hersri setiawan:
DUA MACAPAT BARU
masku-mambang
(pertemuan dengan istri)
dari balik jendela kamarku bening
kupandangi padang rumput putih
kereta api merayapi kabut kuning
cerobong industri utrecht* kelabu
datang sosok bayangan tiba tiba
istriku dari dunia khayali
menatapku dan aku merasai
sejurus waktu yang abadi
benar dia
dalam diri
dan tunasnya
selalu satu
ada jalan panjang
yang sebenarnya
terlampau dekat
tapi tak terjembatani
terbangun tiba tiba anganku
berdiri di depan rentang waktu
apakah arti sepuluh tahun
ribuan tahun bahkan satu hari
hari hari senja dan dini
hanya dua ujung dari rentangan
jarak waktu yang tak kenal mati
ada kenangan yang tak kembali
ketika ancaman jadi membangkitkan
ketika kesulitan jadi menguatkan
ketika air dan api saling menghidupi
ketika semua dalam satu
satu nafas
satu kata
satu perbuatan
o, alangkah luas
jika itu rentang panorama
tanpa ujung dan tepi
o, alangkah indah
jika itu rentang waktu
tanpa putus dan mati
di sana rindu dan harapan
tumbuh bagai tunas tunas
yang selalu hijau
kockengen, 16 februari 1999
(*) Utrecht, propinsi dan ibukota, di mana desaku termasuk.
hersri setiawan:
sketsa hati perantau
(megat-ruh)
kapan saja aku berhenti
mengembara sejauh cakrawala
kapan saja aku terdiam
gemuruh dada bagai samodra
barangkali tidak seorang
bisa melihat dan mendengar
tapi apa peduli aku
hidup itu memang sendiri
benar engkau, ki rangga*
awang uwung mengku isi
semesta ini semesta hatiku
penuh bayangan angan angan
tidak perlu tepuk tangan
tidak perlu semua itu
selain hidup sendiri
ingin aku sesuatu
tapi apa itu
ingin aku seorang
tapi siapa itu
ah, aku mimpi
ditelan samodra
angan angan sendiri
segala rindu dendam
dari semesta alam
yang kurebut
segala gendam pesona
dari inti sari hidup
yang kucipta
lebur dalam semesta
satu dalam awang uwung
lenyap dalam sawang suwung
aku kembali berhenti
biar leluasa mengembara
aku kembali terdiam
biar bisa menggelora
aku bukan pertapa
yang meredam rindu dendam
yang memendam dan ingkar
di kesunyian kuburan
dan tempat keramat
cuma arwah para pertapa
dan panah para kesatria
seperti rajalela di udara dan tanah berperisai ranjau
maka aku sekarang berhenti
biar leluasa mengembara
maka aku sekarang diam
biar leluasa berbicara
kockengen, 20 februari 1999
* Ranggawarsita; pujangga kraton Surakarta, 1802-1873.
- awang-uwung; angkasa, kekosongan.
- sawang suwung; seolah kosong.