Hersri Setiawan:
demonstran
(2)
kapan hari telah diputus
hari pertama ketiga atau kapan
karena tidak ada hari sabat
ketika kerja harus dimulai
kuikuti setiap langkah
seperti buruh menuntut upah
seperti petani lapar tanah
sehingga kabur bayangan takut
kumasuki medan pertaruhan
antara mati dan hidup
tak ada janji kecuali
tengadah pada bapa langit
tunduk pada ibu bumi
tak ada kata pasrah
tapi
ibukota bagai gerbang besi
benteng kekuasaan berkarat
tak akan runtuh karena gema
bahana lagu maju tak gentar
maka
jalanan banjir manusia padam panas matahari
hujan dan angin mati
dalam gelora kemerdekaan
indonesia tanah airku
sekarang berubah sudah
jadi rumah penjara
indonesia tumpah darahku
sekarang berubah sudah
jadi rumah abatoar
tak ada kata menyerah
meski
meraung-raung para pembesar
tentang janji reformasi
yang ada seribu satu
tentang jalan konstitusi
yang ada cuma satu
tentang kesopanan timur
yang mereka punya monopoli
di belakang itu semua
serdadu dan preman bayaran
siap menyarangkan peluru
siap menyarungkan pedang
ke jantung setiap demonstran
tanahair menggempa
tanah dan langitmu
karena para pembesar
mabuk kekuasaan
karena para demonstran
mabuk kemerdekaan
yang di antara itu
hanya satu lubang kubur
menunggu satu korban
aku tengadah
pada bapa langit
aku menunduk
pada ibu bumi
tak ada kata pasrah tak ada kata menyerah
hidup
merebut kemenangan
kockengen, februari 1999
rindu
saat segera datang
ketika aku merasai
hanyut dibawa terbang
dalam satu bersama awan
seperti membuka
lembaran-lembaran suci
kitab kehidupan
seperti membuka
diri dalam telanjang
bulat kupandangi
isi seluruh
bulat kuhamparkan
hakekat seluruh
harus ya, tanpa ragu
pada saat tertentu
mengurai dan mengenang
kejadian di kala gelap
kejadian di dalam mimpi
sikap dan pandangan
?