Hersri Setiawan:
SENI DAN HIBURAN DI PENJARA ORDE $UHARTO: Salemba
Melihat Kambing Kawin
DI TENGAH bangunan penjara Salemba yang berbentuk
tapel kuda itu terletak lapangan apel. Di situ lah dilakukan wajib salat jamaah bagi tapol yang Islam pada hari-hari tertentu, misalnya hari Jumat, hari raya kurban, maulid Nabi, lebaran, dan lain-lainnya. Kecuali untuk ibadah dan peringatan keagamaan seperti itu, juga untuk peringatan dan upacara upacara sekuler. Misalnya wajib apel bendera bagi semua tapol pada harihari tertentu, seperti misalnya tanggal tujuh belas setiap bulan, Hari Pahlawan, Hari Abri, Hari Kesaktian Pancasila, dan semacamnya.
Tetapi kecuali untuk keperluan ibadah keagamaan, ibadah politik dan ibadah ideologi seperti itu, pada sore hari lapangan ini juga digunakan untuk wajib berekreasi. Wajib bermain bola tangan dan bola voli bagi tapol yang sudah bebas isolasi, dan lebih dari itu, mereka yang nama namanya terpanggil untuk ikut acara rekreasi tersebut. Bebas isolasi dalam dunia kehidupan tapol berarti, bahwa tapol yang bersangkutan sudah diperbolehkan "bergaul" dengan sesama kawannya, dan tidak harus terus menerus seorang diri berada di dalam sel yang selalu terkunci.
Jika sedang kosong dari kegiatan tapol, lapangan
hijau sekitar setengah hektar persegi ini menjadi tempat kegiatan kambing kambing milik pembesar penjara melangsungkan jenisnya: merumput atau menetek (bagi yang masih cempe), berkelahi dan kawin. Dalam hal nafsu kawin kambing jantan ternyata tidak kenal surut sepanjang musim. Beda misalnya dengan anjing atau kucing yang mempunyai daur musim birahi, yaitu dalam mangsa mangsa ketujuh [kira kira minggu terakhir Desember sampai paroh minggu pertama Februari], dan mangsa ke sembilan [yaitu awal Maret sampai paroh pertama minggu terakhir bulan ini]. Pantaslah, terhadap orang laki laki yang gemar kawin, bahasa Melayu mempunyai ungkapan perbandingan "seperti bandot". Bandot ialah kambing jantan yang berjenggot panjang. Walaupun begitu salah satu lukisan terbaik S. Sudjojono diberinya berjudul "Sayang Aku Bukan Anjing", bukan
nya "Sayang, Aku Bukan Kambing".
Sore hari, saat menunggu ransum air dan jatah makan kedua dan yang terakhir, terkadang pintu sel dibuka. Dan tapol tapol dibiarkan "bermain" di halaman blok. Masing masing tapol berbeda-beda cara mereka memanfaatkan kesempatan mahal demikian itu: Mengisi penuh-penuh paru-paru dengan udara segar, memanaskan darah dengan berjalan jalan cepat di seputar halaman blok, mencari puntung dan mengumpulkan sisa-sisa
tembakau dari dalam nya, mencari tulang atau tempurung kelapa di timbunan sampah untuk dibikin pipa rokok, mencari sampah-sampah plastik untuk dipilin dan dianyam menjadi tas, dan berbagai macam ulah kegiatan lainnya. Ada pula sementara mereka yang lebih suka berdiri berkerumun, di depan jeruji pintu blok selebar lk. 75 cm yang tetap terkunci itu, dan mata mereka tertuju ke
arah lapangan sana. Apa yang mereka lihat? Melihat kambing kawin!
Entah oleh prakarsa tapol tapol pekerja dapur
umum penjara yang iseng, atau karena
perintah pembesar penjara, tapi tiba tiba pemandangan di lapangan ternyata berubah. Pada suatu hari semua kambing betina tampak mengenakan "kain", dari bahan bekas kantung pupuk urea atau bulgur. Maksudnya barangkali semacam hendak memberlakukan konsinyes kawin terhadap kambing kambing itu, agar dengan demikian tapol tapol tidak berkerumun di depan pintu blok sembari bersorak sorai. Tetapi ternyata sebaliknya lah yang terjadi. Bandot-bandot yang terkena wajib KB itu justru menjadi semakin agresif terhadap betina mereka. Dan tapol tapol pun, yang bertahun tahun telah dipaksa berwadat dari segala bentuk hasrat birahi itu, semakin bertambah riuh derai derai tawa mereka.
Adegan tragi-komedi sejatinya terjadi.
Bukan saja bagi para kambing yang dipaksa ber-KB,
tapi juga bagi para tapol. Gara gara kambing lah, kemanusiaan menyuraki manusia. Ini lah kiranya pelajaran kearifan kedua yang pernah diberikan oleh kambing kepada manusia. Pelajaran pertama ditangkap oleh Dewi Setyawati dari atas pancaka, di tengah tengah alun-alun Malwapati. Begitulah konon menurut cerita tutur Prabu Anglingdarma, atau dalam bentuk tertulis, dalam serat petikan berjudul Kitiran Mancawarni, dari naskah Mangkunegara IV (Albert Rusche & Co. Solo, 1898).
Wayang Kandha dan Orkes Plastik
ADA tiga hari di dalam satu minggu keluarga tapol diperbolehkan mengantar kiriman ke penjara. Itulah yang dinamai orang orang penjara sebagai hari hari besukan (Bel.: "bezoek" = kunjungan).
Tapol boleh dibesuk apa saja, kecuali apa-apa yang termasuk sebagai "barang konsinyes'. Barang konsinyes itu misalnya alat tajam (termasuk pemotong kuku), korek api, bahan bacaan, alat tulis menulis (termasuk kertas penggulung rokok; pengganti kertas rokok yang tidak termasuk barang konsinyes ialah klobot atau daun kaung), alat rekreasi (termasuk kartu domino), dan apa lagi alat alat komunikasi. Oleh karena itu semua tas besukan harus dikirim melalui loket penjaga penjara. Para petugas akan memerilrsa barang-barang di dalam tas besukan satu demi satu. Nasi, sayur, dan gulungan rokok pun akan diaduk-aduk dan dibongkar-bangkir. Petugas juga akan "mencukai" barang barang besukan keluarga tapol itu, menurut selera dan kebutuhan mereka, sebelum diteruskan kepada yang berhak di blok tapol yang bersangkutan. Sampai di blok-blok, para petugas blok akan mencukainya lagi, juga menurut selera dan kebutuhan mereka. Dan baru sesudah itulah tas besukan bisa diterimakan kepada tapol, yang tidak jarang tinggal berupa tas kosong belaka! Praktek cukai mencukai barang besukan tapol G3OS/PKI tahun 1965 seperti ini juga dialami oleh tapol Peristiwa Madiun tahun 1948 dahulu. Karena itu KMK (Komando Militer Kota), sebagai instansi yang ketika itu mengurusi barang besukan, lalu mendapat makna dan kepanjangan baru: Kumpulan Maling dan Kecu (Jaw.: kecu = garong).
Cerita tentang cukai-mencukai di atas ternyata
belum habis sesudah barang besukan diterima tapol yang bersangkuan. Sesudah jam besukan lewat, dan di dalam sel masing masing tapol dalam kelompok riungannya sendiri-sendiri sedang hendak menikmati besukan keluarga, datanglah dua atau tiga orang aparat blok. Mereka membawa ember-ember plastik, dari pintu sel satu ke pintu sel lain, untuk mengumpulkan apa yang dinamakan sodakoh. Kalau cukai-cukai oleh para petugas penjara dan aparat blok, ketika barang besukan belum sampai di tangan tapol yang berhak, boleh disebut sebagai cukai tidak resmi, maka cukai besukan oleh aparat blok ketika sisa besukan sudah di dalam sel tapol yang berhak, ini boleh disebut cukai "secara resmi'. Cukai resmi ini diminta atas dasar "kesadaran" dan "keikhlasan", sebagai penyataan "solidaritas" terhadap sesama tapol yang oleh berbagai alasan tidak pernah, atau tidak lagi menerima besukan dari keluarga mereka.
"Malam Kesenian" Antar-Sel
BEREKREASI dan berkreasi memang tidak selalu bergantung kepada alat. Juga pelaksanaan nya tidak selalu harus bersama-sama di dalam satu ruangan yang sama, tetapi bisa juga dari berbagai ruangan sel yang terletak berpencaran. Pada petang hari lepas besukan itu lah biasa "malam kesenian" atau "malam hiburan" di blok-blok tertentu berlangsung. Tentu saja dengan mengingat suasana keamanan blok khususnya dan seluruh penjara umumnya.
Salat isya adalah salat terakhir dalam satu hari bagi umat Islam. Karena itu, dalam kehidupan penjara, waktu isya seakan akan merupakan batas antara hari dan malam, dan batas antara hari ini dengan hari esok. Waktu lepas isya, biasanya serdadu serdadu penjaga akan lebih banyak berada di pos masing-masing. Di atas menara-menara jaga, atau jauh di ruang jaga di depan sana. Maka bagi tapol penghuni blok yang mungkin berekreasi, misalnya karena letak nya yang jauh dari pos jaga, dan di dalam blok dapat dipastikan tidak ada tapol cecunguk seorang pun, ketika itulah saat nya malam hiburan dimulai.
Jika hiburan yang direncanakan berupa pergelaran lakon wayang, maka Ki Dalang, sambil berdiri berpegangan jeruji jeruji di belakang pintu sel, akan mengimbau dukungan kawan-kawan nya dari sel-sel lain. Mereka itu ialah para "niaga", atau tepatnya para penyuara gending gamelan, kendang, gong, pesinden, dan penggerong. Sesudah itu ia akan mengumumkan lakon yang hendak dipergelar kan, lalu disusul dengan imbauan nya yang kedua. Imbauan kali ini ditujukan kepada mereka yang baru menerima besukan, agar supaya bersedia memberi sodakoh atau "kondisi" suka rela bagi para pelaksana pergelaran. Istilah "kondisi" dalam arti "upah tanggapan untuk pergelaran lakon", bukan kosakata baru dan bukan pula jargon tapol. Tapi sudah lazim
digunakan di daerah Klaten Jawa Tengah sejak tahun 1960an. (Lihat juga Victoria M. Clara van Groenendael: "Dalang Di Balik Wayang" [terj.Hersri], Grafitipers 1987). Menyambut imbauan kondisi itu, dari sel sanasini akan berlemparan bungkusan-bungkusan plastik gula kopi, gula merah, singkong dan ubi rebus, tembakau mole atau tembakau hitam, satu-dua batang rokok kretek. Semuanya jatuh di depan pintu sel Ki Dalang. Pada giliran nya Ki Dalang akan membagi-bagi dan melemparkan
nya ke depan pintu sel sel para pembantu pelaksana pergelaran.
I.akon biasanya cerita carangan atau fragmen dari lakon baku yang melukis kan kegagahan atau kepahlawanan (misalnya: Senggono Obong, Gatutkaca Gugur, Kikis Tunggarana, dan lain lain), kemenangan sementara tipu muslihat (Kresna Kembar, Pendhawa Dhadhu, dan lainlain), salah urus akibat salah duduk (Prabu Bel Geduwelbeh atau Petruk Jadi Raja, dan lain-lain). Demikian juga dalam hal pergelaran teater rakyat, yang disuka lakon-lakon semacam Untung Surapati, Arya Panangsang, Sakerah, Macan Kemayoran, Layang Seta Layang Kumitir, dan lain-lain.
Prosedur yang sama dilakukan dalam hal pergelaran musik. Orkes Plastik mereka menamainya. Karena instrumen yang dominan ialah ember-ember plastik. Pengambil prakarsa terlebih dahulu mencari pemain, membagi tugas, mengimbau sodakoh (dalam hal ini kata "kondisi " tidak digunakan), dan membagi bagi sodakoh itu kepada para pemain. Bedanya, jika pergelaran wayang dan teater sepenuhnya beralat mulut, maka dalam hal pergelaran musik (kecuali penyanyi tentu saja) menggunakan berbagai macam "instrumen", seperti: sendok dan ompreng, sapu lidi dan lantai sel, kayu pemukul dan jeruji sel, ember ember plastik baik yang berdawai maupun yang tanpa dawai. Dawai ini berupa elastik atau karet kolor celana.
Dalam urutan preferensi yang dimainkan, yaitu lagulagu yang biasa disebut jenis keroncong (termasuk langgam keroncong), dangdut (ketika itu masih berupa dua genre yang masing-macing lebih populer dengan sebutan "Irama Padang Pasir" dan "Irama Melayu"), dan sedikit lagu-lagu jenis hiburan. Lagu-lagu untuk paduan suara yang, menurut Bung Karno, kebanyakan "berirama berdentam dentam" itu tidak pernah diperdengarkan. Barangkali atas pertimbangan "kewaspadaan politik", agar tidak dituduh sebagai "revolusioner kepala batu". Lagu himne "Rayuan Pulau Kelapa" (Ismail Mz.) dan "Nyiur Hijau" (Maladi), biasanya dimainkan sebagai lagu penutup acara. Adapun jenis ,jenis lagu yang tergolong seriosa, seperti "Kemuning" (Cornel Simandjuntak/Sanusi Pane), "Lagu Biasa" (Chairil Anwar/Amir Pasaribu), "Gadis Gunung" (Sudharnoto), ternyata hampir tidak mendapat tempat sama sekali. Suatu tanda bahwa di masa lampau, pekerjaan PKI dan ormas kebudayaan progresif (khususnya Lekra dan sedikit banyak juga LKN) di bidang seni musik belum menyeluruh. Sekalipun Wakil Ketua II CC PKI Njoto, di depan para sastrawan dan seniman Lekra, telah berulang ulang menegaskan, agar mereka "tahu segala tentang sesuatu dan tahu sesuatu tentang segala". Atau, apa kah jenis lagu seriosa memang dipandang bernada elitis, sehingga tidak perlu dikembangkan? Tapi salah satu sajak Njoto (di bawah nama Iramani; dalam hubungan ini perhatikan juga kata "irama" itu!) yang ditulis nya untuk Patrice Lumumba yang mati dibunuh, "Merah Kesumba" (1961), diberi notasi musik oleh Amir Pasaribu untuk jenis lagu seriosa. Di samping itu, bukan kah Akademi Seni Musik CC PKI diberi nama tambahan WR Supratman, nama komponis lagu kebangsaan?
Sastra Lisan
BAGAIMANA dengan sastra lisan? Berpantun-pantunan
tidak pernah terdengar di penjara, kecuali dinyanyikan sebagai syair lagu Melayu menurut pola nyanyian P. Ramlee, bintang layar putih Semenanjung Melayu kondang tahun 1950-an. Deklamasi sama sekali tidak asing, jika membaca ayat-ayat Kuran bisa disebut demikian. Acara tetap bagi tapol beragama Islam, setiap pagi selama tiga jam (9.00-12.00) kecuali hari Minggu pagi, di sepanjang sel sel penjara, belajar mengaji dan membaca Kuran. Tetapi adanya kendala perasaan berjarak, walau tidak asing, terhadap sajak-sajak bebas, agaknya bersumber pada bentuk persajakan Indonesia modern itu sendiri. Karena itu satu dua baris yang terkadang toh terdengar, justru terlontar lepas bernada kariratural: "Aku merana / engkau merene". Sebuah karikatur terhadap sajak bebas dan cara berdeklamasi yang umumnya cenderung teatral.
Kata "merana" dan "merene" adalah bentuk bentuk
distorsi dari kata-kata Jawa "mrana" (ke sana) dan "mrene" (ke sini). Jika interpretasi "aku merana / engkau merene" boleh diteruskan, itu berarti bahwa antara yang satu dengan yang lain tidak akan pernah saling bertemu. Begitu kah karikatur massa tentang hubungan antara sastrawan modern dengan masyarakat nya? Sebuah contoh lagi ialah ini: "Tak seorang berniat pulang / walau mati menanti". Dua baris pertama sajak Hr. Bandaharo ini sering terdengar terlontar tiba-tiba sebagai pelepas frustasi. Jelas sebagai karikatur tentang betapa encer nya militansi kader kader komunis Indonesia.
Dibanding dengan puisi modern Indonesia yang diterima dengan sikap sinis, tembang-tembang Jawa bermatra macapat, dan khususnya yang bergaya Semarangan, serta lagu-lagu dolanan gubahan baru (misalnya dari Nartosabdo dan Tjakrawasita), diterima dengan baik. Bahkan juga oleh tapol tapol yang tidak berasal etnis Jawa. Ada beberapa alasan untuk hal ini. Pertama, karena berirama sederhana, sehingga mudah orang mengingat dan meniru nya. Kedua, karena lagunya bisa menciptakan suasana damai dan riang. Ketiga, karena isi repertoar lagu-lagu tersebut umumnya politis "bersih", sehingga jauh dari kemungkinan akibat yang "tak diinginkan". Keempat, khusus nya menyangkut Iagu lagu dolanan, karena umumnya tidak berisi apa-apa selain pemainan kata, justru itulah agak nya sesuai dengan apresiasi umum tapol yang cenderung blangko.
Jumlah tukang cerita tidak terdapat banyak jika dibandingkan dengan animo pendengar. Kelak bila keadaan telah memungkin kan, misalnya di Buru ketika tapol bisa menyelinap dari barak satu ke barak lain (berbeda dengan di penjara, ketika pintu sel terkunci dari jam enam petang sampai jam enam pagi), pada setiap usai apel petang akan terlihat si tukang cerita mengendapendap mencari pendengar. Ia masuk dari barak ke barak secara bergilir, untuk menuturkan repertoar-repertoar ceritanya. Repertoar yang diambil umumnya dari genre yang dikenal sebagai roman picisan atau novel pop (misalnya karangan Motinggo Busye, Marga T., atau penulis lainnya yang sudah dikenal, atau gubahan seketika si tukang cerita itu sendiri), cerita silat dan pseudo sejarah (misanya "Bende Mataram" karangan Herman Pratikto, "Naga Sasra Sabuk Inten" karangan S. H. Mintardja, "Tiga Negeri" atau "Sam Kok", dan semacamnya), roman rakyat (misalnya "Pranacitra Rara Mendut", "Sampek Eng Tay", "Sangkuriang", dan
sebangsanya).
Perbendaharaan prosa modern mereka terbatas pada repertoar Balai Pustaka "Layar Terkembang" (Takdir Alisyahbana) dan "Sitti Nurbaya" (Marah Rusli), dengan umur tapol-tapol penceritanya dari "angkatan sesudah perang". Sementara itu tukang-tukang cerita dari "angkatan sebelum perang" untuk roman modern Jawa mempunyai repertoar yang jauh lebih kaya, meskipun pada umumnya juga diambil dari perbendaharaan Bale Poestaka pra-1945. Repertoar yang paling banyak terdengar antara lain "Serat Riyanta" (R. Sulardi), "Ngulandara" (Margana Jayaatmaja), "Kirti nJunjung Drajat" dan "Ni Wungkuk Ing Bendha Growong" (keduanya dari Yasawidagda). Hal ini, pada satu pihak, barangkali bisa merupakan petunjuk tentang adanya alienasi terhadap hasil sastra Indonesia modern; dan pada pihak lain, bisa menjadi petunjuk tentang politik dan metode pengajaran sastra, yang
diterima oleh masing-masing "angkatan" tersebut; demikian juga bisa menjadi petunjuk tentang bagaimana hubungan antara sekolah dengan Balai Pustaka sebagai badan penerbit negara, pada masa kolonial dibandingkan dengan pada masa republik.
Walaupun demikian tidak berarti, bahwa prosa modern Indonesia mutakhir tidak mendapat tempat di selsel tapol. Seperti diketahui, tetralogi Pramudya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), lahir pertama justru sebagai sastra lisan di tengah sawah di Buru. Demikian juga cerita cerita karya Pramudya lain nya (Wiranggaleng, Mata Pusaran, Arus Balik, dan lain-lain), semuanya telah beredar dengan sangat luas dan cepat dalam bentuk ketikan di unit-unit. Boejoeng Saleh (almarhum Saleh Iskandar Puradisastra), pernah tampil dengan cerita "Pranacitra Rara Mendut" dan "Under the Firing Squad". Kisah tersebut akhir, tentunya demi rasa aman bagi diri sastrawan penutur itu sendiri, memang dituturkan dan kemudian juga ditulis dalam bahasa Inggris.
Bahwa tapol dengan gairah besar mendengarkan
Pramudya dan Boejoeng, menurut hemat saya, bukan sekaligus petunjuk tentang kesadaran mereka terhadap nilai sastra modern. Dukungan nama besar penulis atau penceritanya itulah kiranya, yang mampu meruntuh kan dinding alienasi antara tapol dengan prosa modern Indonesia. Lagi pula gejala demikian itu pun hanya terjadi sesudah di Buru, dan tidak sebelumnya ketika masih di kamp kamp di Jawa.
Jailangkung Konsultan Rohani
TIDAK semua blok di penjara Salemba bisa menghibur diri atau berpergelaran seni. Seperti sudah dikatakan di atas, jauh atau dekat jarak blok dengan pos penjagaan, sikap aparat blok, bersih atau tidaknya blok bersangkutan dari coro-coro atau cecunguk, semuanya sangat menentukan. Walaupun semua aparat blok terdiri dari sesama tapol, kecuali Blok E yang di bawah para takrim (tahanan kriminil militer), namun ada blok-blok tertentu yang memberlakukan konsinyes begitu keras. Misalnya blok yang dipimpin Kablok Drs. Suwarno. Di blok-blok ini berbicara keras keras, tanpa ada
kepastian sekeras bagaimana, atau bahkan tertawa pun bisa dituduh "macam-macam". Kata "macam-macam", sebagai jargon penjara, tidak lagi berarti "rupa rupa", atau "(ber)bagai-bagai", tapi berarti perbuatan yang menyimpang dari konsinyes. Konsinyes itulah macam yang tunggal, sehingga hal hal yang tidak patuh padanya menjadi termasuk macam macam, atau yang lain dari yang tunggal itu. Tertawa bisa digolongkan sebagai perbuatan macam macam, apalagi yang terdengar dengan "ledakan" atau gigi-gigi yang tampak menyeringai. Sebab, tertawa yang demikian itu, bisa ditafsirkan sebagai menertawakan si penegak konsinyes. Sehingga oleh karenanya tertawa bisa termasuk konsinyes itu sendiri.
Di blok-blok dengan konsinyes keras seperti ini
kakus bukan hanya tempat untuk melepas hajat, tetapi juga tempat untuk melepas tawa. Satu kali sehari. Ya, satu kali sehari saja! Walaupun tawa (dengan tangis sebagai pasangan nya) merupakan pernyataan naluri hidup yang paling pertama dan mendasar. Dengan demikian bagi tapol penghuni blok seperti ini, jatah waktu enam puluh menit setiap pagi buat seluruh penghuni blok yang lebih dari seratus tapol untuk buang hajat plus mandi itu, benar-benar merupakan keindahan tersendiri. Betapa tidak? Karena hanya pada saat-saat di kakus itu lah, tapol bisa menghibur diri dan melepaskan cita rasa mereka yang semurni murni nya. Maka terkadang kita dengar suara teriakan sekedar untuk teriak, atau ledakan tawa sekedar untuk tertawa. Tanpa ada yang perlu diteriaki atau ditertawai. Itu lah sejatinya, menurut pendapat ku, teriakan yang paling jujur dan tertawa yang paling indah. Sesungguh nya penjara bukan lah dunia abnormalitas. Bukan!
Tetapi pengucapan fantasi manusia, termasuk
manusia tapol, tidak cukup dalam bentuk hiburan dan seni saja. Dari itu mereka lalu mencari cara-cara untuk bisa menembus tembok beton konsinyes dan isolasi fisik, agar bisa merasa tetap eksis di tengah tengah dunia nyata sehari hari. Radio dan surat menyurat gampang dipantau dan dilacak. Lagi pula "permainan" yang terlalu ber-vivere peri coloso seperti itu, justru menciptakan suasana tegang. Padahal ketegangan itu sendiri sudah ibarat menjadi denyut jantung kehidupan tapol. Barangkali itulah alasan psikologis, mengapa di tengah kehidupan tapol "info" atau "sasus" menjadi sejenis "menu" yang sangat dilahap. Menjadi kebutuhan tapol, karenanya, justru ingin mengurai ketegangan tersebut, walau hanya satu-dua jurus dan kadang kadang saja. Misalnya dengan melalui percakapan-percakapan lugas dan santai tentang segala hal ihwal: kabar tetekbengek keluarga, hari depan nasib sendiri, konflik para petinggi di Jakarta, adu kekuatan negara adikuasa, dan apa saja: dari singkong sampai tembakau, dari gempa bumi sampai bom nuklir. Bukan diurai dalam dialog dengan sesama tapol, melainkan dengan arwah orang orang mati melalui medium yang disebut jailangkung (jika roh yang datang laki-laki) atau jailangse (jika roh yang datang perempuan). Kepada arwah itu mereka berani dan bisa menyatakan perasaan dan pikiran nya, tanpa harus merasa takut dihardik, diancam konsinyes, dan dilaporkan kepada penguasa kamp.
Biasanya kegiatan menghubungi arwah seperti itu mereka lakukan apabila malam telah larut, di suatu sudut blok yang gelap dan sepi, khususnya (sekali lagi)
di kakus!
Jailangkung (lebih tepat jailangse) tidak lain ialah nini thowong atau nini thowok dalam tradisi Jawa. Mula mula merupakan salah satu bentuk ritus animisme, kemudian berkembang sebagai permainan teatral anak-anak desa di kala musim bulan purnama. Untuk memanggil ruh Nini Thowong itu, sudah ada lagu "wajib" yang dinyanyikan bersama sama, sampai saat ruh sudah masuk "tubuh" Nini. Lagu itu bernama "Ilir Ilir", begini kata katanya:
"Lir ilir lir ilir,
tandure wis sumilir dak ijo royo royo
dak sengguh penganten anyar cah angon cah angon penek na blimbing kuwi lunyu lunyu peneken kanggo masuh dodotira
dodotira dodotira
kumitir bedhah ing pinggir domana jlumatana
kanggo seba mengko sore
mumpung gedhe rembulane mumpung jembar kalangane dak suraka surak hore! dak suraka surak hore!"
Terjemahan nya:
"lir ilir lir ilir
tanam (padi) sudah bangun menghijau cerah segar
seolah pengantin baru
nak gembala nak gembala
panjat lah (pohon) blimbing itu biar licin sekalipun
untuk mencuci kain mu kain mu kain mu berkibaran sobek di tepi jahit lah tisik lah
untuk menghadap sore nanti selagi purnama bulan selagi luas gelanggang nya ayo bersurak surai
ayo bersurak surai!"
Beda dengan Nini Thowong yang manja, minta dijemput nyanyian bersama di kala bulan purnama, Jailangkung dan Jailangseng tidak demikian. Tanpa nyanyian sepenggal, dan di depan kakus pun jadi. Yang
penting ada segelas air putih, dan beberapa biji kacang goreng ...
Tetapi entah mengapa, ketika permainan ini timbul kembali laksana wabah di kota-kota di Jawa, pada awal 1950-an, seusai perang kemerdekaan (seakan-akan ada hubungannya dengan banyaknya orang mati "sebelum saat ajal" mereka sampai), orang cenderung mengikuti tradisi animisme Tionghwa. Apakah karena dalam tradisi animisme (tani) Jawa hanya dikenal satu tokoh perempuan, yaitu seorang nini atau nenek? Ya, Nini Thowong saja adanya. Kaki Thowong tidak pernah ada! Sedang dalam tradisi Tionghwa dikenal tokoh laki-laki dan perempuan? Dan ini lebih sesuai dengan konsep tentang hubungan antara raja atau kraton dengan kaula atau kerajaan nya? Ternyata kemudian tokoh Jailangkung memang tampil lebih dominan dibanding dengan Jailangse. Demikian juga yang terjadi di penjara-penjara tapol (laki laki) Salemba
dan Tangerang. Tradisi dominasi laki-laki atau raja/kerajaan ala Tionghwa itu yang dianut. Saya tidak tahu, apakah di penjara-penjara perempuan, Bukitduri (Jakarta) dan Bulu (Semarang - "Kadospundi, mBakyu Mia?") misalnya, tapol di sana juga menyukai permainan ini? Juga kamp konsentrasi para pembesar di Nirbaya? (Gimana di sana Mas Wah?) Dan apakah juga berkecenderungan pada animisme Tionghwa dan kelaki lakian, ataukah tetap mempertahankan animisme Jawa yang dikuasai seorang Nini?
Entah bagaimana jadinya kebenaran kata-kata Jailangkung kelak, itu urusan kelak. Tetapi sekarang, keluh dan kesah mereka ada yang mau mendengar, pertanyaan mereka pun ada yang mau menjawab. Lalu mereka akan tidur dengan damai, dan menghadapi hari esok dengan senyum kembali ...
Tefaat Buru Sebagai Antitesis
SEPERTI namanya telah menyatakan, Pulau Buru merupakan tempat pemanfaatan (tefaat) tapol. Atau lebih jelas jika dinyatakan secara terbalik: tempat tapol dimanfaatkan. Apabila ketika masih di penjara, tapol hanya dikurung di dalam sel, maka di tempat pemanfaatan ini mereka justru "dilepas". "Dibiarkan" mereka itu hidup di tengah-tengah keganasan alam, untuk dibebani dengan seribu satu "harus" dan diawasi oleh intaian berpasang-pasang mata sangkur dan laras senjata. Kendati demikian Buru sebagai tempat pemanfaatan lebih memberikan kemungkinan bagi tangan-tangan penciptaan tapol untuk berkiprah.
Tapol di Indonesia Orde Baru kira kira bisa diperbandingkan dengan budak budak peradaban dunia sepanjang sejarah bangsa mana saja. Dari tangan budakbudak ini berdirilah monumen monumen seperti Borobudur (Jawa), Tembok Besar (Tiongkok), piramida (Mesir), dan lain sebagainya. Monumen monumen perkosaan kemanusiaan, tetapi bukan nya tanpa nilai nilai keindahan dan kebesaran yang menjadi abadi dalam sejarah.
"Engkau menciptakan malam, dan aku membikin pelita Engkau menciptakan tanah liat, dan aku membikin
tembikar
Engkau menciptakan gurun pasir, gunung gemunung, dan
hutan belukar
Dan aku membuka sawah, ladang, dan kebun buah buahan
Aku lah yang mengubah batu menjadi cermin
Dan aku lah juga yang mengubah racun jadi penawar."
Apa yang dikatakan Iqbal [1873-1938] benar belaka. Daya kreasi dan inovasi manusia sungguh luar biasa apabila kesempatan untuk itu dimungkin kan. Di penjara Salemba, dengan bahan segala macam sampah dan batu sebagai alat, tapol bisa membikin berbagai-bagai macam barang. Kaleng susu cap bendera menjadi kompor minyak atau lilin, kantong plastik menjadi tas dan bahan pengganti kertas atau lebih tepat "lontar", sendok alpaka menjadi jarum akupungtur, tulang dan batok kelapa menjadi pipa rokok, pecahan kaca menjadi pisau cukur, sisa-sisa gombalan menjadi hasil kerajinan sulaman warna-warni
yang indah, dan lain-lain nya lagi. Semua itu tanpa alat, kecuali tangan, dan barang barang yang dapat ditemukan di sekeliling!
Seperti sudah dikemukakan, di Buru kesempatan berkreasi menjadi lebih luas. Oleh sebab itu sudah di dalam bulan-bulan pertama, di setiap unit orang bisa mendengar suara suling, petikan kecapi, gesekan biola atau petikan gitar; mendapati barang barang anyaman dari bambu, pandan, atau rotan; ukiran kayu dengan berbagai gaya pola desain. "Tai pun kalau sudah dicat oleh tangan tapol, tonwal akan berebut memilikinya!" Itu kata kata Kapten Ahmad Nur, Dan Unit XIV Bantalareja, yang aku dengar dan aku tulis secara harfiah belaka. (Ketika itu aku Koordinator Unit XIV).
Tetapi yang lebih mencolok dari semuanya itu,
ialah terbukanya berpuluh puluh hektar sawah dan ladang unit, di sampiug berpuluh puluh hektar lagi kebun kebun barak di tengah hutan, yang tetap tersembunyi dari tilikan dan intaian mata penguasa.
Semua nilai itu dihasilkan tapol. Pada satu pihak, di celah-celah intaian mata penguasa yang tajam
dan ganas; dan pada pihak lain, di sela-sela kesempatan yang terlalu sempit, yaitu pada saat istirahat kerja siang hari, yang hanya sekitar tiga puluh sampai enam puluh menit lamanya. Kelak, jika tefaat telah berumur sekitar lima tahun, dan cara pemanfaatan tenaga tapol sudah menjadi lebih canggih, kelonggaran kelonggaran tertentu dirasa perlu diberikan bagi tapol. Pada wartu itulah tapol semakin berkiprah. Lalu terciptalah berbagai "penemuan" dan pembaharuan atas perkakas dan cara kerja, seperti misalnya: penggilingan padi, pemipil atau perkakas penanggal biji-biji jagung dari tongkol nya, blower, gerobak angkutan, pipa leding dari bambu, dan lain lainnya lagi. Pada satu pihak demi kelangsungan hidup, efisiensi memang menjadi tuntutan wajar; namun pada lain pihak, efisiensi itu sekaligus juga membawa konsekuensi pelipat gandaan intensitas penindasan. Dan bagi tapol ini tidak lain hanya ibarat menggali lubang kubur diri sendiri. Karena itu tidak setiap tapol bersikap positif terhadap setiap usaha penemuan dan pembaharuan tersebut.
Seni dan Hiburan Sebagai Aspek Pemanfaatan
SEMUA unit di Tefaat Buru, kecuali unit isolasi Jiku Kecil yang sesudah dipindah (1974) dikenal sebagai "Unit Ancol" [karena dibangun di daerah pasang laut], mempunyai gedung kesenian masing masing. Memang dinamai "gedung", walaupun bagi saya lebih mendekat kan ingatan pada bangunan "Bale Sigalagala" (balai bambu; galah = bambu), tempat keluarga Pandawa dan Kurawa bermain dadu, awal malapetaka ketika Pandawa harus dibuang selama tiga belas tahun! Gedung Kesenian lama Unit IV Savanajaya, sebelum "gedung" yang baru didirikan tahun 1974, memang dijuluki oleh tapol setempat sebagai "Kandang Sapi", entah karena kemiripan bentuk nya dengan kandang sapi, atau karena letak nya yang tak jauh dari Barak Kandang Sapi.
Bagaimanapun juga "gedung" kesenian di unit-unit itu dilengkapi dengan panggung, bangku bangku tempat duduk untuk lebih dari 500 penonton, dua perangkat gamelan Jawa slendro dan pelog, dan layar layar dekor untuk pementasan "drama modern" dan "drama tradisional", yang terbikin dari bahan semacam sisal bekas bekas kantung pupuk. Semuanya dibangun dan
dibikin oleh tapol, rata rata sudah dalam tahun pertama atau kedua umur unit yang bersangkutan.
Wayang kulit semula hanya ada di Unit IV Savanajaya, kemudian dipindahkan ke Markas Komando (Mako) Tefaat, mengikuti di mana Ki Dalang Tristuti Rachmadi Suryoputro BA berada. Dalang yang berasal dari Purwadadi Jawa Tengah, dan Sekretaris Lekra Cabang Purwadadi ini, pernah diberi gelar dan hadiah dalang terbaik Indonesia oleh Festival Pedalangan se Indonesia 1964.
Berbeda dengan gamelan yang terdapat di semua
unit, instrumen musik "lengkap" untuk sebuah band hanya terdapat di Mako. Konon hadiah dari Departemen Sosial Jakarta untuk Tefaat Buru, yang terjadi pada akhir masa jabatan Kol. AS. Rangkuti selaku Dan Tefaat Buru. Beberapa instrumen musik yang terdapat di unit unit merupakan bikinan dan milik perseorangan tapol di barak barak, cukup untuk membentuk sebuah orkes kroncong atau irama Melayu dan irama Padang Pasir (sekarang dikenal sebagai dangdut).
Pada akhir masa ,jabatan Komandan Tefaat Buru (Dan Tebu) Kolonel AS. Rangkuti (1973), komando tefaat membentuk sebuah kelompok musik yang dinamai "Band Markas Komando" (Bandko), di bawah pimpinan Basuki Effendy dan Subronto Kusumo Atmodjo. Pada awal masa jabatan komandan berikut (Kol. Samsi MS), pengelompokan tapol atas dasar "profesi" itu diperluas dan dimantapkan. Yaitu dengan ditempatkan nya kelompok kelompok tersebut di dalam barak barak yang dibangun di kompleks bangunan Mako. Dengan demikian tapol tapol "profesi" ini, sejak itu, di bawah pemanfaatan dan pengawasan Mako, dan tidak lagi unit asal masing-masing yang bersangkutan.
Kelompok kelompok "profesi" itu ialah: "kelompok
insinyur", yaitu sebutan untuk kelompok
tapol yang bertugas sebagai staf tata usaha Mako, di mana terdapat beberapa insinyur bangunan dan pertanian; "kelompok kru", yaitu crew atau "awak kapal" sampan bermotor milik Mako; kelompok karawitan dan pedalangan Jawa; kelompok pelukis, di mana terdapat antara lain pelukis-pelukis Permadi Lyosta (dari sanggar "Pelukis Rakyat" Yogyakarta, yang didirikan oleh Hendra Gunawan dkk), Sumardjo (dari sanggar "Seniman Indonesia Muda", yang didirikan oleh Affandi dan S. Sudjojono), Gultom (dari sanggar "Bumi Tarung", yang didirikan oleh Amrus Natalsya); kelompok tukang dan perajin - terutama kerajinan ukiran kayu.
Pada sekitar waktu itu juga lah Pramudya Ananta
Toer dipisah kan dari kawan-kawan nya di unit, dan diperlakukan serta ditempatkan di ruang tersendiri. Mula-mula di gedung kesenian Unit I Wanapura, dan selanjut nya di kompleks Mako sesudah markas ini pindah dari Namlea ke tepi Sungai Wai Apo, di areal antara Unit I Wanapura dengan Unit II Wanareja. Tugas pokok yang dibeban kan penguasa pada Pramudya ialah menulis dan menulis saja.
Kolonel Samsi MS yang cerdik itu juga mengubah "budaya militer" menjadi "budaya budak". Perubahan yang dalam praktik seakan-akan memberi angin kepada tapol, tapi dalam hakikat sesungguhnya justru lebih busuk. Misalnya dalam hal apel. Dia berkata kurang lebih:
Prinsip apel ialah menghitung kekuatan tenaga
kerja manusia, dalam hal ini tapol. Karena itu tidak harus dengan baris berbaris dan berhitung secara
militer. Cukup dengan apel kentongan atau "apel sapi" (sic!). Ini menghemat waktu. Supaya mereka segera bisa ke tempat kerja masing masing, dan memulai pekerjaan yang sudah digariskan. Karena, justru untuk inilah tapol dibawa ke Buru. Untuk dimanfaatkan. Kecuali itu, masih kata Kolonel Samsi MS, apel sapi juga untuk menghindari kesalahan dalam baris berbaris atau berhitung dan akibat-akibatnya, yaitu pemukulan dan penyiksaan oleh petugas terhadap tapol. Padahal wajar saja jika tapol tidak pandai berbaris, karena mereka memang bukan tentara. Lalu kalau mereka disiksa, jatuh sakit, masuk rumah sakit, dan tidak bisa bekerja siapa yang rugi? Proyek Tefaat! Dan siapa yang harus bertanggungjawab ke Pusat? Bukan Tonwal (Peleton Kawal), bukan Dan Unit, tetapi saya!
Oleh karena itu para Dan Unit dan Tonwal memberi kepanjangan huruf huruf "MS" di belakang nama Dan Tebu ini sebagai "Menang Sendiri". Samsi yang mau Menang Sendiri. Tetapi toh sedikit lebih baik ketimbang pendahulu nya: Rangkuti, yang kependekan dari "Barang Barang Diangkuti".
Tarik Tambang Dengan Seni Dan Hiburan
PADA saat saat tertentu rombongan karawitan dan pedalangan dan bandko tersebut mendapat perintah untuk menghibur para petugas Mako, dan setiap dua atau tiga bulan sekali berkeliling ke unit unit untuk memberi hiburan bagi tapol dan petugas di sana. Tema pergelaran ditentukan sebelumnya, dan "balungan" lakon harus diajukan jauh jauh hari ke Staf I/Intelijen Mako. Ketentuan yang sama berlaku juga bagi teks-teks lagu yang akan dinyanyikan. Karena itu maka dalam pandangan sementara tapol kegiatan seni atau hiburan seperti ini merupakan kegiatan yang sia-sia belaka. Lebih dari itu bahkan ada yang menilainya sebagai perbuatan khianat. Sia sia, oleh karena paling jauh hanya nilai hiburan yang bisa dicapai. Khianat, oleh karena hiburan bagi tahanan, seperti istilah itu sendiri sudah menjelaskan, hanya berarti sikap menipu diri sendiri. Dan itu tidak lain selain sikap hipokrisi terhadap realitas belaka. Kegiatan hiburan di dalam kamp, demikian mereka menyimpulkan, hanyalah kegiatan pengabdian kepada musuh.
Memperhatikan penalaran demikian itu, aku ingat sebuah novel "Exodus" (Leon M. Uris, 1958), yang kubaca ulang ketika aku di tahanan "Ikan Paus" di Cilandak. Di dalam novel itu dikisah kan tentang bagaimana orang orang Yahudi di kamp kamp tahanan mereka mengisi "waktu kosong". Misalnya, bermain teater sebagai payung latihan kemiliteran, latihan menyanyi bersama sebagai payung pendidikan ideologi, dan berbagai bagai cara kerja konspiratif lainnya. Tetapi, bantah ku sendiri, novel mempunyai realitas nya sendiri. Suatu realitas yang terkadang jauh dari realitas kongkret, justru karena alasan kebebasan kreasi itu.
Tapol mempunyai istilah istilah khusus untuk berbagai kegiatan hiburan atau seni itu. Beberapa di antaranya ialah: "korve gurung" atau "korve kerongkongan" untuk menyanyi; "korve besi" untuk menabuh gamelan; "korve kawat" untuk bermain musik, karena sebagian besar instrumen berupa instrumen petik
dan gesek yang bersenar kawat; "korve mata" untuk tapol penonton; "korve keplok" untuk bertepuk tangan, karena setiap nomor acara berakhir, tapol penonton wajib bertepuk tangan. Kecuali itu ada lagi yang di sementara unit dikenal sebagai (maaf beribu maaf!) "korve lendir" (maksudnya sperma), ini untuk tapol "tandak" yang mendapat tugas Komandan untuk menemani tidur di wisma, entah bersama dirinya sendiri atau jika ada tamu dari "pusat".
Bahwa semua sebutan itu didahului dengan kata korve, yang sebagai jargon penjara memperoleh arti lebih tegas, yaitu kerja wajib di luar jam kerja (barang tentu tanpa upah), adalah petunjuk bahwa tapol sadar akan adanya ketidak bebasan itu.
Namun, apa pun hasil akhir yang akan dicapai, apakah bernilai seni ataukah bernilai hiburan, bagi para seniman dan pemain yang bersangkutan khususnya, kegiatan kegiatan yang mereka lakukan itu sama sekali bukannya tidak bermanfaat. Sebab dengan jalan demikian mereka bisa mempertahankan, bahkan tidak mustahil mengembangkan kemampuan teknis masing-masing. Kecuali itu hendaknya diingat, bahwa betapapun bengisnya sesuatu sistem kekuasaan menindas kebebasan berkreasi, namun tidak akan pernah ia mampu menumpas seniman dan karya mereka sama sekali. Sebab, hanyalah cara dan bentuk kreasi bisa ditindas. Tetapi isi dan proses kreasi tidak.
Seni tidak hanya lahir di bawah terang kandil
kandil istana dan gereja. Juga dalam gelapnya penindasan seni bisa lahir. Dan seni yang lahir dalam kegelapan itu akan tetap seni juga, sebagaimana intan yang keluar dari mulut anjing sekali pun, tidak akan berubah menjadi beling. Tidak kah dari haribaan Dewi Amaterasu Omikami, yang di Indonesia mengejawantah sebagai militerisme Jepang, telah lahir malinkundang malinkundang bernama Chairil Anwar, Cornel Simandjuntak pelopor musik Indonesia baru, Dr.Huyung pelopor pembaharu seni pentas dan film? Tidak kah periode "remuk rusak" (sebutan sarkasme rakyat untuk "romusha") telah menggugah kembali ingatan orang kepada wayang beber yang telah lama tertimbun sejarah, dan yang pada giliran nya mengilhami penciptaan wayang suluh, wayang revolusi, wayang pancasila, wayang wahyu, dan semacam nya?
Seni dan Pertandakan
Penjara Dunia Abnormal?
SELAIN kalangan tapol yang bersikap menentang kegiatan seni dan hiburan atas dasar ideologi dan politik seperti tersebut di atas, ada lagi kalangan tapol lain lagi, yang mencari cari dalihnya pada alasan moral (dalam hubungan ini perlu dipertegas lagi: "moral komunis"!).
Adanya kegiatan panggung, kata mereka, berarti membuka lahan subur untuk lahirnya tandak tandak. Dan perihal pertandakan ini, bagi pandangan tapol komunissok-moralis yang menilai diri sendiri (yang komunis) sebagai supermens itu, mendapat cap moral yang terburuk dari segala yang buruk: moral feodal, moral burjuis, moral kriminil! Selanjutnya mereka juga mengatakan (yang untuk sebagian memang benar), bahwa pertandakan
akan mengakibatkan banyak terjadinya perkelahian antartapol, bacok bacokan, pencurian, dan seribu satu akibat akibat buruk lainnya. Namun dari semuanya itu, masih menurut kata mereka, akibatnya yang terakhir dan terpenting ialah, bahwa "kontradiksi pokok tapol vs. penguasa akan bermutasi kepada kontradiksi non pokok antartapol.
Tapol-tapol komunis-sok-moralis itu memang pandai merakit rumusan teoretis. Tapi lupa (ya, mudah mudahan hanya "lupa", dan bukan karena tidak mau tahu) pada kenyataan. Misalnya: (1) bahwa salah satu unit yang berpenghuni 450 tapol (yaitu Unit V Wanakarta), dengan frekuensi hiburan tidak lebih dari unit-unit lainnya, toh mempunyai tandak tak kurang dari 70 pasang; (2) bahwa ada Komandan di sebuah unit (Unit XVII Argabhakti) yang membentuk barisan "dara-dara" Sabang Merauke Bhineka Tunggal Ika; (3) bahwa ada Komandan atau Wadan (Wakil Komandan) di sementara unit, yang "memelihara" tapol tandak di wisma mereka; (4) bahwa ada pula Komandan Unit yang, berkongsi dengan perempuan penduduk setempat, yang dikenal bernama Ibu Fatimah (Unit III Wanayasa dan Unit IV Savanajaya), membuka usaha pelacuran di kawasan unit mereka; dan bahwa (5), inilah yang lebih penting lagi, tandak tidak tiba tiba lahir sesudah di Buru, tetapi sudah ada sejak tapol masih hidup dikurung di dalam sel siang dan malam di kamp kamp di Jawa.
Pendek kata, hendak lah diketahui, bahwa umur pertandakan tidak semuda umur bangunan penjara. Di jaman Ratu Sima (abad ke-4M) di Jepara, Pulau Jawa belum punya rumah penjara. Tapi, dalam Kitab Perjanjian Lama, kisah Sodom-Gomorah sudah mendapat tempat untuk ditulis, selagi Kitab Kejadian baru sampai pada ayat nya yang ke-19.
Pertandakan bukan lah sisi atau gejala moral feodal, atau burjuis, atau kriminil, atau ketiga tiganya menjadi satu sekali pun! Tidak. Ini adalah aspek cinta dalam situasi dan kondisi khusus, yang bisa tumbuh pada manusia sembarang -- dari mana pun "asal klas"-nya.
Gejala pertandakan di penjara dan di kamp pengasingan mana saja, bukan terdorong
oleh nafsu syahwat, sebagai bentuk primordial hasrat melangsungkan jenis. Tapi terutama lebih disebabkan oleh tuntutan naluri dasar yang Iain, baik sebagai Manusia ("biological animal") yaitu hasrat untuk mencinta dan dicinta, maupun sebagai Orang ("political animal") yaitu kerinduan akan kebebasan. Bebas untuk membisik kan keluh kesah serta impian diri antara sesamanya.
Sesama tapol di Buru memberikan cap kepada kawan kawan mereka yang terlibat kehidupan pertandakan itu sebagai menderita "sakit mata". Perhatikan kata "sakit" itu. Oleh karena "sakit mata" mereka, maka mereka lalu tidak lagi bisa membedakan antara laki laki dan perempuan, dan akibat nya jadilah mereka tandak. Bahwa cap yang lazim berlaku bersifat negatif, itulah pertanda tentang betapa dominan pandangan golongan moralis tersebut di atas. Dominasi ini pada giliran nya mendapat legitimasi ideologis dan politis, dengan melalui campur tangan sistem kekuasaan yang mengeksploitasi situasi ketergantungan atau kehampaan jiwa sejumlah tapol yang bersangkutan.
Sementara itu pengaruh budaya militer tidak hanya terbatas pada tapol di unit unit. Tetapi bahkan juga
meluas di kalangan bocah bocah lepas balita, anak anak penduduk setempat di sekitar unit. Mereka ini tidak lagi bermain latih menumbak sasaran berupa buah jeruk yang digantung atau digelindingkan, tapi bermain perang perangan dengan bedil bedilan kayu atau bambu. Tokoh komandan dan tentara menjadi tonggak acuan bagi dunia angan-angan mereka tentang hari depan. (Lebih lanjut lihat sumbangsih saya dalam "Perjalanan Anak Bangsa"; LP3ES 1982: 296-300).
Goyahnya Dimensi Simbol
DI BURU sensor militer terhadap hasil daya cipta
tapol, baik di atas panggung hiburan maupun di tengah tempat kerja berlaku sangat keras. Dengan sekedar bertujuan untuk memperlihatkan kekuasaan, dan atas dasar itu menjatuhkan hukuman bagi tapol yang bersangkutan, terkadang sesuatu alasan terasa benar benar diada ada saja. Di bawah ini beberapa contoh.
Basuki Effendy seorang aktor dan sutradara film.
Salah satu film karyanya, "Si Pincang", mendapat penghargaan internasional pada festival film di Praha awal 1960-an. Suatu hari ia dipermak, istilah tapol untuk "disiksa" sampai muka dan tubuh berubah bentuk. Apa jalaran nya? Oleh karena ia menyanyikan lagu "Come Back To Sorento". Bahwa lagu yang mengandung kata "come back" ini telah dipilih untuk dinyanyikan olehnya, itu lah "hint" yang hendak dilempar si penyanyi untuk mengkambek-kan PKI!
"Apa itu kambek kambekan, hah!?" Hardik Dan Unit XIV Bantalareja Lettu Sukirno, sambil memukuli Basuki seperti petinju menghadapi karung pasir.
Lie Bok Hoo dikipas, yaitu ditampari tak kunjung henti, sehingga gerak tangan si penampar seperti gerakan kipas. Ia dituduh menyerukan isyarat melarikan diri melalui lagu irama Melayu (sekarang "dangdut") "Larilah, Hai Kudaku!" yang dinyanyikan nya.
Sudarno As., Unit IV Savanajaya, guru Taman
Siswa dan pemimpin Lekra Cabang Cilacap, penggubah beberapa tari kreasi baru (al. "Tari Kupu Kupu" dan "Menjala Ikan") digulung oleh Tonwal. Ini istilah lain lagi untuk "disiksa" sampai tergulung-gulung. Ia dituduh mengadu domba Divisi Siliwangi dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Fakta yang dipakai sebagai alasan tuduhan, yaitu gunungan wayang kulit yang dibikin nya. Seperti diketahui, di dalam gunungan selalu terdapat rupa rupa bentuk tatahan. Salah satu di antaranya tatahan yang melukiskan seekor harimau dan seekor banteng saling berhadap hadapan.
Sawal disiksa sampai retak tulang iganya, dan berbulan bulan menghuni rumah sakit, karena taman bunga yang (atas perintah Komandan Peleton) dibikinnya di depan wisma. Tanpa ia sendiri menyadari, ternyata guludan tanah untuk lahan tanaman bunga-bunga itu terdiri dari tujuh jalur guludan. Wadanton dan Mantri Tani alias Gusgastan (Gugus Tugas Pertanian) menafsirkan nya sebagai tujuh gundukan kuburan Tuparev (Tujuh Pahlawan Revolusi).
Masih banyak contoh contoh lain semacam itu.
Misalnya larangan penggunaan simbol simbol yang berkonotasi dengan faham kiri, dan terlebih lebih dengan faham komunisme. Misalnya kata kata bung, rakyat, kawan, arit, palu, panji, marhaen, gambar kepala banteng, bilangan tiga atau tri (ingat istilah "Tripanji Program PKI"), warna merah, lagu Blanja Wurung, Genjer Genjer, dan banyak lagi.
Tetapi lebih dari semuanya itu, bahkan kata "sakit" atau "dingin" dilarang untuk menyatakan konsep tentang rasa sakit dan rasa dingin itu. Peristiwa berikut ini banyak terjadi pada hampir semua unit sekitar tahun-tahun 1971-1973. Tapol dengan keluhan
sakit perut, tentu saja dengan maksud berobat, pergi ke "rumah sakit" unit. Barangkali memang sudah tertulis dalam skenario mereka, di rumah sakit, banyak kali terjadi tapol pasien tidak diterima oleh mantri kesehatan, tetapi oleh Wadan Unit atau atau Mantri Tani. Menerima si pasien duduk di kursi di depan meja nya, mengambil kartu berobat dari kotak penyimpan nya, Pejabat Kuasa Mantri Kesehatan itu lalu memerintahkan si penderita sakit perut agar berdiri. Menduga akan segera diberi pel atau apa, tanpa ragu si penderita berdiri. Tiba tiba bukan obat yang ditertimanya, tapi dihujaninya perut Tapol itu dengan tinju sang Mantri bertubi-tubi, sambil setiap kali dibarengi nya dengan guntur mantra-mantra nya:
"Mana sakit? Sini? Atau sini? Masih sakit?" Dan
seterusnya dan seterusnya.
Obat murah lagi cespleng itu baru berhenti diberikan (betapa dermawan nya, bukan?) jika si Tapol sendiri sudah mengaku sembuh dan menjawab:
"Aduh sudah Pak! Sudah sudah sudah, Pak!" Teriak
nya megap-megap.
"Sudah sudah, apa? Masih sakit atau sudah sembuh?" "Sudah, Pak. Sudah sembuh ...!"
Dan dengan jawaban yang terdengar itu, maka penguasa unit lalu memerintah kan si Tapol agar segera berlari, meninggalkan rumah sakit dan menuju ke tempat kerja. Mereka, dengan perintah nya itu tidak perlu lagi takut dituding oleh Palang Merah atau Amnesti Internasional, sebagai tidak berperikemanusiaan atau tidak pancasilais.
Tapol lain lagi pergi ke rumah sakit dengan keluhan dingin karena demam malaria. Obat murah yang diberikan Pak Mantri sebangsa buah simalakama, namun jauh lebih mujarab dari buah bernama sama yang dikenal di dalam dongeng Melayu. Simalakama dongeng Melayu jika dimakan ayah mati, jika tidak dimakan ibu yang mati. Tapi buah simalakama proyek kemanusiaan Buru (bukan dongeng!), dimakan atau tidak dimakan dia toh pasti mati. Buah itu berupa perintah: Berlari memutari lapangan apel yang kira kira satu setengah kali luas lapangan sepak bola. Si Tapol, ketimbang digebuk karena dituduh melawan perintah, memilih patuh. Lari dan terus lari, sampai akhirnya roboh dan pingsan. Atau, merasa tidak akan kuat berlari, si Tapol berhenti sebelum sepuluh langkah, dan kapitulasi. Menghadap Mantri Kesehatan yang menunggu di pinggir lapangan, didampingi satu dua Tonwal, bersikap sempurna, dan melapor:
"Lapor! Tidak dingin lagi Pak!" Serunya dengan
suara gemetar, dan badan seperti melayang layang setengah mimpi. Mantri Kesehatan, si penemu brilyan resep anti-malaria ini, ternyata juga seorang yang
pandai bermain kata. Sahutnya:
"Dasar Abunawas! PKI! Pembohong! Pemalas!" Dan seribu satu kata sumpah serapah lain nya. Lalu, sambil mengancam kan tongkat pemukul nya, teriak: "Kerja! Kerbau pun harus kerja jika mau makan!"
Abunawas.
Di dalam dongeng Seribu Satu Malam ala Jawa, dia
tokoh yang tak terpisahkan dari nama Sultan Harun Alrasyid. Tokoh lambang wong cilik yang arif dan panjang akal. Tiba tiba di sini, di Tefaat Buru, oleh para petinggi negara yang mengaku diri sebagai paling pancasilais dan paling kuasa serta paling tahu segala itu, Abunawas tidak lain adalah nama bagi pembohong dan pemalas. Tapi, bahwa ia diidentik kan dengan tapol yang bercap komunis, barangkali mereka itu tidak terlalu salah.
Di tengah kehidupan tapol di Buru lambang lambang
terasa menjadi aus. Nilai nilai berkembang sedemikian intens, dan konsep konsep dari dunia bebas menjadi tertinggal perkembangan. Karena itu seribu satu konsinyes dan larangan yang ditetap kan oleh penguasa militer di unit unit menjadi terasa berlebihan belaka. Kata "kawan", misalnya. Kata ini telah kehilangan semangat politik dan nafas ideologi nya, sehingga karenanya sudah menjadi terlalu lemah untuk mewadahi ide "comrade in arms". Bahkan lebih dari itu malah! Kita kembalikan pada konsep nya di "jaman sastra Melayu" pun, yaitu sebagai sinonim kata "kelompok" atau "[se]kutu", kata "kawan" ini sudah tidak lagi pas benar. "Kawan" tinggal sepatah kata lain untuk "teman". Walaupun begitu penggunaan nya di Buru toh tetap dilarang.
Pada tahun 1960-an awal, aku bersama seorang penyair Indonesia (sebut saja namanya Wisnu) melawat ke RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Di salah satu tempat kami disambut gadis gadis remaja pionir berpita merah. Lalu, setiba kami kembali di hotel, dari jari jari Wisnu lahir lah sebuah sajak pendek tapi pekat, berjudul "Gadis Berpita Merah". Sajak yang segar melodius, sekaligus merupakan lukisan angan angan penyair tentang "remaja sosialisme" RRT saat itu. Warna merah telah memukau dan menggetari keharuan penyair Wisnu.
Di Buru suatu hari aku melayat teman yang mati
tertimpa kayu. Kepala nya pecah, otak nya muncrat. Warna dan bau darah dan otak itu, pada pemandangan dan penciuman siapa saja, toh tidak mungkin berubah. Tapi, nyatanya, pesan yang aku tangkap jelas terasa sudah berubah. Sebab, kesan seketika yang terbentuk padaku bukan lah rasa haru atau rasa semacam nya. Tapi hanya berupa kembali nya ingatan lama tentang sebuah cerita wayang. Yaitu cerita mati nya dua raksasa Mahesa Sura (raksasa berkepala lembu) dan Jatha Sura (raksasa berkepala babi hutan), di Gua Kiskenda. Satu adegan kejadian dari episode Subali merebut Dewi Tara dalam kisah Ramayana.
"Apa aku sudah tidak waras?" Tanyaku pada kawan yang berdiri di sisiku. Siapa waktu itu, Tedja Bayu atau Sundoro?
"Kenapa?" Tanyanya balik.
"Kenapa aku tidak terharu?"
"Apa itu haru?" Kembali ia bertanya. "Seandainya kamu pelukis naturalis lah katakan,
apa darah masih tetap berwarna merah?"
Tidak kudengar jawaban. Tapi barangkali ia pun sibuk mencari kata pengganti untuk merah nya darah dan amis nya otak yang pecah?
Di depan wisma atau pos penjagaan serdadu
pengawal, tapol biasa melihat kejadian sesama kawan nya disiksa. Ya, melihat saja. Tanpa hendak dan tanpa bisa berbuat apa apa. Dan jika kejadian penyiksaan terlihat tidak sebanyak seperti sedia kala, apa lagi kalau sama sekali tidak terlihat, dari balik pintu barak tapol tapol akan berkomentar: "Kok tumben sepi hari ini, ya?"
Dengan pertanyaan yang demikian itu, tidakkah
suatu pertanda, bahwa bagi tapol makna "siksa" atau "siksaan" sudah menjadi menciut? Atau malah terlalu lebar, sehingga tak keruan lagi hingga mana batasnya! Ya, bahkan pepatah lama pun sudah mengajarkan, "hilang bisa karena biasa". Maka selama "siksa" masih dalam batas batas ketahanan tapol, menjadilah yang siksa bukan lagi siksa, melainkan justru menjadi semacam "kontrapunkt" di dalam kehidupan musik mereka seharihari.
Walhasil sebuah pertanyaan: Apakah semuanya bukan merupakan pertanda, bahwa bagi tapol dituntut adanya suatu "umwertung" terhadap hubungan antara konsep konsep dan lambang lambang? Mungkinkah seandainya riwayat Tefaat Buru tidak "segera" berakhir, akan lahir abstraksionisme dalam sastra dari tengah tengah mereka itu?
Beberapa Karya Seni Dan Hiburan Dari Buru
DARI perspektif tersebut di atas bisa kita terima kebenaran kata pepatah: "Ikan di dalam akuarium tidak bisa melihat diri nya sendiri". Ini lah barangkali jawaban hipotetis untuk pertanyaan, mengapa dari sekian banyak sastrawan, wartawan dan penulis skenario film/drama yang ada di Buru, hanya satu dua orang saja yang bisa menulis? Termasuk di dalam yang "satu-dua" ini baiklah saya kemukakan menurut urutan banyak nya karya yang mereka hasil kan. Mereka itu ialah:
Pramudya Ananta Toer, sejak 1973/74 "dimakokan" dengan tugas menulis. Karena itu data yang tercantum pada halaman penutup "Bumi Manusia" (PT Hasta Mitra 1980: 328) tertera: "Buru lisan 1973. Tulisan 1975)". Tetapi hendakya diketahui, bahwa sebelum roman ini ditulis, sesungguh nya Pramudya sudah menulis (paling tidak) dua karya berupa skenario.
Yang satu skenario untuk cergam berjudul "Oroh", sebuah cerita fiksi sejarah tentang Nusantara sejak Manusia Trinil; dari ketika orang Nusantara masih berbahasa onomatopea, belum mengenal kata-kata lebih dari dua suku, sampai ketika telah masuk dua aliran Buda Mahayana dan Hinayana. Yang lain ialah skenario untuk lakon panggung berjudul "Ki Ageng Mangir", sebuah cerita tentang ditumpasnya republik desa terakhir di Jawa bernama Mangir, dalam abad ke-16 oleh lasykar Panembahan Senapati, pendiri dinasti Mataram kedua.
Di samping dua skenario tersebut Pramudya, dari
ingatan sendiri dan teman teman nya sesama tapol, juga memulai mengumpulkan bahan untuk menyusun sebuah ensiklopedi budaya. Ensiklopedi yang direncanakan bersifat deskriptif dan akan berjudul "Ensiklopedi Citrawi Indonesia" ini diketik di atas kertas seadanya,
termasuk kertas bekas kantong semen. Saya kira naskah ini ditulis nya, pada satu pihak sengaja sebagai payung untuk novel politik tentang kebangkitan nasionalisme yang empat jilid itu, dan pada pihak lain sebagai bahan "laporan" setiap Sabtu, atas "tugas menulis" yang dibebankan kepada nya oleh Dan Tebu.
Nama kedua ialah penyair Amarzan Ismail Hamid,
yang selama di Buru tidak pernah memegang arit dan pacul menghadapi areal pembabadan dan lahan pertanian, melainkan selalu memegang pensil dan menghadapi mesin tulis di kantor Unit XVI Indrakarya. Dari tangannya lahir naskah naskah panggung pesanan penguasa, untuk merayakan hari hari besar keagamaan khususnya hari hari keagamaan Katolik/Kristen. Sebuah sajak berjudul Bintang Betlehem, yang ditulisnya dalam rangka pertunjukan panggung, kemudian diberi notasi musik untuk paduan suara oleh Subronto K. Atmodjo. Dipergelarkan pertama pada perayaan Natal 1974 di Unit XVI Indrakarya, kemudian diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia Jakarta pada 1979 (dengan tambahan narasi oleh Yulius Siyaranamual), sesudah baik Amarzan maupun Subronto "dikembalikan ke masyarakat" di Jakarta. Bahwa DGI di Jakarta menyambut usaha Amarzan ini ternyata dari penghargaan berupa hadiah mesin tulis yang diberikan kepadanya (1976).
Tokoh ketiga HR. Bandaharo atau Banda Harahap. Selain oleh alasan umur dan kesehatan, tentu juga oleh pengetahuan nya tentang agama Islam (di Medan Banda pernah menjadi guru sekolah menengah Muhammadiyah), ia mendapat tugas sebagai penjaga mesjid di unit nya, Unit XVIII Adhipura. Satu sajak berangka tahun 1975, "Aku Hadir Di Hari Ini", terdapat di dalam kumpulan nya "Sepuluh Sanjak Berkisah" (SKBSI/World Citizen Press; Amsterdam 1987/89). Sajak ini jelas diambil dari kumpulan nya yang sudah terbit lebih dahulu, yaitu "Dosa Apa", dengan kata pengantar Joebaar Ajoeb (Inkultra; Jakarta 1981), yang berisi dua belas sajak panjang, renungan dan jawaban nya terhadap "periode musibah" yang dialaminya selama 1965-78.
Boejoeng Saleh atau Saleh Iskandar Puradisastra.
Ia menuturkan kembali dongeng Pranacitra Rara Mendut (Jiku Kecil, Agustus 1971), dan menulis "Under The Firing Squad" (Unit XV Indrapura, 1973), selama ia mendapat tugas sebagai perawat barak dan ternak unggas milik barak. Juga dengan alasan sama seperti Bandaharo, karena umur lanjut dan fisik lemah.
Samandjaja atau Oei Haidjoen. Ia menerjemahkan sebuah buku tuntunan akupungtur, dan karya klasik Plato "Politea", melalui edisi buku saku berbahasa Inggris (Unit XV Indrapura, 1976-78).
S. Anantaguna menulis karangan panjang tentang kebudayaan nasional, dengan tulis tangan sekitar tigaempat buku tulis (lk. 100 halaman, Unit XV Indrapura).
Nusananta, nama pena drs. Harsono Setiadi.
Diilhami "Bumi Manusia" ia menulis novel tentang buruh perkebunan gula tebu di Jawa Timur (Unit III Wanayasa, 1976-78). Novel ini tidak pernah selesai, sampai saat ia meninggal di Yogya tahun 1983.
Rivai Apin. Ia menulis catatan catatan kecil yang
tidak selesai, tentang peristiwa peristiwa penting di unitnya (Jiku Kecil, 1971-73), dan satu dua sajak (Unit Ancol, 1974-79).
Kadi, wartawan "Ekonomi Nasional". Selama
bertugas di dapur barak nya, ia menulis catatan tentang kehidupan Unit II Wanareja, yang dilengkapinya dengan data akurat, khususnya tentang kejadian tahun 1978, ketika lima puluh orang tapol dari unit nya melarikan diri.
Rachmat. Selama bertugas sebagai penekun kebun barak (1976), menulis catatan tentang peristiwa "ketoprakan" Unit V Wanakarta, sebagai kelanjutan dari peristiwa terbunuhnya Sersan Umar tahun 1973.
Budi Megaranta atau Kho Djie Tjhay. Pemuda ini, pernah termasuk pimpinan Lekra Cabang Magelang, tampil sebagai tukang tutur. Dengan menembus konsinyes seusai apel petang, mengendap endap dari barak satu ke barak lain, untuk mendongeng kisah "Sam Kok" atau "Hikayat Tiga Negeri" (Unit XIV Bantalareja, 1972-73).
Bachtiar Siagian. Namanya lebih dikenal sebagai tokoh perfilman nasional. Ia sutradara dan penulis skenario. Tapi selama di penjara Nusakambangan Jawa Tengah ia menggubah beberapa lagu langgam kroncong, sejumlah cerita pendek, dan sebuah karangan panjang tuntunan tentang seni drama (Unit R, 1977). Mungkin ia juga membuat sketsa sketsa lukisan.
Shamsuddin. Tidak banyak tokoh mencuat dari panggung ludruk. Shamsuddin salah satunya, walaupun belum bisa disejajarkan dengan Cak Durasim. Ia sutradara "Ludruk Marhaen" Surabaya. Menulis kembali lakon "Sakerah", yang di dunia ludruk dipandang lakon baku terpenting (Unit R, 1977/78). Ia juga menulis risalah tentang sejarah ludruk, tapi tak pernah terselesaikan sampai saat ia meninggal (sekitar satu setengah tahun sesudah kembali ke Jawa).
Antara "Klangenan" dan "Kagunan"
ITU dua istilah Jawa untuk dan tentang "seni"
dalam kata dan pengertian Indonesia. Ada sementara pendapat yang, kalau pun tidak mempertentangkan, memberi garis pemisah antara keduanya. "Klangenan" untuk "hiburan", dan "kagunan" untuk "seni" atau "kesenian". Agaknya pendapat ini bertolak dari pesan yang tersirat dari balik kedua kata itu masing masing.
Kata "klangenan", kira kira begini lah alasan
pendapat itu, jelas membawa pesan tersirat tentang "langen", bentuk tunggal untuk jamak (bukan "langen langen" tapi) "lelangen" (dwi lingga salin swara);
yaitu [meng-] "hibur" [diri] atau [ber-] "santai", [ber] "senang", dan kata padanan lain semacam nya. Reputasi kata "klangenan" (katanama dari "langen") menjadi terpuruk sejak kebudayaan kraton memberi isi tambahan, yaitu "gundik" atau "selir" atau "istri gelap", atau
apa pun tapi sejatinya sama sekali bukan "istri", melainkan tak lebih dari "perempuan penghibur".
Dalam pada itu "kagunan" beda dari sekedar
"klangenan". Klangenan itu kan sekedar untuk
"lelangen", bersantai santai kosong. Tanpa arah tanpa makna. Itu bukan sejatinya seni! Seni itu "kagunan".
Diciptakan demi "guna" atau "faedah". Bukan bersantai santai, tapi bertanggung jawab membawa amanat gawai alias fungsional!
Begitu kira kira perbantahan itu, jika dituang
secara populer.
Tapi bagiku tidak demikian.
Antara "klangenan" dan "kagunan" tidak perlu ditarik garis pemisah, karena kedua duanya hanya sisi yang berbeda saja dari satu substansi yang sama. Substansi itu ialah "langoe" ("oe" untuk "o" umlaut), atau "lange". Arti "langoe" atau "lange" ialah "indah", "cantik", "seni" dan kata kata padanan lainnya.
Kata "lange" menjadi "lange[n]an", timbul "n" di antara dua vokal itu, karena adanya sufiks "an" itu. Infiks "n" pada kata Jawa Baru ini tak lain ialah infiks "w" pada kata Kawi: lange + an --> "lang[w]an". Kata "klangenan" sejatinya tepat sama belaka dengan "kalangwan". Begitu lah maka Romo Zoet (demikianlah kami dulu, cantrik cantrik Mataram, menyapa beliau)
menjuduli karya besar beliau itu: "Kalangwan". Pertama, karena yang dibahas sastra Jawa dalam "jaman kakawin", bukan "jaman macapat"; kedua, aku duga, juga mengingat reputasi kata "klangenan" yang sudah terpuruk itu. Bayangkan lah, betapa kesan pembaca seandainya "Kalangwan" itu berjudul "Klangenan"! Akan sama "lucunya" barangkali, dengan Mas Ben Anderson membayang kan, andaikata tesis gemilang Pak Poerbatjaraka itu tidak berjudul "Agastya in den Archipel" tapi "Agyasta Wonten Ing Nuswantara".
Lalu kata "kagunan".
Benar, kata ini dari "guna" yaitu "faedah", "fungsi" dan kata kata padanan lain nya. Termasuk padanan lain nya ialah, antara lain: "keba[j]ikan", "kemahiran", juga "kiat" -- arti lain dari "art" (Ing.) atau "ars" (Lat.), misal nya dalam ungkapan ini: "art is long, life is short" atau "ars longa, vita brevis".
Perhatikan kata kata tembang "Mijil Ketoprak" di
bawah ini, baris nya yang pertama saja, karena selebih nya "reaksioner". (Tapi aku yakin lagu ini termasuk kekayaan batin Raja Naga Cendana itu!) Maklum, isi tembang "Mijil" ini ajaran moral dari jaman "ketika Surakarta belum ada sekolahan" (harap baca lagi kuliah Kejawen untuk $uharto dan dinastinya yang ku-"SiaR"kan beberapa hari lalu). Inilah:
Dedalane guna lawan sekti
kudu andhap asor
wani ngalah luhur wekasane
(diseling senggakan: "aja ngece wong 'ra duwe!)
tumungkula yen dipun dukani
bapang den singkiri
ana catur mungkur
Saya terjemahkan:
Jalan menuju kiat dan sakti
harus rendah diri
berani mengalah jaya lah buahnya
(ditingkah suara: "jangan menghina orang mlarat!")
tunduk lah jika dimarahi (diam dan "amin" saja
lah!)
singkiri lah rintangan (singkiri saja, jangan
diatasi!)
abaikan lah debat (pokoknya: tindas!)
Kembali kita pada pokok masalah.
"Klangenan" dan "kagunan" hanya dua sisi dari satu substansi yang sama, yaitu: Seni. "Klangenan" ialah inti kandungan nya, dan "kagunan" ialah kiat untuk menyatakan nya.
Karena itu secara fungsional batas antara "seni" dan "hiburan" ibarat tabir asap belaka. Yaitu dalam arti, baik seni maupun hiburan dapat berfungsi sebagai "penghibur hati" atau "pelipur lara". Jika toh ada beda di antara yang dua ini, beda itu terletak pada bobot muatan yang ada di dalam kandungan masing masing. Dan beda bobot ini, pada giliran nya, membawa akibat pada perbedaan dalam cara menyatakan kandungan muatan nya itu. Dalam pada itu perkara berat ringan bobot muatan tersebut, erat hubungan nya dengan (kalau bukan malah mutlak ditentukan oleh) urusan: "dari siapa" dan "untuk siapa" muatan itu dinyatakan.
Contoh. Kaum awam, yang dalam konteks tapol yaitu "tapol massa" yang berkebudayaan "kampungan", tidak mampu menangkap keindahan nada nada lagu jenis "seriosa". Bahkan mengejek nya, karena terdengar segaduh seperti meang meong kucing kawin -- kata Karta bin Deris, tapol Pemuda Rakyat dari Pasarminggu. Sebaliknya kaum elite, yang dalam konteks tapol yaitu "tapol kader" yang berkebudayaan "priyayi", tidak mampu merasai keindahan nada nada irama Melayu atau Padang Pasir. Maka timbul lah istilah "dangdut".
Istilah "dangdut", yang sekarang menjadi katanama
untuk satu "genre" musik, dan mendapat kedudukan terhormat di ruang khazanah seni Indonesia, semula memang sepatah kata sarkasme belaka. Pelontar nya klas menengah kota Jakarta, dan yang menjadi sasaran nya, irama musik kegemaran kaum pinggiran Betawi. Istilah sarkastis itu dilontar anak anak remaja dan pelajar ibukota ketika itu, akhir 50-an, pada dua genre musik yaitu "Irama Melayu" dan "Irama Padang Pasir" yang didominasi bunyi membran gendang yang dipukul ("dang") dan dibesut ("duuut"), sambil berlenggang lenggok menirukan adegan lenong oleh banci banci di remang remang sudut kampung Pasar Rumput.
Pendeknya sebagai genre musik, dangdut berkembang mulai awal 1960-an dari dua genre tersebut di atas. Sebagai musik rakyat pinggiran, kedua genre ini (juga dangdut pada awal perkembangan nya), dipandang lebih rendah dari musik kroncong. Syarat sosial politik yang mendasari dan mengantar tampil nya dangdut tak lain ialah pelaksanaan Manipol di bidang musik, yaitu ketika musik ngakngikngok (istilah Bung Karno untuk irama musik rock) menjadi sasaran pengganyangan. Aksi pengganyangan itu kemudian melebar, bukan hanya menyasar pada iramanya saja, tapi juga pada syair nya yang "cengeng" dan "tidak revolusioner".
Rachmat Kartolo, pelopor pencipta lagu pop Indonesia, diganyang karena lagunya "Patah Hati", begitu juga Kus Plus. Dunia musik Indonesia menjadi miskin, lebih dari itu juga "di-bonsai-kan", tidak dibiarkan berkembang dengan sendiri. Pada saat itu lah Orkes "Irama Melayu" dan "Irama Padang Pasir" menemukan ruang hidup nya. Situasi makin menggalak, ketika gerakan kiri terpukul, yaitu sejak akhir 1965 (yang, notabene di bidang musik jelas kekiri kirian itu!). Kedudukan dangdut makin bertambah mantap sesudah
menyatu dalam gerakan politik. Raja Dangdut Rhoma Irama bersama PPP nya cukup membuktikan nya.
Yang terjadi di dalam hal musik seperti itu, juga
terjadi dalam hal tari.
Awam yang kampungan akan melihat tarian klasik
gaya kraton yang halus adiluhung,
sebagai "halusinasi adi linglung"; sebalik nya kaum priyayi akan melihat gerak-gerik lenong sebagai kasar dan dangkal. Karena itu, jika repertoar hiburan sudah bisa duduk sejajar dengan repertoar seni, maka si "suka hibur" pun lalu menjadi merasa sama terhormat seperti sang "seniman".
Melihat Panggung "Bantalareja"
URAIAN di atas itu merupakan gambaran tentang kedudukan seni dan hiburan di tengah kehidupan tapol, khusus nya tapol Unit XIV Bantalareja, yang menurut ku bisa dikemukakan sebagai contoh kasus. Unit ini, seperti di atas sudah dikemukakan, dikenal sebagai "Unit Jakarta Murni", oleh karena lima ratus tapol penghuninya berasal dari dua kamp besar di Jakarta saja: Salemba dan Tangerang. Komposisi umur: 20-60 tahun, dengan mayoritas 25-35 tahun (1971); komposisi pendidikan: antara SD (mayoritas) sampai universitas (tiga sarjana); komposisi bahasa: Betawi, Sunda, Jawa (Tengah).
Dibanding unit unit lainnya, unit ini mempunyai
kelompok hiburan (kesenian) yang
paling lengkap. Sehingga karenanya juga tidak aneh, jika modal pertama Band Markas Komando itu pun berasal dari sini. Kelompok kelompok seni dan hiburan dari unit ini ialah (perhatikan, dengan mengingat pada komposisi di atas!): Orkes Melayu "Sinar Bantala", dan Orkes Kroncong "Irama Bantala", kedua duanya di bawah pimpinan Go Giok Liong, bekas pemain biola Orkes Kroncong Studio Jakarta pimpinan Thung Bun Liong (Pak Go! Masih sehat sampai sekarang, bukan?); kelompok band atau orkes musik "Bantala Nada", pimpinan David Martin Lampanguli dan Basuki Effendy (kemudian Samsu Bachri, sesudah dua nama pertama "ditarik" ke Bandko); kelompok ketoprak, wayang orang dan karawitan "Kridha Bantala", di bawah pimpinan Mohidi dan Warna Wamin; dan terakhir kelopok lenong (tanpa nama), dipimpin oleh Mohamad Tohir Yahya, salah seorang pimpinan Denas SOBSI, suami Sri Ambar, salah seorang pimpinan DPP "Gerwani".
Umumnya, selama tahun 1971-75, kegiatan tapol di
gedung kesenian sama sekali bersifat korve, oleh karena sepenuhnya diabdikan kepada wisma (komandan unit dan staf) dan kepada mes (pleton pengawal). Pada kira kira tahun 1973, yaitu pada masa Dan Unit Kapten Yusin Zainal, gedung kesenian unit bahkan berubah fungsi. Yaitu menjadi barak isolasi bagi tapol yang melanggar konsinyes berat. Misalnya enam puluh sekian tapol yang tersangkut kasus "pindah agama". Tetapi sejak 1975, hampir setiap malam Minggu, atas prakarsa sendiri (sudah tentu dengan seijin penguasa unit), para "seniman dan "suka hibur" berlatih ketrampilan menabuh gamelan atau bermain musik, dan rata rata satu kali setiap tiga bulan menyelenggarakan pergelaran lengkap.
Entah sudah berapa puluh judul lakon ketoprak,
wayang, dan lenong mereka pergelar kan, serta berapa bait tembang dan pantun Betawi mereka nyanyikan di atas pentas itu. Tetapi pada umumnya bisa dikatakan, bahwa mereka memang tidak menciptakan lakon lakon atau
gubahan baru apa pun. Di samping oleh sifat seni rakyat yang cenderung tidak tertulis, kecuali resume demi kepentingan sensor penguasa, juga sengaja untuk tidak memancing kecurigaan penguasa. Lakon lakon yang dipergelarkan paling jauh hanya merupakan "versi tapol" atas lakon lakon yang sudah ada.
Sama halnya juga pada lirik-lirik pantun yang
mereka nyanyikan. Tetapi toh tercipta, misalnya, sampiran pantun seperti:
"cis kacang buncis tetrek
papan papan kayu meranti".
Dua baris sampiran itu tentu saja menjadi ilham
bagi lahirnya berbaris-baris isi pantun yang tak terbilang banyaknya. Ini, bagaimanapun, membuktikan adanya kemampuan kreatif walaupun tentu saja sekedar berupa permainan kata-kata. Yang kiranya justru disengaja, demi menghindari prasangka prasangka politik dari pihak penguasa.
Jika kita perhatikan dengan agak sedikit jeli, misalnya, dua baris sampiran itu pun cukup sarat dengan pasemon. "Kacang buncis" buat tapol merupakan jenis sayuran mewah, hanya ditanam di kebun sayur Komandan Unit dan Tonwal. Seperti juga kacang panjang, khususnya dari jenis yang disebut "bushito", yaitu "kacang usus" Jawa, hanya saja "bushito" berwarna putih. Adapun sayuran untuk tapol: jantung pisang, pucuk pakis, daun singkong, kangkung rawa. "Tetrek" (tetrex) ialah bahan tekstil dari tetoron, impor dari Jepang [Teijin Tetoron] yang ketika itu terkenal, dan tentu saja menjadi barang impian bagi tapol. Papan kayu meranti adalah hasil hutan utama di Buru, sehingga mendapat sebutan "mas merah" (di samping "mas putih" yaitu sagu); tenaga tapol yang memproduksi "mas merah", yang menjadi rebutan antara Dan Unit, Dan Ton, dan bahkan Dan Tefaat!
Karya Pesanan
BAGAIMANAPUN juga para seniman dan "suka hibur" di unit unit masih bisa mempertahankan kebebasan mereka, walau dalam keadaan yang paling buruk. Tidak demikian halnya pada seniman dan perajin yang dikelompokkan di sekitar Mako. Kecuali bagi sastrawan yang bermedia bahasa, dan ditambah lagi bisa bermain dengan "dua buku" (dalam hal ini Pramudya Ananta Toer).
Memang ada sebuah lakon wayang kulit carangan
pernah digubah oleh Tristuti Rachmadi berjudul "Wahyu Waringin Kencana". Tetapi lakon ini sebuah pesanan Dan Tefaat untuk kampanye pemilu 1977. Seperti diketahui "waringin" (pohon beringin) adalah tanda gambar Golkar dalam pemilu. Ketika masih di Unit IV Savanajaya pernah juga Tristuti dan kawan kawan (antara lain Jaka Mulyana, Sudarno As., dan Hersat Sudiyono) melakukan eksperimen pergelaran wayang kulit berbahasa Indonesia seutuh nya kecuali suluk. Tetapi eksperimen ini tidak pernah diberi kesempatan diulang.
Para pelukis hampir tidak berbeda dari perajin ukiran kayu. Sibuk mereka itu dengan pekerjaan pesanan para penguasa, mulai dari komandan sampai pengawal, dari kolonel sampai prajurit. Yang paling banyak mereka pesan: perabot rumah tangga berukir, tongkat komando, potret diri atau keluarga, Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari (dengan "sedikit" perubahan: sosok Jaka Tarub diganti sosok serdadu si pemesan, dan sumpitan
diganti dengan pestol).
Walaupun begitu Permadi Lyosta, anggota "Pelukis Rakyat" Yogya, sempat "betul-betul melukis". Seperti juga halnya dengan Subronto K. Atmodjo. Ia tidak saja sibuk dengan aransemen aransemen (jika aransemen tidak dianggap sebagai karya "ciptaan") untuk pergelaran rutin memenuhi acara Komando, dan menggarap sebaikbaiknya "Kantata Betlehem" (meskipun sebagai musik pesanan), tetapi ia juga berhasil menciptakan sebuah "Serenade" untuk cello dan biola, serta sebuah komposisi instrumental "Dari Hutan-Hutan Waitina".
M. Yunanta, pemusik muda dari Malang penghuni
unit yang sama dengan Bung Bronto, menggubah beberapa lagu kroncong, di samping memberi notasi dan aransemen lagu lagu rakyat setempat (antara lain "Deng Yoi Deng" dan "Ohe Katiparan"; 1976).
Penutup
KEHIDUPAN sastra dunia mengenal apa yang dinamai sastra eksil. Sebagai varian dari sastra eksil, uraian di atas dimaksud sebagai berita. Bahwa, berita pertama, di Buru selama tahun-tahun 1969-1979 pernah hidup "seni eksil Indonesia di negeri Indonesia". Bahwa, berita kedua, Pramudya Ananta Toer sebagai tonggak menjulang seni eksil di Pulau Buru sesungguhnya dikelilingi oleh banyak tonggak-tonggak yang lain. Bahwa, berita ketiga, tonggak-tonggak itu tidak sebesar dan setinggi Pramudya, namun setegak bersama dengan tonggak yang satu itu.
Kemudian, jika uraian khusus tentang seni dan sastra eksil dalam negeri itu dipertuas dengan yang luar negeri, maka tonggak tonggak tersebut akan menjadi ditambah kaya lagi dengan Basuki Resobowo, Agam Wispi, dua bersaudara Aidit: Sobron dan Asahan, Supriadi Tomodihardjo, A. Aziz, dan sederet nama nama lainnya pula. Nama nama lama yang hampir menjadi asing ini (pinjam ucapan Chairil Anwar, 1946) "harus dicatet". Harus "dapat tempat". Ya, sekarang! Mengapa tidak?
Bukan kah sastra dan seni sesuatu bangsa adalah
biografi bangsa itu? Bukan kah apa yang kemudian dikenal sebagai sastra Jawa-Bali pun dahulu merupakan sastra Jawa eksil?***
"Mangsa" ("a" baca seperti "o" pada "lombok"], bulan atau musim Jawa menurut kalender matahari. Jumlah seluruhnya dua belas "mangsa" dalam satu tahun. Sistem penghitungan nya, yaitu "pranata mangsa", berturut turut sbb.: 1. Kasa (Kartika); 2. Karo (Pusa); 3. Katelu (Katiga; Manggasri]; 4. Kapat (Sitra]; 5. Kalima [Manggakala]; 6. Kanem [Naya]; 7. Kapitu [Palguna]; 8. Kawolu [Wisaka]; 9. Kasanga [Jita]; 10. Kasapuluh [Srawana]; 11. Dhestha [Padrawana]; 12. Saddha [Asuji].
"Konsinyes", jargon penjara untuk "larangan" atau "terlarang".
"Riungan", kosakata penjara untuk "kelompok makan"; dari kata Sunda "ngariung", berkumpul. Kelompok riungan mula mula dibentuk atas prakarsa tapol, dengan maksud untuk membagi ratakan kiriman makanan dan minuman dari
keluarga. Hal itu dilakukan mengingat bahwa tidak semua tapol menerima besukan. Sementara itu terutama mengingat, bahwa jatah makan dari negara sama sekali tidak mencukupi. Jatah makan yang tidak cukup itu mengakibatkan banyak tapol di Jakarta, selama tahun 1966-67, menderita sakit dan mati karena busung lapar.
"Sodakoh", dari kata Arab sadaqa (Mel.: sedekah], yi, pemberian kepada orang miskin atas dasar cinta kasih. Justru karena mengandung makna keagamaan [Islam] itu lah barangkali, alasan mengapa kata "sodakoh" dipungut sebagai jargon tapol G30S/PKI, untuk memperkuat bantahan terhadap tuduhan sebagai ateis.
Bandingkan dengan apa yang dikenal sebagai "Orkes
Bumbung", yang timbul dan berkembang semasa tahun tahun perang kemerdekaan di kota Yogya. Disebut demikian karena instrumen dominan terbikin dari bambu, sebagai instrumen instrumen pukul, tiup, dan petik.
Hr. Bandaharo, penyair, meninggal dunia 1 April 1993.
Contoh tentang keganasan alam Buru, misalnya terjadi tahun 1977. Lima orang tapol Unit XV Indrapura [di sini juga aku dimukim kan] dan satu orang penduduk yang sedang berobat di poliklinik Unit mati sekaligus oleh sambaran petir. Lampiran "Lied van een stomme" Pramudya Ananta Toer (1989:328-345], juga mencantum kan data tentang banyak nya kurban tapol yang mati di sana.
Sesungguhnya aku harus minta maaf kepada sesama kawan tapol untuk membuka rahasia tentang lontar plastik ini. Tapi aku percaya jaman akan datang semoga tanpa tapol lagi di mana mana, dan kalau pun ada daya kreatif tapol pastilah tak akan pernah mati.
Jadi, kantung plastik yang bening, sesudah dicuci bersih dan dikeringkan, dipotong dengan sembilu sebagai pengganti silet, memanjang selebar lk. tiga jari. Dengan benda keras berujung runcing, misalnya lidi atau jarum, dan dengan beralas tembok sel, lembaran "lontar" plastik ini ditulisi. Katakan, lebih tepat ditoreh atau digravir. Lembaran lontar plastik ini lalu dipilin (juga begitu kalau kita ingin membuat nya sebagai bahan tas] menjadi tali untuk pengikat label tas besukan. Dengan isyarat tertentu keluarga di rumah akan mengurai tali tali plastik kembali menjadi "lontar", dan bisa membaca isi pesan di dalam nya. Melalui cara begini lah, antara lain, tapol G30S-PKI berdialog dengan dunia luar.
Bahkan selagi masih di RTC Salemba, pelukis A. Rachmad (dulu anggota "Pelukis Rakyat" Yogya], membuat satu gitar berukir. Sesudah "bebas", Bung Rachmad mencari cari dan belum berhasil menemu kembali hasil karya nya yang baginya berarti istimewa itu (setidak nya sampai 1982, ketika aku bertemu dengan nya di Jatinegara Jakarta]. Konon gitar itu dibawa seseorang ke Australia?
Kipas angin dengan putaran tangan atau pedal, digunakan dalam proses pemberasan padi, yi. memisah kan beras dari sekam nya sesudah padi digiling. Konon perkakas ini dirancang pertama oleh Suwarto, tapol Unit XVIII Argapura (sejak 1974 pindah ke Unit XV Indrapura, di situ juga aku bermukim]. Sebelum ditahan pemilik bengkel mobil dan mesin di Tegal Jawa Tengah. Perkakas penggilingan padi, tapol menamai nya "kiseran", dibikin berdasar contoh penggilingan kedelai di pabrik pabrik tahu yang sudah lazim dipakai di Jawa. "Gilingan tahu" itu ditarik tenaga lembu. Juga perkakas pemipil jagung dirancang Suwarto, ketika ia sudah menjadi penghuni Unit XV Indrapura.
Pipa leding dari bambu dibikin pertama kali di Unit XV
Indrapura, mengikuti ideku melalui Kepala Barak VII, Mudakir [bekas Sekretaris Lekra Cabang Kudus Jawa Tengah]. Ide itu timbul dari pengalaman yang pernah kulihat pada para petani sayuran di Plato Dieng Jawa Tengah, ketika sebagai Sekretaris Front Nasional Jawa Tengah membentuk cabang cabang dan ranting ranting ormas semi-pemerintah itu (Menteri Front Nasional waktu itu Sudibio, PSII].
Menurut Ibnu BA, tapol Staf Koordinator Unit I Wanapura, menyusul kejadian "dimakokan nya" Pramudya,dia mengusulkan agar dimakokan juga semua tapol berprofesi sastrawan, seperti halnya tapol dari kelompok profesi lain nya. Usul Ibnu BA tak pernah ditindak lanjuti penguasa.
Sebutan itu berdasar cara pelaksanaan pengambilan apel. Tapol dibariskan lima lima ke belakang; tepat di depan pos penjagaan, lima jalur barisan ini disekat pagar bambu, seperti kandang sapi. Tiba di ujung jalur bambu, tiap barisan lima tapol berhenti sejurus: menunggu kentongan dipukul oleh tapol pengambil apel, seorang tapol pengambil apel lain nya membuat satu coretan kapur di papan tulis, baru lah barisan boleh menerus kan langkah keluar "kandang" itu, langsung ke tempat kerja.
Dr.Huyung bekas perwira militer Jepang (Korea?), ahli sinematografi. UIsai perang memilih kewarganegaraan Indonesia dan tinggal di Indonesia. Bersama Iskad di kota Yogya ia mendirikan (1948) Akademi Seni Drama dan Film, dengan Kinodrama Atelier sebagai bagian nya. Karya film nya yang terkenal "Antara Bumi dan Langit", juga terkenal sebagai "Frieda", mengikuti nama tokoh utama lakon, Frieda Riemsdijck (1950?); sebuah kisah tragedi oleh prasangka ras dan politik dalam hubungan asmara antara laki laki "pribumi" dengan perempuan Indo Belanda. Musik ilustrasi film ini lagu "Kemuning" komposisi Cornel Simanjuntak atas sajak Sanusi Pane.
Kata Jepang, arti harfiah "pahlawan kerja". Sejatinya tenaga kerja paksa di jaman pendudukan militer Jepang (1942-45) di Indonesia. Mereka ini dipekerjakan di sarana strategis untuk kepentingan pertahanan Jepang (dalam propaganda dikatakan "untuk kemenangan perang suci Asia Timur Raya"], dan diperlakukan jauh lebih buruk dari kuli rodi di jaman penjajahan Belanda. Kebanyakan romusha tewas, diperkirakan lebih satu setengah juta, baik di Indonesia, Thailand dan Burma (Myanmar sekarang). Rekrutering nya melalui organisasi "tonarigumi" (RW-RT sekarang], di desa desa melalui Lurah dan Kepala Dukuh, yang berlaku wajib bagi laki laki muda dan berbadan sehat.
Di kalangan anak anak tani waktu itu terkenal lagu sindiran terhadapnya, dinyanyikan atas dasar susunan nada nada dan irama lagu "Bekerja". Baris baris awal berbunyi:
"Mizuho Mizuho Koa / Fajar Semangat / Srutu Momotaro / Nandur jarak / awak remuk rusak / ... dst. Kata kata dalam tiga ruas lagu yang pertama nama nama merek rokok.
Sebetulnya bukan "wayang" dalam arti pertunjukan "bayangan" seperti pada wayang kulit. Tapi pergelaran lakon. Pada "wayang" ini adegan adegan lakon dilukis kan berturutan pada gulungan gulungan kertas atau kain panjang (kira kira 40 Cm]. Untuk "memainkan nya" gulungan gambar gambar itu satu demi satu, menurut urutan adegan, dibuka atau di-"beber". Kemudian Ki Dalang menceritakan kisah apa yang dilukis kan dalam setiap adegan yang dipertunjuk kan itu. Selain terdapat
di Yogya, juga di Pacitan. Yang di Pacitan, misalnya, mengisah kan lakon Tumenggung Buta Ijo dan Naladerma semasa Raja Brawijaya Majapahit. Di jaman Jepang wayang beber hidup (dihidupkan] kembali. Lakon selalu propaganda tentang kemenangan di garis depan perang suci ATR, dan propaganda demi kuatnya garis belakang: semangat "tonarigumi" (gotongroyong], tanam jarak, pembiakan ikan mujahir, pembikinan rabuk kompos dsb. Dalam wayang beber satu satunya Paulus Wardoyo alias "Pak Besut".
'Tandak", harfiah: [ta]ledhek, ronggeng, tari (penari) perempuan. Dalam kehidupan tapol G30S, konsepsi umum itu mengalami distorsi, menjadi kosakata dengan arti khusus. Melalui konsepsi "schakel" tentang peranan perempuan dalam pertunjukan, baik yang dimainkan oleh pemain laki laki [seperti pada teater rakyat [Jawa] pasisiran: ludruk), maupun oleh pemain perempuan sebenarnya (seperti pada teater rakyat [Betawi] lenong, di sini pemain laki laki itu disebut "panjak"), lalu mengkhusus menunjuk pada laki laki yang terlibat dalam kehidupan homoseksualitas.
Dari sesama kawan tapol sebarak Alibasyah (Ambarawa, Serbaud Irian Barat), yang lama di kamp Tangerang, diperoleh keterangan bahwa di kamp Tangerang kehidupan pertandakan bahkan merupakan salah satu sisi kehidupan organisasi Partai yang dibangun secara ilegal di dalam kamp. Kader kader organisasi Partai ilegal ini wajar, dibagi dalam beberapa tingkat: kader inti, kader utama, kader penting, kader biasa. Masing masing mendapat fasilitas nya sendiri sendiri. Salah satu fasilitas itu, ini yang tidak wajar di telingaku, berhak menerima atau memilih sendiri seorang tandak untuk bersama hidup di dalam sel nya. Seperti organisasi persilatan di Jawa jaman pertengahan, bukan? (Ini juga berakar pada ajaran moral akhir Jaman Majapahit, ketika perempuan dipandang membikin "apes" tenaga dalam.
Yang dimaksud ialah enam perwira tinggi dan satu perwira perta, dari Jendral Ahmad Yani sampai kapten Tendean, kurban pertama kejadian berdarah pagi buta 1 Oktober 1965.
Salah seorang pasien dan kurban pengobatan seperti ini
ialah Drs. Dilar Darmawan, alumnus Fakultas Sastra Univ. Gajahmada Yogya, dan dosen Univ. Saraswati Surakarta (sejak Orde $uharto menjadi Univ. Sebelas Maret). Mas Dilar sejak berobat itu menjadi penghuni tetap rumah sakit Unit III Wanayasa, sampai ketika ia pulang kembali ke Surakarta tahun 1978. (Meninggal tidak lama sesudah itu).
Di antara mereka itu, sastrawan: Pramudya Ananta Toer,
Waluyadi Toer, Boejoeng Saleh, HR Bandaharo, Rivai Apin, S.Anantaguna, Samandjaja, Nusananta, Benny Tjhung, JT. Rachma, Amarzan Ismail Hamid, Sutikno WS, Timbul Darminto, James Kaihatu;
wartawan: M.Naibaho, Hasjim Rahman, Tom Anwar, Habib Azhari, Sumartono Mertoloyo, Samodra, Hariyudi, Kadi; film/drama: Basuki Effendy, Bachtiar Siagian;
Ludruk: Shamsuddin, Buwang, Dasul;
Ketoprak: Badawi
Kejadian ketika penghuni Unit V Wanakarta sepanjang malam disiksa di lapangan apel. Bunyi kayu, gagang bedil, dan segala macam alat pemukul lain yang menghantam kepala, tangan dan kaki tapol, yang pating "ketoprak" itu, menimbulkan ide di kalangan tapol menamai kejadian tersebut "Ketoprakan Unit V". Malam itu kurban langsung mati sebelas orang.
Sebagai orang pertama Lekra Jawa Tengah aku juga
pernah kena sindiran tajam fungsionaris PKI Jateng. Jalaran nya, karena dalam menyambut rombongan tamu kebudayaan dari RRT di Sriwedari, tiba tiba aku diminta menyanyi. Bukan lagu "Maju Tak Gentar" atau "Dua B'las November", atau semacamnya, yang mengalun dari suara ku, tapi lagu gubahan Surni Warkiman (di mana Anda sekarang?): "Tak kan lari gunung dikejar" (yang menurut ku sama sekali tidak buruk, baik lagu maupun syair nya!).
Istilah peninggalan alm. Jacques Leclerc (dari korespondensi pribadi).
Waitina, nama kawasan dan hutan di belakang Unit X Wanadharma, tempat Subronto K. Atmodjo dimukimkan.
ika repertoR‘+,¡®¸Ê !é'ê'668ztmmkkmmmmZ" 8"8g8m8¨8®8/969ïcðczi{il l®p¯pÙpÚp‘pƒqƒ<–zzzzsssssssZ <–=–®–¯–ê–ë–>™?™ÏŸÐŸÞ±ß±›¼œ¼]Ð^ÐcãdãIJ/0•"–"xxxxxxxxxxx xZ–"L#N#O#-
%.%o%p%„'…' '¦'¸(¹(º)»)õ)ö)n+o+0/{tntntntnhntntntntnZ0/ 1/0®0G3H3556"688‰:Š:q>r>4B5BgDhD‚GƒG/Hxrxrxrxrxrxrxrxr xrxrxrZ/H0H¸I¹IÐIÙI¬J´J~KKÞLßLÂNÃN OOuOxrxrlrlrxrxrxrxrZIRTVm…‡‰·åz } Õ
+Òý
vmmmmmmmdddddddddddhhh
@BTV"
"
"("*"Þ"8 1%3%V'*º0¼0vvvmvvvvvvmmvvvvvvvvvhh¼0¾0Í0Ï034²6´6î9ð9Ú=1 A B"B$B5EìFîFðFòFGGGvmvvvvvvvvvvvvvvvvmvvhhGþKLÕO×O‰U‹U2V äWûWX'XFX^XyX‘X«XÀXÞXòXY)YFYvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvhFYaY }YYY¦YÃYÜYõYZ5ZNZhZ{Z—Z®ZÎZçZ["[6[8[A\vvvvvvvvvvvvvvv vvvvvvvhA\OaRajblbnbbbëdíd‰f‹fÁfýfCg{g¨gßgág3j´j¸jvvv vvmvvvvvvvvvvvvvvvhh¸jólëmímlrnrprœržrouqu3w£x—z}v}Þ" –œ‚Ÿ‚6†vvvvvvmvvvvvvvvvvvvvvhh6†8†P‡R‡T‡{‡}‡t‹v‹âäÉ ½‘¿‘@"B"—’—"—«—Ä—Æ—vvvvmvvvvvvvvvvvvmmmvhhƗȗݘӛӟ՟ -¡*¢}¢ô£ˆ¦·¨¹¨»¨½¨Ö¨Ø¨Ú¨?ª0¬Ä¬Æ¬vvvvvvvvvvvvvvmvvvvvvhh Æ¬ÄÆ)°+°â±ä±æ±k³1·~· ¸Q¸ˆ¸¬¸¯¸ø¹ú¹z½b¾%¿)¿5¿vvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvh5¿ÁÁ0Ä<Æ> ÆÇÈ<ÉXÉvÉÉöÉxÊzÊðËËÍÏÏÏ<Ï>ÏÑvvvvvvvvvvvvvvvvvvmvvhhÑÑs Ò€ÔéÖìÖ©Ú«Ú{Ý}ÝÞÞàÞߟß>à@à3á5áèáêáõâ÷â¾ãvvvvvvvvvvvvvv vvvvvvvvh¾ãÀãúäüäYæ[æèè"è>è@è¥éßë íaícíí¸îò/òhóùôvvvvvvvvmvvvvvvvvvvvvhhùôûôõ*õGõ{õ™õ¯õà õÅõØõÚõøõ ö/öfööØö÷÷3÷ß÷NúvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvvhNúKüMüäþN±þQqs "•Û.¹ ÎHf…‡vvvvvvvvvvmvvvvvvvvvvhh‡Ð&(*9;¤Ù"™"Š-Œ-Ž-—-™-¹ ‘"@#B#D#F#vvvvmvvvvvvvvmvvvvvvvhhF#H#J#L#N#%o%„'¸(º)õ)n+l,0/0G3568‰: =É=vvvpppppppppppppppphÉ=>q>4BgD‚G/H¸I¬JKGKkK~KÞLÂN OuOyyyyyyyyyyyyyyyy8<––"0//HuOŸ ¡¢£¤ ¼0GFYA\¸j6†Æ—Ƭ5¿Ñ¾ãùôNú‡F#É=uO¥¦§¨©ª«¬®¯°±²³´µ¶+ é&5ïbzhk®oÙo€p‚<•®•ê•>˜ÏžÞ°›»]ÏcâI/•"uNN"$o$„&¸'º(õ(n*0./G2457‰9q=4AgC‚F/G¸H~JÞKÂM
NuN&p
Americana BT0Courier 10cpib*L´ªÃ×2 ÿ'rÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿCompObjÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿEÿÿÿÿÿÿ ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿ