Di bawah ini terjemahan dari tulisan Dr. Saskia Eleonora Wieringa, yang diucapkan di depan ISS (Institute for Social Studies) di Den Haag. Kita terjemahkan, mengingat besarnya amal Prof.Wertheim bagi perjuangan emansipasi di Indonesia, di satu pihak; dan di lain pihak, tokoh Wertheim mungkin tak banyak dikenal oleh kalangan para penggerak muda sekarang.

Dr. Saskia Wieringa sendiri pada 1995 telah mempertahankan tesisnya berjudul The Politicization of Gender Relations in Indonesia. The Indonesian Women's Movement and Gerwani Until the New Order State. Edisi indonesia tesis ini, sesuai dengan anjuran Prof. Wertheim, sedang dalam persiapan terbit. Sementara itu sebuah film berjudul "Ibu Bangsa", berdasar tesis ini juga, sedang disiapkan Lilian Jansen, Sekretaris YSBI.

Dr. Saskia E. Wieringa:

Mengenang Prof. Wim Wertheim

SELASA yang lalu Profesor Wim Wertheim tutup usia. Kemarin sangat banyak anggota keluarga, rekan dan sahabat datang melepas ilmuwan agung dan tercinta ini. Dia salah seorang pakar ilmusosial Belanda terbesar abad ini. Selama upacara perpisahan berjalan menjadi semakin jelas, tidak hanya tentang betapa besar dia berarti bagi anak anak dan cucu cucunya.

Tapi juga bahwa dia telah membangun suatu sekolah, yang di situ angkatan angkatan 'sosiolog non-Barat' dari berbagai sudut dan kepentingan, telah bekerja mengejar apa yang olehnya dinamai cita cita 'emansipasi', dalam rumusan pengertiannya yang sangat luas. Banyak di antara kami, yang telah diilhami oleh pemikirannya yang gemilang, dan komitmennya yang besar untuk perbaikan nasib kaum pinggiran dan kaum tertindas, bagaimanapun juga masih mengikuti cita citanya, walaupun orientasi teoretis kami bisa saja berubah.

Wim orang yang sangat berbakat. Bukan saja seorang pemain catur yang piawai (kampiun Hindia Belanda sebelum perang), dia pun seorang musikus yang baik. Pernah ia berkata padaku, ia harus memilih salah satu dari tiga jalan hidup: papan catur, piano atau ilmupengetahuan. Ia telah memilih yang terakhir. Ia lakukan tugas tugas keilmuannya dengan daya lihat penuh harapan atas warna warni jalan hidup yang terentang di hadapannya. Lahir di kota yang dulu (dan sekarang kembali) bernama St Petersburg tahun 1907, ia menyaksikan revolusi Rusia. Hari hari ketika bersekolah menengah ia tinggal di Den Haag (keluarga orangtuanya tinggal di samping rumah kami sekarang). Seusai belajar ia pergi ke negeri yang ketika itu disebut Hindia Belanda. Seperti halnya semua orang Belanda ia menjadi tawanan semasa pendudukan Jepang di sana. Kemudian ia menyaksikan rtevolusi yang kedua, kali ini revolusi nasionalis. Ia menyokong kemerdekaan Indonesia, jauh sebelum bangsa Belanda pada umumnya siap mengambil sikap sama seperti dia.

Ia tidak bergeser dari komitmennya pada rakyat Indonesia sesudah

'peristiwa 1965', ketika putsch militer Jendral Suharto melakukan

pembantaian besar besaran, dan merebut kursi kepresidenan dari Sukarno.

Wim salah seorang yang pertama menyingkap peranan Suharto di balik

adegan adegan kisah kup itu. Ia tampil menjadi salah seorang musuh

Suharto di luar negeri yang paling gagah dan paling gigih: mencela terang terangan pembunuhan massal, menyuarakan tuntutan pembebasan beribu ribu tapol, dan membela para eksil yang telah tercampakkan dari negeri mereka bagaikan reruntuk sejarah. Sebagai profesor yang sudah terkenal, dan pendiri Departemen Asia Tenggara pada Pusat Antropologi-Sosiologi dari Universitas Amsterdam, Wim Wertheim menjadi peserta pendiri Komite Indonesia untuk melawan kediktaturan Jendral Suharto.

Pasti dia sangat puas, bahwa pada akhir Mei yang lalu Suharto terpaksa turun, dan bahwa Orde Barunya akhirnya tertelanjangi sebagaimana adanya: satu diktatur militer yang keji. Sayang Wim Wertheim tak bisa lagi mengunjungi Indonesia.

Wim Wertheim mungkin akan lebih banyak dikenang karena sumbangan

kesarjanaannya yang sangat besar pada studi Indonesia. Tapi di tengah masyarakat Belanda ia juga dipandang sebagai tokoh kontroversial. Bukan saja karena komitmen politiknya pada para kurban dari Suharto, yang oleh sementara kalangan dipandang sebagai seorang presiden

satu negeri yang bersahabat. Khususnya dalam tahun 1980an ia sangat dikenal masyarakat Belanda karena dukungannya pada rezim Mao Zedong. Lama ia membela Revolusi Kebudayaan, yang disebutnya sebagai satu pertanda dari proses

sinambung yang paling berpengharapan, di mana kaum yang tertindas - dalam hal ini petani Tiongkok yang miskin akan bisa selamanya

menyatakan 'counterpoint' terhadap kekuasaan kaum elite nasional. Baru akhir akhir ini saja ia mengakui, bahwa Revolusi Kebudayaan juga telah mengakibatkan

penderitaan luar biasa bagi kalangan luas rakyat Tiongkok.

Profesor Wertheim seorang guru sejati. Ia selalu menaruh perhatian besar pada siswa siswanya, dan memberikan tenaga dan waktunya dengan ramah dan spontan, manakala dia pandang hasil kerja siswa siswa nya itu memang menarik. Aku akan selalu berterimakasih atas dukungan dan inspirasi yang diberikannya kepadaku selama penelitianku tentang gerakan perempuan Komunis Indonesia.

Putrinya, Anne-Ruth, kemarin mengatakan kepadaku, bahwa hanya beberapa minggu sebelum tutup usia ia ingin bertemu denganku, untuk mengingatkan agar penerbitan versi Indonesia tesisku itu jangan lagi ditunda tunda. Sekarang inilah saatnya yang tepat. Baiklah, Pak Wertheim, Wim yang terhormat, pesan itu akan terlaksana.***(terjemahan Hersri.S.)