Perspektif Beragama Dalam Pemikiran Pasca Modernis

Oleh : Shofia M.A

Menghadirkan tema "Pasca Modernisme", sama halnya dengan memberi peluang diskusi tentang berbagai kemungkinan. Tidak diharapkan adanya titik temu dalam setiap perbincangan dengan tema semacam ini. Istilah pasca modernisme sendiri memang mengandung ketidakjelasan maksud.

"Tidak ada yang pasti", demikian menurut Ernest Gellner dalam teori sosialnya. "Membingungkan dan menyulitkan", Michael Foucoult dari kalangan paca strukturalis menyebutnya dalam konteks humaniora.

Pada akhirnya yang pasti kita temukan hanyalah sifat "ketidakpastian" itu sendiri. Konon, hal-hal yang tidak pasti ini justru menarik bagi banyak kalangan untuk dibahas dan dibicarakan. Pertanyaan hampir selalu muncul. Wajar saja, karena manusia memiliki kecenderungan untuk íngin tahu’apapun tentang hidupnya.

Judul tulisan ini pun, kalau boleh diasumsikan, akan menimbulkan pertanyaan di benak pembaca. Untuk apa membahas tema yang memunculkan berbagai paradigma? Dengan kata lain, ujung-ujungnya pasti hanya ketidakpastian.

Kembali…, inilah yang menarik untuk diperbincangkan. Masalah perbedaan paradigma tentu berkaitan dengan perbedaan kaidah dasar yang menjadi landasan cara pandang masing-masing subyek (yang berpendapat). Dalam hal ini selayaknya cara pandang kaum muslimin dibangun di atas aqidah Islam.

Adapun tulisan ini hanya bermaksud memaparkan realita "bagaimana perspektif beragama dalam pemikiran pasca modernisme". Apakah pemikiran-pemikiran pasca modernisme berpengaruh pada cara beragama saat ini? Perlu pula kita pertanyakan, adakah pengaruh pemikiran pasca modernisme ini pada upaya memahami Islam (terutama dalam penafsiran teks-teks keagamaannya)?

Terminologi Pasca Modernisme

Tinjauan terminologis biasanya memudahkan kita untuk mulai menelusuri sebuah persoalan. Namun ternyata cukup sulit, ketika kita diminta mendefinisikan istilah pasca modernisme, karena pasca modernisme sendiri menolak pendefinisian terhadap segala sesuatu. Francois Lyotard, bapak pencetus gagasan pasca modernisme asal Perancis telah mengemukakan penolakannya terhadap epistemologi pengetahuan modern yang melahirkan logika benar-salah. Lyotard menganut epistemologi yang memahami, membiarkan dan merengkuh kenikmatan keragaman. Wajar bila akhirnya pasca modernisme sendiri merupakan istilah yang paling banyak mengandung ketidakjelasan.

Gellner yang dikenal sebagai penentang gagasan pasca modernisme mengomentari, "Hampir mustahil untuk memberikan definisi dan paparan yang koheren mengenai pasca modernisme".

Bila ditelusuri lebih lanjut, istilah pasca modernisme pada mulanya digunakan dalam bidang humaniora, khususnya dalam sastra dan seni. Istilah ini lebih merupakan variasi estetik dan respon terhadap kecenderungan globalisasi seni yang menuju pada periode antiteori. Kecenderungan pada antiteori ini melenyapkan patokan tentang apa yang disebut sebagai sastra dan seni, sehingga seakan-akan dalam sastra dan seni itu mengarah pada bentuk ásal jadi’.

Pasca modernisme memasuki pada bidang sains. Haidar Baqir dalam jurnal Ulumul Qurán No: 1 Vol.V Th. 1994 merasa perlu menyebut Max Planck, Heisenberg dan lain-lain, karena mereka menggagas asas "ketidakpastian"yang sekarang sangat kuat disuarakan oleh pasca modernisme.

"Bukan suatu kebetulan", katanya. Karena kaselarasan pasca modernisme dan pemikiran-pemikiran yang mendahuluinya memang adalah suatu bentuk pemikiran yang sedang memberontak terhadap terhadap sains modern pasca renaissance (anggapan alam sebagai mesin).

Pasca modernisme ini pun melanda bidang sosial. Pemikiran pasca modernisme bersifat menentang hal yang baru dan berbau kemutlakan. Dalam hal ini Ernest Gellner menganggap pasca modernisme merupakan bentuk lain dari relativisme. Pasca modernisme yang bersifat anti rasionalisme, anti saintifik pada gilirannya menekankan pada relativisme dan pluralisme. Disinilah pasca modernisme, meminjam istilah Haidar Baqir, sebagai payung besar yang menaungi berbagai produk pemikiran. Dalam konteks keagamaan, pasca modernisme menjadi semacam perspektif yang menawarkan pandangan egaliter guna membentuk suatu cakrawala kehidupan yang dilandasi prinsip saling menghargai keberadaan yang lain dan saling mengakui.

Pertanyaan-pertanyaan bersar pun mulai muncul, termasuk tentang makna agama. Apakah agama berarti seperti yang dipahami selama ini (yang diistilahkan oleh pemikiran pasca modernisme sebagai bentuk konvensional), atau cara beragama yang mungkin bersifat sekuler dalam selubung isme baru? Menilik sifat pasca modernisme itu sendiri, tampaknya makna kedua yang lebih mewakili.

Ciri Mendasar pasca Modernisme

Untuk memahami pemikiran pasca modernisme, perlu dikenali terlebih dahulu karakteristik pemikiran-pemikiran ini. Secara umum akan ditemukan ciri pemikiran sebagai berikut :

Pertama, dekonstruksi, yaitu pertanyaan ulang terhadap seluruh konstruksi dasar dari alur pemikiran keilmuan yang telah mapan dalam era modern, baik dalam bidang sosiologi, anthropologi, psikologi, sejarah, bahkan (menurut perspektif pasca modernisme) termasuk juga agama. Dengan kata lain pasca modernisme berusaha merekonstruksi, kalau bisa dikatakan, seluruh konsep dan teori yang telah mapan. Kemudian mencari yang dianggap lebih relevan dengan realitas masyarakat masa kini.

Kembali ke Menu Utama