Sajak ke Duapuluh Sembilan

Hari-Hari Panjang

setiap waktu tiba

semua pun menyatu

Kita lewati hari-hari panjang

dan engkau letih. Melangkah tertatih-tatih

di antara bayang-bayang

Aku di sini meniti sepi. Tidak ada suara rintih

Menunggu. Akankah datang bersama waktu?

Ketika kita silang tatap. Sorotmu beku

dan cinta tiba-tiba tersimpan dalam kata-kata

Pun lidah kelu saat menciummu

di antara kecipak rindu: Aku masih ingat sinar mata

yang engkau pancarkan dan semua menyatu ke dalam hatiku

Aku buka sepatu dan duduk di tepi ranjang

selunjurkan kaki sambil nikmati sisa-sisa tualang

Barangkali engkau di sana sudah kuak pintu halang-rintang

yang mengantar langkah ke realitas sekarang

Sungguh! Aku bosan bermain bayang-bayang

sedangkan semua kisah mengalir ke sungai jalang

Di sini terasa sekali hari-hari panjang

tanpamu

Kembalilah pada waktu

tanpa berbagi: Jalani setiap lini

dari detik ke detik : Kita nikmati

lengang

Di sini aku akan tidur saat kantuk itu tiba

tanpa kasur dan berbantalkan jiwa

Barangkali engkau di sana masih terjaga

dan membaca dongeng dari buku-buku lama

Ya. Aku akan keluar dari dalam buku itu

dan duduk di sampingmu

tanpa bisa sentuh tubuhmu

tanpa komunikasi sedikit pun. Aku

hanya dapat merasakan

tanpa dapat mengatakan

Ya. Sungguh!

Kita lewati hari-hari panjang!

Jakarta 25 September 1999

Mau Baca Sajak Lainnya?

Pencet di Sini