Majas Sajak-sajak Simfoni Dua Karya Subagio Sastrowardoyo
Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
FSU
in the Limelight
Vol. 5, No. 1
Oct 1996

Majas Sajak-sajak Simfoni Dua
Karya Subagio Sastrowardoyo

Heru Supriyadi

Pendahuluan

Simfoni Dua merupakan kumpulan sajak karya Subagio Sastrowardoyo yang keenam, diterbitkan Balai Pustaka, Jakarta, 1990. Kumpulan sajaknya yang pertama berjudul Simphoni (1957), kedua Daerah Perbatasan (1970), ketiga Keroncong Matinggo (1975), keempat Buku Harian (1979), kelima berjudul Hari dan Hara (1982).

Kumpulan sajak Simfoni Dua terdiri atas dua kumpulan yaitu Simfoni I (h. 19-42), dan Simfoni II (h. 43-103). Kumpulan sajak Simfoni I pada prinsipnya merupakan sajak-sajak yang termuat dalam Simphoni (1957), sedangkan Simfoni II terdiri atas sajak-sajaknya yang dicipta setelah diterbitkan Hari dan Hara (1982).

Simfoni I terdiri atas 19 sajak, antara lain berjudul "Dewa telah Mati", "Jarak", "Stasion", "Sajak", "Ali Baba", "Adam di Firdaus", "Kapal Nuh", "Bulan Ruwah", "Ekspresi", "Rasa Dosa", "Sodom dan Gomorha". Simfoni II terdiri atas 46 sajak, antara lain sajak "Doa Seorang WTS", "Dunia Kini Tidak Peka", "Gending Dolanan", "Lamunan Aborijin", "Motif II", "Berilah Aku Kota", "Petualangan", "Soneta Laut", "Perempuan Tua", "Senja", "Pertemuan", "Pada Daun Gugur", "Variasi pada Tema Maut", dan "Nada Akhir".

Kumpulan sajak Simfoni I terdiri atas sajak-sajak religius. Simfoni II didominasi sajak-sajak yang mengungkap situasi sosial, tentang kebobrokan moral dan kemiskinan.

Berkaitan dengan judul makalah, penulis hendak membuat deskripsi dan eksplanasi sajak-sajak Simfoni Dua dalam hubungannya dengan penggunaan majas. Aminuddin (1990:72) sehubungan dengan hal tersebut berpendapat bahwa analisis majas dapat digunakan untuk memahami puisi secara keseluruhan. Dalam analisis ini pendekatan yang digunakan ialah eklektik. Pendekatan ini menggabungkan dua atau lebih pendekatan sekaligus dengan maksud untuk menghasilkan analisis yang lebih berbobot dan lebih komprehensip (M. Atar Semi, 1993: 91-92).

Pendekatan eklektik dalam makalah ini, penulis menggabungkan antara pendekatan objektif dan ekspresif. M.H. Abrams (1958:28) mendefinisikan pendekatan objektif sebagai berikut: ".... the objective orientation which on principle regards the work of art in isolation from all these external points of reference, analyzes it as a self sufficient entity constitued by its parts in their internal relations, and sets out to judge it solely by criteria intrinsic to its own mode of being." Hal tersebut diperjelas oleh Yudiono K.S. (1984: 32) yang menyatakan bahwa pendekatan objektif memandang karya sastra sebagai dunia otonom yang dapat dilepaskan dari siapa pengarang dan lingkungan budaya jamannya, sehingga karya sastra dapat dianalisa berdasar strukturnya sendiri. Pendekatan ekspresif oleh Atmazaki (1990: 36) didefinisikan sebagai pendekatan yang menitikberatkan kajiannya terhadap pengarang.

Analisis Majas Sajak-Sajak Simfoni Dua (Sebuah Pendekatan Objektif-Ekspresif)

Kata "majas" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 545) berarti cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakan dengan sesuatu yang lain. Istilah tersebut disebut juga bahasa kiasan atau bahasa figuratif (Atmazaki, 1993: 49). Masalah majas penulis gunakan sebagai skup analisis makalah ini karena aspek majas dalam sajak-sajak Simfoni Dua sangat dominan. Berkaitan dengan hal tersebut, Dick Hartoko, (1986: 187) berpendapat bahwa majas sebagai ciri khas bagi jenis sastra puisi.

Mohamad Ngafenan (1990: 105) dan Liberatus Tengsoe (1989: 201) menyatakan bahwa majas skupnya meliputi majas perbandingan, majas sindiran, majas penegasan, dan majas pertentangan. Majas perbandingan terdiri atas metefora, personifikasi, asosiasi, alegori, parabel, simbolik, tropen, metonimia, litotes, sinekdoke, eufemisme, hiperbola, alusio, antonomasia, dan preterito. Majas sindiran terdiri atas ironi, sinisme, dan sarkasme. Majas penegasan terdiri atas pleonasme, repetisi,paralelisme, tautologi, klimaks, antiklimaks, inversi, elipsis, retoris, koreksio, asindeton, polisindeton, interupsi, eksklamasi, enumerasia, dan preterito. Majas pertentangan terdiri atas paradoks, antitesis, kontradiksi interminis, okupasi, dan anakronisme.

Majas Perbandingan

Berdasarkan observasi, majas perbandingan dalam sajak-sajak Simfoni Dua terdiri atas metafora, personifikasi, simbolik. Dari ketiga majas tersebut, metaforalah yang paling dominan. Panuti Sudjiman (1993: 29) sehubungan dengan itu mendefinisikan bahwa metafora adalah merupakan majas perbandingan yang tersirat sebagai pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau kesejajaran makna. Sejalan dengan itu Geoffrey N. Leech (1976: 151) mengatakan "Every metaphor is implicitty of the form..." M.H. Abrams (1971: 61) dalam hal ini mengatakan "In a metaphor a word which in standard usage denotes one kind of thing, quality, or action is applied of another, in the from of a statemen of identity instead of comparation."

Menurut hemat penulis, metafora sering dimanfaatkan untuk mengungkapkan perasaan yang bersifat emosional. Raymond Chapman (1973: 76) sejalan dengan itu berpendapat "Metaphor is a term sometime used to include the particular types of figure." Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua, majas ini terdapat pada sajak "Sodom dan Gomorrha", "Abad 20", "Kampung", "Simfoni", "Lamunan Aborijin", "Salam Kepada Heidegger", "Om", "Berilah Aku Kota", "Motif III", "Petualang", "Di Stasiun", Sajak Untuk Aida", "Penantian", "Menunggu Sampai Pagi", "Pada Daun Gugur" "Variasi Tema Maut", "Ilir-Ilir", "Wasiat", dan "Tamu". Untuk memperoleh gambaran secara konkret antara lain dapat dilihat melalui kutipan sajak di bawah ini.

Sodom Dan Gomorrha

Tuhan
Tertimbun
di balik surat pajak
berita politik
pembagian untung
dan keluh tangga kurang air
(Simfoni Dua, 1990: 33)

Judul sajak "Sodom dan Gomorrha" diambil dari nama dua kota yang dikutuk oleh Tuhan karena para penghuninya berakhlak sangat buruk. Dalam sajak tersebut penyair mengungkapkan bahwa orang-orang yang tidak mengakui adanya kehebatan Tuhan dimetaforiskan dengan "Tuhan tertimbun di balik surat pajak". Dalam hal ini Tuhan dibandingkan sesuatu benda tertimbun di balik surat pajak. Pemanfaatan majas tersebut menjadikan pernyataan lebih konkret.

Pada sajak yang lain, metafora dapat dilihat pada sajak "Lamunan Aborijin" di bawah ini.

Masa lalu adalah panas terik di padang
pasir dan berkelana di zaman mimpi tak
bertepi

Masa kini adalah berkeliaran di pinggir
kota dan melupakan diri dalam bir dan
wiski

Masa depan adalah malam yang panjang
tanpa setitik cahaya di langit kelam.
....................................
(Simfoni Dua, 1990: 33)

Untuk melukiskan kekuatan, penyair memperbandingkan "Masa lalu" dengan "panas terik di padang pasir dan berkelana di zaman mimpi tak bertepi". Selain itu penyair memperbandingkan "Masa depan" dengan "malam yang panjang tanpa setitik cahaya di langit kelam". Dengan memanfaatkan majas metafora, pernyataan menjadi lebih intensif. Gambaran keadaan yang abstrak menjadi konkret karena dimetaforakan.

Berikut ini majas personifikasi. Majas ini diartikan sebagai majas yang melekatkan sifat-sifat insani kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak (Henry Guntur Tarigan, 1985: 17). Sejalan dengan hal itu Hulon Willis mengatakan "Personifictaion attributes human qualities to nonhuman objects... (1966: 242).

H.B. Jassin (1965: 99) maupun S. Suharianto (1981: 86) mengatakan bahwa personifikasi disebut juga majas pengorangan. Slametmuljana (1951: 39) menamakan majas tersebut bukan personifikasi atau pun pengorangan, melainkan penjelmaan.

Majas personifikasi dalam sajak-sajak Simfoni Dua terdapat pada sajak "Motif II", "Sajak tak Pernah Mati, "Om", "Riwayat," "Jendela", "Pengakuan", "Perempuan Tua", "Motif IV", "Senja", "Motif V", "Pada Daun Gugur", "Mabuk", "Bunga", dan "Sunyi". Untuk memperoleh gambaran secara konkret, antara lain dapat dilihat melalui sajak "Motif 2" dan "Sajak tak Pernah Mati" di bawah ini.

Motif II

Nada-nada lembut mendambakan hidup
murni, tulus dan kalis dari dosa
Seperti bunyi suling, gender dan
rebab yang menyentuh sanubari
Kesepian harus diterima sebagai
nasib yang tersurat
(Simfoni Dua, 1990: 58)

Pada sajak di atas penyair mengungkapkan masalah penderitaan yang sangat dalam. Hal ini dipersonifikasikan, sajak (beda mati) menyuarakan penderitaan. Di samping itu "jerit sakit" dipersonifikasikan "menyayat malam sunyi".

Majas personifikasi dalam sajak-sajak Simfoni Dua memegang peranan penting untuk menghidupkan lukisan. Dengan memanfaatkan majas personifikasi, ungkapan-ungkapan yang tampak abstrak menjadi konkret, yang statis menjadi dinamis karena dipersonifikasikan.

Berikut ini majas simbolik. Majas tersebut oleh Putu Arya Tirtawijaya (1983: 30) diartikan sebagai hasil yang diperoleh dari alat untuk landasan buat meluncurkan pikiran maupun perasaan secra ringkas bernas. Pendapat tersebut diperjelas oleh Adhy Asmara (1982: 38) bahwa simbolik merupakan kata-kata yang kaya akan pengertian-pengertian tambahannya. Hal itu didapat dari latar belakang kata-kata itu berada. Sehubungan dengan itu, M.H. Abrams mengartikan simbolik dalam sastra sebagai berikut: "...symbol is applied only to a word or set of words that signifies an object or event which suggests a range of reference beyond itself" (1971: 168).

Dalam sajak-sajak Simfoni Dua majas simbolik terdapat pada sajak "Dewa telah Mati", "Motif II", "Soneta Laut", "Surat" dan "Di Seberang Mimti". Untuk memperoleh gambaran secara konkret, antara lain dapat dilihat melalui kutipan-kutipan sajak beserta uraian di bawah ini.

Dewa Telah Mati

Tak ada dewa di rawa-rawa ini
Hanya gagak yang mengakak malam hari
Dan siang terbang mengitari bangkai
pertapa yang terbunuh dekat kuil.

Dewa telah mati di tepi-tepi ini
Hanya ular yang mendesir dekat sumber
Lalu minum dari mulut pelacur yang tersenyum dengan bayang sediri

Bumi ini perempuan jalang
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
ke rawa-rawa mesum ini
dan membunuhnya pagi hari
(Simfoni Dua, 1990: 19)

Simbul yang mewakili sajak tersebut adalah kata "dewa", "gagak", "ular", dan "pertapa". Kata "dewa" dapat berarti makhluk Tuhan yang berasal dari sinar yang ditugasi mengendalikan kekuatan alam. Kata "dewa" dapat pula berarti orang atau sesuatu yang sangat dipuja-puja. Kata "gagak" mengandung arti nama burung yang berbulu hitam, pemakan bangkai dan suaranya keras. Berdasarkan mitologi, gagak digunakan sebagai simbul pembawa berita kematian. Dalam sajak tersebut mengisyaratkan anggapan bahwa Tuhan telah tiada (telah hilang dari bumi). Kata "ular" mengandung arti binatang menjalar, tidak berkaki, tubuhnya agak bulat, memanjang, kulitnya bersisik, hidup di tanah atau di air. Dalam sajak "Dewa Telah Mati", ular sebagai simbul kejahatan, Kata "pertapa" berarti orang suci atau orang yang tidak banyak dosanya.

Simbul-simbul tersebut dalam sajak "Dewa Telah Mati" oleh Subagio Sastrowardoyo digunakan untuk mengekpresikan kehidupan orang-orang kafir. Dalam sajak tersebut diungkapkan bahwa Tuhan telah mati (hilang dari bumi). Yang ada hanya orang-orang jahat. Yang lebih ngeri, orang suci tersebut ke dunia mesum.

Berikut ini penulis kutip sajak "Motif II". Simbul-simbul yang terdapat pada sajak tersebut ialah kata "senja", "suling", "gender", "rebab", dan "mengatruh".

Motif II

Siapa yang mencipta lagu ini
yang mengisi ruang-ruang tak
berhuni?
Aku tak terlambat hadir dan
masih sempat mendengarnya
di waktu senja sebelum gelap tiba.
Nada-nada lembut mendambakan hidup
murni, tulus, dan kalis dari dosa.
Seperti bunyi suling, gender dan
rebab yang menyentuh sanubari.
Kesepian harus diterima sebagai
nasib yang tersurat. Biduan menghimbau
aku: Ya mas, ya mas, ingat, ya mas.
Aku yang gelisah terguncang dari
kenanaran. Bukankah hanya manusia
susila yang selamat sampai ke sorga?
Condrolukito! Jangan terus dendangkan
gending "megatruh".
Karena tak tahan malu aku tutup telingaku.
(Simfoni Dua, 1990: 58)

Kata "senja" secara harafiah berarti waktu (hari) setengah gelap sesudah matahari terbenam. Dalam sajak tersebut, kata "senja" mengandung simbul yang melukiskan kurun waktu nyaris penghabisan. Kata tersebut dapat pula bersimbul kesedihan. Suling, gender, dan rebab merupakan instrumen musik tradisional. Dalam sajak "Motif II", ketiga kata tersebut bersimbul kehidupan yang tulus, jujur, murni, dan lepas dari dosa. Kata "megatruh", berarti bentuk komposisi tembang macapat. Dalam sajak tersebut kata "megatruh" sebagai simbul yang melukiskan kekecewaan atau kesedihan yang mendalam.

Secara global simbul-simbul tersebut di atas digunakan oleh Subagio untuk mengungkapkan bahwa si aku lirik nyaris terlambat menikmati kehidupan yang tulus, jujur, murni, dan kalis dari dosa. Si aku lirik dalam hal ini terkadang gelisah karena terguncang kenanaran. Dalam keadaan demikian si aku lirik merasa malu dan kecewa.

Dengan memanfaatkan majas simbul, pernyataan yang abstrak menjadi konkret. Di samping itu, dengan memanfaatkan majas simbolik, pernyataan menjadi lebih intens.

Majas Sindiran

Seseorang dalam menyampaikan maksud terkadang tidak menggunakan kata-kata yang sebenarnya, melainkan menggunakan kata yang sebaliknya. Dalam hal ini dimaksudkan untuk menyindir. Majas seperti itu dalam sajak-sajak Simfoni Dua, tidak terdapat di dalamnya.

Majas Penegasan

Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua, majas penegasan yang terdapat di dalamnya berupa anafora, paralellisme, dan retoris. Anafora diartikan sebagai majas repetisi (perulangan) kata pada awal larik atau awal kalimat (Henry Guntur Tarigan, 1986: 192). Sehubungan dengan hal tersebut, Raymond Chapman (1973: 79) berpendapat "Anaphore, sometimes used of verbal repetition in general, is specifically the repetition of a word or phrase at beginning successive stages..." Majas ini dalam Simfoni Dua terdapat pada sajak "Jarak", "Stasiun", "Sajak", "Ali Baba", "Adam di Firdaus", "Bulan Ruwah', "Afrika Selatan", "Dunia Kini Tidak Peka", "Gending Dolanan", "Lamunan Aborijin", "Motif II", "Berilah Aku Kota", "Petualangan", "Soneta Laut", "Perempuan Tua", "Senja", "Pertemuan", "Pada Daun Gugur", "Variasi Pada Tema Maut", dan "Air". Untuk memperoleh gambaran secara konkret, antara lain dapat dilihat pada kutipan sajak "Afrika Selatan" dan sajak "Dunia Kini Tidak Peka" berserta uraiannya.

Afrika Selatan

Kristus pengasih putih wajah
- kulihat dalam buku injil bergambar
dan arca-arca gereja dari marmer -
Orang putih bersorak: "Hosanah!"

Tapi kulitku hitam
Dan sorga bukan tempatku berdiam.
bumi hitam
iblis hitam
dosa hitam
Karena itu:
aku bumi lata
aku iblis laknat
aku dosa melekat
aku sampah di tengah jalan
(Simfoni Dua, 1990: 31)

Pada sajak di atas penyair mengekspresikan ras diskriminasi orang-orang Afrika Selatan yang tidak puas dengan eksistensinya. Mereka menganggap Kristus pengasih orang-orang kulit putih, sedangkan orang-orang kulit hitam adalah orang-orang jahat, penuh dosa, dan sampah masyarakat. Hal tersebut ditekankan dengan majas anafora. Kata "aku" sebagai kata kunci diulang secara beruntun. Majas di atas menunjukkan perulangan bervariatif. Dengan demikian perulangan-perulangan yang nampaknya merupakan pemborosan kata, oleh Subagio digunakan secara efektif. Perulangan tersebut justru menimbulkan sajak menjadi lebih intens.

Dunia Kini Tidak Peka

............
sehari lamanya
orang menyayangkan nasibmu
dan melemparkan kesalahan:
kepada binimu
yang selalu bilang kau tak becus cari duit
kepada anakmu
yang malu bapanya hanya buruh kecil
kepada majikanmu
yang tidak menaikkan upah kerja
................................
(Simfoni Dua, 1990: 51)

Pada sajak di atas penyair mengungkapkan nasib buruh kecil yang serba salah serta hubungan dengan majikan yang disharmonis. Hal tersebut ditekankan dengan majas anafora berupa kata "kepada" dan "yang" diulang-ulang pada awal larik. Perulangan tersebut menjadikan pernyataan lebih intens.

Berikut ini majas paralel. Majas tersebut berasal dari kata "paralel" dan "isme". Kata "paralel" mengandung arti sejajar, sedangkan "isme" berarti aliran. Hal tersebut diartikan sebagai suatu cara berbahasa berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frase-frase yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Majas ini lahir dari struktur kalimat yang beimbang (Henry Guntur Tarigan, 1986: 136). Geofrey N. Leech (1956: 67) dalam hal ini mengatakan "Every parallelism sets up a relationship of equivalence between two or more element: the element which a singled out by the pattern as being parallel".

Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua, majas paralel terdapat pada sajak "Ekspresi", "Rasa Dosa", "Simfoni", "Kenikmatan-Kenikmatan", "Variasi Pada Tema Maut" dan "Mabuk". Untuk memperoleh gambaran secara konkret, antara lain dapat dilihat di bawah ini.

Ekspresi
Kepada Affandi Luka terlalu parah
tak tertampung dalam cermin.
Tubuh yang terbayang
sepi - menepiskan bentuk.
Bahkan merah hitam
yang terpalut di atas kanpas
tak kuasa menjeritkan
derita - menikam dalam.
Hanya darah, mungkin.
Darah sendiri yang tergarit dengan jari
di dinding - jari yang gemetar dalam lapar.
(Simfoni Dua, 1990: 25)

Sajak di atas ditujukan kepada Affandi, seorang pelukis beraliran ekspresionisme. Sajak tersebut mengungkapkan penderitaan hidup yang begitu mencekam sehingga diekspresikan melalui seni lukis saja tidak cukup. Pemecahannya diperlukan semangat hidup, siap dengan segala resiko. Hal tersebut ditekankan dalam majas palalel, tampak pada larik keempat dengan larik kedelapan dan kesebelas yang berbunyi "sepi - menepiskan bentuk", "derita - menikam dalam" dan "di dinding - jari yang gemetar dalam lapar". Dengan memanfaatkan majas paralel, pernyataan menjadi lebih jelas dan membuat larik-larik sajak mudah diingat.

Berikut ini sajak "Rasa Dosa"; terdiri atas delapan bait. Bait ketiga struktur dan bentuknya paralel dengan bait keempat, lima, dan enam. Majas paralel yang demikian ini oleh penyair dimanfaatkan untuk mengungkapkan perasaan berdosa yang selalu diselimuti suasana tidak menyenangkan.

Rasa Dosa

muka putih di jendela
mengikut aku dari subuh

semua kekal

nyawa
jejak membekas di lumpur hati

kata
Suara bergema di ruang abadi

tangan
jari gemetar menyaput sajak

mata
kenangan akhir membakar diri

muka putih di jendela
mengikut aku dari subuh
tanganku lumpuh
(Simfoni Dua, 1990: 26)

Dengan struktur dan bentuk yang paralel, sajak di atas tampak lebih puitis.

Berikut ini majas retoris. Majas ini memanfaatkan kalimat tanya yang tidak menghendaki jawaban (Gorys Keraf, 1981: 120). Dengan memanfaatkan majas retoris, penyair tidak bermaksud bertanya, akan tetapi hendak menyatakan sesuatu dengan setegas-tegasnya. Hal tersebut terjadi karena dalam majas ini sebenarnya sudah terkandung jawaban yang pasti. Dalam sajak-sajak Simfoni Dua, majas retoris terdapat pada sajak "Stasion", "Sajak", "Bulan Ruwah", "Ananda Sayang", "Paskah di Kentucky Fried Chiken", dan "Seakan-akan". Untuk memperoleh gambaran secara konkret antara lain dapat dilihat di bawah ini.

Setasion

Adakah sorga seperti setasion ini
tempat kereta lelah berhenti
dengan tulang besi-besi bersilang
dengan muka penumpang gilap berkeringat
dan debu arang mengendap
Adakah gerimis itu di jendela
dan puntung rokok mengepul
Dan berita politik dari koran
dengan inflasi, kelaparan dan bunuh diri.
Nabi,
aku terlalu sayang kepada petualangan ini
di mana hati kembali bocah lagi
orang asing menjadi sobat
dan gadis alim di sudut
menjadi iseng karena resah berharap.
Adakah di sorga kasih dan derita ini
dengan senang sebentar menjelang.
Nabi, aku ingin masuk sorga.
(Simfoni Dua, 1990: 22)

Secara universal pembaca tahu bahwa sorga adalah alam akhirat yang membahagiakan roh manusia yang hendak tinggal di dalamnya dalam keabadian. Dengan demikian ungkapan berupa pertanyaan penyair pada sajak bergaris bawah tertera di atas tidak perlu dijawab.

Sajak

Apakah arti sajak ini.
Kalau anak semalam batuk-batuk,
bau vicks dan kayu putih
melekat di kelambu.
Kalau istri terus mengeluh
tentang kurang tidur, tentang
gajiku yang tekor buat
bayar dokter, bujang dan makan sehari.
Kalau terbayang pantalon
sudah sebulan sobek tak terjahit.
Apakah arti sajak ini
kalau saban malam aku lama terbangun:
hidup ini makin mengikat dan mengurung
.......................................
Ah, sajak ini,
mengingatkan aku kepada langit dan mega
........................................
(Simfoni Dua, 1990: 23)

Berkaitan dengan sajak di atas, sajak sebagai salah satu cipta sastra sebaiknya menyenangkan dan berguna. Hal ini dikemukakan oleh Rene Wellek dan Austin Warren "duice et utile" (1977: 30). Lain halnya pada sajak di atas, sajak menjadi tidak berarti karena situasi yang menyedihkan, anak semalam batuk-batuk, gaji tekor buat dokter, bujang, dan untuk makan sehari, serta terbayang pentalon sudah sebulan sobek tak terjahit, hidup ini makin mengikat dan makin mengurung. Dengan memanfaatkan majas retoris tersebut, menjadikan sajak lebih intens.

Majas Pertentangan

Dalam sajak-sajak Simfoni Dua, majas pertentangan yang terdapat di dalamnya berupa paradoks. Majas ini oleh Ahmad Badrun (1983: 199) didefinisikan sebagai majas yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Jika ditinjau secara sepintas, paradoks menyatakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Akan tetapi jika dianalisis lebih lanjut, pernyataan dapat dinalar. Majas ini menarik perhatian karena kebenarannya. Dalam sajak-sajak Simfoni Dua, majas paradoks terdapat pada sajak "Adam di Firdaus", "Kenikmatan-Kenikmatan", "Doa Seorang W.T.S.", "Rumah", "Di Stasion", "Motif IV", dan "Mabuk". Untuk memperoleh gambaran secara konkret, antara lain dapat dilihat melalui kutipan sajak sebagai berikut.

Kenikmatan-Kenikmatan

Jangan dilarang saya merasakan
kenikmatan-kenikmatan:
lezat, kulit pisang yang saya pungut
di pinggir jalan saya memamah pelan-pelan
........................................
Kenikmatan-kenikmatan ada
di mana-mana:
di kolong jembatan, di muka pintu
toko-toko, di comberan kota-kota
................................
(Simfoni Dua, 1990: 46)

Pada sajak di atas, Subagio mengungkapkan kenikmatan-kenikmatan yang tidak konvensional. Secara sepintas larik yang berbunyi "lezat, kulit pisang yang saya pungut di pinggir jalan saya mamah pelan-pelan" tidak akan terjadi suatu kenikmatan. Akan tetapi bila dikaji lebih dalam, bisa saja hal itu menjadi suatu kenikmatan, misalnya karena sangat lapar atau karena sudah adaptasi dengan lingkungan yang kotor. Demikian juga larik "kenikmatan-kenikmatan ada di mana-mana: di kolong jembatan, di muka pintu toko-toko, di comberan kota-kota". Tempat-tempat tersebut secara konvensional berkonotasi tidak menyenangkan. Dalam sajak tersebut justru sebaliknya. Tempat-tempat tersebut terdapat kenikmatan. Majas seperti itu berfungsi untuk menggugah imajinasi pembaca.

Berikut ini sajak "Di Stasion". Dalam sajak ini Subagio mengungkapkan sesuatu yang sangat paradoksal. Perkenalan yang membicarakan sampai pada masalah yang sangat pribadi biasanya dapat melupakan kesepian dan kesedihan. Dalam sajak ini justru sebaliknya. Hal tersebut menjadikan perasaan lebih kesepian. Untuk memperoleh gambaran secara konkret dapat dilihat pada kutipan sajak sebagai berikut.

....................................
Dua makhluk asing menemukan kejemuan
Perkenalan memang saling menggali
sampai relung paling rahasia, tapi
makin dalam makin terbenam hati dalam
kesepian
.....................................
(Simfoni Dua, 1990: 73)

Larik-larik sajak tersebut membuat pembaca berkontemplasi untuk mendapatkan penalaran yang terdapat di dalamnya.

Setelah penulis menganalisis sajak-sajak Simfoni Dua, penulis membuat penilaian. Hal ini diperlukan karena membicarakan atau menganalisis karya sastra tanpa melakukan penilaian menjadi kehilangan sebagian rasanya. Dalam suatu karya sastra, yang menarik adalah sifat seninya, dan estetiknyalah yang dominan (Pradopo, 1994: 30).

Dari hasil observasi, Subagio Sastrowardoyo dalam sajak-sajak Simfoni Dua menggunakan bahasa sederhana, tetapi mengandung arti yang sangat dalam dan luas. Subagio sering menggunakan kata yang tidak biasa digunakan oleh penyair lain. Sejalan dengan hal tersebut Maline, Julian L, and James Berkley menekankan "... style and mode of expression must necessarily vary from poet to poet." (1967: 6). Cara pemanfaatan bahasa seperti tersebut di atas secara implisit menunjukkan bahwa Subagio dalam sajak-sajak Simfoni Dua menggunakan majas secara vital, segar, dan mengejutkan, serta mengkonkretkan pernyataan. Berkaitan dengan hal tersebut James Reeves (1975: 176) dalam pembicaraannya tentang "The Language of Poetry" berpendapat "Poetry, than is vital, fresh and surprising language. Stale language will be ineffective, commonplace language will have no impact."

Kesimpulan

Berdasarkan diskripsi dan eksplanasi yang telah penulis lakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut.

Kumpulan sajak Simfono Dua terdiri atas dua kumpulan, Simfoni I dan Simfoni II. Kumpulan sajak Simfoni I terdiri atas sajak-sajak religius; Simfoni II terdiri dari atas sajak-sajak yang mengungkap situasi sosial, tentang kebobrokan moral dan kemiskinan.

Untuk membuat deskripsi dan eksplanasi sajak-sajak Simfoni Dua dalam hubungannya dengan penggunaan majas, penulis menggunakan pendekatan eklektik, suatu pendekatan yang menggabungkan beberapa pendekatan secara konprehensif. Dalam analisis ini penulis menggabungkan pendekatan objektif dan ekspresif.

Dari analisis yang penulis lakukan, majas perbandingan dalam Simfoni Dua terdiri atas metafora, personifikasi, dan simbolik. Dari ketiga majas ini, metaforalah yang paling dominan.

Majas sindiran skupnya meliputi ironi, sinisme, dan sarkasme. Dalam kumpulan sajak Simfoni Dua, majas-majas tersebut tidak terdapat di dalamnya.

Majas penegasan dalam Simfoni Dua, meliputi anafora, paralelisme, dan retoris. Dari ketiga majas tersebut, anaforalah yang paling dominan. Jika dibandingkan dengan metafora, majas anafora lebih dominan.

Majas pertentangan dalam Simfoni Dua hanya paradok. Ini pun jumlahnya tidak dominan. Meskipun demikian, majas tersebut menambah nuansa keanekaragaman majas dalam Simfoni Dua.

Dari deskripsi dan eksplanasi yang telah penulis lakukan pada titik pangkalnya, Subagio Sastrowardoyo dalam Simfoni Dua mengungkapkan masalah religius (Simfoni I), dan situasi sosial tentang kebobrokan moral dan kemiskinan (Simfoni II). Hal ini oleh Subagio diungkapkan dengan bahasa yang sederhana, namun mengandung arti yang luas dan dalam. Di samping itu, ia sering menggunakan kata-kata yang tidak biasa dipakai oleh penyair lain. Dengan demikian, pemakaian majas dalam Simfoni Dua membuat sajak-sajaknya lebih segar, menarik, dan mengkonkretkan pernyataan.

Daftar Pustaka

Abrams, M.H. 1958. The Mirror and The Lamp. New York: W.W. Norton & Company Inc.

---------. 1971. A Glossary of Literary Terms. New York: Rinehart and Winston.

Aminuddin, 1990. Sekitar Masalah Sastra: Beberapa Prinsip dan Model Pengembangan. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh.

Asmara, Adhy. 1982. Apresiasi Puisi. Yogyakarta: Nur Cahaya.

Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: Angkasa Raya.

---------. 1993. Teori, Metodologi dan Aplikasi. Bandung: Angkasa.

Badrun, Ahmad. 1993. Pengantar Ilmu Sastra: Teori Sastra. Surabaya: Usaha Nasional.

Chapman, Raymond. 1973. Linguistic and Literature an Introduction to Literary Stylistics. English: Edward Arnold.

Hartoko, Dick. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. (Terjemahan). Jakarta: Gramedia.

Jassin, H.B. 1965. Tifa Penyair dan Daerahnya. Djakarta: Gunung Agung.

K.S. Yudiono. 1989. Telaah Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.

Kreaf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende Flores: Nusa Indah.

Leech, Geofrey. N. 1955. A Linguistic Guide to English Poetry. London: Longman.

Maline, L. Julian and James Berkley. 1967. Studies in Poetry. New York: The L.W. Singer Company Inc.

Ngafenan, Mohamad, 1990. Kamus Kesusastraan. Semarang: Dahara Prize.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Reeves, James. 1975. Understanding Poetry. London: Cox and Wyman Ltd.

Sastrowardoyo, Subagio. 1990. Simfoni Dua. Jakarta: Balai Pustaka.

Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Slametmulyana, R.B. 1951. Bimbingan Seni Sastra. Djakarta: J.B. Wolters Groninen.

Sudjiman, Panuti. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Suharianto, S. 1981. Pengantar Apresiasi Puisi. Surakarta: Widya Duta.

Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.

Tjahjojo, Liberatus Tengsoe. 1989. Sastra Indoensia: Pengantar Teori dan Apresiasi. Ende Flores: Nusa Indah.

Tirtawirya, Putu Arya. 1983. Apresiasi Puisi dan Prosa. Ende Flores: Nusa Indah.

Wellek, Rene and Austin Warren. Theory of Literature. New York: Harcourt.

Willis, Hulon.1966. Structure, Style Usage: A Guide to Expository Writing. New York: Holt, Rinehart and Winston.

________________________
Heru Supriyadi, lecturer at Airlangga University, Surabaya.

[Home]