit-langit bercelah  se- 
        ring terjadi sebagai tetrad. Kelainan jantung  kongeni- 
        tal dan ekstremitas yang displastik adalah anomali yang 
        berhubungan yang terletak dibagian lain dari badan.
             Hidrosefalus mungkin terjadi sebelum diperbaikinya 
        sefalosel, atau mungkin terbentuk setelah operasi.  In- 
        sidens hidrosefalus yang menyertai pada ensefalosel ok- 
        sipital adalah 25 persen pada meningosel dan 66  persen 
        pada ensefalosel. Hidrosefalus yang bersamaan pada  en- 
        sefalosel  anterior jarang. Seperti pada spina  bifida, 
        insidens hidrosefalus lebih tinggi pada sefalosel  yang 
        mengandung  jaringan otak. Insidens  hidrosefalus  yang 
        menyertai pada ensefalosel oksipital adalah hampir sama 
        dengan pada mielomeningosel.
        
        
        Pertimbangan Operasi
        
        Karena ensefalosel tidak sesering mielomeningosel, kri- 
        teria untuk tindakan terpilih belum banyak  dilaporkan. 
        Lorber dan Schofield melaporkan pada ensefalosel  oksi- 
        pital, indikator prognostik yang menggembirakan adalah: 
        (1) tiadanya jaringan otak  pada  kantung  (meningosel) 
        dan (2) ensefalosel kecil. Tiadanya hidrosefalus  bukan 
        faktor  penting untuk survival. Mereka  mengajukan  hal 
        berikut  sebagai pemburuk utama kemungkinan  prognostik 
        saat  lahir: (1) mikrosefali, (2) adanya jaringan  otak 
        didalam kantung (meningoensefalosel), dan (3) ensefalo- 
        sel  besar. Bila mikrosefali berhubungan dengan  hernia 
        otak masif, sulit untuk mengurangi jaringan otak  keda- 
        lam rongga intrakranial secara operasi.
             Sebagai  pegangan, sefalosel harus diperbaiki  se- 
        gera.  Sefalosel dengan kebocoran CSS harus  diperbaiki 
        dengan  dasar emergensi. Bila sefalosel  besar  sekali, 
        juga  harus diperbaiki segera untuk  mencegah  infeksi, 
        karena puncak sefalosel menjadi nekrotik oleh  gangguan 
        sirkulasi darah bila belum ditindak dan mungkin  terin- 
        feksi. Bila sefalosel kecil, perbaikan mungkin  ditunda 
        hingga dewasa.
             Baik  pendekatan operasi intrakranial dan  ekstra- 
        kranial  dapat digunakan untuk  memperbaiki  sefalosel. 
        Sefalosel frontal, posterior, dan frontonasal biasa di- 
        perbaiki  melalui pendekatan ekstrakranial.  Pendekatan 
        intrakranial biasa digunakan untuk ensefalosel  fronto- 
        ethmoid, nasofaringeal, orbital, dan sfenoidal.
             Prosedur  operatif untuk  memperbaiki  ensefalosel 
        posterior  terdiri dari tiga tindakan:   (1) sacplasty, 
        (2) duraplasty, dan (3) cranioplasty bila perlu.
             Sefalosel sangat besar dengan basis luas  memberi- 
        kan bahaya kehilangan CSS jumlah banyak secara tiba-ti- 
        ba, berakibat pergeseran otak ekstrem mendadak dan dii- 
        kuti gangguan sirkulasi darah batang otak. Setiap sefa- 
        losel  sering memerlukan prosedur operasi besar.  Dalam 
        usaha  mengurangi risiko, aspirasi berulang atau  drai- 
        nase  sinambung dari CSS bisa dilakukan prabedah.  Bila 
        otak yang mengalami herniasi tak dapat dikurangi dengan 
        mudah bahkan setelah aspirasi CSS dari kantung, jaring- 
        an otak yang mengalami herniasi dari leher kantung bisa 
        diamputasi  atau duraplasti dilakukan menggunakan  dura 
        manusia yang dibeku-keringkan, karena reduksi yang  di- 
        paksakan  akan meninggikan tekanan  intrakranial.  Bila 
        sefaloselnya besar, dilakukan pungsi atau aspirasi  se- 
        saat sebelum operasi. Operasinya relatif sederhana pada 
        kasus dimana defek tulang terletak diatas EOP. Bila de- 
        fek  tulang terletak diatas EOP, leher sefalosel  didi- 
        seksi  secara  hati-hati, tanpa mencederai  sinus  vena 
        yang berjalan sekitar leher. Pada tiap kasus, angiogra- 
        fi  serebral harus dilakukan prabedah  untuk  memeriksa 
        hubungan sefelosel dengan sinus vena. Bila defek tulang 
        terletak dibawah EOP, sefalosel sering bersamaan dengan 
        anomali fossa posterior dan sering sulit untuk diperba- 
        iki. Konsekuensinya prognosisnya biasa buruk. Ensefalo- 
        sel dikompartemen infratentorial sering berhubungan de- 
        ngan sisterna magna.
             Kebanyakan  ensefalosel anterior dicapai dari  in- 
        trakranial. Karena ensefalosel anterior yang relatif u- 
        mum  ada dua, ensefalosel frontonasal  dan  ensefalosel 
        fronto-ethmoidal,  ditindak dengan pendekatan  berbeda, 
        maka  diagnosis diferensial adalah penting.  Pendekatan 
        transnasal dan transoral mungkin dilakukan namun  tidak 
        umum digunakan karena lapang operasi yang sempit  serta 
        risiko kebocoran CSS yang tinggi. Operasi terdiri  dari 
        empat prosedur:
        
        1. Kraniotomi osteoplastik bifrontal dengan insisi  ku- 
           lit koronal.
        2. Amputasi otak yang herniasi.
        3. Kranioplasti dan dura plasti.
        4. Reseksi otak yang herniasi keekstrakranial dan dura- 
           plasti bila perlu.
        
        Pendekatan  intrakranial intradural  dan  ekstrakranial 
        biasanya dilakukan bersamaan (operasi satu tahap). Bila 
        ensefalosel  mempunyai kanal yang panjang, operasi  dua 
        tahap  bisa dilakukan. Otak yang herniasi kerongga  hi- 
        dung  atau faring mungkin ditindak  transpalatal.  Bila 
        terjadi  deformitas hidung dan hipertelorisme,  operasi 
        rekonstruksi mungkin perlu setelah perbaikan  ensefalo- 
        sel.