Sajak ke Delapanbelas

Buat Apa

Buat apa bermenung

kalau tenung

sudah sampai ke jantung!

Kita bukan patung

Selepas raga

sebatas nyawa

tak ada selebihNya

tak ada sebatasNya

Bangkit dan melangkah

Reguk dan muntahkan

Kita berdiri menatap matahari

ketika senja jatuh di bibir hati

setiap sepi membawa maknanya sendiri

dan malam nanti siapa tahu berseri

Buat apa mereguk

kalau muntah sebelum mabuk?

Buat apa bangkit

kalau melangkah di jalan sempit?

Kita berlari menyongsong waktu

yang datang dari balik batu

dan di sana ada rinduku

padaMu

Jakarta Oktober 1998

Mau Baca Sajak Lainnya?

Pencet di Sini