Sajak ke Tujuhbelas

Berumah di Tepi Sungai

Dari dalam dinding kaca rumah di tepi sungai

menghampar rona potret rumah-rumah kumuh

milik pekerja yang banting tulang sehari semalam

untuk menundukkan kehidupan ibukota

Dari beningnya cermin ini

Aku berkaca pada angan-angan

yang bermain pada riak air tengah hari

ditemani alunan musik 'compact disc'

Aku merasakan tinggal dalam kerangkeng!

Aku rindu kembali ke ladang masa lalu

yang berderap setiap waktu untuk berpacu

Di sini, di rumah kaca di tepi sungai

tidak ada angin

cuma belaian 'air conditioner'

bercampur asap rokok

dan berhitung cermat

untuk melangkahi pertarungan demi pertarungan

sambil berharap mengibarkan bendera kemenangan

Sungguh, dari balik kaca di rumah tepi sungai

dari kamar yang terletak di lantai 20 ini

tidak pernah bertanya lagi

langkah esok pagi

selain siap bertempur

dengan rancangan sesuai aturan

Dari rumah kaca di tepi sungai

sepi

memanggil-manggil ...

Jakarta, 1994

Mau Baca Sajak Lainnya?

Pencet di Sini