Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!

kanson.JPG (6994 bytes)

SAWUNG JABO

Sawung Jabo

JOHANSYAH. Barangkali nama tersebut tak begitu familiar. Tapi bila disebut nama Sawung Jabo, maka ingatan pencinta musik akan segera tertuju pada sosok seniman yang lewat karya-karyanya senantiasa kritis dan menunjukkan kepekaan yang mendalam atas setiap dinamika yang terjadi di masyarakat.

Belakangan ini nama Johansyah alias Sawung Jabo seakan menghilang, baik di dunia rekaman apalagi di panggung pertunjukan. Konon kabarnya sejak sebelum Pemilu lalu ia dilarang mentas. Namun, dalam situasi krisis moneter sekarang ini, tersiar kabar bahwa Jabo bersama grupnya, Kantata Samsara bakal manggung di kampus-kampus. Benarkah?

"Bukan, bukan begitu. Berita itu berawal dari kumpul-kumpul kita menanggapi situasi sekarang. Rupanya berita ini keluar dan didengar teman-teman kampus. Lalu ada mahasiswa yang menawarkan kami masuk kampus," ujarnya.

Kumpul-kumpul yang ia maksud adalah pertemuan rutin tiga kali seminggu kelompok Kantata di rumah salah seorang personilnya, seniman yang juga dikenal sebagai pengusaha eksentrik, Setiawan Djody. Pertemuan tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian mereka terhadap situasi yang memprihatinkan sekarang ini. Sebagai seniman yang juga terkena dampak langsung krisis yang terjadi, Jabo memang tak bisa tak peduli. "Kalau ada bagian tubuh yang sakit, semua ikut sakit," tandas suami wanita asal Australia, Suzan Piper ini.

Menurut Jabo, pada prinsipnya mereka bersedia memenuhi undangan yang datang dari lingkungan kampus. Syaratnya, tujuannya jelas: bermusik. "Tapi kalau kita datang ke kampus begitu saja, bisa-bisa ditanya, ngapain lu? Mau ngompor-ngompori apa?" tuturnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, bukan tak mungkin banyak kampus-kampus yang akan ia datangi bersama rekan-rekannya dari Kantata yang juga telah lama absen di panggung pertunjukan. Namun, Jabo buru-buru menambahkan, "Tapi kita tidak menjajakan, lho ya." Kesediaan Jabo dan rekan-rekannya layak direspon positif para aktivis kampus, termasuk aktivis kampus di Kota Kembang ini. Boleh jadi musik bisa menjadi alternatif sarana dalam menyalurkan aspirasi dan kepedulian yang konstruktif, tanpa mesti kehilangan esensi dari pesan yang ingin disampaikan.

Perjalanan kreatif

Sawung Jabo dilahirkan 46 tahun yang lalu di lingkungan masjid Ampel, Surabaya. Selain digembleng masalah agama, sejak kecil Jabo akrab dengan kehidupan seni tradisi.

Menginjak remaja, Jabo hijrah ke Jakarta untuk sekolah di STM Poncol. Saat itu ia kian giat bermain musik. Selain itu, ia pun kian giat menyalurkan hobinya: berpetualang menjelajahi hutan dan gunung. Kegemarannya ini kelak menginspirasi sebagian lagu-lagunya, seperti Bromo dan Surat dari Teman di Desa (album Badut) serta Perjalanan Awan (album Kanvas Putih).

Beberapa tahun kemudian Jabo pindah ke Yogyakarta untuk mendalami komposisi dan cello di Akademi Musik Indonesia. Berbekal pendidikan musik formalnya, ia mulai mencipta musik dengan bermacam gaya, mulai dari pop, klasik, hingga avant-garde.

Tahun 1976, bersama kawan-kawannya seperti Innisisri dan isterinya sendiri, Suzan Piper, Jabo mendirikan kelompok Baroque yang kemudian berubah nama menjadi Sirkus Barock. Kelompok ini didirikan di Yogyakarta sebagai realisasi konsepnya mengenai lingkungan kreatif yang multimedia. Oleh karena itu, jangan heran, ketika Sirkus Barock tampil di atas panggung, yang hadir bukan hanya musik tapi juga aneka seni performance.

Pada rentang tahun 1970-1983 Jabo menimba pengalaman hidup di Australia. Saat itu ia sempat menjadi pendukung film The Year of Living Dangerously bersama Mel Gibson. Selain itu, ia pun sempat menyutradarai teater Kisah Perjuangan Suku Naga bersama istrinya di sana.

Sekembalinya dari Australia Jabo segera memperjuangkan mutu lingkungan kreatif Sirkus Barock. Maka lahirlah empat album mereka, yakni Sirkus Barock, Bukan Debu Jalanan, Kanvas Putih, dan Fatamorgana. Dari album-album tersebut, boleh dikatakan Jabo merupakan nyawa dari kelompoknya, baik dalam konsep musik maupun dalam pembuatan melodi dan lirik.

Selain makin intens di Sirkus Barock, Jabo pun ber-workshop di kelompok lainnya, yakni Bengkel Teater Rendra, Swami, Dalbo, Kantata Takwa dan Kantata Samsara. Ia berinteraksi dan berkolaborasi dengan seniman-seniman ternama seperti Iwan Fals, WS Rendra, Setiawan Djody, dan Jockie Suryoprayogo. Berbeda dengan perannya di Sirkus Barock yang sangat dominan, peran Jabo di kelompok-kelompok ini tak lebih menonjol dari rekan-rekannya yang lain, mengingat grup-grup ini lebih mengedepankan ekspresi kelompok daripada ekspresi individu.

Di tengah kesibukan berkreasi bersama kelompoknya, Jabo sempat mengeluarkan album solo bertitel Badut. Ia juga membuat lagu untuk penyanyi dan grup lain, seperti Nicky Astria dan God Bless. Di samping berkecimpung di dunia musik, ia pun menciptakan koreografi, sajak-sajak, dan esei. Belakangan, ia mulai melukis.

Bukan sekedar hiburan

Menurut Jabo, keberadaannya di dunia musik pada dasarnya didorong oleh keinginan untuk menciptakan musik yang tidak sekedar berfungsi sebagai hiburan. Ia menuturkan, "Lewat musik saya ingin menyampaikan kenyataan hidup sehari-hari. Ini karena musik pada dasarnya memang bukan sekedar sarana hiburan. Musik sebagai sekedar hiburan tak lagi dapat diterima. Musik dapat pula menjadi sumber berita dan informasi. Juga, musik bisa menjadi barometer hal-hal yang perlu diubah." Dalam konteks sekarang, barometer hal-hal yang perlu diubah itu mempunyai spirit yang sama dengan sebuah kosa kata yang kini tengah hangat-hangatnya dibicarakan: reformasi.

Semangat Jabo itu dituangkan ke dalam lirik-lirik yang kritis, kadang dilontarkan dalam bahasa yang lugas, kadang pula dibalut dalam gaya yang lebih kontemplatif dan simbolis. Lewat lagunya ia bicara tentang orang-orang yang sok jagoan, tentang lingkungan hidup, tentang kesewenang-wenangan, hingga tentang korupsi dan kolusi. Jabo juga bicara tentang cinta dengan gayanya yang khas: romantis dan sarat permenungan.

Gaya lirik Jabo dalam merespon kondisi sosial di sekitarnya, antara lain dapat dinikmati pada lagu Sarat (album Kanvas Putih) berikut ini:

Aku berjalan di antara orang resah
aku mendengar suara sumbang di dinding rumah
mereka sarat dengan persoalan-persoalan kehidupan
seperti kereta tua mereka berjalan kepayahan

Kurasakan getar kehidupan
merobek-robek tidurku
tidakkah kau rasakan itu?
apakah kau telah menjadi batu?

Masihkah berguna kita berdiskusi lagi
sementara persoalan sudah sampai ke tepi
datanglah kemari pahami mereka…

Tapi bukan Jabo kalau hanya mengkristalkan persepsinya tentang situasi sosial lewat lirik semata. Ia menghadirkannya pula lewat musik yang serba menggantung. "Perlambang suasana mencekam dan keterinjakan," ujarnya.

Dalam perjalanan kreatifnya, Jabo tak hanya mengembara dalam mencipta lagu, tetapi juga mengembara dalam mengekspresikan lagu. Ia manggung di lapangan luas, seperti Stadion Utama Senayan, juga di tempat-tempat berkapasitas kecil seperti Dago Tea House Bandung.

Tak hanya itu. Jabo pun manggung di tempat-tempat yang tak biasa bagi seniman kebanyakan, termasuk di lembaga pemasyarakatan (LP). Sejak empat tahun yang lalu, pada setiap Hari Raya Idul Fitri ia senantiasa menyempatkan datang ke LP Wirogunan, Yogyakarta. Selain untuk bersilaturahmi, di sana ia menghibur dan membangkitkan kesadaran para penghuni LP. Untuk pentasnya ini Jabo tak segan-segan merogoh kocek sendiri.

Sungguh, telah lama Sawung Jabo menyuarakan semangat reformasi lewat lagu-lagunya. Ketika di negeri ini banyak kebobrokan dan kesewenangan, rasa cintanya terhadap tanah air justru semakin dalam (seperti tercermin pada Lagu Anak Negeri, album Bukan Debu Jalanan). Yang ia benci adalah perbuatan orang-orang yang telah menciptakan kebobrokan dan kesewenangan itu. (Ukon Ahmad Furqon)***

 
Iwan Fals Sawung Jabo S. Djody Joki S.
W.S. Rendra Innisisri Donny Fatah Toto Tewel

c o p y r i g h t 1998 - 1999 ukon ahmad furqon