By Datuk Prof Shahnon Ahmad
Dalam iklim kebusukan itulah dia senantiasa sedari dirinya sebagai kepala yang selama hampir dua puluh tahun ini mengepalai barisan, yang memimpin setiap anggota barisan kebusukan itu selama ini. Dan juga senantiasa sedari yang diri-diri lain yang sama busuk dan yang sama dalam barisan, yang sama bersekongkol membolot apa saja jenis yang mengenyangkan, yang sama berbolos bengkang bengkok sepanjang ketulan yang kadang-kadang melambak dan kadang-kadang berpalitan mengikut fe'el para usus bahwa dirinya dan diri-diri yang lain itu pun memang busuk dan memang membusukkan.
Hakikatnya dia tidak pernah menafikan status kebusukannya itu; malah
mengiyakannya, baik sejak dulu maupun sejak sekarang. Apa lagi kalau angin
tibatiba memintal kusut-kasau dan tertojah keluar melalui lobang keramat
yang dimiliki setiap insan itu. Angin dan bibit-bibit ketulan taik yang
cair akan
ikut bersama dan menambahkan lagi kebusukan yang sememangnya busuk
dan membusukkan itu.
Sepanjang sejarah manusia yang terputus kerana kematian dan terhubung
kembali kerana kelahiran itu pun dia tidak pernah sekalipun menafikan bahwa
diri dia dan diri-diri yang lain yang berwajah samada ketulan, lambakan,
longgokan, seronyehan, keciritbiritan itu tidak busuk dan tidak membusukkan.
Datanglah angin sederas mana pun atau tibalah hujan membasuh segala kotoran
yang busuk, atau semburlah seberapa tong kewangian air bunga, kebusukan
tetap kental dan tetap abadi juga kerana kebusukan adalah dirinya dan kebusukan
adalah sistem pemerintahan yang dilagangkannya selama ini. Memang busuk
pun sistem pemerintahan itu. Memang membusukkan pun sistem pemerintahan
yang dipimpinnya
itu.
Tapi kedudukan kebusukan sistem itu hanya dilaungkan dan digamatkan
oleh
rakyat sewaktu dia sebagai kepala dan sewaktu yang lain sebagai
pengikutpengikutnya, sebagai para penyokongnya yang nampak setia itu
berada di
luar sempadan kawasan kekuasaan yang amat dijagainya itu, sesudah terkeluar
atau mengeluari diri melalui lobang keramat itulah. Memang bilamana
dia
terkeluar dari kawasan kekuasaannya, kebusukan yang amat tengik dan
meloya
itulah peribadinya yang digahkan ke mana-mana. Lain tidak ada selain
kebusukan. Orang tidak pernah memandang bentuk wajahnya yang sering
berubah
mengikut kemutan juring rembung lobang keramatnya.
Atau mengikut gaya tendangan uratsaraf dalamannya yang boleh memintal
dan
boleh menguak angin bersama cecair yang busuk dan membusukkan itu.
Dan sejarah
mereka-mereka yang mendahuluinya, yang lebih jauh mendahului sejarah
kebusukan
diri sewaktu di luar kawasan kekuasaannya itu pun amat panjang dan
berbelit-belit. Banyak yang dibuang begitu saja, dilupakan oleh sejarah.
Ada kalanya dia terpaksa dikeluarkan oleh tenaga yang lain secara huduh
dan
musibat, tenaga yang sedia ada atau tenaga yang tiba-tiba moncol
memperlihatkan peribadi-peribadi yang lain dari yang lain kerana tak
tertahan
lagi terus berada dalam kawasan kekuasaan sedemikian busuk di bawah
kepimpinannya sebagai kepala taik. Setiap tenaga lain yang mendadak
moncol,
yang juga penghuni kawasan pemerintahan itu mengasakasakkannya supaya
berambus
keluar; tak kira dalam bentuk apa sekali pun. Ketulan. Lambakan. Ciritan.
Biritan. Longgokan.
Nyahlah keluar walau dalam bentuk ketulan keseronyehan yang terputus-putus
pun. Nyahlah keluar walau dalam bentuk ciritbiritan sekali pun. Dan
memang dia
boleh keluarlah sambil mengheret bersama para ketulan yang lain, para
lambakan
dan longgokan yang lain yang selama ini membutatuli membuntutinya.
Ada kalanya
dia sendiri mengeluari dirinya dan mengeluarkan pengikut-pengikut yang
senantiasa mengapuki ketulannya dalam berbagai bentuk lain pula. Leperan.
Jelajelaan. Lendiran. Nanahan. Kahakan. Tapi perihal mengeluari diri
sendiri
itu amat jarang-jarang berlaku dalam sejarah kepimpinan kepala taik
jenis ini
kecuali sudah tak tertahan lagi dengan kebusukan yang membelit diri.
Namun
samada dikeluarkan atau mengeluari diri, yang busuk tetap busuk juga.
Yang
membusukkan tetap membusukkan juga.
Ada kalanya terkeluar dan mengeluari secara lambakan yang cair memedihkan
para
juring rembung lobang keramat itu. Ada kalanya langsung tidak ada sebarang
kepedihan: malah begitu licin, begitu lega dan begitu selesa pula,
bergantung
pada pergolakan dalam kawasan kekuasaannya itu. Pergolakan dalam kawasan
memang di luar duga. Seribu satu boleh terjadi. Yang tak pernah terfkir
pun
tiba-tiba berlaku macam tak ada apa-apa pula. Dan pergolakan itu biasanya
berkisar dan berputar pada paksi-paksi itu juga: rebutan mau jadi kepala
taik,
rebutan untuk rasa kenyang lebih dari yang kenyang, rebutan untuk menjadi
yang
punya nombornombor, yang punya gelaran-gelaran. Kadang-kadang rebut
lagi untuk
menjadikan diri lebih busuk dari kebusukan yang sedia wujud.
Pernah sekali sewaktu angin tenang dan cuaca agak redup serta bau keliling
tajam menusuk lobang hidung, seorang pengekor setianya, pangkat menteri
katakan, mencadangka;n agar proses pengeluaran diri bila kelak tiba
waktunya
hendak coba melalui lobang lain; bukan lagi lobang keramat yang berjuring
dan
mempunyai daya kemutan berirama dan yang otomatis gerak tindaknya itu.
Si
menteri yang membuat cadangan luar duga itu memang kuat daya kreativitinya,
kuat daya imaginasinya, tajam daya sensitivitinya. Menteri itu memang
terkenal
tentang yang baru-baru lagi pelik-pelik itu meskipun banyak yang memasukkannya
dalam senarai menteri tak berapa betul kualitinya.
Para ahli dalam majlis zenith yang lama terbentuk dan yang terdiri dari
para
menteri bergelar, para menteri yang besar-besar dan para menteri yang
kecil-kecil itu ketawa dan kebingungan pada mulanya. Mengapa tidaknya!
Lobang
mana lagi selain lobang keramat yang kemutannya otomatis itulah! Tak
kan
melalui lobang pancut yang lain pula yang sudah termaktub potfolionya
itu.
Takkanlah melalui lobang antara yang dikapit oleh sepasang bibir di
bawah
hidung itu. Itu sudah jauh di luar alam tabii namanya. Benar bahwa
semua
lobanglobang itu untuk menjadi saluran bagi menyumbat sesuatu atau
untuk
mengeluarkan sesuatu tapi sesuatu itu bukan apa saja. Takkanlah lobang-lobang
itu boleh dijadikan wadah untuk keluar mempamirkan kebusukan kepada
rakyat
jelata yang asyik ternganga melopong di luar sana. Takkanlah! Tapi
bilamana
menteri yang tersohor sebagai tokoh ampu seratus delapan puluh darjat
itu
menegaskan sampai merahmerah mata, menyatakan ada lagi satu lobang
bawahan
hidung yang dipagari luarannya oleh dua bibir atas bawah dan dipagari
lagi
dalamannya oleh barisan tulangtulang sumbing yang berwarna putih kekuningan,
para ahli lain dalam majlis zenith yang terkenal kewujudannya selama
ini,
cepat mengangguk tanda setuju walaupun semuanya sedari
bahwa lobang itu bukan untuk mengeluarkan atau memasukkan yang busuk-busuk
tapi khusus untuk menelan yang enak enak saja.
Namun tak banyak yang membantah. Semuanya tiba-tiba membisu seribu bahasa.
bila kepala taik yang terhitung sebagai pemimpin utama barisan ketulan
itu
yang berbicara. Apa salahnya lobang-lobang itu digunakan sepuas-puasnya
dalam
apa acara pun; baik mengeluarkan atau memasukkan! Apa salahnya. Lobang-lobang
yang ada itu memanglah punya fitrahnya tapi apa salahnya kalau kita
melanggar
fitrah itu. Apa salahnya! Tegas kepala taik.
Lobang keramat ini pun bukan sekadar untuk mengeluarkan angin busuk
atau benda
busuk sesuatu kementerian atau menerbitkan lambakan cecair yang ebih
busuk
dari kementerian yang lain tapi boleh juga digunakan untuk memenuhi
nafsu
kementerian lain. Benar kita waktu itu berada di luar alam tabii. tapi
apa
salahnya! Tegas lagi kepala taik yang memimpin barisan kekuasaan itu.
Semua menunduk dan membisu. Ada yang coba diam-diam memasukkan anggota
palat
sendiri ke dalam lobang keramat masing-masing tapi ternyata tidak
kesampaiannya. Yang nyaris-nyaris sampai itu pun hanya menyentuh juringjuring
yang meninggalkan kesan-kesan sengal dan seriau.
Tapi perbincangan tentang samada satu lobang atau dua lobang atau tiga
lobang
yang bakal mengeluari diri-diri untuk memperlihatkan kebusukan diri
kepada
rakyat jelata itu terhenti begitu saja. Kepala taik sebagai pemimpin
utama
barisan tidak merestuinya. Buat apa berbincang hendak keluar dari kawasan
kekuasaan kalau kita tidak mahu keluar dari kekuasaan kita? Buat apa
berbincang hal lobang-lobang itu sedangkan kita sudah membuat ketetapan
tidak
akan keluar dari manamana lobang walau apa jadi pun. Kita tetap berkuasa
sampai bila-bila kecualilah kelak bila diri sendiri mengeluari diri
ini.
Selagi kita berkuasa dalam kawasan kekuasaan ini dan tidak dikeluarkan
oleh
kuasa lain atau tidak mengeluari diri sendiri. selagi itulah kita tidak
akan
diberi panggilan julukan busuk dan membusukkan walaupun kita pada hakikatnya
busuk dan membusukkan. Nyah. kan apa orang lain kata. Persoalan jumlah
lobang
yang wujud itu memang boleh digunakan untuk membancuh dan membara nafsu
haiwan
yang mungkin mudah tumbuh dan mudah berbiak dalam kawasan kekuasaan
kita ini.
Rebutkan saja kesempatan itu. Gunakan saja lobang biasa yang umum
mengetahuinya. Bukankah segala kelengkapan segala prasarana di lobang
lazim
itu sudah pun difitrahkan? Atau apa salahnya kalau sudah berselera
hendak
gunakan lobang keramat yang berjuring dan berotomatis kemutannya itu
sekadar
untuk melanggar tabii? Atau apa salahnya menggunakan lobang antara
bibir untuk
menggantikan senggama sebagai usaha di luar tabii. Bukankah lobang
itu lebih
spesial lagi kerana di dalamnya punya kemudi yang boleh menyintak,mengodek.dan
membedal mengikut tuntutan pengamal?
Tapi tiba-tiba ada menteri lain yang memang selama ini dicap sebagai
amat
berkreatif dan amat inovatif terus saja berhujjah. Perbincangan tentang
yang-mana satu lobang hendak keluar itu bukan bermakna hendak keluar
dari
kawasan kekuasaan kita ini. Tidak. Kita tak akan keluar sampai bila-bila.
Kita
akan berkuasa sampai bila-bila. Itu ketetapan majlis zenith yang sudah
jelas.
Tapi perkara lobang bukan sekadar wadah untuk kita keluar bagi mendedahkan
kebusukan kita. Bukan.
Perkara lobang juga perkara untuk kita masuki. Bukankah helwani kita
selama
ini punya tiga jenis lobang dan adami kita pula punya dua lobang. Mana
satu
lobang yang kita nak masuk. Kita boleh masuk lobang orang lain kalau
kedua
belah pihak bersetuju; tak kira lobang mana. Atau kita masuki lobang-lobang
kita sendiri, kalau sampai hati. kalau kesampaianlah. Kita semua boleh
coba
memasuki lobang-lobang kita sendin.. Pilih saja yang mana satu.
Kepala taik yang memimpin kumpulan barisan mendengar hujah itu dan kepala
taik
yang mampat dan tumpul itu terjiuh lebar. Bukankah lobang bertiga atau
lobang
berdua itu sudah kita bincang. Tak payah bincang lagi dalam miting
majlis
zenith ini. Gunakan saja yang mana satu lobang yang dikehendaki. Atau
gunakan
saja secara bergilir-gilir mengikut fe'el dan kegemaran sendiri. Lobang
biasa
tetap lobang biasa juga. Yang ada lobang biasa itu, jagalah dia baik-baik
supaya tidak menjadi kerang busuk. Lobang keramat yang berjuring lebih
spesial
kalau sudah memahami gerak-tindak otomatisnya walaupun kebusukannya
lebih
tengik dan meloyakan. Gerak-tindak otomatisnya lebih garang dan lebih
agresif
kalau dibandingkan dengan gerak-tindak lobang biasa. Dan lobang antara
bibir
pun lebih takjub lagi kerana ada kemudi di dalamnya yang gemar mengodek.
Bukankah semua kita dalam iklim kebusukan ini sedang mencari pengodek
untuk
memuncak nafsu
hingga kepuncak?