Analisis Wacana: Suatu Pengantar
Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
FSU
in the Limelight
Vol. 3, No. 1
Oct. 1994

Analisis Wacana:
Suatu Pengantar

Sudijah S.

Istilah wacana secara kasar, dapat diartikan sebagai bahasa yang lebih luas dari kalimat atau klausa atau dapat juga diartikan sebagai satuan linguistik yang lebih besar dari kalimat, misalnya percakapan lisan atau naskah tertulis.

Analisis wacana sebenarnya, analisis bahasa dalam penggunaannya, seperti yang dikatakan oleh Brown dan Yule (1984) dalam bukunya Discourse Analysis "The analysis of discourse is necessarily the analysis of language in use". Karena itu analisis wacana itu tidak mungkin dibatasi hanya pada deskripsi bentuk linguistik yang terpisah dari hubungan antar manusia.

Selanjutnya Butler (1985) menambahkan bahwa studi mempelajari pola bahasa yang lebih luas dari kalimat ("the suprasetential patterning of language"). Ini bersamaan timbulnya dengan minat mempelajari bahasa, dengan keinginan untuk mempelajari apa sebenarnya yang bisa kita kerjakan dengan bahasa: bagaimana kita menggunakannya, tidak hanya untuk saling bertukar informasi, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah ("getting things done") dan untuk menciptakan dan memelihara hubungan sosial dan lain-lainnya.

Pendapat di atas sebenarnya berasal dari ide seorang pakar anthropologi terkenal Malinowski yang pada waktu meneliti suatu suku bangsa di Pasifik selatan, sampai pada kesimpulan bahwa makna (meaning) bukan merupakan korelasi antar kata (word) dengan benda yang ditunjuk oleh kata tersebut (referent). Dia mengambil kesimpulan bahwa untuk mengerti makna apa yang dikatakan, kita perlu mengetahui ciri-ciri budaya seperti yang direfleksikan dalam konteks situasi di mana suatu ujaran dihasilkan. Ide ini kemudian dikembangkan oleh Firth, seorang pakar linguistik yang berpendapat bahwa makna kata itu secara mendalam terkait dengan "the living process of persons maintaining themselves in society" (proses hidup seseorang untuk tetap bertahan di tengah-tengah masyarakat ). Coulthard (1977) mengutip apa yang dikatakan oleh Firth mengenai bahasa sebagai berikut "a way of behaving and making others behave" (suatu cara untuk menunjukan perilaku tertentu dan membuat orang lain berperilaku tertentu). Menurut Firth demikian dikatakan selanjutnya oleh Coulthard (1977) bahasa baru mempunyai makna dalam suatu konteks situasi tertentu (meaningful in its context of situation). Suatu ujaran 'Saya lapar' bisa dikatakan oleh seorang gelandangan yang lapar dengan tujuan untuk minta makan, atau bisa juga diucapkan oleh seorang anak balita sebagai jawaban dari perintah ibunya yang menyuruhnya segera tidur pada saat dia sedang asyik nonton TV. Pada konteks yang disebut belakangan ini ujaran tadi jelas dimaksudkan untuk mengulur waktu, mempunyai arti pragmatis yang berbeda dengan yang diucapkan dalam konteks yang pertama tadi.

Fungsi Bahasa

Analisis wacana tidak lepas dari fungsi bahasa itu sendiri. Untuk memudahkan analisis, Yule dan Brown (1984) membatasi hanya pada dua fungsi pokok bahasa yaitu:

  1. Fungsi transaksional: fungsi bahasa yang tujuannya untuk menyatakan isi ('the expression of content')
  2. fungsi interaksional: fungsi yang melibatkan hubungan sosial dan sikap individu.
Pada kenyataannya sering kedua fungsi ini bekerja bersama-sama. Suatu contoh misalnya, kalau seorang ibu memberi nasehat anaknya, maka dua fungsi bahasa tadi berjalan seiring, yaitu penyampaian nasehat itu sendiri dan pembinaan hubungan sosial dengan anak.

Di dalam bahasa transaksional, ada praanggapan (presupposition) bahwa apa yang ada pada pikiran penutur ialah pemindahan informasi yang efisien. Bahasa yang dipergunakan dalam situasi ini berorientasi pada pesan (massage-oriented). Yang penting di sini ialah bahwa orang yang menerima informasi itu mendapat informasi yang betul. Jadi tujuannya ialah kejelasan tentang apa yang dikatakan oleh penutur seperti kejelasan yang diberikan oleh seorang ketua RT pada warganya yang menanyakan hal retribusi sampah, atau kejelasan yang diberikan oleh seorang dokter ketika ia memberi petunjuk kepada seorang perawat tentang pemberian pil kepada pasiennya. Dengan sendirinya akan timbul hal yang tidak menguntungkan dalam masalah transaksi informasi ini bila misalnya pesan yang disampaikan tidak dipahami dengan sempurna oleh orang yang menerima pesan itu.

Sementara itu para ahli sosiolinguistik menaruh perhatian pada penggunaan bahasa untuk membentuk dan memelihara hubungan sosial. Alasannya ialah bahwa sebagaian besar in-teraksi manusia sehari-hari lebih diwarnai oleh hubungan antar manusia. Kalau ada salah satu di antara dua orang Indonesia yang saling tidak kenal sedang menunggu kereta api di setasiun menyapa yang lain dengan mengatakan: "Kok terlambat sekali keretanya, Ya" atau kalau salah seorang di antara dua orang Amerika yang juga sling tidak kenal mengatakan: "Gee, it's freezing " ini tidak berarti bahwa masing-masing di antara orang Indonesia dan orang Amerika itu semata-mata bermaksud menyampaikan informasi tentang keterlambatan kereta api atau tentang dinginnya udara saat itu, yang tentunya kedua pihak baik penutur maupun penanggap sudah saling mengetahuinya. Di antara situasi ini terkandung makna bahwa penutur ingin sekedar bersopan-santun saja dan ingin membentuk hubungan sosial. Bagaimanapun juga dalam kenyataannya, sebagian besar percakapan sehari-hari merupakan pendapat seseorang mengenai apa yang ada dihadapannya dan di hadapan pendengarnya.

Pada ahli bahasa dan pakar filsafat kebahasaan cenderung untuk mengadakan pendekatan yang terbatas sekali terhadap fungsi-fungsi bahasa dalam masyarakat. Walaupun mereka mengakui bahwa bahasa dapat dipergunakan untuk melaksanakan berbagai fungsi komunikatif, mereka berasumsi bahwa fungsi bahasa yang paling utama ialah komunikasi informasi.

Data

Data analisis wacana biasanya berupa naskah tertulis atau rekaman interaksi yang sesungguhnya. Jarang sekali berupa kalimat tunggal. Tipe materi seperti ini disebut juga sebagai "performance data" yang di dalamnya termasuk juga unsur beragam, salah ucap, serta juga bentuk bahasa yang non standard.

Peranan Konteks

Sejak permulaan tahun 1970, para pakar bahasa menyadari akan pentingnya konteks untuk menginterpretasi ujaran atau pun kalimat; sehingga pendekatan seorang analis wacana pada data jauh berbeda dari ahli informasi bahasa formal. Karena seorang analis wacana mempelajari bahasa dalam konteks minatnya lebih tertuju pada saat tertentu dari pada hubungan potensial antara satu kalimat dengan yang lain tanpa memperhatikan penggunaannya. Seorang analis wacana berusaha menjelaskan apa yang dikerjakan oleh pembicara dan pendengar; sehingga dikatakan oleh Brown dan Yule (1984) bahwa seorang analis wacana mempelajari bahasa dengan pendekatan pragmatis (a pragmatic approach to the study of language in use).

Telah dinyatakan sebelumnya bahwa peranan konteks sangat penting dalam analisis wacana. Kedua contoh berikut ini memperjelas peranan konteks dalam penggunaan bahasa. Kata "pintar" mengandung makna yang berbeda bahkan bertolak belakang pada kedua contoh di bawah ini.

  • Penutur seorang bapak, pendengarnya istrinya. Tempat di rumah mereka. Pada suatu sore hari, mereka mendengarkan anak mereka yang masih berumur dua setengah tahun menyayikan lagu Balonku Ada Lima dengan lancar. Bapak tersebut berkata : "Pintar ya dia".
  • Penutur seorang ibu. Pendengarnya suaminya. Si ibu menyuruh anaknya perempuannya memanasi masakan untuk makan malam. Si anak lupa mematikan kompor, sehingga makanannya jadi hangus. Ibu tadi lalu berkata: "Pintar dia ya".
Dell Hymes merinci unsur-unsur konteks sebagai berikut: penyampaian, yaitu penutur atau penulis yang menghasilkan ujaran atau tulisan, penerima, yaitu pendengar atau pembaca yang menerima pesan dalam ujaran atau tulisan. Unsur topik, yaitu apa yang dibicarakan oleh penyampai dan penerima. Pengetahuan analis tentang topik sangat membantu analisisnya. Unsur konteks berikutnya adalah setting yang meliputi waktu, tempat dan peristiwa. Unsur lainnya adalah saluran yaitu bagaimana komunikasi antara penyampai dan penerima dilakukan, apakah melalui tulisan atau lisan. Kemudian ada unsur kode: yaitu bahasa atau dialek mana yang dipakai dalam interaksi. Akhirnya, unsur yang terakhir ialah tujuan, yaitu hasil akhir dari komunikasi.

Secara singkat dapat dinyatakan bahwa unsur-unsur tersebut diatas akan memudahkan seorang analis wacana dalam memperkirakan bentuk isi suatu wacana.

Dua Prinsip Analisis Wacana

Menurut Brown dan Yule (1984) masalah yang dihadapi oleh seorang analis wacana hampir sama dengan masalah yang dihadapi oleh pendengar atau pembaca. Seorang penanggap harus mampu membuat interpretasi-interpretasi dengan menggunakan dua prinsip analis wacana, yaitu: prinsip lokalitas dan analogi. Prinsip lokalitas memberikan tuntunan kepada pendengar, pembaca atau analis wacana untuk tidak menciptakan konteks yang lebih luas dari yang diperlukan untuk sampai pada interpretasi yang paling mendekati maksud asli yang diberikan oleh penyampai. Prinsip analogi memungkinkan suatu wacana ditafsirkan dengan mengingat wacana lain yang semacam, yang sudah pernah diketahui oleh pendengar, dengan cara analogi. Suatu wacana dapat juga diinterpretasikan selain dengan kedua prinsip tersebut diatas juga dengan aspek lain yaitu pengetahuan analis tentang dunia luar (knowledge of the world). Contohnya misalnya seorang analis yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai komputer akan sangat sulit baginya untuk bisa menginterpretasikan isi buku petunjuk mengenai penggunaan komputer. Contohnya di bawah ini yang dikutip dari Poerwono (1966:7) oleh Wahab (1991) memberikan ilustrasi yang jelas bagaimana seorang analis wacana menggunakan dua prinsip analis wacana seperti yang dinyatakan di atas untuk memahami suatu gejala bahasa yang disebut metafora:


Bu Gondo : Ning rak ora kecantol putri Semarang to?

Kusmadi   : Ah mboten, Bu. Tiyang mas Bin kemawon taksih anteng ngaten kok, menapa malih kula

                 ingkang langkung enem mandar kesesa?

Bu Gondo : O, cekake nek masmu Bin isih arep dak imbu terus, kok ben mateng dhisik tenan ana

                 brongsongan. Puluh-puluh mateng nek mung semprongan, tiwas nyangyangane ora duwur.

Metafora dalam wacana di atas, yaitu 'dak imbu ana brongsongan' ditafsirkan oleh penutur asli bahasa Jawa sebagai kematangan jasmani dan rohani secara wajar. Seperti sudah diutarakan di muka, prinsip lokalitas memberi tuntunan kepada analis untuk membentuk konteks yang secukupnya saja, tidak lebih luas dari yang dirinci oleh Dell Hymes, tetapi ia hanya memperhatikan unsur yang paling relevan saja, dalam hal ini unsur topik. Berdasar pertanyaan yang diucapkan oleh Bu Gondo dan jawaban yang diberikan oleh Kusmadi, analis dapat membuat perkiraan bahwa topik yang cocok untuk wacana semacam itu ialah usia perkawinan. Juga berdasarkan pengetahuan dan pengalaman tentang dunia luar yang berhubungan dengan pembicaraan antara Bu Gondo dan Kusmadi di atas, analis mengetahui bahwa seseorang tidak akan menikah sebelum dia matang dan prinsip (dalam arti jasmani dan rohani).

Prinsip lokalitas dan prinsip analogi ini senada dengan konsep coherence. suatu konsep yang tidak kalah pentingnya dalam analisis wacana. Coherence ialah suatu keadaan yang menunjukan bahwa kalimat-kalimat yang berurutan dalam suatu wacana dianggap berkaitan satu sama lain meskipun tidak ada tanda-tanda linguistik yang nampak.

Coherence dalam Wacana

Salah satu dari anggapan umum yang masih kita dengar mengenai analisis bahasa ialah bahwa satu-satunya landasan yang dipakai untuk menangkap makna suatu pesan linguistik ialah kata-kata dan struktur kalimat yang digunakan dalam menyampaikan pesan tersebut. Contoh pertama di bawah yang merupakan terjemahan dari suatu cuplikan dari novel The Right Stuff oleh Tom Molfe yang dikutip oleh Brown dan Yule (1984) menunjukkan bahwa cuplikan ini secara grammatikal jelas dan benar, tetapi sulit bagi kita untuk menangkap pesan yang disampaikan.

Dalam waktu yang lain, atau sepuluh menit, tidak lebih lama dari itu, tiga dari mereka telah meneleponnya dan menanyakan padanya apakah dia telah mendengar bahwa suatu telah terjadi di luar sana.

Sekarang mari kita simak contoh berikut ini:

PT Tinja sedot WC dan lain-lain service 24 jam T 575979 - 573579 - 573624 - 521606 - 581918.

Kalau kita menganalisis wacana ini, maka dengan mudah kita bisa menangkap pesan yang disampaikan oleh penyampai pesan dalam hal ini PT Tinja, dengan menggunakan prinsip lokalitas dan analogi. Kita lihat bahwa wacana ini disajikan tidak dalam urutan sintaksis yang baik bentuknya (syntactic wellformedness).

Dalam uraian di atas dapat disimpulkan bahwa analisis wacana merupakan pendekatan baru untuk mempelajari bahasa. Seorang analis wacana lebih menaruh perhatian pada fungsi interaksional dari bahasa, meskipun dia sama tidak mengabaikan fungsi transaksional. Dia lebih tertarik pada bagaimana penutur (addresser) menggunakan bahasa agar supaya dapat diinterpretasikan dengan baik oleh penanggap (addressee). Meskipun seorang analis wacana masih memperhatikan ciri-ciri linguistik dari suatu wacana dia lebih menekankan pada prinsip-prinsip di luar linguistik antara lain : konteks, analogi, lokalitas, pengetahuan mengenai dunia (knowledge of the world). untuk menentukan suatu wacana itu 'coherent' atau tidak.

Buku Rujukan

Brown, Gillian & Yule, G. 1984. Discouse Analysis. London: Cambridge University Press.

Butler, Christopher, S. 1985. Systemic Linguistics Theory and Applications. London: Batsford Ltd.

Coulthard, Malcolm. 1977. An Introduction to Discourse Analysis. London: Longman.

Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.

[Home]