hersri setiawan:

 

 

 

tentang berita duka

 

hatiku kosong, sama sekali kosong

bahkan mimpi saja kering

enggan kaki mengayun langkah

sekeliling hanya penuh bohong

 

hilang hasrat bertemu siapa

pancaran tindasan beban sendiri

jadi selubung dakwa dan pembelaan

 

tiba-tiba aku merasai kembali

denyut jantung anak remaja,

ketika yang ada cuma satu:

berani berani dan berani

 

seperti pucuk bambu

goncang ditampar angin

bertahan di atas tanah

pada batang yang tegar

 

merunduk pantang patah

menunduk pantang rebah

 

kockengen, 11-13 februari 1999

 

 

 

 

 

hersri setiawan:

 

 

romo mangun

 

tinggal jasadmu

dalam tanah

perlahan lebur

menjadi lahan hidup

 

lepas rohmu

dalam semesta

menjadi nafas

gembala

pengembara

 

hidup

dalam keabadian

 

kockengen 12 februari 1999