Oom Wim

Guruku - Pamanku - Kawanku

(kisah latar belakang perkenalanku dengan Prof.W.F. Wertheim)

 

Yogyakarta. Tahun 1957.

Ketika itu aku mahasiswa Kandidat II Sosial Politik Universitas Gajah Mada. Mahasiswa merangkap-rangkap. Barangkali karena gema "Revolusi Agustus" yang belum surut.

Pada waktu itu bagi pandangan sementara kaum muda, dan aku termasuk yang "sementara" itu, balai pendidikan ialah tempat menimba ilmupengetahuan, sedangkan kehidupan nyata ialah medan menggali pengalaman. Padahal adagium Jawa mengajar (sebagian besar perpustakaan ayahku bacaan kejawèn, selain aku pernah menjadi murid - walaupun murid yang tidak terlalu baik - Kiageng Bringin Suryamataram): "Ngèlmu iku kelakoné kanthi laku". Penjabaran ilmu itu meliwati praktik.

Di "Jaman Bung Karno" Narayana, kaum nasionalis pun merangkap-rangkap, salah satu, salah dua, atau ketiga-tiganya sekaligus: guru-wartawan-pokrul! Mirip dengan jaman itulah kami kaum muda tahun 50-an. Pagi aku belajar di Gajah Mada , sore dan petang di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi 4 tahun). Kecuali merangkap belajar, juga merangkap bekerja. Sebagai guru di beberapa sekolah menengah (dua di antaranya aku sendiri mendirikannya: SMA "Diponegoro" Wates, dan SMA/C PIRI* II Yogya), kursus KPA/A dan KPA/B**, Akademi (swasta) Jurnalistik, dan Universitas Rakyat Yogya dan Semarang. Dari pekerjaan mengajar itu aku menerima sedikit "nafkah" (istilah Taman Siswa untuk honorarium).

Selain guru aku juga wartawan. Aku anggota redaksi majalah-majalah (intra-universiter) "Gama", (ekstra-universiter) "Gadjah Mada" dan "Universitas"; penyumbang karangan tetap untuk koran "Nasional", majalah bulanan Himpunan Teosofi "Triratna", dan mingguan-mingguan "Pesat" dan "Waspada" (berbahasa Jawa). Tidak ada honoraria kuterima dari pekerjaan itu, kecuali dari dua yang tersebut akhir.

Lalu ada kegiatan yang kusibuki betul-betul demi con amore, hingga honorarianya pun tak lebih dari rasa "asyik-masyuk" yang luar biasa indah. Aku membentuk dan mengasuh beberapa "lingkaran" (sebutan untuk "kelompok belajar" ketika itu) sastra, drama radio, deklamasi untuk acara siaran radio dan meningkatkan apresiasi puisi masyarakat. Himpunan Peminat Deklamasi Jogyakarta (HPDJ), barangkali organisasi deklamasi yang pernah ada. Beranggota tak kurang dari 150 orang, mulai dari Prof.M.A.Jaspan, sampai pelajar Taman Dewasa (SMP) Taman Siswa Lastri Fardani (kemudian novelis) dan pelajar SMP Bopkri* Kusni Sn (sekarang Dr.J.J. Kusni).

Pendek kata ketika itu, aku Setiawan.hs (namaku ketika itu), seorang pelajar yang sedang haus belajar dan belajar. Belajar dalam "ngèlmu" dan dalam "laku". Tapi juga seorang pemuda yang sedang gandrung mencari dan mencari. Mencari sumber inspirasi berinovasi, dan mencari obor penyuluh. Semuanya itu kutemui pada pribadi Willem Frederick Wertheim. Berhadapan dengan dia, dan ini bahkan sampai sekarang pun, aku seperti berhadapan dengan aneka kitab yang terbuka, hamparan cakrawala tropis yang hangat sejuk, tapi juga tantangan-tantangan jalan panjang rintisannya.

 

 

Hampir setiap hari ketika itu, koran-koran lokal "Kedaulatan Rakjat" dan "Nasional", memberitakan tentang transmigrasi penduduk Jawa (Tengah dan Timur) ke Sumatra Selatan (Palembang dan Lampung). Berseling dengan berita tentang hama tikus yang melanda daerah Gunung Kidul Yogyakarta, seolah-olah ingin membangun opini "ayo ikuti jalan kaum etisi kolonial: transmigrasi, irigasi, edukasi". Saking tandusnya tanah dan miskinnya penduduk, 'terpaksalah' tikus-tikus itu (yang menurut kepercayaan rakyat setempat bala tentara Nyai Lara Kidul!) makan bayi, ternak (termasuk sapi), dan malahan telapak kaki orang-orang dewasa. Tapi transmigrasi memang merupakjan kebijakan pemerintah yang bagi rakyat di sana waktu itu sama sekali tidak populer.

Untuk menempuh ujian Kandidat II, aku wajib mengikuti riset psikologi sosial, dipimpin Prof.Abdulah Sigit, 3 bulan di daerah tandus di Gunung Kidul. Seorang kepala dukuh, bengkoknya sembilan(!) bukit tapi hasilnya dua pikul(!) gaplek, menjelaskan kepadaku tentang keengganannya bertransmigrasi: "Untuk apa jauh-jauh ke sana? Leluhur kami dikubur di sini. Lampung dibilang subur, mungkin benar. Tapi kalau tidak bekerja, toh orang tidak bisa hidup?"

Suatu ketika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oom Wim

Guruku - Pamanku - Kawanku

(kisah latar belakang perkenalanku dengan Prof.W.F. Wertheim)

 

Yogyakarta 1957.

Waktu itu aku mahasiswa ikatan dinas, Kandidat II Sospol Universitas Gadjah Mada, yang merangkap-rangkap. Bagi pandangan kaum muda saat itu, aku termasuk, bangku sekolah ialah sumber ilmu, tapi masyarakat itulah lahan amal dan pengalaman. Ada adagium Jawa mengajarkan (kuketahui dari perpustakaan ayah, di samping aku pun murid [tak baik] dari Ki Ageng Suryamataram): Ngèlmu iku kelakoné kanthi laku. Terjabarnya ilmu melalui praktik.

Di "Jaman Bung Karno" muda, juga kaum nasionalis hidup merangkap-rangkap. Berjuang sambil menjadi guru, wartawan atau pokrul! Langgam kaum muda tahun 20-an itu rupanya masih berlanjut sampai pada masa remajaku. Selain di Gadjah Mada, aku juga kuliah di Asdrafi (Akademi Seni Drama dan Film). Sambil kuliah aku juga menjadi guru sekolah sana-sini, redaktur tiga majalah mahasiswa (Gama, Gadjah Mada, dan Universitas), menyumbang karangan di koran-koran dan majalah-majalah lokal. Dari semua kegiatan itu aku menerima "nafkah" sekedarnya (yi. "honorarium" menurut istilah Taman Siswa). Walaupun motivasinya bukan itu, tapi, istilah kami saat itu, "menyalurkan bakat" yang memang tak tertampung di bangku kuliah.

Selain itu ada kegiatan yang betul-betul kusibuki demi con amore. Imbalannya pun tak lebih dari "rasa asyik masyuk" yang sungguh luar biasa indah. Aku membentuk dan mengasuh banyak "lingkaran" (istilah sekarang "kelompok studi") seni: sastra, drama radio dan deklamasi. Selain untuk mengisi acara siaran RRI Yogya, juga untuk meningkatkan apresiasi sastra masyarakat. "Himpunan Peminat Deklamasi Jogyakarta" (HPDJ) kami, beranggota lebih 150 orang; dari dosen Sosiologi Prof.M.A. Jaspan, sampai pelajar SMP Kusni Sn (sekarang Dr.J.J.Kusni).

Pendek kata aku ketika itu, seorang pelajar yang haus belajar. Belajar "ngèlmu" dan belajar "laku". Bukan belajar mencari uang dan membangun karir! Aku ketika itu, seorang pemuda yang sedang bersemangat mencari. Mencari sumber inspirasi berinovasi, dan mencari obor penyuluh jalan ke depan. Dan semuanya itu kuperoleh dalam pribadi Willem Frederick Wertheim.

Berhadapan dengan Prof.Wertheim, sampai sekarang pun, bagiku seperti menghadapi tiga aspek pribadi. Sebagai guru, Pak Wertheim bagaikan kitab terbuka; sebagai paman, Oom Wim ibarat hamparan cakrawala tropis yang selalu hangat; sebagai kawan, Wim Wertheim ibarat bentangan jalan panjang rintisannya yang menantang.

 

Dua koran daerah waktu itu, "Kedaulatan Rakyat" dan "Nasional", banyak memberitakan soal transmigrasi penduduk Jawa ke Sumatra. Berseling dengan itu juga berita tentang hama tikus yang merajalela di Gunung Kidul. Saking tandusnya tanah dan miskinnya rakyat, 'terpaksalah' tikus-tikus, yang dipercayai penduduk sebagai bala tentera Nyai Lara Kidul, memangsa apa saja: bayi, ternak (termasuk sapi), dan bahkan telapak kaki orang-orang dewasa. Jadi berita-berita koran, yang diperkuat oleh "Obrolan Pak Besut"1, seperti hendak membangun opini umum tentang kebenaran "Tiga Si" kaum Etisi Kolonial: transmigrasi, irigasi, dan edukasi. Karena sesungguhnya kebijakan transmigrasi, ketika itu, terlalu tidak populer di hati rakyat.

 

Untuk ujian Kandidat II, aku wajib melakukan riset Psikologi Sosial dari Prof. A.Sigit. Tiga bulan di Ngaliyan, salah satu desa paling tandus di Gunung Kidul. Seorang Kepala Dukuh, bengkoknya sembilan(!) bukit tapi hasil panennya dua(!) pikul gaplek dan satu karung cantèl, menjelaskan tentang keengganannya bertransmigrasi padaku: "Leluhur kami dikubur di sini. Mungkin benar, Lampung tanahnya subur. Tapi agar dapat makan, orang harus kerja. Di sini bekerja, di sana juga bekerja. Jadi untuk apa kerja jauh-jauh?"

Sepulang dari riset, tak lama kemudian, di Pagelaran2 ada pengumuman: Kuliah umum demografi oleh Prof.W.F. Wertheim. Aku hadir. Lebih karena tarikan namanya ketimbang tema kuliahnya. "Hari-hari" itu aku sedang terbelenggu oleh tiga buku luar biasa: Van Leur (1955), Wertheim (1956), dan Serat Pranacitra Rara Mendut (1953). Kepala bocahku (walau aku guru Sejarah) sedang sibuk ingin menyiangi 'Dichtung' pada 'Wahrheit' dongeng tersebut akhir itu. Buku-buku sejarah selalu bilang tentang kejayaan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Tapi mengapa dua kali menyerang Betawi, dua kali pula kalah? Dan kalahnya tidak di Betawi, melainkan di antara Pekalongan - Karawang, karena gudang logistiknya dibakar 'orang pesisir'? Mengapa orang pesisir membenci Sultan Mataram yang berani melawan Murjangkung3? Mengapa "Serat" tersebut berkisah: Malam menjelang larinya Pranacitra Rara Mendut, ibukota Karta gelap-gulita, kraton diserang 40 penyamun?

Kucari jawabannya dengan mencermati bagian-bagian dalam buku-buku hebat itu (begitu menurut perasaanku). Misalnya: lahirnya burjuasi, Kuta Gede, Pekalongan, industri batik, kultur pesisir, dan beberapa butir lainnya yang terkait. Satu yang tak kutemukan: tentang industri rumah rokok klobot, barang dagangan Rara Mendut yang "menggiurkan para pemuda Mataram" itu!

Namun kuliah kependudukan Prof. Wertheim memukau ingatanku dalam satu hal. Yaitu tidak latah dengan "Teori Tiga Si" yang, nota bene, karya kaum Etisi Belanda! Adapun yang ditekankannya ialah prinsip emansipasi, memberi kebebasan masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi sendiri seluas-luasnya. Pendirian ini, sampai sekarang4, tetap dengan teguh ditegaskannya.

Usai kuliah, aku maju ke mimbar. Minta waktu beliau untuk bisa berwawancara. Sore hari berikutnya, di halaman depan Hotel "Merdeka" (sekarang "Garuda"), aku diterima tidak oleh keangkeran Mahaguru Prof.Wertheim dan Nyonya, tapi oleh kehangatan seorang Oom Wim dan Tante Hetty. Sekitar dua jam kemudian, ketika suara azan magrib dari masjid Syuhada di Kotabaru terdengar, aku minta pamit. Teks kuliah demografi, catatanku tentang biografi Prof. Wertheim dan pasfoto beliau, kubawa dengan bangga dan gembira. Kegembiraan dan kebanggaan itu, pada hari berikut, menjalari hati rekan-rekan redaksi majalah kami, "Universitas" ...

 

Tiga puluh tahun berlalu: 11 Desember 1987, kami bertemu kembali. Hari kedua, petang hari, sesudah kami tiba di Belanda. Oom Wim menyambut kedatangan kami bertiga di woonschip keluarga adik ipar kami di Amsteldijk. Aku bukan lagi mahasiswa Gadjah Mada, universitas bergengsi. Tapi eks-tapol Pulau Buru, yang tak kalah bergengsi. Aku bukan lagi seorang pemuda, tapi laki-laki tengah-baya suami 'Ruth Havelaar' dan ayah gadis cilik Ken Marijtje Prahari.

"Hersri!" Serunya serta-merta. "Tiga puluh tahun! Ingat? Kamu sobatku ..." Getaran haru suaranya menghangati dadaku, yang dalam pelukan kedua tangannya erat-erat.

 

Oom Wim, selamat ulangtahun!

 

 

Hersri

Kockengen, 16 November 1997

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yang Universil

 

(untuk yang ke-90 Pak Wim)

 

 

 

Orang Rusia ataukah Yahudi?

Indonesia ataukah Belanda?

 

Adakah jadi peduli?

Perlukah jadi masalah?

 

Dia yang ada di antara semua

Dia yang ada di dalam semua

bersemayam hakekat

di dalam dan di antara semua

bagai peng-erat kemanusiaan

 

Dia putra 'semua bangsa'

di jantungnya denyut emansipasi

 

 

Dini

19.10.1997

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lieve Yvette,

 

hieronder zijn nog verscheidene adressen, die hebt misschien jij gemist:

 

1. Herb Feith 40 Kyarra Road

Glen Iris 3146 Melbourne

Australia

 

2. David T. Hill & Krishna Sen Murdoch University

School of Humanities

Murdoch WA 6150

Australia

 

3. Jomo K.S. 11, Jalan Sebelas/4-E

46200 Petaling Jaya

Selangor MALAYSIA

 

4. Akihisa Matsuno 4-21-22 Higashi-awaji

Higashi-yodogawa-ku

Osaka 533 JAPAN (fax: 81-6-370-8314)

 

5. Ben R. Anderson Cornell University

120, Uris Hall

Ithaca NY. 14856 USA

 

6. W.V. Sikorskij Leninskiy Prospect 37-131

Moscow 117334 Russia

(!) this is the old address, I am afraid it's already changed.

 

7. Boris Parnickel Akademi Pengajian Melayu

Universiti Malaya, 50603

Lembah Pantai Kuala Lumpur

MALAYSIA

(!) this is also his address of last year, I don't know if he has already returned to Moscow, otherwise you can mail to Sikorskij too.

 

8. H. Sutherland Princengracht 644

1017 KV. Amsterdam

 

9. H.M.J. Maier Plantsoen 83

2311 Leiden

 

10. Hans Borkent Lindenplein 2

2201 JJ. Noordwijk (tlp.: 071-3648220)

 

11. Ratna Saptari Wassenaarsestr. 137

2586 AN. Den Haag

 

12. J.M. Sison P.B. 19195

3501 DD Utrecht

 

13. Eline Utrecht Nedersticht 367

1083 VX Amsterdam

 

14. Saskia Wieringa W.de Zwijgerlaan 134

2582 EV. Den Haag

 

15. Eric van 't Groenewout Flanorpad 3

2333 AP. Leiden (tlp.: 071-5172403)

 

PS.: - I am still looking (must be somewhere) for Daniel Lev and Takasi Shiraisi;

- Chomsky you may ask Liem/Carmel

- Kahin's is not in my file, sorry!

 

Salam manis,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lieve Yvette,

 

here are still some more (and correction of) addresses:

 

1. Prof.F.P. Lisowsky 522 Churchill Avenue

Sandy Bay Tasmania 7005

AUSTRALIA

 

2. B. Parnickel Ul. Dydenko 14-1-67

Moscow 125475

Russia

phone: 451 79 87

 

3. Daniel Lev <dlev@u.washington.edu>

 

4. Takashi Shiraishi <shiraishi@cseas.kyoto.u.ac.jp>

 

5. Jomo K. Sundaram <g2jomo@cc.um.edu.my>

 

Rene Dumont I hope I will get it tomorrow.

 

Selamat malam