Kita lewati hari-hari panjang
dan engkau letih. Melangkah tertatih-tatih
di antara bayang-bayang
Aku di sini meniti sepi. Tidak ada suara rintih
Menunggu. Akankah datang bersama waktu?
Ketika kita silang tatap. Sorotmu beku
dan cinta tiba-tiba tersimpan dalam kata-kata
Pun lidah kelu saat menciummu
di antara kecipak rindu: Aku masih ingat sinar mata
yang engkau pancarkan dan semua menyatu ke dalam hatiku
Aku buka sepatu dan duduk di tepi ranjang
selunjurkan kaki sambil nikmati sisa-sisa tualang
Barangkali engkau di sana sudah kuak pintu halang-rintang
yang mengantar langkah ke realitas sekarang
Sungguh! Aku bosan bermain bayang-bayang
sedangkan semua kisah mengalir ke sungai jalang
Di sini terasa sekali hari-hari panjang
tanpamu
Kembalilah pada waktu
tanpa berbagi: Jalani setiap lini
dari detik ke detik : Kita nikmati
lengang
Di sini aku akan tidur saat kantuk itu tiba
tanpa kasur dan berbantalkan jiwa
Barangkali engkau di sana masih terjaga
dan membaca dongeng dari buku-buku lama
Ya. Aku akan keluar dari dalam buku itu
dan duduk di sampingmu
tanpa bisa sentuh tubuhmu
tanpa komunikasi sedikit pun. Aku
hanya dapat merasakan
tanpa dapat mengatakan
Ya. Sungguh!
Kita lewati hari-hari panjang!
Jakarta 25 September 1999