Sajak ke Tigapuluh Satu

Surat untuk John Howard

Makan tuh arogan!

Hai John Howard!

Ternyata engkau lebih keparat

daripada tuduhanmu pada negeri kami

Mulutmu selalu menjunjung hak asasi manusia

dan engkau tutup mata ketika tiga orang Aitarak,

saudara kami dibakar hidup-hidup

di pelabuhan Dilli oleh tentaramu

Apakah engkau masih mau disebut beradab, hai Howard?

Bisa dalam mulutmu makin berbusa-busa

tentang genocide yang engkau tudingkan pada kami

Tidakkah matamu melihat tentaramu membantai

saudara-saudara kami. Coba dengar

apa kata Mayor Henriss-Andersen pada warga Aitarak:

"Kalian tak bisa lari, tak mungkin sembunyi.

Keadilan sudah hadir di sini!"

Kemudian tentaramu menangkapi saudara-saudara kami

dan dilanjutkan dengan penyiksaan hingga pembunuhan.

Mana hak asasi manusiamu, Howard?!

Ya, ya, Howard

Engkau korbankan silahturahmi kami dengan rakyatmu

hanya untuk kepentingan kursimu. Dan lancang sekali

mulutmu yang mimpi jadi polisi di kawasan Asia kami!

Ambil cermin dulu, Howard, pergi berkaca dulu!

Segala dustamu tentang penegakkan hak asasi manusia

niscaya akan terbuka kedokmu. Engkaulah orang tak beradab

yang tetap memakai tentaramu untuk membakar hidup-hidup

saudara-saudara kami warga Timor Timur Pro Integrasi

yang masih tinggal di kampung halamannya. Mana nyalimu

untuk menegakkan hak asasi manusia,

yang selalu engkau dengung-dengungkan?

Ya, ya, Howard!

Aku semakin yakin akan tingkah warganegaramu

Bukankah kalian itu punya bapak moyang

para narapidana kriminil yang dihukum berat?

Kemudian bapak moyang kalian hingga kalian

menjarah pemilik negeri Australia,

kaum Aborigin!

Apakah Timor Timur akan engkau jajah kembali

seperti kalian menjajah tanah milik kaum Aborigin?

Howard, Howard,

aku makin yakin, engkau itu tak beradab

dan juga biadab!

Jakarta 27 September 1999

Mau Baca Sajak Lainnya?

Pencet di Sini