
rumah itu kosong, Irni
Dalam kepulan asap rokok saat mikrolet cari muatan, matamu hinggap dan menyergap. Di sini asap solar dan bensin campur serta suara parau calo, tak pernah mengusikku untuk melangkah masuk dalam bayangan wajahmu. Ingin saja kusentuh dan ajak bicara tentang taman di tengah kota ditumbuhi semak jiwa dan kembang-kembang rindu. Ketika dua orang siswi SMU duduk di sampingku, tak pernah tumbuh iseng untuk menggoda. Ya, langsat kulitmu dan kicau kisah tentang seribu rencana kita: Semua terdedah dalam temu sekejap. Di sini aku tak ingin mengerjap barang sesaat, saat menatap: Senyummu tipis menerawang ke batin.
Saat mikrolet tua beringsut di tengah kemacetan, aku rasakan pengapnya di sini. Barangkali tembok waktu di balik taman kota telah membatasi pandang sepi yang mekar pada hati kita. Aku ingin keluar dari kata dan kalimat macet. Engkau ingin juga naik mikrolet jiwa menyusuri gegapnya kota di tengah hari bolong? Ya, Keringat mengucur saat jangat kita bersentuhan dalam bayang-bayang siang: Aspal jalan raya pun mencair, pantulkan fatamorgana.
Engkau tak lagi di rumah menyemai rindu. Seribu dering telepon meluncur begitu saja. Aku menatap trotoir dipenuhi kerumunan orang menunggu angkutan: Wajahnya kuyu! Engkau masih mengetuk-ngetukkan sisa koin ke kaca mikrolet rindu. Apakah halte cinta sudah mendekat?
Belum ada tanda-tanda. Lampu traffic-light belum juga hidup. Bang Sopir masih meneriakkan tujuannya dengan suara parau - Cari muatan. Aku di sini tetap mengembangkan bayangan dirimu di antara pepatnya waktu.
Sungguh!
Sebatang rokok pun tandas. Perjalanan masih panjang ke tempat kita.
Jakarta 16 Oktober 1999
Mau Baca Sajak Lainnya?