Dari dalam dinding kaca rumah di tepi sungai
menghampar rona potret rumah-rumah kumuh
milik pekerja yang banting tulang sehari semalam
untuk menundukkan kehidupan ibukota
Dari beningnya cermin ini
Aku berkaca pada angan-angan
yang bermain pada riak air tengah hari
ditemani alunan musik 'compact disc'
Aku merasakan tinggal dalam kerangkeng!
Aku rindu kembali ke ladang masa lalu
yang berderap setiap waktu untuk berpacu
Di sini, di rumah kaca di tepi sungai
tidak ada angin
cuma belaian 'air conditioner'
bercampur asap rokok
dan berhitung cermat
untuk melangkahi pertarungan demi pertarungan
sambil berharap mengibarkan bendera kemenangan
Sungguh, dari balik kaca di rumah tepi sungai
dari kamar yang terletak di lantai 20 ini
tidak pernah bertanya lagi
langkah esok pagi
selain siap bertempur
dengan rancangan sesuai aturan
Dari rumah kaca di tepi sungai
sepi
memanggil-manggil ...
Jakarta, 1994
Mau Baca Sajak Lainnya?