Sajak ke Sembilanbelas

Mencabik

Ketika malam terjaga, ada yang berjaga di ujung kelam sambil mencabik lembaran foto hitam-putih: Di sini mayang rambutmu meregang waktu di antara langkah gundah.

Ketika kata menduga, kupikat warna dalam seribu hasrat sambil menikmati rindu mendudu: Di sini senyummu datang mengundang di antara suara dan bimbang.

Ketika titik, garis dan malam terjerat, kurekat warna dari ujung senyummu yang melempar selendang mayang ke ujung sepi hingga rindu menjadi gundah di antara bayang-bayang tersimpan dari balik kacamata.

Ketika mata lepas menikmati mayang rambutmu tergerai sampai: Lewat gemulai selendang ditelan angin pegunungan sebelum subuh tiba, lamat-lamat terdengar suara sendu di antara gemerisik sepi

Ketika ini engkau keluar dari balik kertas foto - tidak lagi hitam-putih - dan mengajakku menikmati hari bersama mentari pagi yang hampir muncul di balik gunung: Aku pun terbangun dari mimpi panjang ingin memelukmu dan menghentikan waktu. Di sini!

Juli 2000

Mau Baca Sajak Lainnya?

Pencet di Sini