Site hosted by Angelfire.com: Build your free website today!
Obat dan Kehamilan



        Tragedi talidomid yang terjadi pada tahun 60-an memberikan hikmah tak ternilai bagi masyarakat tentang bahaya obat-obatan yang layak diminum oleh wanita hamil. Dewasa ini diperkirakan 2-3% kelainan bayi di Amerika disebabkan karena obat. Diketahui juga bahwa obat-obatan yang dipergunakan selama akhir kehamilan dapat berpengaruh buruk terhadap persalinan. Meskipun demikian, sekitar 30-60% wanita hamil tetap memerlukan obat karena berbagai kondisi yang dialaminya, misalnya hipertensi, kencing manis, epilepsi dan asma. Dapat pula seorang wanita terkena infeksi, atau gangguan akut seperti mual dan muntah sewaktu hamil. Jika suatu obat memang diperlukan, hendaknya obat tersebut memberikan keuntungan klinik yang maksimal bagi si ibu dan resiko yang minimal bagi ibu dan janin.
Efek Teratogenik
        Teratogenisitas adalah kemampuan suatu senyawa kimia (obat atau xenobiotika lain) untuk menimbulkan kelainan bawaan pada bayi (kongenital), termasuk malformasi dan kelainan fungsional minor maupun mayor. Efek teratogenik yang paling lazim ialah abortus spontan, malformasi bawaan, perlambatan pertumbuhan janin dan  perkembangan mental, karsinogenesis dan mutagenesis. Obat-obat seperti warfarin atau fenitoin menyebabkan gangguan khas yang disebut sindrom warfarin atau fenitoin pada janin.
        Obat-obat yang dikenal menyebabkan kelainan janin misalnya :
1. Penghambat enzim pengubah Angiotensin (ACE inhibitors)
2. Penghambat reseptor Angiotensin II
3. Golongan androgen, dietilstilbestrol, anti konvulsan, yodida, litium, isotretinoin, tetrasiklin, warfarin dan vaksin hidup.
        Sebagai contoh, pada seorang ibu hamil yang terkena jerawat, pengobatan dengan isotretinoin (teratogen paling poten pada manusia) dapat menyebabkan malformasi janin pada organ-organ tulang tengkorak, jantung, timus dan susunan syaraf pusat.
Pada wanita hamil yang menderita asma, ternyata tidak terdapat hubungan yang kuat antara malformasi bawaan dengan obat-obat asma seperti teofilin, agonis reseptor beta, kromiolin, atau kortikosteroid inhalasi.
        Obat-obat epilepsi (karbamazepin, Na Valproat, fenitoin, fenobarbital, misolin) bersifat teratogenik. Resikonya pada janin berkaitan dengan obat-obatan tersebut, terutama jika dikombinasi dengan Na valproat. Gabapentin dan lamotrigin, meskipun tidak teratogen pada hewan uji, namun menurut beberapa laporan klinis ternyata teratogenik pada manusia. Topiramat, obat anti konvulsan baru, terbukti teratogenik pada hewan uji.
        Obat-obat diabetes oral hendaknya dihindari sewaktu hamil.Obat-obat ini selain merangsang pankreas janin sehingga menyebabkan hipoglikemia pada janin atau bayi yang baru lahir (neonatal) juga bersifat teratogenik, karena dapat menembus plasenta. Anti-diabetes yang hanya sedikit menembus plasenta adalah insulin meskipun bentuk  long acting-nya perlu diwaspadai.
        Obat-obat antihipertensi mempengaruhi janin secara langsung  (mempengaruhi sirkulasi umbilikal dan kardiovaskular janin) dan tidak langsung  (memperlambat aliran darah utero-plasental). Pemberian obat-obat penghambat ACE dikaitkan dengan efek buruk pada neonatus, misalnya oligohidramnios, anuria, hipotensi, hipokalvaria, dan displasia tubulus ginjal. Pada bulan Maret 1992 FDA melaporkan bahwa penghambat ACE dapat menimbulkan gangguan dan bahkan kematian janin pada trimester kedua dan ketiga. Begitu juga diuretik hendaknya dihindari karena dapat menurunkan volume darah ibu dan mengurangi aliran darah utero-plasental yang menuju ke janin. Akan halnya dengan obat-obat penghambat Ca-channel, dewasa ini masih diragukan efek buruknya. Namun dari sebuah penelitian, obat-obat ini mampu mengurangi usia kehamilan.
        Pada ibu hamil yang menderita depresi atau gangguan antipsikotik, beberapa laporan menyebutkan efek buruk obat-obat anti-depresan trisiklik. Namun laporan lain tidak menemukan efek malformasi neonatal ketika obat-obat ini diminum selama tiga bulan pertama kehamilan. Pemberian litium pada trimester pertama berkaitan dengan timbulnya peningkatan frekuensi kelainan kardiovaskular. Keracunan bayi menjelang persalinan (perinatal), seperti sianosis, hipotonia, bradikardia, kelainan gambaran ECG, dapat  terjadi jika si ibu meminum litium pada akhir kehamilan.
        Obat-obat yang lazimnya aman bagi ibu hamil dapat dilihat pada tabel 1.
 

Tabel 1. Obat-obat yang aman digunakan wanita hamil
 

Kondisi
Obat Pilihan Utama

(Drug of Choice)

Obat Alternatif
Jerawat Topikal: eritromisin, klindamisin, benzoil peroksida Oral: eritromisin
Topikal: tretinoin
Asma Inhalasi: beta-adrenergic agonis, kortikosteroid, kromolin, ipratropium

Oral: teofilin, kortikosteroid

Batuk Kodein (jangka pendek), difenhidramin, 
cough lozenges
Dekstrometorfan
Depresi Antidepresan trisiklik, fluoksetin
Diabetes Mellitus Insulin manusia Insulin sapi atau babi
Sakit Kepala 

Migraine 1)

Parasetamol

parasetamol, kodein, dimenhidrinat

Asetosal dan AINS (anti inflamasi non- steroid), benzodiazepin 

Butalbital, asetosal

Profilaksi: beta-bloker, antidepresan trisiklik

Hipertensi 2) Metildopa, hidralazine Penekan reseptor b , prazosin 
Hypertiroidismus 3) Propiltiourasil  Metimazol, penekan reseptor b (untuk gejala simptomatik)
Hipotiroidisme Levotiroksin, liotironin Thyroid kering
Infeksi bacterial 4) Oral: penisilin, sefalosporins, kotrimoksazol (sulfamethoksazol dengan trimetoprim), eritromisin, klindamisin, nitrofurantoin

Topikal: polisporin

Aminoglikosida, metronidazol, trimetoprim
Mania, kepribadian ganda Klorpromazin, haloperidol Untuk keadaan depresi: antidepresan trisiklik, fluoksetin
Mual, muntah, mabuk perjalanan Doksilamin dikombinasikan dengan piridoksin Klorpromasin, metoklopramide (pada trimester ketiga), difenhidramin, meklizin, Siklizin, dimenhidrinat
Tukak lambung Antasida, ranitidin Sukralfat, Bismut subsalisilat
Catatan : Obat-obat yang tidak tertulis di sini tidak berarti teratogenik pada manusia
1) Hindari asetosal dan AINS pada trimester ketiga
2) Jika menggunakan penekan reseptor b , amati bayi usia 18 -24 jam terhadap hipotensi dan bradikardia
3) Dosis propil tiourasil pada ibu (lebih dari 200 mg) dapat mempengaruhi tiroid janin. Pada pemakaian penekan reseptor b , amati bayi usia 18 - 24 jam terhadap hipotensi dan bradikardia
4) Jika mungkin hindari metronidazol pada trimester pertama. Hindari obat atau zat yang mengandung sulfa setelah 36 minggu masa gestasi dan pada wanita yang cenderung anemia hemolitika

Pemilihan obat

Pemilihan obat untuk ibu hamil hendaknya didasarkan atas keamanan bagi si ibu dan janin yang dikandungnya. Obat lain meskipun efektivitasnya lebih baik, namun jika keamanannya belum diketahui lebih baik tidak diberikan. Tentang dosis, pada awalnya dipilih dosis rendah dan jika perlu diatur besarannya kemudian, sampai tercapai efek terapi yang diinginkan. Begitu pula dengan durasi pemberian obat, jika tidak sangat diperlukan tidak boleh terlalu lama. Pada akhirnya, poli-farmasi sedapat mungkin dihindari. Hal ini dilakukan demi keselamatan ibu dan bayinya.

(Lukman Hakim)

kembali ke Editorial