|
Berita Investasi
Bank Sentral Bingungkan Pasar (Kompas 10 Juni 2006)
Kebijakan moneter Bank Indonesia terkesan tidak konsisten dengan mengunakan
suku bunga untuk mencapai target inflasi membingungkan dunia usaha dan kalangan
perbankan. Dengan ekspektasi inflasi yang rendah BI seharusnya tidak ragu ragu
menurunkan BI rate.
Keputusan BI untuk mempertahankan rate di 12,50% bertujuan untuk mengurangi
tekanan terhadap nilai rupiah
- Kata Farial "sebenarnya BI itu inflation target
atau exchange rate target? Jangan karena terjadi gejolak nilai tukar maka BI
ragu ragu turunkan suku bunga. Dari pengalaman terbukti bahwa suku bunga
tidak ampuh untuk mengendalikan nilai tukar Ketidak pastian BI akan
dimanfaatkan spekulan yang tengah menikmati tingginya suku bunga dan akan
berusaha untuk menggoyang nilai tukar agar BI tidak menurunkan BI rate".
- Menurut Deputi Gubenur BI Aslim Tadjuddin "melemahnya
nilai tukar rupiah tidak perlu dikhawatirkan karena hampir semua mata uang
melemah terhadap dollar. Pelemahan rupiah hanya jangka pendek karena dalam
jangka panjang ekonomi AS cendrung melemah".
- Menurut Kahlil Rowter dari Mandiri Sekuritas "tampaknya
pelaku pasar melihat suku bunga di AS dan Eropah akan naik dan Jepang akan
meninggalkan kebijaksanaan suku bunga nol. Kegoncangan akan berlangsung lam,
2 sampai 3 bulan karena tingkat inflasi yang tinggi di negara negara besar
yang membuat Bank Sentralnya cendrung menaikkan suku bunga untuk memperketat
likuiditas".
Mengapa terjadi inkonsistensi ( Kompas 09Agustus 2006)
Mengapa terjadi inkonsistensi antara indikator ekonomi mikro & makro?
Fenomina menguatnya rupiah & IHSG pada dasarnya bersifat artifisial, karena
belum tentu penguatan rupiah didukung fundamental ekonomi yang seiring. Rekor
yang terukir di BEJ sama sekali tidak memberi garansi akan melahirkan kegairahan
serupa di sektor investasi langsung.
- Menurut A.Tony Prasiyanto
Rupiah yang menguat tajam diikuti inflasi rendah periode jan-jul 06 yang
3.29% sepintas memberi impresi positip, tetapi jangan salah interpretasi data
itu, karenapada dasarnya ke-2nya bersifat semu yaitu :
- Rupiah dalam posisi kuat karena disokong melemahmya US$ dan konflik
Timur tengah
- Sedangkan rendahnya inflasi lebih mereflesikan lemahnya daya beli
masyarakat yang merupakan akibat dari inflasi tahun lalu sebesar 17.11%.
Variable Ekonomi
- Daya beli masyarakat
Dapat dilihat dari penjualan level penjualan mobil dan properti
- Bukan rahasia umum bahwa sektor penjualan properi mengalami
penurunan yang drastis sejak tahun 1997
- Di Sektor penjualan mobil terjadi penurunan 40% dibanding tahun
2005.
- Lapangan Kerja
Pertumbuhan semester 1 yang hanya 5% jelas belum cukup untuk menyerap 2.1
juta angkatan kerja baru dan 11 juta pengangguran terbuka.
- Investasi
Terjadi penurunan
sebesar 20% dibanding tahun 2005
- APBN
Dalam semester hanya 40% yang dapat direalisir karena ketakutan birokat
pada tudingan korupsi Dibelanjakan secara hati hati akan menggangu
pertumbuhan ekonomi tetapi jika dikelola secara agrsip akan rawan korupsi.
- Ekspor
Nilai ekspor mengalami kenaikan US$ 8.48 miljar dan diharapkan dapat
menembus US$ 100 miljar
Penyebabnya adalah:
- Kenaikan harga batu bara, kelapa sawit, karet
- Embargo produk tekstil Cina oleh Amerika
Kinerja tersebut harus dicek dengan kasus ekspor fiktip yang dapat
mendistorsi angka angka tersebut
- Faktor Eksternal
Dengan kenaikan harga minyak menembus US$ 78/barrel akan mendorong The
FED menaikan suku bunganya >5.25% sehingga BI akan mengalami kesulitan
menurunkan suku bunga
- Menurut Didik J Rachbini
Sasaran pertumbuhan sebesar 5,6 - 5,9% tahun 2006 masih disangsikan .
- Kredit Bank
Ditahun 2006 dunia perBangkan mengalami stagnasi total terlihat dengan angka
2,4% untuk semester 1 yang menjadi indikasi bahwa sektor riil tidak bergerak
cukup baik.
- Deindustrialisasi
Banyak subsektor industri seperti tekstil, sepatu, kayu mengalami
pertumbuhan amat rendah atau negatip
- Lapangan kerja
Upaya menurunkan penganguran dari 9.9 % ke 6.5% tidak mudah dicapai karena
rangkaian kebijaksnaan yang ada tidak mengarah tujuan tersebut bahkan
terjadi peningkatan pengganguran.
- Ekspor
Kinerja tersebut harus dicek dengan kasus ekspor fiktip yang dapat
mendistorsi angka angka tersebut Bagaimana dapat terjadi kenaikan
nilai ekspor sedangkan banyak subsektor industri mengalami pertumbuhan
rendah bahkan negatip?
- Investasi
Banyak faktor yang menyebabkan investasi tidak cukup memadai untuk
mendorong ekonomi seperti:
- Kelemahan sinjal dan iklim yang kurang kondusif
- Pemerintah kurang mempromosikan investasi di luar negeri, sehingga
aliran modal global banyak masuk ke negara pesaing Indonesia seperti
China, Vietnam
Pada tangal 08/08/06 Grafik IHSG sementara menunjukkan pergerakan
"side ways" yang berarti
"siaga-2" bagi yang melakukan
trading di BEJ.
Ini adalah saatnya BIG Traders beraksi dan itu berarti bahwa Small
Traders atau Newbies lebih baik "stay
put" kalau tidak mau terlibas
Unit Agresive - Moderate &
Conservatip menunjukkan pergerakan "Up Swing".
Sementara untuk Agresip buy at
3100/3450 atau sebelum angka 3500 tembus.
 
 
 
catatan:
inflasi rate
periode jan - jul = 3.29%
For More Information Contact:
Budi Machribie
(F06592)
The SunFlamingo Team
Wisma Metropolitan
I 5th fl
Jl.Jen.Sudirman
kav 29-31
Jakarta 12920
+
62215254005/ext 110
+ 08161815979
Internet:
budimr@gmail.com
|