Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
ALBUM HIJAU

Boleh dikatakan, album Hijau yang digarap pada tahun 1992 ini merupakan album yang paling "berbeda" dibanding dengan album-album Iwan Fals yang lainnya. Nampak sangat khas sekali.

Kekhasan tersebut sudah mulai terasa manakala kita melihat sampul albumnya. Bukan wajah Iwan yang terpampang, melainkan sekelompok anak-anak yang sedang bermain "deprak" (sebuah permainan tradisional) dengan warna hijau yang dominan. Demikian pula dengan nama-nama yang dipampangkan tidak hanya nama Iwan Fals, melainkan seluruh musisi yang mendukung album ini, yakni : Heirrie Buchaery, Jerry Soedianto, Cok Rampal, Bagoes AA, Iwang Noorsaid, Arie Ayunir, dan Jalu. Boleh dikatakan album ini seperti sebuah album kelompok, meskipun sesungguhnya merupakan album solo Iwan Fals.

Kekhasan akan makin terasa manakala kita mulai menikmati album ini dari lagu ke lagu. Terdapat tujuh lagu di sana. Penamaan lagu-lagu tersebut juga sangat khas. Kecuali lagu Hijau yang tetap diberi judul Hijau, lagu-lagu lainnya, cukup diberi judul sesuai urutan lagunya, yakni : Lagu Satu, Lagu Dua, Lagu Tiga, Lagu Empat, Lagu Lima, dan Lagu Enam. Lagu-lagu tersebut durasinya relatif sangat panjang dibanding umumnya lagu-lagu lain, yakni sekitar 7 - 15 menit.

Dari segi aransemen musik, album ini juga sangat berbeda dengan album-album Iwan yang lainnya. Nuansa etnik sangat kental terasa, khususnya suguhan irama perkusi yang dibidani Jalu. Boleh jadi aransemen musik yang disajikan terasa sedikit asing bagi telinga para penggemar Iwan yang lebih akrab dengan petikan gitar dan lengkingan harmonika. Tapi justru di sinilah letak kelebihannya. Iwan Fals tidak hanya sekedar bereksperimen dengan musiknya, tapi mencoba menghadirkan sesuatu yang baru, yang menarik, dan layak diperdengarkan.

Dari segi lirik, album yang digarap di bawah bendera Pro Sound ini sangat kental dengan nuansa permenungan dengan lirik-lirik yang simbolik dan puitik. Sementara tema yang disajikan cukup beragam, yakni: tentang perjalanan kehidupan (Lagu Satu dan Lagu Tiga), perihal kondisi Kota Jakarta (Lagu Dua), tentang orang yang lebih mengutamakan kemenangan daripada kebenaran (Lagu Empat), perjalanan anak manusia (Lagu Lima), kehidupan anak-anak yang kehilangan identitas akibat modernisasi (Lagu Enam), dan tentang lingkungan hidup (Hijau).